III. Peralatan l. Wayang kulit
5. Suluk. Suatu unsur pertunjukan yang khas dalanr
pertunjukan
wayang, termasuk wayangpurwa.
adalah suluk.yang dapat
diterjenrahkan sebagai"nya,yian
peurbawa sua-rh rn rp
'u rn o-! la
ri
h, n.
ri- rg lt.
1l ta n-
'n h- Ll-
ia a.
rg lg s- la n- ta
*
Ki
mi
JQ
Wayng, Kebudayan Indorcsbbr
paacasilzsana"
atau
dalam bahasa Inggris penulis terjemahkan sebagai tnoctd sortg. Fungsi suluk adalahuntuk
menciptakan suasana- suasana sedih, tenang, tegang, marah, romantis dan sebagainya.Dalarn seni pedalangan yang tersebar paling luas,
yaitu
peda_langan wayang purwa
gaya Surakarta,dikenal
suluk-suluk yang jumlahnyalebih
dari40,
yang digolongkan menjadi tigayaitu
pathetart,sentlon
dan attha-adha.pothetan
digunakanuntuk
menciptakall suasalla tenang, agung, syahdu dan seba-gainya,
dan nyanyian
dalang dalampathetan diiringi
bunyi rebab, gertder, gambangdan suling,
sedangpada
nada-nadatertentu dibunyikan
juga kendang, kenong, kempul dan gong.Serdon
yang membawakan suasana romantis atau sedih jugadiiringi bunyi
alat-alat gamelan tersebutdi
atas kecuali rebab.Suluk
yang membawakan suasana tegang, gairah atau marah dinamakanadha-adlu, dan iringannya
adalahdodogan
be-rupa
bunyi
cempala dan kepyakan yakni bunyi kepyak dalang serta bunyi gertder, Sedangkan kernpul, kenong dan gong serta kendang kadang-kadang dibunyikan seperti halnya pada pathet- att dan settdcttt.Kecuali untuk
membawakan suasana, pemakaian sulukdapat
menandai ternpat, adegandan waktu
dinyanyikannya.Misalnya,
ienis
suluk yang dinam akan Send.n Kloloran hanya dinyanyikan padaakhir
adegan yang bertempatdi
kaputren,yaitu
bagian dalam istana rajadi
mana tinggal permaisuri danputri-putri
lainnya, sesudah selesai dialog antara raja dan per- maisurinya. Jenispathetan
yang dinamakanpathet
ManyuruAgeng dinyanyikan
seusaibunyi
gendittg Damarkeli, khususuntuk
adegankaputren
padawaktu Dewi
Banowati muncul, permaisuri raja Duryudana dari kerajaan Astina.Suluk-suluk yang menanclai waktu dinyanyikannya adalah:
Pathet
Sangalilantah
danPathet Manyura
l4/antah. pathet Sanga. lilantah dinyanyikanuntuk
menandai bahwa pagelaranwayang yang
sedang berlangsung memasuki bagian keduayang
dinamakanPathet
Sanga (bagianpcrtama
dinamakanPathet Nem). Pathet lllary,,ura llantah dinyanyikan
dalanguntuk memberi isyarat
bahwa pagelarannyakini
memasuki bagianketiga yakni yang terakhir yang
dinam akan puthet Manyura.Jika
pagelaran semalamsuntuk yang
lamanya se-kitar
9jam itu
dibagi tiga samarata, rnaka daripukul 2l_24
i
da me
Tah i I
I
a
l
d tr a
v Y al yz
m ya Se pa
ri
a- a.
t-
k
?
.n a-
yi la g.
p
b.
ft
e- rg ta ,t-
*
a.
la
n, tn )t- ro
US
II, h:
et
an ua an ng
fti
ret se-
24
WayqPro*a
Jl
termasuk Pathet
Nem, pukul 24-03
termasuk Pathet Sangadan pukul 03-06
termasuk Pathet Manyura. Namun dalam pengamatanpenulis waktu
mengadakanstudi
lapangan me- nyaksikan puluhan pagelaran wayang purwa dari puluhan da- lang, pembagian waktu yang seketatitu tidak
pernah terjadi.Rupanya para dalang beranggapan bahwa yang
lebih
penting adalah dayapukau
pagelarannya, makajika
para penonton terasa menanggapi sesuatu adegan dengan sangat baik, adeganitu
dapat direntang panjang olehnya, misalnya suatu adegan banyolun (lawak).Rupanya pembagian
waktu
secaraketat hanya
berlaku bagi para pengamat yang membuatteori tertentu,
seperti hal-nya
MangkunegoroVII
yang memberikan makna khusus pada pertunjukan wayang purwa. 636.
Tembangatau Sekar.
Meskipunsuluk dan
tembang sama-sama dinyanyikan oleh dalang, namun fungsi dan isinya berlainan.Suluk
berfungsiuntuk
membawakan suasana ter- tentu dan menandai adegan, waktu, tempat atau tokoh tertentu.Isi
suluk,yaitu
syair-syair yang dipakai oleh dalang, kebanyak-an diambil dari
karya-karya sastra-puisidalam
bahasa JawaKuno
(bahasaKawi) atau
Jawa Baru yang terkenal, misalnyadiambil
dari Kakawin-kakawin Ramayana, Arjuna Wiwaha danterutama dari Kakawin
BharataYudha (abad ke-10
sampai abad ke-12). Puisi-puisi dalam bahasa Jawa yanglebih
muda yang paling banyak digunakan adalah Serat Bratal'udho karya YasadhipuraI,
seorang pujangga keraton Surakarta menjelang akhir abad ke-18.Meskipun tembang
juga dinyanyikan oleh
dalang, tetapiyang menyanyi
seolah-olah adalah scsuatutokoh
wayang.misalnya
Petruk, yang menyanyi untuk
nrcnghibur Arjuna yang sedang sedih. Petruk, Gareng. Bagong dan ayah mereka, Semar, biasanyajuga menyanyi untuk
nrcnghiburdiri
dan para penonton.lsi yang dinyanyikan dalam
rerntrangtidak terikat
pa-da
norma-normaklasik seperti
y,angmengikat
suh-rk. baik mengenailagu maupun
nlengLtnai sy,air-syairnya.Jika
pacla 63Mangkunegoro VII, tulisannya dalam majalah bcrbuhasa llelandl. 1)rarra.Tahun XIII (1933), hlm.79-lll.
72
Wayag, Kebudaywn Indonesb dan patcasilasuluk
lagu-lagunya kebanyakandari jenis
SekarAgeng
atau TembangGede
yang setiapbaitnya terdiri dari
empat bzrisdan
setiapbaris dalam bait itu jurnlah
suku katanya sanla,syair untuk tembalg'
kebanyakan clarijenis Macapat
atau dari lagu-lagu ciptaan baru, misalnya lagu Jakarta Indah, Buta- buta Galak, Membangun Dem, dan sebagainya.7.
Dodogan. Dua macam cempala yang tersebutdi
muka, yang dipukulkan pada sisiluar
atau sisi dalam kotak, menim- bulkan suara yang dinamakan dodogan, yang membantu men-ciptakan
suasanayang diinginkan. Bunyi
cempala-cempalaitu, terutama bunyi
cempala besar,juga
digunakan untuk memberikan perintah-perintah terselubung kepada para niyaga.Dalam pedalangan gaya Surakarta, misalnya, pada pokoknya
dikenal
enammacan
dodogatz,yakni (l)
tamba (sekali ke-tukan, kalau
dilukiskan dengan tandatitik: .), (2)
ctodogan rangkep (Inggris:triple
knocks, kalau dilukiskan dengan tandatitik: . .
. atau bunyinya seperti derog-dog),(3)
dodogan geter(kalau dilukiskan
dengantanda titik: atau bunyinya
se-perti
derug. Dodogan lamba dan dodogan geter dapat diulang- ulang(lihat di
bawah).(4)
Kemudian adapola
dodogan yang dinamakan mbanyu tumetes (sepertititik titik
air). (5) dodogan atqganter atau seru,yaitu
dodogan yang terus-menerus beran- tara sangat pendek (seperti tandatitik.
...) dan(6)
apa yang dinamakan tetegan (pukulan cempala pada bagian dalam kotak di bagian atas dekat bibir kotak).Dodogan mbanyu tumetes lima
kali (. . . . .)
berarti bahwa dalangminta dimainkan
gending A.,-ak-ayak,yaitu
gending srambahan (serba guna) yang berirama lambat dan bersuasana tenang. Dodogangeter tujuh kali (.. ..
..) adalah isya-rat
dalang supaya niyaga memainkan gending srepegon, gen-ding
yang membawakan suasana tegang danjuga
banlak
di- gunakan, misalnyauntuk
adegan-adegan perangdan
adeganlain-lain yang bersifat tegang.
Kombinasi
berbagai macamdodogan itu dapat
dipakai dalanguntuk
menimbulkan suasana yang dikehendakinya agar pertunj ukannya terasa hidup.8.
Kepyakon. Kecrekan atau keprakan adalah suara kepyak (atau juga dinamakan kecrek atak keprak), yang fungsi utarna-Wayaag Pwwa J J
nya
untuk
menghidupkan pertunjukan, seperti halnya dodogan.Kadang-kadang kepyakan
itu juga
berfungsiuntuk
memberi isyarat kepada niyaga seperti halnya dodogan, terutama untuk mempercepat, melambatkan atau menghentikan gending. Jika kedua tangan dalang sedang sibuk memainkan wayang-wayang, maka kepyakan menggantikan dodogan sebagai pemberi isyarat- isyarat dari dalang.Dalang yang
ahli
dapat memanipulasi suara-suara kepyakanitu untuk
menimbulkan efek-efek atau suasana yang dikehen- dakinya.9.
Gending-gending. Dalam pedalanganklasik
gaya Sura-karta
pada masaini,
pemakaian gending-gending iringan page- laran wayang purwa diatur sesuai dengan suasana yang dibawa-kannya dan watak
wayangnya. Gending-gendingitu
terbagidalam
tigapathet,
seperti halnyasuluk. Untuk
menghadapi segala kemungkinan pementasanlakon
wayang purwa, niyaga harus menguasai sebanyak kuranglebih
dua ratus macam gen- ding, meskipun dalam pementasan suatulakon
biasanya tidaklebih dari 30
gending yang dimainkannya, termasuk gending-gending ciptaan baru. Adanya begitu
bar"ryak gending-gen-ding yang
diperlukanitu
karenasifat
gending,sifat
wayang.dan
adeganyang diiiinginya harus
sesuai.Untuk
memberi beberapacontoh: untuk
adeganieier
(permulaan)di
kalangan para Pandawadi Amarta
atau juga para Dewadi
Kahyangan gendingnya adalahKawit.
Ger,dinguntuk
adeganieier
pata Kurawadi
Astina adalah Kabor, danuntuk
adeganieier
lain- lain gending yang dimainkan adalah Karawitan, misalnya adeganjejer Sri
Kresnadi
kerajaan Dwarawati.Untuk
adegan ke-putren di Dwarawati
gendingnya adalahTitipati, untuk
ke-putren Astina,
khususnyaDewi
Banuwati, gendingnya ada-lah
Damarkeli, demikianlah seterusnya,terlalu
panjang kalaudiuraikan di sini. Aturan
penggunaan gending-gendingitu
sudah lama ditetapkan, antara lain termuat dalam karya Nojo-wirongko alias Atmotjendono almarhum, berjudul
Serat Tunt unan Padalangan. 6aNada-nada dalam gending-gending Jawa, darr juga gending- dLihut penerbitan tahunan berbahasa Belanda, Diawa, tahtn ke-3/1923 menge- nai hal tersebut
I -
7
4
Wayng, Kcbudayan Indoaesia hn Putcasilagending Sunda, Madura dan Bali, berbeda dari nada-r.rada dalam
lagu
atau musik Barat yangjuga
terdapat dalam musik Indo- nesiamodern.
Nada-nada dalam gendinggendingitu
dikenal sebagai nada-nada pentatonis sedang nada-nada dalam musik Barat dan musik Indonesia modern dikenal sebagai nada-nada diatonis.Di
sampingitu, dalam
nada-nada pentatonisitu
di-kenal pula
adanya pembedaan antara /aras slendro
dan laras Pelog, sedang dalam tiap larasitu
terdapattrgapathet.Jika kita
mengadakan perbandingan dengan nada_nadadiatonis, maka nada-nada dalam raras slend
ro i*rp
sekari de- ngan nada-nada do-re-mi-sol-ra, sedang nada-nada dalam larasP elog m i r ip sekali dengan nad a-n ada si_d o-mi_fa_sol.
Meskipun
sama-sama berlarasSlendro, namun
gending_gending yang berlainan pathet-nya menimbulkan ,trurJru
y*g
berlainan pula. Misarnya, suatu
titi
raras (dalam bahasa Belandadisebut noot) yang
dalam gending berpathetNem
terdengar sepertimt,
dalam pathet sanga terasa sepertido.
Dalam raras Slendro terdapat tigapathet yaitu
pathet Nem, pathet Sanga dan Pathet Manyura, sedang dalam laras pelog pathet_pathet_nya adalah Pathet Lima, pathet Nem dan pathet Barang.' 10. Gerong atau
koor pria.
Kecuari menabuh berbagai arat gamelan, sebagian dari para niyaga kadang_kad"rrg*.ny*yikan
apa yang dinamakan gerong,
yaitu
paduan suarapria.
Namun gerongitu
kadang kala bukan dinyanyikan oleh sebagian para niyaga karenaada
orang-orangyang
bertugas khusJsuntut
menyanyikannya,baik untuk
gerong maupununtuk
menya-nyikan
apa yang dinamakan bawa,yaitu
nyanyian pengantaryang merupakan nyanyian tunggal (bukan paduan
suara).Penyanyipenyanyi khusus
itu
dinamak an wiraswara dan tidakpenulis masukan
sebagai seniman-seniman pelaksana karena kejadiannya jarang, sedang yang paling seringterjadi
adalah dirangkapnya fungsiitu
oleh sebagian para niyaga.Nyanyian gerong atau
juga
disebut geronganitu
biasanya beriring-iringan dengan sindenan, syair-syair yang dinyanyikanpun
sama, biasanya darijenis
lagu Macapat dari karya_karya sastra terkenal sepertikarya
sastra MangkunegoroIV,
paku BuwonoIV,
dan sebagainya, meskipun lagu_lagu ciptaan baru dapat pula dinyanyikan oleh penggerong dan pesinderu, misal_nya lagu Lumbung Desa, Buta-buta Galak dan sebagainya.
t
(
t
s
I
k k It
Pe
a )-
IS
I
(
a
,-)
c
a Ir
IS
a t-
'a n
,a
u u l-
WayqPuwa 75
ll. Sindenan.
Dewasaini, suatu pertunjukan
wayangpurwa tidak
dianggap lengkapjika tidak
ada pesindennya, meskipun dalamkonteks
sejarah munculnya pesinden dalam pagelaran wayangpurwa belum
dikenal padaawal
abad ini.Paling sedikit harus ada seorang pesinden, biasanya dua orang,
dan
malahan penulis pernah menyaksikan pagelaran wayang purwadi
Istora Senayan Jakartayang
mengikutsertakan dua-puluh lima
orang pesinden! Dalang pertunjukan yang klasik, fungsi pesindententu
sajauntuk
menciptakan suasana indah yang diperlukan, maka sindenan atau nyanyian pesinden, baik dalam solo maupun dalamkoor
seyogyanya tidak sampai meng- ganggu keseluruhan jalan cerita.Seperti halnya dalam gerong, isi sindenan biasanya diambil
dari
syair-syairkarya
sastra Jawa baruyang
terkenal, bukandari
kakawin-kakawin sepertiyang
digunakan dalam suluk.Pada masa
ini,
dengan semakin meningkatnya fungsi wayangpurwa
sebagai sarana hiburan dan sarana penerangandari
pe- merintahlewat
berbagai stasiunRRI
maka lagu-lagu barupun sering dinyanyikanoleh
paru pesinden dan penggerong, misal- nya lagu-lagu Taska, Jakarta Indah, Modernisasi Desa, Lumbung Desa,dan
sebagainya,tapi
terbatas pada adegan-adegan para panakawan Semardan
ketiga putranya, Gareng,Petruk
dan Bagong.Untuk
adegan-adegan yang sifatnyaklasik
masih di- nyanyikan sindenan dari karya-karya sastraklasik
pula, misal-nya
syair-syairdari
Serat Ramakarya
pujangga yasadipura, Serat Manuharakarya Mangkunegoro IV, dan
sebagainya.Berbagai Gaya l{ayang Purwa Jawa
Dalam seni-budaya wayang purwa Jawa terdapat beberapa gaya atau dalam bahasa Jawa disebut gagrag, mula-mula tumbuh
di
daerahnya sendiri-sendiri danmemiliki ciri-ciri
khas masing- masing. Yang paling dikenal adalah gaya-gaya wayarlg pLrrwa Surakarta dan Yogyakarta, kemudian juga gaya wayang purwa Banyumas. Ketiga gaya wayatlg purwa Jawaini
telah dibuku- kan, yang tertua adalah pembakuan dan penerbitan gaya Sura- karta, yangtertua
pula perguruan pedalangannya,yaitu
dimu- lai dalamtahun
1924di kota
Sala.6s Jika pedoman pedalangan6sDiterbitkan
oleh yayasan Habirandha yogyakarta tahun 197?, berjudul
P e d h alan gan N ga y o gy akar t a.
rt n n a k t- tr ).
k
ia
h
7 6 Waytg, Kcbdayun ltfuncsia dan Paacasih
gaya Surakarta telah
diterbitkan
pada awal dasawarsa 1930-an dan setelahitu
berulangkali
dicetak ulang, pedoman pedalang- an gaya Yogyakarta baruditerbitkan
dalamtahun
1977 66 se- dang pedoman pedalangan gaya Banyumasbaru
diterbitkantahun
1983 sebagai hasil usaha Sena Wangi (Sekretariat Nasio- nal Pewayangan Indonesia).Perbedaan gaya-gaya pewayangan
itu
telah adajauh
sebe-lumnya sebagai akibat pertumbuhan yang berlainan di'berbagai daerah
itu.
Karena memiliki tradisi yang paling tua, kegiatannya dalam
pendidikan
dalangdan
penerbitan-penerbitannya yang terse- bar luas dan pernah memasukikurikulum
sekolah-sekolah ne-geri, maka
gaya wayangpurwa
Surakartalebih
dikenal dari gaya-gaya Yogyakartadan
Banyumas,juga lebih
dikenal dari wayang-wayang jenis lainnya dari berbagai daerah di Indonesia.Dalam wayang
purwa,
berbagai gayaitu,
kalau dikaitkan dengan kerangka dasar yang diuraikandi
muka, berbeda dalamhal: (l)
pakaian dalang dan niyaga,(2)
wujud wandha wayang- wayangnyayang meliputi pola-bentuk, perincian
tatahandan sunggingan (pemberian warna-warna), (3) wujud dan bahan
untuk membuat kepyak
(Surakarta),keprak
(Yogyakarta), atau kecrek (Banyumas), (4) dan boleh dikata dalain semua dari sebelas unsur-unsur audiovisualnya,yaitu
dalam kategori un- sur pertunjukan sampai denganl1
sebagaimana diuraikan ter- dahulu.Kecuali
itu, ukuran
wayang-wayang gaya Banyumas lebihkecil dari ukuran
wayang-wayang Surakarta-Yogyakarta,hanya kira-kira
7 S%-nya,hal
mana menggambarkan sifatnya yanglebih tua
karena lebih mendekati ukuran wayang-wayangkulit di Bali
dan KalimantanTimur-selatan
(daerah WayangKulit
Purwa Banjar).6766 Diterbitkan oleh PN. Balai Pustaka tahun I 983, befiudul Pathokan Pedhalang- an Gagrcg Banyumas. Penggarapannya oleh sebuah Panitia yang dibentuk oleh Sena
\l?ngi telah selesai dalam tahun 1980.
6TDiperkirakan bahwa wayang kulit di Bali (Purwa dan Ramayana) menggam- barkaln keadazn wayang purwa pada zaman Majapahit sedang wayang kulit Banjar menggambarkan keadaan wayang purwa pada zaman Demak. Sesudah zaman Demak hubungan antara kerajaan-kerajaan di Kalimantan Selatan dan Jawa terputus, sebagai- mana diriwayatkan dalam Hikayat Raja-raja Banjar dan Kota Waringin.
0-an ang-
'
se- :kan rsio-ebe- agai rlam :rse-
ne- dari dari
e sia.
lkan dam ang- rhan than rta),
dari un- ter- ebih arta, tnya iang iang
WoyryPw*a 77 Meskipun bagi kebanyakan penonton wayang purwa Jawa perbedaan-perbedaan
itu
terlalu sepeleuntuk
diketahui, namundi
sekolah-sekolah maupun kursus-kursus pewayangan, baik yang menyangklrt segi pedalangannya, segi kriyanya, segi kara- witannya dan sebagainya, perbedaan-perbedaanitu
nyata benar,hal
mana dapat diketahui kalaukita
membandingkan isi buku- buku pedoman pedalangan dari tiga daerahitu.tr
Dapat dicatat sebagai suatu hal yang amat menggembirakan bahwa setelah negara
kita
merdeka, terutama setelah adanya Sekolah-sekolah Kesenian tingkat menengahmilik
pemerintah 6eterlihat
adanya usaha-usaha para dalang dan seniman-seniwati pewayanganlainnya untuk tidak
membatasidiri
pada gayayang dikenal
di
daerah masing-masing, tetapi sebagai seniman- seniwati mereka bebas memilih unsur-unsur dari gaya apa pun yang digunakan dalam pagelaran atau pertunjukannya. Misal-nya
saja, seorang dalang yang terkenal yang pada pokoknya menggunakanpola
pedalangan gaya Surakarta,untuk
adegan-adegan
tertentu
menggunakan gaya Yogyakarta,baik
dalam pola-pola do do gan dan k e p y aktn ny a, dalam gen din g-gen din gny amaupun dalam suluknya. Dan dalam adegan lawak antara para panakawan
telah
biasa diperdengarkan lagu-lagudari
berbagai daerah dan suku bangsa, sehingga lewat pagelaran wayang purwa tercermin pula adanya semangat persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.68 Perbedaanaerbedaan itu menyanplkut peralatan rnaupun unzur-unsur audio- visual yang telah dibicarakan.
69Yrng merupakan pelopor adalah Konservatori Karawitan tli kota Sala yang kemudian menjadi Sekolah Menengah Kesenian Indonesia (SMKD. SMKI-SMKI itu kini terdapat di berbagai ibu kota propinsi (Yogryakarta, Bandung, Denpasar, Padang).
wlang- r Sena
Egam- Banjar )emak :bagai-
4
Konsepsi Kebudayaan dalam Wayang Punnra
Pengantar
Dalam
Bab I
telah dikemukakan sebuah konsepsi tentangkebudayaan Indonesia,
berpangkalpada kesimpulan
yan1diambil dua
orangahli
antropologi kebudayaan Amerika. Idetentang
kebudayaanyang telah
dikemukakandalam Bab
Iitu
akan dikembangkandan dikaitkan
denganisi
kandungan wayang purwa sebagaimana tersirat dalam lakon-lakon.Istilah
kebudayaan sering digunakan sama dengan 'kese-nian',
dan seringpula
orang-orang awam menggunakan istilah tersebut dengan makna yang berbeda-beda.Di
kalangan paraahli pun istilah
kebudayaan(culture)
digunakan dengan ber- aneka ragamarti
atas dasar konsepsi yang berbeda-beda, hal mana akan diuraikan di bawah ini.Dalam
kepustakaanmengenai wayang, istilah
wayangpurwa
sudah digunakan secara luas,7obukan istilah
populer$!a)'ang
kulit
yang masih kaburitu,
karena seperti telah dike- tllhy".rg purwa atau dalam bahasa Jawa krama ringgit purwa digunakan para penulis buku klasik sebagai sumber, baik yang sifatnya ilmiah maupun yang popu- ler, baik dalam bahasa Jawa, Belanda maupun dalam Bahasa Indonesia. Sebagai con- toh, buku L. Serrurier, De Wajang Poerwa (1896), ditulis dalam bahasa Belanda, buku J. Kats, Het lalatnsche Toneel, DeeL 1: Wajang Poerwa (1923), yang ditulis drl2m bahasa Belanda, buku-buku Mangkunegara yrr,serat pedalangan Rfuggit poer- wc, 37 jilid (Jakarta: Balai Pustaka, I 930), ditulis dalam bahasa dan tulisan Jawa, dan buku llardjowirogo, Sejarah Wayang Purwa, berulang kali dicekk dan diredaksi oleh Balai Pustaka, dalem bahasa Indonesia.78
Konsepsi Kcbufuyn fulamWayang
Pmn
7 9mukakan
di
atas ada banyakjenis
wayangkulit itu.
Sebagai- mana telah diuraikan dalam bab-bab sebelumnya, wayang purwa adalahjenis pertunjukan
wayangkulit,
dengan lakon-lakonyang
mula-mula bersumberpada
cerita-cerita kepahlawananIndia, yaitu
Ramayana dan Mahabarata. Kiranya dengan ada- nya uraian panjang lebar dalam bab-bab sebelumnya telah men-jadi
jelas apayang
terkandung dalam definisi wayang purwa tersebut.Konsepsi kebudayaan yang digunakan dalam wayang pur-
wa itu
khususnya nampak pada para panakawan yang fungsi- nya dalam pergelaran wayang purwa adalah sebagai abdi, pena sihat dan kawan-kawan seiring bagi para kesatria yang berbudi luhur, yang akan dlielaskan dalam bab ini.Konsepsi Kebudayaan
Mengenai
kebudayaan(culture) ada banyak
konsepsiatau definisi
yang diberikanoleh
paraahli ilmu-ilmu
sosial-budaya.
Dua
orang sarjana antropologi-budaya terkenal, A.L.Kroeber dan
C. Kluckhohn,
dalamtahun
1952 menerbitkanbuku berjudul Culture. A Critical
Reviewof
Concepts ottdDelinitiorts.
Dalambuku itu terkumpul
160 konsep dan defi- nisi yang mereka beri komentar, yang menurut sifatnya mereka golongkanke
dalam20
konsepdan deflnisi
yang deskriptif, 22 historis, 25 normatif, 38 psikologis,9
struktural. 39 genetis dan 7 yang tidak lengkap.Meskipun ada begitu banyak konsepsi tentang kebudayaan, dan yang didaftar dalam buku
itu
belum lagi semuanya, dalambuku itu kedua penulis
tersebut menyimpulkan bahwa idepokok
tentang kebudayaanyang.disetujui
kebanyakan ihnu-wan
sosialadalah,Tr Culture
consistsof pattents,
explicitand implicit,
rfi' and Jbr bel.avbr acquired and transntitted by s.t,mbols,cottstitutittg the
distirtctiye achieyetnent o.l' human groups,including their
embodimentin
artifacts;the
essential corerl' culture
consists o.l' traditiotml (i.e. historicallT, derived and selected) ideas artd espec:ially tlrcir attaclted yalues(Kebudayaan
terdiri dari
pola-pola, tersurat maupun tersirat, daripada danuntuk
tingkah laku yang diperoleh dan disanrpai-?1 A.L. Kroeber dan Clyde Kluckhohn, op. cit., hlrn. 352.