HASIL INVENTARISASI GAS RUMAH KACA NASIONAL
D. Sumber Data 1. Peternakan
Populasi ternak dan informasi yang terkait dengan inventarisasi emisi GRK yang dikumpulkan dari sumber publikasi tunggal, yaitu Statistik Pertanian (2000 - 2017) dari Pusat Data dan Informasi Kementerian Pertanian (PUSDATIN).
2. Sumber Agregat dan Sumber Emisi Non-CO2 pada Lahan
Data aktivitas yang digunakan untuk menghitung emisi GRK dari sumber agregat dan sumber emisi non-CO2 pada lahan diperoleh dari berbagai sumber publikasi. Data aktivitas estimasi emisi GRK dari pembakaran biomassa dan pengapuran bersumber dari PUSDATIN Kementerian Pertanian; Aplikasi urea, emisi langsung dan tidak langsung N2O dari tanah yang dikelola, dan emisi N2O tidak langsung dari manajemen kotoran diterapkan data kegiatan yang diperoleh dari PUSDATIN Kementerian Pertanian dan APPI (Asosiasi Produsen Pupuk Indonesia). Sementara itu, aktivitas data untuk
memperkirakan emisi metana dari budidaya padi diperoleh dari PUSDATIN Kementerian Pertanian dan BPS (Badan Pusat Statistik).
E. Perhitungan Emisi GRK
Berdasarkan hasil analisis, dapat diketahui bahwa pada tahun 2000, total emisi GRK dari tiga gas utama (CO2, CH4 dan N2O) dari sektor pertanian adalah sebesar 95.201 Gg CO2e, pada tahun 2017, meningkat secara signifikan menjadi 121.686 Gg CO2e. Berdasarkan sumbernya, pada tahun 2017 emisi utama dari sektor pertanian berasal dari kegiatan budidaya padi sawah (37%), emisi N2O langsung dari tanah yang dikelola (29%) dan fermentasi enterik dari ternak (11%). Emisi dari sektor pertanian untuk seluruh kategori pada tahun 2000-2017 dapat dilihat pada Gambar 3-31.
Gambar 3-31. Emisi dari Sektor Pertanian Menurut Kategori Tahun 2000- 2017
1. Peternakan
Pada tahun 2017, total emisi dari sektor peternakan yaitu sebesar 22.714 Gg CO2e, lebih tinggi dari emisi sektor peternakan pada tahun 2016 yaitu 21.922 Gg CO2e (Gambar 3- 32). Hal ini disebabkan oleh kenaikan beberapa jenis ternak.
Sumber emisi terbesar terhadap total emisi pada tahun 2017 dari sektor peternakan adalah dari kategori emisi CH4 dari fermentasi enteric dengan persentase 61%, diikuti oleh emisi N2O langsung dari pengelolaan kotoran ternak (28%), emisi CH4 dari pengelolaan kotoran ternak dan emisi N2O tidak langsung dari pengelolaan kotoran ternak (6%).
Gambar 3-32. Trend Emisi Co2e Dari Sektor Peternakan Tahun 2000-2017
2. Estimasi Emisi Sumber Agregat dan Sumber Emisi Non-CO2 pada Lahan Beberapa perhitungan emisi nasional dari sumber agregat dan sumber emisi non-CO2
didasarkan pada agregasi emisi di level provinsi, untuk budidaya padi dan pembakaran biomassa (lahan pertanian dan padang rumput), data yang dikumpulkan dari tingkat provinsi, sedangkan untuk urea dan aplikasi kapur pertanian serta N2O dari tanah yang dikelola, data dikumpulkan dari tingkat nasional. Dengan demikian, variasi dalam kondisi biofisik antar provinsi tersebut dipertimbangkan dalam menentukan faktor emisi.
Berdasarkan sumbernya, emisi GRK dari sumber agregat dan non-CO2 sumber emisi di darat dapat disampaikan di bawah ini.
3. Emisi dari Pembakaran Biomassa
Emisi dari pembakaran padang rumput (Biomass Burning Grassland) dihitung berdasarkan luas panen padi ladang (gogo) pada periode 2000-2017. Sedangkan emisi dari pembakaran lahan pertanian (Biomass Burning Cropland) dihitung berdasarkan data luas panen padi dan produksi padi sawah. Kedua data tersebut bersumber dari Pusdatin Kementerian Pertanian. Hasil perhitungan menunjukkan tren penurunan dari padang rumput yang terbakar pada setiap tahunnya, sedangkan emisi dari pembakaran lahan pertanian meningkat (Gambar 3-33). Total emisi dari pembakaran biomassa pada tahun 2017 adalah 3.056 Gg CO2e.
Gambar 3-33. Emisi Dari Pembakaran Biomassa pada Periode 2000 - 2017
4. Aplikasi Kapur Pertanian
Emisi CO2 dari aplikasi kapur pertanian dihitung dari pendekatan jumlah aplikasi kapur pertanian (sesuai dosis yang dianjurkan) untuk perkebunan kelapa sawit, karet dan kakao, yang ditanam pada asam sulfat dan tanah organik. Sedangkan aplikasi kapur pertanian untuk tanaman pangan jarang diterapkan oleh petani. Dengan menggunakan metode ini, emisi CO2 dari pengapuran pada 2000-2017 ditunjukkan pada Gambar 3- 34. Konsumsi kapur di Indonesia meningkat secara konsisten dengan perluasan lahan gambut untuk perkebunan kelapa sawit setelah tahun 2000. Emisi CO2 dari pengapuran 2.289 Gg CO2 pada tahun 2017.
Gambar 3-34. Emisi CO2 Dari Aplikasi Kapur Di Bidang Pertanian Tahun 2000-2017
5. Aplikasi Pupuk Urea
Data aktivitas konsumsi urea untuk tahun 2000-2017 berasal dari konsumsi pupuk di pasar domestik dari APPI (Asosiasi Produsen Pupuk Indonesia). Selain itu, aplikasi urea juga diperkirakan dari perkebunan kelapa sawit (termasuk perkebunan rakyat) dengan mengalikan dosis yang dianjurkan urea dengan luas perkebunan. Emisi CO2 dari aplikasi urea di sektor pertanian diperlihatkan pada Gambar 3-35, dengan emisi sebesar 3.900
Gg CO2 pada tahun 2000 dan 5.300 Gg CO2 pada tahun 2017. Tren peningkatan emisi dari aplikasi urea mengikuti peningkatan produksi tanaman khususnya padi, di mana area panen padi sawah yang cenderung dari tahun ke tahun.
Gambar 3-35. Emisi CO2 Dari Aplikasi Pupuk Urea 2000-2017
6. Emisi N2O dari Tanah yang Dikelola
Urea, amonium sulfat (AS) dan nitrogen, fosfor dan kalium (NPK) adalah jenis umum dari pupuk nitrogen anorganik (N) yang paling umum digunakan dalam pertanian di Indonesia. Urea dan AS juga merupakan pupuk anorganik berbasis nitrogen yang paling banyak yang digunakan dalam perkebunan besar dan tanaman (APPI, 2008). Selain itu, jenis pupuk tersebut juga diterapkan pada buah-buahan, sayuran dan tanaman tahunan lainnya dengan nilai ekonomi yang tinggi. Konsentrasi nitrogen pada urea, AS dan NPK adalah 46%, 21% dan 15% masing-masing (Petrokimia Gresik, 2008). Data konsumsi pupuk Urea, AS dan NPK diperoleh dari APPI.
Emisi N2O langsung dari tanah yang dikelola dihitung dari tingkat aplikasi pupuk N dan pupuk kandang. Emisi N2O langsung pada sawah tergenang dihitung berdasarkan luas panen padi, selain itu Emisi N2O langsung juga dihitung dari tanah yang dikelola (tanaman pangan, hortikultura, sayuran, buah-buahan serta perkebunan). Emisi N2O di tanah yang dikelola tahun 2000-2017 ditunjukkan pada Gambar 3-36. Fluktuasi N2O emisi langsung dari tanah yang dikelola dapat dikaitkan dengan konsumsi urea, NPK dan AS di bidang pertanian di Indonesia.
Gambar 3-36. Emisi N2O Dari Tanah Yang Dikelola Tahun 2000-2017
Pada tahun 2000, emisi langsung N2O adalah 26.775 Gg CO2e dan meningkat menjadi 35.992 Gg CO2e pada tahun 2017. Demikian juga untuk emisi N2O tidak langsung, angka menunjukkan tren peningkatan emisi. Pada tahun 2017 (9.500 Gg CO2e) mengalami peningkatan dibandingkan dengan emisi tahun 2000 (7.236 Gg CO2e). Peningkatan emisi N2O dari tanah yang dikelola ini sejalan dengan adanya peningkatan lahan sawah yang signifikan pada tahun 2017 yang diikuti dengan adanya peningkatan konsumsi pupuk ammonium sulfat dan NPK selain penggunaan pupuk Urea dan pupuk kandang.
7. Budidaya Padi Sawah
Data aktivitas yang digunakan untuk menghitung emisi dari budidaya padi berdasarkan data dari lahan sawah dan intensitas tanam bersumber dari Pusdatin Kementerian Pertanian dan BPS tahun 2000-2017. Faktor skala untuk tanah dibobotkan berdasarkan proporsi jenis tanah di tingkat provinsi. Pembobotan juga digunakan untuk menentukan faktor skala nasional untuk varietas padi, yang dihitung dengan mempertimbangkan proporsi semua varietas padi yang digunakan di tingkat provinsi. Nilai ini diterapkan untuk semua tahun inventarisasi. Emisi CH4 dari budidaya padi sawah di Indonesia pada tahun 2000 dan 2017 adalah 38.587 CO2e dan 42.835 CO2e (Gambar 3-37).
Kenaikan emisi yang terjadi di tahun 2016 dapat dikaitkan dengan peningkatan luas lahan sawah dalam rangka swasembada pangan yang merupakan program prioritas dari Kementerian Pertanian.
Gambar 3-37. Emisi Metana Dari Budidaya Padi Tahun 2000-2017