Kinerja keuangan suatu perusahaan antara lain dapat diukur dari sejauh mana perusahaan tersebut menghasilkan laba, dihubungkan dengan penjualan maupun investasi. Dengan kata lain, kinerja adalah kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba pada suatu periode tertentu, yang juga merupakan cerminan dari efektivitas pengelolaan perusahaan.
Alat untuk mengukur kinerja keuangan suatu perusahaan, metode yang lazim adalah dengan menggunakan analisis rasio. Analisis rasio dimungkinkan untuk dapat menetukan tingkat likuiditas, solvabilitas, keefektifan operasi serta derajat keuntungan perusahaan (profitabilitas perusahaan). Kemudian dalam
mengukur kinerja keuangan pada suatu periode tertentu, pengalaman masa lalu merupakan salah satu faktor dalam menetapkan pembanding.
1. Rasio likuiditas
Rasio likuiditas adalah rasio yang berfungsi untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban keuangannya dalam jangka pendek secara tepat waktu. Rasio likwiditas terdiri dari :
a. Current Ratio ; Rasio ini merupakan alat ukur bagi likwiditas perusahaan dalam jangka pendek. Rumusnya adalah :
Aktiva lancar
Current Ratio = X 100%
Hutang lancar Untuk tahun 2011
Rp 8.777.778.719
Current Ratio = X 100%
Rp 2.497.900.585
= 3, 51 % Untuk tahun 2012
Aktiva lancar
Current Ratio = X 100%
Hutang lancar Rp 11.482.968.620
Current Ratio = X 100%
Rp 3.439.947.020
= 3, 33 %
Untuk tahun 2013
Aktiva lancar
Current Ratio = X 100%
Hutang lancar
Rp 18.346.280.690
Current Ratio = X 100%
Rp 17.837.396.914
= 1, 02 %
b. Quick Ratio ; Rasio ini merupakan ukuran kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban-kewajibannya dengan tidak memperhitungkan persediaan, karena persediaan dianggap kurang lancar. Rumusnya adalah:
Aktiva lancar - persediaan
Quick Ratio = X 100%
Hutang lancar
Untuk tahun 2011
Aktiva lancar - persediaan
Quick Ratio = X 100%
Hutang lancar
Rp 8.777.778.719 - Rp 6.994.448.156
Quick Ratio = X 100%
Rp 2.497.900.585
= 0, 71 % Untuk tahun 2012
Aktiva lancar - persediaan
Quick Ratio = X 100%
Hutang lancar
Rp. 11.482.968.620 - Rp 9.570.489.063
Quick Ratio = X 100%
Rp 3.439.947.020
= 0, 55 % Untuk tahun 2013
Aktiva lancar - persediaan
Quick Ratio = X 100%
Hutang lancar
Rp 18.346.280.690 - Rp 6.458.246.725
Quick Ratio = X 100%
Rp 17.837.396.914
= 0, 66 % 2. Rasio Leverage
Rasio ini dipakai untuk mengukur seberapa besar perusahaan dibiayai dengan hutang. Rasio ini bermanfaat untuk melihat proporsi ekuitas perusahaan dalam menentukan margin of safety. Rasio Leverage terdiri dari :
a. Debt to Total Assets Ratio ; berfungsi untuk mengukur persentase total dana yang dibiayai oleh hutang. Rasio yang rendah berarti menunjukkan adanya perlindungan bagi kreditur terhadap kemungkinan likwidasi, dan hal ini memberi kesempatan bagi pemilik perusahaan untuk meningkatkan leverage agar dapat meraih laba yang lebih tinggi. Rumus dari rasio ini adalah :
Total Hutang
Debt to Total Assets Ratio = X 100%
Total Assets
Untuk Tahun 2011
Total Hutang
Debt to Total Assets Ratio = X 100%
Total Assets
Rp 145.578.220.156
Debt to Total Assets Ratio = X 100%
Rp 145.578.220.156
= 1 % Untuk tahun 2012
Total Hutang
Debt to Total Assets Ratio = X 100%
Total Assets
Rp 159.546.586.602
Debt to Total Assets Ratio = X 100%
Rp 159.546.586.602
= 1 % Untuk tahun 2013
Total Hutang
Debt to Total Assets Ratio = X 100%
Total Assets
Rp 193.506.441.653
Debt to Total Assets Ratio = X 100%
Rp 193.506.441.653
= 1 %
b. Debt to Equity Ratio; berfungsi untuk mengukur perbandingan antara total hutang dengan total modal sendiri (ekuitas). Rumusnya adalah:
Total hutang
Debt to Equity Ratio = X 100 %
Ekuitas Untuk tahun 2011
Total hutang
Debt to Equity Ratio = X 100 %
Ekuitas
Rp 145.578.220.156
Debt to Equity Ratio = X 100%
Rp 42.236.020.065
= 3,44 % Untuk tahun 2012
Total hutang
Debt to Equity Ratio = X 100 %
Ekuitas
Rp 159.546.586.602
Debt to Equity Ratio = X 100%
Rp 51.164.502.092
= 3, 11 % Untuk tahun 2013
Total hutang
Debt to Equity Ratio = X 100 %
Ekuitas
Rp 193.506.441.653
Debt to Equity Ratio = X 100%
Rp 69.532.120.100
= 2, 78 %
3. Rasio Profitabilitas
Rasio profitabilitas berfungsi untuk mengukur effektivitas manajemen secara keseluruhan yang ditunjukkan oleh besar kecilnya tingkat keuntungan yang diperoleh dalam hubungannya dengan penjualan maupun investasiRasio Profitabilitas terdiri dari :
a. Gross profit margin
Merupakan perandingan antar penjualan bersih dikurangi dengan Harga Pokok penjualan dengan tingkat penjualan, rasio ini menggambarkan laba kotor yang dapat dicapai dari jumlah penjualan. Dengan rumus sebagai berikut :
Laba kotor
Gross profit margin = X 100%
Penjualan bersih Untuk tahun 2011
Laba kotor
Gross profit margin = X 100%
Penjualan bersih Rp 4.757.862.784
Gross profit margin = X 100%
Rp 79.870.265.130
= 0, 05 % Untuk tahun 2012
Laba kotor
Gross profit margin = X 100%
Penjualan bersih Rp 50.846.491.320
Gross profit margin = X 100%
Rp 92.143.990.460
= 0, 55 %
Untuk tahun 2013
Laba kotor
Gross profit margin = X 100%
Penjualan bersih Rp 68.572.480.443
Gross profit margin = X 100%
Rp 121.974.476.015
= 0, 56 %
b. Net Profit Marginal
Merupakan rasio yang digunaka nuntuk mengukur laba bersih sesudah pajak lalu dibandingkan dengan volume penjualan. Dengan rumus sebagai berikut :
Laba setelah pajak
Net Profit Marginal = X 100%
Total aktiva Untuk tahun 2011
Laba setelah pajak
Net Profit Marginal = X 100%
Total aktiva
Rp 42.236.020.065
Net Profit Marginal = X 100%
Rp 145.578.220.156
= 0, 29 % Untuk tahun 2012
Laba setelah pajak
Net Profit Marginal = X 100%
Total aktiva
Rp 51.164.502.092
Net Profit Marginal = X 100%
Rp 159.546.586.602
= 0,32 % Untuk tahun 2013
Laba setelah pajak
Net Profit Marginal = X 100%
Total aktiva
Rp 69.532.120.100
Net Profit Marginal = X 100%
Rp 193.506.441.653
= 0,35 %
Dari hasil diatas maka dapat disimpulkan masing-masing hasilnya seperti pada tabel- tabel berikut :
Tabel 5.6
Daftar Rasio Likuiditas
No Jenis Rasio Tahun Hasil
1 Current Ratio 2011 3,51%
2012 3,33%
2013 1,02%
2 Quick Ratio 2011 0,71%
2012 0,55%
2013 0,66%
Sumber : Data Diolah
Dari data yang ditampilkan dalam Tabel 5.6 di atas diketahui bahwa untuk current rasio pada tahun 2011, 2012 dan 2013 sangatlah variatif.
Selisih rasio untuk tahun 2011 dengan tahun 2012 adalah sebesar 0,18 % , sedangkan selisih rasio untuk tahun 2012 dengan tahun 2013 adalah sebesar 2,31
%. Sementara itu untuk quick ratio pada tahun 2011dengan 2012 mengalami selisih sebesar 0,16 %, kemudian tahun 2012 dengan 2013 selisih 0,11 % .
Relatif kecilnya selisih rasio ini menunjukkan bahwa secara likwiditas adanya penerapan manajemen laba tidak berpengaruh terlalu besar mengingat kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban lancarnya masih memadai.
Tabel 5.7
Daftar Rasio Leverage
No Jenis Rasio Tahun Hasil
1 Debt Total Assets Ratio 2011 1%
2012 1%
2013 1%
2 Debt to Equity Ratio 2011 3,44%
2012 3,11%
2013 2,78%
Sumber : Data Diolah
Dari tabel di atas dapat dibandingkan antara rasio debt total assets ratio dengan debt equity ratio, dimana debt equity ratio lebih besar dari pada debt total assets.
Tabel 5. 8
Daftar Rasio profitabilitas
No Jenis Rasio Tahun Hasil
1 Gross Profit Margin 2011 0,05%
2012 0,55%
2013 0,56%
2 Net Profit Marginal 2011 0,29%
2012 0,32%
2013 0,35%
Sumber : Data Diolah
Dari Tabel 5.8 di atas dapat dijelaskan bahwa dengan diterapkannya manajemen laba maka angka-angka rasio profitabilitas rata-rata mengalami penurunan. Hal ini mengesankan bahwa kinerja keuangan yang kurang maksimal dalam kemampuan menghasilkan laba. Gross Profit Margin pada tahun 2011 mengalami penurunan sebsar 0,05%, tahun 2012 sebesar 0,55% dan tahun 2013 sebesar 0,56%. Sementara untuk Net Profit Margin nilai penurunannya masing- masing berjumlah 0,29%, 0,32% dan 0,35%.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian sebelumnya, maka penulis dapat menarik beberapa kesimpulan, sebagai berikut:
1. Penyusunan anggaran pendapatan dan realisasi PT, PLN (Persero) Area Pinrang selama tiga tahun dapat dilihat bahwa sebagian besar melampaui target yang direncanakan. Tahun 2011 sebesar Rp.
2.227.755.749, tahun 2012 sebesar Rp. 2.943.795.300 naik dari tahun sebelumnya, sedangkan tahun 2013 sebesar Rp.
7.324.471.257. Ini menunjukkan perencanaan mengalami peningkatan setiap tahunnya.
2. Pengendalian keuangan perusahaan PT. PLN (Persero) Area Pinrang dapat dilihat dari perbandingan kas, laporan keuangan, dan analisis rasio dari tahun 2011 sampai 2013. Pada perbandingan penerimaan dan pengeluaran kas tahun 2011 sampai 2013, jumlah penerimaan lebih besar dari pada pegeluaran kas. Begitupun pada laporan keuangan dilihat dari laba usaha perusahaan tiga tahun terakhir, dimana pada tahun 2011 sebesar Rp. 45.452.940.161, tahun 2012 sebesar Rp. 50.846.491.320, dan tahun 2013 sebesar Rp. 68.572.480.443.
64