• Tidak ada hasil yang ditemukan

Suluk. Suatu unsur pertunjukan yang khas dalanr

III. Peralatan l. Wayang kulit

5. Suluk. Suatu unsur pertunjukan yang khas dalanr

pertunjukan

wayang, termasuk wayang

purwa.

adalah suluk.

yang dapat

diterjenrahkan sebagai

"nya,yian

peurbawa sua-

rh rn rp

'u rn o-! la

ri

h, n.

ri- rg lt.

1l ta n-

'n h- Ll-

ia a.

rg lg s- la n- ta

*

Ki

mi

JQ

Wayng, Kebudayan Indorcsb

br

paacasilz

sana"

atau

dalam bahasa Inggris penulis terjemahkan sebagai tnoctd sortg. Fungsi suluk adalah

untuk

menciptakan suasana- suasana sedih, tenang, tegang, marah, romantis dan sebagainya.

Dalarn seni pedalangan yang tersebar paling luas,

yaitu

peda_

langan wayang purwa

gaya Surakarta,

dikenal

suluk-suluk yang jumlahnya

lebih

dari

40,

yang digolongkan menjadi tiga

yaitu

pathetart,

sentlon

dan attha-adha.

pothetan

digunakan

untuk

menciptakall suasalla tenang, agung, syahdu dan seba-

gainya,

dan nyanyian

dalang dalam

pathetan diiringi

bunyi rebab, gertder, gambang

dan suling,

sedang

pada

nada-nada

tertentu dibunyikan

juga kendang, kenong, kempul dan gong.

Serdon

yang membawakan suasana romantis atau sedih juga

diiringi bunyi

alat-alat gamelan tersebut

di

atas kecuali rebab.

Suluk

yang membawakan suasana tegang, gairah atau marah dinamakan

adha-adlu, dan iringannya

adalah

dodogan

be-

rupa

bunyi

cempala dan kepyakan yakni bunyi kepyak dalang serta bunyi gertder, Sedangkan kernpul, kenong dan gong serta kendang kadang-kadang dibunyikan seperti halnya pada pathet- att dan settdcttt.

Kecuali untuk

membawakan suasana, pemakaian suluk

dapat

menandai ternpat, adegan

dan waktu

dinyanyikannya.

Misalnya,

ienis

suluk yang dinam akan Send.n Kloloran hanya dinyanyikan pada

akhir

adegan yang bertempat

di

kaputren,

yaitu

bagian dalam istana raja

di

mana tinggal permaisuri dan

putri-putri

lainnya, sesudah selesai dialog antara raja dan per- maisurinya. Jenis

pathetan

yang dinamakan

pathet

Manyuru

Ageng dinyanyikan

seusai

bunyi

gendittg Damarkeli, khusus

untuk

adegan

kaputren

pada

waktu Dewi

Banowati muncul, permaisuri raja Duryudana dari kerajaan Astina.

Suluk-suluk yang menanclai waktu dinyanyikannya adalah:

Pathet

Sanga

lilantah

dan

Pathet Manyura

l4/antah. pathet Sanga. lilantah dinyanyikan

untuk

menandai bahwa pagelaran

wayang yang

sedang berlangsung memasuki bagian kedua

yang

dinamakan

Pathet

Sanga (bagian

pcrtama

dinamakan

Pathet Nem). Pathet lllary,,ura llantah dinyanyikan

dalang

untuk memberi isyarat

bahwa pagelarannya

kini

memasuki bagian

ketiga yakni yang terakhir yang

dinam akan puthet Manyura.

Jika

pagelaran semalam

suntuk yang

lamanya se-

kitar

9

jam itu

dibagi tiga samarata, rnaka dari

pukul 2l_24

i

da me

Tah i I

I

a

l

d tr a

v Y al yz

m ya Se pa

ri

a- a.

t-

k

?

.n a-

yi la g.

p

b.

ft

e- rg ta ,t-

*

a.

la

n, tn )t- ro

US

II, h:

et

an ua an ng

fti

ret se-

24

WayqPro*a

Jl

termasuk Pathet

Nem, pukul 24-03

termasuk Pathet Sanga

dan pukul 03-06

termasuk Pathet Manyura. Namun dalam pengamatan

penulis waktu

mengadakan

studi

lapangan me- nyaksikan puluhan pagelaran wayang purwa dari puluhan da- lang, pembagian waktu yang seketat

itu tidak

pernah terjadi.

Rupanya para dalang beranggapan bahwa yang

lebih

penting adalah daya

pukau

pagelarannya, maka

jika

para penonton terasa menanggapi sesuatu adegan dengan sangat baik, adegan

itu

dapat direntang panjang olehnya, misalnya suatu adegan banyolun (lawak).

Rupanya pembagian

waktu

secara

ketat hanya

berlaku bagi para pengamat yang membuat

teori tertentu,

seperti hal-

nya

Mangkunegoro

VII

yang memberikan makna khusus pada pertunjukan wayang purwa. 63

6.

Tembang

atau Sekar.

Meskipun

suluk dan

tembang sama-sama dinyanyikan oleh dalang, namun fungsi dan isinya berlainan.

Suluk

berfungsi

untuk

membawakan suasana ter- tentu dan menandai adegan, waktu, tempat atau tokoh tertentu.

Isi

suluk,

yaitu

syair-syair yang dipakai oleh dalang, kebanyak-

an diambil dari

karya-karya sastra-puisi

dalam

bahasa Jawa

Kuno

(bahasa

Kawi) atau

Jawa Baru yang terkenal, misalnya

diambil

dari Kakawin-kakawin Ramayana, Arjuna Wiwaha dan

terutama dari Kakawin

Bharata

Yudha (abad ke-10

sampai abad ke-12). Puisi-puisi dalam bahasa Jawa yang

lebih

muda yang paling banyak digunakan adalah Serat Bratal'udho karya Yasadhipura

I,

seorang pujangga keraton Surakarta menjelang akhir abad ke-18.

Meskipun tembang

juga dinyanyikan oleh

dalang, tetapi

yang menyanyi

seolah-olah adalah scsuatu

tokoh

wayang.

misalnya

Petruk, yang menyanyi untuk

nrcnghibur Arjuna yang sedang sedih. Petruk, Gareng. Bagong dan ayah mereka, Semar, biasanya

juga menyanyi untuk

nrcnghibur

diri

dan para penonton.

lsi yang dinyanyikan dalam

rerntrang

tidak terikat

pa-

da

norma-norma

klasik seperti

y,ang

mengikat

suh-rk. baik mengenai

lagu maupun

nlengLtnai sy,air-syairnya.

Jika

pacla 63Mangkunegoro VII, tulisannya dalam majalah bcrbuhasa llelandl. 1)rarra.

Tahun XIII (1933), hlm.79-lll.

72

Wayag, Kebudaywn Indonesb dan patcasila

suluk

lagu-lagunya kebanyakan

dari jenis

Sekar

Ageng

atau Tembang

Gede

yang setiap

baitnya terdiri dari

empat bzris

dan

setiap

baris dalam bait itu jurnlah

suku katanya sanla,

syair untuk tembalg'

kebanyakan clari

jenis Macapat

atau dari lagu-lagu ciptaan baru, misalnya lagu Jakarta Indah, Buta- buta Galak, Membangun Dem, dan sebagainya.

7.

Dodogan. Dua macam cempala yang tersebut

di

muka, yang dipukulkan pada sisi

luar

atau sisi dalam kotak, menim- bulkan suara yang dinamakan dodogan, yang membantu men-

ciptakan

suasana

yang diinginkan. Bunyi

cempala-cempala

itu, terutama bunyi

cempala besar,

juga

digunakan untuk memberikan perintah-perintah terselubung kepada para niyaga.

Dalam pedalangan gaya Surakarta, misalnya, pada pokoknya

dikenal

enam

macan

dodogatz,

yakni (l)

tamba (sekali ke-

tukan, kalau

dilukiskan dengan tanda

titik: .), (2)

ctodogan rangkep (Inggris:

triple

knocks, kalau dilukiskan dengan tanda

titik: . .

. atau bunyinya seperti derog-dog),

(3)

dodogan geter

(kalau dilukiskan

dengan

tanda titik: atau bunyinya

se-

perti

derug. Dodogan lamba dan dodogan geter dapat diulang- ulang

(lihat di

bawah).

(4)

Kemudian ada

pola

dodogan yang dinamakan mbanyu tumetes (seperti

titik titik

air). (5) dodogan atqganter atau seru,

yaitu

dodogan yang terus-menerus beran- tara sangat pendek (seperti tanda

titik.

...) dan

(6)

apa yang dinamakan tetegan (pukulan cempala pada bagian dalam kotak di bagian atas dekat bibir kotak).

Dodogan mbanyu tumetes lima

kali (. . . . .)

berarti bahwa dalang

minta dimainkan

gending A.,-ak-ayak,

yaitu

gending srambahan (serba guna) yang berirama lambat dan bersuasana tenang. Dodogan

geter tujuh kali (.. ..

..) adalah isya-

rat

dalang supaya niyaga memainkan gending srepegon, gen-

ding

yang membawakan suasana tegang dan

juga

banl

ak

di- gunakan, misalnya

untuk

adegan-adegan perang

dan

adegan

lain-lain yang bersifat tegang.

Kombinasi

berbagai macam

dodogan itu dapat

dipakai dalang

untuk

menimbulkan suasana yang dikehendakinya agar pertunj ukannya terasa hidup.

8.

Kepyakon. Kecrekan atau keprakan adalah suara kepyak (atau juga dinamakan kecrek atak keprak), yang fungsi utarna-

Wayaag Pwwa J J

nya

untuk

menghidupkan pertunjukan, seperti halnya dodogan.

Kadang-kadang kepyakan

itu juga

berfungsi

untuk

memberi isyarat kepada niyaga seperti halnya dodogan, terutama untuk mempercepat, melambatkan atau menghentikan gending. Jika kedua tangan dalang sedang sibuk memainkan wayang-wayang, maka kepyakan menggantikan dodogan sebagai pemberi isyarat- isyarat dari dalang.

Dalang yang

ahli

dapat memanipulasi suara-suara kepyakan

itu untuk

menimbulkan efek-efek atau suasana yang dikehen- dakinya.

9.

Gending-gending. Dalam pedalangan

klasik

gaya Sura-

karta

pada masa

ini,

pemakaian gending-gending iringan page- laran wayang purwa diatur sesuai dengan suasana yang dibawa-

kannya dan watak

wayangnya. Gending-gending

itu

terbagi

dalam

tiga

pathet,

seperti halnya

suluk. Untuk

menghadapi segala kemungkinan pementasan

lakon

wayang purwa, niyaga harus menguasai sebanyak kurang

lebih

dua ratus macam gen- ding, meskipun dalam pementasan suatu

lakon

biasanya tidak

lebih dari 30

gending yang dimainkannya, termasuk gending-

gending ciptaan baru. Adanya begitu

bar"ryak gending-gen-

ding yang

diperlukan

itu

karena

sifat

gending,

sifat

wayang.

dan

adegan

yang diiiinginya harus

sesuai.

Untuk

memberi beberapa

contoh: untuk

adegan

ieier

(permulaan)

di

kalangan para Pandawa

di Amarta

atau juga para Dewa

di

Kahyangan gendingnya adalah

Kawit.

Ger,ding

untuk

adegan

ieier

pata Kurawa

di

Astina adalah Kabor, dan

untuk

adegan

ieier

lain- lain gending yang dimainkan adalah Karawitan, misalnya adegan

jejer Sri

Kresna

di

kerajaan Dwarawati.

Untuk

adegan ke-

putren di Dwarawati

gendingnya adalah

Titipati, untuk

ke-

putren Astina,

khususnya

Dewi

Banuwati, gendingnya ada-

lah

Damarkeli, demikianlah seterusnya,

terlalu

panjang kalau

diuraikan di sini. Aturan

penggunaan gending-gending

itu

sudah lama ditetapkan, antara lain termuat dalam karya Nojo-

wirongko alias Atmotjendono almarhum, berjudul

Serat Tunt unan Padalangan. 6a

Nada-nada dalam gending-gending Jawa, darr juga gending- dLihut penerbitan tahunan berbahasa Belanda, Diawa, tahtn ke-3/1923 menge- nai hal tersebut

I -

7

4

Wayng, Kcbudayan Indoaesia hn Putcasila

gending Sunda, Madura dan Bali, berbeda dari nada-r.rada dalam

lagu

atau musik Barat yang

juga

terdapat dalam musik Indo- nesia

modern.

Nada-nada dalam gendinggending

itu

dikenal sebagai nada-nada pentatonis sedang nada-nada dalam musik Barat dan musik Indonesia modern dikenal sebagai nada-nada diatonis.

Di

samping

itu, dalam

nada-nada pentatonis

itu

di-

kenal pula

adanya pembedaan antara /aras slend

ro

dan laras Pelog, sedang dalam tiap laras

itu

terdapattrgapathet.

Jika kita

mengadakan perbandingan dengan nada_nada

diatonis, maka nada-nada dalam raras slend

ro i*rp

sekari de- ngan nada-nada do-re-mi-sol-ra, sedang nada-nada dalam laras

P elog m i r ip sekali dengan nad a-n ada si_d o-mi_fa_sol.

Meskipun

sama-sama berlaras

Slendro, namun

gending_

gending yang berlainan pathet-nya menimbulkan ,trurJru

y*g

berlainan pula. Misarnya, suatu

titi

raras (dalam bahasa Belanda

disebut noot) yang

dalam gending berpathet

Nem

terdengar seperti

mt,

dalam pathet sanga terasa seperti

do.

Dalam raras Slendro terdapat tiga

pathet yaitu

pathet Nem, pathet Sanga dan Pathet Manyura, sedang dalam laras pelog pathet_pathet_

nya adalah Pathet Lima, pathet Nem dan pathet Barang.' 10. Gerong atau

koor pria.

Kecuari menabuh berbagai arat gamelan, sebagian dari para niyaga kadang_kad"rrg

*.ny*yikan

apa yang dinamakan gerong,

yaitu

paduan suara

pria.

Namun gerong

itu

kadang kala bukan dinyanyikan oleh sebagian para niyaga karena

ada

orang-orang

yang

bertugas khusJs

untut

menyanyikannya,

baik untuk

gerong maupun

untuk

menya-

nyikan

apa yang dinamakan bawa,

yaitu

nyanyian pengantar

yang merupakan nyanyian tunggal (bukan paduan

suara).

Penyanyipenyanyi khusus

itu

dinamak an wiraswara dan tidak

penulis masukan

sebagai seniman-seniman pelaksana karena kejadiannya jarang, sedang yang paling sering

terjadi

adalah dirangkapnya fungsi

itu

oleh sebagian para niyaga.

Nyanyian gerong atau

juga

disebut gerongan

itu

biasanya beriring-iringan dengan sindenan, syair-syair yang dinyanyikan

pun

sama, biasanya dari

jenis

lagu Macapat dari karya_karya sastra terkenal seperti

karya

sastra Mangkunegoro

IV,

paku Buwono

IV,

dan sebagainya, meskipun lagu_lagu ciptaan baru dapat pula dinyanyikan oleh penggerong dan pesinderu, misal_

nya lagu Lumbung Desa, Buta-buta Galak dan sebagainya.

t

(

t

s

I

k k It

Pe

a )-

IS

I

(

a

,-)

c

a Ir

IS

a t-

'a n

,a

u u l-

WayqPuwa 75

ll. Sindenan.

Dewasa

ini, suatu pertunjukan

wayang

purwa tidak

dianggap lengkap

jika tidak

ada pesindennya, meskipun dalam

konteks

sejarah munculnya pesinden dalam pagelaran wayang

purwa belum

dikenal pada

awal

abad ini.

Paling sedikit harus ada seorang pesinden, biasanya dua orang,

dan

malahan penulis pernah menyaksikan pagelaran wayang purwa

di

Istora Senayan Jakarta

yang

mengikutsertakan dua-

puluh lima

orang pesinden! Dalang pertunjukan yang klasik, fungsi pesinden

tentu

saja

untuk

menciptakan suasana indah yang diperlukan, maka sindenan atau nyanyian pesinden, baik dalam solo maupun dalam

koor

seyogyanya tidak sampai meng- ganggu keseluruhan jalan cerita.

Seperti halnya dalam gerong, isi sindenan biasanya diambil

dari

syair-syair

karya

sastra Jawa baru

yang

terkenal, bukan

dari

kakawin-kakawin seperti

yang

digunakan dalam suluk.

Pada masa

ini,

dengan semakin meningkatnya fungsi wayang

purwa

sebagai sarana hiburan dan sarana penerangan

dari

pe- merintah

lewat

berbagai stasiun

RRI

maka lagu-lagu barupun sering dinyanyikan

oleh

paru pesinden dan penggerong, misal- nya lagu-lagu Taska, Jakarta Indah, Modernisasi Desa, Lumbung Desa,

dan

sebagainya,

tapi

terbatas pada adegan-adegan para panakawan Semar

dan

ketiga putranya, Gareng,

Petruk

dan Bagong.

Untuk

adegan-adegan yang sifatnya

klasik

masih di- nyanyikan sindenan dari karya-karya sastra

klasik

pula, misal-

nya

syair-syair

dari

Serat Rama

karya

pujangga yasadipura, Serat Manuhara

karya Mangkunegoro IV, dan

sebagainya.

Berbagai Gaya l{ayang Purwa Jawa

Dalam seni-budaya wayang purwa Jawa terdapat beberapa gaya atau dalam bahasa Jawa disebut gagrag, mula-mula tumbuh

di

daerahnya sendiri-sendiri dan

memiliki ciri-ciri

khas masing- masing. Yang paling dikenal adalah gaya-gaya wayarlg pLrrwa Surakarta dan Yogyakarta, kemudian juga gaya wayang purwa Banyumas. Ketiga gaya wayatlg purwa Jawa

ini

telah dibuku- kan, yang tertua adalah pembakuan dan penerbitan gaya Sura- karta, yang

tertua

pula perguruan pedalangannya,

yaitu

dimu- lai dalam

tahun

1924

di kota

Sala.6s Jika pedoman pedalangan

6sDiterbitkan

oleh yayasan Habirandha yogyakarta tahun 197?, berjudul

P e d h alan gan N ga y o gy akar t a.

rt n n a k t- tr ).

k

ia

h

7 6 Waytg, Kcbdayun ltfuncsia dan Paacasih

gaya Surakarta telah

diterbitkan

pada awal dasawarsa 1930-an dan setelah

itu

berulang

kali

dicetak ulang, pedoman pedalang- an gaya Yogyakarta baru

diterbitkan

dalam

tahun

1977 66 se- dang pedoman pedalangan gaya Banyumas

baru

diterbitkan

tahun

1983 sebagai hasil usaha Sena Wangi (Sekretariat Nasio- nal Pewayangan Indonesia).

Perbedaan gaya-gaya pewayangan

itu

telah ada

jauh

sebe-

lumnya sebagai akibat pertumbuhan yang berlainan di'berbagai daerah

itu.

Karena memiliki tradisi yang paling tua, kegiatannya dalam

pendidikan

dalang

dan

penerbitan-penerbitannya yang terse- bar luas dan pernah memasuki

kurikulum

sekolah-sekolah ne-

geri, maka

gaya wayang

purwa

Surakarta

lebih

dikenal dari gaya-gaya Yogyakarta

dan

Banyumas,

juga lebih

dikenal dari wayang-wayang jenis lainnya dari berbagai daerah di Indonesia.

Dalam wayang

purwa,

berbagai gaya

itu,

kalau dikaitkan dengan kerangka dasar yang diuraikan

di

muka, berbeda dalam

hal: (l)

pakaian dalang dan niyaga,

(2)

wujud wandha wayang- wayangnya

yang meliputi pola-bentuk, perincian

tatahan

dan sunggingan (pemberian warna-warna), (3) wujud dan bahan

untuk membuat kepyak

(Surakarta),

keprak

(Yogyakarta), atau kecrek (Banyumas), (4) dan boleh dikata dalain semua dari sebelas unsur-unsur audiovisualnya,

yaitu

dalam kategori un- sur pertunjukan sampai dengan

l1

sebagaimana diuraikan ter- dahulu.

Kecuali

itu, ukuran

wayang-wayang gaya Banyumas lebih

kecil dari ukuran

wayang-wayang Surakarta-Yogyakarta,

hanya kira-kira

7 S%-nya,

hal

mana menggambarkan sifatnya yang

lebih tua

karena lebih mendekati ukuran wayang-wayang

kulit di Bali

dan Kalimantan

Timur-selatan

(daerah Wayang

Kulit

Purwa Banjar).67

66 Diterbitkan oleh PN. Balai Pustaka tahun I 983, befiudul Pathokan Pedhalang- an Gagrcg Banyumas. Penggarapannya oleh sebuah Panitia yang dibentuk oleh Sena

\l?ngi telah selesai dalam tahun 1980.

6TDiperkirakan bahwa wayang kulit di Bali (Purwa dan Ramayana) menggam- barkaln keadazn wayang purwa pada zaman Majapahit sedang wayang kulit Banjar menggambarkan keadaan wayang purwa pada zaman Demak. Sesudah zaman Demak hubungan antara kerajaan-kerajaan di Kalimantan Selatan dan Jawa terputus, sebagai- mana diriwayatkan dalam Hikayat Raja-raja Banjar dan Kota Waringin.

0-an ang-

'

se- :kan rsio-

ebe- agai rlam :rse-

ne- dari dari

e sia.

lkan dam ang- rhan than rta),

dari un- ter- ebih arta, tnya iang iang

WoyryPw*a 77 Meskipun bagi kebanyakan penonton wayang purwa Jawa perbedaan-perbedaan

itu

terlalu sepele

untuk

diketahui, namun

di

sekolah-sekolah maupun kursus-kursus pewayangan, baik yang menyangklrt segi pedalangannya, segi kriyanya, segi kara- witannya dan sebagainya, perbedaan-perbedaan

itu

nyata benar,

hal

mana dapat diketahui kalau

kita

membandingkan isi buku- buku pedoman pedalangan dari tiga daerah

itu.tr

Dapat dicatat sebagai suatu hal yang amat menggembirakan bahwa setelah negara

kita

merdeka, terutama setelah adanya Sekolah-sekolah Kesenian tingkat menengah

milik

pemerintah 6e

terlihat

adanya usaha-usaha para dalang dan seniman-seniwati pewayangan

lainnya untuk tidak

membatasi

diri

pada gaya

yang dikenal

di

daerah masing-masing, tetapi sebagai seniman- seniwati mereka bebas memilih unsur-unsur dari gaya apa pun yang digunakan dalam pagelaran atau pertunjukannya. Misal-

nya

saja, seorang dalang yang terkenal yang pada pokoknya menggunakan

pola

pedalangan gaya Surakarta,

untuk

adegan-

adegan

tertentu

menggunakan gaya Yogyakarta,

baik

dalam pola-pola do do gan dan k e p y aktn ny a, dalam gen din g-gen din gny a

maupun dalam suluknya. Dan dalam adegan lawak antara para panakawan

telah

biasa diperdengarkan lagu-lagu

dari

berbagai daerah dan suku bangsa, sehingga lewat pagelaran wayang purwa tercermin pula adanya semangat persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

68 Perbedaanaerbedaan itu menyanplkut peralatan rnaupun unzur-unsur audio- visual yang telah dibicarakan.

69Yrng merupakan pelopor adalah Konservatori Karawitan tli kota Sala yang kemudian menjadi Sekolah Menengah Kesenian Indonesia (SMKD. SMKI-SMKI itu kini terdapat di berbagai ibu kota propinsi (Yogryakarta, Bandung, Denpasar, Padang).

wlang- r Sena

Egam- Banjar )emak :bagai-

4

Konsepsi Kebudayaan dalam Wayang Punnra

Pengantar

Dalam

Bab I

telah dikemukakan sebuah konsepsi tentang

kebudayaan Indonesia,

berpangkal

pada kesimpulan

yan1

diambil dua

orang

ahli

antropologi kebudayaan Amerika. Ide

tentang

kebudayaan

yang telah

dikemukakan

dalam Bab

I

itu

akan dikembangkan

dan dikaitkan

dengan

isi

kandungan wayang purwa sebagaimana tersirat dalam lakon-lakon.

Istilah

kebudayaan sering digunakan sama dengan 'kese-

nian',

dan sering

pula

orang-orang awam menggunakan istilah tersebut dengan makna yang berbeda-beda.

Di

kalangan para

ahli pun istilah

kebudayaan

(culture)

digunakan dengan ber- aneka ragam

arti

atas dasar konsepsi yang berbeda-beda, hal mana akan diuraikan di bawah ini.

Dalam

kepustakaan

mengenai wayang, istilah

wayang

purwa

sudah digunakan secara luas,7o

bukan istilah

populer

$!a)'ang

kulit

yang masih kabur

itu,

karena seperti telah dike- tllhy".rg purwa atau dalam bahasa Jawa krama ringgit purwa digunakan para penulis buku klasik sebagai sumber, baik yang sifatnya ilmiah maupun yang popu- ler, baik dalam bahasa Jawa, Belanda maupun dalam Bahasa Indonesia. Sebagai con- toh, buku L. Serrurier, De Wajang Poerwa (1896), ditulis dalam bahasa Belanda, buku J. Kats, Het lalatnsche Toneel, DeeL 1: Wajang Poerwa (1923), yang ditulis drl2m bahasa Belanda, buku-buku Mangkunegara yrr,serat pedalangan Rfuggit poer- wc, 37 jilid (Jakarta: Balai Pustaka, I 930), ditulis dalam bahasa dan tulisan Jawa, dan buku llardjowirogo, Sejarah Wayang Purwa, berulang kali dicekk dan diredaksi oleh Balai Pustaka, dalem bahasa Indonesia.

78

Konsepsi Kcbufuyn fulamWayang

Pmn

7 9

mukakan

di

atas ada banyak

jenis

wayang

kulit itu.

Sebagai- mana telah diuraikan dalam bab-bab sebelumnya, wayang purwa adalah

jenis pertunjukan

wayang

kulit,

dengan lakon-lakon

yang

mula-mula bersumber

pada

cerita-cerita kepahlawanan

India, yaitu

Ramayana dan Mahabarata. Kiranya dengan ada- nya uraian panjang lebar dalam bab-bab sebelumnya telah men-

jadi

jelas apa

yang

terkandung dalam definisi wayang purwa tersebut.

Konsepsi kebudayaan yang digunakan dalam wayang pur-

wa itu

khususnya nampak pada para panakawan yang fungsi- nya dalam pergelaran wayang purwa adalah sebagai abdi, pena sihat dan kawan-kawan seiring bagi para kesatria yang berbudi luhur, yang akan dlielaskan dalam bab ini.

Konsepsi Kebudayaan

Mengenai

kebudayaan

(culture) ada banyak

konsepsi

atau definisi

yang diberikan

oleh

para

ahli ilmu-ilmu

sosial-

budaya.

Dua

orang sarjana antropologi-budaya terkenal, A.L.

Kroeber dan

C. Kluckhohn,

dalam

tahun

1952 menerbitkan

buku berjudul Culture. A Critical

Review

of

Concepts ottd

Delinitiorts.

Dalam

buku itu terkumpul

160 konsep dan defi- nisi yang mereka beri komentar, yang menurut sifatnya mereka golongkan

ke

dalam

20

konsep

dan deflnisi

yang deskriptif, 22 historis, 25 normatif, 38 psikologis,

9

struktural. 39 genetis dan 7 yang tidak lengkap.

Meskipun ada begitu banyak konsepsi tentang kebudayaan, dan yang didaftar dalam buku

itu

belum lagi semuanya, dalam

buku itu kedua penulis

tersebut menyimpulkan bahwa ide

pokok

tentang kebudayaan

yang.disetujui

kebanyakan ihnu-

wan

sosial

adalah,Tr Culture

consists

of pattents,

explicit

and implicit,

rfi' and Jbr bel.avbr acquired and transntitted by s.t,mbols,

cottstitutittg the

distirtctiye achieyetnent o.l' human groups,

including their

embodiment

in

artifacts;

the

essential core

rl' culture

consists o.l' traditiotml (i.e. historicallT, derived and selected) ideas artd espec:ially tlrcir attaclted yalues

(Kebudayaan

terdiri dari

pola-pola, tersurat maupun tersirat, daripada dan

untuk

tingkah laku yang diperoleh dan disanrpai-

?1 A.L. Kroeber dan Clyde Kluckhohn, op. cit., hlrn. 352.