III. Turn Around I. Agresif
5.7 Strategi Pengembangan Usaha Kapur Pertanian
Dari hasil analisis matriks SWOT menggunakan data yang telah diperoleh dari matriks IFAS (Internal Strategic Factors Analysis Summary) dan EFAS (Eksternal Strategic Factors Analysis Summary), empat strategi utama yang disarankan yaitu strategi SO, WO, ST, dan WT.
Alternatif strategi yang dirumuskan menggunakan matriks SWOT disesuaikan dengan alternatif strategi yang dihasilkan dari matriks IE. Beberapa alternatif strategi yang dirumuskan untuk pengembangan usaha kapur pertanian di PT. Farliningsih berdasarkan analisis matriks SWOT pada Tabel 8 adalah:
1) Strategi SO
Strategi ini dibuat berdasarkan penggunaan kekuatan perusahaan untuk memanfaatkan peluang. Berikut ini merupakan alternatif strategi yang dapat ditawarkan untuk pengembangan usaha kapur pertanian PT. Farliningsih adalah melakukan pengembangan pasar.
Lokasi perusahaan yang cukup strategis, yakni berada dekat dengan bahan baku, dan akses transportasi mudah, dapat menjadi kemudahan bagi perusahaan dalam memperoleh bahan baku untuk pengolahan, dan mudah untuk menyalurkan atau distribusi kapur pertanian ke daerah pemasarannya. Selain itu memudahkan juga bagi konsumen untuk memperoleh kapur pertanian PT. Farliningsih, karena letaknya cukup mudah dijangkau, dan infrastruktur sudah baik. Dalam artian, jalan (akses transportasi) yang digunakan oleh masyarakat atau konsumen sangat mendukung dan khusus di lokasi perusahaan, tidak ada jalan yang rusak sehingga tidak menghambat pengiriman kapur pertanian ke daerah pemasaran yang dituju.
Adanya kemitraan usaha oleh PT. Farliningsih dengan perusahaan Adisanjaya dapat memudahkan distribusi kapur pertanian dan memperluas jangkauan pasar untuk penjualan produk kapur pertanian PT. Farliningsih.
2) Strategi WO
Strategi ini bertujuan untuk mengatasi kelemahan internal dengan memanfaatkan peluang eksternal yang dimiliki oleh perusahaan. Alternatif strategi yang dapat dilakukan pada strategi ini, yaitu:
1. Mengoptimalkan Pemanfaatan Teknologi
PT. Farliningsih sudah menerapkan pemanfaatan teknologi informasi berupa aplikasi internet, namun belum memberikan respon yang cukup baik, oleh karena itu perusahaan dapat lebih mengoptimalkan promosi melalui media massa, seperti koran, maupun media elektonik seperti iklan melalui radio atau televisi.
Saat ini daerah pemasaran kapur pertanian, berada di Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tenggara. Adanya pangsa pasar yang masih luas masih membuka peluang untuk mempromosikan di daerah Sulawesi Utara dan di luar Sulawesi.
2. Meningkatkan Kerjasama dengan Pihak Terkait (pelanggan dan mitra usaha)
Permintaan pasar yang cukup besar memberikan kesempatan bagi PT. Farliningsih untuk meningkatkan penjualanya dan melakukan penjualan produk yang sudah ada ke pasar yang baru, yaitu ke daerah lain selain dari daerah pemasaran yang ada. Karena saat ini kapur pertanian PT. Farliningsih sebagian
Perusahaan harus bisa menjaga kualitas produk dan meningkatkan pelayanan agar kesetiaan pelanggan terhadap produk kapur pertanian tetap terjaga dan penjualan juga meningkat.
Hubungan dengan mitra usaha, PT. Farliningsih dengan perusahaan Adisanjaya, selain menerapkan pola waralaba, perlu juga menerapkan pola inti plasma. Dimana menurut (Barata dan Sudirman, 2009), Pola inti plasma adalah hubungan kemitraan antara usaha kecil dan usaha menengah atau usaha besar yang di dalamnya usaha menengah atau usaha besar bertindak sebagai inti dan usaha kecil selaku plasma. Perusahaan inti melaksanakan pembinaan mulai dari penyediaan sarana produksi, bimbingan teknis, sampai dengan pemasaran hasil produksi.
Strategi meningkatkan kerjasama dengan pihak terkait seperti pelanggan dan mitra usaha ini sama dengan salah satu alternatif strategi pada hasil penelitian yang dilakukan oleh Sustiyana (2012), yang menjelaskan bahwa hubungan kerjasama yang baik dengan pihak internal dan eksternal perusahaan, menciptakan peluang yang ada, baik pekerja, pihak konsumen, perantara, dinas terkait maupun penyuplai bahan baku, sangat berpengaruh terhadap citra perusahaan.
Hubungan baik dengan pihak internal yaitu pekerja, akan memudahkan perusahaan untuk mengatur manajemen produksi maupun manajemen sumber daya manusianya. Sedangkan hubungan baik dengan pihak eksternal dapat meningkatkan kuantitas penjualan produk pupuk organik SAA. Dampak baik bagi pihak perusahaan tersebut adalah dapat meningkatkan omzet atau pendapatan yang aliran dananya dapat digunakan untuk mengembangkan usahanya.
3) Strategi ST
Strategi ini bertujuan untuk memanfaatkan kekuatan internal untuk mengatasi ancaman eksternal pada perusahan. Alternatif strategi yang dapat ditawarkan dalah:
1. Pemanfaatan Lahan Sebaik-baiknya
PT. Farliningsih memiliki lahan yang cukup luas untuk menjamin pasokan bahan baku, akan tetapi perlu memperhatikan kondisi lingkungan akibat penggalian dari batuan kapur. PT. Farliningsih perlu tetap mematuhi ketetapan dari Dinas Lingkungan Hidup terkait ketentuan kedalaman galian batuan kapur yang diizinkan.
2. Menjaga Kualitas Produk
Kapur pertanian yang dimiliki PT. Farliningsih memang memiliki kualitas cukup bagus, dilihat dari kandungan kimia alam CaCO3 96,55 % yang tinggi.
Dalam pengembangan usahanya, setiap perusahaan disarankan untuk tetap menjaga kualitas produk. Dilihat dari produk kapur pertanian yang diproduksi perusahaan lainnya memiliki perbedaan, dari segi tingkat kandungan hara teruji yang dimiliki oleh PT. Farliningsih. Hal ini dapat menjadi kekuatan yang cukup besar untuk menghadapi pesaing yang berada di daerah lain. Untuk mengatasi ancaman perubahan musim yang tidak menentu utamanya pada saat musim hujan, perusahaan perlu melakukan inovasi dari segi kemasan kapur pertanian atau melakukan penyewaan sarana transportasi lainnya, yang tetap dapat menjaga kualitas dari kapur pertanian yang akan dikirim kepada pelanggan.
4) Strategi WT
Strategi ini bersifat defensif yang diarahkan untuk mengurangi kelemahan dan menghindari ancaman. Strategi yang dapat diterapkan pada strategi ini adalah membentuk kerjasama dengan pemerintah dan perusahaan lain dalam industri yang sama.
PT. Farliningsih perlu bekerja sama dengan pihak pemerintah dan perusahaan yang sejenis untuk memperoleh sarana dan prasarana yang memadai, tenaga kerja yang produktif, baik dalam bidang pemasaran, produksi, dan teknik pertambangan. Kerjasama dengan perusahaan sejenis, akan tercipta pembinaan kepada pengusaha, penambang, untuk menghasilkan kapur yang berkualitas, pengawasan secara keseluruhan mulai dari proses produksi/ tingkat kualitas kapur dan kebijakan promosi. Serta perolehan modal dari pihak pemerintah pusat, maupun daerah. Akan tetapi PT. Farliningsih, harus melakukan perpanjangan izin usahanya untuk keberlangsungan kegiatan perusahaan kedepannya.
Pemerintah memiliki peran dalam membuat kebijakan atau bentuk intervensi pada perusahaan lokal, seperti pada PT. Farliningsih. Secara umum, dari segi ekonomi pemerintah mengintervensi pasar sebagai upaya untuk melindungi industri-industri kecil dan menengah dari kompetisi serta bentuk promosi sebagai kebijakan strategi perdagangan. Pemerintah dapat memberikan subsidi, yang merupakan bantuan keuangan yang dapat berupa bantuan tunai, pinjaman bunga rendah, potongan pajak dan lain sebagainya yang diberikan pemerintah dengan tujuan membantu perusahaan untuk dapat bersaing dengan perusahaan lainnya melalui biaya produksi yang rendah.
Secara keseluruhan dari kuadran, matriks IE dan matrik SWOT, lebih jelasnya dapat dilihat bahwa PT. Farliningsih berada pada posisi yang kuat dan prima, mendukung kebijakan pertumbuhan yang agresif, dan berada pada kondisi pertumbuhan melalui integrasi horizontal atau stabilitas. Hal ini memberikan pertimbangan bagi perusahaan untuk menerapkan strategi konsolidasi, dimana tujuannya relatif lebih defensif, yaitu menghindari kehilangan penjualan dan kehilangan profit. Perusahaan yang berada pada pertumbuhan ini dapat memperluas pasar, fasilitas produksi, dan teknologi melalui pengembangan internal maupun eksternal melalui akuisisi atau joint ventures dengan perusahaan lain dalam industri yang sama (Rangkuti, 2014). Berdasarkan matriks SWOT, adapun strategi dalam pengembangan usaha kapur pertanian PT. Farliningsih adalah:
1. Pengembangan pasar
2. Mengoptimalkan pemanfaatan teknologi
3. Meningkatkan kerjasama dengan pihak terkait (pelanggan dan mitra usaha) 4. Pemanfaatan lahan sebaik-baiknya
5. Menjaga kualitas produk
6. Membentuk kerjasama dengan pemerintah dan perusahaan lain dalam industri yang sama.