• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sistematika Penulisan

Dalam dokumen pertimbangan hakim dalam perkara sengketa (Halaman 46-49)

BAB III METODE PENELITIAN

F. Sistematika Penulisan

Penulisan penelitian ilmiah (skripsi) ini dibagi dalam lima bab yang terdiri atas beberapa sub bab sesuai pembahasan dan materi yang diteliti. yaitu:

1. Bab I Pendahuluan yang memuat 1. Latar Belakang Masalah. Berisi mengenai pemahaman mengenai kedaulatan rakyat (demokrasi) menyatakan bahwa rakyat adalah pemegang kuasa tertinggi serta pemilik di dalam suatu Negara. Kemudian, inti dari sistem pemerintahan desentralisasi adalah otonomi daerah yang menghasilkan pemerintahan sesuai dengan kebutuhan dan karateristik setempat serta masalah sengketa

25Zainudin Ali, Metode Penelitian Hukum, cetakan ketiga ( Jakarta, Sinar Grafika, 2011), 105.

37

pilkada pada desa Subo Kecamatan Pakusari dimulai pada tahun 2019 lalu yakni dalam proses pemilihan Kepyala Desa yang melibatkan dua calon, yaitu Yani Romyatun dan Siti Marisa; 2. Fokus Masalah. Pada rumusan masalah, penulis akan merumuskan permasalahan yang akan menjadi fokus utama dalam penelitian ini; 3. Tujuan dan Manfaat Penelitian, mengemukakan maksud dari penelitian ini; 4. Definisi Istilah, untuk memberikan penjelasan, memahami pengertian istilah-istilah penting yang menjadi perhatian utama dalam judul penelitian. Definisi istilah dalam penelitian ini dirancang dengan maksud agar tidak terjadi interpretasi yang salah terkait dengan pengertian istilah sesuai dengan yang diharapkan oleh peneliti.

2. Bab II, yang memuat 1. Penelitian Terdahulu, 2. Kajian Teori, Penulis akan menguraikan tentang secara luas dengan pengunaan konsep Kedaulatan Rakyat dan Hukum, Pemerintahan Desa dan Pertimbangan Hukum sebagai inti analisis yang digunakan dalam menjawab fokus masalah.

3. Bab III Tentang metodologi penelitian yang digunakan dalam penulisan ilmiah ini.

4. Bab IV Akan dilakukan pembahasan dengan memfokuskan pada setiap fokus masalah yang hendak dijawab dalam penelitian ini, kemudian dilakukan suatu análisis secara sistematis dan komprehensif terhadap keseluruhan data dan informasi yang diperoleh untuk mengurai dan menjawab setiap fokus masalah dalam penelitian.

38 5. Bab VI Penutup, yang berisikan kesimpulan dari penelitian ini serta

saran yang diberikan peneliti terhadap penelitian selanjutnya, pada pelaku sengketa dan akademisi.

39

BAB IV

ANALISIS PENELITIAN

A. Analisis Pertimbangan Hakim pada Putusan Perkara Nomor : 50/G/2020/PTUN.Sby

Setelah pemeriksaan perkara di pengadilan, terdapat tiga jenis hasil yang dapat dihasilkan, yaitu keputusan, penetapan, dan akta perdamaian. Keputusan berupa pernyataan tertulis yang diucapkan oleh hakim dalam sidang yang dihadiri oleh masyarakat umum, sebagai hasil dari pemeriksaan perkara yang bersifat gugatan atau kontensius. Secara umum, keputusan hakim dalam perkara perdata harus mencakup empat bagian penting, yaitu kepala putusan, identitas para pihak yang terlibat dalam perkara, pertimbangan atau alasan yang mendasari keputusan tersebut, dan amar yang berisi keputusan atau putusan akhir yang dijatuhkan oleh hakim.26 Tiga elemen tersebut saling terhubung dan tidak dapat dipisahkan.

Bagian konsideran, yang merupakan inti dari sebuah putusan, terdiri dari dua bagian penting yaitu fakta hukum yang terungkap dalam proses pemeriksaan perksara dan pertimbangan hukum yang digunakan oleh hakim untuk menganalisis dan mempertimbangkan fakta-fakta tersebut secara hukum.

Dalam putusan tersebut, terdapat beberapa pertimbangan yang mendalam yang diuraikan secara rinci oleh hakim pada putusan hakim tersebut. Berikut adalah ringkasan yang menjelaskan pertimbangan-pertimbangan tersebut:

1. Fakta Hukum dan Pertimbangan Hukum:

a. Pemaparan mengenai pentingnya fakta hukum yang terungkap dalam

26 Yulia, Hukum Acara Perdata, (Lhokseumawe: Unimal Press,2018), 87.

40 persidangan;

b. Penguraian mengenai proses analisis fakta-fakta tersebut secara hukum oleh hakim;

c. Penjelasan tentang kualitas pertimbangan hukum dan betapa pentingnya argumentasi hukum dalam putusan.

2. Kategorisasi Putusan TUN:

a. Penjelasan mengapa keputusan ini dikategorikan sebagai Putusan TUN;

b. Rincian kriteria yang digunakan, seperti bentuk, penerbitan, relevansi dengan tindakan hukum Tata Usaha Negara, sifat final, individual, dan dampak signifikan.

3. Proses Administratif:

a. Penjelasan mengenai proses administratif yang telah dilalui oleh penggugat.

b. Ulasan tentang pengajuan upaya administratif dan tanggapan tergugat terkait upaya tersebut.

4. Persyaratan Formal:

a. Pembahasan tentang persyaratan formal yang harus dipenuhi oleh suatu gugatan di Pengadilan Tata Usaha Negara;

b. Penekanan pada pentingnya mempertimbangkan persyaratan formal dan tangkisan formal yang diajukan oleh pihak tergugat.

5. Waktu dan Tangguhkan Tenggang Waktu:

a. Pemaparan mengenai perhitungan waktu terkait upaya administrative;

b. Penjelasan mengenai alasan untuk menangguhkan tenggang waktu

41

penggugat dalam konteks keputusan tergugat selama proses persidangan.

6. Kesalahan dalam Mengacu pada Dasar Hukum:

a. Diskusi tentang eksepsi terkait kesalahan dalam mengacu pada dasar hukum dalam gugatan penggugat.

b. Penjelasan mengenai pemahaman dasar hukum yang digunakan oleh pengadilan.

7. Kesalahan Proses Pemilihan:

a. Analisis tentang kesalahan prosedural yang terjadi dalam proses pemilihan kepala desa Subo.

b. Bagaimana kesalahan prosedural tersebut memengaruhi sahnya keputusan yang dikeluarkan.

8. Kesimpulan dan Putusan:

a. Penyimpulan mengenai kesalahan prosedural dalam keputusan dan tindakan yang diperlukan sebagai konsekuensi.

b. Rincian terkait dengan putusan akhir yang mencakup pencabutan keputusan dan sanksi pembayaran biaya perkara.

Dengan pertimbangan ini, hakim memberikan penjelasan yang terperinci dan sistematis mengenai berbagai pertimbangan yang mendasari putusan pengadilan dalam kasus tersebut. Ini membantu memahami dasar hukum dan pemikiran hukum yang mendasari keputusan hakim.

Seperti yang disebutkan sebelumnya, pertimbangan hukum merupakan tahap penting dalam proses pengambilan keputusan yang melibatkan verifikasi fakta hukum dan integrasi teori serta perundang-undangan relevan. Pertimbangan

42 hukum membuat landasan bagi penalaran yang menghasilkan argumentasi hukum yang khas dan kreatif dalam menyusun keputusan. Maka, kesimpulan dari Pengadilan Tata Usaha Negara tersebut dapat diungkapkan dalam formulasi mengenai substansi masalah hukumnya, cara penyelesaiannya, dan pada akhirnya putusan yang dijatuhkan.

Dalam sengketa Tata Usaha Negara Nomor: 50/G/2020/PTUN.Sby ini, penggugat (Siti Marisa dan tim) merasa dirugikan dalam upaya mereka untuk menjadi Kepala Desa Subo, Kecamatan Pakusari. Mereka memohon kepada Pengadilan untuk membatalkan Surat Keputusan Bupati Jember Nomor:

188.45/302/KTUN/1.12/2019 mengenai pemberhentuian dan pengesahan Kepala Desa Subo pada tanggal 23 Oktober 2019, yang dikeluarkan atas nama Yani Romyatun sebagai kepala desa terpilih dan incumbent. Gugatan ini didasarkan pada Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 3 Tahun 2000, yang memperbolehkan penggunaan bukti surat otentik atau surat tulisan tangan yang tidak dibantah kebenarannya untuk mendukung tuntutan hukum penggugat.27

Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 112 Tahun 2014, penggugat memiliki dasar hukum yang kuat untuk menggugat Surat Keputusan Bupati Jember tersebut. Pasal 17 ayat (2) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 112 Tahun 2014 menyebutkan bahwa kepala desa terpilih harus dilantik paling lambat 30 hari setelah tanggal penetapan hasil pemilihan kepala desa. Dalam hal ini, Surat Keputusan Bupati Jember tersebut dikeluarkan pada tanggal 23 Oktober 2019, sedangkan hasil pemilihan kepala desa Subo telah ditetapkan pada tanggal

27 Yulia, Hukum Acara Perdata, 93.

43

15 Oktober 2019. Dengan demikian, Surat Keputusan Bupati Jember tersebut telah melanggar ketentuan Pasal 17 ayat (2) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 112 Tahun 2014.

Kemudian berdasarkan fakta hukum yang terdapat pada surat putusan hakim setidaknya ada 2 hal yang telah ditempuh penggugat yakni upaya administrative yakni sesuai dengan Pasal 77 ayat (1) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan menyebutkan bahwa setiap orang yang merasa kepentingannya dirugikan oleh suatu keputusan administrasi pemerintahan dapat mengajukan keberatan kepada pejabat pembuat keputusan.

Dalam hal ini, penggugat telah mengajukan upaya administratif berupa keberatan terhadap Surat Keputusan Bupati Jember Nomor:

188.45/302/KTUN/1.12/2019. Namun, Tergugat tidak memberikan jawaban atas keberatan tersebut dalam waktu 10 hari kerja. Dengan demikian, upaya administratif tersebut dianggap secara hukum telah dikeluarkan dalam waktu 10 hari kerja sejak tanggal 29 Januari 2019.

Dan yang kedua adalah tenggang waktu gugatan. Pasal 55 ayat (1) Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 tentang Peradilan Tata Usaha Negara menyebutkan bahwa gugatan terhadap keputusan tata usaha negara dapat diajukan dalam waktu 90 hari sejak diketahuinya keputusan tata usaha negara yang digugat.

Dalam hal ini, penggugat mengajukan gugatan pada tanggal 17 Maret 2020. Putusan PTUN Surabaya menyatakan bahwa gugatan tersebut masih dalam tenggang waktu yang diatur.

44 Berdasarkan analisis tersebut, dapat disimpulkan bahwa PTUN Surabaya telah mengabulkan gugatan penggugat dengan tepat. Putusan tersebut telah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yaitu Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 tentang Peradilan Tata Usaha Negara.

Dalam kesimpulannya, kasus ini menunjukkan pentingnya memenuhi syarat formal dan prosedur hukum dalam setiap sengketa atau gugatan yang diajukan ke Pengadilan. Pengadilan akan mempertimbangkan secara seksama kuasa dari Tergugat, eksepsi yang diajukan, dan kewenangan Pengadilan dalam menangani sengketa atau gugatan tersebut.28

Para Majelis Hakim yang bertanggung jawab atas sengketa ini haruslah teliti dan cermat dalam menyelesaikan permasalahan hukumnya. Mereka melakukan evaluasi yang seksama terhadap kesesuaian putusan dengan norma hukum yang ada serta menganalisis kelayakanserta validitas alasan yang digunakan dalam putusan tersebut dengan didukung oleh bukti-bukti yang tersedia. Selain itu, mereka juga memperhatikan apakah putusan tersebut sesuai dengan prinsip-prinsip keadilan dan tidak merugikan pihak lain. Setelah melalui pertimbangan secara menyeluruh terhadap bukti yang diserahkan oleh penggugat serta eksepsi yang diajukan oleh tergugat, majelis hakim dengan yakin mengambil keputusan untuk menolak eksepsi yang dikemukakan oleh tergugat dan mengabulkan gugatan dari penggugat berdasarkan bukti-bukti dan saksi yang kuat yang telah disajikan dalam proses persidangan.

Pengadilan menganggap proses penerbitan keputusan sengketa oleh

28 Proses Acara Perdata, diakses 17 Februari 2023. https://www.pn- curup.go.id/proses-perkara-perdata

45

Tergugat (bupati) telah mengandung kesalahan atau cacat prosedural. Hal ini diakibatkan oleh beberapa faktor, seperti tidak adanya tanda tangan koordinator saksi dalam BA Hasil Pemilihan Kepala Desa, tidak adanya perundingan dari BPD dalam memberikan keputusan, tidak berpedoman kepada Peraturan Bupati Jember Nomor 41 Tahun 2019, tidak diterimanya keberatan/pengaduan oleh Panitia, ketidakbenaran dari Surat Camat kepada Bupati tentang keadaan sebenarnya dari proses pemilihan, dan adanya kesalahan dalam penghitungan suara.

Melalui penelitian mendalam terhadap Peraturan Daerah Kabupaten Jember Nomor 7 Tahun 2015 tentang Desa dan Peraturan Bupati Jember yang terkait, yakni Peraturan Bupati Nomor 37 Tahun 2021 yang mengubah Peraturan Bupati Jember Nomor 41 Tahun 2019 tentang Pedoman Pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa Serentak dan Antar Waktu di Kabupaten Jember, majelis hakim dengan tegas menemukan adanya pelanggaran yang signifikan yang secara substansial mempengaruhi hasil pemilihan kepala desa yakni fakta hukum yang menjadi catatan pengadilan.

Temuan hukum berdasar kasus diatas adalah pertimbangan hukum merupakan bagian penting dari sebuah kasus pengadilan yang melibatkan verifikasi fakta-fakta hukum dengan berbagai teori dan peraturan hukum yang didukung oleh penalaran untuk menghasilkan argumen hukum dalam membuat keputusan. Dalam melakukan pertimbangan hukum, hakim menjamin bahwa keputusan yang diambil merupakan hasil penilaian yang adil dan tepat berdasarkan pertimbangan hukum yang relevan dan bukti-bukti yang disajikan di

46 persidangan. Ini juga membantu menjaga integritas dan konsistensi sistem hukum demi kebaikan bersama.29 Hal ini sesuai dengan :

a. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Pasal 24 ayat (1) yang berbunyi: Kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan.

b. Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 tentang Peradilan Tata Usaha Negara, Pasal 5 ayat (1) yang berbunyi: Hakim wajib mempertimbangkan alasan-alasan hukum dan bukti-bukti yang diajukan oleh para pihak.

c. Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, Pasal 20 yang berbunyi: Hakim dalam memeriksa dan mengadili perkara wajib menggali, mengikuti, dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat.

Penggugat, yang merupakan calon untuk dalam pemilihan kepala Desa Subo, berargumen bahwa hak dan kepentingannya telah dilanggar. Mereka meminta pengadilan untuk membatalkan keputusan pemerintah berdasarkan keaslian bukti yang diberikan. Namun, pengadilan menemukan bahwa kuasa hukum yang diberikan kepada pengacara tergugat tidak lengkap, sehingga pengadilan tidak dapat mempertimbangkan kasus tersebut. Pengadilan juga mempertimbangkan keberatan tergugat, termasuk bahwa penggugat tidak mengikuti prosedur administratif yang benar, dan kasus tersebut sudah

29 Al. Andang L. Binawan, “Trisula Hukum” Memperkuat Peradaban Hukum dan Ketatanegaraan Indonesia, ed. Imron dan Festy Rahma Hidayati (Jakarta: Sekretariat Jenderal Komisi Yudisial Republik Indonesia, 2019), 212

47

kadaluarsa.

Dalam kasus sengketa mengenai posisi kepala desa tersebut, pertimbangan hukum melibatkan verifikasi atas keaslian evidensi yang diajukan oleh pihak penggugat dan tergugat, pemeriksaan terhadap pemenuhan prosedur dan persyaratan hukum yang relevan, serta penjaminan bahwa keputusan yang diambil telah akurat dan tepat sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.

Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 tentang Peradilan Tata Usaha Negara, Pasal 5 ayat (1) yang berbunyi: Hakim wajib mempertimbangkan alasan-alasan hukum dan bukti-bukti yang diajukan oleh para pihak.

Pengadilan akan mempertimbangkan aspek-aspek hukum dari kasus, seperti apakah penggugat telah mengikuti prosedur administratif yang sesuai sebelum mengajukan gugatan, apakah bukti yang disajikan dapat diterima, dan apakah keputusan yang diambil oleh tergugat sesuai dengan ketentuan hukum yang relevan.30

Secara keseluruhan, seperti yang Slapper dan Kelly dalam Bagir Mannan gambarkan, bahwa pertimbangan hukum yang diberikan oleh hakim diatas memainkan peran kritis dalam memastikan bahwa keadilan dilakukan dalam sebuah kasus pengadilan, dan sangat penting bahwa semua persyaratan dan prosedur hukum yang relevan diikuti untuk menjaga integritas sistem hukum.31 Pengadilan kemudian mempertimbangkan apakah keputusan tersebut tepat

30 “Riska Noor Hashela,” Legal Reasoning Dalam Putusan Pengadilan, diakses 18 Februari 2023,, https://www.jdih.tanahlautkab.go.id/artikel_hukum/detail/legal-reasoning- dalam-putusan-pengadilan

31 Bagir Mannan, “Nilai-Nilai Dasar Keindonesiaan dan Negara Hukum”

Memperkuat Peradaban Hukum dan Ketatanegaraan Indonesia, ed. Imron dan Festy Rahma Hidayati (Jakarta: Sekretariat Jenderal Komisi Yudisial Republik Indonesia, 2019), 9.

48 dengan hukum serta peraturan yang berlaku dan apakah alasan dalam keputusan tersebut logis dan didukung oleh bukti. Selain itu, pengadilan akan mempertimbangkan apakah keputusan tersebut adil dan tidak merugikan pihak lain. Pengadilan juga akan mempertimbangkan keberatan yang diajukan oleh tergugat dan yurisdiksi pengadilan atas kasus tersebut. Kasus ini menunjukkan pentingnya mengikuti prosedur hukum yang benar dalam setiap perselisihan atau gugatan yang diajukan ke pengadilan.

Menurut Irfan Fachruddin dalam Trinah dan Irnawati32, menyatakan bahwa putusan adalah inti dari proses peradilan, merupakan tujuan dari seluruh kegiatan yang dilakukan dalam proses peradilan, yang berisi penyelesaian perkara yang telah membebani pihak-pihak sejak proses dimulai. Dalam konteks penyelesaian sengketa pada Taata Usaha Negara, pentingnya putusan peengadilan sangatlah besar karena mempunyai kekuataan hukum yang tetap. Oleh sebab itu, pihak yang berpekrkara dalam sengketa tersebut memiliki kewajiban untuk melaksanakan hasil putusan tersebut sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan.

Konsep kedaulatan rakyat menekankan bahwa kekuasaan tertinggi berada di tangan rakyat hal ini ditegaskan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yaitu pada Pasal 1 ayat (2) yang berbunyi:

Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar.

Dalam konteks sengketa pengelolaan negara, hal ini dapat dipahami

32 Trinah Asi Islami dan Irnawati, “ Analisis Penyelesaian Sengketa Pemberhentian Kepala Dusun Kedung Cangkring Dalam Perspektif Hukum Acara Tata Usaha Negara”, Jurnal Civic Hukum 6, no.1 ( Mei 2021), 29.

49

dalam arti bahwa keputusan-keputusan yang mempengaruhi pemilihan kepala desa harus mencerminkan kemauan dan aspirasi masyarakat Desa Subo. Dalam kasus ini, pihak penggugat (Siti Marisa dan kelompoknya) menyatakan hak dan kepentingannya sebagai calon kepala desa dilanggar. Mereka menggunakan proses hukum untuk menyatakan ketidaksetujuan terhadap keputusan pemerintah yang dianggap tidak sesuai dengan keinginan rakyat.

Teori negara hukum menekankan bahwa kekuasaan tertinggi terletak pada hukum. Dalam hal ini pengadilan bertindak sebagai wali sah yang harus menjamin bahwa keputusan yang diambil telah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pengadilan mempertimbangkan seluruh aspek hukum perkara, termasuk prosedur administrasi yang harus dilalui sebelum mengajukan gugatan, keabsahan alat bukti yang diajukan, dan ketaatan terdakwa terhadap putusan pengadilan. Dengan kata lain, pengadilan berupaya menjaga keutamaan hukum dalam menyelesaikan sengketa ini.

Dalam hal ini, penting untuk dicatat bahwa kedaulatan rakyat dan kedaulatan hukum tidak serta merta bertentangan atau saling eksklusif. Hal-hal tersebut seringkali berjalan beriringan dalam sistem hukum yang demokratis.

Kedaulatan rakyat mengacu pada partisipasi aktif rakyat dalam proses pengambilan keputusan, sedangkan kedaulatan hukum mengacu pada perlindungan hukum dan standar hukum yang harus dihormati dalam proses tersebut.

Kesimpulannya, dalam perkara tata usaha negara ini, pengadilan berperan sebagai penjaga kedaulatan hukum dengan menjamin dipenuhinya seluruh

50 prosedur dan persyaratan hukum yang bersangkutan dan keputusan yang diambil oleh tergugat sesuai dengan hukum. Di sisi lain, penggugat memanfaatkan persidangan sebagai sarana untuk menyampaikan aspirasi dan kepentingan rakyat (kedaulatan rakyat). Dengan demikian, dalam sistem hukum demokratis, kedaulatan rakyat dan kedaulatan hukum bekerja sama untuk mencapai keadilan dan penghormatan terhadap hukum.

B. Implikasi Hukum Dari Amar Putusan Majelis Hakim Pada Perkara Putusan Nomor: 50/G/2020/PTUN.Sby

Setelah putusan PTUN atau PTTUN memiliki kekuatan hukum tetap, terdapat implikasi hukum yang timbul. Dalam kasus ini, implikasi hukumnya adalah :

2. Bupati Kabupaten Jember menyatakan mencabut Surat Keputusan (SK) yang sebelumnya mengenai pemberhentian dan pengangkatan Kepala Desa Subo, Kecamatan Pakusari;

3. Selain itu, Bupati juga memberlakukan pemilihan kepala desa antar waktu (PAW) sebagai tindak lanjut dari hasil akhir pengadilan.33

Setelah putusan PTUN atau PTTUN memiliki kekuataan hukum tetap, pihak yang berwenang, Bupati Kabupaten Jember, diharuskan untuk mengakui dan melaksanakan putusan tersebut. Oleh karena putusan tersebut menyatakan adanya pelanggaran terhadap hukum dan peraturan yang berlaku, Bupati mengambil tindakan untuk mencabut SK yang sebelumnya diberikan terkait

33 “Janu Artha,” Pilkades PAW Desa Subo Pakusari, diakses 29 Januari 2023, https://www.prosalinaradio.com/2022/10/03/pilkades-paw-desa-subo-pakusari-bakal-digelar- 6-oktober-2022/

51

pemberhentian dan pengangkatan Kepala Desa Subo. Selanjutnya, Bupati menerapkan pilkades PAW sebagai proses pemilihan kepala desa antar waktu yang disesuaikan dengan putusan pengadilan.

Sesuai dengan ketentuan Pasal 53 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan, setiap keputusan administrasi yang dibatalkan oleh pengadilan, maka keputusan tersebut dinyatakan tidak pernah ada dan tidak pernah berlaku. Dalam hal ini, SK pemberhentian dan pengangkatan Kepala Desa Subo telah dibatalkan oleh TUN. Dengan demikian, SK tersebut dianggap tidak pernah ada dan tidak pernah berlaku. Oleh karena itu, status Kepala Desa Subo dianggap tidak pernah mengalami pemberhentian dan pengangkatannya dianggap tidak sah secara hukum.

Oleh karena adanya keputusan resmi dari TUN membatalkan Surat Keputusan (SK) mengenai pemberhentian dan pengangkatan Kepala Desa Subo, dapat disimpulkan bahwa status Kepala Desa Subo dianggap tidak pernah mengalami pemberhentian dan pengangkatannya dianggap tidak sah secara hukum. Oleh karena itu, Bupati Kabupaten Jember melaksanakan PAW Kepala Desa Subo berdasarkan ketentuan UU No. 6 Tahun 2014 dan Perbup No 37 Tahun 2021.

Berdasarkan Pasal 59 Ayat (1) UU tersebut, PAW Kepala Desa dapat dilakukan dalam berbagai kondisi yang termasuk dalam kriteria yang disebutkan oleh UU tersebut. Yakni, apabila Kepala Desa mengundurkan diri, meninggal dunia, diberhentikan berdasarkan keputusan pengadilan, atau terlibat dalam tindak pidana maka proses PAW dapat dilakukan. Selain itu, terdapat juga kemungkinan

52 PAW dilakukan jika terdapat alasan lain yang sah yang membenarkan peemberhentian Kepala Desa.

Pada pasal 59 Ayat (2) Undang-Undang dan Pasal 66 Peraturan Bupati menjelaskan mengenai pemilihan Kepala Desa dalam kasus PAW, yakni dilakukan melalui BPD atau Badan Pemusywaratan Desa pada kegiatan Musyawarh Desa. Dalam musyawarah tersebut, hadir pula Perangkat Desa serta unsur masyarakat yang memiliki kemampuan untuk memberikan masukan dan saran. Menurut ketentuan tersebut, proses pemilihan Kepala Desa dalam situasi PAW dilakukan melalui kegiatan musyawarah ditingkat desa.

Badan Permusyawaratan Desa (BPD) bertanggung jawab dalam memimpin musyawarah tersebut. Selain itu, Perangkat Desa, seperti perangkat pemerintahan desa, juga ikut hadir dalam musyawarah tersebut. Unsur masyarakat yang memiliki kapasitas dan pengetahuan yang dapat memberikan masukan dan saran juga turut hadir dalam musyawarah. Tujuan dari keterlibatan berbagai pihak ini adalah untuk memastikan bahwa pemilihan Kepala Desa dilakukan dengan melibatkan partisipasi dan persetujuan dari berbagai elemen di tingkat desa.

Namun, penting untuk dicatat bahwa dalam melaksanakan PAW Kepala Desa, unsur masyarakat dan BPD yang terlibat harus memperhatikan ketentuan UU tentang Desa dan Peraturan Menteri Dalam Negeri yang menjelaskan mengenai prosedur cara pelaksanaan PAW Kepala Deesa.

Menurut Jimly As Shiddiqie, sengketa hasil pemilihan umum atau pemilihan kepala desa harus diselesaikan melalui mekanisme peradilan standar yang ditetapkan. Alasannya adalah untuk mencegah perbedaan pendapat tersebut

53

menjadi sumber konflik sosial maupun politik yang berkepanjangan di masyarakat. Dengan melibatkan ranah hukum, sengketa dapat terselesaikan dengan adil dan objektif, berdasar aturan dan landasan norma hukum yang berlaku. Oleh sebab itu, bagi semua pihak yang terlibat dalam sengketa tersebut penting untuk memiliki kedewasaan dalam berpolitik, yaitu menghormati dan mengikuti proses peradilan dengan keyakinan bahwa kepastian hukum akan terwujud. Dengan demikian, asas kepastian hukum dalam proses peradilan tetap terjaga, dan potensi konflik politik atau sosial yang merugikan masyarakat dapat diminimalisir.34

Penyelesaian sengketa melalui proses peradilan adalah salah satu mekanisme demokratis yang mencerminkan kedaulatan rakyat. Dalam sistem hukum, peradilan adalah wadah di mana berbagai pihak dapat menyuarakan perbedaan pendapat mereka dan mencari keadilan. Penyelesaian sengketa melalui peradilan juga melibatkan prinsip kedaulatan hukum, di mana hakim akan memutuskan berdasarkan hukum dan aturan yang berlaku.

Dalam konteks kasus PAW Kepala Desa Subo yang menjadi implikasi hukum dari amar putusan majelis hakim pada perkara Putusan Nomor:

50/G/2020/PTUN.Sby, penyelesaian sengketa melalui proses peradilan memberikan jalan bagi pihak yang merasa hak dan kepentingan mereka telah dilanggar untuk memperjuangkan keadilan. Keputusan pengadilan mengikat pihak yang berwenang (Bupati Kabupaten Jember) untuk menghormati dan melaksanakan putusan tersebut sesuai dengan hukum yang berlaku, yang

34 Jimly As Shiddiqie, Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara: Jilid 2, (Sekretariat Jendral dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi RI, Jakarta Pusat, 2006), 190

Dalam dokumen pertimbangan hakim dalam perkara sengketa (Halaman 46-49)

Dokumen terkait