• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sikap Sosial Yang Dikembangkan Dalam Pendidikan Inklusif… 89

Dalam dokumen EVALUASI PEN.INKLUSIF (PENELITIAN).pdf (Halaman 73-76)

BAB II KAJIAN TEORETIK

B. Konsep Program/Kebijakan yang Di Evaluasi

8. Sikap Sosial Yang Dikembangkan Dalam Pendidikan Inklusif… 89

kesempatan untuk melanjutkan pengembangan profesional mereka melalui pelatihan in-service dan jaringan dengan guru lain .65

Pendidik telah lama diakui bahwa bagi siswa untuk menguasai daerah konten seperti matematika atau ilmu, mereka membutuhkan pengajaran terus menerus dan kompleks sepanjang tahun SD, SMP, dan SMA. Ketika seorang anak tidak belajar konsep atau keterampilan, kita bereaksi dengan "respon mengajar" dan berusaha untuk reteach materi dengan dukungan dan akomodasi tambahan atau yang berbeda.

Namun, area konten dari "tanggung jawab" tidak menerima pengobatan segera sama.

Pengajaran eksplisit pola perilaku dan kebiasaan perwakilan dari perilaku bertanggung jawab jarang terjadi; instruksi diturunkan ke metode reaktif, add-on, dan perbaikan cepat. Pengajaran tanggung jawab adalah sebagai menuntut sebagai mengajar area kurikulum lain; membutuhkan pemikiran yang mendalam dan kompleks, instruksi yang sedang berlangsung dari hari seorang anak memasuki sekolah. Penting untuk mengembangkan tanggung jawab siswa adalah pengakuan oleh guru dan pemimpin pendidikan lainnya bahwa pengajaran tanggung jawab harus (1) menjadi bagian dari kurikulum dan dianggap sama pentingnya dengan domain kurikulum lainnya; (2) peduli dengan mengajar orang-orang muda bagaimana untuk mendapatkan kebutuhan mereka bertemu di cara yang dapat diterima masyarakat;

dan (3) meliputi modeling, pembinaan, dan pikiran yang sedang berlangsung dan refleksi pada bagian dari personil sekolah.66

menyesuaikan diri dengan seting yang ada. Untuk ini diperlukan fleksibelitas, kreativitas dan sensitivitas dalam mengelola nilai dan sikap sosial dalam kelas inklusif. Beberapa nilai dan sikap sosial yang hendaknya dikembangkan dalam kelas inklusif diantaranya adalah semua anak adalah anggota kelompok yang sama, berinteraksi satu sama lain, membantu dan belajar satu sama lain untuk berfungsi, saling mempertimbangkan satu sama lain, tenggang rasa, bekerjasama daripada bersaing, menerima kenyataan bahwa sebagian anak mempunyai kebutuhan yang berbeda dari mayoritas dan kadang-kadang akan melakukan hal yang berbeda, cenderung kerjasama daripada bersaing, semua anak memiliki rasa saling memiliki dan bermitra, walau jika anak tertentu karena berbagai alasan mempunyai suatu kebutuhan untuk menerima perhatian berkala di luar kelas, setiap orang akan memandang hal ini sebagai suatu hal yang alami, ini tidak akan mengganggu rasa menjadi anggota atau rasa memiliki kelompok/kelasnya.67

Sikap sosial dalam pendidikan inklusif akan berkembang dengan cara yang kompleks dan tergantung kepada pengetahuan dan pengalaman. Oleh karena itu penting kiranya memberikan pengakuan atas hak anak serta kemampuan dan potensinya. Penting untuk mendorong dan mendukung anak yang berinisiatif, bertanya dan berbeda pendapat dengan orang lain dan membuat keputusan sendiri.

Mengakui bahwa semua anak dapat belajar dan karenanya juga dapat mengambil manfaat dari pendidikan.68

Kerjasama lintas sektoral, antara guru dari berbagai mata pelajaran, guru dengan orang tua, sekolah dengan masyarakat, pengambil kebijakan dan semua orang yang terlibat dalam pendidikan inklusif merupakan sikap sosial yang harus dikembangkan untuk menjamin pendidikan yang lebih baik dan bermakna.69

                                                                                                                         

67  Berit Johnsen, Menuju Inklusi Pendidikan Kebutuhan Khusus Sebuah Pengantar (Bandung: Program Pascasarjana UPI, 2003), h. 49.

68  Skjorten, Towards Inclusion, Education-Special Needs Education An Introduction,

(Oslo: Unipub forlag, 2001) hal, 54.

69  Skjorten,,  op,cit,  hal.  57.  

 

9. Pusat Sumber sebagai sistem pendukung (Support System)

Apabila sekolah yang ramah (welcoming school) dan guru yang ramah (welcoming teacher) dapat diwujudkan, maka langkah menuju pendidikan inklusif akan semakin mulus. Sekolah yang ramah dan guru yang ramah merupakan kondisi yang harus dipersiapkan sebelum pendidikan inklusif diimplementasikan.

Secara teknis pendidikan inklusif memerlukan sistem pendukung yang berfungsi sebagai lembaga yang memberikan bantuan teknis kepada sekolah yang di dalamnya terdapat anak berkebutuhan khusus. Dalam terminologi pendidikan inklusif, sistem pendukung itu disebut pusat sumber (resource center).

Salah satu fungsi dan tugas pokok pusat sumber adalah menyediakan guru pendidikan kebutuhan khusus yang profesional yang disebut guru kunjung (iteneran teachers). Guru kunjung akan membantu guru sekolah reguler dalam memberikan layanan pendidikan kepada anak berkebutuhan khusus. Di samping itu, pusat sumber juga mempunyai tugas dalam menyediakan alat/media belajar yang diperlukan anak berkebutuhan khusus, seperti penyediaan buku-buku teks braile bagi tunanetra, dan memberikan pelatihan tertentu bagi guru sekolah reguler, orang tua maupun berkebutuhan khusus sendiri. Pusat sumber merupakan tempat berkumpulnya para profesional.

Pusat sumber juga merupakan institusi pendukung dalam pelayanan guru pembimbing khusus, sehubungan dengan itu, sekurang-kurangnya diperlukan satu atau dua pusat sumber untuk setiap kabupaten/kota, yang akan memberikan dukungan kepada sekolah reguler dalam implementasi pendidikan inklusif. Dapat dibayangkan berapa banyak pusat sumber dan berapa banyak tenaga guru kunjung yang dibutuhkan dalam implementasi pendidikan inklusi di Indonesia. Pusat sumber, juga merupakan sebagai pusat layananan pendidikan inklusif dalam hal asesmen dan berbagai hal menyangkut persiapan baik anak maupun tenaga guru untuk mendukung implemantasi pendidikan inklusif.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Tujuan Penelitian

Secara umum penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan efektivitas program pendidikan inklusif yang dilaksanakan di Kodya Banjarmasin. Pada prinsipnya menuju pada perbaikan dan penyempurnaan program (to improve) pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus yang menempuh pendidikan di sekolah reguler. Sebagai penelitian evaluasi, penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui berbagai komponen yang dapat mempengaruhi efektivitas program. Secara operasional penelitian evaluasi ini bertujuan, yaitu:

(1) Membantu pengambil kebijakan dalam hal perencanaan sebuah program pendidikan inklusif yang tepat mengakomodir kebutuhan semua orang tanpa deskriminasi.

(2) Membantu pengambil kebijakan dalam hal strukturisasi, dengan mempertimbangkan sumber daya yang tersedia, strategi alternatif yang akan digunakan dan rencana apa yang tersedia untuk mencapai tujuan serta dapat membantu pengembangan program pendidikan inklusif.

(3) Membantu pelaksana program pendidikan inklusif, yaitu lembaga sekolah reguler pada tingkat SD penyelenggara pendidikan inklusif di Kodya Banjarmasin dalam memahami hambatan dan kendala apa yang ditemui, kemudian revisi apa yang diperlukan, sehingga prosedur lebih lanjut dapat dimonitor, dikontrol dan diminimalisir.

(4) Mengungkap hasil yang diperoleh, dan apa yang perlu dilakukan lebih lanjut berkaitan dengan implementasi program pendidikan inklusif

(5) Mengetahui dampak yang ditimbulkan akibat program pendidikan inklusif dalam membantu daur ulang guna mengambil sebuah keputusan.

B. Tempat dan Waktu Penelitian Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada empat 4 SD penyelenggara pendidikan inklusif di Kodya Banjarmasin yaitu :

1. SDN Banua Anyar 8 alamat, Banua Anyar RT 18/12 Banjarmasin Timur 2. SDN Banua Anyar 4 alamat, Banua Anyar RT 18/12 Banjarmasin Timur

3. SDN Kuin Selatan 3 alamat Jl. Simpang Kuin Selatan Gg. Lestari Kuin Selatan, Banjarmasin Barat

4. SDN Gadang 1 Jl. Ais Nasution No 21 RT 20 Desa Gadang, Kec. Banjarmasin tengah 70231

Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan selama enam bulan yaitu, dimulai pada bulan september tahun 2015 sampai dengan Februari 2017.

C. Pendekatan, Metode dan Desain Penelitian 1. Pendekatan Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian evaluasi program yang bersifat kualitatif, sebab proses evaluasi dilakukan secara inquiri dengan penekanan pada aspek obyektifitas, reliabilitas dan validitas pengukuran evaluasi pelaksanaan program pendidikan inklusif. Perolehan data dalam bentuk deskriptif melalui hasil observasi, wawancara dan studi dokumentasi.

Berdasarkan ontologinya, pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan evaluasi model CIPP. Hasil evaluasi menggunakan CIPP meliputi langkah-langkah: fokus evaluasi, pengumpulan, pengorganisasian, analisis, laporan hasil serta pengadministrasian informasi. Hasil studi evaluasi model ini berguna sebagai dasar pengambilan keputusan. Untuk keperluan tersebut model evaluasi CIPP akan mengevaluasi empat unsur, yakni latar (context), daya dukung (input), proses (process) dan hasil suatu kegiatan (product).

Penelitian ini dilakukan dengan model CIPP-O regresif, yaitu perpaduan model CIPP yang dikemukanan oleh Stufflebeam dengan model evaluasi outcome yang dikemukakan oleh Sugiyono, bahwa penelitian pada outcome atau dampak kebijakan adalah penelitian yang terkait dengan akibat positif atau negatif dari pencapaian output, bila output tercapai atau tidak tercapai apakah akibat positif dan negatifnya. 70Penelitian outcome dalam penelitian ini adalah bertujuan untuk melihat apa dampak positif dan negatifnya pendidikan inklusif bagi anak berkebutuhan khusus. Outcome dalam penelitian ini difokuskan bagaimana anak berkebutuhan khusus lulusan sekolah penyelenggara pendidikan inklusif dalam melanjutkan ke jenjang sekolah lebih tinggi maupun diterima dalam dunia kerja.

2. Metode Penelitian

Evaluasi program merupakan salah satu jenis objek dari penelitian evaluasi. Orientasi mendasar pada semua penelitian evaluasi adalah manfaat.

Adapun manfaat yang dimaksud adalah menyediakan informasi untuk mengambil keputusan dalam kerangka untuk meningkatkan (to improve) layanan program pendidikan inklusif di Kodya Banjarmasin.

Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus (Icase studies). Studi kasus bertujuan untuk membuat penafsiran akurat mengenai karakteristik- karakteristik objek yang diteliti. Studi kasus sering digunakan untuk menyelidiki unit sosial yang kecil seperti keluarga, klub, sekolah dan kelompok atau geng.

Studi kasus lebih tampak (contrasted) pada survai intensif secara mendalam pada fenomena yang diteliti. Tipe penelitian ini adalah berusaha memahami suatu unit sosial tertentu secara utuh dalam totalitas lingkungan tersebut. Studi kasus dalam beberapa referensi merupakan bagian dari penelitian kualitatif.

                                                                                                                         

70    Sugiyono,  Metode  penelitian  manajemen,  (  Bandung:  Alvabeta,  2014),  h.  753.  

3. Desain Penelitian

Desain yang digunakan dalam penelitian ini mengacu model evaluasi yang dikembangkan oleh yang dinamakan model CIPPO (context, input,process, product dan memeperhatikan outcome).71 Desain penelitian dapat digambarkan pada gambar 3.1 berikut:

Gambar 3.1 Desain Penelitian

Analisis terhadap pelaksanaan pendidikan inklusif di Kotamadya Banjarmasin dilakukan dengan menggunakan model CIPP-O (context, input, process, product, outcome) dari Stuffebeam dengan melihat variabel konteks,                                                                                                                          

71 D.L. Stufflebeam, Evaluation Theory Model And Aplications (Boston: Kluwer Academic Publishesr, 2001), h. 173.

masukan, proses, produk dan dampaknya terhadap lulusan dan masuk di dunia kerja (outcome).

Konteks yang meliputi landasan formal, kebutuhan masyarakat, kelayakan sekolah dan letak geografis akan dianalisis keterkaitannya. Masukan (input) sebagai daya dukung pelaksanaan pendidikan inklusif difokuskan pada cara rekrutmen siswa, sosial ekonomi orang tua, rekrutmen guru, kurikulum, sarana dan prasarana, sumber pembiayaan, kalender akademik.

Proses meliputi kompetensi guru, minat guru mengajar, persyaratan profil guru, proses pembelajaran, ekstra kulikuler. Aspek produk antara lain adalah kognitif, emosi, dan sikap sosial. Adapun aspek outcome meliputi serapan ke sekolah jenjang lebih tinggi dan serapan ke dunia kerja. Kontelasi diatas merupakan evaluasi model CIPP-O karena memperhitungkan profesionalisme lulusan sebagai dampak. Sementara itu model outcome digunakan mengecek dampak negatif maupun dampak positif akibat program pendidikan inklusif terhadap anak berkebutuhan khusus, dilihat dari bagaimana mereka bisa melanjutkan sekolah setelah lulus SD inklusif maupun memasuki dunia kerja.

Evaluasi terhadap konteks yang berhubungan dengan kebijakan terhadap pencapaian tujuan dan sasaran pendidikan inklusif meliputi landasan formal, kebutuhan masyarakat, kelayakan sekolah dan letak geografis. Evaluasi input (masukan) berguna untuk mengatur sebuah keputusan, menentukan sumber daya yang ada serta alternatif yang ditempuh dalam perencanaan dan strategi pencapaian tujuan. Evaluasi terhadap masukan menekankan pada penyediaan informasi tentang kekuatan dan kelemahan strategi kegiatan, situasi dan kondisi lingkungan serta ketersediaan fasilitas dalam upaya merealisasikan program pendidikan inklusif. Evaluasi masukan bertujuan untuk mengidentifikasi, mengukur sistem serta merancang strategi implementasi.

Evaluasi proses bertujuan untuk membantu mengimplementasikan keputusan yang telah ditetapkan dan mengidentifikasikan, mempredeksikan

proses, kelemahan prosedur, perencanaan serta implementasinya. Evaluasi proses menyediakan informasi yang akurat tentang proses yang telah diprogramkan sebelumnya, melalui pencatatan segala kegiatan yang telah berlangsung. Data proses dikumpulkan menggunakan tehnik observasi dan angket kepada guru sekolah penyelenggara pendidikan inklusif dan siswa.

Evaluasi produk adalah evaluasi untuk mengukur keberhasilan pencapaian tujuan. Evaluasi ini merupakan catatan pencapaian hasil dan keputusan-keputusan untuk perbaikan. Pelaksanaan atau aktualisasi. Aktivitas evaluasi produk adalah upaya mengukur dan menafsirkan hasil yang telah dicapai. Pengukuran dikembangkan dan diadministrasikan secara cermat dan teliti. Keakuratan analisis akan menjadi bahan penarikan kesimpulan dan pengajuan saran sejauhmana produk dapat dicapai sesuai dengan standar kelayakan. Secara garis besar, kegiatan evaluasi produk meliputi kegiatan penetapan tujuan operasional program, kriteria-kriteria pengukuran yang telah dicapai yang dihubungkan dengan tujuan program, membandingkannya antara kenyataan lapangan dengan rumusan tujuan, dan menyusun penafsiran secara rasional mengenai hasil program dari hasil evaluasi konteks, input dan proses.

Penelitian ini evaluasi produk sekolah penyelenggara pendidikan inklusif yang meliputi prestasi akademik atau kualifikasi kognitif, kecerdasan emosi, dan sikap sosial peserta didik. Komponen evaluasi produk dalam penelitian ini membatasi pada bagian yang dapat dijangkau khususnya pada (a) prestasi akademik atau kualifikasi kognitif secara faktual mengamati hasil ujian nasional dan ujian sekolah untuk anak berkebutuhan khusus dalam pelajaran bahasa indonesia, matematika dan IPA. (b) sikap sosil seperti kerjasama, saling tolong menolong, menghargai perbedaan, saling menghormati, sopan santun dan tatakrama, disiplin, percaya diri, jujur, tanggung jawab. Analisis hasil atau produk ini diperlukan pembanding antara tujuan yang ditetapkan dalam rancangan dengan hasil program yang dicapai. Hasil yang dinilai dapat berupa skor tes, persentase, data observasi, diagram data, yang dapat ditelusuri

kaitannya dengan tujuan-tujuan yang lebih rinci. Selanjutnya dilakukan analisis kualitatif tentang kemengapaannya.

Penelitian ini juga mengavaluasi luaran (outcome) sekolah penyelenggara pendidikan inklusif. Evaluasi dilakukan dengan cara melihat dokumen dan wawancara kepada kepala sekolah maupun orang tua siswa berkebutuhan khusus tentang kelanjutan studi anak-anak mereka setelah menempuh pendidikan di sekolah penyelenggara pendidikan inklusif. Selain itu dilakukan juga wawancara dengan orang tua anak berkebutuhan khusus yang masuk ke dunia kerja.

Kebenaran terhadap studi evaluasi ini secara epistomologi digunakan cara berpikir objektivitas. Pendekatan objektivitas digunakan secara empirik, menggunakan prosedur ilmiah secara ketat, sahih, objektif dan reliabel berdasarkan fakta serta menghasilkan sesuatu yang dapat diverifikasi dan direplikasi.

Berdasarkan rumusan ketetapan standar evaluasi yang ditetapkan oleh Joint Committee yang terbagi dalam empat kategori, maka penelitian mengelompokkan rangkaian evaluasi ke dalam empat kategori tersebut, yaitu:

Pertama, kemanfaatan (utility) yang merujuk kepada klien dan audiens yang akan memanfaatkan hasil evaluasi program ini secara jelas sebagaimana yang tertuang pada bagian pendahuluan. Kedua, Kelayakan (Feasibility) yang mengacu kepada standar prosedur praktis evaluasi dan independensi yang tidak berdampak negatif pada pelaksanaan proses pendidikan di Kodya Banjarmasin.

Seperti terganggunya belajar dan sebagainya. Ketiga, Kesesuaian (propriety) merujuk bahwa evaluasi dilakukan secara sah, beretika, jujur, lengkap dan mendukung kepentingan semua pihak yang terlibat dalam evaluasi. Dan Keempat, analisis data dan informasi, dan penetapan keputusan pada setiap tahapan evaluasi.

D. Instrumen Penelitian

Evaluasi program pendidikan inklusif di Kodya Banjarmasin ini menggunakan berbagai jenis instrumen yang terbagi dalam lima tahapan evaluasi, yaitu: konteks, input, proses, produk dan outcome.

1. Instrumen Konteks

Instrumen ini bertujuan menganalisis lingkungan program yang berhubungan dengan analisis kebutuhan. Menurut Michael Quinn Patton, intrumen konteks lebih terpusat pada peneliti sendiri sebagai instrumen sehingga tidak baku seperti pada penelitian kuantitatif.72 Instrumen konteks terdiri atas pertama, studi dokumen yakni penelusuran dokumen legalitas formal praktik penyelenggaraan pendidikan inklusif di Kodya Banjarmasin pada tingkat undang- undang hingga peraturan pelaksanaan (ijin operasional) di lapangan. Kedua, pedoman wawancara terbuka yang memuat garis-garis besar yang akan dinyatakan sesuai dengan tujuan Instrumen ketiga adalah observasi lapangan dengan model analisis SWOT untuk melihat faktor-faktor kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman pada sekolah penyelenggara inklusif.

2. Instrumen Masukan (Input)

Instrumen masukan (input) terdiri atas analisis dokumen, daftar isian, angket, inventory ceklis, wawancara dan studi dokumen. Pertama, analisis dokumen yakni penelusuran dokumen proses rekrutmen siswa inklusif. Dokumen- dokumen tersebut disimpulkan dan dianalisis kesesuaiannya dengan kriteria- kriteria yang telah ditetapkan.

Kedua, angket isian orang tua siswa untuk mengungkap biodata dan latar belakang kondisi sosial ekonomi orang tua siswa. Indikator-indikator yang                                                                                                                          

72  Michael Quinn Patton, Qualitative Evaluation Methods (Beverly Hills: Sage Publication,

2008), h. 200-201.

 

dikembangkan adalah identitas siswa, riwayat pendidikan, identitas orang tua siswa, dan sosial ekonomi orang tua siswa.

Ketiga, angket yang diberikan kepada guru yang mengajar di kelas inklusif. Angket tersebut memfokuskan persoalan pada persyaratan-persyaratan administrasi guru. Indikator-indikator instrumen diambil dari buku pedoman terbitan Depdiknas tahun 2003, yaitu:

a. Tingkat pendidikan sekurang-kurangya strata satu (S1) b. Mengajar sesuai dengan latar belakang pendidikannya

c. Memiliki pengalaman belajar di kelas reguler 2 (dua) tahun dengan prestasi baik

d. Telah dipersiapkan sebelumnya melalui pertemuan ilmiah tentang pendidikan inklusif

Keempat, format penilaian kurikulum program inklusif. Indikator- indikator yang dikembangkan bersumber dari buku pedoman kurikulum pendidikan berkebutuhan khusus termasuk pendidikan inklusif yang meliputi:

Indikator pertama adalah kurikulum yang berdeferensiasi atau sering disebut kurikulum berbasis pada perbedaan individu yang terurarai pada instrumen 1,2,3,4, indikator kedua adalah kurikulum yang berorientasi pada peserta didik, terurai pada intrumen nomor 6, 9, 10, dan 11. Indikator ketiga adalah kurikulum yang menggamit sikap sosial terurai pada instrumen nomor 12,13, 14 dan 15. Indikator keempat adalah kurikulum yang fleksibel, artinya cukup ruang gerak dan tidak kaku, untuk menyesuaikan dengan kondisi anak, yang terurai pada instrumen nomor 5,7,8,16,17,18,19 dan 20. Kreteria angket kurikulum di SD Banua Hanyar adalah , sangat tidak relevan (STR), kurang relevan (KR), ragu-ragu (RG), relevan (R), sangat relevan (SR).

Indikator-indikator penilaian kurikulum tersebut kemudian dijabarkan ke dalam kisi-kisi instrumen yang tercamtum dalam tabel sebagai berikut:

Tabel 3.1 Kisi-Kisi Penilaian Kurikulum Program Inklusif

No Dimensi Pengembangan Nomor Butir Jumalah Butir 01

02 03 04

Perbedaan individu Beroreantasi peserta didik Sikap sosial

Menyesuaikan kondisi anak

1, 2, 3,4 6,9,10,11 12,13,14,15

5,7,8,16,17,18,19,20

4 Butir 4 Butir 4 Butir 8 Butir

Jumlah 20 Butir

Kelima, inventory ceklis untuk menilai kelayakan sarana dan prasarana yang terkait bagi kebutuhan penyelenggaraan program pendidikan inklusif baik vital maupun pendukung. Pilihan jawaban terdiri atas (1) ada dan lengkap serta berfungsi, (2) ada tapi tidak lengkap atau rusak, dan (3) tidak ada. Instrumen ini tidak membutuhkan uji validitas karena didasarkan pada kecocokan apa yang dibutuhkan dalam pembelajaran siswa inklusif.

Keenam, wawancara terbuka untuk mengungkap pembiayaan program pendidikan inklusif. Tujuan wawancara adalah analisis dan estimasi pembiayaan program pendidikan inklusif selama 1 tahun berjalan. Instrumen ini tidak membutuhkan uji validitas, validitas ada pada peneliti itu sendiri.

Ketujuh, studi dokumen yaitu menelaah kalender akademik yang digunakan dan ditetapkan sebagai rencana program kegiatan pembelajaaran kelas inklusif selama satu tahun berjalan. Program kajian terdiri atas kalender akademik (rutin) dan non akademik (pengembangan).

3. Instrumen Proses (Process)

Instrumen pada tahapan proses merupakan rekaman proses aktual terdiri atas: angket dan observasi. Instrumen proses terdiri dari: Kompetensi guru yang

mengajar di kelas inklusif sebanyak 26 butir, Minat guru mengajar di kelas inklusif sebanyak 5 butir, Profil guru inklusif yang dipersyaratkan sebanyak 6 butir, Proses pembelajaran sebanyak 20 butir instrumen.

Instrumen untuk mengumpulkan data tentang kompetensi guru yang mengajar di kelas inklusif, berupa angket yang disebarkan kepada beberapa guru yang mengajar di kelas inklusif. Angket berisi 8 (delapan) indikator kompetensi guru dalam membuat perencanaan pembelajaran meliiputi: (1) diferensiasi kurikulum, (2) modifikasi bahan, alat dan metode pembelajaran, (3) pembelajaran individual (4) budaya inklusif (kerjasama, tolong menolong dan saling menghargai), (5) memberikan kesempatan siswa untuk tutorial sebaya, (6) memberikan kesempatan siswa melaporkan hasil kerja, (7) motivasi belajar, dan (8) penilaian yang fleksibel. Validitas konstruk dan reliabilitas instrumen angket merupakan satu kesatuan dengan instrumen input tentang guru.

Tabel 3.2 Kisi-kisi Instrumen tentang kompetensi guru

No Indikator

Profil Guru

Nomor

Jumlah Butir

01 02 03 04 05 06 07

Pembelajaran menghargai perbedaan individu

Memodifikasi kurikulum Pembelajaran individual

Pembelajaran kooperatif dan kolaboratif

Sikap sosial Motivasi belajar Penilaian fleksibel

1,2,3,4,5,6, 11,12 9,10,13

7,8,14,15,21,22,23.

19,20,24 dan 25 16,17,18

26

6 2 3 7 4 3 1

Jumlah 26

Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data tentang minat guru mengajar di kelas inklusif berupa angket yang disebarkan kepada guru yang mengajar di kelas inklusif. Definisi operasional minat adalah pilihan jawaban yang diberikan oleh guru kepada 5 butir yang mengukur indikator tingkat kesenangan, penerimaan keberadaan anak berkebutuhan khusus, keiklasan bekerja tanpa pamrih, kebanggaan dalam mengajar dan keterlibatan dalam pembelajaran.

Tabel 3.3 Kisi-kisi Instrumen tentang minat guru

No Indikator

Profil Guru

Nomor

Jumlah Butir

01 02 03 04 05

Tingkat kesenangan dalam mengajar

Penerimaan keberadaan anak berkebutuhan khusus

Keiklasan bekerja tanpa pamrih Kebanggaan dalam mengajar

Keterlibatan dalam

pembelajaran

1 2 3 4 5

1 1 1 1 1

Jumlah 5

Instrumen yang digunakan untuk mengungkap profil guru inklusif yang dipersyaratkan sebanyak 6 butir, berbentuk angket yang disebarkan kepada siswa kelas inklusif baik yang memiliki kebutuhan khusus maupun siswa normal (reguler) untuk melihat profil guru inklusif yang dipersyaratkan. Definisi operasional siswa pada guru inklusif adalah skor yang diberikan siswa terhadap instrumen yang mengukur profil guru inklusif yang dipersyaratkan meliputi:

Kualifikasi pendidikan butir 1, kesesuaian ijasah dengan mata pelajaran yang

diampu butir 2, pengalaman mengajar lebih dari tiga tahun butir ke 3, telah dipersiapkan sebelumnya untuk mengajar di kelas inklusif butir ke 4, keikutsertaan dalam pelatihan dan workshop butir 5, dan mengajar di sekolah reguler butir ke 6.

Tabel 3.4 Kisi-kisi Instrumen tentang profil guru

No Indikator

Profil Guru

Nomor

Jumlah Butir

01 02 03

04

05 06

Kualifikasi pendidikan

Kesesuaian ijazah dengan mata pelajaran yang diampu

Pengalaman mengajar lebih dari 3 tahun

Telah dipersiapkan sebelumnya untuk mengajar di kelas inklusif

Keikutsertaan pelatihan dan workshop

Mengajar di kelas reguler

1 2 3

4

5 6

1 1 1 1 1 1

Jumlah 6

Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data proses pembelajaran di kelas inklusif, berupa lembar observasi yang digunakan. Bentuk observasi yang dilakukan adalah observasi non eksperimental, di mana observer sebagai penonton dalam proses belajar. Observer tidak memberikan perlakuan apapun dalam proses pembelajaran yang sedang berlangsung. Kegiatan observer adalah merekam seluruh aktivitas pembelajaran dengan menggunakan kamera handycam. Hasil rekaman tersebut ditranfer ke CD atau compact disk. Guru inklusif yang mejadi sasaran liputan rekaman pembelajaran yaitu: guru kelas satu, guru kelas empat

Dalam dokumen EVALUASI PEN.INKLUSIF (PENELITIAN).pdf (Halaman 73-76)