A. Landasan Teori
2. Sikap Keagamaan
a. Pengertian Sikap Keagamaan
Mengawali pembahasan mengenai sikap keagamaan, maka terlebih dahulu akan dikemukakan mengenai pengertian sikap itu sendiri. Bila pengertian umum sikap dipandang sebagai perangkat reaksi-reaksi afektif terhadap objek tertentu berdasarkan hasil penalaran, pemahaman dan penghayatan individu. Dengan demikian sikap terbentuk dari hasil belajar dan pengalaman seseorang dan bukan sebagai pengaruh bawaan seseorang, serta tergantung pada objek tertentu.37 Para ahli mengartikan sikap bermacam- macam di antaranya sebagai berikut:
1) Menurut W.J. Thomas sikap adalah suatu kesadaran individu yang menentukan perbuatan-perbuatan yang nyata ataupun yang mungkin akan terjadi di dalam suatu kegiatan tertentu.38
2) Menurut Mar‟at sikap diperoleh dalam berinteraksi dengan manusia lain baik di rumah, sekolah, tempat ibadat ataupun tempat lainnya melalui nasihat, teladan atau percakapan.39
3) Menurut Kimball Young sikap merupakan suatu predisposisi mental untuk melakukan suatu tindakan
4) Menurut Fishbein dan Ajzen menyebutkan bahwa sikap sebagai predisposisi yang dipelajari untuk merespon secara konsisten dalam cara tertentu berkenaan dengan objek tertentu.
37 Mar‟at, Psikologi Agama (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003), 201.
38 Abu ahmadi, Psikologi Sosial (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 199), 162.
39 Jalaluddin, Psikologi Agama Edisi Revisi 2002 (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2012), 259.
5) Menurut Sherif dan Sherif sikap menentukan keajegan dan kekhasan perilaku seseorang dalam hubungannya dengan stimulus manusia atau kejadian-kejadian tertentu. Sikap merupakan suatu keadaan yang memungkinkan timbulnya sutau perbuatan atau tingkah laku.40
Dalam hal ini sikap seseorang selalu diarahkan terhadap sesuatu hal atau objek tertentu. Tidak akan mungkin jika sutau sikap tertentu tanpa objek atau suatu hal karena, penyebab munculnya sikap tertentu akibat dari respon seseorang terhadap suatu keadaan disekitarnya.
Jadi dapat dimengerti bahwa sikap merupakan kecenderungan seseorang untuk bertindak, berfikir, berprestasi, dan merasa dalam menghadapi objek, situasi dan lain sebagainya dalam menghadapi objek sikap tertentu maka seseorang akan memberikan respon dengan cara-cara tertentu sehingga munculah sikap sesuai dengan objek sikap tersebut. Objek sikap disini seperti, orang, benda, tempat, dan lain sebagainya.
Selanjutnya akan dijelaskan pengertian agama dan keagamaan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia agama adalah ajaran, sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Maha kuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya. Sedangkan keagamaam artinya yang berhubungan dengan agama.41
Sedangakan menurut PP NO 55 Tahun 2007 Tentang Agama dan Keagamaan. Pendidikan agama adalah pendidikan yang memberikan
40 Hudaniah Tri Dayaksini, Psikologi Sosial (Malang: UMM Press, 2009), 79.
41 W.J.S Poerwadarminta, Kamus Besar , 12.
pengetahuan dan membentuk sikap, kepribadian, dan keterampilan peserta didik dalam mengamalkan ajaran agamanya, yang dilaksanakan sekurang- kurangnya melalui mata pelajaran atau kuliah pada semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan. Pendidikan keagamaan adalah pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat menjalankan peranan yang menuntut penguasaan pengetahuan tentang ajaran agama dan atau menjadi ahli ilmu agama dan mengamalkan ajaran agamanya. Jadi dapat disimpulkan bahwa sikap keagamaan merupakan suatu keadaan yang ada dalam diri seseorang yang mendorong seseorang untuk bertingkah laku yang berkaitan dengan agama.42
Sikap keagamaan terbentuk karena adanya konsistensi antara kepercayaan terhadap agama sebagai komponen kognitif, persamaan terhadap agama sebagai komponen aktif dan perilaku terhadap agama sebagai komponen konatif. Didalam sikap keagamaan antara komponen kognitif, afektif dan konatif saling berintegrasi sesamanya secara komplek.43
Pendidikan agama yang bersifat drissur, dan menggugah akal serta perasaan memegang peranan penting dalam pembentukan sikap keagamaan.
Zakiah Daradjat mengatakan bahwa sikap keagamaan merupakan perolehan dan bukan bawaan. Ia terbentuk melalui pengalaman langsung yang terjadi dalam hubungannya dengan unsur-unsur lingkungan materi dan sosial,
42 Jalaluddin dan Ramayulis, Pengantar Ilmu Jiwa Agama (Jakarta: Kalam Mulia, 1993), 131.
43 Ibid, 131-132.
misalnya rumah yang tentram, orang tertentu, teman, orang tua, jamaah dan sebagainya.44
Dalam hal ini, pembentukan sikap, pembinaan moral dan pribadi pada umumnya, terjadi melalui pengalaman sejak kecil. Pendidik atau pembina pertama adalah orang tua, kemudian guru. Semua pengalaman yang dilalui oleh anak waktu kecilnya, akan merupakan unsur penting dalam pribadinya.
Sikap si anak terhadap agama, dibentuk pertama kali di rumah melalui pengalaman yang didapatnya dengan orang tuanya, kemudian disempurnakan atau diperbaiki oleh guru di sekolah, terutama guru yang disayanginya. Kalau guru agama dapat membuat dirinya disayangi oleh murid-murid, maka pembinaan sikap positif terhadap agama akan mudah terjadi. Akan tetapi, apabila guru agama tidak disukai oleh anak, akan sukar sekali baginya membina sikap positif anak terhadap agama.
Guru agama harus meyadari, bahwa anak adalah anak dalam arti keseluruhannya, baik tubuh atau jasmani, pikiran dan perasaannya. Dia bukan oang dewasa yang kecil, artinya bukan hanya tubuh dan kemampuan jasmaninya saja yang kecil tapi, juga keceerdasan, perasaan, dan keadaan jiwa atau (rohaninya), juga berlainan dengan orang dewasa. Dengan demikian, agar agama mempunyai arti pada anak, hendaklah disajikan dengan cara yang sesuai dengan anak, yaitu dengan cara yang lebih dekat kepada kehidupannya sehari-hari dan lebih konkret.
44 Ibid.,
Latihan-latihan keagamaan yang menyangkut ibadah seperti sembahyang, doa, membaca al-Qur‟an (atau menghafal ayat-ayat atau surat- surat pendek), sembahyang berjamaah di sekolah, di masjid atau langgar harus dibiasakan sejak kecil sehingga lama kelamaan akan tumbuh rasa senang melakukan ibadah tersebut, sehingga dengan sendirinya ia akan terdorong untuk melakukannya, tanpa suruhan dari luar, tapi dorongan dari dalam.45
Latihan keagamaan, yang menyangkut akhlak dan ibadah sosial atau hubungan manusia dengan manusia, sesuai dengan ajaran agama, jauh lebih penting dari pada penjelasan dengan kata-kata. Latihan-latihan disini dilakukan melalui contoh yang diberikan oleh guru atau orang tua. Oleh karena itu, guru agama hendaknya mempunyai kepribadian yang dapat mencerminkan ajaran agama, yang akan diajarkan pada anak-anak didiknya, lalu sikapnya dalam melatih kebiasan-kebiasaan baik yang sesuai dengan ajaran agama itu, hendaknya menyenangkan dan tidak kaku.46
Apabila si anak tidak terbiasa melaksanakan ajaran agama terutama ibadah (secara konkret seperti sembahyang, puasa, membaca al-Qur‟an dan berdoa) dan tidak pula dilatih atau dibiasakan melaksanakan hal-hal yang diperintahkan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari, serta tidak dilatih untuk menghindari larangannya maka pada waktu dewasanya nanti ia akan cenderung kepada acuh tak acuh, anti agama atau sekuarang-kurangnya ia tidak akan merasakan pentingnya agama bagi dirinya tapi sebaliknya anak
45Zakiyah Darajadt, Ilmu Jiwa Agama (Jakarta: Bulan Bintang, 2005), 75.
46 Ibid.,
yang banyak mendapat latihan dan pembiasaan agama, pada waktu dewasanya nanti akan semakin merasakan kebutuhan akan agama.
Kepercayaan anak kepada Tuhan dan agama pada umumnya, bertumbuh melalui latihan dan pembiasaan sejak kecil. Pembiasaan dan pendidikan agama itu didapatnya dari orang tuanya dan gurunya, terutama guru agama.
Perlu pula diingat bahwa aktivitas agama di sekolah atau di masjid akan menarik bagi anak, apabila ia ikut aktif didalamnya. Karena ia bersama teman-temannya dan orang melakukan ibadah bersama. Dan si anak akan merasa gembira apabila ikut aktif didalamnya.
Dengan kata lain dapat kita sebutkan, bahwa pembiasaan dalam pendidikan anak sangat penting, terutama dalam pembentukan pribadi, akhlak dan agama pada umumnya.47
b. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Sikap Keagamaan
Dibawah ini akan dijelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi sikap keagamaan yaitu sebagai berikut:
1) Faktor Intern
Faktor intern adalah faktor yang berasal dari dalam dirinya sendiri yang termuat dalam aspek kejiwaan manusia seperti naluri, akal, perasaan maupun kehendaknya. Seperti halnya aspek kejiwaan lainnya, maka para ahli psikologi agama mengemukakan berbagai teori berdasarkan pendekatan masing–masing. Tetapi secara garis besarnya faktor–faktor yang ikut berpengaruh terhadap perkembangan jiwa
47 Darajadt, Ilmu (Jakarta: Bulan Bintang, 2005), 75-76.
keagamaan, yaitu:48 a) Faktor hereditas
Jiwa keagamaan memang bukan secara langsung sebagai faktor bawaan yang diwariskan secara turun temurun, melainkan terbentuk dari berbagai unsur kejiwaan lainnya yang mencakup kognitif, afektif, dan konatif. Tetapi, dalam penelitian terhadap janin terungkap bahwa makanan dan perasaan ibu berpengaruh terhadap kondisi janin yang dikandungnya. Demikian pula, Margareth Mead menemukan dalam penelitiannya terhadap suku Mundugumor dan Arapesh bahwa terdapat hubungan antara cara menyusui dengan sikap bayi. Bayi yang disusukan secara tergesa-gesa (Arapesh) menampilkan sosok yang agresif dan yang disusukan secara wajar dan tenang (Mundugumor) akan menampilkan sikap yang toleran di masa remajanya.
Meskipun belum dilakukan penelitian mengenai hubungan antara sifat-sifat kejiwaan anak dengan orang tuanya, namun tampaknya pengaruh tersebut dapat dilihat dari hubungan emosional. Rasul .Saw.
menyatakan bahwa daging dari makanan yang haram, maka nerakalah yang lebih berhak atasnya. Pernyataan ini setidaknya menunjukkan bahwa ada hubungan antara status hukum makanan (halal dan haram) dengan sikap.
Selain itu Rasul.Saw. juga menganjurkan untuk memilih pasangan hidup yang baik dalam membina rumah tangga, sebab, menurut beliau
48 Jalaluddin, Psikologi Agama Memahami Perilaku dengan Mengaplikasikan Prinsip- Prinsip Psikologi Edisi Revisi 2012 (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2012 ), 305-307.
keturunan berpengaruh. Benih yang berasal dari keturunan tercela dapat mempengaruhi sifat-sifat keturunan barikutnya.
Perbuatan yang buruk dan tercela jika dilakukan, menurut Sigmund Freud menimbulkan rasa bersalah (sense of guilt) dalam diri pelakunya. Bila pelanggaran yang dilakukan terhadap larangan agama, maka pada diri pelakunya akan timbul rasa berdosa dan perasaan seperti ini yang ikut mempengaruhi perkembangam jiwa keagamaan seseorang sebagai unsur hereditas. Sebab, dari berbagai kasus pelaku zina sebagian besar memiliki latar belakang keturunan dengan kasus serupa.
b) Tingkat usia
Dalam bukunya The Development of Relegious on Children Ernesr Harms mengungkapkan bahwa perkembangan agama pada anak-anak ditentukan oleh tingkat usia mereka. Perkembangan tersebut dipengaruhi pula oleh perkembangan berbagai aspek kejiwaan termasuk perkembangan berpikir. Ternyata, anak yang menginjak usia berpikir kritis lebih kritis pula dalam memahami ajaran agama. Selanjutnya, pada usia remaja saat mereka menginjak usia kematangan seksual, pengaruh itu pun menyertai perkembangan jiwa keagamaan mereka.49 Tingkat perkembangan usia dan kondisi yang dialami para remaja ini menimbulkan konflik kejiwaan, yang cenderung mempengaruhi terjadinya konversi agama.
49 Jalaluddin, Psikologi Agama, 307-308.
c) Kepribadian
Kepribadian menurut pandangan psikologi terdiri dari dua unsur, yaitu unsur hereditas dan pengaruh lingkungan. Hubungan antara unsur hereditas dan pengaruh lingkungan inilah yang membentuk kepribadian. Adanya kedua unsur yang membentuk kepribadian itu menyebabkan munculnya konsep tipologi dan karakter. Tipologi lebih ditekankan kepada unsur bawaan, sedangkan karakter lebih ditekankan oleh adanya pengaruh lingkungan. Perbedaan kepribadian berpengaruh terhadap perkembangan aspek-aspek kejiwaan termasuk jiwa keagamaan. Di luar itu, dijumpai pula kondisi kepribadian yang menyimpang seperti kepribadian ganda (double personality) dan sebagainya. Kondisi seperti ini bagaimanapun ikut mempengaruhi perkembangan berbagai aspek kejiwaan pula.50
d) Kondisi kejiwaan
Kondisi kejiwaaan ini terkait dengan kepribadian sebagai faktor intern. Ada beberapa model pendekatan yang mengungkapkan hubungan ini. Model psikodinamik yang dikemukakan Sigmund Freud menunjukkan gangguan kejiwaan ditimbulkan oleh konflik yang tertekan di alam ketidaksadaran manusia. Konflik akan menjadi sumber gejala kejiwaan yang abnormal. Selanjutnya, menurut pendekatan biomedis, fungsi tubuh yang dominan mempengaruhi kondisi jiwa seseorang. Penyakit atau faktor genetik atau kondisi
50 Ibid, 309-310.
system saraf diperkirakan menjadi sumber munculnya perilaku abnormal. Kemudian pendekatan eksistensial menekankan pada dominasi pengalaman manusia. Dengan demikian, sikap manusia ditentukan oleh stimulan (rangsangan) lingkungan yang dihadapinya saa itu.
Walaupun kemudian ada pendekatan model gabungan. Menurut pendekatan ini pola kepribadian dipengaruhi oleh berbagai faktor dan bukan hanya oleh faktor-faktor tertentu saja. Pendekatan-pendekatan psikologi kepribadian ini menginformasikan bagaimana hubungan kepribadian dengan kondisi kejiwaaan manusia. Hubungan ini selanjutnya mengungkapkan bahwa ada suatu kondisi kejiwaan yang cenderung bersifat permanen pada diri manusia yang terkadang bersifat menyimpang (abnormal).
Banyak jenis perilaku abnormal yang bersumber dari kondisi kejiwaan yang tak wajar ini. Tetapi, yang penting dicermati adalah hubungannya dengan perkembangan jiwa keagamaan. Sebab, bagaimanapun seseorang yang mengidap schizopernia akan mengisolasi diri dari kehidupan sosial serta persepsinya tentang agama akan dipengaruhi oleh berbagai halusinasi. Demikian pula pengidap phobia akan dicekam oleh perasaan takut yang irasional. Sedangkan penderita infantile autisme berperilaku seperti anak-anak dibawah usia sepuluh tahun.51
51 Ibid, 310-311.
2) Faktor Ekstern
Faktor ekstern adalah faktor yang berasal dari luar diri seseorang.
Untuk mengembangkan potensi yang dimiliki oleh manusia yang disebut dengan fitrah keagamaan, maka diperlukan adanya pengaruh yang berasal dari luar diri manusia. Pengaruh tersebut dapat berupa bimbingan, pembinaan, latihan, pendidikan, dan sebagainya. Yang secara umum disebut sosialisasi. Faktor ekstern yang dinilai berpengaruh dalam perkembangan jiwa keagamaan, yaitu:
a) Lingkungan keluarga
Keluarga merupakan satuan sosial yang pling sederhana dalam kehidupan manusia. Anggota-anggotanya terdiri atas ayah ibu dan anak-anak. Bagi anak-anak, keluarga merupakan lingkungan sosial pertama yang dikenalnya. Dengan demikian, kehidupan keluarga menjadi fase sosialisasi awal bagi pembentukan jiwa keagamaan anak.
Sigmund Freud dengan konsep Father Image (citra kebapaan) menyatakan bahwa perkembangan jiwa keagamaan anak dipengaruhi oleh citra anak terhadap bapaknya. Jika seorang bapak menunjukkn sikap dan tingkahlaku yang baik, maka anak akan cenderung mengidentifikasikan sikap dan tingkahlaku sang bapak pada dirinya.
Demikian pula sebaliknya, jika bapak menampilkan sikap buruk juga akan ikut berpengaruh terhadap pembentukan kepribadian anak.
Pengaruh kedua orang tua terhadap perkembangan jiwa keagamaan anak dalam pandangan Islam sudah lama disadari. Oleh
karena itu, sebagai intervensi terhadap perkembangan jiwa keagamaan tersebut, kedua orang tua diberikan beban tanggung jawab. Ada semacam rangkaian ketentuan yang dianjurkan kepada kedua orang tua, yaitu mengazankan ke telinga bayi yang baru lahir, mengakikah, member nama yang baik, mengajarkan membaca Al-Qur‟an, membiasakan salat serta bimbingan lainnya yang sejalan dengan perintah agama. Keluarga dinilai sebagai faktor dominan dalam meletakkan dasar bagi perkembangan jiwa keagamaan.52
b) Lingkungan institutional
Lingkungan institutional yang ikut mempengaruhi perkembangan jiwa keagamaan dapat berupa institusi formal seperti sekolah ataupun yang nonformal seperti berbagai perkumpulan dan organisasi.
Sekolah sebagai institusi pendidikan formal ikut memberi pengaruh dalam membantu kepribadian anak. Menurut Singgih D.
Gunarsa pengaruh itu dibagi tiga kelmpok yaitu: (1) kurikulum dan anak;(2) hubungan guru dan murid; dan (3) hubungan antar anak.
Dilihat dari kaitannya dengan perkembangan jiwa keagamaan, tampaknya ketiga kelompok tersebut ikut berpengaruh.
Dalam ketiga kelompok itu secara umum tersirat unsur-unsur yang menopang pembentukan tersebut seperti ketekunan, disiplin, kejujuran, simpati, sosiabilitas, toleransi, keteladanan, sabar, dan keadilan. Perlakuan dan pembiasaan bagi pembentukan sifat-sifat
52 Jalaludin, Psikologi, 312.
seperti itu umumnya menjadi bagian dari program pendidikan di sekolah.
Melalui kurikulum, yang berisi materi pengajaran, sikap dan keteladanan guru sebagai pendidik serta pergaulan antarteman di sekolah dinilai berperan dalam menanamkan kebiasaan yang baik.
Pembiasaan yang baik merupakan bagian dari pembentukan moral yang erat kaitannya dengan perkembangan jiwa keagamaan seseorang.53
c) Lingkungan masyarakat
Boleh dikatakan setelah menginjak usia sekolah, sebagian besar waktu jaganya dihabiskan di sekolah dan masyarakat. Berbeda dengan situasi di rumah dan sekolah, umumnya pergaulan di mayyarakat kurang menekankan pada disiplin atau aturan yang harus dipatuhi secara ketat.
Meskipun tampaknya longgar, namun kehidupan bermasyarakat dibatasi oleh berbagai norma dan nilai-nilai yang didukung warganya.
Karena itu, setiap warga berusaha untuk menyesuaikan sikap dan tingkah laku dengan norma dan nilai-nilai yang ada. Dengan demikian, kehidupan bermasyarakat memiliki suatu tatanan yang terkondisi untuk dipatuhi bersama.
Lingkungan masyarakat bukan merupakan lingkungan yang mengandung unsur tanggung jawab, melainkan hanya merupakan
53Ibid, 313.
unsur pengaruh belaka, tetapi norma dan tata nilai yang ada terkadang lebih mengikat sifatnya. Bahkan, terkadang pengaruhya lebih besar dalam perkembangan jiwa keagamaan, baik dalam bentuk positif maupun negatife. Misalnya, lingkungan masyarakat yang memiliki tradisi keagamaan yang kuat akan berpengaruh positif bagi perkembangan jiwa keagamaan anak, sebab kehidupan keagamaan terkondisi dalam tatanan nilai maupun institusi keagamaan. Keadaan seperti ini akan berpengaruh dalam pembentukan jiwa keagamaan warganya.
Sebaliknya, dalam lingkungan masyarakat yang lebih cair atau bahkan cenderung sekuler, kondisi seperti itu jarang dijumpai.
Kehidupan warganya lebih longgar, sehingga diperkirakan turut mempengaruhi kondisi kehidupan keagamaan warganya.54
3. Hubungan Keaktifan Mengikuti Kegiatan Kerohanian Islam (ROHIS)