• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

C. Sumber Data

Berdasarkan sumber data yang di dapat dalam penelitian adalah subjek dari mana data diperoleh. Dalam hal ini peneliti menggunakan wawancara dalam pengumpulan datanya, maka sumber data tersebut responden, yaitu orang yang merespon dan menjawab pertanyaan- pertanyaan peneliti secara langsung/lisan (wawancara).

27 Sugiyono, 2005, Memahami Penelitian Kualitaif, Alfabeta: Bandung.

Adapun yang menjadi sumber data dalam penelitian ini adalah sumber data primer dan sekunder.

1. Data Primer

Data primer dalam penelitian ini bersumber langsung dari informasi dan kondisi objektif penelitian yang diperoleh langsung melalui wawancara kepada para guru terutama guru PAUD yang berjumlah 2 orang dan kepala sekolah. Peneliti menggunakan data ini untuk mendapatkan informasi langsung tentang „‟Analisis kesulitan guru dalam proses pembelajaran daring pada masa pandemi covid 19 Di PAUD Al Amin Kota Bengkulu‟‟.

2. Data Sekunder

Data sekunder dalam penelitian ini bersumber langsung dari informasi dan kondisi objektif penelitian yang diperoleh langsung melalui wawancara kepada kepala sekolah dan siswa. Peneliti menggunakan data sekunder ini untuk memperkuat penemuan dan melengkapi informasi yang telah dikumpulkan melalui wawancara lansung.28

D. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang di pergunakan dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi. Untuk lebih jelasnya dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Observasi

28 Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, Dan R&D. Bandung: Alfabeta. 2005.

Observasi dilakukan dengan cara mengamati secara langsung perilaku individu dan interaksi mereka dalam setting penelitian.29 Observasi merupakan pengamatan langsung di lakukan di lokasi penelitian. Artinya bahwa peneliti melakukan pengamatan di lokasi penelitian dan terlibat langsung dengan para pelaku dengan segala bentuk kegiatan yang dilakukan oleh para pelaku. Kegiatan tersebut dilakukan secara berulang-ulang sampai diperoleh data penelitian tentang para pelaku, peran, perilaku dan peristiwa pengalaman yang mereka lakukan.

2. Wawancara

Metode ini adalah metode pengumpulan data dengan mengadakan tanya jawab langsung kepada responden atau metode pengumpulan data dengan tanya jawab sepihak yang dikerjakan secara sistematis dan berlandaskan dengan tujuan penelitian.30

Wawancara merupakan percakapan dengan maksud tertentu.

Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu yang pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu.31

Metode ini digunakan untuk memperoleh data-data tentang Analisis kesulitan guru dalam proses pembelajaran daring pada masa

29 Sugiyono, 2004, Metode Penelitian Administrasi, Alfabeta :Bandung

30Suharsimi Arikunto, 1991, Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktek, Edisi Revisi Jakarata: Rineka Cipta, , h. 146

31 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif , Bandung; Remaja Rosda Karya, h.

135

pandemi covid 19 Di PAUD Al Amin Kota Bengkulu yang berupa keterangan-keterangan secara langsung dari responden.

3. Dokumentasi

Metode ini adalah mencari data mengenei suatu hal variable atau sumber-sumber yang banyak dipakai dalam penelitian ini berupa sejumlah dokumen, catatan, buku, transkip, surat kabar, majalah, makalah, dan lain-lain.

Metode ini digunakan penulis untuk mencari dokumen tentang letak geografis sekolah, sejarah berdirinya, struktur organisasinya, keadaan guru, siswa, sarana prasarana, fasilitas sekolah, dan lain-lain.

E. Teknik Keabsahan Data

Teknik keabsahan data ini dapat di lihat dalam pengelolaan data- data yang telah terkumpul dari informan maka penulis mengambil langkah sebagai berikut: Triangulasi (cross check) data atau informasi dari satu pihak, harus di cek kebenarannya dengan cara memperoleh data itu dari sumber lain, yaitu dari pihak kedua, ketiga dan seterusnya dengan menggunakan metode yang berbeda-beda. Tujuannya ialah untuk membandingkan informasi tentang hal yang sama, yang diperoleh dari berbagai pihak, agar ada jaminan tentang tingkat kepercayaan data.32

32 Nasution, 1988, Metode Penelitian Naturalistik Ku alitatif, Bandung: Tansito, h. 10

F. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan ada beberapa elemen penting dalam analisis data yang perlu terus di ingat oleh setiap peneliti dalam melakukan kegiatan analisis data adalah sebagai berikut :33

1. Reduksi

Reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data. Pada tahap reduksi data, peneliti mengubah seluruh data yang telah di dapat tentang hal-hal yang berkaitan dengan „‟Analisis kesulitan guru dalam proses pembelajaran daring pada masa pandemi covid 19 di PAUD Al Amin Kota Bengkulu‟‟ ke dalam bentuk yang lebih sederhana agar mudah dikelola dan dipahami.

2. Penyajian Data

Pada tahap penyajian data peneliti menggabungkan seluruh data yang di dapat menjadi sebuah teks naratif sehingga peneliti dapat mengetahui apa yang terjadi untuk menarik kesimpulan.

3. Menarik Kesimpulan/ Verifikasi

Dalam tahap analisis data, peneliti melakukan tinjauan ulang terhadap catatan lapangan yang berkaitan dengan „‟Analisis kesulitan guru dalam proses pembelajaran daring pada masa pandemi covid 19 Di PAUD AL AMIN Kota Bengkulu‟‟.

33 Salim dan Syahrum, 2000, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung : Ciptapustaka Media, h. 87

40 BAB IV

DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA

G. Deskripsi

1. Deskripsi Lokasi Penelitian a. Letak Geografis

PAUD Al Amin terletak di kelurahan Pagar Dewa Kecamatan Selebar Kota Bengkulu Provinsi Bengkulu.

b. Visi, Misi dan Tujuan PAUD Al Amin 1) Visi

Terwujudnya generasi yang bertaqwa, berakhlak mulia, sehat jasmani rohani, jujur, kreatif serta bertanggung jawab dan terwujudnya cinta tanah air.

2) Misi

a) Menyelenggarakan pendidikan yang sistematik terarah dalam mengembangkan fitra manusia menjadi pribadi islami.

b) Menjalin kerjasama dengan lembaga-lembaga lain baik formal maupun non formal dalam rangka mengemban SDM yang berkualitas.

c) Memberikan pelayanan kepada masyarakat pndidikan gratis.

3) Tujuan

a) Mewujudkan generasi yang cardas, cakap, terampil dan percaya diri.

b) Menanamkan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan sesuai dengan tarap perkembangannya.

c. Guru PAUD Al Amin

PAUD Al Amin memiliki tenaga pendidik sebanyak 3 orang yang terdiri dari 1 orang guru, 1 orang wakil kepala sekolah yang merangkap menjadi guru dan 1 orang kepala sekolah.

d. Murid di PAUD Al Amin

Jumlah murid di PAUD Al Amin tahun pelajaran 2021/2022 sebanyak 23 murid yang dijadikan dalam satu kelas dengan kelompok A dan kelompok B.

e. Sarana dan Prasarana PAUD Al Amin

Sarana dan prasarana di PAUD Al Amin selama tahun pelajaran 2020/2021 terbilang masih minim.

2. Deskripsi Data Penelitian

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan terkait pelaksanaan pembelajaran daring selama masa pandemi Covid-19 di PAUD Al Amin kota Bengkulu, maka didapatkan hasil tertulis sebaga berikut:

a. Kesulitan Guru dalam Proses Pembelajaran Daring pada Masa Pandemi Covid-19 di PAUD Al Amin kota Bengkulu

Pada penelitian ini, penulis meneliti tentang kesulitan guru dalam proses pembelajaran daring di masa pandemi Covid-19 di PAUD Al Amin Kota Bengkulu. Untuk mengetahui kesulitan yang dialami dalam proses pembelajaran daring, peneliti melakukan wawancara dengan kepala sekolah, wakil kepala sekolah dan guru

yang mengajar di PAUD Al Amin. Ketiga narasumber mengungkapakan hal yang serupa mengenai kesulitan mengajar selama masa pandemi Covid-19. Kesulitan yang dialami yaitu sistem daring yang mengharuskan guru dan murid untuk tidak bertemu secara langsung atau tatap muka. Keterbatasan alat daring seperti laptop atau handphone android yang tidak semua orang tua memiliki smartphone. Adanya keterbatasan signal dan data internet merupakan salah satu yang dikeluhkan baik guru maupun orang tua murid. Penjelasan di atas sesuai dengan yang diungkapakan oleh A yaitu kepala sekolah sekaligus guru di PAUD Al Amin kota Bengkulu.

“Tentu saja ada kesulitan yang dialami. Di masa pandemi seperti ini, bertatap muka dan melakukan interaksi secara langsung sangat tidak memungkinkan. Alat untuk berkomunikasi melalui daringpun tidak semua orang tua punya, terlebih lagi jika signal yang tidak stabil dan membutuhkan paket data yang cukup banyak”

(wawancara dengan A, 01 November 2021).

Pernyataan yang hampir sama juga disampaikan oleh ED wakil kepala sekolah sekaligus guru di PAUD Al Amin kota Bengkulu.

“Ya, kami cukup mengalami kesulitan dalam hal mengajar.

PAUD ini sangat membutuhkan interaksi antara guru dan murid juga murid dengan murid. Sistem daring seperti ini manjadi kendala karena orang tuapun terkadang harus ikut mengawasi saat proses

daring berlangsung menggunakan laptop ataupun handphone.

Terkadang untuk proses daring inipun kami guru menggunakan laptop pribadi untuk bergantian mengajar karena PAUD ini belum memiliki laptop/komputer” (wawancara dengan ED, 02 November 2021 di rung guru).

Selain itu kesulitan juga dialami oleh orang tua murid terlebih pembelajaran daring yang melibatkan murid PAUD yang umumnya adalah balita. Hal ini disampaikan oleh RM selaku guru PAUD Al Amin kota Bengkulu.

“Kesulitan yang di alami yaitu saat proses mengajar daring.

Murid cukup susah untuk kondusif sehingga orang tua kerap ikut terlibat saat proses mengajar berlangsung. Tidak ada interaksi secara langsung membuat murid merasa jenuh hanya dengan mendengarkan atau melihat melalui laptop atau handphone. Orang tua murid juga mengeluhkan susahnya membimbing anak untuk belajar secara online. Kami gurupun susah untuk memantau murid-murid”

(wawancara dengan RM di ruang kelas, 03 November 2021).

Berdasarkan wawancara di atas bahwa terdapat beberapa kesulitan yang dialami selama pembelajaran pada masa pandemi Covid-19, diantaranya keterbatasan interaksi selama proses pembelajaran dan kurang terpantaunya perkembangan murid, keterbatasan alat daring terlebih paket data internet dan signal, serta kesulitan orang tua membimbing anak di rumah.

b. Munculnya Kesulitan dalam Pelaksanaan Pembelajaran Daring Munculnya kesulitan dalam pelaksanaan pembelajaran daring dapat dilihat dari dua sudut pandang yaitu sudut pandang guru dan sudut pandang murid.

1) Sudut Pandang Guru

Pembelajaran secara daring dirasa kurang maksimal oleh guru yang mengajar di PAUD Al Amin. Aplikasi atau alat yang digunakan sebagai media pembelajaran online seperti WhatsApp dan Zoom sebagian guru belum pandai untuk menggunakannya.

Penjelasan tersebut sesuai dengan yang disampaikan oleh ED selaku wakil kepala sekolah PAUD Al Amin:

“Ada beberapa kendala yang dirasakan oleh guru di sini selama pembelajaran daring. Berbagai aplikasi yang saat ini banyak digunakan sebagai media pembelajaran tidak semua guru mampu untuk menggunakannya. WhatsApp dirasa kurang efesien untuk mengajar dalam tingkat PAUD. Selain WhatsApp, Zoom merupakan salah satu alternatif antara guru dan murid untuk dapat berinteraksi. Namun, Zoom belum terlalu dikuasai oleh sebagian guru”. (wawancara dengan ED, 02 November 2021 di ruang kelas).

2) Sudut Pandang Murid

Mnculnya kesulitan dari murid yaitu terbatasnya media pembelajaran dan interaksi di sekolah seperti pada umumnya.

Murid merasa jenuh ketika hanya dihadapkan dengan layar handphone atau laptop saja. Bahkan sebagian murid harus dibujuk terlebih dahulu agar memperhatikan kelas online.

Penjelasan tersebut sesuai dengan yang diungkapkan oleh RM selaku guru PAUD Al Amin.

“Faktor yang menimbulkan adanya kendala dari sisi murid ya itu tadi, mereka jenuh belajar hanya menghadap kamera sehingga terkadang para orang tua harus ikut membujuk dan memastikan bahwa anak mereka memperhatikan kelas” ( wawancara dengan RM di ruang kelas).

Selain kesulitan tersebut, A kepala sekolah mengungkapkan hal lain yang juga dialami selama proses pembelajaran daring yaitu ada sebagian kecil orang tua murid yang tidak bisa selalu memantau anaknya setiap saat selama daring sehingga anak kerap tidak memperhatikan ketika guru menerangkan pelajaran. Hal ini sesuai dengan pernyataan yang disampaikan:

“Munculnya kendala tersebut salah satunya adalah sebagian orang tua tidak selalu bisa memantau anaknya yag sedang menerima pembelajaran secara online, terlebih jika orang tua murid memiliki pekerjaan yang sulit untuk ditinggalkan. Murid kerap tidak terlalu memperhatikan pembelajaran secara online

(wawancara dengan A di ruang kelas, 1 November 2021).

c. Solusi untuk Mengatasi Kesulitan Selama Pembelajaran Daring

Setelah mengetahui kesulitan yang dihadapi, adapun solusi yang dilakukan oleh guru PAUD Al Amin yaitu memberikan tugas kepada peserta didik untuk memperagakan apa saja yang sudah mereka peajari selama pembelajaran daring melalui video singkat. Misalnya gerakan olahraga, hafalan huruf abjad dan tugas lainnya agar anak lebih aktif dan tidak merasa bosan. Tugas ini dilakukan dengan didampingi orang tua sambil memantau peserta didik dalam mengerjakan tugasnya. Hal ini disampaikan oleh RM selaku guru PAUD Al Amin:

“Untuk mengurangi kejenuhan yang dirasakan oleh peserta didik, guru tetap memberikan tugas melalui video singkat agar anak dapat mengerjakan dari rumah” (wawancara dengan RM , 03 November 2021 di ruang kelas).

Hal yang sama juga diungkapakan oleh ED wakil kepala sekolah yang juga guru di PAUD Al Amin:

“Agar peserta didik lebih aktif dan tidak merasa bosan, kami berupaya semaksimal mungkin untuk mereka tetap terlibat dalam pembelajaran dengan mempraktikan secara langsung dari rumah. Tidak hanya itu, kami juga melakukan tanya jawab ringan untuk melatih anak berkomunikasi dengan guru maupun sesama dengan sesama murid agar lebih aktif” (wawancara dengan ED, 02 November 2021 pukul 11:00 WIB)

A selaku kepala sekolah menyampaikan, salah satu solusi yang dilakukan adalah dengan berkomunikasi dengan orang tua murid untuk memantau anak mereka selama proses daring berlangsung. Seperti ungkapan A dalam wawancara:

“Untuk menyikapi kesulitan yang dialami selama proses pembelajaran daring, guru juga rutin melakukan diskusi bersama orang tua murid untuk memantau, membimbing dan melihat perkembangan anak” (wawancara dengan A di ruang kelas, 1 November 2021 pukul).

d. Berlangsungnya Pembelajaran Daring

Ketiga informan yakni A kepala sekolah, ED wakil kepala sekolah sekaligus guru dan RM selaku guru PAUD Al Amin mengungkapkan hal yang serupa mengenai proses pembelajaran daring selama masa pandemi Covid-19. Pembelajaran dilaksanakan sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Wawancara dengan ketiga informan:

“Guru di sini selama Covid-19 mengajar sesuai jadwal yang telah ditetapkan” (wawancara dengan A di ruang kelas, 1 November 2021).

“Selama pandemi Covid-19, guru di sini mengajar sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Karena kita terbagi menjadi 2 kelompok belajar yaitu kelompok A dan kelompok B, maka masing-masing guru yang memegang kelompok tersebut mengajar sesuai jadwal”

(wawancara dengan ED selaku wakil kepala sekolah sekaligus guru di ruang kelas, 02 November 2021).

“Jadwal di PAUD Al Amin sudah ditentukan. Jadi selama pembelajaran daring berlangsung kami mengikuti jadwal yang sudah ditentukan” (wawancara dengan RM selaku guru di ruang kelas, 03 November 2021).

e. Mengetahui Kemampuan Murid dan Efektifitas Pembelajaran Daring Selama dilaksanakannya pembelajaran daring, banyak guru merasa kesulitan untuk mengetahui kemampuan murid yang harus belajar dari rumah dengan pantauan orang tua dikarenakan guru tidak bisa memantau secara langsung sehingga untuk mengetahui perkembangan peserta didik hanya melalui tugas video dan tanya jawab yang diberikan oleh guru dengan bantuan orang tua. Hal ini sama dengan yang disampaikan oleh ketiga informan melalui wawancara:

“Untuk mengetahui kemampuan murid, guru memberikan tugas kepada murid yang dibantu orang tua dengan mengirim video”

(wawancara dengan ED selaku wakil kepala sekolah sekaligus guru di ruang kelas, 02 November 2021).

“Untuk mengetahui sebatas mana murid memahami pelajaran ini, guru cukup mengalami kesulitan karena dilakukan secara online. Selain itu usia mereka yang masih dini perlu arahan serta bimbingan yang cukup lebih sehingga perlu diawasi oleh orang tua ketika di rumah”

(wawancara dengan RM selaku guru di ruang kelas, 03 November 2021).

“Pehaman peserta didik cukup sulit selama pemebelajarn daring.

Tugas yang diberikan tidak seluruhnya dapat dipahami jika hanya dilakukan secara online. Perlu adanya interaksi untuk menambah keaktifan dan pemahaman bagi peserta didik” (wawancara dengan A selaku kepala sekolah di ruang kelas, 1 November 2021 pukul).

Sedangkan untuk keefektifan proses pembelajaran, pembelajaran tatap muka lebih efektif dibanding dengan secara daring. Terlebih di usia anak yang masih dini sehingga masih sangat perlu interaksi belajar sambil bermain. Hal tersebut diungkapkan oleh ketiga informan:

“Tentu lebih efektif pembelajaran secara tatap muka dibanding dengan pembelajaran secara daring” (wawancara dengan ED selaku guru di ruang kelas, 02 November 2021).

“Wah sangat jauh sekali lebih efektig pembelajaran tatap muka.

Lebih merasa tersampaikan apa yang diajarkan” (wawancara dengan RM selaku guru di ruang kelas, 03 November 2021 pukul 11:50 WIB)

“Ya lebih efektif pembelajaran secara tatap muka. Guru lebih mudah untuk berinteraksi sekaligus memantau perkembangan murid selama pembelajaran. Sangat jauh efektif tatap muka” (wawancara dengan A selaku kepala sekolah di ruang kelas, 1 November 2021).

H. Analisis Data

Setelah dilakukan observasi, wawancara, dan dokumentasi maka dalam pembahasan kali ini akan dipaparkan tentang analisis dari temuan di atas. Analisis data ini dilakukan secara bertahap, mulai dari kesulitan dan

kendala yang dialami guru dalam menerapkan pembelajaran daring di PAUD Al Amin. Kemudian munculnya kesulitan pelaksanaan pembelajaran daring. Lalu solusi yang dilakukan untuk mengatasi kesulitan atau kendala yang dialami. Berlangsungnya pembelajaran daring.

Serta cara mengetahui kemampuan murid dan efektivitas pembelajaran daring.

1. Kesulitan Guru PAUD Al Amin dalam Pelaksanaan Pembelajaran Daring selama Masa Pandemi Covid-19

Masa pandemi Covid-19 mengharuskan proses pembelajaran dilakukan dengan media pembelajaran secara online atau dalam jaringan (daring). Tidak dipungkiri, proses pembelajarn secara daring ini mngalami beberapa kesulitan sehingga mengakibatkan proses pelaksanaan pembelajaran menjadi kurang efektif dan efesien.

Setelah dilakukan penelitian dengan menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi terkait kesulitan yang di alami oleh guru PAUD Al Amin dalam melaksanakan pembelajaran daring selama masa pandem Covid-19, ditemukan beberapa kesulitan yang dialami oleh guru yang mengajar yaitu:

a. Keterbatasan Interaksi Selama Pembelajaran Daring

Masa pandemi Covid-19 mengharuskan semua orang untuk melaksanakan protokol kesehatan. Salah satunya dengan menjaga jarak atau mengurangi interaksi selama pandemi. Kurangnya interaksi selama proses pembelajaran daring berlangung mempengaruhi perkembangan anak terlebih pada anak PAUD. Di

masa pndemi Covid-19 ini pembelajaran dilakukan secara daring atau tidak tatap muka. Hal ini menyebabkan peserta didik merasa jenuh atau bosan dan enggan memperhatikan pelajaran. Tidak hanya itu, orang tua murid juga dilibatkan selama pembelajaran daring berlangsung agar murid terpantau.

b. Keterbatasan Pengetahuan Penggunaan Media Pembelajaran Daring dan Keterbatasan Signal serta Paket Data Internet

Selain handphone atau laptop, signal dan paket data internet juga merupakan komponen penting dalam pelaksanaan proses pembelajaran daring. Jika signal dan paket data internet terbatas maka pelaksanaan pembelajaran daring juga akan terhambat.

Apabila murid tidak memiliki paket data internet yang cukup memadai maka murid tersebut akan susah bahkan sulit untuk bisa mengakses internet dan tidak dapat mengikuti proses pembelajaran.

Guru ataupun sekolah juga tidak memberikan fasilitas paket data internet untuk murid.

c. Orang Tua Kesulitan dalam Membimbing Anak Belajar di Rumah Pelaksanaan pembelajaran daring yang dilakukan di rumah tentunya harus dalam pengawasan orang tua terlebih anak di usia PAUD. Dikarenakan peserta didik masih harus dalam pantauan karena selama di rumah dan pembelajaran daring berlangsung maka selama pandemi Covid-19 ini peserta didik didampingi orang tua dan didampingi orang tua. Namun sebagian orang tua tidak bisa sepenuhnya memantau setiap saat, hal ini dikarenakan sebagian

orang tua bekerja sehingga terkadang peserta didik didampingi oleh keluarga yang lain atau bahkan ditinggalkan sendiri dan dilihat sesekali sambil orang tuanya bekerja.

2. Munculnya Kesulitan dalam Pelaksanaan Pembelajaran Daring Selama Masa Pandemi Covid-19

Proses pembelajaran yang awalnya dilakukan secara tatap muka beralih menjadi pembelajaran secara daring karena adanya Covid-19 menjadikan berbagai pihak yang terlibat harus menyesuaikan supaya proses pembelajaran tetap berjalan. Pembelajaran secara daring ini tentunya masih memiliki kendala karena sebagian besar guru maupun peserta didik belum pernah melakukan pembelajaran daring terlebih ini adalah PAUD. Kendala tidak semata-mata dirasakan oleh guru dan murid, orang tua muridpun ikut mengalami kesulitan selama proses pembelajaran daring ini. Pembelajaran daring memberikan dampak positif dan danpak negative. Kurangnya pengetahuan masyarakat serta perbedaan pengetahuan mengenai kemajuan teknologi menjadikan perbedaan berlangsungnya proses pembelajaran di kalangan masyarakat.

Adapun munculnya kesulitan dalam pelaksanaan pembelajaran daring yaitu dapat dilihat dari dua sudut pandang, yaitu sudut pandang guru dan sudut pandang murid.

a. Sudut Pandang Guru

Faktor munculnya kesulitan dan kendala dalam pelaksanaan pembelajaran daring dari sudut pandang guru yaitu adanya kendala

dalam hal penggunaan aplikasi-aplikasi yang digunakan sebagai media pembelajaran secara daring seperti Zoom dan WhatsApp, dimana aplikasi tersebut dirasa kurang maksimal dalam penyampaian materi untuk anak usia dini seperti PAUD. Hal ini dapat dikatakan sebagai salah satu faktor munculnya kesulitan dalam proses pembelajaran daring.

b. Sudut Pandang Murid

Kesulitan pembelajaran daring dari sudut pandang murid yaitu sebagian murid merasa jenuh atau bosan ketika materi hanya disampaikan melalui media pembelajaran secara daring atau online.

Murid jenuh karna kurangnya interaksi antar murid dengan guru serta murid dengan murid. Selain itu, sebagian orang tua tidak dapat memantau anaknya selama proses pembelajaran berlangsung. Selaras dengan penelitian Kusdaryani, jika dikelompokkan ada dua faktor yang mempengaruhi munculnya kesulitan pembelajaran daring yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

a) Faktor Internal

Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri pelaku kegiatan belajar mengajar seperti dari guru dan murid.

Pada masa pandemi ini kesulitan yang dirasakan oleh PAUD Al Amin kota Bengkulu yang berasal dari siswa adalah menurunnya minat belajar dari murid itu sendiri karena menggunakan gawai sebagai media belajar hal ini disebabkan karena fokus belajar

Dokumen terkait