• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kerohanian Islam, Sikap Keagamaan.

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "Kerohanian Islam, Sikap Keagamaan."

Copied!
49
0
0

Teks penuh

Karena keterbatasan orang tua dalam mendidik anaknya, mereka dibiarkan bersekolah. Sesuai dengan minat dan masa depan anaknya, orang tua terkadang sangat selektif dalam menentukan akan menyekolahkan anaknya di mana. Tidak menutup kemungkinan orang tua dari keluarga alim menyekolahkan anaknya ke sekolah agama.

Adakah hubungan yang signifikan antara partisipasi aktif kegiatan kerohanian Islam (Rohis) dengan sikap keagamaan siswa kelas X SMAN 1 Purwantoro tahun pelajaran 2014/2015. Untuk mengetahui apakah ada hubungan yang signifikan antara partisipasi aktif kegiatan kerohanian Islam (Rohis) dengan sikap keagamaan siswa kelas X SMAN 1 Purwantoro tahun pelajaran 2014/2015.

Landasan Teori

Pengertian Keaktifan Kerohanian Islam

Dari segi kuantitas interaksi, siswa juga mempunyai peluang lebih besar karena tidak dibatasi oleh waktu. Secara struktural, siswa juga mempunyai peluang yang lebih besar karena berada dalam koordinasi sekolah yang berhubungan langsung dengan sekolah. Selain itu, guru dapat berperan sebagai khatib dan pelatih fardiyah (murobbi) bagi siswanya, yang secara struktural mempunyai kedudukan lebih tinggi dibandingkan siswa dan alumni sebagai penggiat dakwah sekolah.

Selain menjadi pendakwah, seorang pengetua sekolah mempunyai peluang yang besar kerana beliau merupakan pendokong utama semua program dakwah sekolah. Pembina (murobbi) di sekolah dawat ini mempunyai peranan khusus untuk menambah baik atau membina kemudahan dawat sekolah.

Objek dakwah Rohis a. Siswa atau pelajar

Mewujudkan barisan generasi muda pelajar yang mendukung dan mempelopori penegakan nilai-nilai kebenaran, mampu menghadapi tantangan masa depan dan menjadi batu bata yang baik dalam membangun masyarakat Islam.” 20. Santri atau santri yang seperti ini terlihat dari kesungguhan ibadahnya, keikhlasannya, dan kecepatannya dalam menerima ajakan. Pelajar atau mahasiswi bagian ini tidak beragama, namun mereka juga tidak mau terang-terangan melakukan maksiat, karena tetap menghormati harkat dan martabatnya.

Pendekatan terhadap ketiga tipe siswa atau pelajar ini diprioritaskan secara berurutan yaitu dari nomor satu, kedua, dan ketiga. Kedudukannya dikaitkan dengan peraturan atau kebijakan sekolah, fasilitas sekolah, sehingga pelaksanaan dakwah sekolah juga harus bergerak dalam pusaran keterkaitan itu, sehingga dapat dikatakan dakwah sekolah juga terhadap peraturan atau kebijakan sekolah. sekolah yang dimaksud.

Kegiatan Rohis

Biasanya diadakan untuk menyambut momen-momen tertentu seperti PHBI (peringatan hari besar Islam) seperti Tahun Baru Islam (1 Muharram), Maulid Nabi SAW, Isra Mi'raj, Idul Adha, dll. Rihlah berupaya menyegarkan jiwa yang lelah sambil mensyukuri kebesaran ciptaan Allah dan menguatkan ukhuwah. Olah raga dapat menjadi program rutin informal bagi anggota dakwah sekolah dan simpatisannya dengan tujuan untuk menjadi tarbiyah jasmani dan membangkitkan ukhuwah dan kekuatan papan.

Program ini dirancang agar objek dakwah sekolah selalu mendapat bekal informasi fikroh Islam secara terus menerus dan berkala. Program ini sangat mendesak mengingat kemampuan membaca Al-Qur'an merupakan langkah awal dalam pendalaman dan pembiasaan Islam. Program ini dirancang untuk mendukung siswa yang masih belum mampu membaca dan menulis Al-Quran.

Kegiatan ini sangat penting khususnya bagi siswa kelas III untuk mendapatkan informasi lebih lengkap mengenai universitas yang ingin dituju. Acara ini sangat menarik minat Kelas III dan mempunyai nilai efektif bagi tumbuhnya simpati dan kesan baik bagi pegiat dakwah dan alumni sekolah di mata civitas akademika, guru dan kepala sekolah. Pelatihan keterampilan mencakup keterampilan individu (fardi) dan keterampilan komunal (jama'i) yang sangat dibutuhkan oleh anggota sekolah dakwah.

Keterampilan individu merupakan keterampilan yang memungkinkannya melakukan dakwah dengan baik dalam segala bidang dan lingkungan tempat ia berada, seperti keterampilan dakwah fardi. manajemen waktu, seni dialog, seni berbicara, kepemimpinan, dll. Meskipun keterampilan komunal adalah keterampilan yang memungkinkan kelompok ADS berkomunikasi dengan baik, berbagi pengalaman dan mengumpulkan potensi, manajemen operasional, manajemen konferensi, manajemen strategis, kerja tim, Alumni ADS atau LSM mahasiswa atau lembaga pelatihan kejuruan dapat mengambil peran sebagai fasilitator dalam hal ini. aktivitas. Diharapkan kedepannya kegiatan ini mempunyai pengelolaan khusus dan dikelola oleh guru batin sendiri agar lebih natural dan permanen.

Metode Dakwah Rohis

Objek ajakan akan menaruh harapannya kepada khatib agar dapat membimbingnya ke arah yang lebih baik. Seorang objek ajakan akan sigap mengungkapkan kesulitan dan permasalahannya kepada khatib, sehingga terbentuklah sosok khatib sebagai sosok yang sangat dibutuhkan kehadirannya dan didengar perkataannya. Intensitas pertemuan antara penggiat partai sekolah dengan fasilitas pesta sekolah resmi di sekolah dibatasi oleh waktu.

Maka tidak ada jalan lain bagi pegiat dakwah sekolah untuk mendekatkan diri pada objek dakwah kecuali dengan dakwah fardiyah ini. Model pendekatan bagi siswa sendiri secara sederhana dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu pendekatan potensial dan pendekatan masalah. Beragamnya potensi yang dimiliki oleh para siswa tersebut memungkinkan untuk didekati melalui fasilitas seperti kelompok belajar, klub olah raga, kelompok pemuda sains, pramuka, OSIS dan berbagai kegiatan ekstrakurikuler lainnya.

Tidak hanya sebagai sarana pendekatan, berbagai potensi tersebut merupakan modal berharga bagi pertumbuhan peradaban Islam. Namun dibalik potensi yang dimilikinya, mahasiswa sebagai bagian dari generasi muda juga mempunyai segudang permasalahan yang memerlukan solusi cerdas. Oleh karena itu, kedua pendekatan tersebut harus dilakukan secara bersamaan, seimbang dan proporsional sesuai dengan kondisi objeknya.

Sikap Keagamaan

Jadi dapat disimpulkan bahwa sikap beragama adalah keadaan yang ada dalam diri seseorang yang mendorong seseorang untuk berperilaku dalam hubungannya dengan agama. Sikap keagamaan terbentuk karena adanya konsistensi antara keyakinan terhadap agama sebagai komponen kognitif, kesetaraan dengan agama sebagai komponen aktif dan perilaku terhadap agama sebagai komponen konatif. Pendidikan agama yang ditanamkan dan menggugah akal serta perasaan memegang peranan penting dalam pembentukan sikap beragama.

Namun jika guru agama tidak menyukai anak, maka akan sangat sulit baginya untuk mengembangkan sikap positif terhadap agama pada diri anak. Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari dalam dirinya sendiri, yang terkandung dalam aspek kejiwaan manusia seperti naluri, akal, emosi dan kemauan. Jiwa keagamaan tidak secara langsung merupakan faktor bawaan yang diwariskan secara turun-temurun, melainkan terbentuk dari berbagai unsur psikologis lain yang meliputi kognitif, afektif, dan konatif.

Jika terjadi pelanggaran terhadap larangan agama, maka pelaku akan merasa bersalah dan perasaan tersebut akan mempengaruhi perkembangan jiwa beragama sebagai unsur keturunan. Apalagi ketika mereka mencapai usia kematangan seksual, pengaruh tersebut juga mengiringi perkembangan jiwa keagamaannya.49 Tingkat perkembangan usia dan keadaan yang dialami remaja menimbulkan konflik psikologis yang cenderung meningkatkan terjadinya perpindahan agama. pengaruh. Sigmund Freud berpendapat dengan konsep Father image (citra kebapakan) bahwa perkembangan jiwa religius anak dipengaruhi oleh citra anak terhadap ayahnya.

Pengaruh kedua orang tua terhadap perkembangan jiwa keagamaan anak dalam pandangan Islam telah lama diketahui. Lingkungan kelembagaan yang mempengaruhi berkembangnya semangat keagamaan dapat berupa lembaga formal seperti sekolah maupun nonformal seperti berbagai perkumpulan dan organisasi. Pembiasaan yang baik merupakan bagian dari pembentukan moral yang erat kaitannya dengan pengembangan jiwa keagamaan seseorang.

Bahkan terkadang pengaruhnya lebih besar terhadap perkembangan jiwa keagamaan, baik dalam bentuk positif maupun negatif. Misalnya, lingkungan masyarakat dengan tradisi keagamaan yang kuat akan memberikan pengaruh positif terhadap perkembangan jiwa keagamaan anak, karena kehidupan beragama dikondisikan oleh tatanan nilai dan pranata keagamaan.

Hubungan Keaktifan Mengikuti Kegiatan Kerohanian Islam (ROHIS) dengan Sikap Keagamaan

Sebaliknya, kondisi seperti ini jarang ditemui pada masyarakat yang lebih cair atau bahkan cenderung sekuler. Oleh karena itu, mereka harus selalu dibina dan dibimbing dalam mengembangkan bakat dan minatnya di berbagai bidang. Selain itu, yang tidak kalah pentingnya adalah pembinaan sikap dan mental peserta didik agar mampu menjadi individu yang seimbang antara jiwa dan raga sesuai dengan tujuan pendidikan Islam.

Ada tiga hal pokok dalam pembentukan sikap yang diperhatikan pada masa remaja adalah: (a) media massa (b) kelompok teman sebaya (c) kelompok yang meliputi lembaga sekolah, lembaga keagamaan, organisasi dan sebagainya. Bukankah tujuan pendidikan di sekolah dan di luar sekolah adalah untuk mempengaruhi, memajukan, membimbing peserta didik agar mempunyai sikap yang diharapkan oleh setiap tujuan pendidikan. Oleh karena itu lembaga pendidikan formal dalam hal ini sekolah mempunyai tugas untuk memajukan dan mengembangkan sikap peserta didik menuju sikap yang kita harapkan.

Konsep pendidikan Islam mencakup kehidupan manusia secara keseluruhan, tidak hanya memperhatikan aspek keimanan, tetapi juga memajukan manusia menjadi hamba Allah yang bertakwa. Dengan kata lain, pendidikan dinilai memegang peranan penting dalam upaya menanamkan rasa beragama pada diri anak. Selanjutnya pembentukan sikap keagamaan juga terjadi melalui pendidikan.57 Dalam hal ini, sekolah juga menyelenggarakan pendidikan formal dan nonformal.

Kegiatan kerohanian Islam dibentuk menjadi organisasi sekolah yang mengembangkan kegiatan keislaman di luar jam sekolah. Kegiatan Kerohanian Islam (Rohis), kegiatan ini dimaksudkan untuk menanamkan semangat, kedinamisan, optimisme pada diri siswa, serta sebagai sarana untuk mengkaji dan mengaktualisasikan sikap dan perbuatan keagamaan siswa yang sesuai dengan etika Islam. Oleh karena itu, kesadaran beragama dan pengalaman beragama seseorang lebih menggambarkan aspek batin kehidupan yang ada hubungannya dengan sesuatu yang sakral dan dunia gaib.

Telaah Hasil Penelitian Terdahulu

Faktor pendukung Bimbingan Islam ROHIS AL-Ikhlas SMAN 2 Ponorogo mampu membuktikan bahwa kegiatan MAI dapat berjalan dengan lancar hingga saat ini, sedangkan faktor penghambat Bimbingan Islam ROHIS AL-Ikhlas SMAN 2 Ponorogo tidak menjadi penghalang untuk maju dan semakin baik, bahkan mencapai prestasi di dalam dan di luar sekolah. Pentingnya pendampingan bagi peserta Pendampingan Agama Islam ROHIS AL-Ikhlas SMAN 2 Ponorogo adalah pendampingan tidak hanya sekedar kegiatan rutin setiap minggunya, namun dapat memberikan perbaikan yang lebih baik dalam kehidupan sehari-hari. Nama : Putri Dwi Lestari NIM dengan judul “Hubungan keterlibatan siswa dalam kegiatan keagamaan di sekolah dan kondisi lingkungan sosial dengan sikap keagamaan siswa kelas XI tahun ajaran SMAN 3 Ponorogo. penelitiannya adalah;

Terdapat hubungan yang signifikan antara keterlibatan siswa dalam kegiatan keagamaan di sekolah dan keadaan lingkungan sosial dengan sikap keagamaan siswa kelas XI SMAN 3 Ponorogo tahun pelajaran 2013/2014.

Kerangka Berfikir

Pengajuan Hipotesis

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Moreover, the transformation of thoughts (knowledge), feelings (attitude), and actions (practices) of the library interns in university libraries had rarely been taken into