• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sumber Aqidah Islam

BAB II AQIDAH ISLAMIYAH

C. Sumber Aqidah Islam

Artinya:“Sesungguhnya kami lah yang bertanggung jawab mengumpulkan (dalam dadamu) dan membacakannya (pada lidahmu), maka apabila kami telah menyempurnakan bacaannya (kepadamu, dengan perantaran Jibril), maka bacalah menurut bacaannya itu,” (Al-Qiyamah: 17-18)30

Qur’anah di sini berarti qira’ah(bacaan atau cara membacanya). Jadi kata itu adalah akar kata (masdar) menurut wazan (tashir) dari kata fu’lan seperti “gufran” dan “syukran.” Anda dapat mengatakan; qara’atuhu, qur’an,31 qira’atan dan qur’anan, dengan satu makna. Dalam konteksi ini maqru’(yang di baca sama dengan qur’an) yaitu satu penamaan isim maf’ul dengan masdar.32

Sedangkan istilah syara’, Al-Qur’an adalah kalam firman Allah SWT, tentang merupakan mu’jizat yang di turunkan (diwahyukan) kepada nabi Muhammad SAW dan ditulis di mushaf dan diriwayatkan secara mutawatir serta yang membacanya adalah ibadah.33

Prof. Dr. Hasbi Ash-Shiddieqy mengatakan Al-Qur’an itu wahyu ilahi yang di turunkan kepada nabi Muhammad SAW yang telah diturunkan kepada kita umatnya, dengan jalan mutawatir, yang di hukum mati jika mengingkarinya.34

Setelah di tampilkan berbagai devinisi, dapat di katakana bahwa Al- Qur’an adalah firman Allah, yang di turunkan oleh nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril secara mutawatir, berbahasa arab, sebagai mu’jizat, untuk menuntun manusia, agar memperoleh kebahagian dunia maupun akhirat serta membacanya mendapat pahala.

30Kementrian Agama RI, Ibid, hal. 577

31 Syekh Manna Al-Qaththan, Pengantar Study Ilmu Al-Qur’an, (Jakarta: Al-Kautsar, 2006), Cet, 1, hlm. 16

32Syekh Manna Al-Qaththan,, Op.Cit, hal. 17

33Darwis Abu Ubaydah, Op. Cit, hal. 10

34Hasbi Ash-Shiddieqy,Sejarah Dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an, (Jakarta:Bulan Bintang 1988), hal 17

Bagi kaum muslim Al-Qur’an merupakan sumber utama dalam segala hal yang meliputi masalah aqidah (keyakinan), syari’at (hukum), akhlah (moral) dan masalah-masalah lainnya yang menyangkut tashauwur (konsepsi) mereka meyakini bahwa Al-Qur’an kalam Allah SWT yang merupakan sebaik-baik perkataan. Mereka menggunakan perkataan yang mulai itudi atas segala perkataan manusia dari golongan manapun.35

Sebagai sumber ilmu kalam Al-Qur’an banyak menyinggung hal-hal yang berkaitan dengan masalah ketuhanan. Di antara ayat al-quran yang membicarakan masalah masalah ketuhanan dianataranya adalah:

a. Q.S As-Syura (42:7

























Artinya:”Dan Apakah mereka tidak memperhatikan bumi, berapakah banyaknya Kami tumbuhkan di bumi itu pelbagai macam tumbuh- tumbuhan yang baik”

Ayat ini menunjukan bahwa tauhid tidak seperti apapun di dunia ini. Ia maha mendengar dan maha mengetahui.

b. Q.S Annisa (4) :125





































Artinya:”Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya.”

35 Ibnu Taimiyah, Taqiyuddin, Ahmad Bin Abdul Halim, Majmu’ Al Fatwa, (Riyadh:

Darul Buhuts) Jilid 13, hal. 157

Ayat ini menunjukan bahwa Tuhan menurunkan aturan-aturan berupa agama. Seseorang telah dikatakana melaksanakan aturan agama ketika telah menggunakan wajahnya untuk kedamaian karna Allah SWT.36

Al- Qur’an di turunkan dalam tempo 22 tahun 2 bulan 22 hari, yaitu mulai malam 17 Ramadhan tahun 41 dari kelahiran nabi Muhammad SAW dari 9 dzulhijah haji wada’ tahun 63 dari kelahiran nabi atau tahun 10 H.

Proses turunnya Al-Qur’an kepada nabi Muhammad SAW, adalah melalui tiga tahapan, yaitu:

Pertama, Al-Qur’an turun secara sekaligus dari Allah ke lauh Al- Mahfuzh, yaitu suatu tempat yang merupakan catatan segala ketentuan dan kepastian Allah. Proses pertama ini diisyaratkan dalam Q.S Al-Buruj (85) ayat 21-22:



















Artinya:”Bahkan yang di dustakan merekA ialah Al-Qur’an yang mulia (tersimpan) dalam lauh Al-Mahfuzh”. (Q.S. al-buruj (85) ayat 21-22).”37

Tahap kedua, Al-Qur’an di turunkan dari lauh Al-Mahfuzh itu ke bait al-izzah (tempat yang berada di langit dunia). Proses proses kedua ini diisyaratkan Allah dalam surat Al-Qadar (97): 1













36 Abdul Rozak Dan H. Rosihon Anwar , Ilmu Kalam, (Bandung: CV Pustaka Setia 2014), cet, 3, hal. 23

37Rosihon Anwar, Ulumul Al-Qur’an, (Bandung: CV Pustaka 2015), Cet, 6, hal. 34

Artinya: “Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan.”(Q.S Al-Qadar: 1)

Malam kemuliaan dikenal dalam bahasa Indonesia dengan malam Lailatul Qadr yaitu suatu malam yang penuh kemuliaan, kebesaran, karena pada malam itu permulaan turunnya Al-Qur’an.

Tahap ketiga, Al-Qur’an diturunkan dari bait Al-Azzah kedalam hati nabi dengan jalan berangsur-angsur sesuai dengan kebutuhan. Ada kalanya satu ayat, dua ayat, dan bahkan kadang-kadang satu surat.

Mengenai proses turun dalam tahap ketiga di isyaratkan dalam Q.S Asy- Syu’ara’ (26) ayat 193-195:38































Artinya: “Dia di bawa turun oleh ar-rub Al-amin (Jibril) ke dalam

hatimu (Muhammad SAW) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang yang memberi peringatan, dengan bahasa arab yang jelas”. (Q.S Asy-Syura’:193-195)39

Adapun tujuan kita untuk memahami ataupun mempelajai Al- Qur’an adalah untuk memahami kalam Allah dalam berbagai aspek pembahasannya, baik dari aspek turunnya, pengumpulan dan penulisannya, maupun dari aspek bacaan ataupun penulisannya, serta tidak ketinggalan pula aspek kandungannya itu sendiri. Yang kelas dengan memahai Al-Qur’an, maka akan lebih mudah memahami pesan- pesan Al-Qur’an yang di turunkan Allah kepada nabi Muhammad SAW.40

38Rosihon Anwar, Ibid, hal. 35

39Rosihon Anwar,Ibid, hal. 36

40Abu Anwar, Ulumul Qur’an, (Jakarta: AMZAH, 2002), hal, 12

2. As-Sunah

Secara bahasa, Sunnah adalah jalan yang ditempuh baik yang terpuji ataupn tercela.41 Seperti sabda Nabi Muhammd SAW “sungguh kamu akan mengikutu sunah-sunahku (perjalanan-perjalanan) orang yang sebelummu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sehingga sekiranya mereka memasuki sarang dhob (serupa biawak) sungguh kamu memasuki juga. (HR.

Bukhori dan muslim).42

Sedangkan menurut istilah syara’, sunah bermakna segala sesuatu yang di nukil (ditrima) dari Rasulullah SAW baik berupa perkataan, sifat kejadian (bentuk) tingkah laki, perbuatan, atau perjalanan hidup beliau, baik sebelum di angkat menjadi rosul maupun sudah.

Dalam keyakinan (aqidah) kaum muslimin Sunnah mendapat tempat yang sangat mulia. Beliau berada pada urutankedua sebagai petinjuk.

Pegangan bagi umant manusia setelah kitab suci Al-Qur’an ketinggian dan kemuliaan itu trelihat dari berbagai ketetapan hukum Islam, bahkan Asunnah adalah kunci untuk memahami agama yang mulia ini. Tidak seorangpun di perbolehkan keluar dariketentuan ini, seperti berpegang kepada Al-Qur’an saja tidak melihat pada ketetapan Sunnah. Sebagaimana yang telah diperlihatkan oleh ingkar Sunnah. Meninggalkan Sunnah dalam agama Islam, bukan hanya mendurhakai nabi Muhammad SAW sebagai Rasul Allah, lebih dari itu sesungguhnya manusia seperti ini telah mendurhakai Allah SWT.

Kana pada hakikatnya, Allah lah yang memerintahkan untuk senantiasa

41Solhudin, Agus Suyadi, Ulumul Hadis, (Bandung: Pustaka Setia, 2008), Cet, I, hal. 17

42Solhudin, Agus Suyadi, Ibid, hal. 18

mentaati Rasulullah SAW.43 Jadi sumber aqidah Islam adalah Al-Qur’an dan As-Sunah artinya apa saja yang di sampaikan oleh Allah SWT dalam Al- Qur’an dan Sunnah Rasulullah dalam Sunnahnya wajib diimani (diyakini dan di amalkan).

Dokumen terkait