B. Titik-Titik Pertalian dalam HPI
3. Status Personal Badan Hukum
★ DOMISILI VS NASIONALITAS, Mana yang lebih tepat?
○ Secara mutlak tidak ada yang lebih baik/tepat, tergantung pada:
1. kepentingan politis dan tradisi setiap negara
2. kebutuhan hukum masing-masing negara → setiap negara yang memiliki kebiasaan, kondisi geografis, dan sosial-ekonomi yang berbeda, pasti akan berujung pada kebutuhan hukum yang berbeda.
3. kombinasi antara kedua dapat dianggap lebih baik (Prof.
Gautama).
○ Ruang lingkup status personal pribadi kodrati 1. Menentukan kedewasaan seseorang.
2. Menentukan kecakapan seseorang dalam melakukan suatu hubungan hukum.
3. Menentukan hukum yang berlaku terhadap seseorang.
○ Cara menentukan kewarganegaraan
1. Asas tempat kelahiran (ius soli): berdasar tempat kelahiran seseorang.
Contoh → Dinda lahir di Indonesia, maka Dinda adalah WNI.
2. Asas keturunan (ius sanguinis): berdasar keturunan seseorang. Contoh
→ Vincent Fenton adalah seseorang yang lahir di Bordeaux, namun kedua orang tuanya adalah warga negara Belanda. Maka Vincent adalah warga negara Belanda. → Indonesia menganut Ius Sanguinis.
○ Pengaturan Mengenai Status Personal Pribadi Kodrati di Indonesia - Pasal 16, 17, dan 18 AB
- Pasal 16: “Ketentuan perundang-undangan mengenai status dan wewenang orang-orang tetap mengikat untuk WNI jikalau mereka berada di luar negeri.” Dalam praktik, ketentuan Pasal 16 AB ini ditafsirkan secara timbal balik (analogi) bagi WNA yang berada di Indonesia.
- Pasal 2 dan Pasal 4(a) UU No. 12/2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia
- Ada/tidaknya suatu badan hukum; pendirian dan berhentinya - Kemampuan badan hukum untuk bertindak dalam hukum - Hukum yang mengatur organisasi intern
- Tata cara pengubahan anggaran dasar
○ Teori Inkorporasi
■ Hukum yang berlaku terhadap suatu badan hukum adalah hukum dari
negara di mana badan hukum tersebut
diciptakan/dibentuk/didirikan.
■ Hukum dari negara yang digunakan pada waktu pendirian secara sah.
■ Teori ini dianggap sesuai dengan logika hukum dan memberi kepastian hukum dalam alasan praktis; pendirian, dokumen pembentukan dan pendaftaran.
○ Teori Kedudukan Badan Hukum
■ Hukum yang berlaku terhadap suatu badan hukum adalah hukum dari negara di mana badan hukum tersebut memiliki tempat kedudukan menurut Statuta.
■ Berdasar alamat yang tercantum dalam Anggaran Dasar
○ Teori Manajemen Efektif (Effective Management)
■ Hukum yang berlaku terhadap suatu badan hukum adalah hukum dari negara di mana manajemen efektif dari badan hukum tersebut dilaksanakan.
■ Alasan dianutnya teori ini:
a. Brain of Enterprise
b. Solusi atas perbedaan kedua teori sebelumnya c. Stabil dan permanen
○ Teori Pengawasan Asing (Foreign Control)
■ Hukum yang berlaku terhadap suatu badan hukum adalah hukum dari negara di mana pengawasan asing atas badan hukum tersebut dilakukan.
■ Selain saham, terdapat elemen lain yang menjadi pertimbangan a. Pengawasan tidak langsung
b. Pengambilan keputusan c. Pengambilan manajemen
■ Contoh: Jerman kontrol ditunjukkan dengan di mana RUPS dan pengambilan keputusan dilaksanakan.
○ Perkembangan Status Personal Badan Hukum
■ Belgia: Statustair/Real Seat Theory (berpindah) → Incorporation Theory
■ Lebih kompetitif dengan berbagai perusahaan; misalnya seperti Belanda.
■ Ingin menarik lebih banyak perusahaan untuk didirikan di Belgia.
4. Pengaturan mengenai status personal badan hukum di Indonesia
● Belum ada ketegasan dalam HPI itu sendiri
● Namun, dari suasana hukum nasional Indonesia sendiri diatur dalam UU No. 40/2007 tentang Perseroan Terbatas:
○ Pasal 5
(1) Perseroan mempunyai nama dan tempat kedudukan dalam wilayah negara RI yang ditentukan dalam Anggaran Dasar
(2) Perseroan mempunyai alamat lengkap sesuai dengan tempat kedudukannya (3) Dalam surat-menyurat, pengumuman yang diterbitkan oleh Perseroan, barang cetakan, dan akta dalam hal Perseroan menjadi pihak harus menyebutkan nama dan alamat lengkap Perseroan.
→ Penggabungan secara kumulatif antara teori inkorporasi dan teori kedudukan badan hukum
● Pasal 17 ayat (1), Pasal 17 ayat (2)
● UU No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria
○ Pasal 30 ayat (1), Pasal 36 ayat (1), Pasal 42
HATAH - 5: RENVOI
● Renvoi (Penunjukan Kembali)
○ Berasal dari bahasa Prancis
○ Berbagai istilah:
■ Renvoi, renvoi au premier degre
■ Partial or Single Renvoi
■ Ruckverweisung
■ Permission, remitting, reference back
■ Terugwjzing, Terugverwjzing
■ Penunjukan kembali
○ Latar Belakang Renvoi
■ Renvoi berkaitan erat dengan teori status personal (terlebih pada pribadi kodrati); ketika prinsip nasionalitas ‘bertemu’ dengan prinsip domisili
■ Latar belakang: aneka ragam HPI berbagai negara di dunia, termasuk mengenai teori penentuan status personal yang dianut oleh suatu negara
■ Berkaitan dengan permasalahan di bidang hukum keluarga.
○ Keterkaitan antaraRenvoidan Kualifikasi
■ Renvoidianggap sebagai kualifikasi dari suatu hukum asing
■ Dalam hal menentukan definisi “hukum asing” yang ditunjuk berdasar renvoi:
● apakah hukum asing itu termasuk kaidah hukum intern dan kaidah HPI? atau apakah hukum asing itu hanya mengenai kaidah hukum intern saja?
○ Kaidah hukum intern dan kaidah HPI
■ Kollisionsnormen→ kaidah HPI dari suatu negara
■ Sachnormen → kaidah hukum intern dari suatu negara (tidak termasuk kaidah HPI).
■ Hukum nasional dari suatu negara terbentuk dari 2 kaidah = Kollisionsnormen+Sachnormen
■ Singkatnya, ketika terdapat suatu hukum asing yang ditunjuk oleh renvoi, maka kita perlu mengkualifikasikan apakah hukum yang ditunjuk itu termasuk ke dalam kaidah HPI nya atau tidak.
○ Sachnormverweisung & Gesamtverweisung
■ Sachnormverweisung → apabila hanya sachnormen (kaidah hukum intern) dari suatu negara yang akan berlaku
● yang ditunjuk hanyalah kaidah intern tanpa kaidah HPInya.
■ Gesamtverweisung → apabilasachnormen (kaidah hukum intern) dan kollisionormen(kaidah HPI) dari suatu negara yang akan berlaku.
● Penunjukkan dengan cara ini berarti yang ditunjuk ialah sachnormen dan kollisionormen dari suatu negara → seluruh tata/kaidah hukum suatu negara.
● Dalam hal penunjukan secara gesamtverweisung, terdapat 2 kemungkinan:
1. Renvoi: negara X ← → negara Y
= sistem hukum X menunjuk sistem hukum negara Y.
Ternyata negara Y menunjuk kembali hukum negara Y.
Maka yg berlaku hukum negara X karena adanya penunjukkan kembali dari negara Y.
2. Penunjukkan lebih jauh: Negara X → Negara Y → Negara Z
= Maka hukum yang berlaku adalah dr Negara Z
● Penunjukan Kembali
○ Macam-macam Penunjukan Kembali
■ Single Renvoi/Partial Renvoi
■ Double Renvoi/Total Renvoi
■ Transmission/Penunjukan Lebih Jauh
○ Yurisprudensi: Forgo Cour De Cassation (1878) → contohSingle Renvoi
■ Forgo (WN Bavaria)
■ Forgo tinggal di Prancis selama masa hidupnya
■ Namun, Forgo tidak memiliki domisili di Perancis karena dia tidak memenuhi persyaratan yang sebagaimana diatur dalam Pasal 13 dari
French Civil Code (yang mana ketentuan pasal ini telah dicabut pada tahun 1927)
■ “The foreigner who shall have been permitted by government to establish his domicile in France, shall enjoy that country all civil rights so long as he shall continue to reside there
■ Oleh karena itu, Forgo dianggap masih memiliki domicile of origin (Bavaria)
■ Sebelum meninggal dunia, Forgo tidak membuat surat warisan.
Akibatnya, seluruh harta kekayaannya menjadi warisan yang jatuh kepada ahli warisnya tanpa adanya testament.
■ Seluruh ahli warisnya dianggap sebagai natuurlijke bliedverwanten, pada saat yang bersamaan di mana Pemerintah Perancis juga mengajukan claimatas warisan Forgo.
■ Dasar hukum tuntutan hak waris yang diajukan oleh keluarga forgo:
● Hak mewaris bagi anak-anak Forgo (anak-anak luar kawin)
● Berdasar hukum waris Bavaria
■ Dasar hukum tuntutan hak waris yang diajukan oleh pemerintah:
● Berdasar kaidah hukum intern Perancis: bahwa anak-anak luar kawin tidak berhak mewaris
● Oleh karena itu, harta warisan Forgo seharusnya diberikan kepada Pemerintah Perancis
■ Kaidah HPI Perancis
● Harta warisan terhadap benda-benda tidak bergerak diatur menurut hukum dari negaradomicile of origin
● sehingga, Hukum Bavaria berlaku
■ Kaidah HPI Bavaria
● Harta warisan terhadap benda-benda tidak bergerak diatur menurut hukum dari negara dimana pewaris memiliki domisili sesungguhnya
● sehingga, Hukum Perancis berlaku
■ Terlihat antara kaidah HPI Perancis dan HPI Bavaria sama sama saling menunjuk, maka yang berlaku:
● Menerima penunjukan kembali yang menunjuk Hukum Perancis
● Oleh karena itu,Kaidah hukum intern perancis berlaku
■ Skema:
note: kenapa penunjukan pertama dilakukan oleh Perancis, bukan Bavaria? → ingat Pasal 17 AB, yaitu hukum yang berlaku bagi benda adalah di mana benda itu terletak. Karena Forgo selama masa hidupnya dihabiskan di Perancis, jadi kan warisan-warisannya terletak di Perancis.
● Renvoi baru terjadi ketika negara itu menerima adanya Renvoi.
● Apakah Indonesia menerima Renvoi?Ya menerima
○ Praktek administrasi untuk pencatatan: Surat Jaksa Agung kepada Pegawai Pencatat Sipil tertanggal 9 Maret 1992, yaitu
“Untuk orang asing di wilayah Hindia Belanda dari negara yang menganut Prinsip Domisili, berlaku Hukum Indonesia” → Penunjukan 1: hukum dari prinsip domisili; Penunjukan 2: hukum Indonesia
■ Kenapa ini menjadi salah satu surat yang membuat kita menilai bahwa Indonesia menerimarenvoi? gua gatau ini jd konklusi jawaban ibunya knp,, g ngerti jir ibunya ngomong apasih,,makanya smm gue gapaham intinya
○ Pendirian Yurisprudensi:
a. Perkara orang Armenia Nasrani (Orang Persia tapi beragama Kristen) - Raad van Justitie Semarang 1928 oleh Mr. A. E van Arkel - Ny Stralendorf, istri dari seorang Armenian Nasrani (WN
Persia), bernama A.A. Galstaun. Sang nyonya meminta sitaan marital berdasarkan hukum hindia belanda, tapi suaminya menolak dan memilih berdasarkan hukum persia. → Apakah permintaan sita marital menggunakan hukum hindia belanda (BW) ini berdasar? Ya berdasar, karena orang Persia termasuk dalam golongan timur asing sehingga tunduk pada ketentuan BW.
- konvensi 17 juli 1905 tentang harta benda perkawinan, kecenderungan menggunakan Prinsip Kewarganegaraan. Sang hakim mengatakan tidak terang baginya apakah persia mengikuti konvensi ini.
- Sang hakim pertama kali melakukan Penunjukan 1 dengan menggunakan prinsip kewarganegaraan, menunjuk hukum persia. Hukum persia menganut hukum islam konservatif, tidak ada pencampuran harta perkawinan. Hukum persia tidak mengatur hukum benda dari seorang kafir (si penggugat).
Ketika ditanya ke gereja apakah gereja mengatur khusus mengenai harta benda perkawinan, gereja pun ternyata tidak mengatur hal ini karena hanya mengatur soal spiritual dari perkawinan. → hukum persia tidak mengatur & gereja pun tidak mengatur
- Akhirnya, setelah ditelusuri ternyata HPI persia mengatur bahwa kalau berbicara tentang hukum non-muslim maka hukum persia menentukan bahwa jika orang persia menetap di luar negeri maka ia tidak membawa ‘status personal’ selain daripada peringatan bahwa ia harus tunduk pada hukum dari tempat baru di mana ia menetap → maka hukum yang berlaku adalah hukum BW karena mereka menetap di Semarang.
- Hukum menerima penunjukan kembali.
b. Perkara palisemen seorang British India
- Raad Van Justitie Medan 1925 soal seorang British India (orang keling) yang berdomisili di Indonesia bernama Sena Kena Sulthan Marican (16 tahun)
- Ia memohon untuk dinyatakan pailit menurut ketentuan Faillissements Verordering yang berlaku di Hindia Belanda.
- Pemohon seorang golongan Timur Asing (bukan Golongan Eropa). Saat mengajukan permohonan, ia telah menikah dengan seorang wanita Indonesia, jadi ia dapat dianggap telah dewasa.
- Hukum sang hakim menunjuk hukum Inggris (India) → mengikuti status personal nasionalitas. Yang ternyata hukum Inggris (India) menunjuk kembali bahwa untuk soal status kedewasaan berlaku di mana subyek hukum tsb berdomisili → jadi menunjuk kembali hukum BW → terlihat bahwa Indo menerima kembali renvoi itu
- Penunjukkan ke hukum Inggris (India) adalah penunjukan kepada hukum intern+kaidah HPI-nya (gesamt-verweisung) → sehingga yang ditunjuk adalah kaidah domestik + kaidah HPInya.
○ Ciri negara yang menerima renvoi adalah penunjukannya itu penunjukan gesamt-verweisung. Sedangkan negara yang tidak menerima/menolak renvoi adalah penunjukannya sachnormverweisung karena kaidah HPI nya tidak ditunjuk.
○ Negara yang menolak renvoi/sachnormverweisung → tidak ada penunjukan kembali atau lebih jauh
○ Renvoi Menurut Anglo-Saxon
■ Istilahforeign court doctrineataudouble renvoi
■ Hakim Inggris dalam mempergunakan hukum asing pada waktu mengadili perkara HPI akan bersifat seolah2 duduk pada kursi sang hakim dari negara yang bersangkutan dan kemudian menyelesaikan perkara tersebut (consider himself sitting in the foreign country) → jadi misalnya, ketika Hakim Inggris mengurus perkara ada kaitannya dengan hukum Perancis maka ia menggunakan pola pikir Hakim Perancis bagaimana mengelola perkara itu.
■ Seolah-olah menjadi hakim asing dari negara yang bersangkutan merupakan Penunjukan 1 menurut Anglo-Saxon.
■ Dalam hal ini bisa terjadi 2 kemungkinan:
1. negara negara yang menerima renvoi → muncul Penunjukan 2 2. negara-negara yang menolak renvoi
■ Kemungkinan 1: In re Annesley
- Seorang Inggris, Ny. Annesley, berdomisili di Perancis. Ia meninggalkan surat wasiat sedemikian rupa sehingga anak lelakinya kehilangan hak warisnya.
- Di sini, hakim pertama kali melihat Ny. Annesley berdomisili di mana (Perancis) maka Hakim Inggris tersebut seolah-olah menjadi Hakim Perancis (Penunjukan 1).
- Maka, Hakim Inggris ini akan menyelesaikan perkara seolah-olah ia adalah Hakim Perancis, di mana Perancis berlakusingle renvoidan menerima renvoi.
- Dari menurut hukum Perancis, perkara ini berdasarkan prinsip nasionalitas Ny. (Inggris). Berdasarkan hukum Inggris, perkara ini berdasarkan di mana Ny. berdomisili (Perancis).
- Hukum inggris membolehkan, hukum perancis tidak memperbolehkan (legitime portie)
- Skema:
- Si hakim memakai single renvoi → menunjuk hukum Inggris, karena prinsip kewarganegaraan. Lalu, karena ia adalah negara yang
menerima renvoi, maka penunjukkannya memakai Sachnormverweisung.
■ Kemungkinan 2: Ross vs Waterfield : menit 01:44:20
- seorang inggris, ny janet anne ross, berdomisili italia. ia meninggalkan surat wasiat sedemikian rupa sehingga anak lelakinya
- skema: GK NGERTI ANJG
○ Pendirian Indo
■ Sudargo Gautama: Terima!
○ https://www.bphn.go.id/data/documents/na_tentang_hpi.pdf
HATAH - 6: TEORI KUALIFIKASI
● HubunganRenvoidengan Teori Kualifikasi
○ KonsekuensiRenvoi: dilakukannya Hukum Asing
○ Ketika hakim menganalisa persoalan HPI; “apa yang dimaksud dengan Hukum Asing?”
○ Pilihan hakim (kualifikasi):
■ Sebelum suatu hakim memberlakukan kaidah hukum asing, maka ia harus mengkualifikasikan apa yang dimaksud dengan hukum asing sehingga nantinya hakim akan dihadapi oleh 2 pilihan, yaitu:
1. Hukum Asing = kaidah hukum intern → penunjukannya adalah Sachnormverweisung
2. Hukum Asing = kaidah hukum intern + kaidah HPI → penunjukannya adalahGesamtverweisung
■ Teori Kualifkasi menurut Para Ahli
→ teori-teori ini merupakan teori dasar dalam teori hukum ekstern dan sudah sering dikembangkan oleh para ahli. Seperti:
1. Nussbaum: “often, renvoi and qualification are dealt with together in literary discussion. A problem of qualification is inherent in renvoi; and both subjects form part of the “basic theory” (Allegemeine Lehren) of Private International Law.”
2. Frans Kahn (1891):latenten gesetzeskollisionen
3. Bartin (1897):qualifikationskonflikt → sering menjadi rujukan dalam teori kualifikasi.
● Terminologi 1. Kualifikasi 2. Classification 3. Qualification 4. Characterization
5. Qualifikation / Charakterisierung 6. Qualificatie
● Definisi Kualifikasi
○ Melakukan ‘penerjemahan’ atau penyalinan fakta sehari-hari ke dalam istilah-istilah hukum
○ Fakta tersebut diklasifikasikan ke dalam kotak-kotak hukum, kelas-kelas, bagian-bagian atau sistematika hukum yang tersedia
○ Dinamakan juga sebagai klasifikasi fakta
■ Dinamakan klasifikasi fakta, karena saat menjadi hakim indonesia dihadapi oleh kasus HPI, maka pengklasifikasian sang hakim terhadap istilah hakim tsb (yang merupakan fakta di perkara HPI), maka hakim harus menentukan kemana istilah tersebut dikategorikan.
○ Dalam HPI: yang diklasifikasi tidak hanya fakta, tetapi juga kaidah hukum (misal: kaidah hukum sang hakim)
■ Maksud dari makna ini → contohnya kaidah hukum sang hakim, ketika hakim menerapkan hukumnya maka ia secara tak langsung harus mengklasifikasikan fakta/terminologi/istilah asing yang ada, apabila diartikan ke hukum nasional kita akan seperti apa? nah dari sini dapat dilihat adanya penerapan kaidah hukum sang hakim dengan bagaimana ia memandang fakta yang ada dengan kaidah hukum itu sendiri.
■ Contoh: ada seorang berumur 20th kewarganeraan ganda → jadi kan seengganya ada 2 sistem hukum yg berlaku buat anak itu, trs misalnya novi jd hakim trs novi ditanya “yg mulia gmn kita tau bahwa si anak ini udh dewasa apa blum” maka disini novi perlu mengkualifikasikan apasih yang dinamakan dewasa menurut hukum inggris, apakah kedewasaan itu sama dengan hukum indo? kl menurut hukum indo kan blm dewasa, apakah sama apabila menurut hukum inggris? eits belum tentu
○ Contoh: Istilah
■ Daluwarsa:verjaring, verjahrung, statute of limitation
■ Sistem negara kontinental: daluwarsa diklasifikasikan sebagai hukum materil/substantif
■ Sistem negara Anglo Saxon: daluwarsa diklasifikasikan sebagai prosedur (lampau waktu), sehingga masuk ke dalam bagian hukum formil → Indonesia termasuk ke dalam sistem ini.
○ Contoh: Persetujuan Orang Tua untuk menikah
■ Code Civil Prancis: sebelum usia mempelai mencapai 30 tahun
■ Indonesia: batas usia dewasa?
■ HPI Inggris: persetujuan orang tua dianggap sebagai syarat formil
■ Konsekuensi hukum: perbedaan mendasar dalam hal menentukan hukum yang berlaku.
■ Hukum materil: berdasar status personal → misal, berlaku hukum dari kewarganegaraan → berkaitan dengan apakah orang itu sudah dewasa/belum untuk melakukan perkawinan atau apakah perlu persetujuan orang tua/tidak atau
● Contoh: Rino adalah kewarganegaraan Inggris maka ia harus mendapatkan persetujuan orang tua mereka sesuai dengan ketentuan hukum Inggris, sedangkan Valentine adalah kewargenegaraan Indo maka berlaku hukum Indo bagi dia.
■ Hukum formil:locus rigit actum (tempat dimana perbuatan hukum tersebut dilangsungkan) → berlaku hukum dari negara dimana perkawinan tersebut dilaksanakan → berkaitan dengan pelaksanaan perkawinannya
● Contoh: Rino dan Valentine nikah di Bali, Indonesia sehingga hukum yang berlaku ialah hukum Indonesia untuk pelaksanaan perkawinan mereka.
○ Penentuan Locus Contractus Dalam Kontrak yang Ditandatangani di Tempat yang Ditandatangani di Tempat yang Terpisah
■ Contract between absent person
Misal, Yasmin hendak menyepakati suatu kontrak bersama Nicholas jual-beli diamond di mana Yasmin sebagai pembeli dan Nicholas sebagai penjual. Namun, karena lagi pandemi dan Nicholas sedang liburan bersama Novi ke Amerika, jadi Yasmin dan Nicholas gabisa ketemuan buat ttd kontrak itu secara langsung, akhirnya mereka sepakat buat ngirim lewat email. Dari sudut pandang Yasmin kontrak di ttd di indo, kalau dari Nicholas kontrak di ttd di Amerika. Kalau berdasarkan prinsip Mailbox Theory maka tempat terjadinya kontrak adalah di Amerika karena tempat penawaran Nicholas dikirimkan
adalah di Amerika. Kalau berdasarkan prinsip Acceptance Theory maka tempat terjadinya kontrak adalah di Indo karena tempat penerimaan penawaran Yasmin adalah di Indo.
■ Lex loci contractus
■ HPI Inggris prinsipMailbox Theory
Tempat terjadinya kontrak: tempat penawaran dikirimkan
■ HPI negara kontinental:Acceptance Theory
Terjadinya kontrak: tempat penerimaan penawaran dikirimkan
○ Contoh:locusdalam terjadi PMH
■ Onrechtmatigedaad
■ Tort
■ HPI Amerika Serikat: hukum yang berlaku; hukum dari tempat di mana akibat yang merugikan dari PMH terwujud (last event)
● Misalnya, Khalisa Warga Negara Singapura terus lagi jalan-jalan ke Batam. Saat di Batam Khally mau nyoba naik motor keliling Batam eh tiba-tiba nabrak Nicholas karena ga keliatan. Terus akhirnya Nicholas luka-luka, tapi ternyata Khally yang lukanya lebih parah (cuman pas tabrakan itu ga keliatan Khally lukanya lebih parah). Terus pas besoknya dia pulang ke Singapura, Khally bangun dia muntah-muntah dan baru ketauan kalau luka dia lebih parah. Maka, dimana PMH terjadi? di Batam. Dimana akibat timbul? di Singapura. Jadi, kalau berdasarkan HPI Amerika, hukum yang berlaku adalah hukum Singapura karena akibat timbul baru saat Khally bangun muntah-muntah di Singapura.
■ HPI Perancis: lox loci delicti; hukum dari tempat di mana PMH benar-benar dilakukan
● Misal, kontrak antara pemilik pabrik dengan buruhnya. Terus ada harga dasar produknya yang baik banget. Anggaplah kenaikan harga nya itu berlokasi di pabriknya, di Belanda.
Karena efek kenaikan ini maka pemilik pabrik PHK buruhnya buat nge-cut budgetnya. Ternyata, yang banyak di PHK adalah buruh Germany. Maka, dimana PMH terjadi? di Belanda. Di
mana akibatnya timbul? di Germany. Jadi, kalau berdasarkan HPI Perancis, hukum yang berlaku adalah hukum Belanda.
○ p NGAKAK nicholas aj trs wkwkw
● Rosa Anton V. Bartolo (1891)
○ Putusan Mahkamah Bandingan Aljazair (1891)
○ Perkara berasal dari Malta -the Maltese Case
○ Penggugat: istri alm. Tn. Bartolo
○ Domisili bersama???
○ ???
○ Penggugat: menggugat hak atasusufrucht atas ¼ harta benda peninggalan dan pihak istri memperoleh separuh dari harta bersama. Usufrucht:
hasil/keuntungan/hak dari penggunaan atas tanah.
○ Pokok pertentangan:usufruchtatas ¼ harta benda peninggalan.
○ Dasar hukum penggugat: Hukum Malta (hukum dimana perkawinan tersebut dilangsungkan)
○ Tergugat: mendalilkan bahwa persoalan ini masuk ke dalam Hukum Warisan
○ Seharusnya berlakulex rei sitaehukum Aljazair; Prancis berlaku
○ Hukum Perancis tidak mengenal hak waris berupa usufrucht atas ¼ harta benda peninggalan
○ Menurut hukum Malta: gugatan dapat diterima
○ Menurut hukum Prancis: gugatan harus ditolak dan tidak dapat diterima
○ Hukum mana yang diberlakukan, Malta/Prancis?
■ Hakim: melakukan kualifikasilex cause
■ Mengklasifikasikanusufructmenurut hukum Malta
■ Sejalan dengan pendekatan Martin Wolff
● Aliran dalam Kualifikasi
○ KualifikasiLex Fori
■ Frans Kahn dan Bartin
■ Dilakukan berdasar hukum sang hakim
■ Berdasar sistem hukum materiil sang hakim
■ Misal: domisili;lex loci contractus
■ persoalan HPI hanya dapat diselesaikan karena ditariknya persoalan ke arah satu sistem hukum tertentu dan berhadapan dengan suatu forum
dari suatu negara tertentu. Contoh: hukum yang berlaku bagi suatu kontrak
■ Lex foridianggap praktis dan jelas
○ KualifikasiLex Cause
■ Martin Wolff
■ Dilakukan berdasar hukum yang digunakan untuk menyelesaikan persoalan HPI yang bersangkutan
■ Menurut sistem hukum asal dari mana pengertian atau istilah hukum yang ada dalam kasus HPI tersebut
■ Seperti yang contohusufruchttadi yang istilah itu hanya dikenal dalam Malta maka hakim menggunakan hukum Malta
○ KualifikasiOtonoom
■ Rabel
■ Dilakukan secara mandiri atau berdasar metode komparasi, terlepas dari suatu sistem hukum tertentu
■ Pengertian yang digunakan dalam kaidah HPI berlaku secara umum dan sewajarnya mempunyai kata yang sama di manapun
■ Metode yang dilakukan: perbandingan hukum
■ Misalnya, istilah subjek hukum. Apakah pengertian subjek hukum menurut hukum Indo sama dengan hukum Inggris? istilah itu secara umum artinya sama, yaitu pengemban hak dan kewajiban. Dengan demikian, dilakukan metode perbandingan hukum.
■ Metode perbandingannya bisa dengan perbedaan/persamaannya.
Setelah tau perbedaan & persamaannya maka bisa ditentukan kira-kira mana ya yang paling baik/efisien untuk menyelesaikan permasalahan ini?
○ Kualifikasi Primer dan Sekunder
■ Primer: diperlukan untuk dapat menentukan hukum yang digunakan (lex fori)
■ Sekunder setelah tahu hukum asing mana yang digunakan maka dilakukan kualifikasi lebih jauh menurut hukum asing yang sudah ditentukan (lex cause)
● Pengecualian terhadap pemakaian kualifikasilex fori