FILM BOMBE DAN SUMIATI
C. Analisis sosiolinguistik pada Film Sumiati
1. Simbol Identitas yang Terdapat Pada Film Sumiati
Dari hasil analisis wawancara menunjukan bahwa dalam Film Sumiati bahasa yang digunakan tetap pada bahasa yang formal atau cara berdialeknya tetap pada bahasa Indonesia yang baku, beda dengan Film Bombe yang cara berdialeknya sangat kental dengan bahasa Makassar, kenapa kemudian berbeda dengan Film Sumiati, karena didalam cerita Film Sumiati adik pemerkosa sumiati tersebut tinggalnya di Kota Jakarta sehingga iya kemakassar mecari tau apa penyebab tentang kakaknya (pelaku pemerkosa Sumiati).
Kemudian Simbol yang di gunakan Sumiati pada pelaku yang memerkosanya yaitu meninggalkan tanda kain merah pada setiap korbannya atau setiap melihat pakaian yang berbaju merah Sumiati menganggap bahwa itu adalah pelakunya, karena sikorban pemerkosa (Sumiati) tidak mengenal betul siapa pelakunya, yang dia tau persis hanyalah kain merah.
Siri’ yang kemudian melanda Pada Sumiati sehingga untuk pada suatu ketika dalam hidupnya berbuat sesuatu yang amat nekad, memilih menyerahkan milik hidupnya yang terakhir yaitu nyawa, acapkali dikembalikan kepada konsep yang mereka namakan siri‟. Ia dapat atau rela mengorbankan apa saja untuk tegaknya siri‟. Katakanlah itu satu kesadaran tetang nilai martabat yang didukung oleh orang-orang dalam tradisi kehidupan masyarakat Bugis-Makassar.
Katakanlah itu satu kesadaran kolektif yang amat peka, dibebaskan kepada tiap- tiap orang anggota persekutuan hidup untuk membangunnya untuk mempertahankan dan menegakkannya.
B . PEMBAHASAN
Hasil penelitian, dari film Bombe dan film Sumiati dua film yang berbeda gendre, Bombe bergendre drama sementara Sumiati bergendre horor, Bombe menggambarkan bahwa bagaimana citra Makassar ini bisa kembali baik sementara Sumiati menggambarkan bahwa Siri’ yang ada di Makassar ini harus tetap di pertahankan, kedua film ini tetap Siri’ yang di pertahankan, karena dalam Bombe terjadinya sebuah konflik karena begitu mempertahankannya Siri’, Begitu pula dengan dialek yang di gunakan yaitu tetap berdialek Makassar atau logat Makassar, logat ini memiliki ciri khas yang unik dan berbeda dengan bahasa atau logat-logat daerah lainnya. Logat ini agak terdengar kasar yang menandai sebagai identitas orang yang tangguh dan perkasa. Logat ini biasa dikombinasikan aksen cina. Okkot merupakan salah satu ciri khasnya, yaitu mengurangi, mengubah dan menambahkan huruf di belakang. Partikel partikel yang sering di ucapkan dalam logat ini adalah "MI,PI,JI,KI, dan MO". Di logat ini biasanya mengganti -nya menjadi -na. Terkadang, bahasa yang di gunakan adalah lebih banyak memakai kosakata bahasa indonesia dari pada bahasa makassar atau sebaliknya atau ter-influence dengan bahasa indonesia. Bahasa Indonesia yang dipakai sebagai bahasa pemersatu kemudian ter-influence oleh bahasa daerah itu sendiri. Beberapa istilah bahasa daerah kemudian ikut mewarnai penggunaan bahasa Indonesia, di antaranya partikel-partikel itu tadi.
Peleburan bahasa daerah ini ke dalam bahasa Indonesia juga mengacaukan
susunan kalimat, merusak tatanan MD, Subjek Objek sehingga terkadang logat di Sulawesi Selatan ini terdengar sangat kacau.
Pemaknaan dalam sosiolinguistik bahwa budaya siri’ dan bahasa (logat Makassar) merupakan sebuah kajian masyarakat karena di tinjau dari nama sosiolinguistik menyangkut sosiologi dan linguistik, oleh karena itu sosiolinguistik mempunyai kaitan yang sangat erat dengan kedua kajian tersebut.
Sosio adalah masyarakat, dan linguistik adalah kajian bahasa. Jadi kajian sosiolinguistik adalah kajian tentang bahasa yang dikaitkan dengan kondisi kemasyarakatan (Sumarsono 2004:1). Berdasarkan beberapa uraian diatas dapat disimpulkan bahwa sosiolinguistik berarti ilmu yang mempelajari tentang bahasa yang dikaitkan dengan kondisi masyarakat tertentu.
Dalam teori interaksionlisme simbolik tersebut mengajak kita untuk lebih memperdalam sebuah kajian mengenai pemaknaan interaksi yang digunakan dalam mayarakat mulitietnik. Dengan menggunakan pendekatan teori interaksionisme simbolik sudah nampak jelas bahwa pendekatan ini merupakan suatu teropong ilmiah untuk melihat sebuah interaksi dalam masyarakat Makassar yang banyak menggunakan simbol-simbol dalam proses interaksi dalam masyarakat tersebut.
Pokok pikiran interaksionisme simbolik ada tiga; yang pertama ialah bahwa manusia bertindak terhadap sesuatu atas dasar makna yang dipunyai sesuatu baginya. Dengan demikian tindakan seorang dalam bentuk anarkisme yang
terjadi selama ini maka tindakan itu yang perlu harus di ruba meskipun orang Makassar secara individual menganggap itu Siri’.
Lebih dalam lagi sebuah kajian mengenai pokok pemikiran teori interaksionisme simbolik, membuat kita memahami bahwa dalam sebuah tindakan mempunyai makna yang berbeda dengan orang yang lain yang juga memaknai sebuah makna dalam tindakan interaksi tersebut, seperti yang dijelaskan pada film Bombe dan Sumiati tentang bentuk kekerasan dan siri’. Ini menandakan bahwa ada banyak makna yang terkandung dalam sebuah tindakan.
Interaksionis simbolik telah diperhalus untuk dijadikan salah satu pendekatan sosiologis oleh George Herbert Mead dan Herbert Blumer, yang berpandangan bahwa manusia adalah individu yang berpikir, berperasaan, memberikan pengertian pada setiap keadaan, yang melahirkan reaksi dan interpretasi kepada setiap rangsangan yang dihadapi. Kejadian tersebut dilakukan melalui interpretasi simbol-simbol atau komunikasi bermakna yang dilakukan melalui gerak, bahasa, rasa simpati, empati, dan melahirkan tingkah laku lainnya yang menunjukan reaksi atau respon terhadap rangsangan-rangsangan yang datang kepada dirinya
Hasil penelitian menunjukan bahwa, pendekatan interaksionisme simbolik merupakan salah suatu pendekatan yang mengarah kepada interaksi yang menggunakan simbol-simbol dalam berkomunikasi, baik itu melalui gerak,
bahasa dan simpati, sehingga akan muncul suatu respon terhadap rangsangan yang datang dan membuat manusia melakukan reaksi atau tindakan terhadap rangsangan tersebut. Dalam pendekatan interaksionisme simbolik akan lebih diperjelas melalui ulasan-ulasan yang lebih spesifik mengenai makna simbol yang akan dibahas di bawah ini.
Dalam melakukan suatu interaksi, makna gerak, bahasa, dan rasa simpati sangat menentukan, apalagi berinteraksi dalam masyarakat yang berbeda suku dan kebudayaan. Modal utama dalam melakukan interaksi dalam masyarakat multi etnik adalah saling memahami kebiasaan ataupun kebudayaan dari orang lain, sehingga kesalah-pahaman yang nantinya akan menimbulkan konflik dapat tertekan.