BAB I PENDAHULUAN
F. Kerangka Teori
3. Strategi Kepala Sekolah Dalam Peningkatan
yaitu menciptakan situasi yang harmonis, memenuhi semua perlengkapan yang diperlukan serta memberikan penghargaan dan hukuman, 4) Strategi kepala sekolah dalam meningkatkan komitmen guru adalah:
mengadakan pelatihan, mendatangkan tutor ke sekolah dan memberikan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan, menempatkan guru sesuai dengan bidangnya, dan mengadakan rapat setiap awal semester. 5) Hambatan yang dihadapi kepala sekolah dalam meningkatkan kinerja guru adalah: a) kurang tegas dalam menerapkan kebijakan b) guru kurang motivasi dan domisili guru yang jauh. c) fasilitas sekolah yang belum memadai, d) rendahnya partisipasi warga lingkungan sekolah.
2015 menguji strategi kepala sekolah dalam meningkatkan kinerja guru, dalam tujuan direnacanakan oleh Muktar 2015 lebih menitik
beratkan pada hal komptensi guru secara profesional, sedangkan dalam perencanaan penelitian ini akan
mendeskripsika
n empat
kompetensi guru secara mendalam yaitu guru yang tercatat dalam data pokok pendidikan (Dapodik) SMA
Negeri 1
Jonggat dan MA Negeri 2 Lombok
Tengah.
5 Amiruddin, 2018. Upaya Kepala Sekolah dalam Peningkatan Kompetensi Guru untuk Meningkatka
n Mutu
Pendidikan pada
SMANegeri
di Kota
BandaAceh.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor yang mempengaruhi kompetensi guru dan mutu pendidikan menurut keterangan dari kepala SMA Negeri di Kota Banda Aceh yaitu upaya kepala sekolah; Diklat/workshop/IHT yang diikuti guru; fasilitas pendukung pembelajaran;
pengalaman mengajar guru;
keadaan kesehatan dan latar belakang pendidikan guru. Kendala yang dihadapi kepala SMA Negeri di Kota Banda Aceh dalam peningkatan kompetensi guru untuk meningkatkan mutu
Perbedaan penelitian yang dipublikasi dalam jurnal oleh
Amiruddin 2018 dengan rencana penelitian ini adalah
peneltian yang dilakukan oleh
(Jurnal).
LPMP Aceh.
pendidikan bervariasi terutama kompetensi pedagogik, profesional, kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial.
Sedangkan kendala dalam meningkatkan Standar Nasional Pendidikan yang dialami terutama pada standar isi, pembiayaan, standar proses, sarpras dan standar pengelolaan serta standar kompetensi lulusan dan standar penilaian. Upaya kepala sekolah, diklat/workshop/IHT yang diikuti guru dan fasilitas pendukung pembelajaran cukup mendukung pengembangan kompetensi guru dan mutu pendidikan. Namun pengalaman mengajar guru, keadaan kesehatan dan latar belakang pendidikan guru sangat
berpengaruh terhadap
pengembangan kompetensi guru dan mutu pendidikan pada SMA Negeri di Kota Banda Aceh.
Amiruddin 2018 menguji upaya kepala sekolah dalam meningkatkan kompetensi guru dan mutu pendidikan, dalam tujuan direnacanaka
n oleh
Amiruddin 2018 lebih menitik beratkan pada hal komptensi guru secara profesional dan bagimana hubungannya peningkatan mutu
pendidikan, metode yang digunakan adalah metode deskriptif akan tetapai berdasarkan jumlah
variabel bebas yang dimiliki ada dua yaitu kompetensi guru dan mutu pendidikan sedangkan dalam rencana penelitian ini ada satu variabel bebas yaitu
pengembanga n kompetensi guru di SMA Negeri 1 Jonggat dan MA Negeri 2 Lombok Tengah.
a. Pengertian Kepala Sekolah
Kepala sekolah merupakan komponen pendidikan yang paling berperan dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Sebagaimana diungkapkan dalam pasal 12 ayat 1 PP 28 tahun 1990 bahwa: “kepala sekolah bertanggung jawab atas penyelenggaraan kegiatan pendidikan, administrasi sekolah, pembinaan tenaga kependidikan lainya, dan pendayagunaan serta pemeliharaan sarana dan prasarana.”15 Kemampuan intelektual, emosional, spiritual, serta sosial kepala sekolah berpengaruh besar terhadap efektifitas kepemimpinannya. Selain itu, kewibawaan dan relasi komunikasinya sangat memengaruhi manajemen dan eksistensi sekolah.
Kepala sekolah merupakan orang terpenting di suatu sekolah. Dari pengamatan tidak formal diketahui bahwa kepala sekolah merupakan kunci bagi peningkatan dan pengembangan suatu sekolah. Indikator dari keberhasilan kepala sekolah adalah jika sekolah tersebut berfungsi dengan baik, terutama jika prestasi belajar murid-murid dapat mencapai maksimal.
16 Karena kepala sekolah merupakan komponen terpenting di dunia pendidikan, kepala sekolah harus menjadi role model bagi seluruh elemen yang ada di lingkungan sekolah. Selain itu, kepala sekolah harus terus menerus meningkatkanpengetahuan, emosional, spiritual, serta kemampuan
15 Enco, Mulyasa, Menjadi Kepala Sekolah Profesional, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2007), 25.
16 Suharsimi, Arikunto, Organisai danAdministrasi Pendidikan Teknologi dan Kejuruan, (Jakarta:
CV. Rajawali, 1990), 196.
sosial. Dengansenantiasa meningkatkan kemampuan-kemampuan tersebut, tentu akan mampu membawa sekolah kearah yang lebih gemilang.
Kepala sekolah adalah tenaga fungsional guru yang diberi tugas untuk memimpin suatu lembaga dimana diselenggarakan proses belajar mengajar atau tempat di mana terjadi interaksi antara guru yang memberi pelajaran dan peserta didik yang menerima pelajaran17. Untuk menjalankan fungsi tersebut, kepala sekolah harus menjadi penengah dalam memecahkan masalah masalah dan mengambil keputusan yang tepat.
Kepala sekolah harus memfungsikan perannya secara maksimal, Dalam melaksanakan peran tersebut, kepala sekolah memiliki tanggung jawab ganda yaitu melaksanakan administrasi sekolah sehingga tercipta situasi belajar mengajar yang baik, dan melaksanakan supervisi sehingga guru-guru bertambah dalam menjalankan tugas-tugas pengajaran dan dalam membimbing pertumbuhan murid-murid. Sejalan dengan pernyataan Kartini kartono dalam buku Idochi Anwar menyebutkan bahwa fungsi kepemimpinan adalah memandu, menuntun, membimbing, memberi atau membangun motivasi-motivasi kerja, mengemudikan organisasi,menjalin jaringan komunikasi yang lebih baik sehingga akan mampu mencapai tujuan yang telah direncanakan18.
Dari penjelasan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa kepala sekolah harus mampu meningkatkan produktivitas dan eksistensi sekolahdan menentukan arah suatu lembaga.
17 Wahjosumidjo, Kepemimpinan Kepala Sekolah: Tinjauan Teoritik dan Permasalahan, (Jakarta:
PT. Raja Grafindo, 2002), 83.
18 Anwar, Idochi, Moch, Administrasi Pendidikan dan Manajemen Biaya Pendidikan, (Bandung:
Alfabeta, 2004), 78.
b. Tugas dan Fungsi Kepala Sekolah
Kepala sekolah harus mampu melaksanakan tugasnya sebagai educator, manajer, administrator, dan supervisor (EMAS). Di samping itu
kepala sekolah juga harus mampu berperan sebagai leader, innovator, dan motivator disekolahnya. Dengan demikian dalam paradigma baru manajemen pendidikan, kepala sekolah setidaknya harus mampu berfungsi sebagai educator, manajer, administrator, supervisor, leader, innovator dan motivator (EMASLIM).19
1) Kepala Sekolah sebagai Educator (pendidik)
Kegiatan belajar mengajar adalah hal paling penting dari proses pendidikan dan guru sebagai pelaksana dan pengembang utama kurikulum di sekolah.Hal ini sebagai upaya untukdapat meningkatkan kompetensi yang dimiliki guru, sekaligus akan senantiasa berusaha memfasilitasi dan mendorong agar para guru dapat secara terus menerus meningkatkan kompetensinya, sehingga kegiatan belajar mengajar dapat berjalan efektif.
Sebagai educator, kepala sekolah harus memiliki strategi khusus untuk meningkatkan kompetensi tenaga kependidikan di sekolahnya.
Menciptakan iklim sekolah yang kondusif, memberikan nasehat kepada warga sekolah, memberikan dorongan kepada seluruh tenaga kependidikan, serta melaksanakan model pembelajaran yang menarik, seperti team teaching, moving class, dan mengadakan program
19 Enco, Mulyasa, Menjadi Kepala Sekolah Profesional, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2007), 97-98.
akselerasi (acceleration) bagi pesrta didik yang cerdas di atas normal20.21
Sebagai seorang pendidik kepala sekolah harus mampu menanamkan, memajukan, dan meningkatkan empat macam nilai yaitu:
a) Mental adalah hal-hal yang berkaitan dengan sikap batin dan watak yang dimiliki oleh manusia.
b) Moral merupakan hal-hal yang berhubungan dengan ajaran baik buruk mengenai perbuatan, sikap, dan kewajiban atau moral yang diartikan sebagai akhlak , budi pekerti, dan kesusilaan.
c) Fisik, adalah hal-hal yang berkaitan dengan kondisi jasmani atau badan, kesehatan dan penampilan manusia secara lahiriah.
d) Artistik adalah hal-hal yang berkaitan dengan kepekaan manusia terhadap seni dan keindahan.22
Seorang kepala sekolah di katakan telah mampu mengimplementasikan empat macam nilai tersebut di atas, tentunya akan mampu membawa sekolah kearah yang lebih baik.
Usaha yang dapat dilakukan kepala sekolah dalam meningkatkan kinerjanya sebagai educator, khususnya dalam meningkatkan kompetensi tenaga pendidik dan kependidikan dan prestasi belajar peserta didik dapat dideskripsikan sebagai berikut:
20 Enco, Mulyasa, Menjadi Kepala Sekolah Profesional, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2007), 99.
21 Enco, Mulyasa, Menjadi Kepala Sekolah Profesional, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2007), 99.
22 Wahjosumidjo, Kepemimpinan Kepala Sekolah: Tinjauan Teoritik dan Permasalahan, (Jakarta:
PT. Raja Grafindo, 2002), 123-124.
a) Mengikutsertakan guru-guru dalam pelatihan-pelatihan untuk menambah wawasan para guru.
b) Kepala sekolah harus membentuk dan menggerakkan tim evaluasi hasil belajar peserta didik untuk lebih cermat.
c) Memanfaatkan waktu belajar secara efektif di sekolah.23
Apabila kepala sekolah telah melaksanakan upaya-upaya di atas, tentu dapat meningkatan kinerja tenaga kependidikan dan prestasi belajar peserta didik. Selain itu, dapat meningkatkan kinerjanya sebagai educatordi lingkungan sekolah.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kepala sekolah sebagai educator harus memiliki kemampuan untuk membimbing guru, membimbing tenaga kependidikan non guru, membimbing peserta didik, peningkatan tenaga kependidikan, dan mengikuti perkembangan iptek.
2) Kepala Sekolah sebagai Manajer
Menurut Stoner dalam buku Wahjosumijdo menyatakan bahwa ada delapan fungsi seorang manajer yang perlu dilaksanakan dalam suatu organisasi, yaitu bahwa:
a) Kepala sekolah bekerja dengan dan melalui orang lain
b) Kepala sekolah bertanggung jawab dan mempertanggungjawabkan c) Dengan waktu yang terbatas kepala sekolah harus mampu
menghadapi berbagai persoalan
d) Kepala sekolah harus berfikir secara analistik dan konseptual
23Enco, Mulyasa, Menjadi Kepala Sekolah Profesional, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2007), 100-101.
e) Kepala sekolah sebagai juru penengah f) Kepala sekolah sebagai politisi.24
Dari pemaparan di atas dapat dipahami bahwa kepala sekolah sebagai manajer harus dapat mengantisipasi perubahan, memahami dan mengatasi situasi, mengakomodasi dan mengadakan orientasi kembali.
Jadi seorang kepala sekolah harus memberikan kesempatan yang luas kepada para guru untuk meningkatkan kompetensi melalui kegiatan pengembangan profesi dan berbagai kegiatan pendidikan dan pelatihan, baik yang dilaksanakan di sekolah, atau melalui kegiatan pendidikan dan pelatihan di luar sekolah, seperti kesempatan melanjutkan pendidikan atau mengikuti berbagai kegiatan pelatihan yang diselenggarakan pihak lain.
Dengan demikian, seorang kepala sekolah harus mampu membuat perencanaan, melaksanakan, mengevaluasi, dan mendayagunakan seluruh sumber-sumber daya yang ada di lingkungan sekolah dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
3) Kepala Sekolah sebagai Administrator
Kepala sekolah sebagai administrator memiliki tanggung jawab atas berbagai aktivitas pengelolaan administrasi yang bersifat pencatatan, penyusunan, dan pendokumenan seluruh program sekolah.
Secara spesifik, kepala sekolah harus memiliki kemampuan untuk mengelola administrasi peserta didik, mengelola administrasi personalia, mengelola administrasi sarana dan prasarana, mengelola administrasi
24 Wahjosumidjo, Kepemimpinan Kepala Sekolah: Tinjauan Teoritik dan Permasalahan, (Jakarta:
PT. Raja Grafindo, 2002), 97.
kearsipan, dan mengelola administrasi keuangan. Kegiatan tersebut perlu dilakukan secara efektif dan efisien agar dapat menunjang produktivitas sekolah. Kepala sekolah harus menguasai seluruh tatanan administrasi sekolah.
Administrasi pendidikan merupakan kegiatan pendokumentasian atau pencatatan kegiatan sekolah agar tersusun rapi dan mudah untuk dibaca. Hal ini memudahkan untuk keperluan evaluasi dan monitoring suatu kegiatan dan memudahkan untuk pelaporan kegiatan tertentu.
4) Kepala Sekolah sebagai Supervisor
Supervisi adalah suatu aktivitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu para guru dan pegawai sekolah lainnya dalam melakukan pekerjaan mereka secara efektif. Fungsi pengawasan atau supervisi dalam pendidikan bukan hanya sekedar kontrol untuk mengetahui apakah segala kegiatan telah dilaksanakan sesuai dengan rencana atau program yang telah direncanakan, tetapi lebih dari itu. Supervisi mencakup penentuan kondisi atau syarat personel maupun material yang diperlukan untuk terciptanya situasi belajar mengajar yang efektif dan usaha menenuhi syarat-syarat itu.25
Supervisor atau pengawas dianggap jabatan yang secara ideal diduduki oleh seseorang yang mempunyai keahlian di bidangnya. Kelebihan dan keunggulan bukan saja dari segi kedudukan, melainkan pula dari segi skiil yang dimilikinya.
25 M. Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006), 76
Keberhasilan kepala sekolah sebagai supervisor antara lain dapat ditunjukkan oleh meningkatnya kesadaran tenaga kependidikan (guru) untuk meningkatkan kompetensi dalam melaksankan tugasnya
5) Kepala Sekolah sebagai Leader
Kepala sekolah sebagai pemimpin (leader)harus mampu memberikan petunjuk dan pengawasan, meningkatkan kemauan tenaga kependidikan, membuka komunikasi dua arah, dan mendelegasikan tugas.26
Wahjosumidjo mengemukakan bahwa kepala sekolah sebagai leader harus memiliki karakter khusus yang mencakup:
a) Kepribadian b) Keahlian dasar
c) Pengalaman dan pengetahuan profesional d) Pengetahuan administrasi dan pengawasan.27
Dalam penerapannya, kepala sekolah sebagai leader dapat dilihat dari tiga sifat kepemimpinan yaitu: demokratis, otoriter, dan bebas (laissez faire). Ketiga sifat tersebut sering dimiliki secara bersama oleh seorang leader, sehingga dalam melaksanakan kepemimpinannya, sifat- sifat tersebut muncul secara situasional.
Beberapa penjelasan di atas dapat diambil pemahaman bahwa kepala sekolah sebagai leader dalam melaksanakan tugasnya dapat menggunakan strategi yang tepat, sesuai dengan kematangan para tenaga kependidikan, dan kombinasi yang tepat diantara perilaku tugas dan perilaku hubungan.
26E. Mulyasa, Menjadi Kepala Sekolah Profesional, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2007), 115.
27 Wahjosumidjo, Kepemimpinan Kepala Sekolah: Tinjauan Teoritik dan Permasalahan, (Jakarta:
PT. Raja Grafindo, 2002), 110.
6) Kepala Sekolah sebagai Innovator
Kepala sekolah dalam melakukan peran dan fungsinya sebagai innovator, harus memiliki strategi yang tepat untuk menjalin hubungan
yang harmonis dengan lingkungan, mencari gagasan baru, mengintegrasikan setiap kegiatan, memberikan teladan kepada seluruh tenaga kependidikan di sekolah, dan peningkatan model-model pembelajaran yang inovatif.28
Jadi, dapat dipahami bahwa dalam melaksanakan serta menjalankan peran dan fungsinya sebagai innovator, kepala sekolah harus mampu mencari, menemukan dan melaksanakan berbagai pembaharuan di sekolah.
7) Kepala Sekolah sebagai Motivator
Sebagai motivator, kepala sekolah harus memiliki strategi yang tepat untuk memberikan motivasi kepada para tenaga kependidikan dalam melakukan berbagai tugas dan fungsinya. Kepala sekolah yang ideal adalah kepala sekolah yang mempunyai kemampuan untuk menjadi seorang motivator. Oleh karena itu, kepala sekolah harus mempunyai karakter/kepribadian yang baik dan kuat, pemahaman, pengetahuan, serta keterampilan.
Jadi, dapat dipahami bahwa kepala sekolah sebagai motivator harus memiliki strategi yang tepat untuk memberikan motivasi kepada para tenaga kependidikan dalam melakukan berbagai tugas dan fungsinya.
28 E. Mulyasa, Menjadi Kepala Sekolah Profesional, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2007), 118.
c. Persyaratan Kepala Sekolah
Kepala sekolah harus memiliki beberapa persyaratan untuk menciptakan sekolah yang mereka pimpin menjadi semakin efektif, antara lain:
1) Memiliki kecerdasan atau intelegensi yang cukup baik.
2) ercaya diri sendiri dan bersifat membership.
3) Cakap bergaul dan ramah tamah.
4) Kreatif, penuh inisiatif dan memiliki hasrat atau kemampuan untuk maju dan berkembang menjadi lebih baik.
5) Organisasi yang berpengaruh dan berwibawa.
6) Memiliki keahlian atau keterampilan dalam bidangnya.
7) Sikap menolong, memberi petunjuk, dan dapat menghukum secara konsekuen dan bijaksansa.
8) Memiliki keseimbangan/ kestabilan emosional dan bersifat sabar.
9) Memiliki semangat pengabdian dan kesetiaan yang tinggi.
10)Berani mengambil keputusan dan bertanggung jawab.
11)Jujur, rendah hati, sederhana, dan dapat dipercaya.
12)Bijaksana dan selalu berlaku adil.
13)Disiplin
14)Berpengetahuan dan berpandangan luas.
15)Sehat jasmani dan rohani.29
Jadi, dari penjelasan tersebut dapat dipahami bahwa, jika seorang pemimpin sekolah telah memenuhi semua persyaratan di atas, maka tujuan pendidikan akan dengan mudah dapat berhasil dengan baik, sesuai dengan apa yang direncanakan. Oleh karena itu kepala sekolah
29 Muwahid, Sulahan, Administrasi Pendidikan, ( Jakarta: PT. Bina Ilmu, 2004 ), 57-62.
harus dapat memahami, mendalami, dan menerapkan beberapa konsep ilmu manajemen.
Guru profesional yang bekerja melaksanakan fungsi dan tujuan sekolah harus memiliki kompetensi-kompetensi yang dituntut agar guru mampu melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya. Tanpa mengabaikan kemungkinan adanya perbedaan lingkungan sosial kultural dari setiap institusi sekolah sebagai indikator, maka guru yang dinilai kompeten secara profesional apabila:
1) Guru tersebut mampu peningkatan tanggung jawab dengan sebaik- baiknya.
2) Guru tersebut mampu melaksanakan peranan-peranannya secara berhasil.
3) Guru tersebut mampu bekerja dalam usaha mencapai tujuan pendidikan (tujuan instruksional) sekolah.
4) Guru tersebut mampu melaksanakan peranannya dalam proses mengajar dan belajar dalam kelas.33
Dari pemaparan di atas dapat diambil pemahaman bahwa karakteristik kompetensi profesional guru adalah guru mampu peningkatan tanggung jawabnya dengan baik, guru mampu melaksanakan peran-perannya secara berhasil, guru mampu bekerja dalam usaha mencapai tujuan pendidikan nasional, serta guru patut dicontoh oleh peserta didik karena guru harus mempunyai perilaku yang dapat dicontoh oleh murid-muridnya dan warga sekolah, sehingga dengan adanya karakteristik kompetensi profesional itu, dapat mengelola aktivitas pendidikan dengan baik.
33 Oemar, Hamalik, Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), 38.
c. Macam-macam kompetensi guru
Di dalam Undang-undang guru dan dosen dijelaskan bahwa guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidiakn nasional. Kompetensi guru meliputi:
1) Kompetensi profesional
Dalam Standar Nasional Pendidikan, penjelasan Pasal 28 ayat (3) butir c dikemukakan bahwa yang dimaksud dengan kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkan membimbing peserta didik memenuhi Standar Nasional Pendidikan. Ruang lingkup kompetensi profesional guru sebagai berikut:
a) Mengerti dan dapat menerapkan landasan kependidikan baik filosofi, psikologis, sosiologis, dan sebagainya
b) Mengerti dan dapat menerapkan teori belajar sesuai taraf perkembangan peserta didik
c) Mampu menangani dan peningkatan bidang studi yang menjadi tanggung jawabnya
d) Mengerti dan dapat menerapkan metode pembelajaran yang bervariasi
e) Mampu peningkatan dan menggunakan berbagai alat, media dan sumber belajar yang relevan
f) Mampu mengorganisasikan dan melaksanakan program pembelajaran
g) Mampu melaksanakan evaluasi hasil belajar peserta didik
h) Mampu menumbuhkan kepribadian peserta didik.34
Di dalam buku Wina Sanjaya yang berjudul strategi pembelajaran berorientasi standar proses pendidikan mengemukakan bahwa kompetensi profesional guru meliputi:
a) Kemampuan untuk menguasai landasan kependidikan, misalnya paham akan tujuan pendidikan yang harus dicapai, baik tujuan nasional, tujuan instisusional, tujuan kurikuler, dan tujuan pembelajaran
b) Pemahaman dalam bidang psikologi pendidikan, misalnya paham tentang tahapan perkembangan sisiwa, paham tentang teori-teori belajar, dan lain sebagainya.
c) Kemampuan dalam penguasaan materi pelajaran sesuai dengan bidang studi yang diajarkannya.
d) Kemampuan dalam mengaplikasikan berbagai metodologi dan strategi pembelajaran
e) Kemampuan merancang dan memanfaatkan berbagai media dan sumber belajar.
f) Kemampuan dalam melaksanakan evaluasi pembelajran.
g) Kemampuan dalam menyusun program pembelajaran.
h) Kemampuan dalam melaksanakan unsur-unsur penunjang, misalnya paham akan administrasi sekolah, bimbingan, dan penyuluhan.
i) Kemampuan dalam melaksanakan penelitian dan berfikir ilmiah untuk meningkatkan kinerja.35
34 Enco, Mulyasa, Uji Kompetensi dan Penilaian Kinerja Guru, (Bandung: Rosdakrya, 2013), 135.
35 Wina Sanjaya,Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta:
Kencana, 2007), 18.
Kompetensi profesional menurut Usman dalam buku Saiful Sagala yang berjudul kemampuan profesional dan tenaga kependidikan, meliputi:
a) Penguasaan terhadap landasan kependidikan, dalam kompetensi ini teramasuk memahami tujuan, mengetahui fungsi sekolah dimasyarakat
b) Menguasai bahan pengajaran, artinya guru harus memahami dengan baik materi pelajaran yang akan diajarkan. Penguasaan terhadap materi pokok yang ada pada kurikulum maupun bahan pengayaan c) Kemampuan menyusun program pengajaran, mencakup kemampuan
menetapkan kompetensi belajar, peningkatan bahan pelajaran dan peningkatan strategi pembelajaran
d) Kemampuan menyusun perangkat penilaian hasil belajar dan proses pembelajaran.36
Dari pemaparan di atas, dapat difahami bahwa kompetensi profesional merupakan kompetensi yang harus dikuasai guru pendidikan agama Islam dalam kaitannya dengan pelaksanaan tugas utamanya mengajar.
2) Kompetensi sosial
Dalam Standar nasional pendidikan, penjelasan Pasal 28 ayat (3) butir d di kemukakan bahwa yang dimaksud dengan kompetensi sosial adalah kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi
36 Syaiful, Sagala, Kemampuan Profesional dan Guru dan Tenaga Kependidikan, (Bandung:
Alfabeta, 2009), 41.
dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orangtua/ wali peserta didik dan masyarakat sekitar.37 Kompetensi sosial menurut Slamet PH dalam buku Saiful Sagala meliputi:
a) Memahami dan menghargai perbedaan (respek) serta memiliki kemampuan mengelola konflik dan benturan
b) Melaksanakan kerjasama secara harmonis dengan kawan sejawat, kepala sekolah dan wakilsekolah, dan pihak-pihak terkait lainnya c) Membangun kerja tim (teamwork) yang kompak, cerdas, dinamis
dan lincah
d) Melaksanakan komunitas (oral, tertulis, tergambar) secara efektif dan menyenangkan dengan seluruh warga sekolah, orang tua peserta didik, dengan kesadaran sepenuhnya bahwa masing-masing memilki peran dan tanggung jawab terhadap kemajuan pembelajaran
e) Memilki kemampuan memahami dan menginternalisasikan perubahan lingkungan yang berpengaruh terhadap tugasnya
f) Memiliki kemampuan mendudukkan dirinya dalam sistem nilai yang berlaku dimasyarakat sekitarnya
Melaksanakan pronsip-prinsip tata kelola yang baik (misalnya:
partisipasi, transparasi, akuntabilitas, penegakan hokum, dan profesionalisme).38
Jenis-jenis kompetensi sosial yang sekurang-kurangnya harus dimiliki guru adalah:
37 Enco, Mulyasa, Uji Kompetensi dan Penilaian Kinerja Guru, (Bandung: Rosdakrya, 2013),173.
38Syaiful, Sagala, Kemampuan Profesional dan Guru dan Tenaga Kependidikan, (Bandung:
Alfabeta, 2009), 38.
a) Berkomunikasi secara lisan, tulisan dan isyarat.
b) Menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional
c) Bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua atau wali peserta didik
d) Bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar.39 3) Kompetensi pedagogik
Dalam Standar Nasional Pendidikan, penjelasan Pasal 28 ayat (3) butir a dikemukakan bahwa kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.
Di dalam RPP tentang guru dikemukakan bahwa, kompetensi pedagogik merupakan kemampuan guru dalam pengelolaan pembelajaran peserta didik yang sekurang-kurangnya meliputi hal-hal sebagai berikut:
a) Penanaman wawasan atau landasan kependidikan b) Pemahaman terhadap peserta didik
c) Pengemabangan kurikulum/silabus d) Perancangan pembelajaran
e) Pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis f) Pemanfaatan teknologi pembelajran
g) Evaluasi hasil belajar (EHB)
39 Enco, Mulyasa, Uji Kompetensi dan Penilaian Kinerja Guru, (Bandung: Rosdakrya, 2013),173.