BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.2 Konsep Klien
2.2.3 Struktur Keluarga
Struktur keluarga menunjukkan bagaimana keluarga tersebut diorganisasikan, cara unit-unit tersebut ditata serta bagaimana komponen tersebut berhubungan satu sama lain. Selain itu, struktur dalam keluarga dapat menggambarkan bagaimana keluarga melaksanakan fungsi keluarga tersebut dimasayarakat (Dion Yohanes, 2013).
Struktur keluarga terdapat beberapa jenis, diantaranya adalah:
1) Patrilineal
Keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ayah.
2) Matrilineal
Keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ibu.
3) Matrilokal
Sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah istri.
4) Patrilokal
Sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah suami.
2.2.4 Tahap-Tahap Perkembangan Keluarga
Tahap perkembangan keluarga dibagi sesuai kurun waktu tertentu yang dianggap stabil misalnya keluarga dengan anak pertama berbeda dengan keluarga dengan remaja.
1. Tahap 1 pasangan baru (keluarga baru)
Keluarga baru dimulai saat masing-masing individu membentuk keluarga melalui perkawinan yang sah dan meninggalkan keluarga masing-masing.
2. Tahap 2 keluarga “child-bearing” (kelahiran anak pertama)
Keluarga yang menantikan kelahiran dimulai dari kehamilan sampai kelahiran anak pertama dan berkelanjutan sampai anak pertama 30 bulan.
3. Tahap 3 keluarga dengan anak prasekolah
Tahap ini dimulai saat kelahiran anak pertama berusia 2,5 tahun dan berakhir saat anak usia 5 tahun.
4. Tahap 4 keluarga dengan anak sekolah
Tahap ini diimulai saat anak masuk sekolah pada usia 6 tshun dan berakhir pada usia 12 tahun.
5. Tahap 5 keluarga dengan anak remaja
Tahap ini dimulai pada saat anak pertama berusia 13 tahun dan biasanya berakhir sampai 6-7 tahun kemudian, yaitu pada saat anak meninggalkan rumah orang tuanya.
6. Tahap 6 keluarga dengan anak dewasa (pelepasan)
Tahap ini dimulai pada saat anak yang terakhir meninggalkan rumah.
7. Tahap 7 keluarga usia pertengahan
Tahap ini dimulai pada saat anak yang terakhir meninggalkan rumah dan berakhir saat pensiun atau salah satu pasangan meninggal.
8. Tahap 8 keluarga usia lanjut
Tahap terakhir perkembangan keluarga ini dimulai saat salah satu pasangan pensiun, berlanjut saat salah satu pasangan meninggal sampai keduanya meninggal.
2.2.5 Peran Dan Fungsi Pokok Keluarga
Peranan keluarga menggambarkan perilaku interpersonal, sifat, kegiatan yang berhubungan dengan individu dalam posisi dan situasi tertentu. Peranan individu dalam keluarga didasari oleh harapan dan pola prilaku dari keluarga, kelompok, dan masyarakat.
Berbagai peran formal bagi keluarga, antara lain:
1. Peranan ayah
Sebagai suami dari istri, dan ayah dari anak-anak, berperan sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung dan pemberi rasa aman. Juga sebagai kepala keluarga, sebagai anggota dari kelompok sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungan.
2. Peranan ibu
Sebagai istri dan ibu dari anak-anak, bereperan untuk mengurus rumah tangga, sebagai pengasuh dan pendidik bagi anak-anaknya, pelindung dan salah satu anggota kelompok sosial, serta sebagai anggota masyarakat dan lingkungan disamping dapat berperan pula sebagai pencari nafkah tambahan keluarga.
3. Peranan anak
Melaksanakan peranan psikososial sesuai dengan tingkat perkembangannya baik fisik, mental, sosial, dan spiritual (Muhlisin, 2012).
Beberapa fungsi keluarga, antara lain:
Menurut Friedman (dalam Setiana, I.A., 2016) fungsi keluarga dibagi menjadi 5 bagian yaitu;
1. Fungsi afektif 2. Fungsi sosialisasi 3. Fungsi reproduksi 4. Fungsi ekonomi
5. Fungsi perawatan kesehatan.
2.3 Konsep Dampak Masalah 2.3.1 Konsep Solusi
Solusi adalah cara atau jalan yang digunakan untuk memecahkan atau menyelesaikan masalah tanpa adanya tekanan.
Dalam mengatasi nyeri dapat menggunakan teknik nonfarmakologis meliputi:
1. Teknik relaksasi nafas dalam 2. Kompres hangat/dingin 3. Terapi pijat
4. Menggunakan aroma terapi
Selain menggunakan teknik nonfarmakologis, perlu adanya kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri misalnya suhu ruangan, pencahayaan, dan kebisisngan serta istirahat dan tidur yang cukup atau berkualitas.
2.3.2 Konsep Masalah Yang Sering Muncul (Nyeri Akut) 2.3.2.1 Definisi Nyeri Akut
Nyeri akut adalah adalah pengalaman sensorik atau emosional yang berkaitan dengan kerusakan jaringan actual atau fungsional, dengan onset mendadak atau lambat dan berintesitas ringan hingga berat yang berlangsung kurang dari tiga bulan.
2.3.2.2 Etiologi Nyeri Akut
Terdapat tiga penyebab utama nyeri akut yaitu :
1) Agen pencedera fisiologis yaitu seperti inflamasi, iskemia, neoplasma.
2) Agen pencedera kimiawi yaitu seperti terbakar, bahan kimia iritan.
3) Agen pencedera fisik yaitu seperti abses, amputasi, terbakar, terpotong, mengangkat berat, prosedur operasi, trauma, latihan fisik berlebihan.
2.3.2.3 Pengukuran Intesitas Nyeri
Intensitas nyeri merupakan gambaran tentang seberapa parah nyeri yang dirasakan oleh individu, pengukuran intensitas nyeri sangat subjektif dan individual, serta kemungkinan nyeri dalam intensitas yang sama dirasakan sangat
berbeda oleh dua orang yang berbeda. Pengukuran nyeri dengan pendekatan objektif yang paling mungkin adalah menggunakan respon fisiologis tubuh terhadap nyeri, namun pengukuran dengan teknik ini juga tidak dapat memberikan gambaran pasti tentang nyeri itu sendiri.
1. Visual Analog Scale (VAS)
Merupakan cara menilai skala nyeri yang paling banyak digunakan, alat ukurnya berupa garis sepanjang 10 cm yang tercetak pada selembar kertas.
Pasien dimintai menandai di titik mana tingkat rasa sakit yang dialami.
Dimana ujung sebelah kiri ditandai sebagai tidak ada rasa sakit dan ujung sebelah kanan merupakan rasa paling sakit. Skala nyeri ini hanya untuk usia diatas 8 tahun dan dewasa, tidak cocok bagi orang yang memiliki gangguan kesadaran dan konsentrasi.
Gambar 2.1 Visual Analog Scale 2. Numeric Rating Scale (NRS)
Merupakan skala nyeri paling sederhana dan mudah dimengerti. Seperti halnya skala ini diberi angka 0 sampai 10 untuk mengetahui seberapa nyerinya.
Gambar 2.2 Numeric Rating Scale 1) Skala 0: tidak ada nyeri
2) Skala 1-3: nyeri ringan masih bisa ditahan
3) Skala 4-6: nyeri sedang yang mengganggu aktivitas
4) Skala 7-10: nyeri berat hingga tidak bisa melakukan aktivitas 3. Verbal Rating Scale (VRS)
Merupakan skala ordinal, yaitu menggunakan 4-6 kata sifat yang menggambarkan tingkat intensitas rasa nyeri. Dalam menggambarkan tingkat nyeri, digunakan kata-kata berurutan dari kiri ke kanan, seperti:
1) Tidak nyeri (no pain) pada ujung kiri akhir skala 2) Nyeri ringan
3) Nyeri sedang (tidak menyenangkan) 4) Nyeri berat (menyedihkan)
5) Nyeri sangat berat (mengerikan) 6) Nyeri paling berat (menyiksa)
Gambar 2.3 Verbal Rating Scale
Pasien diminta untuk memilih kata yang menggambarkan tingkat nyeri yang dirasakan.
4. Faces Pain Scale (FPS)
Merupakan serangkaian 6-7 gambar wajah dengan ekspresi yang menunjukkan berat ringannya sakit. Dimulai dari ekspresi tersenyum
sampai berlinang air mata. Biasanya digunakan untuk pasien anak-anak dan pemeriksa yang menentukannya, juga bisa digunakan pada orang dewasa khususnya pada pasien dengan gangguan nonverbal, gangguan kognitif, atau memiliki hambatan bahasa.
Gambar 2.4 Faces Pain Scale 1) Wajah pertama 0: tidak ada rasa sakit sama sekali 2) Wajah kedua 2: sedikit sakit
3) Wajah ketiga 4: lebih sakit dan mengganggu aktivitas 4) Wajah keempat 6: jauh lebih sakit
5) Wajah kelima 8: sangat sakit dan sangat mengganggu aktivitas 6) Wajah keenam 10: sangat sakit tak tertahankan hingga menangis Data mayor dan minor pada nyeri akut antara lain :
Tabel 2.1 Tanda dan gejala mayor minor nyeri akut
Gejala dan tanda mayor Subjektif
1. Mengeluh nyeri
Objektif
1. Tampak meringis
2. Bersifat protektif (misalnya waspada, posisi menghindari nyeri)
3. Gelisah
4. Frekuensi nadi meningkat 5. Sulit tidur
Gejala dan tanda minor Subjektif
1. Tidak tersedia
Objektif
1. Tekanan darah meningkat 2. Pola nafas berubah 3. Nafsu makan berubah 4. Proses berpikir terganggu 5. Menarik diri
6. Berfokus pada diri sendiri
7. Diaforesis (Sumber : Harif Fadillah dkk (2017))
2.4 Konsep Asuhan Keperawatan
Asuhan keperawatan keluarga merupakan suatu rangkaian kegiatan dalam praktek keperawatan yang diberikan pada klien sebagai anggota keluarga pada tatanan komunitas dengan menggunakan proses keperawatan, berpedoman pada standar keperawatan dalam lingkup wewenang serta tanggung jawab keperawatan (Mc Closkey, 2013).
2.4.1 Pengkajian
Merupakan suatu tahapan dimana seorang perawat mengambil informasi secara terus menerus terhadap anggota keluarga yang dibinanya (Muhlisin, 2012).
Hasil pengkajian yang dilakukan berguna untuk menentukan masalah keperawatan yang muncul pada pasien.
2.4.1.1 Pengumpulan Data 1. Data umum
1) Nama kepala keluarga, umur, alamat dan pekerjaan, pendidikan kepala keluarga, tanggal lahir atau usia, hubungan dengan kepala keluarga.
2) Tipe keluarga, menjelaskan jenis tipe keluarga beserta kendala atau masalah yang terjadi dengan jenis tipe keluarga tersebut.
3) Suku bangsa atau latar belakang, mengkaji asal suku bangsa keluarga serta mengidentifikasi budaya suku bangsa keluarga yang berkaitan dengan kesehatan.
4) Agama, mengkaji agama yang dianut oleh keluarga serta kepercayaan yang dapat mempengaruhi kesehatan.
5) Status sosial ekonomi keluarga, status sosial ekonomi keluarga yang ditentukan oleh pendapatannya, baik dari kepala maupun anggota keluarga.
6) Aktiftas rekreasi keluarga atau waktu luang, rekreasi keluarga tidak hanya dilihat kapan keluarga pergi bersama-sama untuk mengunjungi tempat rekreasi, namun dengan menonton TV dan mendengarkan radio.
2. Riwayat dan tahap perkembangan keluarga
1) Tahap perkembangan keluarga saat ini ditentukan oleh anak tertua dari keluarga inti
2) Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi menjelaskan bagaimana tugas perkembangan yang belum terpenuhi oleh keluarga serta kendalanya
3) Riwayat keluarga inti, menjelaskan kesehatan pada keluarga inti, meliputi: riwayat penyakit turunan, riwaat kesehatan masing- masing anggota, dan sumber pelayanan
4) Riwayat keluarga sebelumnya, keluarga asal kedua orang tua (seperti apa kehidupan keluarga asalnya) hubungan masa silam dan saat dengan orang tua dari kedua orang tua
3. Pengkajian lingkungan 1) Karakteristik rumah
2) Karakteristik lingkungan dan tempat tinggal (seperti: kedaan tempat tinggal, fasilitas, kelas sosial, pendidikan, jenis-jenis lingkungan)
3) Mobilitas geografis keluarga
4) Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat
5) Sistem pendukung keluarga meliputi: jumlah anggota keluarga yang sehat, sumber dukungan dari anggota keluarga, jaminan pemeliharaan kesehatan yang dimiliki keluarga
4. Struktur keluarga
1) Pola-pola komunikasi keluarga, Menjelaskan mengenai cara berkomunikasi antar anggota keluarga
2) Struktur kekuatan keluarga, Kemampuan anggota keluarga mengendalikan dan mempengaruhi orang lain untuk mengubah perilaku.
3) Struktur peran, menjelaskan peran dari masing-masing anggota keluarga, baik secara formal maupun informal
4) Struktur nilai atau norma keluarga, Menjelaskan mengenai nilai dan norma yang dianut oleh keluarga yang berhubungan dengan kesehatan.
5. Fungsi keluarga 1) Fungsi afektif
Hal yang perlu dikaji yaitu gambaran diri anggota keluarga, perasaan memiliki dan dimiliki dalam keluarga, dukungan keluarga terhadap anggota keluarga lainnya, bagaimana kehangatan tercipta pada
anggota keluarga dan bagaimana keluarga mengembangkan sikap saling menghargai.
Hasil dari pengkajian didapatkan bahwa:
Semua keluarga saling menyayangi satu sama lain dan hubungan keluarga terlihat harmonis dan ikatan kekeluargaan sangat erat.
2) Fungsi sosialisasi
Dikaji bagaimana interaksi atau hubungan dalam keluarga, sejauh mana anggota keluarga belajar disiplin, norma, budaya serta perilaku.
Hasil dari pengkajian didapatkan bahwa:
Dalam hal ini keluarga dapat membina hubungan sosial pada anak, dan menaruh nilai-nilai budaya keluarga.
3) Fungsi perawatan kesehatan
Keluarga juga berperan untuk melaksanakan praktik asuhan keperawatan, yaitu untuk mencegah gangguan kesehatan atau merawat anggota keluarga yang sakit. Keluarga yang dapat melaksanakan tugas kesehatan berarti sanggup menyelesaikan masalah kesehatan.
Hasil dari pengkajian di dapatkan bahwa:
Keluarga kurang peduli terhadap kesehatan anggota keluarga yang sakit. Keluarga kurang mendukung untuk selalu berobat ke puskesmas secara teratur, dan keluarga tidak mengingatkan hal-hal yang memperberat sakitnya, misalnya makan makanan yang mengandung tinggi purin.
4) Fungsi reproduksi
Hal yang dikaji mengenai fungsi reproduksi keluarga adalah : (1) Berapa jumlah anak?
(2) Apakah rencana keluarga berkaitan dengan jumlah anggota keluarga?
(3) Metode yang digunakan kelurga dalam upaya mengendalikan jumlah anggota keluarga?
5) Fungsi ekonomi
Hal yang perlu dikaji mengenai fungsi ekonomi keluarga :
(1) Sejauh mana keluarga memenuhi kebutuhan sandang, pangan papan?
(2) Sejauh mana keluarga memanfaatkan sumber yang ada di masyarakat dalam upaya peningkatan status kesehatan keluarga.
6. Stress dan koping keluarga
1) Stresor jangka pendek, yaitu stresor yang dialami keluarga yang memerlukan penyelesaian dalam waktu kurang lebih 6 bulan 2) Stresor jangka panjang, yaitu stresor yang saat ini dialami yang
memerlukan penyelesaian dalam waktu lebih dari 6 bulan
3) Kemampuan dalam keluarga berespons terhadap situasi atau stresor, mengkaji sejauh mana keluarga berespons terhadap situasi stresor
4) Strategi koping yang digunakan, strategi koping apa yang digunakan keluarga bila menghadapi permasalahan
5) Strategi adaptasi disfungsional, menjelaskan adaptasi disfungsional yang digunakan keluarga bila menghadapi permaslahan
7. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan pada semua nggota keluarga. Metode yang digunakan pada pemeriksaan ini menggunakan head to toe tidak berbeda
dengan pemeriksaan fisik di klinik/rumah sakit. yaitu pendekatan per sistem dimulai dari kepala hingga ujung kaki, diperlukan empat modalitas dasar yang digunakan meliputi:
1) Inspeksi: yaitu proses observasi menginspeksi bagian tubuh untuk mendeteksi karakteristik normal atau tanda fisik yang signifikan.
2) Palpasi: dalam melakukan palpasi menggunakan kedua tangan untuk menyentuh bagian tubuh untuk membuat suatu pengukuran sensitive terhadap tanda khusus fisik, dalam pemeriksaan ini pasien diusahakan dalam keadaan santai sehingga tidak mempengaruhi hasil pemeriksaan.
3) Perkusi: yaitu teknik pemeriksaan fisik dengan melibatkan pengetukan tubuh dengan ujung-ujung jari guna mengevaluasi ukuran, batasan, dan konsistensi organ-organ tubuh yang bertujuan untuk menemukan adanya cairan didalam rongga tubuh.
4) Auskultasi: yaitu teknik pemeriksaan fisik dengan mendengar bunyi yang dihasilkan tubuh.
Dan setelah pemeriksaan fisik terdapat pemeriksaan tambahan pengukuran tanda-tanda vital (tekanan darah, suhu, respirasi, nadi) untuk mengkaji tingkat kesehatan umum pasien.
8. Harapan keluarga
Pada akhir pengkajian, perawat menanyakan harapan keluarga terhadap petugas kesehatan yang ada.
2.4.1.2 Analisa Data
2.4.2 Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah penilaian klinis tentang respon individu, keluarga atau komunitas terhadap proses kehidupan/masalah kesehatan. Actual atau potensial dan kemungkinan membutuhkan tindakan keperawatan untuk memecahkan masalah tersebut.
Dalam satu keluarga dapat saja perawat menemukan lebih dari satu diagnosa keperawatan keluarga. Untuk menentukan prioritas terhadap diagnosis keperawatan keluarga yang ditemukan dihitung dengan menggunakan proses skoring seperti pada berikut ini.
Tabel 2.2 Skala Bailon dan Maglaya
NO KRITERIA NILAI BOBOT
1. Sifat Masalah:
Tidak/kurang sehat
Ancaman kesehatan
Krisis
3 2 1
1
2. Kemungkinan Masalah Dapat Diubah:
Dengan mudah
Hanya sebagian
Tidak dapat
2 1 0
2
3. Potensi Masalah Untuk Diubah:
Tinggi
Cukup
Rendah
3 2 1
1
4. Menonjolnya Masalah:
Masalah berat harus ditangani
Masalah yang tidak perlu segera ditangani
Masalah tidak dirasakan
2 1 0
1
(Sumber : Wahit Iqbal Mubarak, 2011)
Skoring:
1. Tentukan skor untuk setiap kriteria
2. Skor dibagi dengan angka tertinggi dan kalikan dengan bobot
𝑆𝑘𝑜𝑟
𝐴𝑛𝑔𝑘𝑎 𝑇𝑒𝑟𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖 × Bobot
3. Jumlahkan skor untuk semua kriteria
4. Skor tertinggi adalah 5 dan sama untuk seluruh bobot
Dalam menentukan prioritas banyak faktor yang mempengaruhi untuk kriteria, yaitu:
1. Sifat masalah
Skor yang lebih dari 3 diberikan pada tidak atau kurang sehat karena kondisi ini biasanya disadari dan dirasakan oleh keluarga, ancaman kesehatan skor 2, dan keadaan sejahtera 1.
2. Kemungkinan masalah dapat diubah
Perawat perlu memperhatikan faktor-faktor pengetahuan yang ada sekarang, sumber daya keluarga, sumber daya perawat, sumber daya masyarakat.
3. Potensi masalah dapat di cegah
Perawat perlu memperhatikan faktor-faktor kepelikan masalah yang berhubungan dengan penyakit atau masalah, lamanya masalah, tindakan yang sedang dijalankan, dan adanya kelompok high risk.
4. Menonjolnya masalah
Perawat perlu menilai persepsi atau bagaimana keluarga melihat masalah kesehatan tersebut.
2.4.3 Intervensi Keperawatan
Intervensi keperawatan merupakan segala treatment yang dikerjakan oleh perawatan yang didasarkan pada pengetahuan dan penilaian klinis untuk mencapai luaran (outcome) yang diharapkan. Luaran (outcome) keperawatan merupakan
aspek-aspek yang dapat diobservasi dan diukur meliputi kondisi, perilaku, atau persepsi pasien, keluarga atau komunitas sebagai respon terhadap intervensi keperawatan. Luaran keperawatan menunjukkan status diagnosis keperawatan setelah dilakukan intervensi keperawatan.
Tabel 2.3 Intervensi keperawatan pada pasien Gout Arthritis
No Diagnosa Luaran Intervensi
1. Nyeri Akut Tanda dan gejala :
1. Mengeluh nyeri 2. Tampak meringis
3. Bersikap protektif (mis. waspada, posisi, menghindari nyeri) 4. Frekuensi nadi meningkat 5. Sulit tidur
6. Tekanan darah meningkat 7. Pola napas berubah 8. Nafsu makan berubah 9. Proses berpikir terganggu 10. Menarik diri
11. Berfokus pada diri sendiri 12. Diaforesis
Faktor yang berhubungan :
1. Agen pencedera fisiologis (mis.
inflamasi, iskemia, neoplasma) 2. Agen pencedera kimiawi (mis.
terbakar, bahan kimia iritan) 3. Agen pencedera fisik (mis. abses,
amputasi, terbakar, terpotong, mengangkat berat, prosedur operasi, trauma, latihan fisik berlebihan) Kondisi klinis terkait :
1. Kondisi pembedahan 2. Cedera traumatis 3. Infeksi
Luaran utama:
Tingkat nyeri Luaran tambahan:
Kontrol nyeri
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3X24 jam diharapkan tingkat nyeri menurun dengan kriteria hasil:
1. Keluhan nyeri menurun 2. Meringis menurun 3. Gelisah menurun 4. Kesulitas tidur menurun
5. Berfokus pada diri sendiri menurun
Intervensi utama:
Manajemen nyeri Observasi:
1. Identifikasi lokasi, karakteristik, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri
2. Identifikasi skala nyeri
3. Identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri
Terapeutik:
1. Berikan teknik nonfarmakologius untuk mengurangi rasa nyeri ( mis.kompres hangat/dingin)
2. Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri (mis. suhu ruangan, pencahayaan, kebisingan)
Edukasi:
1. Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri
2. Ajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri
Kolaborasi:
kolaborasi pemberian analgetik Intervensi tambahan:
Kompres dingin Kompres panas
4. Sindrom koroner akut 5. Glaukoma
2 Manajemen Kesehatan Keluarga Tidak Efektif
Tanda dan gejala :
1. Mengungkapkan tidak memahami masalah kesehatan yang diderita 2. Mengungkapkan kesulitan
menjalankan perawatan yang ditetapkan
3. Gejala penyakit anggota keluarga semakin memberat
4. Aktivitas keluarga untuk mengatasi masalah kesehatan tidak tepat 5. Gagal melakukan tindakan untuk
mengurangi faktor resiko Faktor yang berhubungan :
1. Kompleksitas sistem pelayanan kesehatan
2. Kompleksitas program
perawatan/pengobatan
3. Konflik pengambilan keputusan 4. Kesulitan ekonomi
5. Banyak tuntutan 6. Konflik keluarga Kondis klinis terkait :
1. PPOK
2. Sklerosis multiple 3. Arthritis rheumatoid 4. Nyeri kronis 5. Penyalahgunaan zat
6. Gagal ginjal/hati tahap terminal
Luaran utama:
Manajemen kesehatan keluarga Luaran tambahan:
Perilaku kesehatan
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3X24 jam diharapkan manajemen kesehatan keluarga meningkat dengan kriteria hasil:
1. Kemampuan keluarga menjelaskan masalah kesehatan yang dialami meningkat.
2. Tindakan untuk mengurangi faktor resiko meningkat
3. Gejala penyakit anggota keluarga menurun.
Intervensi utama:
Dukungan keluarga merencanakan perawatan Observasi:
1. Identifikasi kebutuhan dan harapan keluarga tentang kesehatan
2. Identifikasi tindakan yang dapat dilakukan keluarga
Terapeutik:
1. Gunakan sarana dan fasilitas yang ada di dalam keluarga
2. Ciptakan perubahan dan lingkungan rumah secara optimal
Edukasi:
1. Informasikan fasilitas kesehatan yang ada di lingkungan keluarga
2. Anjurkan menggunakan fasilitas kesehatan yang ada
3. Anjurkan cara perawatan yang bisa dilakukan keluarga
Intervensi Pendukung:
Edukasi Kesehatan
3 Gangguan mobilitas fisik Tanda dan gejala:
1. Mengeluh sulit menggerakkan ekstremitas
2. Kekuatan otot menurun 3. Rentang gerak ROM menurun 4. Nyeri saat bergerak
5. Enggan melakukan pergerakan 6. Merasa cemas saat bergerak 7. Sendi kaku
8. Gerakan tidak terkoordinasi 9. Gerakan terbatas
10. Fisik lemah Faktor yang berhubungan:
1. Kerusakan integritas struktur tulang 2. Perubahan metabolisme
3. Ketidakbugaran fisik 4. Penurunan kendali otot 5. Penurunan massa otot 6. Penurunan kekuatan otot 7. Keterlambatan perkembangan 8. Kekakuan sendi
9. Kontraktur 10. Malnutrisi
11. Gangguan musculoskeletal 12. Gangguan neuromuskular
13. Indeks masa tubuh diatas persentil ke-75 sesuai usia
14. Efek agen farmakologis 15. Program pembatasan gerak 16. Nyeri
17. Kurang terpapar informasi tentang aktivitas fisik
18. Kecemasan
Luaran utama : Mobilitas fisik Luaran tambahan:
Pergerakan sendi
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3X24 jam diharapkan mobilitas fisik meningkat dengan kriteria hasil:
1. Pergerakan ekstremitas meningkat 2. Kekuatan otot meningkat
3. Rentang gerak (ROM) 4. Nyeri menurun 5. Kecemasan menurun 6. Kaku sendi menurun 7. Gerakan terbatas menurun 8. Gerakan terbatas menurun 9. Kelemahan fisik menurun
Intervensi utama : Dukungan mobilisasi Observasi :
1. Identifikasi adanya nyeri atau keluhan fisik lainnya
2. Identifikasi toleransi fisik melakukan pergerakan
3. Monitor frekuensi jantung dan tekanan darah sebelum memulai mobilisasi 4. Monitor kondisi umum selama melakukan
mobilisasi Terapeutik :
1. Fasilitasi aktivitas mobilisasi dengan alat bantu
2. Fasilitasi melakukan pergerakan, jika perlu 3. Libatkan keluarga untuk membantu pasien
dalam meningkatkan pergerakan Edukasi :
1. Jelaskan tujuan dan prosedur mobilisasi 2. Anjurkan melakukan mobilisasi dini 3. Ajarkan mobilisasi sederhana yang harus
dilakukan Intervensi tambahan:
Dukungan kepatuhan program pengobatan Teknik latihan penguatan sendi
19. Gangguan kognitif
20. Keengganan melakukan pergerakan 21. Gangguan sensoripersepsi
Kondisi klinis terkait:
1. Stroke
2. Cedera medula spinalis 3. Trauma
4. Fraktur 5. Osteoarthritis 6. Ostemalasia 7. Keganasan
(Sumber: Harif Fadillah dkk, (2017))
2.4.4 Implementasi Keperawatan
Implementasi keperawatan merupakan sebuah fase dimana perawat melaksanakan rencana atau intervensi yang sudah dilaksanakan sebelumnya. Berdasarkan terminologi SIKI, implementasi terdiri atas melakukan dan mendokumentasikan yang merupakan tindakan khusus yang digunakan untuk melaksanakan intervensi.
2.4.5 Evaluasi Keperawatan
Evaluasi keperawatan adalah tahapan terakhir dari proses keperawatan untuk mengukur respons klien terhadap tindakan keperawatan dan kemajuan klien ke arah pencapaian tujuan.
Evaluasi asuhan keperawatan di dokumentasikan dalam bentuk SOAP yaitu, S (Subjektif) dimana perawatan menemui keluhan pasien yang masih dirasakan setelah dilakukan tindakan keperawatan, O (Objektif) adalah data yang berdasarkan hasil pengukuran atau observasi perawat secara langsung pada pasien dan yang dirasakan pasien setelah tindakan keperawatan, A (Assesment) yaitu interpretasi makna data subjektif dan objektif untuk menilai sejauh mana tujuan yang telah ditetapkan dalam rencana keperawatan tercapai, dan yang terakhir P (Planning) merupakan rencana tindakan berdasarkan analisis. Jika tujuan telah tercapai maka perawat akan menghentikan rencana apabila belum tercapai perawat akan melakukan modifikasi rencana untuk melanjutkan rencana keperawatan pasien (Dinarti dkk, 2013).
2.5 Pathway Diagnosa Keperawatan Penderita Gout Arthritis
Primer: Sekunder:
Kelainan metabolisme diit, obat-obatan,
Purin bawaan dan proses penyakit
Tinggi purin
Metabolism dihati (teroksidasi)
Asam urat tinggi Kecenderungan keluarga yang mengarah ke perilaku Gangguan filtrasi yang buruk
Diginjal
Kurang pengetahuan tentang
Darah diit dan cek asam urat
Hiperuricemia tidak memahami masalah
kesehatan yang di derita oleh anggota keluarga
Penumpukan disendi
Pembentukan kristal aktivitas keluarga untuk
(thopi) mengatasi masalah
kesehatan tidak tepat
Inflamasi kaku sendi
MK: Nyeri akut MK: Gangguan mobilitas MK: Manajemen kesehatan
fisik keluarga tidak efektif
Gambar 2.5 Kerangka masalah (Sumber: Dirangkum dari Buku Amin Huda & Hardhi Kusuma, (2016)