TONGKONAN DI RANTEPAO KABUPATEN TORAJA UTARA
Oleh :
MANGADIL MASMUR SAMPERURA NIM. 4519060154
Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Pada Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Bosowa
PROGRAM STUDI ILMU HUKUM
FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS BOSOWA TAHUN 2023
ii
iii
iv
v NIM : 4519060154
Program Studi : Ilmu Hukum
Skripsi dengan judul Analisis Hukum Penyelesaian Sengketa Tanah Adat Tongkonan Di Rantepao Kabupaten Toraja Utara, ini adalah hasil karya saya sendiri dan semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk telah saya nyatakan dengan benar.
Makassar, 2023
Mangadil Masmur Samperura
vi
KATA PENGANTAR
Segala hormat, pujian dan syukur bagi Tuhan Yesus Kristus, sumber hikmat dan kekuatan yang senantiasa memberkati kehidupan penulis dengan rancangan damai sejahtera, oleh karena penyertaan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi ini. Adapun judul Skripsi ini adalah “Analisis Hukum Penyelesaian Sengketa Tanah Adat Tongkonan Di Rantepao Kabupaten Toraja Utara”. Penulis mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tua penulis Bapak Drs. Piter Samperura dan Ibu Bua Yulita Lambe, atas doa yang tidak pernah putus dan dukungan serta segala kebaikan mereka yang sampai kapanpun takkan pernah bisa untuk terbalaskan, untuk seluruh keluarga besar penulis terima kasih atas segala dukugannya serta Saudara-Saudari saya, Alawinsah Sela Prilianti Samperura, S.E., Apt. Yoseva Mega Septi Lambe, S.Farm., dan Wimanja Kombongan Samperura, S.Si., yang telah memberikan dukungan dan semangat untuk penulis. Dalam penelitian skripsi ini, penulis menyadari terdapat kekurangan, untuk itu besar harapan semoga skripsi ini memenuhi kriteria sebagai salah satu syarat untuk meraih gelar Strata Satu (S1) pada Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Bosowa. Penelitian skripsi tidak akan terwujud tanpa bantuan dari para pembimbing, dosen-dosen serta berbagai pihak. Untuk itu melalui tulisan ini penulis mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Ir. Batara Surya, S.T., M.Si. selaku Rektor Universitas Bosowa dan jajarannya.
vii Fakultas Hukum Universitas Bosowa.
4. Ibu Dr. Andi Tira, S.H., M.H. dan Ibu Juliati, S.H., M.H. selaku pembimbing dalam penulisan skripsi ini yang telah bersedia meluangkan waktunya dan memberikan bantuan materi skripsi serta memberikan banyak pengetahuan bagi penulis selama penulisan skripsi ini.
5. Bapak Dr. Zulkifli Makkawaru, S.H., M.H. dan Ibu Dr. Hj. Kamsilaniah, S.H., M.H. selaku penguji penulis yang telah memberikan banyak masukan-masukan dan arahan dalam penyusunan skripsi ini.
6. Bapak Dr. Hamzah Taba, S.H., M.H. selaku Penasehat Akademik Penulis.
7. Sivitas Akademika Fakultas Hukum Universitas Bosowa, yang telah memberikan ilmu pengetahuan dan membantu segala kebutuhan dan memberikan kelancaran penulis selama menuntut ilmu di Universitas Bosowa.
8. Bapak Hartugus Sandalinggi, S.H., M.H, beserta jajarannya dan Masyarakat Kabupaten Toraja Utara yang telah bersedia membantu penulis untuk melengkapi data-data dalam penulisan skripsi ini.
9. Teman-teman Mahasiswa pada Fakultas Hukum Universitas Bosowa terima kasih atas kebersamaan selama ini dan telah menjadi bagian dari keluarga baru penulis selama masa perkuliahan.
viii
10. Sahabat-sahabat seperjuangan Penulis, Anugrah Nover Bato, Marchelino P, Gian T. Lembang, Thesarios Sefrian Pongsibidang, Albert Matasak, Rajadi Marannu, Samuel Benduruk, M. Firmansyah, Andika Tandi Upa dan Randika Banne yang telah menjadi salah satu penyemangat penulis selama ini.
Skripsi ini tentunya masih banyak kekurangan-kekurangan yang perlu dikoreksi. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun demi kesempurnaan skripsi ini. Akhir kata penulis berharap semoga skripsi ini memberi manfaat yang sebesar-besarnya bagi pengembangan wawasan ilmu pengetahuan khususnya di bidang Ilmu Hukum. Terima Kasih.
Makassar, 2023
Mangadil Masmur Samperura
ix Dibimbing oleh Andi Tira dan Juliati.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyelesaian sengketa tanah adat Tongkonan di Rantepao Kabupaten Toraja Utara dan untuk mengetahui pandangan masyarakat hukum adat di Rantepao tentang kepemilikan atas Tanah Tongkonan secara pribadi. Penelitian dilaksanakan di Kelurahan Pasele, Kecamatan Rantepao, Kabupaten Toraja Utara, Provinsi Sulawesi Selatan.
Metode penelitian kualitatif dengan pendekatan sosio-yuridis, teknik pengumpulan data melalui wawancara dengan pemangku adat dan pemerintah serta penyebaran angket. Teknik analisis data yang diperoleh dikumpulkan dan dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif untuk selanjutnya dideskripsikan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa, penyelesaian sengketa tanah adat tongkonan di Rantepao Kabupaten Toraja Utara dilakukan oleh adat pendamai dalam wilayah lembang/kelurahan dan kecamatan melalui upaya musyawarah yang mempunyai tujuan untuk mencapai kesepakatan dan mendamaikan para pihak yang bersengketa. Adat pendamai berfungsi menyelesaikan sengketa secara adat, mengembangkan dan melestarikan nilai adat- istiadat di Kabupaten Toraja Utara. Sengketa tanah Tongkonan terlebih dahulu diselesaikan melalui adat pendamai, maka bila tidak tercapai kesepakatan maka, sengketa dapat diteruskan melalui jalur hukum litigasi. Dalam masyarakat. Pandangan masyarakat hukum adat di Rantepao tentang kepemilikan atas tanah tongkonan secara pribadi bahwa tanah tongkonan merupakan hak yang dikuasai secara turun temurun oleh anggota rumpun keluarga yang pengaturan, penguasaan, dan penggunaannya ditentukan oleh aturan-aturan adat yang berlaku diantara atau rumpun keluarga itu sendiri.
Sebagai hak yang turun temurun, tanah tongkonan dipahami sebagai tanah yang dimiliki secara bersama-sama oleh satu keluarga atau marga sehingga tanah Tongkonan tidak disertifikatkan atas orang tertentu.
Kata Kunci: Hukum adat, Tanah Tongkonan, Milik bersama.
x
ABSTRACK
MANGADIL MASMUR SAMPERURA. Analysis of Customary Land Dispute Settlement Law Tongkonan In Rantepao, North Toraja Regency.
Supervised by Andi Tira and Juliati.
This study aims to determine the resolution of customary land disputes Tongkonan in Rantepao, North Toraja Regency and to find out the views of the customary law community in Rantepao regarding private ownership of Tongkonan Land. The research was conducted in Pasele Village, Rantepao District, North Toraja Regency, South Sulawesi Province. Data collection techniques through interviews with traditional and government stakeholders and distributing questionnaires. The data analysis techniques obtained were collected and analyzed qualitative for further description.
Based on the research that has been done, settlement of customary land disputes tongkonan in Rantepao, North Toraja Regency, it is carried out by customary peacemakers within the regionvalley/kelurahan and sub-district through consultation efforts with the aim of reaching an agreement and reconciling the parties in dispute. Peacemaking customs function to preserve and develop the values of the customs and habits of the community as well as preserve the provisions of the customs for the well-being of the community. The view of the customary law community in Rantepao about ownership of landtongkonanprivately it should not happen because it is a hereditary right that is controlled by members of the family group where the arrangement, control, and use are determined by the rules customary rules that apply between or within the family it self. As a hereditary right, Tongkonan land is understood as land that is jointly owned by one family or clan so that Tongkonan land is not certified for a particular person.
Keywords : Customary Law, Tongkonan Land, Owned Together.
xi Error! Bookmark not defined.
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ...
Error! Bookmark not defined.
PENGESAHAN UJIAN SKRIPSI ...
Error! Bookmark not defined.
LEMBAR PERNYATAAN ... ii
KATA PENGANTAR ... vi
ABSTRAK ... ix
ABSTRACK ... x
DAFTAR ISI ... xi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. LATAR BELAKANG ... 1
B. RUMUSAN MASALAH ... 7
C. TUJUAN PENELITIAN ... 7
D. KEGUNAAN PENELITIAN ... 7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 8
A. Penguasaan Hak atas Tanah ... 8
1. Pengertian dan Dasar Hukum tentang Tanah ... 8
2. Hak-Hak atas Tanah dan Penguasaan Hak atas Tanah ... 11
B.Tinjauan Umum tentang Masyarakat Hukum Adat... 17
1. Pengertian Masyarakat Hukum Adat ... 17
2. Kepemilikan Hak atas Tanah Adat ... 18
3. Jual Beli Tanah Adat menurut Hukum Adat ... 20
xii
C.Hak Komunal... 21
D.Masyarakat Hukum Adat Toraja ... 22
1. Masyarakat Hukum Adat Toraja... 22
2. Tanah Tongkonan ... 26
3. Kepemilikan Tanah Tongkonan ... 30
E.Sengketa Pertanahan ... 32
BAB III METODE PENELITIAN ... 37
A. Lokasi Penelitian ... 37
B. Tipe Penelitian ... 37
C. Jenis dan Sumber Data ... 37
D. Teknik Pengumpulan Data ... 38
E. Teknik Analisis Data ... 38
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 39
A. Penyelesaian Sengketa Tanah Adat Tongkonan Di Rantepao ... 39
B. Pandangan Masyarakat Adat Atas Kepemilikan Tanah Tongkonan Secara pribadi ... 50
BAB V PENUTUP ... 63
A. Kesimpulan... 63
B. Saran ... 62
DAFTAR PUSTAKA ... 65 LAMPIRAN
1 BAB I
PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG
Sebagai negara dengan latar belakang agraris, Indonesia memahami pentingnya tanah sebagai sesuatu yang berharga dalam kehidupan masyarakat.
Bagi petani di pedesaan, tanah merupakan tempat mata pencaharian. Bagi penduduk kota, tanah merupakan tempat mereka melakukan segala aktivitas sehari-hari.1
Tanah mempunyai kedudukan yang penting dalam hukum adat, karena merupakan satu-satunya benda kekayaan meskipun mengalami keadaan bagaimanapun akan tetap dalam keadaan semula. Tanah merupakan tempat tinggal keluarga dan masyarakat, memberikan penghidupan, dan merupakan tempat para warga yang meninggal dunia dikuburkan.
Tanah adat merupakan kewenangan yang menurut hukum adat dipunyai oleh masyarakat, hukum adat tertentu atas wilayah tertentu yang merupakan lingkungan hidup para warganya untuk mengambil manfaat dari sumber daya alam dalam wilayah tersebut bagi kelangsungan hidup dan kehidupannya yang timbul dari hubungan secara lahiriah dan batiniah, turun-temurun dan tidak terputus antara masyarakat hukum adat tersebut dengan wilayah yang bersangkutan.2
1Soerjono Soekanto dan Soleman B. Taneko, Hukum Adat Indonesia, Cetakan Keempat, PT. Raha Grafindo Persada, Jakarta, 2001, hal. 172
2 Rosnidar Sembiring, Hukum Pertanahan Adat, Rajawali Pers, Depok, 2017, hal. 72
2
Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD NRI tahun 1945) menyebutkan bahwa: “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”. Selanjutnya Pasal 33 UUD 1945 menyatakan: “Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung dalam bumi adalah pokok-pokok kemakmuran rakyat”. Oleh karena itu, harus dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat.
Sebelum adanya Undang-Undang No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok, disebut Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA), di wilayah Indonesia hukum tanah yang mengatur adalah hukum tanah adat yang mengatur tentang hak dan kewajiban, hubungan hukum, perbuatan hukum dan akibat hukum yang berobjek tanah. Hukum adat atas tanah ini beragam macam dan coraknya, karena masing-masing wilayah mempunyai hukum adatnya masing- masing mengatur tentang tanah, yang dikenal dengan istilah pluralisme hukum adat tentang tanah.3
UUDN RI 1945 sebagai konstitusi negara, mengakui keberadaan masyarakat adat beserta hak-haknya, oleh sebab itu, masyarakat hukum adat memiliki posisi konstitusional di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ini ditegaskan dalam UUD Negara Republik Indonesia 1945 pada Pasal 18B ayat (2) yang menyatakan bahwa: “negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik
3 H. Arba, Hukum Agraria Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta, 2015, hal. 95
Indonesia yang diatur dalam undang-undang” Pada Pasal 28 I Ayat 3 menyatakan bahwa: “Identitas budaya dan hak masyarakat tradisional dihormati selaras dengan perkembangan zaman dan peradaban”.4
Berdasarkan Pasal 2 ayat (4) UUPA mengatur tentang pelimpahan wewenang kembali kepada masyarakat hukum adat untuk melaksanakan hak menguasai atas tanah, sehingga masyarakat hukum adat merupakan aparat pelaksana dari hak menguasai negara atas untuk mengelola tanah yang ada di wilayahnya, kemudian dalam Pasal 3 UUPA bahwa pelaksanaan hak ulayat masyarakat hukum adat, sepanjang menurut kenyataannya harus sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kepentingan nasional dan negara, berdasarkan persatuan bangsa dan tidak boleh bertentangan dengan UU atau peraturan yang lebih tinggi.
Pelaksanaan hukum tanah nasional di samping tuntutan masyarakat adat, maka pada tanggal 24 Juni 1999, telah diterbitkan Peraturan Menteri Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional No.5 Tahun 1999 tentang Pedoman Penyelesaian Masalah Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat. Peraturan itu dimaksudkan sebagai produk dari langkah-langkah memberikan pedoman dalam konteks pengaturan dan menetapkan kebijakan operasional di bidang pertanahan, serta langkah-langkah dalam menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan tanah adat. Peraturan tersebut memuat kebijaksanaan yang menjelaskan prinsip pengakuan terhadap “hak ulayat dan hak-hak yang serupa dari masyarakat hukum
4Ridwan, M., Madiong, B., & Tira, A. (2021). Hak Masyarakat Hukum Adat Matteko
TerhadapPengelolaan Hutan Adat Di Kecamatan Tombolo Pao Kabupaten Gowa: Matteko's Rights To The Management Of Traditional Forests In Tombolo Pao District, Gowa
District. CLAVIA: Journal of Law, 19(1), 83-90. hal. 84, diakses tanggal 18 juli 2022
4
adat”. Tanah ulayat dalam Pasal 1, menyebutkan bahwa tanah ulayat adalah bidang tanah yang di atasnya terdapat hak ulayat dari suatu masyarakat hukum adat tertentu.5
Di Sulawesi Selatan sendiri tepatnya di Kabupaten Tana Toraja dan Toraja Utara yang dihuni oleh suku Toraja dan merupakan salah satu daerah yang sebagian besar masyarakatnya masih memegang dan menjunjung tinggi nilai-nilai adat-istiadat baik berprilaku dalam kehidupannya sehari-hari. Demikian pula halnya dalam menghadapi suatu persoalan, masyarakat hukum adat atau kebiasaan suku Toraja mengutamakan penyelesaian masalah sesuai dengan hukum adat yang berlaku di wilayah tersebut.
Masyarakat hukum adat Toraja masih mengakui tanah adat yang dikenal dengan nama Tanah Tongkonan. Di Kabupaten Toraja Utara, Tanah Tongkonan dipertahankan oleh masyarakat hukum adat secara turun temurun, dan memiliki pemangku adat yang berwenang untuk memimpin dan menata wilayah tersebut.
Tanah Tongkonan merupakan tanah atau wilayah yang dimliki atau dikuasai bersama oleh anggota masyarakat hukum adat Tongkonan yang terhimpun dalam suatu ikatan keturunan, sehingga masyarakat hukum adat Tongkonan di kenal bersifat genealogis (ikatan keturunan).
Masyarakat hukum adat di Kabupaten Toraja Utara sangat memahami dan menghargai mengenai tanah Tongkonan, dan memahami sebuah hak yang perlu diterima dan kewajiban yang perlu dilakukan atas Tanah Tongkonan. Pemerintah Kabupaten Toraja Utara mengakui dan menetapkan keberadaan masyarakat
5 A. Suriyaman Masturi Pide, Hukum Adat Dahulu, Kini, dan Akan Datang, Kencana, Jakarta, 2017, hal. 120.
hukum adat dengan menerbitkan suatu keputusan keberadaan masyarakat hukum adat melalui Perda Kabupaten Toraja Utara Nomor 1 Tahun 2019 Tentang Pengakuan dan Perlindungan Hak Masyarakat Hukum Adat, Pasal 13 ayat (1) menyebutkan bahwa : “Sistem penguasaan dan pemanfaatan lahan yang berada di wilayah kelompok masyarakat hukum adat yang disebut tanah Tongkonan, dilakukan secara bersama untuk kesejahteraan bersama.”
Dengan diberlakukannya Peraturan Daerah Kabupaten Toraja Utara tersebut, para pemangku adat dalam menjalankan aturan tidak berjalan sendiri tetapi selalu difasilitasi dan didukung oleh pemerintah setempat. Ketika ada masalah yang timbul dalam masyarakat terkait adat istiadat, pemerintah kelurahan (Lembang) langsung mempercayakan masalah tersebut untuk ditangani oleh pemangku adat setempat.
Salah satu sengketa adat di Kabupaten Toraja Utara yaitu sengketa tanah Tongkonan Pa’ Tinoran. Awal sengketa tanah Tongkonan Pa’ Tinoran ketika salah satu keturunan akan menjual tanah yang masih berstatus tanah Tongkonan Pa’ Tinoran. Sengketa tersebut terjadi dalam suatu rumpun keluarga, hal ini terjadi karena status dari tanah Tongkonan yang merupakan milik bersama dari satu ketunggalan leluhur, sehingga menyebabkan perebutan kepemilikan tanah tersebut untuk dikuasai secara pribadi.
Awal sengketa tanah Tongkonan Pa’ Tinoran terjadi ketika salah satu anggota keluarga dari Pa’ Tinoran yaitu Danggo’ akan menjual tanah yang masih berstatus tanah Tongkonan. Akibat akan menjual tanah tersebut terjadi perselisihan antara Danggo’ dan kerabatnya yang tinggal di Tongkonan tersebut.
6
Sengketa ini sudah diselesaikan melalui adat pendamai (pemangku adat toraja).
Keputusan adat pendamai bahwa Tongkonan Pa’ Tinoran tetap ada di lokasi Tongkonan, namun pihak pelapor (keturunan pa’tinoran) tidak mau menerima keputusan tersebut. Sengketa ini dilanjutkan melalui upaya hukum litigasi yaitu Danggo’ menggugat Matius Tangke dan saudaranya ke Pengadilan Negeri Makale.
Putusan Pengadilan Negeri Makale memenangkan Danggo’ sebagai pemegang hak atas tanah objek sengketa sehingga rumah Tongkonan beserta tiga lumbung telah dirobohkan/dieksekusi. Para tergugat (Matius Tangke dan saudaranya) mengajukan banding dan putusan Pengadilan Tinggi Makassar menguatkan putusan Pengadilan Negeri Makale. Sengketa ini telah sampai tingkat Peninjauan Kembali dengan putusan memenangkan atau menguatkan putusan Pengadilan Negeri Makale dan Pengadilan Tinggi Makassar. Hal ini menarik untuk dianalisis karena sesuai putusan pengadilan memenangkan penggugat, tanah Tongkonan pa’tinoran yang sudah bertahun-tahun dimanfaatkan oleh keluarga besar pa’tinoran sebagai tanah tongkonan sementara pada sisi lain masyarakat hukum adat Toraja masih kuat memelihara adat istiadat tanah Tongkonan sebagai milik bersama secara turun temurun.
Berdasarkan permasalahan di atas, maka penulis mengusulkan Skripsi dengan judul “Analisis Hukum Penyelesaian Sengketa Tanah Adat Tongkonan Di Rantepao Kabupaten Toraja Utara”.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimanakah penyelesaian sengketa Tanah Adat Tongkonan di Rantepao Kabupaten Toraja Utara?
2. Bagaimanakah pandangan masyarakat hukum adat di Rantepao tentang kepemilikan atas Tanah Tongkonan secara pribadi?
C. TUJUAN PENELITIAN
1. Untuk mengetahui penyelesaian sengketa tanah adat Tongkonan di Rantepao Kabupaten Toraja Utara.
2. Untuk mengetahui pandangan masyarakat hukum adat di Rantepao tentang kepemilikan atas Tanah Tongkonan secara pribadi.
D. KEGUNAAN PENELITIAN
1. Untuk dapat menjadi bahan informasi dalam pengembangan dan penerapan ilmu hukum, khususnya sebagai referensi dalam penelitian- penelitian baru yang berkaitan dengan pemangku adat.
2. Untuk menjadi bahan bacaan bagi siapa saja yang ingin mengetahui secara mendalam mengenai pemangku adat dalam menyelesaikan sengketa.
3. Untuk menambah dan memperluas ilmu penulis sendiri, khususnya mengenai hal tersebut.
8 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA A. Penguasaan Hak atas Tanah
1. Pengertian dan Dasar Hukum tentang Tanah
Dalam ruang lingkup agraria, tanah merupakan bagian dari bumi, yang disebut permukaan bumi. Tanah yang dimaksud disini bukanlah mengatur tanah dalam segala aspeknya, yaitu tanah dalam pengertian yuridis yang disebut hak. 6
Pengertian tanah diatur dalam Pasal 4 UUPA dinyatakan sebagai berikut.
Atas dasar hak menguasai dari negara sebagai yang dimaksud dalam Pasal 2 ditentukan adanya macam-macam hak atas permukaan bumi, yang disebut tanah, yang dapat diberikan kepada dan dipunyai oleh orang-orang, baik sendiri maupun bersama-sama dengan orang lain serta badan-badan hukum.
Dengan demikian, yang dimaksud istilah tanah dalam pasal diatas ialah permukaan bumi. Makna permukaan bumi sebagai bagian dari tanah yang dapat dihaki oleh setiap orang atau badan hukum. dalam hukum tanah negara-negara dipergunakan apa yang disebut asas accessie atau asas perlekatan. Makna atas pelekatan, yakni bahwa bangunan-bangunan dan benda-benda/tanaman yang terdapat diatasnya merupakan suatu kesatuan dengan tanah, serta merupakan bagian dari tanah bersangkutan. Dengan demikian, yang termasuk pengertian hak atas tanah meliputi juga pemilikan bangunan dan tanaman yang ada diatas tanah yang di haki, kecuali kalau ada kesepakatan lain dengan pihak lain (Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Pasal 500 dan 571).7
6 Urip Santoso, Hukum Agraria: Kajian Komprehensif, Kencana, Jakarta, 2017, hal. 9
7 Supriadi, Hukum Agraria, Sinar Grafika, Jakarta, 2019, hal. 3
Sumber hukum tanah indonesia dapat dikelompokan dalam :8 a. Hukum Tanah Adat
Adapun tanah adat terdiri dari 2 (dua) jenis, yaitu : a. Hukum tanah adat masa lampau
Hukum tanah adat masa lampau ialah hak memiliki dan menguasai sebidang tanah pada masa penjajahan Belanda dan Jepang. Pada saat indonesia merdeka tahun 1945, adapun bukti secara autentik maupun tertulis. Jadi, hanya pengakuan. Adapun ciri-ciri hukum tanah adat masa lampau adalah tanah yang dimiliki dan dikuasai oleh perseorangan dan atau kelompok masyarakat hukum adat yang memiliki dan menguasai serta menggarap, mengerjakan secara tetap maupun berpindah-pindah sesuai dengan daerah, suku, dan budaya hukumnya, kemudian secara turun-temurun masih berada dilokasi daerah tersebut, dan atau mempunyai tanda-tanda fisik berupa sawah, ladang, hutan, dan makam, patung, rumah-rumah adat, dan bahasa daerah yang ada di negara Republik Indonesia.
b. Hukum tanah adat masa kini
Hukum tanah adat masa kini ialah hak memiliki dan menguasai sebidang tanah pada zaman sesudah merdeka tahun 1945 sampai sekarang, dengan bukti autentik berupa girik, petuk pajak, hak usaha atas tanah bekas partikelir dan sertifikat serta surat pajak hasil bumi (Verponding Indonesia), dan hak-hak lainnya sesuai dengan
8 Ibid, hal. 9
10
daerah berlakunya hukum adat tersebut, serta masih diakui secara internal maupun eksternal.
b. Tanah negara
Dengan berkembangnya Hukum Tanah Nasional, maka lingkup tanah yang dalam UUPA disebut tanah-tanah yang dikuasai langsung oleh negara, yang semula disingkat dengan sebutan tanah negara, mengalami perkembangan, Hukum Tanah Indonesia dari segi kewenangan penguasaanya cenderung lebih rinci tentang tanah yang semula tercakup dalam pengertian tanah negara.
Menurut B.F Sihombing tanah negara dapat dibedakan menjadi :
a. Tanah negara, yaitu dalam rangka hak negara untuk menguasai penyelenggaraan negara atas bumi, tanah, air dan ruang angkasa, tanah negara dikuasai langsung oleh negara dan kekayaan alam yang ada didalamnya pada tingkat yang tertinggi dikuasai oleh negara sebagai kekuasaan yang mempunyai kewenangan.
b. Tanah negara, tanah-tanah yang dimiliki oleh pemerintah yaitu tanah yang diperoleh pemerintah pusat dan daerah melalui nasionalisasi, pemberian, penyerahan sukarela maupun melalui pembebasan tanah, dan berdasarkan akta kepemilikan hak.
c. Tanah negara adalah tanah yang tidak dimiliki atau dikuasai oleh masyarakat, badan hukum swasta dan badan hukum keagamaan atau badan sosial serta tanah-tanah yang dimiliki oleh perwakilan negara asing.
c. Tanah garapan
Garapan atau memakai tanah ialah menduduki, mengerjakan dan atau menguasai sebidang tanah atau mempunyai tanaman atau bangunan itu digunakan sendiri atau tidak.
Dalam Undang-Undang Nomor 5 TAHUN 1960 tentang Pokok-Pokok Agraria tidak mengatur megenai keberadaan tanah garapan, karena tanah garapan bukanlah status hak atas tanah. Menurut B.F Sihombing, dalam peraturan perundang-undangan terdapat istilah hukum untuk tanah garapan ini, yaitu pemakainan tanah tanpa izin pemilik atau kuasanya dan penduduk tanah tidak sah (onwettige occupatie), jenis tanah garapan dapat dikelompokan menjadi tiga yaitu : (1) tanah garapan diatas tanah yang langsung dikuasai oleh negara (vrij landsdomein); (2) tanah garapan diatas tanah instansi atau badan hukum milik pemerintah; dan (3) tanah garapan diatas tanah negara perorangan atau badab hukum swasta.9
2. Hak-Hak atas Tanah dan Penguasaan Hak atas Tanah
Pengertian hak atas tanah sebagaimana diatur dalam pasal 4 ayat (1) dan ayat (2) UUPA di atas adalah “Hak yang dapat diberikan kepada dan dipunyai oleh orang-orang, baik sendiri maupun bersama-sama dengan orang-orang lain serta badan-badan hukum untuk mempergunakan tanah yang bersangkutan, demikian pula tubuh bumi dan air serta ruang yang ada diatasnya, sekedar diperlukan kepentingan yang langsung berhubungan dengan penggunaan tanah itu
9 Ibid, hal. 23
12
dalam batas-batas menurut undang-undang ini dan peraturan-peraturan hukum lain yang lebih tinggi”.
Hak penguasaan atas tanah meliputi serangkaian wewenang, kewajiban dan atau larangan bagi pemegang hak untuk berbuat sesuatu dengan tanah yang menjadi haknya. Penguasaan tanah juga dapat diartikan sebagai sistem hukum ketika tidak melekat pada sebidang tanah tertentu dan beberapa subjek adalah pemegang haknya. Akan tetapi, kepemilikan atas tanah merupakan suatu hubungan hukum yang berwujud konkrit (subjektif rech) jika dihubungkan dengan tanah tertentu dan subjek tertentu sebagai pemegang hak.10 Hak-hak atas penguasaan atas tanah dalam Hukum Tanah Nasional mempunyai hirarki sebagai berikut :
1. Hak Bangsa Indonesia Atas Tanah.
2. Hak Menguasai Dari Negara Atas Tanah.
3. Hak Menguasai Masyarakat Hukum Adat.
4. Hak-Hak Perorangan Atas Tanah.
a. Hak-hak atas tanah.
b. Perwakafan tanah hak milik
c. Hak jaminan atas tanah (hak tanggungan) d. Hak milik atas satuan rumah susun.
1. Hak Bangsa Indonesia Atas Tanah.11
Konsepsi hak bangsa dalam Hukum Tanah Nasional merupakan hak penguasaan tanah yang tertinggi. Bahwa hak-hak penguasaan atas tanah yang lain,
10 H.M. Arba, Op.Cit, hal. 12
11 Ibid, hal. 90
termasuk Hak Ulayat dan hak-hak individual atas tanah yang dimaksudkan oleh penjelasan umum, semuanya bersumber langsung dari hak negara. Hak bangsa atas tanah tercermin dalam ketentuan Pasal 1 ayat (1 dan 2). Pasal 1 ayat (1) Seluruh wilayah Indonesia adalah kesatuan tanah air dari seluruh rakyat Indonesia yang bersatu sebagai bangsa Indonesia.
Hak Bangsa atas tanah bersifat abadi, hal ini tercermin dalam Penjelasan Umum angka II dan penjelasannya sebagai berikut : “Adapun hubungan antara bangsa dan bumi, air, dan ruang angkasa Indonesia itu adalah hubungan bersifat abadi.dengan kata lain, selama rakyat Indonesia yang bersatu sebagai bangsa Indonesia masih ada dan selama bumi, air serta ruang angkasa Indonesia masih ada pula, dalam keadaan bagaimanapun, tidak ada sesuatu kekuasaan yang akan dapat memutuskan atau meniadakan hubungan tersebut.
Hak bangsa atas tanah terdiri dari 2 unsur, yaitu hak kepemilikan dan unsur kewenangan untuk mengatur dan memimpin pengguasaan dan penggunaan tanah bersama-sama yang dipunyainya. Hak bangsa atas tanah bukanlah hak milik dalam pengertian yuridis. Maka dalam rangka hak Bangsa dan Hak milik perorangan atas tanah. Tugas kewenangan untuk mengatur penguasaan dan memimpin pengunaan tanah bersama tersebut pelaksaannya dilimpahkan kepada negara.
2. Hak Menguasai Dari Negara Atas Tanah.12
Hak Negara atas tanah didasarkan pada hak bangsa Indonesia atas tanah, yang pada dasarnya merupakan penugasan pelaksanaan tugas kewenangan bangsa yang
12Rosnidar Sembiring, Op. Cit., hal. 56
14
mengandung unsur hukum publik. Hak menguasai negara didasarkan dari Pasal 33 ayat (3) UUD 1945, yakni dengan rumusan : “Bumi, air, dan ruang angkasa termasuk kekayaan alam yang terkandung didalamnya itu pada tingkat tertinggi dikuasai oleh negara sebagai organisasi kekuasaan seluruh rakyat. Yang diuraikan lebih lanjut dalam Pasal 2 ayat (1) yang berarti negara berwenang untuk mengatur wilayah Indonesia, termasuk semua wilayah masyarakat hukum adat.
Negara mempunyai kewenangan untuk mengatur pemilikan dan penggunaan tanah merupakan kewajiban negara dalam rangka untuk kesejahteraan dan kesejahteraan yang sebesar-besarnya untuk segenap bangsa indonesia. Oleh karena itu, negara diberi wewenang, yang dalam pelaksanaanya dapat dikuasakan kepada daerah-daerah otonom/swantantra untuk membuat rencana, peruntukan, pengunaan tanah untuk kepentigan di daerah sesuai dengan keadaan masing-masing, sebagaimana tercantum pada Pasal 2 ayat (2) UUPA.
Tujuan negara mengatur pemilikan dan penggunaan oleh negara sebagaimana dikehendaki UUPA adalah untuk kemakmuran rakyat, seluruhnya dalam arti kelompok, perorangan, laki-laki atau perempuan, semuanya punya hak yang sama tanpa kecuali.
3. Hak Menguasai Masyarakat Hukum Adat13
Hak penguasaan atas tanah diatur menurut hukum adat masyarakat hukum adat masing-masing secara tidak tertulis. Pemberlakuan hak penguasaan tanah dilaksanakan oleh penguasa adat. Masyarakat hukum mempunyai hak atas tanah di dalam wilayahnya, baik yang diusahakan maupun yang tidak. Yang dimaksud
13 Ibid, hal. 62
dengan “Mempunyai Kekuasaan” di sini, adalah menempatkan hubungan antara masyarakat hukum adat dengan perseorangan dalam lingkup wilayah masyarakat hukum tersebut.
Kewenangan kepala masyarakat hukum atas hak ulayat lebih jelas tercermin dalam tindakan pembukaan lahan dan menyangkut transaksi tanah.
Untuk keperluan pertanian anggota persekutuan harus mendapatkan izin dari kepala persekutuan. Kekuasaan masyarakat hukum adat secara bertahap berkurang seiring dengan meningkatnya hak individu atas tanah. Dalam segala macam transaksi tanah harus dihadapan kepala persekutuan, sebagai syarat mutlak untuk memperjelas proses hukum yang terlibat. Transaksi yang tidak memenuhi persyaratan tersebut tanpa campur tangan kepala persekutuan dianggap bersifat gelap dan tidak mempunyai kekuatan hukum. Adanya aturan tersebut, menunjukan bahwa menurut pemahaman hukum adat tanah mempunyai fungsi sosial dan dalam memberikan hak hukum atas tanah harus memerhatikan kepentigan masyarakat hukum dan tanpa mengakibatkan kerugian bagi kepentingan perorangan.
Dalam rancangan hukum adat terdapat seluruh tanah yang ada dalam wilayah masyarakat hukum adat yang berkaitan ada dalam pengaruh dari kekuasaan itu sendiri. adanya peguasaan tersebut, bukan berarti masyarakat hukum adat itu memiliki adat tersebut, lantaran pemilik yang sesungguhnya yakni kekuatan supranatural, dengan demikian semua anggota masyarakat mengakui terdapatnya wewenang dari masyarakat atas tanah.
16
Dengan pengakuan UUPA kepada hak ulayat dapat disimpulkan, apabila hak menguasai masyarakat adat tidak dapat berlawanan dengan kepentingan bangsa serta Negara sebagai halnya dimaksudkan dalam Pasal 1 UUPA. perihal itu juga berarti tidak dapat meniadakan hak masyarakat ataupun orang lain.
selanjutnya, dilihat menurut PMNA/Ka BPN. nomor. 5 Tahun 1999, hak wewenang masyarakat hukum adat bisa dimohonkan pada negara . ketetapan tersebut memberikan kesempatan pada masyarakat hukum adat guna memperoleh hak menguasai dari negara, adalah dengan mengajukan permohonan oleh masyarakat yang terlibat.
4. Hak-Hak Perorangan Atas Tanah
Hak-hak atas tanah termasuk salah satu hak perseorangan atas tanah. Hak perseorangan atas tanah adalah hak yang memberi wewenang kepada pemegang haknya (perseorangan, sekelompok orang secara bersama-sama, badan hukum) untuk memakai, dalam arti menguasai, menggunakan, dan/atau mengambil manfaat dari tanah tertentu. Hak-hak perseorangan atas tanah berupa hak atas tanah, wakaf tanah Hak Milik, Hak Tanggungan, dan Hak Milik Atas Satuan rumah Susun.14
Hak-hak atas tanah diatur dalam Pasal 4 ayat (1) UUPA, yang menentukan
“atas dasar menguasai dari Negara atas tanah sebagai yang dimaksud dalam pasal 2 ditentukan adanya macam-macam hak atas permukaan bumi, yang disebut tanah yang dapat diberikan kepada dan dipunyai oleh orang-orang lain serta badan- badan hukum”. Adapun macam-macam hak atas tanah yang dimaksud dalam
14 Santoso U, Op. Cit, hal. 83.
pasal 4 ayat (1) tersebut diatur lebih lanjut dalam Pasal 16 dan 53 UUPA. Hak-hak atas tanah yang dimaksud yaitu, hak milik, hak guna usaha, hak guna bangunan, hak pakai, hak sewa, hak membuka tanah, hak memungut hasil hutan.15
B. Tinjauan Umum tentang Masyarakat Hukum Adat 1. Pengertian Masyarakat Hukum Adat
Masyarakat Hukum Adat merupakan sekelompok orang yang sedang merasa terikat oleh aturan Hukum sebagai warga bersama suatu persekutuan hukum khusus yang membenarkan serta mengimplementasikan ketentuan- ketentuan persekutuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Ter Haar mendeskripsikan masyarakat hukum adat merupakan kelompok masyarakat yang teratur, bersifat tetap, memiliki kekayaan sendiri baik berbentuk benda yang terlihat ataupun yang tidak terlihat. Dalam persekutuan hukum yang disebut Masyarakat Hukum Adat itu, setiap anggota merasa ada hubungan serta bersikap dan juga berkelakuan sebagai satu kesatuan, dan tentang itu tertanam dalam kehidupan mereka.16
Menurut Van Vollenhoven, terdapat 6 (enam) tanda-tanda ataupun ciri-ciri masyarakat hukum adat, yaitu sebagai berikut.
a. Hanya persekutuan hukum dan anggota-anggotanya yang dapat menggunakan tanah, belukar didalam wilayahnya;
b. Yang bukan anggota persekutuan dapat memakai hak itu, tetapi perlu seizin dari persekutuan hukum tersebut.
15 H.M. Arba, Op.Cit., hal. 96
16 Rosnidar Sembiring, Op, Cit., Hal. 84
18
c. Dalam menggunakan hak itu, untuk yang bukan anggota harus membayar recognitie.
d. Persekutuan hukum memiliki tanggung jawab terhadap kejahatan tertentu yang terjadi dalam lingkungan wilayahnya, pada saat orang yang melakukan kejahatan itu sendiri tidak dapat digugat.
e. Persekutuan hukum tidak boleh memindahkan haknya untuk selama- lamanya pada siapapun.
f. Persekutuan hukum mempunyai hak campur tangan terhadap tanah- tanah yang telah digarap, misalnya dalam pemberian pekarangan atau dalam jual beli.17
Wewenang (hak serta kewajiban) masyarakat hukum adat tersebut timbul dari ikatan secara lahiriah dan batiniah sebagai dampak hubungannya dengan tanah dan telah berlangsung secara turun temurun. Hubungan itu selain merupakan hubungan lahiriah juga merupakan batiniah yang bersifat religius- magis, yaitu menurut keyakinan masyarakat hukum adat yang berkaitan, bahwa tanah/ wilayah adalah peninggalan nenek moyang yang ditujukan bagi kelangsungan hidup dan penghidupannya serta bagi keturunan/generasinya sepanjang masa.
2. Kepemilikan Hak atas Tanah Adat
Penguasaan dan pemilikan tanah dalam Hukum Adat dikenal sebagai Hak Ulayat. Hak ulayat merupakan hak yang dikuasai secara komunal oleh anggota persekutuan masyarakat Hukum Adat. Konsep penguasaan tanah dalam Hukum
17 Ibid., Hal . 11
Adat merupakan penguasaaan secara tidak tertulis, tanah adat tidak dapat diberikan sertifikat sebagai alas hak karena merupakan kepemilikan bersama seluruh anggota masyarakat Hukum Adat.
Hukum adat melihat adanya hubungan yang bersifat religio magis antara masyarakat Hukum Adat dengan tanah yang didudukinya. Masyarakat hukum adat memiliki hak untuk menguasai tanah tersebut, mengelola dan memanfaatkan tanah serta memungut hasil dari tumbuhan yang hidup di atasnya.
Hukum adat mengenal adanya 2 (dua) hal yang menyebabkan tanah itu memiliki kedudukan yang sangat penting di dalam hukum adat yang disebabkan oleh :18
1. Karena sifatnya, yang merupakan satu-satunya benda kekayaan yang dalam keadaan apapun juga akan tetap masih bersifat tetap dalam keadaannya bahkan menjadi lebih menguntungkan.
2. Karena faktanya, yaitu kenyataannya bahwa tanah itu adalah:
a. Merupakan tempat tinggal persekutuan (masyarakat).
b. Memberikan penghidupan kepada persekutuan (masyarakat).
c. Merupakan tempat dimana para warga persekutuan (masyarakat) yang meninggal dunia dikuburkan.
d. Merupakan tempat tinggal bagi para pelindung persekutuan (masyarakat) dan roh - roh para leluhur persekutuan (masyarakat).
18 Uktolseja, N., & Radjawane, P. Tinjauan Juridis Perkembangan Tanah-Tanah Adat (Dahulu, Kini dan Akan Datang). Journal, (2019). hal. 15.
20
3. Jual Beli Tanah Adat menurut Hukum Adat
Terjadinya pengalihan atau penyerahan, dengan pembayaran kontan melalui sebuah transaksi dengan dilakukannya perbuatan hukum oleh pihak-pihak yang bersangkutan, maka terjadinya proses pemindahan hak atas tanah yang wujudnya adalah salah satu pihak memindahkan haknya atas sebidang tanah kepada pihak lain yang memperoleh hak atas tanah itu.
Perda Kabupaten Toraja Utara No. 1 Tahun 2019 pada Pasal 18 ayat (3) menyebutkan bahwa: “Hak atas tanah yang dimiliki secara perseorangan hanya dapat dipindahtangankan sesuai dengan persyaratan dan proses yang ditentukan hukum adat.” Syarat peralihan hak atas tanah menurut hukum adat adalah dimana seseorang yang mau mengalihkan hak atas tanahnya kepada yang mau dialihkan dengan dihadapan pemangku adat, kepala kelurahan dan pejabat pembuatan akta tanah dengan konsen terang tunai.
Dalam hukum adat pada dasarnya setiap perbuatan hukum yang mengakibatkan perubahan posisi hukum (rechtpositie) dari suatu hal, hanya akan mendapatkan perlindungan hukum, jikalau perbuatan hukum itu dilakukan secara sah. Untuk menjamin bahwa suatu perbuatan hukum itu sah, maka perbuatan hukum itu harus dilakukan secara terang, suatu perbuatan hukum itu dilakukan dengan sepengetahuan pimpinan persekutuan.
Bentuk-bentuk jual beli tanah dalam Hukum Adat, antara lain :19 1. Jual Gadai (groundverpading)
Penyerahan tanah dengan pembayaran kontan, akan tetapi yang
19 A. Suriyaman Pide, Op. Cit., hal. 55
menyerahkan mempunyai hak mengambil kembali tanah itu dengan membayar uang yang sama jumlahnya.
2. Jual Lepas
Jual lepas merupakan proses pemindahan hak atas tanda yang bersifat terang dan tunai di mana semua ikatan antara penjual dengan tanahnya menjadi lepas sama sekali. Dalam jual lepas, biasanya pembeli memberikan tanda jadi (panjer). Panjer yang ada adalah untuk mengikat calon penjual tanah namun konsekuensinya apabila jual beli tidak jadi dilakukan oleh calon pembeli, panje yang dibayarkan tidak dapat dikembalikan lagi.
3. Jual Tahunan (groundverhuur met vooruitbetaalden huur-schat)
Penyerahan tanah dengan pembayaran kontan, dengan perjanjian bahwa apabila kemudian tidak ada perbuatan hukum lain sesudah jangka waktu tertentu, tanah itu kembali lagi kepada yang menyerahkannya, kepada pemilik tanah. Dengan demikian, menjual tahunan sama halnya dengan sewa tanah yang uang sewanya telah dibayarkan lebih dahulu.
C. Hak Komunal
Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang / Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 9 Tahun 2015 Pasal 1 angka 1, memberikan definisi bahwa mengenai hak komunal atas tanah sebagai hak milik atas tanah masyarakat hukum adat dan masyarakat yang berada dalam kawasan hutan dan perkebunan.
Subjek dari hak komunal atas tanah yang diatur dalam Permen ATR ini diatur dalam Pasal 2, yaitu masyarakat hukum adat dan Masyarakat yang berada dalam kawasan tertentu, dan objek dari hak komunal atas tanah adalah tanah-
22
tanah adat dan tanah-tanah yang berada dalam kawasan hutan atau perkebunan yang telah dikuasai secara fisik oleh masyarakat yang berada dalam kawasan tertentu sekurang-kurangnya selama 10 (sepuluh) tahun.
Istilah hak komunal dikenal sebagai hak yang dimiliki secara turun temurun termasuk hak kolektif atas tanah yang para pendukung haknya adalah masyarakat persekutuan hukum adat bukan hak individu. Ini pulalah yang mendasari sehingga kerap menyebut hak komunal sebagai hak kolektif.
Adapun hak-hak milik komunal dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu:”
1. Hak milik komunal yang tanahnya digarap secara tetap oleh anggota masyarakat hukum itu dan dapat diwariskan.
2. Hak milik komunal yang tanahnya digarap secara tidak tetap, yang berarti setiap kali atau suatu waktu tertentu dapat beralih kepada anggota masyarakat hukum adat lainnya.
D. Masyarakat Hukum Adat Toraja 1. Masyarakat Hukum Adat Toraja
Suku Toraja adalah salah satu suku yang yang terkenal di indonesia, dalam masalah peraturan masyarakat Toraja masih menggunakan sistem adat atau hukum adat meski telah dipengaruhi oleh budaya-budaya modern akibat banyaknya wisatawan dari dalam atau luar yang masuk ke indonesia. Keberadaan hukum adat yang ada pada suku Toraja meskipun adanya perkembangan zaman, namun pada kenyataannya masyarakat suku Toraja masih dapat mempertahankan dan bahkan masih terpengaruh dengan kebiasaan-kebiasaan leluhur mereka baik
dalam perkawinan, pembagian warisan, penyelesaian masalah dan upacara kematian.
Daerah Toraja dahulu dikenal juga dengan nama Tondok Lepongan Bulan Tana Matari Allo. Yang berarti "Negeri yang bulat seperti bulan dan matahari”, nama ini mempunyai latar belakang yang bermakna persekutuan negeri sebagai suatu kesatuan yang bulat dari berbagai daerah adat. Selain itu mereka juga menghargai prinsip-prinsip hidup sesuai dengan falsafah Toraja sendiri, dan yang menjadi ukuran bahwa seseorang itu memiliki pribadi yang baik sebagai orang Toraja yaitu orang-orang yang masih memegang falsafah dan prinsip-prinsip hidup. Dimana nilai-nilai kekeluargaan dan kebersamaan yang menjadi prinsip utama Toraja, yang selama ini disimbolkan dari rumah adatnya yaitu Tongkonan dan semboyan Misa Kada Di Potuo, Pantan Kada Dipomate (satu kata kita hidup bersama dan perbedaan yang akan menghancurkan kita = bersatu kita teguh bercerai kita runtuh). Inilah yang menyebabkan Toraja tidak pernah diperintah oleh seorang penguasa tunggal, tetapi wilayah daerah yang terdiri atas kelompok adat yang diperintah oleh masing-masing pemangku adat di Toraja. Karena perserikatan dan kesatuan kelompok adat tersebut, maka diberilah nama perserikatan bundar (bulat) yang terikat dalam suatu pandangan hidup dan keyakinan sebagai pengikat seluruh daerah dan kelompok adat orang Toraja.20
20 Ellyne Dwi Poespasari, Hukum Adat Suku Toraja, Jakad Media Publishing, Surabaya, 2019, hal.
5
24
Bahwa adanya nama Lepongan Bulan atau Tana Matarik Allo tersebut adalah bersumber dari terbentuknya Negeri itu dalam satu kebulatan/kesatuan tata masyarakat yang terbentuk berdasarkan :21
1. Suatu Negeri yang terbentuk atas adanya Persekutuan dan Kebulatan berdasarkan pada satu Agama/Keyakinan yang dinamakan Aluk Todolo, yang mempergunakan suatu macam aturan yang bersumber/berpancar dari satu sumber yaitu dari Negeri Marinding Banua Puan yang dikenal dengan Aluk Pitung SA’bu Pitu Ratu’ Pitung Pulo Pitu atau (aturan/agama).
2. Suatu Negeri yang dibentuk oleh beberapa daerah Adat tetapi mempergunakan satu dasar Adat dan Budaya yang berpancar/bersumber satu sumber yang berpencar atau bersinar seperti sinarnya Bulan dan Matahari.
3. Suatu kesatuan Negeri yang terletak pada bagian Utara di pegunungan Sulawesi Selatan yang dibentuk oleh suatu suku yang dikenal dengan Suku Toraja sekarang ini.
Adapun Tingkatan masyarakat adat Toraja yang sangat mempengaruhi pertumbuhan masyarakat, kebudayaan dan dalam sistem pemerintahan.
Dalam masyarakat Toraja dikenal ada empat tingkatan strata yang tersusun sebagai berikut :22
1. Tana’ bulaan (strata sosial bangsawan tinggi).
21 L. T. Tangdilintin, Toraja dan Kebudayaannya, Yayasan Lepongan Bulan, TanaToraja, 1981, hal. 1
22 Shaifuddin Bahrum dan Joni S. Lisungan, Bangunan Sosial Tongkonan, Direktorat Jenderal Nilai Budaya, Seni Dan Film, Departemen Kebudayaan Dan Pariwisata, Jakarta, 2009, hal. 79
Tana’ bulaan bertugas sebagai pemimpin masyarakat yang mengatur sistem pemujaan dan sistem sosial atau sebagai pemimpin mengemban tugas sukaran aluk.
2. Tana’ bassi (strata sosial bangsawan menengah).
Tana’ bassi sebagai tomaluangan ba’tang, sebagai orang yang pintar untuk melaksanakan seluruh ketentuan agama.
3. Tana’ karurung (strata sosial rakyat kebanyakan).
Tana’ karurung menerima tugas sebagai pande (orang yang memiliki keahlian teknis) seperti tukang, petani dan peternak juga termasuk ahli perang.
4. Tana’ kuakua (strata sosial bagi golongan pengabdi/hamba).
Tana’ kuakua mendapat tugas dan kewajiban membantu atau mengabdi kepada tana'bulaan dan tana' bassi utamanya dalam menghadapi upacara- upacara keagamaan dan upacara adat.
Dalam kehidupan masyarakat, strata Tana' bulaan sebagai lapisan masyarakat yang paling tinggi dipercaya untuk menjadi pemimpin adat atau sebagai ketua dewan adat. Mereka berhak menyandang gelar adat sebagai puang, siambe dan ma’dika (siambe dengan gelar sokkong bayu). Kemudian kasta yang berada sedikit lebih rendah adalah tana’ basi anggota kasta ini akan menjabat sebagai pembantu atau anggota pemangku adat dengan jabatan to perengnge’, ana’ patalo dan to bara Kasta tana’ karurung adalah strata sosial yang dapat menjabat pembantu pemangku adat dengan tugas penghulu Aluk Todolo yang dikenal dengan nama to minaa, to indo’ atau indo' padang. Sedangkan kasta tana’
26
kuakua merupakan kasta yang terendah yang hanya dapat menjabat pengatur dan pelayanan pada upacara pemakaman.
Masyarakat adat Toraja merupakan masyarakat hukum genealogis yaitu berdasarkan ikatan keturunan/pertalian suatu keturunan, yang melandaskan kepada pertalian darah, dan pertalian suatu keturunan.23 Adapun ahli hukum adat membedakan masyarakat Genealogis ke dalam tiga macam, yaitu yang bersifat patrilineal, matrilineal, dan bilateral atau parental.
Masyarakat patrilineal adalah susunan masyarakat yang ditarik menurut garis keturunan bapak (garis lelaki), sementara garis keturunan ibu disingkirkan.
Masyarakat matrilineal adalah yang susunan masyarakatnya ditarik menurut garis keturunan ibu (garis wanita), sedangkan garis keturunan bapak disingkirkan.
Masyarakat bilateral atau parental adalah susunan masyarakatnya ditarik menurut garis keturunan orang tua, yaitu bapak dan ibu bersama-sama. Jadi, hubungan kekerabatan antara pihak bapak dan ibu berjalan sejajar, dimana masing-masing anggota masuk dalam klan bapak dan ibu.24
2. Tanah Tongkonan
Istilah Tongkonan berasal dari Kabupaten Tana Toraja. Kata “Tongkonan”
itu sendiri, berarti “berkumpul” atau “musyawarah”. Dalam perkembangannya, Tongkonan memiliki dua arti, yaitu sebutan untuk rumah adat kediaman pemangku adat dan sebutan bagi rumpun keluarga yang berasal dan/atau mendiami rumah adat tersebut.
23 Ellyne Dwi Poespasari, Op. Cit., hal. 28
24 A. Suriyaman Pide, Op. Cit., hal. 60-62
Tongkonan adalah rumah adat orang Toraja, yang merupakan tempat tinggal, kekuasaan adat, dan perkembangan kehidupan sosial budaya orang Toraja. Tongkonan tidak bisa dimiliki oleh perseorangan, melainkan dimiliki secara komunal dan turun temurun oleh keluarga atau marga Suku Tana Toraja.
Selain rumah adat, orang Toraja mengenal tiga jenis Tongkonan dan fungsinya menurut peran adatnya, walaupun bentuknya sama yakni :25
a. Tongkonan Layuk (Pesio’ Aluk) yang kegunaannya sebagai pusat kekuasaan adat, dan tempat untuk bermusyawarah, menyusun aluk sola pemali (aturan dan larangan) dihuni oleh kepala Adat.
b. Tongkonan kaparengngesan (pekaindoran/pekanberan) kegunaannya sebagai tempat melaksanakan pemerintahan adat berdasarkan aturan dari Tongkonan layuk (pesio’ aluk), juga tempat mengadili seseorang jika melanggar peraturan dan larangan.
c. Tongkonan Parapuan atau Batu A’riri, yang kegunaannya sebagai tempat menunjang, mengatur, serta membina persatuan keluarga dan warisan.
Dalam hal ini bagi orang Toraja Tongkonan dianggap sebagai rumah warisan nenek moyang yang tak ternilai harganya, sehingga ia harus senantiasa dijaga, dipelihara, dan terus dilestarikan. Jika sebuah Tongkonan mengalami kerusakan karena termakan usia maka yang bertanggungjawab untuk memperbaikinya adalah seluruh anggota keluarga yang berasal atau bernenek moyang pada Tongkonan itu.
25 Pakan, Pratiknjo, dan Mamosey (2018). "Rumah Adat "Tongkonan" Orang Toraja Kabupaten Tana Toraja Propinsi Sulawesi Selatan". HOLISTIK, Journal Of Social and Culture: hal. 1
28
Tongkonan sebagai sebuah rumah secara bentuk mengisyaratkan berbagai simbol-simbol kebudayaan Toraja. Tidak hanya bentuknya sebagai tempat berteduh dan menjalin sebuah keluarga di sebuah rumah, akan tetapi Tongkonan mempunyai beragam fungsi, khususnya fungsi sosial berkaitan dengan ekonomi, sosial dan politik.
Tanah Tongkonan merupakan tanah adat yang kepemilikkannya dikuasai sekelompok anggota atau rumpun keluarga dimana pengaturan, penguasaan, dan pengunaannya ditentukan menurut norma-norma dan aturan-aturan adat yang berlaku diantara anggota atau rumpun keluarga itu sendiri.
Tanah Tongkonan merupakan tanah yang dimiliki oleh Tongkonan yang terdiri atas 4 (empat), yaitu :26
1. Tanah kering atau tanah yang biasa disebut kombong Tongkonan yaitu suatu wilayah Tongkonan, Tongkonan ini dimanfaatkan langsung oleh anggota Tongkonan yang bersangkutan untuk membangun Tongkonan dan rumah tinggal.
2. Sawah Tongkonan yang lazim disebut Kande Tongkonan yaitu tanah dalam bentuk sawah yang disiapkan untuk suatu Tongkonan dimana hasil tanah tersebut digunakan bilamana rumah Tongkonan tersebut mengalami kerusakan.
3. Rante Tongkonan yaitu suatu tempat untuk melaksanakan pesta pemakaman dari anggota keluarga Tongkonan apabila ada yang
26 Yonna Pongpabia, 2013, Penyelesaian Sengketa Terhadap Kepemilikan Tanah Tongkonan Di Daerah Tana Toraja, Makassar, hal. 11
meninggal. Sesuatu hal yang dilakukan berdasarkan kebiasaan dikalangan masyarakat adat Toraja.
4. Liang Tongkonan yaitu berupa kuburan batu atau patane yang terletak di dalam wilayah Tanah Tongkonan yang bersangkutan yang merupakan tempat untuk menyimpan mayat dari anggota keluarga Tongkonan yang telah diupacarakan.
Terdapat beberapa kriteria keberadaan tanah Tongkonan yang ditandai oleh : a. Asas tanah Tongkonan adalah asas terpisah (Horizontal scheiding)
yaitu terpisahnya antara tanah dengan segala sesuatu yang ada diatasnya. Tanah Tongkonan tidak boleh dijual, dihibahkan atau dilepaskan kepada pihak diluar rumpun keluarga.
b. Tanah Tongkonan dikelola oleh to ma’kampai Tongkonan (salah satu anggota rumpun keluarga yang mendapat manat/ditunjuk untuk menjaga atau tinggal di rumah Tongkonan) dan digunakan untuk kepentingan seluruh rumpun keluarga dalam naungan to ma’kampai Tongkonan tersebut; semua rumpun keluarga berhak berhak memilikinya, dikarenakan pemilik tanah Tongkonan sesunguhnya adalah leluhur.
c. Pemindahan tanah Tongkonan, hanya dalam bentuk gadai, setelah disepakati oleh seluruh anggota Tongkonan melalui suatu musyawarah mufakat dan diutamakan kepada anggota Tongkonan terdekat terlebih dahulu. untuk mengolah, mencari nafkah dan memanfaatkan tanah Tongkonan.
30
Tanah Tongkonan memiliki fungsi dalam masyarakat Tana Toraja, yang dapat berfungsi kedalam dan keluar. Adapun fungsi tersebut adalah:
1. Fungsi kedalam, artinya bahwa tanah Tongkonan dapat dipakai oleh setiap warga masyarakat lingkungan persekutuan hukum dalam kepentingan negara atau pemerintahan.
2. Fungsi keluar, artinya tanah Tongkonan dapat digunakan bila tanah itu diperlukan untuk kepentingan bersama dalam masyarakat wilayah persekutuan hukum/dalam kepentingan negara/pemerintah.
Fungsi tanah Tongkonan di Kabupaten Toraja Utara, antara lain merupakan tempat kediaman, sumber penghidupan, kekayaan serta sebagai lambang status sosial bagi semua anggota/warga Tongkonan yang bersangkutan.
3. Kepemilikan Tanah Tongkonan
Pemilikan tanah adat ditandai dengan penguasaan secara fisik dan pengakuan sebagaimana penguasaan tanah pada masyarakat hukum adat Toraja yang di mana telah diberikan sebuah aturan ketentuan-ketentuan adat Toraja yang nyata-nyata masih dihormati oleh anggota masyarakat hukum adatnya secara turun temurun. Penguasaan tanah bagi masyarakat hukum adat, dimanapun selalu keberadaannya, batas-batas dan luasnya, diakui dan diterima anggota masyarakat berdasarkan kesepakatan tidak tertulis.
Tanah ini biasanya berada di ketinggian dengan bentuk tanah kering (bukan sawah). Di atas tanah Tongkonan ini biasa juga dibangun beberapa rumah tinggal yang dihuni oleh sebuah keluarga atau lebih. Keluarga yang tinggal di sana
adalah keluarga yang disepakati dan ditunjuk untuk menjaga dan memelihara rumah Tongkonan.27
Sebuah Tongkonan tidak hanya dimaknai sebagai sebuah bangunan rumah adat saja akan tetapi juga mengikut segala harta benda yang ada di sekitamya, terutama tanah kering (perkebunan), tanah basah (persawahan), dan halaman tempat Tongkonan itu berdiri. Biasanya sebuah Tongkonan tua memiliki harta (tanah) yang luas/ banyak. Semua ornamen yang ada di dalam sebuah Tongkonan atas tergambar secara genealogis tautan hubungan keluarga atau kelompok keluarga dari nenek moyang mereka hingga ke cucu dan cicit-cicit mereka sampai beberapa lapis keturunan. Pada dasarnya, jalinan keluarga Toraja tercipta berdasarkan garis keturunan ayah dan ibu. Sehingga seorang anak dapat memiliki dua Tongkonan nenek moyang, yakni Tongkonan yang bersumber dari ayah dan juga Tongkonan yang bersumber dari ibu. Organisasi keluarga besar yang terbangun dalam sebuah Tongkonan dipimpin oleh seorang ketua (To Parengnge) yang sangat dihormati dan memiliki kedudukannya sendiri yang akan menjalankan roda organisasi. Namµn demikian keputusan tertinggi berada pada hasil musyawarah keluarga (kombongan).
Masyarakat adat Toraja mempunyai cara tertentu untuk memelihara dan mempertahankan tanah Tongkonannya. Dengan menetapkan batas-batas di sekeliling wilayahnya biasanya dengan batas-batas fisik, berupa batu, penanaman pohon, bukit, sungai, dan sebagainya.”MASYARAKATN
27 Shaifuddin Bahrum dan Joni S. Lisungan, Op. Cit., hal. 143
32
E. Sengketa Pertanahan
Menurut Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia (BPN RI) No. 3 Tahun 2011 tentang Pengelolaan, Pengkajian, dan Penanganan Kasus Pertanahan. sengketa tanah atau yang biasa dikatakan sengketa adalah perselisihan pertanahan antara orang perseorangan, badan hukum, atau lembaga yang tidak berdampak luas secara sosio-politis. Secara singkat, masyarakat umumnya mengenal sengketa merupakan permasalahan kepemilikan antar dua pihak, yang umumnya terjadi karena kedua pihak mengklaim kepemilikan atas suatu tanah.28
Menurut Prof. Boedi Harsono, sengketa tanah adalah sengketa yang diakibatkan oleh dilakukannya perbuatan hukum atau terjadinya peristiwa hukum mengenai suatu bidang tanah tertentu.29
Menurut Kamus Besar Indonesia, Sengketa adalah segala sesuatu yang menyebabkan perbedaan pendapat, pertikaian, dan perbantahan. Sedangkan Konflik adalah percecokan atau perselisihan.
Menurut Rusmadi Murad, Pengertian sengketa tanah atau sengketa hak atas tanah, yaitu timbulnya sengketa hukum yang bermula dari pengaduan suatu pihak (orang atau badan) yang berisi keberatan-keberatan dan tuntutan hak atas tanah, baik terhadap status tanah, prioritas, maupun kepemilikannya dengan harapan dapat memperoleh penyelesaian secara administrasi sesuai dengan ketentuan peraturan yang berlaku.30
28 Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Indonesia No. 3 Tahun 2011
29 Boedi Harsono, Sengketa-Sengketa Tanah serta Penanggulangannya, Jakarta, Djambatan , 2005, hal. 18.
30 Rusmadi Murad, 1991, Penyelesaian Sengketa Hukum atas Tanah, Jakarta, Alumni, hal. 22
Dalam Peraturan Menteri Negara Agraria / Kepala Badan Pertanahan Nasional ( BPN ) Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1999 tentang Tata Cara Penanganan Sengketa Pertanahan juga diatur mengenai istilah sengketa pertanahan. Sengketa pertanahan adalah perbedaan pendapat mengenai:
a. Keabsahan suatu hak;
b. Pemberian hak atas tanah;
c. Pendaftaran atas tanah termasuk peralihan dan penerbitan tanda bukti haknya, antara pihak-pihak yang berkepentingan dengan instansi di lingkungan Badan Pertanahan Nasional.
Perbedaan pendapat antara pihak yang berkepentingan mengenai keabsahan suatu hak, pemberian hak atas tanah, pendaftaran hak atas tanah, termasuk peralihan dan penerbitan tanda bukti haknya serta pihak yang berkepentingan yang merasa mempunyai hubungan hukum dan pihak lain yang berkepentingan terpengaruh oleh status hukum tanah tersebut.
Suatu sengketa tanah tentu subyeknya tidak hanya satu, namun lebih dari satu, antar individu, kelompok, organisasi bahkan lembaga besar sekalipun seperti Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ataupun negara. Status hukum antara subyek sengketa dengan tanah yang menjadi obyek sengketa bisa berupa pemilik, pemegang hak tanggungan, pembeli, penerima hak, penyewa, pengelola, penggarap, dan sebagainya. Sedangkan objek sengketa tanah meliputi tanah milik perorangan atau badan hukum, tanah aset negara atau pemda, tanah negara, tanah adat dan ulayat, tanah eks hak nasional, tanah perkebunan, serta kepemilikan lainnya.
34
Menurut Suyud Margono, Sengketa biasanya bermula dari suatu situasi dimana ada pihak yang merasa dirugikan oleh pihak lain yang diawali oleh perasaan tidak puas yang bersifat subyektif dan tertutup. Kejadian ini dapat dialami oleh perorangan maupun kelompok. Perasaan tidak puas akan muncul ke permukaan apabila terjadi konflik kepentingan. Proses sengketa terjadi karena tidak adanya titik temu antara pihak-pihak yang bersengketa. Secara potensial, dua pihak yang mempunyai pendirian atau pendapat yang berbeda berpotensi beranjak ke situasi sengketa.31
Hampir di setiap daerah di Indonesia tidak pernah lepas dari sengketa tanah, baik rakyat sesama rakyat, rakyat dengan perusahaan, maupun rakyat dengan pemerintah itu sendiri. Sengketa tanah merupakan salah satu perkara yang paling banyak diajukan ke pengadilan. Masalah tanah yang terjadi di tengah- tengah masyarakat terus mengalami peningkatan dan semakin kompleks, sehingga di pengadilan terjadi ketidak-seimbangan antara masalah yang diajukan dengan proses penyelesaian yang dianggap lambat. Sengketa tanah pada hakikatnya memiliki beberapa sifat, diantaranya; pertama, sengketa tanah bersifat administratif, kedua sengketa tanah bersifat perdata, dan ketiga sengketa tanah bersifat pidana. Sengketa tanah yang bersifat perdata merupakan sengketa yang melibatkan individu dengan individu lain dengan karakteristik yang berbeda dengan sengketa perdata pada umumnya. Di mana masing-masing individu saling menuntut hak dan kewajibannya.32
31 Suyud Margono, 2000, Alternative Dispute Resulution dan Arbitrase, Jakarta, Ghalia Indonesia, hal. 34.
32Kurniati, K., Madiong, B., & Makkawaru, Z. (2021). Analisis Penyelesaian Sengketa Tanah Melalui Jalur Mediasi di Desa Bontomanai Kecamatan Manngarabombang Kabupaten
Ada beberapa jenis penyelesaian sengketa tanah menurut Undang-undang Nomor 30 tahun 1999 tentang arbitrase dan alternatif penyelesaian sengketa tanah:
a. Sengketa atau beda pendapat perdata dapat diselesaikan oleh para pihak melalui alternatif penyelesaian sengketa yang didasarkan pada itikad baik dengan mengesampingkan penyelesaian secara litigasi di Pengadilan Negeri.
b. Penyelesaian sengketa atau beda pendapat melalui alternatif penyelesaian sengketa sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diselesaikan dalam pertemuan langsung oleh para pihak dalam waktu paling lama 14 (empat belas) hari dan hasilnya dituangkan dalam suatu kesepakatan tertulis.
Di kabupaten Toraja Utara dimana hukum adat masih kental dalam kalangan masyarakat, peranan Tongkonan dibawah pimpinan oleh seorang To Parenge’ masih kuat. Konsekuensi dari hal tersebut di atas yaitu bahwa semua tanah yang termasuk wilayah Tongkonan adalah milik dari Tongkonan yang bersangkutan dan pemanfaatannya diatur oleh To Parenge’. Permasalahan utama dari tanah Tongkonan adalah :33
1. Pertama karena umumnya tanah Tongkonan tidak memiliki sertifikat karena merupakan kepemilikan keluarga Tongkonan secara kolektif.
2. Kedua adalah ketidakjelasan batas-batas tanah Tongkonan.
Takalar. Jurnal Paradigma Administrasi Negara, 3(2), 144–151. Hal. 144
33Abdullah, S., Sultan, S., & Matande, R. S. (2020). Makna kearifan lokal To Parenge dalam penyelesaian konflik lahan di Tana Toraja. Jurnal Sosiologi Dialektika, 13(2), hal. 128
36
3. Ketiga adalah ketidakjelasan mengenai pemilik yang sah
mengakibatkan adanya saling mengklaim atas kepemilikan tanah.
Sebagai seorang pemimpin tentunya To Parenge’ memiliki peran dan tanggungjawab yang besar dalam masyarakat. Masyarakat yang dipandang sebagai arena konflik membutuhkan suatu penanganan apabila terjadi konflik agar tidak meluas. To Parenge’ sebagai pemimpin dalam suatu kelompok mempunyai pengaruh besar untuk memediasi pihak yang berkonflik. Dalam kasus sengketa tanah yang terjadi, To Parenge’ juga memiliki andil dalam menyelesaikan konflik tersebut apalagi sebagai orang yang dituakan To Parenge’ didengar oleh segenap rumpun keluarga terutama mereka yang terlibat dalam konflik.
37 BAB III
METODE PENELITIAN A. Lokasi Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Kelurahan Pasele, Kecamatan Rantepao, Kabupaten Toraja Utara, Provinsi Sulawesi Selatan. Alasan pemilihan lokasi ini didasarkan pada adanya sengketa Tanah Tongkonan di Kelurahan Pasele, yang kemudian diselesaikan melalui Pemangku Adat dan Pengadilan Negeri.
B. Tipe Penelitian
Tipe penelitian yang digunakan yaitu penelitian hukum Sosio-Yuridis, adalah penelitian hukum yang menggunakan fakta-fakta yang diperoleh dari perilaku manusia, baik perilaku verbal yang diperoleh dalam wawancara.
C. Jenis dan Sumber Data
Sumber data yang digunakan sebagai dasar untuk menunjang hasil penelitian :
1. Data Primer, yaitu data yang diperoleh secara langsung di lokasi penelitian melalui wawancara dengan pihak-pihak yang berhubungan dengan penelitian. Dalam hal ini para anggota pemangku adat dan pemerintah lembang/kelurahan serta pemerintah kecamatan.
2. Data Sekunder, yaitu data yang diperloeh dengan cara mempelajari dan menelaah buku-buku, peraturan perundang-undangan, serta dokumen- dokumen yang berkaitan dengan penelitian ini.