• Tidak ada hasil yang ditemukan

SISTEM LOGISTIK NASIONAL

Dalam dokumen DIREKTORAT JENDERAL PERHUBUNGAN LAUT (Halaman 91-102)

SUB SEKTOR TRANSPORTASI LAUT

2) Kebijakan Mitigasi

3.6 SISTEM LOGISTIK NASIONAL

Tinjau Ulang RENSTRA Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Tahun 2010 - 2014

Bab III Isu Strategis Ditjen Hubla III - 31

Tinjau Ulang RENSTRA Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Tahun 2010 - 2014

Bab III Isu Strategis Ditjen Hubla III - 32

b) Angkutan Laut

1) Memberlakukan asas cabotage untuk angkutan laut dalam negeri secara penuh sesuai jadwal roadmap.

2) Meningkatkan efisiensi dan efektifitas pelayanan angkutan laut yang dilakukan secara terpadu serta melalui penataan jaringan trayek.

Tinjau Ulang RENSTRA Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Tahun 2010 - 2014

Bab III Isu Strategis Ditjen Hubla III - 33

Beberapa kebijakan dan langkah-langkah yang dilakukan dalam rangka pencapaian target yang telah ditetapkan adalah sebagai berikut:

a. SUBSIDI ANGKUTAN LAUT PERINTIS

• Jumlah pelabuhan pangkal sebanyak 30 pelabuhan dan Pelabuhan Singgah sebanyak 447 pelabuhan

• Pelayaran-Perintis melayani daerah-daerah terpencil, terisolir, dan daerah yang belum berkembang, yang dikelola oleh pemerintah mengikuti rute yang telah ditentukan secara teratur dan masih bersifat non-komersial.

Tinjau Ulang RENSTRA Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Tahun 2010 - 2014

Bab III Isu Strategis Ditjen Hubla III - 34

• Kebutuhan angkutan laut perintis sampai dengan T.A. 2014 sebanyak 90 trayek.

Pada T.A. 2012 telah dioperasikan 67 trayek kapal perintis dan tambahan 13 trayek dengan menggunakan dana APBN-P T.A. 2012, sehingga total akan dioperasikan 80 trayek perintis.

• Permasalahan dan tindak lanjut dalam penyelenggaraan angkutan laut perintis antara lain :

1. Operator Kapal Perintis masih kesulitan untuk mendapatkan BBM bersubsidi sesuai volume yang dibutuhkan  dilakukan pembahasan formula dan jarak antar pelabuhan untuk menghitung kebutuhan BBM bersubsidi antara BPH Migas, PT. Pertamina, BPK dengan Ditjen Hubla.

2. Untuk mengatasi keterlambatan dalam penyelenggaraan angkutan laut perintis maka diusulkan kontrak bersifat Multiyears dan menunggu persetujuan dari Kementerian Keuangan

b. PENGADAAN KAPAL NEGARA PERINTIS (MELALUI DANA APBN)

- Target sampai dengan TA. 2014 kebutuhan kapal perintis sebesar 53 Unit.

- Jumlah kapal yang telah selesai dibangun dan sudah siap dioperasikan sampai dengan TA. 2011 sebesar 28 Unit.

- Jumlah pembangunan kapal perintis yang sedang dibangun TA. 2012 sebanyak 8 Unit dan yang akan selesai pada TA. 2012 sebanyak 4 Unit - Jumlah kapal perintis yang dioperasikan di wilayah Indonesia Timur

sebanyak 30 unit dan di wilayah Indonesia Barat sebanyak 2 Unit

- Pada TA. 2013 direncanakan pembangunan Kapal Perintsi sebanyak 8 unit c. ARMADA PELAYARAN PT. PELNI

SUBSIDI PUBLIC SERVICE OBLIGATION (PSO) UNTUK KAPAL-KAPAL PELNI

- Jumlah subsidi PSO TA. 2011 sebesar Rp. 872 Milyar Untuk pengoperasian kapal sebanyak 22 Unit di seluruh wilayah NKRI

- Jumlah subsidi PSO TA. 2012 sebesar Rp. 897 Milyar Untuk pengoperasian kapal sebanyak 22 Unit di seluruh wilayah NKRI

Tinjau Ulang RENSTRA Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Tahun 2010 - 2014

Bab III Isu Strategis Ditjen Hubla III - 35

*)tambahan trayek berdasarkan SK Dirjen Hubla Nomor AL.10211/4/DJPL-12 tanggal 27 Juni 2012, setelah Rakornis Perintis Mei 2012

• Jumlah pelabuhan pangkal sebanyak 30 pelabuhan dan Pelabuhan Singgah sebanyak 423 pelabuhan

• Pelayaran-Perintis melayani daerah-daerah terpencil, terisolir, dan daerah yang belum berkembang, yang dikelola oleh pemerintah mengikuti rute yang telah ditentukan secara teratur.

• Penyelenggaraan angkutan laut perintis perlu dilakukan untuk membuka kawasan khusus, tertinggal, dan perbatasan yang masih relatif terisolasi dan masih bersifat non-komersial

Tinjau Ulang RENSTRA Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Tahun 2010 - 2014

Bab III Isu Strategis Ditjen Hubla III - 36

Kapal Penumpang Pelni singgah di 95 pelabuhan (1500 ruas) dari 141 pelabuhan di Indonesia di mana hampir seluruh ruas adalah non komersial karena trayeknya yang multiport

1. Saat ini PT. Pelni telah melayani 95 pelabuhan singgah di Indonesia dengan armada sebanyak 35 unit terdiri dari :

a. Kapal Penumpang sebanyak 25 unit yaitu : b. 1 unit tipe 3000

c. 12 unit tipe 2000 d. 9 unit tipe 1000 e. 3 unit tipe 500

f. Kapal Perintis sebanyak 3 unit tipe 1200 GT.

g. Kapal barang 4 unit h. Kapal roro 3 unit

2. Pada tahun 2013, PT Pelni berencana untuk mengoperasikan sebanyak 38 unit, terdiri dari :

a. Kapal Penumpang sebanyak 25 unit yaitu : b. 1 unit tipe 3000

c. 12 unit tipe 2000 d. 9 unit tipe 1000 e. 3 unit tipe 500

Tinjau Ulang RENSTRA Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Tahun 2010 - 2014

Bab III Isu Strategis Ditjen Hubla III - 37

f. Kapal Perintis sebanyak 6 unit tipe 1200 GT.

g. Kapal barang 4 unit h. Kapal roro 3 unit

3. Pengoperasian kapal 2 in 1 dan 3 in 1 antara lain : a. KM.Gunung Dempo,

Pengadaan kapal penumpang tahun 2008 dan telah berupa kapal 2 in 1 ( penumpang dan kontainer)

Kapasitas Penumpang : +/- 2000 Pax dan Kontainer : 98 TEUS dengan trayek : Jakarta – Surabaya – Makassar- Ambon – Sorong - Biak – Jayapura - PP ( Setiap 14 Hari )

b. KM Dobonsolo

Modifikasi kapal penumpang menjadi kapal 3 in 1 tahun 2010 ( penumpang, kontainer dan kendaraan)

Kapasitas Penumpang : +/- 1.500 Pax, Kontainer : 48 TEUS, Kendaraan : 75 unit dan Motor : 500 unit dengan trayek : Jakarta – Surabaya – Makassar – Baubau – Bitung – Sorong - Manokwari – Jayapura - PP (Setiap 14 hari)

Tinjau Ulang RENSTRA Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Tahun 2010 - 2014

Bab III Isu Strategis Ditjen Hubla III - 38

JENIS KAPAL

TAHUN

JUNI 2012 2015 2020 2024

UNIT DWT UNIT DWT UNIT DWT UNIT DWT

Container 194 1.301.839 640 3.306.000 593 5.940.000 584 8.042.000

General Cargo 1.916 4.006.045 1214 7.487.000 1036 11.657.000 924 14.968.000

Sumber : Dit. LALA & STUDI JICA, 2011

Berdasarkan data kebutuhan kapal container dan general cargo menunjukkan adanya penurunan jumlah unit kapal yang berbanding terbalik dengan peningkatan kapasitas (DWT) kapal. Hal ini dikarenakan seiring dengan semakin meningkatnya teknologi di bidang perkapalan mengakibatkan adanya peningkatan kapasitas kapal (DWT) sebagai contoh kapal post panamax dengan kapasitas mencapai 12.000 TEUs atau kapal Maersk Triple-E yang berukuran 18.000 TEUs. Disamping itu perlu dilakukan upaya peningkatan kapasitas handling pelabuhan guna dapat melayani kapal-kapal berukuran besar.

Tinjau Ulang RENSTRA Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Tahun 2010 - 2014

Bab III Isu Strategis Ditjen Hubla III - 39

1. Kegiatan pembangunan fasilitas pelabuhan ditujukan dalam rangka mendukung program MP3EI, Konektivitas Domestik, Koridor Ekonomi, dan Kawasan Timur Indonesia (KTI) serta meningkatkan aksesibilitas untuk wilayah terisolir dan perbatasan;

2. Penyelesaian pembangunan pelabuhan pada TA. 2011 sebanyak 30 Pelabuhan sedangkan pada TA.2012 telah diselesaikan sebanyak 109 pelabuhan

Tinjau Ulang RENSTRA Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Tahun 2010 - 2014

Bab III Isu Strategis Ditjen Hubla III - 40

 Pengembangan Internasional Hub Ports di Indonesia berfungsi sebagai pintu gerbang persdagangan internasional dan pusat kargo untuk perdagangan domestik

 Hub Ports berada di sepanjang jalur pelayaran internasional, memiliki kedalaman yang memadai serta ketersediaan lahan daratan

Tinjau Ulang RENSTRA Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Tahun 2010 - 2014

Bab III Isu Strategis Ditjen Hubla III - 41

Tinjau Ulang RENSTRA Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Tahun 2010 - 2014

Bab III Isu Strategis Ditjen Hubla III - 42

3.7 PELABUHAN BITUNG DAN KUALA TANJUNG SEBAGAI GLOBAL HUB

Dalam dokumen DIREKTORAT JENDERAL PERHUBUNGAN LAUT (Halaman 91-102)

Dokumen terkait