BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.7 Sistem Biaya Tradisional
28
29 ini disebabkan karena merupakan faktor yang menyebabkan perubahan biaya sebagai akibat perubahan unit yang diproduksi. Pembebanan overhead pada metode tradisional dapat dilakukan dengan dua cara yaitu:
1. Tarif Pabrik Menyeluruh Pembebanan overhead ke produk secara tradisional dapat menggunakan tarif pabrik menyeluruh. Dengan menggunakan tarif ini, biaya overhead pertama sekali diakumulasi dalam kelompok besar pabrik secara menyeluruh. Overhead dibebankan pada kelompok hanya dengan menjumlahkan semua biaya overhead yang diharapkan terjadi di pabrik selama setahun. Semua biaya overhead adalah untuk pabrik, maka pembebanan kepada kelompok dilakukan sangat akurat. Tahap selanjutnya menghitung tarif pabrik menyeluruh dengan menggunakan satu penggerak tingkat unit, biasanya adalah jam tenaga kerja langsung atau jam mesin.
2. Tarif Departemental Dasar pemikiran tarif departemental ini adalah untuk menghindari pembebanan rata-rata seperti yang digunakan pada tarif pabrik menyeluruh. Tarif departemental berasumsi bahwa beberapa departemen mungkin lebih intensif apabila overhead dibandingkan dengan yang lain, sehingga produk yang menghabiskan waktu lebih banyak pada departemen akan dibebankan overhead yang lebih besar dari yang menghabiskan waktu yang lebih sedikit.
2.7.3 Kelebihan dan Kelemahan Metode Tradisional
Dalam setiap metode pasti memiliki kelemahan dan kelebihan dalam perhitungan. Kelebihan dari metode tradisional adalah proses perhitungan lebih mudah dan tidak rumit karena hanya mempertimbangkan variabel utama yaitu volume produksi, tenaga kerja langsung, bahan baku lansung, jam mesin. Selain itu kelebihan metode tradisional adalah tidak membutuhkan seseorang yang memiliki keahlian khusus dalam perhitungan.
Kelemahan metode tradisional menurut Rudianto (2013) adalah:
30 1. Sistem akuntansi biaya tradisional terlalu menekankan pada tujuan penentuan harga pokok produk yang dijual. Akibatnya, sistem ini hanya menyediakan informasi yang relatif sangat sedikit untuk mencapai keunggulan dalam persaingan global.
2. Berkaitan dengan biaya overhead, sistem akuntansi biaya tradisional terlalu memusatkan pada distribusi dan alokasi biaya overhead ketimbang berusaha keras mengurangi pemborosan dengan menghilangkan aktivitas yang tidak bernilai tambah.
3. Sistem akuntansi biaya tradisional tidak mencerminkan sebab akibat biaya karena sering kali beranggapan bahwa biaya ditimbulkan oleh faktor tunggal, seperti volume produk atau jam kerja langsung.
4. Sistem akuntansi biaya tradisional sering kali menghasilkan informasi biaya yang terdistorsi sehingga mengakibatkan pembuatan keputusan yang justru menimbulkan konflik dengan keunggulan perusahaan.
5. Sistem akuntansi biaya tradisional menggolongkan biaya langsung dan tidak langsung serta biaya tetap dan biaya variabel hanya berdasarkan faktor penyebab tunggal, yaitu volume produk. Padahal dalam lingkungan teknologi maju, metode penggolongan tersebut menjadi kabur karena biaya dipengaruhi oleh berbagai aktivitas.
6. Sistem akuntansi biaya tradisional menggolongkan suatu perusahaan ke dalam pusat-pusat pertanggungjawaban yang kaku dan terlalu menekankan kinerja jangka pendek.
7. Sistem akuntansi biaya tradisional memusatkan perhatian pada perhitungan selisih biaya pusat-pusat pertanggungjawaban dalam suatu perusahaan dengan menggunakan standar tertentu.
8. Sistem akuntansi biaya tradisional tidak banyak memerlukan alat-alat dan teknik- teknik yang canggih dalam sistem informasi dibandingkan pada lingkungan teknologi maju.
31 9. Sistem akuntansi biaya tradisional kurang menekankan pentingnya daur hidup produk. Hal ini dibuktikan dengan perlakuan akuntansi biaya tradisional terhadap biaya aktivitas. Biaya-biaya tersebut diperlakukan sebagai biaya periode sehingga menyebabkan terjadinya distorsi harga pokok produk.
Dalam sistem kalkulasi biaya tradisional biaya overhead dialokasikan secara arbitrer kepada harga pokok produk. Hal ini akan menghasilkan harga pokok produk yang tidak akurat atau terjadinya distorsi penentuan harga pokok produk per unit sehingga tidak bisa diandalkan dalam mengukur efisiensi dan produktivitas.
Penentuan harga pokok per unit yang lebih akurat penting bagi manajemen sebagai dasar untuk pembuatan keputusan. Agar tidak terjadi distorsi penentuan harga pokok per unit, banyak perusahaan yang mengadopsi penggunaan sistem penentuan harga pokok (costing) berbasis aktivitas (ABC).
32
BAB 3
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Lokasi dan waktu penelitian
Penelitian ini dilakukan pada Home industry Mie Sagu Barokah Lokasi Jl.
Pramuka, Gg.Barokah, Bengkalis, Riau. Penelitian ini dilakukan pada bulan September 2021 sampai dengan bulan Januari 2022.
3.2 Objek Penelitian
Objek penelitian dalam penelitian ini adalah biaya-biaya yang menjadi fokus dari aktivitas dalam pembuatan Mie Sagu Barokah untuk menentukan alokasi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, dan biaya overhead pabrik untuk memproduksi Mie Sagu.
3.3 Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian terapan (applied research) yakni proses pengumpulan, pencatatan dan analisis data yang sistematis dan objektif untuk membantu dalam pengambilan keputusan bisnis. Penelitian terapan biasanya digunakan oleh perusahaan, agen atau individu yang bertujuan mencari solusi terhadap suatu permasalahan terkini yang sedang dihadapi masyarakat atau organisasi industri/ bisnis. Penelitian ini dilakukan untuk memberikan gambaran yang lebih detail mengenai suatu gejala atau fenomena dan menjelaskan mekanisme sebuah proses mengenai penentuan harga pokok produksi berdasarkan sistem Activity Based Costing (ABC) Pada Home Industri Mie Sagu Alami Barokah.
3.4 Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah :
33 1. Data Primer adalah data pokok yang diperlukan dalam penelitian yang diperoleh secara langsung dari sumbernya ataupun dari lokasi objek penelitian, atau keseluruhan dari hasil penelitian yang diperoleh dilapangan.
2. Data Sekunder adalah data yang diperoleh melalui pengumpulan atau pengolahan data yang bersifat studi dokumentasi berupa penelaahan terhadap dokumen pribadi. Data sekunder berupa dokumen-dokumen yang berkaitan dengan penentuan harga pokok produksi.
3.5 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumplan data yang utama adalah dokumentasi dan wawancara.
1. Dokumentasi
Dalam penelitian ini dapat dilakukan dengan mencari data mengenai hal-hal atau variabel. Data yang dikumpulkan meliputi biaya-biaya yang berpengaruh terhadap penentuan harga pokok produk pada Home Industry Mie Sagu Barokah.
2. Wawancara Yaitu dapat dilaksanakan dengan cara tanya jawab langsung dengan bertatap muka dengan orang yang yang diwawancarai. Adapun wawancara dilakukan oleh peneliti dengan menggunakan Tanya jawab terhadap pihak yang pemilik usaha di Home industry Mie Sagu Barokah.
3.6 Metode Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif yaitu bagian dari statistika yang mempelajari teknik, atau prosedur yang digunakan untuk menggambarkan atau mendeskripsikan kumpulan data atau hasil pengamatan yang telah dilakukan. Setelah data yang diperoleh terkumpul dari hasil pengamatan data, maka diadakan suatu analis data untuk mengolah data yang ada.
Langkah - langkah analisis dalam penelitian ini antara lain sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi aktivitas
34 Aktivitas yang dilakukan dalam proses pembuatan Mie Sagu Alami Barokah adalah persiapan bahan baku, pembuatan adonan, pencetakan, pemanggangan, pengemasan, dan pengiriman.
2. Membebankan biaya ke aktivitas
Biaya yang dikeluarkan untuk proses produksi antara lain biaya pembelian bahan baku, biaya tenaga kerja, biaya listrik, biaya telepon, biaya perawatan alat, biaya bahan bakar, biaya kemasan, biaya air minum.
3. Mengelompokkan aktivitas yang berkaitan untuk membentuk kumpulan yang sejenis (homogen) kemudian mengelompokkan biaya aktivitas yang telah dikelompokkan untuk mendefinisikan kelompok biaya sejenis (homogeneous cost pool).
4. Menghitung tarif kelompok
Tarif pool = BOP Kelompok Aktivitas Tertentu Driver Biayanya
5. Biaya Overhead Pabrik (BOP) setiap kelompok aktivitas di lacak ke berbagai jenis produk dengan menggunakan tarif kelompok yang dikonsumsi oleh setiap produk. Pembebanan BOP pada produk dihitung dengan rumus sebagai berikut:
Biaya Overhead Pabrik (BOP) dibebankan = Tarif kelompok x Unit cost driver
6. Perhitungan dan Penentuan harga pokok produksi Berdasarkan Sistem Activity Based Costing (ABC) Pada Home Industri Mie Sagu Alami Barokah
3.7 Definisi dan Konsep Operasional 3.7.1 Definisi Konsep
Definisi konsep merupakan batasan-batasan masalah pada variabel yang dijadikan pedoman dalam penelitian sehingga akan memudahkan peneliti dalam melakukan penelitian di lapangan. Defisini konsep dalam penelitian ini adalah:
35 1. Biaya Bahan Baku
Biaya bahan baku merupakan bahan langsung, yaitu yang membentuk suatu kesatuan yang tidak terpisahkan dari produk jadi. Bahan baku mudah ditelusuri dalam suatu produk dan harganya relatif tinggi dibandingkan dengan bahan pembantu. Pengertian bahan baku dapat meluas meliputi juga bahan-bahan yang digunakan untuk memperlancar proses produksi. Bahan baku yang demikian termasuk dalam bahan penolong atau bahan pembantu. Bahan baku dibebankan kepada kelompok biaya bahan baku, sedangkan biaya bahan penolong ke rekening biaya overhead.
2. Biaya Tenaga Kerja
Tenaga kerja ada dua yaitu tenaga kerja langsung dan tenaga kerja tidak langsung. Biaya tenaga kerja langsung adalah upah untuk tenaga manusia yang bekerja langsung mengolah produk. Biaya tenaga kerja tidak langsung adalah upah yang dibayarkan kepada tenaga kerja manusia yang ikut membantu menyelesaikan produk. Biaya tenaga kerja tidak langsung merupakan salah satu unsur biaya overhead pabrik.
3. Biaya Overhead Pabrik
Biaya overhead pabrik (BOP) adalah biaya produksi selain bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung. Biaya overhead pabrik didefinisikan sebagai bahan tidak langsung, buruh tidak langsung, dan biaya-biaya lainnya yang tidak secara mudah diidentifikasikan atau dibebankan langsung pada suatu pekerjaan, hasil produksi, atau tujuan akhir biaya tertentu seperti kontrak-kontrak pemerintah.
Biaya overhead pabrik menurut Salman (2013) adalah biaya produksi yang dikeluarkan perusahaan selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung.
Biaya overhead pabrik meliputi biaya bahan pembantu atau penolong, biaya penyusutan aktiva pabrik, biaya sewa gedung pabrik, dan biaya overhead lain- lain.
36 3.7.2 Operasional Variabel
Definisi operasional merupakan petunjuk tentang bagaimana suatu variabel diukur.
Tabel 3.1 Operasionalisasi Variabel
No Variabel Definisi Pengukuran Skala
1 Biaya Bahan Baku Bahan yang
membentuk bagian menyeluruh produksi jadi
Harga beli ditambah biayabiaya pembelian dan biayabiaya untuk menempatkan bahan baku tersebut siap di olah
Nominal
2 Biaya Tenaga Kerja
Usaha fisik atau usaha
mental yang
dikeluarkan karyawan untuk mengolah produk
jam kerja atau dasar unit yang diproduksi
Nominal
3 Biaya Overhead Pabrik
Seluruh biaya produksi yang tidak dapat diklasifikasikan sebagai biaya bahan baku atau biaya tenaga kerja
Activity Based Costing (ABC)
Nominal
Sumber: Olahan Peneliti, 2022
37
BAB 4
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Home Industri Mie Sagu Barokah 4.1.1 Sejarah Home Industri Mie Sagu Barokah
Mie sagu alami barokah didirikan di pada tahun 2005 di Bengkalis oleh Bapak Rahmad sebagai UKM yang bergerak dibidang industri makanan yang memproduksi mie sagu berlokasi Jalan Pramuka Gg Barokah Desa Air Putih Bengkalis. Sebelum memproduksi mie sagu. Bapak Rahmad merupakan seorang pedagang keliling yang menjual makanan kecil-kecilan disekitar Bengkalis. Pada saat itu Bapak Rahmad pergi kedesa Kalimantan untuk mencari ayam, dan pada saat itu semua kosong, jadi dari pada pulang dengan tangan kosong bapak Rahmad ini beli sagu, dan sagu itu Bapak Rahmad tidak tau mau digunakan untuk apa, setelah itu beliau mempunyai ide untuk membuat mie sagu, dan dibungkuslah mie sagu tersebut /kg dijual ke warung dan alhamdulillah diterima oleh warung.
Pak Rahmad menjadi semangat untuk memproduksi sagu ini menjadi mie sagu, beliau belajar hari demi hari sagu tersebut, sebulan bisa membutuhkan 1 ton, dulu 1 ton /kg harganya Rp.1000 jadi sebulan Rp,1.000.000, jadi beliau berfikir bagaimana mie sagu ini setiap bulan bisa menghasilkan 2 s/d 3 ton, jadi beliau ingin membuat sagu ini dengan berbagai macam olahan seperti sagu rendang, dan gobak sagu.
Sementara itu beliau belum memahami bagaimana cara buatnya dan pada saat itu Bapak Rahmad memulai usaha mie sagu barokah dengan modal awal yang sangat minim untuk membeli ampia dan tepung, dengan segala keterbatasan dalam waktu 1 tahun mampu berjalan, dan Pak Rahmad dapatkan bantuan modal dari Pemerintah Daerah Kabupaten Bengkalis sebesar Rp.17.000.000, dengan adanya bantuan modal tersebut, semakin memacu semangat Pak Rahmad untuk melanjutkan usahanya.
Dengan niat dan tekat yang kuat agar bisa menciptakan lapangan kerja sambil berdoa,
38 beliau terus belajar membuat sagu tersebut, setelah istiqomah dijalani dengan penuh semangat ingin membuka lapangan kerja dan Alhamdulillah berjalan sampai sekarang hingga terbentuklah home hindustry mie sagu barokah.
4.1.2 Struktur Organisasi
Struktur organisasi di Home Industri Mie Sagu Barokah ini cukup baik, karena dari mulai pemilik, supervisor sampai karyawan telah memiliki job deskription yang jelas. Pembagian kerja sudah tertata rapi, sehingga setiap karyawan sudah memiliki tugas dan wewenangnya masing-masing.
Gambar 1 diperlihatkan struktur organisasi di Home Industri Mie Sagu Alami Barokah Sumber : Home Industri Mie Sagu Alami Barokah
Deskripsi Pekerjaan di Home Industri Mie Sagu Alami Barokah Home Industri Mie
Sagu Alami Barokah
Supervisor
Produksi Pengantara
& Belanja
Bagian Masak
Distributor
39 1. Pemilik
Bapak Rahmad merupakan pemilik dari Home Industri Mie Sagu Alami Barokah Kabupaten Bengkalis yang memiliki tugas yaitu mengawasi dan bertangung jawab mengelola UKM UD Barokah Kabupaten Bengkalis
2. Supervisor
Resi Oktavia merupakan anak kandung dari Bapak Rahmad yang menjadi Supervisor dari UKM Barokah Kabupaten Bengkalis, dengan tugas mengawasi, membuat laporan keuangan mingguan, mengatur bagian produksi, dan penggajian.
3. Bagian Produksi
Pada bagian produksi ini terdapat 8 orang yang bekerja antara lain:
a. Dayat b. Bela c. Fitri d. Ijum e. Masni f. Amirul g. Imar h. Pak kholis
4. Bagian Pengantaran dan Belanja
Bagian pengantaran dan belanja menjadi tugas Syafrizal terhadap distributor, atau pedagang-pedagang dan juga bagian belanja bahan-bahan produksi.
5. Bagian Masak Mie Sagu
Rohimah, Ikmal, Indra memiliki tugas bagian memasak Mie sagu di Home Industri Mie Sagu Alami Barokah Kabupaten Bengkalis.
6. Bagian Distributor Jakarta
Nita, adalah Distibutor Jakarta yang melakukan pemesanan mie Sagu di Home Industri Mie Sagu Alami Barokah yang dipasarkan di daerah Jakarta dan sekitarnya.
40 4.1.3 Macam-Macam Olahan Sagu Di Home Industri Mie Sagu Alami Barokah
Usaha yang dimiliki pak rahmad ini merupakan salah satu home industry rumahan yang cukup besar yang ada di bengkalis, tidak hanya mie sagu, Home Industri Mie Sagu Alami Barokah juga memproduksi berbagai olahan sagu lainnya seperti, sagu rendang, dan gobak sagu. Jadi total keseluruhan yang diproduksi saat ini ada 4 olahan dari sagu yang diproduksi oleh home indutri alami Barokah. Tidak itu saja Home Industri Mie Sagu Alami Barokah ini juga menerima jasa penjualan seperti kerupuk udang laut, kerupuk ikan, kerupuk ikan lomek, rangginang ubi, dan terasi.
4.1.4 Proses Produksi
Proses produksi mie sagu dilakukan yaitu dengan melalui beberapa Tahapan yaitu :
1. Tahapan pembuatan adonan
Tahapan ini dilakukan oleh 4 orang, mie sagu merupakan produk unggulan yang diproduksi oleh Home Industri Mie Sagu Alami Barokah, untuk bahan bakunya dapat dengan memanfaatkan sumber daya alam yang melimpah di pulau Bengkalis, khususnya di daerah barokah, proses produksinya pun juga terbilang cukup sederhana, yaitu pertama bahan baku dijemur diatas terpal, proses penjemuran ini bertujuan agar tepung menjadi kering dan dapat diolah dengan baik. Setelah jemur, kemudian tepung di ayak untuk memisahkan resedu dari tepung yang dijemur menggunakan mesin ayak. Adonan Setelah melalui proses ayak, tepung sagu dimasak diatas tungku kompor sampai menjadi adonan yang disebut adonan kepurun.
2. Tahapan Perebusan
Tahapan ini dilakukan oleh 3 orang, adonan selanjutnya adonan kepurun di uleni tepung kering yang kemudian akan dibentuk menjadi lepengan sagu dengan menggunakan mesin khusus, setelah lempengan sagu terbentuk, lempengan sagu kemudian direbus diatas tungku lalu digantung atau diampai selama satu malam.
41 Lempengan sagu diampai agar kandungan airnya berkurang dan lepengan menjadi kering
3. Tahapan pembungkus
Tahapan ini dilakukan 4 orang, isi Mie Sagu ntuk selanjutnya diproses melalui mesin giling hinga lepengan sagu tersebut berbentuk mie. Sebelum pembungkusan, mie sagu terlebih dahulu disajikan diatas meja besar yg sudah dilapisi plastik permanen supaya tidak kotor, kemudian dicetak dengan plastik yang sudah ada logo mie sagu barokah,
4. Tahapan Pengemasan
Tahapan ini dilakukan 3 orang, setelah mie sagu sudah dicetak, kemudian dimasukan kedalam boks berbentuk persegi panjang. Boks tersebut merupakan pesanan distributor dan penjualan secara langsung yang akan dilakukan pada pagi hari.
4.1.5 Aspek Pemasaran
Mie sagu hasil produksi Home Industri Mie Sagu Alami Barokah dipasarkan diberbagai didalam daerah maupun luar daerah kepulauan Bengkalis, meliputi : Sungai Pakning, Dumai, Rupat, Duri, Tembilahan, Perawang, Pekanbaru, bahkan sedikit demi sedikit sudah memasuki daerah DKI Jakarta.
4.2 Hasil Penelitian dan Pembahasan
4.2.1 Penentuan harga pokok produksi dengan menggunakan sistem activity based costing (ABC) Pada Home Industri Mie Sagu Alami Barokah
Harga pokok produksi dibagi menurut tiga unsur utama dari biaya yaitu biaya bahan baku (BBB), biaya tenaga kerja (BTK) dan biaya overhead pabrik (BOP).
Unsur utama dari biaya yang pertama adalah biaya bahan baku, bahan baku yang digunakan dalam Produksi pada Home Industri Mie Sagu Alami Barokah selama bulan Januari 2022.
42 1. Biaya Bahan Baku
Biaya bahan baku merupakan seluruh biaya yang dikeluarkan dalam pembelian bahan baku untuk memproduksi Mie Sagu, Sagu Gobak dan Sagu Rendang. Biaya bahan baku yang digunakan dalam pembuatan produk pada Home Industri Mie Sagu Alami Barokah sebagai berikut:
Tabel 4.1 Biaya Bahan Baku Pada Bulan Januari 2022
No Jenis Produk Bahan Baku Jumlah (Kg) Harga (Kg) Jumlah Biaya Bahan Baku
(Rp) 1 Mie Sagu Sagu Basah 2.500 Kg Rp 3.000 Rp 7.500.000 2 Sagu Gobak Sagu Basah 1.500 Kg Rp 3.000 Rp 4.500.000 3 Sagu Rendang Sagu Basah 500 Kg Rp 3.000 Rp 1.500.000
TOTAL Rp 13.500.000
Sumber : Home Industri Mie Sagu Alami Barokah
Total biaya bahan baku yang dikeluarkan untuk memproduksi Mie Sagu, Kerupuk Sagu, Sagu Gobak dan Sagu Rendang pada bulan Januari adalah sebesar Rp 13.500.000. Unsur biaya yang kedua adalah biaya tenaga kerja, berikut rincian upah tenaga kerja selama bulan Januari pada Home Industri Mie Sagu Alami Barokah.
2. Biaya Tenaga Kerja
Biaya tenaga kerja merupakan upah yang Home Industri Mie Sagu Alami Barokah untuk membayar pekerja yang terlibat secara langsung dalam proses produksi. Biaya tenaga kerja yang dikeluarkan Home Industri Mie Sagu Alami Barokah sebagai berikut:
Tabel 4.2 Biaya Tenaga Kerja Produksi Mie Sagu Pada Bulan Januari 2022 No Kegiatan Jumlah
Tenaga Kerja
Gaji (Rp) Jumlah Biaya Tenaga Kerja (Rp) 1 Pembuatan
Adonan
1 Rp 1.000.000 Rp 1.000.000
2 Perebusan 1 Rp 1.000.000 Rp 1.000.000
3 Pembungkus 2 Rp 1.000.000 Rp 2.000.000
43
4 Pengemasan 1 Rp 1.000.000 Rp 1.000.000
TOTAL Rp 5.000.000
Sumber : Home Industri Mie Sagu Alami Barokah
Total biaya tenaga kerja yang dikeluarkan untuk produksi Mie Sagu adalah sebesar Rp 5.000.000 untuk 5 orang karyawan selama 1 bulan.
Tabel 4.3 Biaya Tenaga Kerja Produksi Sagu Rendang Pada Bulan Januari 2022 No Kegiatan Jumlah
Tenaga Kerja
Gaji (Rp) Jumlah Biaya Tenaga Kerja (Rp)
1 Pembuatan Adonan
1 Rp 1.000.000 Rp 1.000.000
2 Penggorengan 1 Rp 1.000.000 Rp 1.000.000
3 Pembungkus 1 Rp 1.000.000 Rp 1.000.000
4 Pengemasan 1 Rp 1.000.000 Rp 1.000.000
TOTAL Rp 4.000.000
Sumber : Home Industri Mie Sagu Alami Barokah
Total biaya tenaga kerja yang dikeluarkan untuk produksi Sagu Rendang adalah sebesar Rp 4.000.000 untuk 4 orang karyawan selama 1 bulan.
Tabel 4.4 Biaya Tenaga Kerja Produksi Sagu Gobak Pada Bulan Januari 2022 No Kegiatan Jumlah
Tenaga Kerja
Gaji (Rp) Jumlah Biaya Tenaga Kerja (Rp)
1 Pembuatan Adonan
1 Rp 1.000.000 Rp 1.000.000
2 Penggorengan 1 Rp 1.000.000 Rp 1.000.000
3 Pembungkus 1 Rp 1.000.000 Rp 1.000.000
4 Pengemasan 1 Rp 1.000.000 Rp 1.000.000
TOTAL Rp 4.000.000
Sumber : Home Industri Mie Sagu Alami Barokah
Total biaya tenaga kerja yang dikeluarkan untuk produksi Sagu Gobak adalah sebesar Rp 4.000.000 untuk 4 orang karyawan selama 1 bulan.
44 3. Biaya Overhead Pabrik
Biaya overhead pabrik merupakan seluruh biaya yang dikeluarkan Home Industri Mie Sagu Alami Barokah untuk membiayai produksi selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja. Adapun biaya overhead pabrik pada Home Industri Mie Sagu Alami Barokah sebagai berikut:
Tabel 4.5 Biaya Overhead Pabrik Home Industri Mie Sagu Alami Barokah Pada Bulan Januari 2022
Keterangan Jumlah (Rp)
Biaya Bahan Penolong Rp 30.000
Biaya Listrik Rp 472.000
Biaya Gas Rp 184.000
Biaya Plastik Rp 260.000
Biaya Pemasaran Rp 300.000
Biaya Kayu Bakar Rp 150.000
Biaya Pemeliharaan Kendaraan Rp 500.000 Biaya Penyusutan Kendaraan Rp 3.000.000
Biaya Penyusutan Mesin Rp 250.000
TOTAL Rp 5.146.000
Sumber : Home Industri Mie Sagu Alami Barokah
Total biaya overhead pabrik yang dikeluarkan sebesar Rp 5.146.000.
A. Perhitungan Harga pokok produksi berdasarkan sistem tradisional
Penentuan harga pokok produksi sangat penting guna mengetahui penghitungan margin penjualan, prediksi laba rugi dan harga pokok produksi itu sendiri. Biaya produksi itu sendiri adalah biaya-biaya yang terjadi untuk mengolah bahan baku menjadi produk jadi yang siap jual.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Rahmat, pemilik Home Industri Mie Sagu Alami Barokah terkait bagaimana perhitungan penentuan harga pokok produksi dengan cara penjumlahan semua biaya yang dikeluarkan, sebagaimana penjelasannya:
45 Home Industri Mie Sagu Alami Barokah dalam menentukan harga pokok produksinya belum menerapkan perhitungan yang sesuai dengan standar atau masih mengggunakan metode tradisional adalah Sebagai berikut :
“sampai saat ini Mie sagu Barokah dalam menentukan harga pokok produksinya dengan cara menghitung biaya produksinya dengan menjumlah semua biaya yang di keluarkan untuk memproduksi sagu, ya seperti menjumlahkan semua biaya yang di keluarkan untuk mie sagu, sagu gobak, dan sagu rendang. Sedangkan harga pokok per satuan produk dihitung dengan membagi jumlah total harga pokok produksi per produk dengan jumlah produk yang dihasilkan”1
Berdasarkan wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa Home Industri Mie Sagu Alami Barokah ini dalam perhitungan penentuan harga pokok produksi masih menggunakan metode akuntansi biaya tradisional dengan menghitung biaya produksinya dan menjumlah semua biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi setiap produknya, Sedangkan harga pokok per satuan dihitung dengan membagi jumlah total harga pokok produksi per sagu dengan jumlah produk sagu yang dihasilkan. Berikut ini perhitungan sistem tradisional bisa dilihat pada tabel 4.6 sebagai berikut :
Tabel 4.6 Perhitungan Harga Pokok Produksi Dengan Sistem Tradisional
Keterangan Mie Sagu Sagu Gobak Sagu Rendang
Biaya Bahan Baku Rp 7.500.000 Rp 4.500.000 Rp 1.500.000 Biaya Tenaga Kerja Rp 5.000.000 Rp 4.000.000 Rp 4.000.000 Biaya Overhead Pabrik Rp 5.146.000 Rp 5.146.000 Rp 5.146.000
HPP Rp 17.646.000 Rp 13.646.000 Rp 10.646.000
Unit Produksi 5.000 3.750 2.500
HPP Per Unit Rp 3.529 Rp 3.639 Rp 4.258
Sumber: Data Olahan, 2022
Berdasarkan perhitungan dengan menggunakan sistem tradisional dapatlah hasil perhitungan Harga Pokok Produksi per unit dengan Sistem Tradisional pada Home Industri Mie Sagu Alami Barokah diperoleh hasil Harga Pokok Produksi untuk
1 Rahmad, pemilik Home Industri Mie Sagu Barokah, Wawancara, Bengkalis, 10 Desember 2021