• Tidak ada hasil yang ditemukan

Stasiun Pengolahan Biji (Kernel Recovery Station)

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

4.1 Proses Pengolahan Minyak Sawit (CPO)

4.1.8 Stasiun Pengolahan Biji (Kernel Recovery Station)

Gambar 4.27 Separating Column c. Polishing Drum

Polishing Drum merupakan alat yang berbentuk drum berputar dengan dinding berlubang. Alat ini berfungsi untuk membersihkan biji dari serat yang masih melengket pada biji. Ampas di hisap dengan blower menuju ke Fiber cyclone untuk selanjutnya dibawa oleh conveyor ke boiler sebagai bahan bakar pada boiler, sedangkan biji akan jatuh di conveyor dan selanjutnya dibawa ke Nut silo.

Gambar 4.28 Polishing Drum Spesifikasi alat:

- Ukuran panjang : 6000 mm - Ukuran Diameter : 915 mm - Jumlah : 2 unit

- Motoran : 5,5 HP Somer – france LS 112 M1 – 4E2

d. Destoner

Destoner ini berfungsi untuk memisahkan biji dengan benda-benda pengotornya seperti batu, padatan logam dan benda-benda lain yang dapat mengganggu proses pemecahan biji. Biji yang lebih ringan akan terhisap naik ke Nut Grading untuk dipisahkan berdasarkan ukurannya, sedangkan benda-benda pengotor yang lebih berat akan jatuh ke bawah.

Gambar 4.29 Destoner

e. Nut Grading

Nut Grading adalah tempat pemisahan biji antarra biji yang berukuran besar dan biji yang berukuran kecil.

Gambar 4.30 Nut Grading

f. Nut silo (Pengering Biji)

Dalam Nut silo biji ditempurung sambil diperam menggunakan uap sistim induksi pada suhu 70oC dan 60oC guna menurunkan kadar air hingga mudah dipecahkan. Kemudian setelah diperam biji jatuh ke Ripple mill. Alat ini berbentuk segi empat dengan bagian bawah berbentuk limas yang dilengkapi Nut Shaking Grade untuk mengatur pengeluaran biji.

Fungsinya: untuk pemeraman biji kelapa sawit hingga kadar air mancapai maksimal 12%.

Gambar 4.31 Nut silo Yang perlu diperhatikan adalah:

1. Pemanasan dengan udara panas dibagi menjadi 3 (tiga) zone;

- Zona atas : 70oC - Zona tengah : 60oC - Zona bawah : 50oC

2. Posisi biji sawit dalam nut bin diupayakan selalu penuh.

g. Ripple mill

Dalam Ripple mill karena fungsinya untuk memecahkan biji, maka biji yang jatuh dari Nut silo digiling oleh suatu rol yang berputar diantarra landasan segmen yang bergerigi yang mempunyai celah renggangan sebesar bulatan inti.

Inti yang bercampur biji dibawa ke Vibrating Grade untuk diayak antarra biji sawit yang belum pecah dari inti. Dimana biji yang belum

pecah masuk di conveyor dibawa kembali ke Ripple mill untuk dipecahkan. Dan inti dari Vibrating Grade jatuh di Conveyor pengantar masuk di Elevator diangkut ke Conveyor distribusi menuju Kernel silo sedangkan cangkang dihisap oleh blower menuju shell cyclone dan selanjutnya dibawa conveyor ke boiler sebagai bahan bakar.

Gambar 4.32 Riplle Mill Spesifikasi alat:

- Pembuat : Australia / 1989

- Merk : Toshiba

- Putarran Motor : 700 rpm

- Type : 16 – 12 V

- Motoran : 7,5 HP – 1450 rpm - Kapasitas : 4 ton / jam biji sawit - Jumlah : 4 buah

- Daya : 7,5 kw – 1440 rpm Yang perlu dimonitor adalah:

- Effisiensi Ripple mill min 95%

- Nut harus kering dengan kadar air 12 % h. LTDS (Light Tenera Dry Separation) I dan II

LTDS adalah cara pemisahan cangkang dari inti dengan memanfaatkan perbedaan massa dengan cara dihisap oleh angin.

Berikut adalah gambar LTDS di PKS Luwu.

Gambar 4.33 LTDS I dan II

LTDS I terjadi proses pemisahan kernel dan cangkang yang telah dipecahkan dari Ripple mill yang kemudian kernel menuju ke Kernel Grading. Kernel di Kernel Grading dipisahkan menurut ukurannya lalu turun ke Screw Conveyor untuk didorong oleh Pneumatic Blower menuju Kernel silo. Cangkang dan kotoran menuju ke Cyclone LTDS I untuk dijadikan bahan bakar. Kernel dan cangkang yang masih lolos dibawa menuju LTDS II untuk pemisahan lanjutan di Hydrocyclone.

i. Hydrocyclone

Hydrocyclone merupakan alat untuk memisahkan kernel dari cangkang, dengan menggunakan medium cair. Berikut adalah gambar dari Hydrocyclone yang ada di PKS Luwu.

Gambar 4.34 Hydrocyclone

Alur proses pada Hydrocyclone yaitu cangkang dan kernel dari LTDS II masuk ke bak 1 yang kemudian dipompa ke Cyclone 1. Cyclone 1 ini terjadi pemisahan kernel dan cangkang. Kernel ke Grading untuk dikeringkan kemudian ditiup oleh Blower menuju ke kernel silo, sedangkan cangkang masuk ke bak 2. Bak 2 masih terdapat kernel yang mengikut, yang kemudian dipompa masuk ke Cyclone 2 dan kembali dipisahkan di mana kernel ke bak 1 yang nantinya dipompa ke Cyclone 1 dan cangkang ke bak 3. Bak 3 cangkang dipompa ke Cyclone 3 yang kemudian dikeringkan di grading lalu dibuang oleh pneumatik Blower, dan kernel yang ikut masuk ke bak 2.

j. Kernel silo

Kernel silo merupakan tempat pengeringan dan penyimpanan sementarra kernel yang berbentuk segiempat yang dilengkapi pemanas sistem induksi dengan pengaturan suhu yang berbeda dalam tiap bagian.

Bagian atas suhu 80oC, tengah suhu 70oC dan bagian bawah dengan suhu 60oC. Tempat pengeringan dan penurunan kadar air serta merupakan tempat penyimpanan sementarra kernel dengan kapasitas 60 ton/silo yang berbentuk segi panjang yang dilengkapi blower dan heater dengan pengaturan suhu yang berbeda dalam tiap bagian. Berikut adalah gambar dari Kernel silo di PKS Luwu.

Gambar 4.35 Kernel silo Spesifikasi alat:

- Kapasitas : 20 ton kernel / unit - Jumlah : 3 unit

Bagian atas suhunya mencapai 70ºC, bagian tengah 80ºC dan bagian bawah 60ºC. Perbedaan suhu ini untuk menjaga tingkat kematangan kernel dan suhu agar tidak terlalu panas.

k. Kernel bin

Kernel bin merupakan tempat penyimpanan akhir kernel setelah dikeringkan di kernel silo sebelum di pasarkan dengan kapasitas 70 ton/silo. Berikut adalah gambar dari Kernel bin di PKS Luwu.

Gambar 4.36 Kernel Bin

Kernel akan ditampung terlebih dahulu setelah proses dari kernel silo sebelum dibawa ke gudang penyimpaan kernel.

BAB V UTILITAS

Agar pabrik dapat dioperasikan dengan baik dalam melaksanakan kegiatannya, maka akan dijelaskan mengenai unsur-unsur sarana penunjang yang diperlukan di pabrik minyak kelapa sawit.

5.1 Sarana Penunjang

5.1.1 Stasiun Pengolahan Air (Water Treatment Station)

Dalam pengolahan minyak kelapa sawit salah satu peranan yang penting adalah air, dimana air akan dipakai untuk:

- Kebutuhan processing uap.

- Kebutuhan umpan ketel uap.

- Kebutuhan pencucian dan keperluan domestik.

Air diambil dari sungai bungadidi yang pompa dengan menggunakan pompa dari elektro motor yang kapasitas tarik/isap 120 m3/jam dengan dipasang pipa dalam sungai sebesar 6” diameternya, dan panjang pada kedalaman 9 meter. Dari water intake air dipompa dan dialirkan pada pipa yang diameternya 8” dengan jarak sekitar 3.500 – 4000 meter. Air yang dialirkan tadi dimasukkan dalam kolam water settling tank yang diberi petak atau sekat – sekat dengan tujuan untuk menahan / mengendapkan lumpur dan kotoran lain yang terikut dengan air.

Didalam kolam water settling tank air diberi N-3276 gunanya untuk menjernihkan air dengan mengendapkan dan menetralkan pH dari air itu sendiri. Water settling tank bentuknya persegi panjang dengan kapasitas tampung sekitar 1.200 m3. Air dari Water settling tank kemudian dipompakan ke menara Tower I dengan menggunakan pompa dan elektro motor yang kapasitasnya 30 m3/jam pada ketinggian 17 meter.

Pada Tower, air diendapkan. Setelah itu air dialirkan ke stasiun- stasiun pengolahan, sedangkan lumpur/kotoran yang ada akan dibuang pada

pipa/saluran pembuangan. Dari Tower I, air dialirkan juga ke Clarifier untuk ditampung dan diendapkan kembali. Di Clarifier ini, air ditampung dengan tujuan untuk membentuk koagulan.

Daya tampung Clarifier ini 30 m3/jam yang dipasang dengan tinggi sekitar 7 meter. Disini di tambahkan N-8173 Setelah itu, air yang bersih/jernih dialirkan ke Water basin tank yang berdaya tampung 300 dengan ukuran kolam 8 x 8 meter. Di Water basin tank, air diendapkan lagi dimana air yang bersih dan jernih akan dipompa ke sand filter tank dengan kapasitas 30 m3/jam dan kapasitas pompa itu sendiri 30 m3/jam pada ketinggian 2 meter.

Dalam Sand Filter ini air disaring dengan tujuan untuk menangkap kotoran dan kemudian diendapkan dimana kotoran dibuang lewat pipa pembuangan. Dari sand filter, air yang jernih tadi dipompa ke menara Tower II pada ketinggian 17 meter, yang berkapasitas 30 m3/jam dengan menggunakan pompa dan elektro motor dengan kapasitas 30 m3/jam. Sampai di Tower II, air diendapkan kembali dengan tujuan untuk memisahkan lumpur dari air agar tidak terikut masuk di air umpan.

Setelah di tower II air di alirkan ke cation exchanger yang kapasitas tangkinya 25 m3/jam, sampai di cation air di adakan pemurnian dengan tujuan untuk menghilangkan/mengikat garam mineral (logam) seperti Ca, Na, dan Fe. Air yang ada dalam cation tadi di pompa ke degesifier yang kapasitasnya 25 m3/jam dengan menggunakan pompa dan elektro motor yang kapasitasnya sama.

Dalam degesifier di pasang blower untuk menghembuskan udara yang ada dalam air sehingga udara bisa keluar dan berkurang. Dari degesifier air dipompakan ke anion exchanger kapasitas 25 m3/jam menggunakan pompa dan elektro motor yang kapasitasnya sama.

Dalam anion air di tampung bertujuan untuk menangkap garam- garam dan untuk mengikat silikat karbonat dan lain-lain, hingga air itu murni tidak terjadi korosi yang membentuk kerak pada pipa steam kapasitas 60 m3 pada ketinggian 6 m dan diameter kurang lebih 4,5 m.

Dalam feed air di endapkan agar pH air yang digunakan sesuai dengan aturan pemerintah. Air dari feed water tank dipompakan ke dearator yang kapasitasnya 25 m3/jam. Dalam dearator air dipanaskan pipa steam dan untuk menghancurkan kerak agar mudah keluar kemudian di blow down sehingga mutu air yang digunakan sesuai dengan norma yang diinginkan dan tidak terjadi korosi yang merusak peralatan pipa steam pada boiler.

Pada cation exchanger dan anion exchanger setelah lama di pakai, maka alat/bahan penangkap garam mineral, karbon, silica, dan lainnya akan jenuh. Maka alat ini akan di regenerasi kembali dengan penambahan bahan kimia dimana pada kation adalah dengan cara diasamkan dengan memakai HCl (asam clorida) dan pada anion digunakan bahan kimia yaitu soda api (NaOH).

Data teknis alat yang digunakan:

a. Water intake

- Pompa : 2 unit

- Merk : guld Pump

- Kapasitas : 120 m3/jam

- TDS : 100 meter

- Tipe : Deep Will turbin Pump - Putarran : 3000 rpm

- Pipa isap/kedalaman : 6’’/9 meter - Pipa air : 8’’

- Jarak : 3,5 – 4 km - Elektro motor : 2 unit

- Merk : Teco

- Daya : 105 HP dan 100 HP - Putarran : 2970 rpm

- I. max : 155 A & 150,4 A

b. Water settling tank

Gambar 4.37 Water Setling Tank - Kapasitas : 1200 m3 - Ukuran : 10 x 30 meter

- Pompa : 2 unit

- Kapasitas : 30 m3/jam

- Merk : alen Gwiwnes Pump/Ayax Pump

- Type : WM 25802

- Putarran : 3000 rpm - Size : 1/00.88.160 - Elektro motor : 2 unit

- Merk : Rolland

- Daya : 20 HP

- Type : SF.160.24.B - Max : 22,7.A / 15,5 A c. Tower 1 dan 2

- Kapasitas : 30 m3/jam - Tinggi : 17 meter

Gambar 4.38 Tower 1 dan 2 d. Clarifer Tank

- Kapasitas : 30 m3/jam - Tinggi : 6 meter

Gambar 4.39 Clarifier Tank e. Bak sedimentasi

- Kapasitas : 300 m3 - Ukuran : 8 x 8 meter

Gambar 4.40 Bak Sedimentasi

f. Sand filter tank

- Kapasitas Tangki : 30 m3/jam - Diameter : 2,10 meter - Tinggi : 2,10 meter

- Pompa : 3 unit

- Merk : Ayax Elite

- Kapasitas : 30 m3/jam - Size : 80 – 16 - Axoc - Motoran : 2 unit

- Merk : Teco

- Pole : 5,5 HP/4 Kw

- Putarran : 14,55 rpm

- 1 max : 9,06 A

Gambar 4.41 Sand filter tank g. Softener

Cation Exchanger

- Kapasitas : 25 m3/jam - Jumlah Pompa : 2 unit - Kap. Motoran : 25 m3/jam - Putarran : 3000 rpm

- Merk : Taco

- Jumlah Motoran : 2 unit

- Daya : 10 HP

- I Max. : 16 A

Degasifier

Kapasitas : 25 m3/jam

Anion Exchanger

- Kapasitas : 25 m3/jam - Jumlah Pompa : 2 unit - Kap. Motoran : 25 m3/jam - Putarran : 3000 rpm

- Merk : Taco

- Jumlah Motoran : 2 unit

- Daya : 10 HP

- I Max : 16 A

Gambar 4.42 Softener i. Feed Tank

- Kapasitas : 60 m3 - Tinggi : 6 m - Diameter : 4,5 m

Gambar 4.43 Feed Tank

j. Deaerator

- Suhu : 95-100oC - Tinggi : 1,5 m

Gambar 4.44 Deaerator 5.1.2 Stasiun Boiler

Uap pada suatu Pabrik Minyak Kelapa Sawit adalah salah satu sumber utama yang dibutuhkan yakni untuk proses pengolahan buah kelapa sawit. Dan juga digunakan untuk kebutuhan pembangkit tenaga listrik guna menggerakan peralatan dalam pabrik, sehingga penyediaan uap harus terpenuhi. Dan untuk memenuhi kebutuhan tersebut dipilih sistem seri dengan bypass dimana uap yang dihasilkan oleh boiler yang dipakai untuk menggerakkan Turbin dan sebagian untuk dipakai pengolahan buah Kelapa Sawit.

Boiler adalah suatu alat yang berfungsi menghasilkan uap.

Kegunaan uap pada Pabrik Minyak Kelapa Sawit adalah : - Sebagai Pembangkit Tenaga Listrik.

- Sebagai Perebusan.

- Sebagai Pengeringan dan Pemanasan.

Dalam ketel uap yang sangat penting untuk diperhatikan adalah alat pembakaran atau pengapian (Brander). Brander adalah suatu pesawat dalam ketel uap yang fungsinya untuk membakar pengolahan biji sawit bertekanan 3 kg/cm dengan suhu 80oC – 95oC sedangkan untuk membangkitkan tenaga listrik tekanan uap sekitar 17 – 20 kg/cm2 dengan suhu 260oC.

Gambar 4.45 Stasiun Boiler

Bahan bakar yang dipakai untuk boiler adalah serabut buah dan cangkang (kulit inti). Adapun air berasal dari tangki pengumpan deaerator yang dipompa oleh Boiler Feed Pump masuk kedalam boiler.

Proses pengolahan bahan bakar pada Stasiun Boiler (Ketel Uap) sebelum pemasukan bahan bakar kedalam ruang bakar, pertama - tama dilakukan pemeriksaan semua peralatan atau material yang dianggap perlu seperti memeriksa gelas duga, membuang air condensate hyper header, dan membuang udara yang ada dalam ketel.

Bahan bakar yang berasal dari fiber cyclone di bawah menuju ruang bakar, maka akan dibakar bersama begitu pula umpan yang berupa air diambil dari deaerator juga masuk dalam boiler. Suhu yang terjadi pada deaerator adalah 105oC. suhu air yang diinginkan untuk mencapai uap adalah 280oC -300oC.

Didalam tungku penbakaran banyak dibantu dengan udara buatan.

Uap yang dihasilkan dari ruang bakar berupa uap basah yang kemudian akan diubah menjadi uap kering pada alat super heater yang akan digunakan sebagai uap yang akan memutar turbin. Di PKS Luwu Unit I Burau, jenis ketel uap yang dipakai adalah ketel uap pipa air (Water Tube Boiler) dimana pipa – pipa air langsung menerima panas.

a. Ketel Uap

1) Ruang Bakar

Ruang bakar berfungsi sebagai tempat pembakaran, terdiri dari 2 ruang yang dibatasi dengan kisi – kisi (Fere Grate) dengan lantai.

Ruang ini dikelilingi header yang berhubungan dengan drum atas dan bawah.

2) Drum atas dan Drum Bawah

Drum atas berfungsi sebagai tempat pembentukan uap yang dilengkapi sekat-sekat penahan butir – butiran air dalam bentuk uap sedangkan drum bawah berfungsi sebagai tempat sirkulasi air dan tempat penampungan endapan dari drum atas untuk memudahkan blow down.

3) Super Heater

Adalah alat pemanas lanjut untuk mengubah uap basah menjadi uap kering.

4) Heater

Adalah tempat penampungan air pembagi ke pipa pemanas (Water wall).

5) Cerobong asap (Chimney)

Berfungsi untuk saluran pengeluaran asap boiler ke udara terbuka.

b. Alat Pengaman:

1) Peniup Jelaga ( Shoot Blower )

Berfungsi untuk membersihkan pipa-pipa dari kotoran abu sisa pembakaran.

2) Katub Pengawas ( Safety Valve )

Berfungsi untuk membuang uap jika tekanan melebihi tekanan kerja yang telah ditentukan.

3) Gelas Penduga ( Sight Glass )

Alat ini berfungsi untuk melihat permukaan air ketel uap.

4) Kran spui

Kran ini berfungsi untuk membuang air blow down dari drum atas, bawah dan header.

5) Manometer

Adalah alat ukur tekanan uap.

6) Kran Induk ( Main Valve )

Berfungsi untuk menutup dan membuka aliran uap keluar.

7) Kran Air

Berfungsi untuk menbuka dan menutup aliran air pengisi ketel uap.

Spesifikasi alat:

- Pembuat : PT. Atmindo Medan - Tahun Pemebuatan : 1989

- Jumlah : 2 bh

- Tek. Uap : 20 kg/cm2

Hal yang perlu diperhatikan dan pengawasan:

- Pengisian air umpan.

- Tekanan uap tetap dijaga 20 kg/ cm2. c. Ekonomister debu

Alat ini adalah untuk menaikkan temperature air pengisian ketel yang dipanaskan oleh gas asap dan memanaskan terlebih dahulu sebelum masuk kedalam drum ketel.

d. Penangkap debu (dust collector)

Gas asap yang dibuang dari ketel uap melalui cerobong asap garis dibersihkan dulu melalui alat penangkap debu atau Dust Colector.

Ada beberapa alat penangkap debu sebelum gas uap dibuang keluar melalui cerobong, yaitu:

1. Siklon 2. Multi siklon

e. Blower

1) Inclused Draft Fan (IDF)

Alat yang berfungsi untuk mengisap bahan bakar dan disanping itu juga berfungsi untuk mengisap sisa – sisa pembakaran yang akan dibuang melalui Dust Collector.

2) Primary Foerced Draft fan

Yaitu alat yang digunakan untuk menghasilakan udara buatan yang akan disalurkan ke ruang bakar melalui kisi – kisi dari bagian bawah ruang bakar.

3) Secondary Forced Draft Fan

Alat yang berfungsi untuk mengisap bahan bakar dan disamping itu juga berfungsi untuk mengisap sisa-sisa pembakaran yang akan dibuang melalui Dust Collector.

4) Carriage Forced Draft Fan

Yaitu alat yang digunakan untuk menghasilkan udara buatan yang akan dihembuskan dari depan kebelakang ruang bakar.

5) Dust Collector

Adalah alat yang digunakan untuk penyaringan dalam pembakaran yang diisap oleh incluced draft fan.

6) Automatic fuel Feeder

Yaitu tempat jatuhnya bahan bakar yang akan dibawah fuel conveyor dan fiber cyclone. Adapun fungsinya yaitu mengantar bahan bakar masuk kedalam ruang bakar.

7) Super Heater

Yaitu alat yang berfungsi untuk mengubah uap basah menjadi uap kering yang digunakan untuk memutar turbin.

5.1.3 Kamar Mesin (Engine Room Station)

Pada proses produksi Minyak Kelapa Sawit ini terdapat 2 (dua) buah mesin Pembangkit Tenaga Listrik yaitu: Mesin Diesel dan Turbin Uap.

Dari Turbin Generator dapat menghasilkan tenaga listrik sebesar 875 Kva yang dimana kedua unit mesin ini dapat mensuplai arus listrik untuk menggerakkan mesin.

Pada kamar mesin terdapat beberapa alat, yaitu:

1.) Turbin Uap

Turbin Uap adalah suatu pesawat yang digerakkan oleh tenaga potensial uap yang kemudian diubah menjadi energi kinetik lalu menjadi energi listrik. Uap kering dari Boiler dialirkan ke pesawat turbin lalu keran pada pesawat turbin dibuka untuk mendorong sudut-sudut pada turbin. Tekanan uap Boiler yang kuat, maka terjadilah putarran pada rotor turbin.

2.) BPV (Back Pressure Vessel)

BPV adalah bejana bertekanan untuk menyimpan dan mendistribusikan uap tekanan rendah ke instalasi pengolahan di pabrik.

BPV akan diberhentikan ketika uap pembuangan dari turbin dibuang ke udara dan menutup keran pemasukan uap ke BPV.

3.) Mesin Diesel (Genset)

Genset adalah alat yang berfungsi untuk mengubah bahan bakar diesel menjadi energi listrik. Alat ini digunakan jika terjadi kemacetan pada PLN.

BAB VI

ANALISA LABORATORIUM

Laboratorium adalah tempat untuk memeriksa/menganalisa, meneliti suatu contoh bahan. Pada umumnya fungsi laboratoruum di PKS yaitu sebagai

“Quality Control” Atau hanya untuk mengetahui mutu produksi. Berikut adalah beberapa analisa yang dilakukan :

1. Analisa mutu produksi CPO a. Asam lemak bebas (ALB) b. Kadar air

c. Kadar kotoran

2. Analisa Mutu Produksi Kernel a. Asam lemak bebas (ALB) b. Kadar air

c. Kadar kotoran

3. Analisa kehilangan minyak 4. Analisa kehilangan kernel 5. Analisa Ripple mill 6. Analisa mutu air

7. Analisa Komposisi CPO 8. Pengamatan TBS

6.1 Metode Analisis

6.1.1 Analisa Mutu produksi CPO

Analisa mutu produksi CPO bertujuan untuk memastikan bahwa kualitas CPO produksi sudah memenuhi standar baku mutu yang ada.

Analisa baku mutu dibagi menjadi 3 bagian, Asam Lemak Bebas (ALB), kadar air, dan kadar kotoran. Minyak produksi (CPO) diambil dari minyak yang keluar dari Vacuum dryer.

a. Asam Lemak Bebas (ALB)

Asam lemak bebas atau free fatty acid (FFA) adalah asam lemak yang berada sebagai asam bebas tidak terikat sebagai trigliserida.

FFA atau ALB dihasilkan oleh proses hidrolisis dan oksidasi. Kadar ALB pada minyak menunjukkan tingkat kerusakan minyak goreng akibat pemecahan tryacilglicerol dan oksidasi asam lemak.

Alat dan bahan yang digunakan:

- Minyak CPO

- Larutan NaOH 0,1 N - Etanol analis

- n-hexane - Indikator PP - Neraca analitik

- Erlemeyer 250 mL dan 125 mL - Buret automatic

- Gelas Kimia 500 mL - Hotplate

- Termometer - Gelas ukur Cara kerja:

Masukkan CPO kedalam gelas kimia 500 mL dan panaskan menggunakan hotplate sampai suhu 45oC. Timbang erlenmeyer 250 mL kosong dan tambahkan CPO didalam erlenmeyer kurang lebih sebanyak 3 gram. siapkan erlenmeyer 125 kosong, masukkan 25 mL n-hexane dan 50 mL etanol, tambahkan indikator PP 3-5 tetes. Titrasi menggunakan NaOH 0,1 N sampai warna berubah menjadi warna ungu ke merah mudaan. Catat hasil titrasi

Langkah selanjutnya yaitu memasukkan larutan n-hexane- etanol yang telah di titrasi kedalam CPO yang sudah di timbang massanya 3 gram, kocok merata, lalu titrasi menggunakan NaOH 0,1 N

sampai warna larutan berubah dari warna kuning menjadi jingga. Catat hasil titrasi dan masukkan kedalam data pembukuan:

kadar ALB =𝑣. 𝑡𝑖𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 × 𝑁 𝑁𝑎𝑂𝐻 × 𝐵𝑀 𝑎𝑠𝑎𝑚 𝑝𝑎𝑙𝑚𝑖𝑡𝑎𝑡

𝑚 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 × 1000 %

Perhitungan:

𝑘𝑎𝑑𝑎𝑟 𝐴𝐿𝐵 =6,50 𝑚𝐿 × 0,1 𝑁 × 256 3,5941 × 1000 % Kadar ALB = 4,63%

b. Kadar air

Analisa kadar air dilakukan untuk mengetahuhi kadar air pada CPO produksi. Pada dasarnya, air dapat meningkatkan kadar ALB dengan menghidrolisa CPO. Selain dapat menghidrolisa CPO, air juga mempengaruhi warna dari CPO produksi.

Alat dan bahan yang digunakan:

- Minyak CPO - Neraca analitik - Desicator

- Cawan porselin / stainless steel - Oven pengering

Cara kerja:

Timbang cawan kosong dan catat sebagai Tarra. Lalu tuangkan sampel CPO dan timbang kira-kira 10 gr, catat sebagai Brutto basah.

Masukkan cawan berisi CPO dalam oven yang bersuhu 130oC selama 30 menit. Dinginkan dalam desicator selama 15-30 menit, timbang sampel lalu catat sebagai Brutto kering. Masukkan hasil didalam perhitungan, berikut rumusnya.

Netto = Brutto – Tarra

(Berlaku untuk sampel basah dan kering)

𝐾𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑎𝑖𝑟 =𝑛𝑒𝑡𝑡𝑜 𝑠𝑒𝑏𝑒𝑙𝑢𝑚 𝑑𝑖𝑜𝑣𝑒𝑛 − 𝑛𝑒𝑡𝑡𝑜 𝑠𝑒𝑡𝑒𝑙𝑎ℎ 𝑑𝑖𝑜𝑣𝑒𝑛 𝑛𝑒𝑡𝑡𝑜 𝑠𝑒𝑏𝑒𝑙𝑢𝑚 𝑑𝑖𝑜𝑣𝑒𝑛 %

Perhitungan:

𝐾𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑎𝑖𝑟 =7,1785 𝑔𝑟𝑎𝑚 − 7,1655 7,1785 𝑔𝑟𝑎𝑚 % Kadar air = 0,18%

c. Kadar kotoran

Kadar kotoran adalah jumlah zat-zat pengotor yang berada pada CPO. Kadar kotoran menurunkan kualitas dari CPO. Oleh karena itu, untuk menentukan kadar kotoran dari CPO, maka dilakukan analisa kadar kotoran.

Alat dan bahan yang digunakan:

- N-hexane - Erlenmeyer - Desicator - Kertas saring - Oven pengering - Botol penyemprot - Corong penyaring - Neraca analitik Cara kerja:

Timbang cawan kosong dan catat sebagai tarra. Lalu tuangkan sampel CPO dan timbang kira-kira 10 gr, catat sebagai Brutto basah.

Hitung agar dapat berat Netto, catat hasilnya.

Ambil kertas saring, dan siram menggunakan n-hexane, lalu masukkan kedalam oven dengan suhu 130oC selama 30 menit. Keluarkan kertas saring dari oven, dinginkan selama kurang lebih 15 menit lalu timbang beratnya, catat sebagai berat tarra. Langkah selanjutnya yaitu menyaring CPO dengan kertas saring sambil dilarutkan dengan menggunakan n-hexane, perhatikan dan jangan sampai ada CPO yang

Dokumen terkait