BAB II KERANGKA TEORI
6. Peran Guru Pendidikan Agama Islam
Peran guru pendidikan agama Islam yang penulis maksud disini adalah bagaimana cara guru dalam meningkatkan nilai-nilai spiritual terhadap peserta didik. Pekerjaan jabatan guru agama adalah luas, yaitu untuk membina seluruh kemampuan-kemampuan dan sikap-sikap yang baik dari murid sesuai dengan ajaran Islam.
Para pakar pendidikan Islam dengan berbagai ungkapan pada umumnya sepakat bahwa tujuan pendidikan Islam adalah membina pribadi yang berakhlak.38 Kehadiran guru dalam proses pembelajaran mempunyai peran yang penting. Peran guru itu belum dapat digantikan oleh teknologi seperti radio, televisi, tape recorder, internet, komputer maupun teknologi yang paling modern. Banyak unsur-unsur manusiawi seperti sikap, sistem nilai, perasaan, motivasi
37 Muhammad Nasib Ar-Rifa’i, Ringkasan Tafsir Ibnu Tafsir Jilid 2, (Jakarta:
Gema Insani Press, 1999), h. 1079
38 Abuddin Nata, Manajemen Pendidikan, (Jakarta: Prenada Media, 2003), h. 52
kebiasaan dan keteladanan, yang diharapkan dan hasil proses pembelajaran, yang tidak dapat dicapai melalui pendidik.39
Banyak peranan yang diperlukan dari guru sebagai pendidik, atau siapa saja yang menerjunkan diri manjadi guru. Menurut Moh.
Uzer Usman semua peranan yang diharapkan dari guru dapat diuraikan seperti di bawah ini yaitu:
a. Guru Sebagai Pembimbing
Peran guru sebagai pembimbing sangat dipentingkan kehadirannya di sekolah. Karena gurulah yang akan membimbing anak didik menjadi manusia dewasa susila yang cakap. Tanpa bimbingan, anak didik akan mengalami kesulitan dalam menghadapi perkembangan dirinya.
b. Guru Sebagai Pengelola Kelas
Dalam peranannya sebagai pengelola kelas (learning manager), guru hendaknya mampu mengelola kelas sebagai lingkungan belajar serta merupakan aspek dari lingkungan sekolah yang perlu diorganisasi. Lingkungan ini diatur dan diawasi agar kegitan-kegiatan belajar terarah kepada tujuan- tujuan pendidikan. Pengawasan terhadap belajar lingkungan itu turut menentukan sejauh mana lingkungan tersebut menjadi lingkungan belajar yang baik. Lingkungan yang baik ialah yang bersifat menantang dan merangsang siswa untuk belajar, memberikan rasa aman dan kepuasan dalam mencapai tujuan.
c. Guru Sebagai Mediator dan Fasilitator
Sebagai mediator guru hendaknya memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pendidikan karena
39 Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, h. 123
33
media pendidikan merupakan alat komunikasi untuk lebih mengefektifkan proses belajar mengajar. Dengan demikian media pendidikan merupakan dasar yang sangat diperlukan yang bersifat melengkapi dan merupakan bagian integral demi berhasilnya proses pendidikan dan pengajaran di sekolah.
d. Guru Sebagai Evaluator
Setiap jenis pendidikan atau bentuk pendidikan pada waktu-waktu tertentu selama satu periode pendidikan orang selalu mengadakan evaluasi, artinya pada waktu-waktu tertentu selama satu periode pendidikan selalu mengadakan penilaian terhadap hasil yang telah dicapai, baik oleh pihak terdidik maupun oleh pendidik. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah tujuan yang telah dirumuskan itu tercapai atau belum, dan apakah materi yang diajarkan sudah cukup tepat. Semua pertanyaan tersebut akan dapat dijawab melalui kegiatan evaluasi atau penilaian.40
Sedangkan menurut Syaiful Bahri Djamarah ada beberapa peranan guru yang harus dilaksanakan antara lain sebagai berikut:
a. Guru Sebagai Korektor
Sebagai korektor, guru harus bisa membedakan mana nilai yang baik dan mana nilai yang buruk. Kedua nilai yang berbeda ini harus betul-betul dipahami dalam kehidupan di masyarakat.
Kedua nilai ini mungkin telah anak didik miliki dan mungkin pula telah mempengaruhinya sebelum anak didik masuk sekolah.
Semua nilai yang baik harus guru pertahankan dan semua nilai yang buruk harus disingkirkan dari jiwa dan watak anak didik.
40 Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, (Bandung: 2007), Cet. ke-1, h. 9- 11
Bila guru membiarkannya, berarti guru telah mengabaikan peranannya sebagai seorang korektor, yang menilai dan mengoreksi semua sikap, tingkah laku, dan perbuatan anak didik.
b. Guru Sebagai Inspirator
Sebagai inspirator, guru harus dapat memberikan ilham yang baik bagi kemajuan belajar anak didik. Persoalan belajar adalah masalah utama anak didik. Guru harus dapat memberikan petunjuk (ilham) bagaimana cara belajar yang baik.
c. Guru Sebagai Motivator
Sebagai motivator, guru hendaknya dapat mendorong anak didik agar bergairah dan aktif belajar. Dalam upaya memberikan motivasi, guru dapat menganalisis motof-motif yang melatarbelakangi anak didik malas belajar dan menurun prestasinya di sekolah. Setiap saat guru harus bertindak sebagai motivator, karena dalam interaksi edukatif tidak mustahil ada di antara anak didik yang malas belajar dan sebagainya. 41
B. Tinjauan Tentang Kecerdasan Spiritual 1. Pengertian Kecerdasan Spiritual
Secara konseptual kecerdasan spiritual terdiri atas gabungan kata kecerdasan dan spiritual.42 Kecerdasan berasal dari kata cerdas yang secara harfiah berarti sempurna perkembangan akal budinya, pandai dan tajam pikirannya.43 Kecerdasan sangat penting dalam kehidupan. Dengan kecerdasan seseorang mampu berpikir dengan
41 Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, (Jakarta, PT Rineka Cipta 2005), Cet. ke-2, h. 44-45
42 Abd Wahab dan Umiarso, Kepemimpinan Pendidikan dan Kecerdasan Spiritual, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2017), Cet. ke-2, h. 46
43 Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Persada, 1991), Cet. ke-10, h. 211
35
baik, rasional dan terarah, maka orang yang cerdas akan lebih cepat dalam hal apapun. Karena ia mempunyai teori dan tehnik tersendiri dalam mengembangkan kreativitas dan pengetahuan.
Menurut Freeman, kecerdasan dipandang sebagai: “Suatu kemampuan yang dapat dibagi menjadi tiga macam, yaitu kemampuan adaptasi, kemampuan belajar, dan kemampuan abstrak”.
Sedangkan menurut Binet, kecerdasan adalah: “Kecenderungan untuk mengambil dan mempertahankan pilihan yang tetap, kapasitas untuk beradaptasi dengan maksud memperoleh tujuan yang diinginkan dan kekuatan untuk autokritik.”44
Mengenai kecerdasan tak akan sempurna tanpa spiritual keagamaan. Dan dengan spiritual hidup lebih dekat dengan Tuhan dan akan merasakan kebahagiaan hakiki yang bersumber dari kalbu.
Pengetahuan saja tak akan cukup jika tanpa spiritual. Karena spiritual memberikan dorongan dan semangat kepada seseorang untuk menjalani kehidupan dengan baik dan terarah.
Spiritualitas juga dapat dimaknai sebagai nilai-nilai kebaikan alami yang berasal dari Tuhan atau sering disebut sifat “Ilahiah” di dalam diri anak. Hal ini yang mendasari pemikiran kami bahwa pendidikan karakter juga mencakup mengoptimalkan potensi spiritual anak. Contoh kisah Junior yang membawakan gelas karena menyayangi ibunya yang sedang batuk. Seperti kata-kata yang diucapkan Leopold, spiritual membuat dirinya bahagia karena merasakan cinta dan selalu berkomunikasi dengan Tuhan. Spiritual dapat kita maknai sebagai komunikasi dengan Tuhan terutama untuk
44 Purwa Atmaja Prawira, Psikologi Pendidikan Dalam Perspektif Baru, (Jogjakarta : Ar-Ruzz Media, 2012), h. 139-140
mendengar jawaban setiap pertanyaan kritis anak tentang hal-hal yang menarik perhatian di sekelilingnya.45
Kecerdasan spiritual adalah kemampuan untuk memberi makna spiritual terhadap pemikiran, perilaku, dan kegiatan, serta mampu menyinergikan IQ, EQ, dan SQ secara komprehensif.46
Menurut Sinetar dan Khavari, kecerdasan spiritual merupakan: “Pikiran yang mendapat inspirasi, dorongan, dan efektivitas yang terinspirasi penghayatan ketuhanan di mana kita menjadi bagian di dalamnya. Kecerdasan spiritual yang sejati merupakan kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai, tidak saja terhadap manusia, tetapi juga di hadapan Allah Swt.”47
Menurut Danah Zohar dan Ian Marshal, kecerdasan spiritual adalah: “Kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau value, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup dalam konteks makna yang lebih luas. Kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan/jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain.”48
Zohar dan Marshal menjelaskan bahwa: “Kecerdasan spiritual memberi rasa moral, kemampuan untuk menyesuaikan aturan yang kaku dibarengi dengan pemahaman dan cinta. Manusia menggunakan SQ untuk bergulat dengan permasalahan baik dan buruk, jahat dan kebenaran, serta untuk membayangkan
45 Rozi Sastra Purna and Arum Sukma Kinasih, Psikologi Pendidikan Anak Usia Dini, (Jakarta: PT Indeks, 2015), h. 44
46 Ari Ginanjar Agustian, Emosional Spiritual Quotient, (Jakarta: Arga Wijaya Persada), h. 47
47 M. Suyanto, 15 Rahasia Mengubah Kegagalan Menjadi Kesuksesan dengan Kecerdasan Spiritual, (Yogyakarta: Andi Offset, 2006), h. 4
48 Abd Wahab dan Umiarso, Kepemimpinan Pendidikan dan Kecerdasan Spiritual, h. 49
37
kemungkinan yang belum terwujud untuk bermimpi, bercita-cita, dan mengangkat derajat diri kita dari kerendahan.”49
Zohar dan Marshall, mengemukakan beberapa indikator dari kecerdasan spiritual yang tinggi, yaitu kemampuan untuk menjadi fleksibel, derajat kesadaran diri yang tinggi, kecakapan untuk menghadapi dan menggunakan serangan, kecakapan untuk menghadapi dan menyalurkan/memindahkan rasa sakit, kualitas untuk terilhami oleh visi dan nilai, enggan melakukan hal yang merugikan, kecenderungan melihat hubungan antara hal yang berbeda (keterpaduan), ditandai oleh kecenderungan untuk bertanya mengapa, mencari jawaban mendasar, dan mandiri.50
Menurut Marsha Sinetar, kecerdasan spiritual adalah:
“Pemikiran yang terilhami. Kecerdasan ini diilhami oleh dorongan dan efektivitas, keberadaan atau hidup Ilahia yang mempersatukan kita sebagai makhluk ciptaan Allah Swt”.51
Selanjutnya menurut Ari Ginanjar Agustian, kecerdasan spiritual adalah: “Kemampuan untuk memberi makna ibadah terhadap setiap perilaku dan kegiatan, melalui langkah-langkah dan pemikiran yang bersifat fitrah, menuju manusia yang seutuhnya dan memiliki pola pemikiran tauhid (integralistik) serta berprinsip hanya karena Allah.52 Suharsono mendefinisikan kecerdasan spiritual adalah suatu kecerdasan yang menghasilkan karya kreatif dalam
49 Didik Hermawan, Mencetak Anak Cerdas, (Solo: Smart Media, 2005), Cet. ke- 2, h. 34
50 Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, (Bandung:
PT Remaja Rosdakarya), h. 98
51 Triantoro Safaria, Spiritual Intellegence, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2007), Cet.
ke-1, h. 15
52 Ari Ginanjar Agustian, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual Berdasarkan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam, (Jakarta: Arga, 2001), Cet. ke-1, h. 57
berbagai kehidupan, karena upaya manusia yang suci bertemu dengan inspirasi Ilahi.”53
2. Ciri-Ciri Kecerdasan Spiritual
Menurut Ramayulis ciri-ciri kecerdasan spiritual terbagi menjadi tiga bagian yaitu:
a. Bersikap Asertif
Bila seseorang mempunyai kedalaman pemahaman tentang sifat ke Maha Esaan Tuhan, seseorang tidak mudah gamang oleh tekanan-tekanan duniawi seseorang tidak takut ketika berhadapan dengan seorang pemimpin, tidak gugup ketika berhadapan dengan seorang profesor dan tidak gemetar ketika berhadapan dengan atasan, karena mereka semua hanya relatif lebih baik dari suatu sisi, karena kelebihan mereka tidak langgeng, dan karena masih ada yang Maha Kuat, Maha kaya, Maha Berilmu dan Maha Berkuasa. Dengan kesadaran tersebut maka seseorang akan bersifat asertif ketika berhadapan dengan siapa saja.
b. Berusaha Mengadakan Inovasi
Kecerdasan spiritual juga mendorong untuk selalu mencari inovasi-inovasi untuk meghasilkan sesuatu yang lebih baik dari apa yang saat ini telah dicapai oleh manusia. Seseorang menyadari masih sangat banyak ruang untuk peningkatan kualitas hidup manusia. Masih banyak fakta-fakta dan sumber daya semesta yang belum tergali dan terolah oleh manusia.
Untuk selalu terdorong kearah kemajuan.
53 Suharsono, Akseslarasi Intelegenst, (Jakarta: Inisiasi Press, 2004), Cet. ke-1 h.
222
39
c. Berpikir Lateral
Kecerdasan spiritual akan mendorong untuk berpikir lateral yakni, pada saat sifat `keunggulan yang dimiliki manusia, maka ada sifat Maha bila otak kita berpikir tentang rasionalitas, maka ada yang Maha Pencipta, Maha Menentukan, dan Maha Pemelihara. Bila otak kanan berpikir tentang emosional, maka ada Yang Maha Penyayang, Maha Pemaaf, dan Maha Pembalas yang mempunyai emosi jauh dari jangkauan nilai-nilai emosi manusia.54
3. Mengembangkan Kecerdasan Spiritual
Kecerdasan spiritual dapat dikembangkan dengan berbagai cara diantaranya adalah:
a. Melalui Iman
M. Utsman Najatia menjelaskan iman adalah: “Sumber ketenangan batin dan keselamatan kehidupan. Iman, tauhid dan ibadah kepada Allah menimbulkan sikap istiqamah dalam perilaku. Di dalamnya terdapat pencegahan dan terapi penyembuhan terhadap penyimpangan, penyelewengan dan penyakit jiwa, Seorang mukmin yang berpegang teguh kepada agamanya, maka Allah akan menjaga semua ucapan dan perbuatannya”.55
b. Melalui Ibadah
Ibadah yang dikerjakan oleh seseorang dapat membersihkan jiwanya, bertambah banyak ia beribadah bertambah bersih jiwanya. Di dalam ajaran Islam Tuhan itu dilukiskan sebagai zat yang maha suci ia tidak bisa didekati kecuali oleh orang yang suci jiwanya. Ibadah baik ibadah wajib,
54 Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, h. 168
55 M. Utsman Najati, Belajar EQ dan SQ dari Sunah Nabi, (Jakarta: Hikmah, 2003), Cet. ke-5, h. 100
maupun ibadah sunnah dapat meningkatkan kecerdasan jiwa.
Jiwa yang bersih salah satu indicator kecerdasan spiritual.56 Kecerdasan spiritual (SQ) bersumber dari batin dan jiwa yang merupakan bagian terdalam dari diri manusia yang menggerakkan pikiran, tindakan dan perbuatan lainnya. Mengembangkan kecerdasan spiritul perlu diasa sejak dini dengan berbagai macam aspek pengembangan spiritual. Berikut ini menurut Akhmad Muhaimin Azzer ada beberapa cara lainnya dalam mengembangkan kecerdasan spiritual anak yaitu:
a. Membimbing Anak Menemukan Makna Hidup
Menemukan makna hidup merupakan suatu hal yang sangat penting dalam kehidupan. Karena hidup akan terasa hampa apabila kita tidak memiliki tujuan dalam hidup ini.
Adapun bimbingan-bimbingan yang dapat diarahkan kepada anak adalah membiasakan diri berpikir positif dan menggali hikmah di setiap kejadian.
b. Melibatkan Anak dalam Beribadah
Kecerdasan spiritual sangat erat kaitannya dengan kejiwaan. Demikian pula dengan kegiatan ritual keagamaan atau ibadah. Keduanya bersinggungan erat dengan jiwa atau batin seseorang. Apabila jiwa atau batin seseorang mengalami pencerahan, sangat muda baginya seseorang mendapatkan kebahagiaan dalam hidup. Oleh karena itu, agar anak-anak mempunyai kecerdasan spiritual yang baik, perlu dilibatkan dalam beribadah semenjak usia dini.
56 Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, h. 169-170
41
c. Mengunjungi Saudara yang Berduka
Mengunjungi saudara yang dimaksudkan disini adalah saudara yang berhubungan dengan kekerabatan maupun saudara sesama manusia.
1. Mengunjungi saudara yang sedang bersedih 2. Mengunjungi saudara di panti asuhan 3. Mengunjungi saudara yang sedang sakit
4. Mengunjungi saudara yang sedang ditinggal mati d. Mencerdaskan Spiritual Melalui Kisah
Kecerdasan spiritual anak dapat ditingkatkan melalui kisah-kisah agung, yakni dari orang-orang dalam sejarah yang mempunyai kecerdasan spiritual yang tinggi. Metode ini dinilai sangat efektif karena anak-anak pada umumnya sangat menyukai cerita. Di sinilah sesungguhnya orang tua dan guru dapat berperan aktif menceritakan kepada anak-anak tentang kisah-kisah agung agar kecerdasan spiritualnya dapat berkembang dengan baik. Orangtua dapat saja menceritakan kisah para Nabi, para sahabat yang dekat dengan Nabi, orang- orang yang terkenal kesalehannya, atau tokoh-tokoh yang tercatat dalam sejarah karena mempunyai kecerdasan spiritual yang tinggi.
e. Melejitkan Kecerdasan Spiritual dengan Sabar Dan Syukur Menghadapi persoalan yang semakin hari kian kompleks, dibutuhkan kecerdasan spiritual yang baik agar seseorang dapat melaluinya dengan baik. Oleh karena itu, agar anak-anak kita di masa depan dapat menghadapi persoalan dengan baik dan kehidupannya bisa berbahagia, kita sebagai orang tua semestinya memberikan bimbingan kepada mereka. Bimbingan
yang dapat kita berikan adalah melatihnya untuk bisa menjadi manusia yang mampunyai sifat sabar dan syukur. Dua sifat tersebut dipercaya bisa melejitkan kecerdasan spiritual.57
Menurut Danah Zohar dan Ian Marshall ada banyak cara yang bisa dilakukan orang tua dan guru untuk menumbuhkan kecerdasan spiritual yang optimal pada anaknya. Beberapa cara tersebut diantaranya adalah:
a. Melalui doa dan ibadah
b. Melalui cinta dan kasih sayang c. Melalui keteladan orang tua
d. Melalui cerita/dongeng yang mengandung hikmah spiritual e. Membentuk kebiasaan bertindak dalam kebajikan
f. Mengasah dan mempertajam hati nurani g. Menerapkan pola asuh yang positif.58
Selain itu, Danah Zohar mengemukakan tujuh langkah untuk meningkatkan kecerdasan spiritual, yakni sebagai berikut:
a. Seorang harus menyadari di mana dirinya sekarang.
b. Merasakan dengan kuat bahwa dia ingin berubah.
c. Menemukan dan mengatasi rintangan.
d. Menggali banyak kemungkinan untuk melangkah maju.
e. Menetapkan hati pada sebuah jalan.
f. Dan akhirnya, sementara melangkah di jalan yang dipilih sendiri, harus tetap sadar bahwa masih ada jalan-jalan yang lain.59
57 Akhmad Muhaimin Azzer, Mengembangkan Kecerdasan Spiritual Anak, (Yogjakarta: Kata Hati, 2013), h. 49-92
58 Triantoro Safaria, Spiritual Intellegence, h. 93
59 Danah Zohar dan Ian Marshall, Spiritual Capital: Memperdayakan SC di Dunia
Bisnis, (Bandung: Mizan, 2005), h. 231-233
43
4. Menumbuhkan Potensi Kecerdasan Anak
Menurut Didik Hermawan untuk menumbuhkan kecerdasan anak, ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan oleh orang tua. Di antaranya adalah:
a. Menyediakan Lingkungan yang Membangun
Lingkungan adalah tempat anak tumbuh dan belajar.
Lingkungan memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap tumbuh kembang anak di masa selanjutnya. Baik berupa pertumbuhan fisik, emosi, kognisi, maupun bahasa. Untuk itulah harus menyiapkan lingkungan yang memungkinkan anak mampu tumbuh dan berkembang secara optimal.
b. Stimulasi dengan Alat Permainan
Stimulasi adalah perangsangan yang datangnya dari lingkungan di luar individu anak. Anak yang banyak mendapatkan stimulasi akan lebih cepat berkembang dari pada anak yang kurang atau bahkan tidak mendapat stimulasi. Salah satu alat stimulasi yang paling banyak digunakan adalah dengan memberikan alat permainan buat anak.
c. Menciptakan Keyakinan Positif Anak
Sebagai orang tua seharusnyalah tidak membebani anak dengan komentar-komentar yang negatif dalam menggambarkan anak-anak dan perilaku belajar. Untuk itulah, apapun yang terjadi pada anak, berusahalah untuk berfikir positif dan meyakinkan kepada anak bahwa ia bisa dan mampu dalam hal tersebut.
d. Temukan Minat dan Keterampilan Anak
Orang tua harus menjadi “detektor” yang ulung dalam melacak dan menemukan sebanyak mungkin bakat serta kemampuan anak. Hal ini memang tidak mudah dilakukan, akan tetapi dengan kesabaran dan pengamatan secara serius perilaku anak maka orang tua akan menemukan minat dan bakat anak.
e. Menumbuhkan Harga Diri Anak
Saat anak masih kecil, berusahalah menumbuhkan harga diri mereka dengan menghabiskan banyak waktu bersama mereka, mendengarkan mereka, bermain bersama mereka, dan memperteguh mereka. Luangkan waktu untuk mereka, walaupun sesibuk apapun.60
C. FAKTOR PENDUKUNG DAN PENGHAMBAT GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MENINGKATKAN KECERDASAN SPIRITUAL
1. Faktor Internal a. Kesehatan
Kesehatan jasmani dan rohani sangat besar pengaruhnya terhadap kemampuan belajar. Bila seseorang selalu tidak sehat, sakit kepala, demam, pilek, batuk, dan sebagainya, dapat mengakibatkan tidak bergairah untuk belajar.
Demikian pula halnya jika kesehatan rohani (jiwa) kurang baik, misalnya mengalami gangguan pikiran, perasaan kecewa karena konflik dengan pacar, orang tua atau karena sebab lainnya, ini dapat mengganggu atau mengurangi semangat belajar. Karena itu pemeliharaan kesehatan sangat penting bagi
60 Didik Hermawan, Mencetak Anak Cerdas, h. 76-85
45
setiap orang baik fisik maupun mental, agar badan tetap kuat, pikiran selalu segar dan bersemangat dalam melaksanakan kegiatan belajar.
b. Inteligensi dan bakat
Selanjutnya, bila seseorang mempunyai inteligensi tinggi dan bakatnya ada dalam bidang yang di pelajari, maka proses belajarnya akan lancar dan sukses bila dibandingkan dengan orang yang memiliki bakat saja tetapi inteligensinya rendah. Demikian pula, jika dibandingkan dengan orang yang inteligensinya tinggi tetapi bakatnya tidak ada dalam bidang tersebut, orang berbakat lagi pintar (inteligensi tinggi) biasanya orang yang sukses dalam kariernya.
c. Minat belajar
Minat dapat timbul karena daya tarik dari luar dan juga datang dari hati sanubari. Minat yang besar terhadap sesuatu merupakan modal yang besar artinya untuk mencapai/
memperoleh benda atau tujuan yang diminati itu. Timbulnya minat belajar disebabkan sebagai hal, antara lain karena keinginan yang kuat untuk menaikkan martabat atau memperoleh pekerjaan yang baik serta ingin hidup senang dan bahagia.61
2. Faktor Eksternal a. Motivasi Orang Tua
Pendidik dalam lingkungan keluarga, adalah orang tua.
Hal ini disebabkan karena secara alami anak-anak pada masa awal kehidupannya berada di tengah-tengah ayah dan ibunya.
Oleh karena itu dari merekalah anak-anak mengenal
61 M. Dalyono, Psikologi Pendidikan, (Jakarta, PT Rineka Cipta, 2005), Cet. ke-3. h. 55-58
pendidikannya. Dasar pandangan hidup, sikap hidup, dan keterampilan hidup banyak tertanam sejak anak berada di tengah orang tuanya.62
Peran orang tua sangatlah penting, terutama dalam mengajarkan nilai-nilai kebaikan yang berlandaskan Al-Qur’an dan Hadis seperti mengajarkan anak untuk selalu bersyukur, berkata jujur, berbuat baik, saling tolong menolong dan saling memberi. Sebagaimana firman Allah dalam surat Luqman ayat 12 Allah SWT berfirman:
“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, Yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. dan Barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), Maka Sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan Barangsiapa yang tidak bersyukur, Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji". (Q.S Luqman {31}:12)
Mengacu pada teori motivasi yang dikemukakan Abraham Maslow, kecerdasan spiritual sangat terkait dengan aktualisasi diri (self actualization) atau pemenuhan tujuan hidup, yang merupakan tingkatan motivasi yang tertinggi.63
Motivasi pada dasarnya dapat membantu dalam memahami dan menjelaskan perilaku individu, termasuk perilaku individu yang sedang belajar. Ada beberapa peranan penting dari motivasi dalam belajar dari pembelajaran, antara lain dalam (a) menentukan hal-hal yang dapat dijadikan penguat belajar, (b) memperjelas tujuan belajar yang hendak dicapai, (c)
62 Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, h. 106
63 Abd Wahab dan Umiarso, Kepemimpinan Pendidikan dan Kecerdasan Spiritual, h. 16
47
menentukan ragam kendali terhadap rangsangan belajar, (d) menentukan ketekunan belajar.64
Oleh karena itu peran orang tua dalam memberikan motivasi, nasehat dan dorongan sangat penting dalam meningkatkan kecerdasan spiritual. Motivasi yang baik akan memberikan dorongan dan semangat yang baik pula bagi anak- anak dalam melakukan kebaikan. Dalam hal ini orang tua dapat memberikan motivasi spiritual berupa kisah-kisah teladan yang mempunyai inspirasi, memberikan teladan berupa perbuatan yang baik misalnya berdoa sebelum makan, sholat berjamaah dan dapat pula memberikan reward atau hadiah ketika anak mampu dan telah berusaha melakukan kebaikan, agar dapat memberikan semangat bagi anak, seperti ketika anak mampu berpuasa maka orang tua dapat memberikan hadiah sebagai motivasi dan apresiasi untuk anak.
b. Lingkungan Keluarga
Keluarga adalah ayah, ibu, dan anak-anak serta famili yang menjadi penghuni rumah.65 Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi anak, oleh karena itu kedudukan keluarga dalam pengembangan kepribadian anak sangatlah dominan. Dalam hal ini, orang tua mempunyai peranan yang sangat penting dalam menumbuhkembangkan fitrah beragama anak.66
Kehidupan beragama yang baik dalam keluarga merupakan syarat mutlak yang harus dibangun orang tua. Iklim keagamaan dan budaya keluarga yang diresapi secara mendalam nilai-nilai agama, menjadi sarana yang mendorong anak untuk optimal mengembangkan kebermaknaan spiritual-nya secara
64 Hamzah B. Uno, Teori Motivasi Pengukurannya, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2007), Cet. ke-1 h. 27
65 Dalyono, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2005), Cet. ke-3 h.
59
66 Syamsu yusuf, Psikologi Perkembangan Anak Dan Remaja, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006), Cet. ke-7 h. 138