BAB II PROSES GARAP
2.5 Deskripsi Naskah
2.5.3 Stuktur Dramatik
21
Eksposisi merupakan pengantar awal terhadap kejadian-kejadian yang akan berlangsung dalam satu cerita. Dimulai dari suara gerimis pada malam hari, Rosa yang sedang duduk di atas kursi goyang, Pupu menggeletakkan miring di atas tikar, dan Selasih yang menggedor-gedor pintu untuk dibukakan pintunya.
ROSA duduk menekuk dua kakinya di atas kursi goyang tua, tepat di depan daun jendela ruang tengah yang disekat tirai tembus pandang.
Didepannya menghampar kebun tomat. Bajunya terusan warna gelap tanpa corak. Rambut panjangnya diikat satu ke belakang, ditutupi kerudung tipis berwarna merah tua. Kepalanya agak terkulai di atas dua dengkulnya. Di tangan kirinya, sebuah tomat. ROSA menggumamkan lagu, tapi tidak dinikmatinya. Suara seraknya lebih mirip orang menggigil.
PUPU menggeletak miring di atas tikar, di belakang pintu ruang tengah. Hanya setengah badannya yang muncul melintang di tulang pintu. Badannya dibungkus sarung abu-abu. Rambutnya pendek dan tipis, berkacamata minus.
PUPU: Kak, sudah malam. (Melihat arlojinya) Hampir pagi…
ROSA: (Meremas tomat. Bijinya dikucurkan ke daun daun toma Menikmatinya)
TERDENGAR PIRING YANG DIPECAHKAN DARI KAMAR SELASIH YANG TERKUNCI
PUPU: (Bangkit. Membereskan piring-piring. Menatap Rosa di tulang jendela) Kalau dikurung terus, dia bisa nekat.
ROSA: (Dingin, tanpa perasaan) Lonte kemayu. Kepalanya harus kita gunduli. Ambilkan gunting!
22 PUPU: (Heran) Kak, jangan
ROSA: (Menuju pintu, mengambil gunting dari kamarnya. Berhenti di depan kamar terkunci. PUPU menghalangkan badannya di depan kamar terkunci) SELASIH: Buka!! (Terdengar jeritan Selasih dari balik pintu. Pukulan di daun pintu. Lalu tangisan)
ROSA :(Bergegas ke halaman. Memotong batang batang tanaman tomat.
Tangisan Selasih masih terdengar. Rosa membuang gunting. Melesapkan ke dua kaki telanjangnya ke gundukan tanah. Membuang nafas) Aku capek.
PUPU: (Merapat di tulang pintu. Berlutut) Kita semua.
b. Komplikasi
Dalam komplikasi ini para tokoh sudah mulai diperkenalkan kepada setiap konfliknya. Jadi sudah mulai agak nampak dengan mengenalkan beberapa konfliknya kepada para tokohnya.
1. Pertama:
Konflik di tujukan kepada Selasih yang meminta diantarkan ke makam ayahnya, namun Pupu melarang
SELASIH: Antar aku ke makam ayah.
PUPU: Sarapan. Kamu menanggung dua nyawa sekarang. Jangan egois. (Pupu menuju pintu depan)
SELASIH: Aku akan sembuh. (Berjalan limbung menuju kebun tomat.
Mengangkat daster, memperlihatkan perutnya, mengangkangkan kaki, lalu menjatuhkan seluruh tubuhnya ke tanah)
23
PUPU: Asih !…(Menarik tubuh Selasih, ditelentangkan. Pupu membersihkan perut adiknya) Apa-apaan kamu?! Baru kemarin kita makamkan ayah. Sekarang, apa aku harus mandikan mayatmu lagi?
Ada apa dengan rumah ini? Kematian seperti penyakit! Menular kesana kemari.
2. Yang ke dua:
Konflik ini ditujukan kepada Selasih dan Brojo, Selasih beruasaha menyembunyikan kehamilannya dari Brojo, namun Brojo sudah mengetahuinya dan memanfaatkan kesempatan tersebut.
BROJO: Hanya dari kamu, Selasih. Teh kamu lembut di lidah. Lembut seperti kulit dadamu.
SELASIH: Saya tak manis lagi. Saya kena penyakit.
(Menahan mual, lalu muntah) BROJO: Selasih, kamu lagi…
SELASIH: Ngga! Ini bukan hamil. Saya kena cacar. Ini penyakit.
Menular…
BROJO: (Tidak menggubris. Memangku tubuh Selasih dengan sigap, lalu di telentangkan di atas meja, dengan naada mengancam).
Selasih, kamu mulai main umpet di depanku. Kamu sembunyiin sebagian dari milik aku. Kamu kira, Brojo akan lepas tangan?!
SELASIH: Saya bergaul dengan banyak orang. Tidak cuma bapak.
BROJO: (Suaranya meninggi) Tidak mungkin kamu bergaul, selain dengan aku! Cuma Brojo bisa kembaliin semangat hidupmu. Selasih!
Ingat, tiga kali sudah kamu coba-coba nekat. Nenggak pil. Minum miras oplosan. Dan terakhir, menjelang tahun baru, kamu kirim sms linglung, buat narik perhatianku. Kamu bilang…
SELASIH: (Tenang) Saya mau gantung diri.
24 BROJO: Jiwa kamu itu labil. Selalu labil.
c. Klimaks
Pada tahap ini konflik yang dialami tokoh mulai memuncak.
Klimaks yang meski tidak menyelesaikan masalah tapi konflik itu sendiri telah berkembang sedemikian rupa, menyisakan sejumlah pertanyaan buat penonton kelak
ROSA: Aku rela begini buat jaga martabat. Tapi kau bunting, menjual perawanmu, lebih rendah dari harga banting. Heh lonte kecil, aku rela terperosok ke rawa, buat mengangkat kakimu. Tapi kamu malah ceburkan diri di lumpur laki-laki.
SELASIH: Aku tak peduli martabat. Aku hidup dengan dagingku. Aku merayakannya, kapanpun aku bisa. Kapanpun aku suka!
ROSA: Lonte kamu!
SELASIH: Kamu peternaknya!
ROSA: Kotor mulutmu!
ROSA MENGANGKAT KURSI. SELASIH MENGANGKAT KURSI.
KEDUANYA HENDAK SALING MELEMPAR.
PUPU MUNCUL. HANYA MEMAKAI BAJU DALAM. RAMBUT
PALSUNYA DIPASANGI GULUNGAN PENGERITING.
MENUMPAHKAN KEROSENE KE LANTAI. MENYALAKAN ROKOK.
MENGHISAPNYA DENGAN CEPAT.JONGKOK DI ATAS MEJA, DIANTARA ROSA DAN SELASIH. CAIRAN KEROSENE DIGELONTORKAN KE SEKELILING BADANNYA
PUPU: (Suaranya datar) Hentikan. Atau kubakar rumah ini. Aku tak punya pilihan.
25 d. Resolusi
Pada tahap ini pengarang memberi gambaran dari rahasia motif.
Hal ini dapat diketahui dari data berikut.
PUPU: Klienmu menunggu. Selesaikan! Selesaikan!
RIAN: (Membaca cepat dengan nafas pendek, seperti energi pelari mencapai garis finis) Kau buat lingkaran penuh dengan pisaumu. Sebuah rongga besar terkuak. Jeroan yang lunak, otot yang menegang, dan kelenjar kelenjar yang terputus, bertumpahan, berlarian membangunkan induk berahi. O Gita…O Gita…kau hampir sampai ke puncak titian.
Genggamlah dengan kukuh. Sebuah phallus ungu membiru, yang harus kau tegakkan, seperti mengocok pusat magma. Dan erangan terakhir yang kau dengar, wahai Gita, puisi daging paling perih…celupkan kini ke air paling mendidih… (Terkulai di lantai, muntah)
PUPU: (Riang. Mengucurkan air mendidih ke cincangan ayam) Yihuu…oporku matang.
RIAN: (Meringkuk di lantai. Bicara lirih) Putri….aku seorang gay.
PUPU: (Sepi. Menggeleng) Begitu?
RIAN: (Suaranya melonjak. Menangis) Aku gay! Aku mengembara di dunia yang berubah-ubah. Aku harus bertahan! Aku lain. Tak bisa di sisimu. Tak bisa tolong kamu!
PUPU: (Nafasnya meledak. Melepaskan rambut palsunya. Berjalan tergesa, mondar-mandir dengan langkah cepat namun labil) Sudah kudengar.
Harusnya kuduga dari awal. Aku bukan untuk siapa-siapa. Aku tak layak. Sampah di comberan. (Melemparkan buku Bhagawadgita ke tubuh Rian) Dan kamu berhasil! Merobek kulit tipisku. Membenamkan borok bernanah. Dan aku harus mencungkil sendiri mata bisul ini, dengan buku sial penuntunmu! Aku bahkan sudah sepah. Aku sepah sebelum dimamah. (Mengambil cincangan daging ayam mentah, lalu diguyurkan ke tubuhnya) Tindakan apa lagi yang berarti? (Tangisnya meledak)
26 e. Konklusi
Pada tahap ini pengarang memberi penyelesaian dari
permasalahan-permasalahan yang ada menjadi sebuah kesimpulan.
RIAN: Kenapa? (Terkekeh. Membuka kostumnya. Memakai lingerie, lalu tubuhnya mulai meliuk di depan mayat Brojo. Roman wajahnya berubah keras) Tidak semua perbuatan akan memberimu jawaban. Kalian yang perempuan, selalu menuntut dunia memberi jawaban. O, jawaban cuma serpihan kertas. Di dunia yang jamak dan berubah-ubah, biar tangan ini saja yang bekerja. Otak harus kau tidurkan di kamar gelap. Supaya hasratmu tumbuh. Dan di tengah kegelapan, dunia juga akan ikut tumbuh…menerobos kelaziman…memberimu penglihatan. Pergilah bersama malam! Hanya saat malam, dunia memberimu lebih banyak pilihan. Pergi perempuan! Biar tanganku menuntaskan pesta ini. (Rian menarik tirai ruang tengah)
LAMPU DI RUANG TENGAH MEREDUP. SUARA MUSIK BERGELOMBANG. DALAM SILUET, TAMPAK TANGAN RIAN CEKATAN MENCABIK PAKAIAN KORBAN. DENTUMAN PAKU BUMI TERDENGAR LAGI.
ROSA, PUPU, SELASIH, BERJALAN MENUJU RIMBUN POHON BAMBU. DI LANGIT YANG HITAM, MELINTAS TERBANG TIGA EKOR KUNANG-KUNANG. SUARA SUARA HANYA TERDENGAR DALAM GELAP.
SELASIH: Kunang-ku ng…
PUPU: Mereka juga pergi…
ROSA: Tak bisa hidup di jalan layang…
SELASIH: Kita kemana?
PUPU: Kita terkurung di jalan layang…
SELASIH: Siapa kita?
27 ROSA: Kita tinggal perca.
PUPU: Bisakah kita hidup setelah ini?
SELASIH: Setelah membunuh, aku merasa lebih pulih.
ROSA: Kita harus terjaga. Perempuan harus terjaga.
Lihat kunang-kunang itu!
PUPU: Mereka kembali.
ROSA: Kita harus kembali!
SELASIH: Ya. Kita sudahi pesta ini.