• Tidak ada hasil yang ditemukan

Status quo: Standar Rumah Ibadah a). Rumah Ibadah Agama Khonghucu

ECO RUMAH IBADAH BERDASARKAN KITAB SUCI RU JIAO (AGAMA KHONGHUCU)

1. Status quo: Standar Rumah Ibadah a). Rumah Ibadah Agama Khonghucu

AGAMA KHONGHUCU

ECO RUMAH IBADAH BERDASARKAN KITAB SUCI

oleh Universitas Xia Men di Tiongkok, menyatakan kelenteng berasal dari kata “Kauw Lang Teng” (dialek hokkien) yang bila diuraikan aksara peraksara: Kauw/Jiao = Agama/Ajaran, Lang

= Orang/Manusia, Teng = Tempat/Bangunan atau dalam Bahasa Mandarin berbunyikan Jiao Ren Ting . Bio ( - Miao) atau Kelenteng adalah rumah ibadah umat Khonghucu. Di Indonesia (Jawa), Bio ( - Miao) dikenal dengan sebutan kelenteng (persamaan bunyi dari Kauw Lang Teng - ), tempat ibadah orang-orang beragama dan belajar ilmu agama Khonghucu. Ada pergeseran pelafalan Kauw Lang Teng menjadi kelenteng, seperti pergeseran pelafalan tauhu (dialek hokkien) (Hanzi: pinyin: dòufu) menjadi tahu oleh penduduk sekitar. Sehingga penyebutan kelenteng hanya ada di Indonesia karena sudah terjadinya pergeseran pelafalan.

Tempat ibadah dalam agama Khonghucu sudah dikenal sejak zaman para raja suci (Sheng Wang / ). Raja suci Agama Khonghucu (Ru Jiao ) antara lain; Yao, Shun, Xia Yu, Shang Tang, Wen Wang, Wu Wang, dan Zhou Gong. Dalam kitab Wu Jing dan Si Shu sudah disebutkan tentang Bio leluhur (Dialek Hokkien) (Hanzi: , pinyin: Zōng Miào) yang diterjemahkan dalam Bahasa Inggris adalah Confucius Temple.

Bukti sejarah menyatakan peninggalan Dinasti Shang (1766 SM – 1122 SM) sudah ada Zōng Miào, jauh sebelum semaraknya pembangunan kelenteng di masa Dinasti Tang (618 – 907), pembangunan Kong Miao sudah hampir merata di seluruh kota di daratan Tiongkok. Kong Miao pertama dibangun 478 SM, satu tahun setelah wafat Nabi Kongzi.

Warisan sejarah yang demikian panjang dan sarat nilai agamawi ini tentu menjadi kewajiban umatnya untuk menjaga dan melestarikannya.

Seiring perkembangan zaman, Bio ( - Miao) mengalami derivatif makna dan fungsi, kendati demikian asal-muasal dan pengertian dasarnya tetap eksis dan selayaknya dijaga serta dilestarikan agar tidak ingkar dari kebenaran yang sebenarnya. Kelenteng tetap mengandung ajaran dalam Iman Khonghucu yakni: Memuliakan Keagungan Tuhan, Menghormati Leluhur. Sejak mula memang sudah ada penyebutan untuk membedakan Bio Leluhur (Zōng Miào ) yang di antaranya:

1. (Gōng)

Bangunannya megah (besar), dibangun oleh Raja / Pejabat (Pembesar), dengan makna dan fungsi yang lebih luas.

2. (Cí)

Dibangun oleh masyarakat (kaum/marga) untuk bersembahyang kepada leluhur.

3. (Miào)

Bangunan yang dipergunakan sebagai tempat ibadah/sembahyang kepada Shén Míng , Zhì Shèng Kǒngzǐ dan leluhur Zǔxiān .

Pada mulanya Zōng Miào bisa dibedakan menjadi 3 (tiga) penyebutan, lalu berkembang menjadi beberapa bentuk yang digunakan hingga saat ini, di antaranya:

1. Cí, Rumah abu leluhur

2. Kǒng Miào, Bio penghormatan kepada Kongzi dengan menempatkan Jinshen (Patung - ) Kongzi pada altarnya 3. Wén Miào, bio penghormatan kepada Kongzi dengan hanya

menempatkan Shenzhu ( - papan arwah) Kongzi pada altarnya.

4. Lǐ Táng, ruang kebaktian/kebaktian, tempat umat Khonghucu melaksanakan ibadah bersama.

5. Miào, bio penghormatan kepada Shén Míng , Zhì Shèng Kǒngzǐ atau leluhur Zǔxiān .

6. Tiāntán, tempat ibadah untuk bersujud kepada Tian Yang Maha Esa

Oleh karena itu, Miào difungsikan sebagai tempat peribadahan kepada Sang Khalik dan peribadahan kepada leluhur atau hormat kepada Tian dan menjunjung leluhur. Menjunjung leluhur bisa kepada Shén Míng / Roh Suci , Zhì Shèng Kǒngzǐ / Nabi Kongzi

dan leluhur Zǔxiān . Miào lebih sering dikenal dengan sebutan Kelenteng karena dapat diasumsikan bahwa kelenteng merupakan

sebuah bangunan luas atau berupa kompleks yang menjadi satu kesatuan dengan Bio Leluhur (Zōng Miào ). Karena berkembang dan bertambahnya masyarakat sekitar untuk bersembahyang pada Bio Leluhur tersebut, maka menjadi Kelenteng. Di masa selanjutnya, makna dan fungsi Bio terus berkembang mengikuti perkembangan sesuai dengan macam dan jenis, di antaranya:

1. Bila ada pelajaran / taman baca / taman komunikasi social: Yuàn ( )

2. Bila ada fungsi pelayanan rohani / keagamaan, upacara / ritual:

Táng ( )

3. Bila berfungsi sebagai pendopo / kediaman, tempat pemujaan:

Tíng ( )

4. Bila berfungsi sebagai tempat pengasingan, menenangkan, hening:

Ān ( )

5. Bila lebih sebagai sarana yang lebih umum / kemasyarakatan:

Guān ( )

Nabi Kongzi semenjak muda sering meneliti dan mencatat kenyataan adanya sistem ibadah Ru Jiao ( ) di Miao Besar (Dà Miào ), meliputi:

1. Ibadah kepada Tian Yang Maha Pencipta (Qian ) hanya boleh dilaksanakan dan dipimpin kaisar (Huang Di ) sebagai Putra Tuhan (Tian Zi ).

2. Sembahyang kepada malaikat bumi (Tu Shen ) dilaksanakan oleh raja muda (gong ), dan berkembang menjadi persembahyangan bagi malaikat/para suci/roh gemilang (Shen Ming )

3. Sembahyang kepada Leluhur (Zu Zong ) di mana yang wajib melaksanakannya adalah rakyat sebagai umat beragama Ru Jiao

.

Demikian Zong Miao sebagai tempat sembahyang kehadirat Tuhan (Maha leluhur manusia). Upacara syukur ke hadapan bumi sebagai sarana hidup manusia, bakti hormat kepada leluhur yang telah

mendahului, dalam perkembangannya menjadi sarana ibadah agama dan tempat belajar yang tentunya mendapat nilai keimanan.

Di zaman purba hingga masa kehidupan Nabi Kongzi, para pembesar/

penjabat (Da Fu ) sampai rakyat hanya boleh bersembahyang mendoakan arwah para leluhurnya. Nabi Kongzi juga pada saat itu pernah menjabat sebagai pembesar/penjabat. Beliau mulai merenungkan agar sistem ibadah Ru Jiao dapat diajarkan kepada seluruh rakyat/manusia. Pada zaman Nabi Kongzi, Miao sudah ada di Tiongkok, sebagai tempat penghormatan kepada raja. Miao pada waktu itu juga menjadi tempat menyimpan benda-benda milik raja yang sudah meninggal. Nabi Kongzi sering mengunjungi Miao sebagai tempat belajar membuka wawasan, dalam kitab Lunyu diceritakan bahwa Nabi Kongzi banyak bertanya kepada penjaga kelenteng. Tatkala Nabi masuk ke dalam Bio Besar segenap hal ditanyakan dan membuat penjaga kelenteng kewalahan menjawab pertanyaan-pertanyaan Nabi Kongzi yang rinci dan berat. Penjaga kelenteng marah dan ada orang berkata,

“Siapa anak Negeri Co itu mengerti Kesusilaan? Masuk ke dalam Bio Besar segenap hal ditanyakan.” Mendengar itu Nabi bersabda, “Justru demikian inilah Kesusilaan.” Kalau tidak tahu katakan tidak tahu, kalau tahu katakan tahu, itulah orang yang tahu.

Nabi Kongzi mempunyai kesan yang mendalam terhadap kelenteng para raja, beliau mempunyai ide untuk menjadikan kelenteng itu sebagai media belajar bagi rakyat di luar istana. Nabi Kongzi menyadari, dalam masyarakat itu ada orang yang punya banyak waktu belajar dan membaca buku, yaitu para pejabat negara dan para guru. Namun ada orang di dalam masyarakat yang jumlahnya lebih banyak tidak punya waktu membaca buku karena sibuk bekerja. Mereka itu adalah pekerja profesional, para ahli yang kerja di bidang produksi barang, pedagang yang sibuk bekerja di pasar, petani dan pekerja lainnya, dan kelompok pengusaha. Kelompok pekerja sibuk ini juga memerlukan pembinaan rohani dan juga perlu belajar meskipun dalam waktu pendek.

Pemikiran ini mendorong Nabi Kongzi membuat kelenteng sebagai tempat masyarakat menjalankan ibadah dan belajar membina

kehidupan rohaninya. Nabi Kongzi menata kelenteng dengan bentuk luarnya yang indah dan menarik, dan juga menata altar para malaikat dan orang suci (shenming ) serta menaruh altar Tuhan Yang Maha Esa (Tian Gong ) di bagian depan setiap kelenteng. Semua orang yang bersembahyang di kelenteng, wajib bersembahyang kepada Tian Gong (Tuhan Yang Maha Esa) lebih dahulu. Setelah bersembahyang kepada Tuhan Yang Maha Esa (Tian Gong ) barulah bersembahyang kepada para Shenming. Demikian fungsi kelenteng sebagai tempat ibadah dan tempat masyarakat membina diri.