• Tidak ada hasil yang ditemukan

Solidaritas Perang Timur Tengah

Dalam dokumen ISLAM MODERAT (Halaman 70-74)

C. Isu Populer Gerakan Islam di Indonesia

3. Solidaritas Perang Timur Tengah

masyarakat dan kehidupan bernegara di Indonesia. Meski hanya mewakili sebagian kecil aspirasi kaum muslim, faktanya upaya untuk menghidupkan kembali gagasan negara Islam khususnya tidak pernah mati di belahan negara manapun, termasuk Indonesia.

nesia sepakat akan hal itu. Namun demikian, ada beberapa kelompok keagamaan di Indonesia yang memiliki perhatian khusus untuk melakukan ideologisasi gerakannya dengan menjual isu Palestina. Atas nama solidaritas, mereka melakukan infiltrasi ideologi yang bermuara pada persatuan umat Islam melalui agenda politik penegakan satu komando kepemimpinan Islam, yang dikenal dengan istilah sistem khilafah.

Melihat studi kasus mengenai konflik antara Israel dengan Palestina pada perspektif gerakan Islam sebagai tonggak perla- wanan kepada Zionisme Israel, rasanya kita tidak bisa melu- pakan pergerakan lokal rakyat Palestina bernama Hizbut Tahrir serta gerakan Islam yang serupa. Kelompok Islam ini, seringkali

“menjual isu-isu konflik Timur Tengah” untuk menarik simpati masyarakat awam. Tak hanya soal Palestina, misalnya saja konflik Suriah.

Konflik Israel dan Palestina menjadi pusat perhatian dunia Islam, termasuk lahirnya kelompok-kelompok radikal yang menghendaki jalan kekerasan sebagai respons atas berbagai tindakan Israel terhadap warga Palestina. Apa yang tersaji di berbagai berita tentang pembantaian warga Gaza, penghan- curan bangunan, sekolah dan rumah sakit, tentang anak-anak yang melayang nyawanya, semua itu membangkitkan rasa soli- daritas dari kalangan muslim dunia. Maka lahirlah gerakan- gerakan radikal yang menjadikan kasus pembantaian di Pales- tina sebagai alasan untuk melakukan kekerasan yang sama terhadap Barat dan sekutunya.72

Salah satu kecenderungan yang tampil adalah berkenaan dengan penggalangan donasi yang harus dilakukan secara hati- hati. Hal ini penting untuk disadari mengingat maraknya penya-

72 Jaja Zarkasyi & Thobib Al-Asyar (Ed), Radikalisme Agama dan Tantangan Kebangsaan, (Jakarta: Dirjen Bimas Islam Kemenag RI, 2014), hal. 14.

lur tidak bertanggung jawab. Bukan tidak mungkin uang tersebut mengalir ke kantong pribadi, kelompok, atau bahkan ke jaringan teroris dan kelompok radikal. Oleh karena itu, dalam memilih lembaga donasi kita harus selektif dan memastikannya sebagai penyalur yang valid serta terpercaya, agar niat baik beramal tidak malah menjadi bumerang bagi pihak yang hendak kita berdayakan.

Berkaca dari kasus Suriah sebelumnya, ada dari donasi sosial yang dikumpulkan tidak tersampaikan ke masyarakat terdampak dan malah menjadi sumber penghidupan bagi milisi teror di Suriah. Pada umumnya donasi digalang melalui media sosial, seperti Facebook maupun Instagram dengan mencan- tumkan rekening dan nama lembaga tertentu.

Kecenderungan sasaran jaringan teroris adalah captivate audience, yakni orang yang sering menghabiskan waktu di ruang maya. Sebab memang hampir semua orang kini tak lepas dari dunia tersebut. Selain itu, ada juga pengumpulan dana yang dilakukan secara langsung dengan turun ke jalan. Dan modus operandi yang tak kalah marak adalah penempatan kotak amal di toko-toko ataupun minimarket.

Dalam kasus Suriah, pernah ditemukan kardus-kardus sumbangan berlogo lembaga amal Indonesia Humanitarian Relief (IHR) yang berada di markas pemberontak Jaish al- Islam (milisi teror) di kawasan Aleppo Timur yang diliput oleh EuroNews. Lebih dari itu, ternyata masih banyak lembaga filantropi Indonesia yang terindikasi memiliki afiliasi dengan lembaga pro-kelompok teror. Melansir dari www.indonesia- media.com, dalam tulisan berjudul Melacak Aliran Dana untuk Suriah dari 10 Lembaga Amal Indonesia, menunjukkan setidak-

nya ada 10 lembaga yang terhubung dan bekerja sama dengan LSM pro-teroris. 73

Belum lama ini, laporan dari Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) memperlihatkan fakta mengejut- kan. Di mana pada Januari 2021 PPATK menemukan adanya pergerakan dana mencurigakan dalam jumlah besar dari dalam negeri, yang diduga kuat untuk pembiayaan terorisme di luar negeri.

Pendanaan memang menjadi urat nadi dalam menjalankan aktivisme teror. Uang yang terkumpul akan dipakai untuk melatih teroris baru, dana operasional kelompok teror, mencari dukungan publik dengan propaganda media, sebagai gaji para milisi, serta untuk membeli persenjataan. Maka dari itu, memu- tus mata rantai keuangan mereka adalah hal yang amat penting dan mendesak untuk dilakukan serta harus menjadi kesadaran bersama.

Sejauh ini pola penjaringan donasi hampir selalu sama.

Oknum-oknum tak bertanggung jawab itu kerap menjual tragedi kemanusiaan di daerah konflik seperti Suriah dan Palestina.

Mereka menampilkannya melalui demonstrasi visual memi- lukan yang dibalut narasi emosional. Dengan bermodal gambar warga sipil berlumuran darah atau mayat yang terkapar di bawah reruntuhan bangunan. Mereka mencoba merebut sim- pati publik agar tergerak untuk menyumbang uang. Padahal, gambar yang dilampirkan acapkali bukan foto dari tragedi terkait, tapi hasil mengunduh secara random dari internet. Tak lupa, isu perang antar agama atau kelompok turut diselipkan untuk membentuk efek psikologis publik yang mendalam.

73 Khalilatul Azizah, “Hati-Hati Menitipkan Donasi untuk Palestina”, 13 Juni 2021

Dalam buku Salju di Aleppo, Dina Sulaeman, seorang pakar geopolitik Timur Tengah mengumpulkan sejumlah hoaks foto yang beredar di internet. Sebagai contoh, dalam temuan Dina, banyak foto yang menampilkan korban kekerasan dan diklaim sebagai korban penindasan pemerintah Suriah, diimbuhi dengan ajakan berdonasi. Padahal foto itu adalah konflik di lain tempat dan waktu yang jauh berbeda, tapi kemudian oleh oknum pro-milisi teror diberi label sebagai korban gempuran pemerintah Suriah. Fakta ini menunjukkan adanya penggiringan opini dan pemanfaatan simpati publik untuk meraup keun- tungan finansial.74

Mabes Polri mengungkapkan Yayasan Syam Organizer terafiliasi dengan kelompok terorisme Jamaah Islamiyah (JI).

Yayasan Syam Organizer ini bergerak dalam penggalangan dana untuk kegiatan terorisme. Bahkan Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Ahmad Ramadhan mengungkapkan bagaimana caranya Syam Organizer menggalang dana. Menurutnya, Syam Organizer mengumpulkan dana dengan cara menyebarkan celengan dan kotak amal ke masyarakat.

Dalam upaya penggalangan dana ini, Syam Organizer kerap membawa isu Palestina dan Suriah untuk menarik simpati masyarakat. Misalnya seperti mengirim air bersih ke Palestina hingga membangun rumah di Suriah.75

Dalam dokumen ISLAM MODERAT (Halaman 70-74)