BAB III
B. Strategi dan Kebijakan Penelitian UHAMKA
Penelitian di lingkup perguruan tinggi, menjadi dimensi penting dalam implmentasi Tridarma Perguruan Tinggi. Khusus di Perguruan Tinggi Muhammadiyah, spirit dan etos kerja civitas akademika terangkum dalam payung Caturdarma perguruan tinggi Muhammadiyah terkait dengan pengembangan Al Islam dan Kemuhammadiyahan.
Seiring dengan hal itu, Lembaga Penelitian dan Pengembangan UHAMKA memiliki tugas besar dalam upaya meningkatkan kegiatan penelitian dosen baik secara internal maupun eksternal. Berdasarkan rekam jejak penelitian yang telah dilakukan, setidaknya terdapat beberapa masalah yang perlu segera mendapatkan penanganan, yaitu:
1. Belum maksimalnya kualitas hasil penelitian, sesuai dengan tuntutan dunia akademis yang terbuka dan transparan.
2. Belum dilakukan kegiatan penelitian secara terintegrasi, antara penelitian yang sebelumnya dengan penelitian yang sedang dan akan dilaksanakan.
RIP Lembaga Penelitian dan Pengembangan UHAMKA 2016/2020 | 42 3. Belum terbangun budaya meneliti lintas disiplin untuk menghasilkan luaran penelitian yang lebih mudah untuk diterapkan di masyarakat.
4. Belum maksimalnya luaran penelitian yang dihasilkan oleh para dosen terkait dengan tuntutan luaran penelitian sebagaimana yang berkembang di dunia akademik saat ini.
5. Belum dimilikinya sistem layanan penelitian yang terbuka, tepat dan cepat serta transparan.
6. Belum adanya budaya FGD, deseminasi, diskusi secara berkelanjutan untuk membahas problematika penelitian mulai dari masalah penelitian, kajian teori, metodologi dan pola hilirisasi hasil penelitian yang diharapkan.
7. Sembilan puluh persen hasil penelitian masih laporan penelitian dan belum dimanfaatkan sebagai kajian berharga untuk peningkatan kegiatan pembelajaran, kegiatan penulisan untuk publikasi dalam jurnal nasional maupu internasional bereputasi.
8. Belum terkoordinasinya secara terintegrasi untuk pengurusan HAKI, Paten, hak Cipta dan sebagainya sebagai tndak lanjut dari enlitian yang dilakukan.
Sehubungan degan hal tersebut, diperlukan suatu strategi untuk pembenahan, baik yang terkait dengan arah
RIP Lembaga Penelitian dan Pengembangan UHAMKA 2016/2020 | 43 dan strategi pengembangan, kebijakan pendanaan, pembenahan kelembagaan maupun tata kelolanya.
Pengembangan kegiatan penelitian di UHAMKA didasarkan pada pengalaman, capaian hasil penelitian, peran Lemlitbang sebagai lembaga pengelola kegiatan penelitian, potensi sumber daya, pendanaan, tata kelola, serta kesehatan organisasi. Strategi pengembangan penelitian di UHAMKA mencakup tiga hal, yaitu: 1). Inovasi kultur penelitian, 2).
Peningkatan Kompetensi SDM, 3). Hilirisasi hasil Penelitian, sebagaimana bagan di bawah ini.
TOP DOWN
Inova si Kultur
Peningkata n Kompetensi SDM
Hilirisa si Ha sil Penelitian
BOTTOM UP
MASYARAKAT RELIGIUS BERKEMAJUAN SERTA MENGGEMBIRAKAN Sum b e r Da ya
Jumla h Dosen Penga la man Dosen Lemba ga Penelitia n Sa rana da n Prasarana Jaringa n Kerja sa ma Kompetensi Dosen Potensi Penelitian yang dihasilkan
Evolusi Kultur Penelitian
Publika si Implementa si Penelitian Unggula n Kompetensi
Peningkata n Kompetensi
Pada strategi pertama, inovasi kultur yang dimaksud adalah pembaharuan kultur penelitian di UHAMKA untuk kepentingan pengembangan pembelajaran menuju Excellent Teaching University. Perubahan yang
RIP Lembaga Penelitian dan Pengembangan UHAMKA 2016/2020 | 44 dimaksud bersifat evolutif, perlahan-lahan, terbuka, natural sampai terbentuknya budaya penelitian sebagai bagian penting dalam aktivitas belajar mengajar di UHAMKA.
Inovasi kultur penelitian ini bersifat bottom up yang berangkat dari kondisi dosen, menyangkut motivasi dan mental serta tanggungjawab untuk melaksanakan catur darma PTM. Ataupun top down yang diawali oleh para pengambil kebijakan untuk memberikan contoh, memberikan fasilitas dan kesempatan bagi dosen untuk mengembangkan diri melalui kegiatan penelitian. Strategi yang kedua, menyangkut Peningkatan kompetensi SDM.
Jumlah dosen dan pengalaman dosen UHAMKA untuk melakukan penelitian berskala nasional dan internasional perlu ditingkatkan. Hambatan kompetensi penguasaan bahasa asing, penguasaan metodologi menjadi kebutuhan utama untuk ditingkatkan melalui short course,workshop, desiminasi, FGD, diskusi berkala, penerbitan, pustaka dan sebagainya perlu disiapkan. Dalam hal ini termasuk penyediaan sarana dan prasarana penelitian. Strategi Ketiga, menyangkut hilirisasi hasil penelitian, berkaitan dengan tingkat utilitas tema penelitian untuk kehidupan masyarakat.
RIP Lembaga Penelitian dan Pengembangan UHAMKA 2016/2020 | 45 C. Formulasi Strategi Pengembangan
Strategi pengembangan penelitian di UHAMKA diformulasikan dalam beberapa hal berikut:
1. Peningkatan partisipasi dosen dalam melakukan penelitian berkualitas. Angka partisipasi dosen UHAMAKA untuk melakukan penelitian menunjukkan peningkatan dalam tiga tahun terakhir, kecuali tahun 2015 yang terkendala dalam struktur kelembagaan penelitian. Kualitas hasil penelitian masih perlu ditingkatkan dengan format penguatan ketrampilan penelitian individu, kolaborasi penelitian dosen dan mahasiswa, kolaborasi penelitian multidisiplin, kolaborasi penelitian senior dan yunior, kepesertaan dalam aneka tawaran penelitian kompetitif dari berbagai lembaga pendanaan penelitian. Formulasi ini menjadi perhatian khusus dalam rangka mencapai sasaran mutu penelitian yang ditetapkan UHAMKA.
Untuk mencapai tujuan tersebut formulasi strategi ini dituangkan langsung dalam program/skema penelitian pengembangan program studi ataupun penlitian kolaboratif.
2. Transformasi kultur penelitian individu menuju penelitian multidisiplin. Kecenderungan penelitian
RIP Lembaga Penelitian dan Pengembangan UHAMKA 2016/2020 | 46 dosen yang dilakukan sampai saat ini masih bersifat monodisiplin sesuai dengan kompetensi penelitinya.
Strategi yang dilakukan dengan melakukan FGD untuk membuat rumusan area penelitian bagi setiap individu dosen, pembentukan embrio kelompok kajian, pengembangan kelompok kajian dan sebagainya.
Formulasi ini diperkuat dengan dilakukannya kegiatan diskusi ilmiah untuk membuat menyusun area penelitian pertahun. Keberhasilan dari formulasi ini akan didorong pada skema penelitian PPI dan Penelitian Kolaboratif.
3. Transformasi kultur penelitian senior dan yunior menjadi penelitian kolaboratif peningkatan kompetensi. Selama ini terkait dengan ketentuan dalam panduan penelitian yang lama, ketua peneliti adalah dosen dengan kepangkatan akademik tertentu, yang menjadi penghambat untuk proses pembinaan bagi dosen yunior. Lebih dari itu, pola ini juga tidak menampakkan proses alih ilmu /saling belajar dengan sesungguhnya. Formulasi ini tertuang dalam skema penelitian dosen pemula.
4. Transformasi kegiatan pembelajaran konvensional menjadi pembelajaran berbasis kegiatan penelitian.
RIP Lembaga Penelitian dan Pengembangan UHAMKA 2016/2020 | 47 Pembelajaran konvensional masih mendominasi proses perkuliahan di UHAMKA. Dosen lebih cenderung tertarik dengan jumlah jam mengajar yang banyak dan tidak menganggap penting aktivitas penelitian. Untuk mengatasi hal tersebut dilakukan transformasi model pembelajaran dari konvensional menjadi pembelajaran brbasis penelitian. Formulasi ini dilakukan secara evolutif, perlahan-lahan, natural dan terbuka meskipun memakan waktu yang lama. Strategi ini diharapkan mampu untuk menumbuhkan potensi penelitian dari tinggkat bawah yang akan difasilitasi oleh berbagai kebijakan. Kegiatan dimulai dari konsolidasi konsep inovasi, internalisasi dengan kegiatan caturdarma dan peguatan kegiatan.
5. Pengembangan jaringan penelitian untuk kajian Al Islam dan Kemuhammadiyahan.
Mengimplementasikan visi dan misi universitas, kajian Al Islam dan kemuhammadiayahan menjadi kajian penting di UHAMKA. Strategi yang dilakukan adalah dengan memberikan stimulan kepada calon dosen UHAMKA 80% dan penelatan calon dosen 100% melalui kegiatan Baitul Arqam yang secara periodik dilakukan
RIP Lembaga Penelitian dan Pengembangan UHAMKA 2016/2020 | 48 Oleh LPP AIK. Formulasi ini ada dalam skema penelitian Kajian Al Islam dan Kemuhammadiyahan.
6. Pengembangan keunggulan penelitian di program studi. Program studi menjadi tongak utama layanan pembelajaran kepada masyarakat. Oleh karena itu, secara sistemik dan berkelanjutan setiap prodi menyusun kegiatan penilitian dalam rencana kerja program studi sesuai dengan layanan pembelajaran yang diberikan. Program pengembangan Penelitian ProgramStudi Menjadi bagian utama untuk mewujudkan formulasi ini.
7. Pengembangan jaringan penelitian, lokal, nasional dan internasional. Jaringan penelitian lokal, nasional dan internasional menjadi kebutuhan penting dalam penguatan kelembagaan penelitian. Secara konsisten dan berkelanjutan UHAMKA telah merintis, melaksanakan dan mengembangkan berbagai kerjasama penelitian dengan lembaga-lembaga lokal, nasional dan internasional. Secara khusus UHAMKA mengembangkan jaringan penelitian lokal, nasional dan internasional dalam rangka peningkatan kualitas riset dan mendapatkan akses kegitan penelitian pada level internasional. Formulasi strategi pengembangan
RIP Lembaga Penelitian dan Pengembangan UHAMKA 2016/2020 | 49 didesain dengan cara mengikuti program PAR Dikti, Program Postdoc di luar negeri untuk melakukan penelitian, magang penelitian luar negeri, kunjungan penelitian ke luar negeri. Formulasi ini melalui kebijakan top down dengan mendorong dosen untuk mengikuti kegiatan ini. UHAMKA merencanakan program magang penelitian secara mandiri mulai tahun 2017.
8. Pengembangan jaringan penelitian unggulan menuju pasar
Penjabaran masing masing jalur formulasi sebagaimana berikut:
FORMULASI DAN STRATEGI PENGEMBANGAN
RIP Lembaga Penelitian dan Pengembangan UHAMKA 2016/2020 | 50
RIP Lembaga Penelitian dan Pengembangan UHAMKA 2016/2020 | 51 PROGRAM KERJA DAN INDIKATOR
KINERJA PENELITIAN