A. Gambaran Umum Objek Penelitian
3. Struktur Organisasi KPP Pratama Bulukumba
Gambar 4.1 Struktur Organisasi
B. Penyajian Data (Hasil Penelitian) 1. Hasil Pengujian Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif merupakan statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan ataupun menggambarkan data yang terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud untuk membuat kesimpulan yang berlaku umum atau generalisasi (Sugiyono dalam Tania Sabrina, 2017). Sampel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu laporan atau data perbulan yang dikumpulkan selama tiga tahun, terhitung mulai tahun 2019-2021 pada KPP Pratama Bulukumba. Sampel tersebut digunakan untuk memberikan gambaran umum yang diperoleh dengan mendeskripsikan variabel- variabel penelitian. Variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Surat Teguran dan Surat Paksa serta variabel dependennya yaitu Pencairan Tunggakan Pajak. Hasil pengujian statistik deskriptif disajikan pada tabel berikut ini :
Tabel 4.1
Hasil Pengujian Statistik Deskriptif Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
Surat Teguran 36 0,158 0,850 0,46668 0,216814
Surat Paksa 36 0,263 1,400 0,56815 0,303068
Pencairan Tunggakan Pajak
36 0,135 1,376 0,43259 0,276488
Valid N (listwise) 36
Sumber : Data yang telah diolah penulis (2022)
Berdasarkan hasil olahan statistik deskriptif pada table 4.1 di atas, dari 36 bulan yang dijadikan sampel dalam penelitian ini dapat diketahui bahwa variabel surat teguran memiliki nilai minimum sebesar 0,158 dan nilai maksimumnya sebesar 0,850. Sedangkan nilai rata-rata surat teguran adalah sebesar 0,4666 dengan nilai standar deviasinya sebesar 0,2168, hal tersebut menunjukkan bahwa dalam variabel surat teguran memiliki nilai rata-rata di atas standar deviasinya, yang berarti bahwa variabel tersebut berkelompok atau tidak bervariasi.
Variabel surat paksa memiliki nilai minimum adalah sebesar 0,263 dan nilai maksimumnya sebesar 1,400. Sedangkan nilai rata-rata surat paksa adalah sebesar 0,5681 dengan nilai standar deviasinya sebesar 0,3030, hal tersebut menunjukkan bahwa dalam variabel surat paksa memiliki nilai rata-rata diatas standar deviasinya, yang berarti bahwa variabel tersebut berkelompok atau tidak bervariasi.
Variabel efektivitas pencairan tunggakan pajak memiliki nilai minimum sebesar 0,135 dan nilai maksimumnya sebesar 1,376. Sedangkan nilai rata-rata efektivitas pencairan tunggakan pajak adalah sebesar 0,4325 dan nilai standar deviasinya sebesar 0,2764. Hal tersebut menunjukkan bahwa dalam variabel efektivitas pencairan tunggakan pajak memiliki nilai rata-rata diatas standar deviasinya yang memiliki arti bahwa variabel terebut berkelompok atau tidak bervariasi.
a. Hasil Analisis Statistik Deskriptif Surat Teguran
Surat teguran dalam penelitian ini diukur menggunakan rasio perbandingan jumlah nominal realisasi pembayaran atau pencairan surat teguran terhadap target pembayaran surat teguran yang
diterbitkan perbulan dikali dengan 100% (efektivitas surat teguran).
Nilai efektivitas surat teguran KPP Pratama Bulukumba selama tiga tahun yaitu 2019-2021 disajikan pada tabel berikut ini :
Tabel 4.2
Nilai Surat Teguran (X1)KPP Pratama Bulukumba Tahun 2019-2021
2020 2021
Januari 27,55% 39,23% 28,13%
Februari 26,20% 57,10% 26,53%
Maret 26,47% 49,19% 29,48%
April 76,91% 84,99% 36,85%
Mei 74,00% 82,97% 35,68%
Juni 83,14% 75,63% 37,54%
Juli 27,07% 68,12% 72,00%
Agustus 25,80% 68,27% 66,23%
September 22,74% 59,85% 71,39%
Oktober 24,14% 51,77% 31,37%
November 18,72% 45,90% 27,58%
Desember 35,76% 50,00% 15,75%
Minimum 18,70% 39,20% 15,80%
Maximum 83,10% 85,00% 72,00%
Mean 39,00% 61,00% 39,80%
Standard Deviation 23,90% 14,80% 19,00%
Sumber : Data yang telah diolah penulis (2022)
Dari tabel 4.2 di atas, dapat diketahui bahwa pada tahun 2019 tingkat efektivitas pencairan atas surat teguran tertinggi terjadi pada bulan Juni yaitu sebesar 83,10% dan terendah sebesar 18,70% terjadi pada bulan november. Sedangkan rata-rata tingkat efektivitas surat teguran yaitu sebesar 39,00%. Hal tersebut menunjukkan bahwa surat teguran pada tahun 2019 tidak efektif karena berada pada kategori kurang dari 60%. Tahun 2020, tingkat efektivitas surat teguran tertinggi terjadi pada bulan april sebesar 85,00% dan terendah sebesar 39,20%
terjadi pada bulan januari. sedangkan rata-rata tingkat efektivitas yang
dicapai dari surat teguran yaitu sebesar 61,00%. Hal tersebut menunjukkan bahwa surat teguran pada tahun 2020 kurang efektif karena masih berada pada kategori 60-80%. Tahun 2021, tingkat efektivitas surat teguran tertinggi terjadi pada bulan juli yaitu sebesar 72,00% dan terendah sebesar 15,80% terjadi pada bulan desember.
Sedangkan rata-rata tingkat efektivitas yang dicapai dari surat teguran yaitu sebesar 39,80%. Hal tersebut menunjukkan bahwa surat teguran pada tahun 2021 tidak efektif karena berada pada kategori kurang dari 60%.
Hasil pengujian statistik deskriptif surat teguran, pada tabel 4.2 menunjukkan secara keseluruhan tahun 2019-2021 nilai efektivitas tertinggi sebesar 85,00% berada pada bulan april tahun 2020.
Sedangkan nilai efektivitas surat teguran terendah KPP Pratama Bulukumba adalah sebesar 15,80% terjadi pada bulan desember tahun 2021. Rata-rata nilai efektivitas surat teguran sebesar 46,66% pada tabel 4.1 menunjukkan bahwa surat teguran belum efektif karena berada pada kategori kurang dari 60%, dan nilai standar deviasinya 21,68%, nilai ini menunjukkan data cenderung tidak bervariasi atau berkelompok. Tidak bervariasinya data karena realisasi pembayaran tunggakan pajak dengan surat teguran relatif rendah dilakukan oleh penanggung pajak sehingga menghasilkan rasio efektivitas surat teguran dengan rata-rata nilai di bawah nilai 60%.
b. Hasil Analisis Statistik Deskriptif Surat Paksa
Apabila tunggakan pajak belum dibayar waktu 21 hari setelah Surat Teguran dikirimkan, maka akan diterbitkan surat paksa yang digunakan untuk menagih utang pajak dan biaya penagihan pajak.
Surat paksa dalam penelitian ini diukur menggunakan rasio perbandingan jumlah nominal realisasi pembayaran atau pencairan surat paksa terhadap target pembayaran surat paksa yang diterbitkan dikali dengan 100% (efektivitas surat paksa). Nilai efektivitas surat paksa KPP Pratama Bulukumba selama tiga tahun yaitu periode 2019- 2021 disajikan dalam tabel berikut ini :
Tabel 4.3
Nilai Surat Paksa (X2)KPP Pratama Bulukumba Tahun 2019-2021
2019 2020 2021
Januari 98,96% 139,99% 44,95%
Februari 46,88% 130,24% 44,73%
Maret 46,37% 137,00% 41,32%
April 97,82% 44,71% 29,11%
Mei 82,52% 48,01% 31,20%
Juni 92,48% 50,71% 35,27%
Juli 59,87% 41,07% 58,35%
Agustus 58,17% 43,19% 57,78%
September 56,93% 41,62% 54,99%
Oktober 33,24% 58,29% 29,02%
November 34,16% 43,13% 26,29%
Desember 36,14% 43,94% 26,88%
Minimum 33,20% 41,10% 26,30%
Maximum 99,00% 140,00% 58,40%
Mean 61,96% 68,49% 39,99%
Standard Deviation 24,84% 40,88% 12,15%
Sumber : Data yang telah diolah penulis (2022)
Dari tabel 4.3 diatas, dapat diketahui bahwa pada tahun 2019 tingkat efektivitas pencairan atas penerbitan surat paksa tertinggi terjadi bulan januari yaitu sebesar 99,00% dan terendah sebesar 33,20% terjadi pada bulan oktober. Sedangkan rata-rata tingkat efektivitas surat paksa yaitu sebesar 61,96%. Hal tersebut menunjukkan bahwa surat paksa pada tahun 2019 kurang efektif karena masih berada pada kategori 60%-80%. Tahun 2020, tingkat efektifitas surat paksa tertinggi terjadi pada bulan januari sebesar 140,00% dan terendah sebesar 41,10% pada bulan juli. sedangkan rata-rata tingkat surat paksa yaitu sebesar 68,49%. Hal tersebut menunjukkan bahwa surat paksa pada tahun 2020 kurang efektif karena masih berada pada kategori 60-80%. Tahun 2021, tingkat efektivitas surat paksa tertinggi terjadi pada bulan juli yaitu sebesar 58,40% dan terendah sebesar 26,30% terjadi pada bulan november.
Sedangkan rata-rata tingkat efektivitas yang dicapai dari surat paksa yaitu sebesar 39,99%. Hal tersebut menunjukkan bahwa surat paksa pada tahun 2021 tidak efektif karena berada pada kategori kurang dari 60%.
Hasil pengujian statistik deskriptif surat paksa, pada tabel 4.3 menunjukkan secara keseluruhan tahun 2019-2021 nilai efektivitas tertinggi sebesar 140,00% berada pada bulan januari tahun 2020. Nilai efektivitas surat paksa terendah KPP Pratama Bulukumba adalah sebesar 26,30% terjadi pada bulan november tahun 2021. Rata-rata nilai efektivitas surat paksa sebesar 56,81% pada tabel 4.1 menunjukkan bahwa surat paksa belum efektif karena berada pada
kategori kurang dari 60%, dan nilai standar deviasinya 30,30%, nilai ini menunjukkan data cenderung tidak bervariasi atau berkelompok. Tidak bervariasinya data karena realisasi pembayaran tunggakan pajak dengan surat paksa relatif rendah dilakukan oleh penanggung pajak sehingga menghasilkan rasio efektivitas surat teguran dengan rata-rata nilai di bawah nilai 60%.
c. Hasil Analisis Statistik Deskriptif Efektivitas Pencairan Tunggakan Pajak
Efektivitas adalah kemampuan suatu unit untuk mencapai ataupun melampaui target dan tujuan yang ingin dicapai (yang telah ditetapkan). Efektivitas pencairan tunggakan pajak adalah seberapa besar realisasi pembayaran dan pengurangan atas piutang yang terbit sebelum tahun berjalan dalam pencapaian target jumlah piutang pajak awal yang telah ditetapkan dan seharusnya dicapai pada suatu periode tertentu. Dalam penelitian ini, cara yang digunakan untuk mengukur efektivitas pencairan tunggakan pajak yaitu dengan membandingkan antara realisasi pencairan tunggakan pajak dengan target pencairan tunggakan pajak dikali dengan 100%. Data realisasi dan target pencairan tunggakan pajak disajikan dalam tabel berikut ini :
Tabel 4.4
Target dan Realisasi Pencairan Tunggakan Pajak KPP Pratama Bulukumba Tahun 2019-2021
2019 2020 2021
Januari 35,43% 115,93% 23,42%
Februari 34,54% 118,59% 20,89%
Maret 31,98% 137,58% 22,53%
April 45,79% 24,91% 28,00%
Mei 44,81% 25,82% 28,68%
Juni 47,44% 25,33% 28,66%
Juli 57,19% 53,07% 46,92%
Agustus 58,00% 52,39% 46,58%
September 58,80% 48,69% 49,60%
Oktober 35,98% 29,13% 19,64%
November 24,82% 32,03% 13,49%
Desember 25,41% 28,48% 36,77%
Minimum 24,80% 24,90% 13,50%
Maximum 58,80% 137,60% 49,60%
Mean 41,68% 49,60% 30,43%
Standard Deviation 12,15% 41,64% 11,90%
Sumber : Data yang telah diolah penulis (2022)
Berdasarkan tabel 4.4 di atas menunjukkan hasil pengukuran untuk efektivitas pencairan tunggakan pajak pada KPP Pratama Bulukumba tahun 2019-2021. Pada tahun 2019 nilai efektivitas pencairan tunggakan pajak tertinggi terjadi pada bulan september yaitu sebesar 58,80% dan tingkat efektivitas terendah sebesar 24,80% terjadi pada bulan november. Sedangkan rata-rata efektivitas pencairan tunggakan pajak sebesar 41,68%. Hal tersebut menunjukkan bahwa pencairan tunggakan pajak tahun 2019 tidak efektif karean berada pada ketegori kurang dari 60%. Tahun 2020, efektivitas pencairan tunggakan pajak tertinggi pada bulan maret yaitu sebesar 137,60% dan tingkat efektivitas terendah sebesar 24,90% terjadi pada bulan april.
Sedangkan rata-rata efektivitas pencairan tunggakan pajak sebesar
49,60%. Hal tersebut menunjukkan bahwa pencairan tunggakan pajak pada tahun 2020 tidak efektif karena berada pada kategori kurang dari 60%. Tahun 2021, efektivitas pencairan tunggakan pajak tertinggi terjadi pada bulan september yaitu sebesar 49,60% dan tingkat efektivitas terendah sebesar 13,50% terjadi pada bulan november.
sedangkan rata-rata efektivitas pencairan tunggakan pajak sebesar 30,43%. Hal tersebut menunjukkan bahwa pencairan tunggakan pajak pada tahun 2021 tidak efektif karena berada pada ketegori kurang dari 60%.
Hasil pengujian statistik deskriptif variabel dependen efektivitas pencairan tunggakan pajak pada tabel 4.4 menunjukkan secara keseluruhan tahun 2019-2021 tingkat efektivitas pencairan tunggakan pajak tertinggi KPP Pratama Bulukumba adalah sebesar 137,60%
terjadi pada bulan Maret tahun 2020, sedangkan nilai efektivitas terendah sebesar 13,50% terjadi pada bulan november tahun 2021.
Rata-rata tingkat efektivitas efektivitas pencairan tunggakan pajak KPP Pratama Bulukumba tahun 2019-2021 adalah 43,25%% menunjukkan bahwa efektivitas pencairan tunggakan pajak belum efektif karena berada pada ketegori kurang dari 60%, dan nilai standar deviasinya sebesar 27,64%, nilai tersebut menunjukkan bahwa data cenderung tidak bervariasi atau berkelompok. Tidak bervariasinya data karena realisasi pencairan tunggakan pajak belum dilakukan secara intensif oleh penanggung pajak sehingga menghasilkan rasio efektivitas pencairan tunggakan pajak dengan rata-rata nilai dibawah 60%.
2. Uji Asumsi Klasik