Nama Surah
Surah ini termasuk surah Makkiyyah. Terdiri atas 40 ayat. Diturunkan setelah Surah Al-Naba` (Al-Maraghi, X, 1985: 21). Dinamakan Al-Nâzi’ât karena diawali dengan sumpah Allah yang menggunakan kata itu. Al-Nâzi’ât, menurut Al-Zuhaili (XXX, 1991: 30), berarti malaikat-malaikat yang mencabut nyawa manusia. Mereka mencabut nyawa orang-orang Mukmin dengan mudah dan ringan dan mencabut nyawa orang-orang kafir dengan kasar dan keras.
Latar dan Konteks
Al-Maraghi (X, 1985: 21) melihat adanya hubungan (munâsabah) antara surah ini dengan surah sebelumnya. Surah Al-Naba` mengandung peringatan tentang adanya azab pada hari kiamat. Surah ini diawali dengan sumpah bahwa hari kebangkitan itu pasti terjadi dan tak dapat disangkal dan diragukan.
Al-Zuhaili (XXX, 1991: 30) melihat munâsabah Surah Al-Nâzi’ât dengan surah Al-Naba` dari dua sisi:
(1) Kesamaan tema. Dua surah ini sama-sama berisi pembahasan tentang hari kiamat dan kondisinya serta menerangkan tempat orang-orang yang bertakwa dan orang-orang kafir setelah terjadi hari kiamat.
79
Surah Al-Nâzi’ât
(2) Kesamaan pada awal dan akhir pembahasannya. Awal pembahasan dua surah tersebut adalah tentang hari kebangkitan dan hari kiamat.
Surah pertama (Al-Naba`) menegaskan adanya hari kebangkitan yang dibarengi penjelasan tentang kondisi dan situasi yang sangat menakutkan, penjelasan tentang hisab (pertanggungjawaban amal setiap orang), dan balasan atas amal tersebut. Surah yang kedua (Al- Nâzi’ât) diawali dengan sumpah tentang terjadinya hari kiamat sebagai penegasan tentang informasi yang diterangkan pada akhir surah sebelumnya.
Surah Al-Naba` diawali dengan peringatan tentang adanya azab yang sudah dekat pada hari kiamat. Sementara, Surah Al-Nâzi’ât diakhiri dengan pembahasan tentang kepastian adanya hari kebangkitan dan hari mahsyar (tempat berkumpulnya seluruh hamba Allah, jin, dan manusia). Dengan adanya hubungan yang erat antara dua surah yang berurutan ini, adanya hari kiamat itu pasti akan terjadi secara meyakinkan. Keduanya merupakan dalil dan argumen tentang adanya hari kiamat berikut kedahsyatannya.
Substansi
Tema kajian surah ini, seperti surah-surah Makkiyyah lainnya, adalah pokok-pokok akidah, seperti tauhid, kenabian, dan hari kebangkitan.
Pernyataan Al-Zuhaili (XXX, 1991: 31) ini sama dengan pernyataan umum ahli tafsir dan ilmu tafsir. Al-Zarqani (I, 1988: 202-203) menerangkan bahwa kajian akidah ini merupakan salah satu dari enam ciri umum yang dimiliki surah Makkiyyah bila dilihat dari yang terkandung di dalamnya.
Sumpah Allah tentang Kepastian Hari Pembangkit (Ayat 1-14)
Surah Al-Nâzi’ât
29(1) Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras; (2) Dan (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah-lembut; (3) Dan (malaikat-malaikat) yang turun dari langit dengan cepat; (4) Dan (malaikat- malaikat) yang mendahului dengan kencang; (5) Dan (malaikat-malaikat) yang mengatur urusan (dunia); (6) (Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama menggoncang alam; (7) Tiupan pertama itu diiringi oleh tiupan kedua; (8) Hati manusia pada waktu itu sangat takut; (9) Pandangannya tunduk; (10) (orang-orang kafir) berkata, “Apakah sesungguhnya kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan semula?
(11) Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila kami telah menjadi tulang belulang yang hancur lumat?” (12) Mereka berkata, “Jika demikian, itu adalah suatu pengembalian yang merugikan”; (13) Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah satu kali tiupan saja; (14) Maka dengan sertamerta mereka hidup kembali di permukaan bumi. (QS Al-Nâzi’ât [79]: 1-14)
Surah ini menggunakan malaikat pencabut nyawa sebagai objek sumpah. Tujuan sumpah yang tersembunyi itu ialah tentang adanya hari kebangkitan, manusia seluruhnya akan dibangkitkan dari kematian setelah terjadinya hari kiamat. Pertama, pada hari ketika tiupan pertama mengguncang alam, tiupan pertama itu diiringi tiupan kedua. Makna sumpah yang kedua, adalah untuk meyakinkan orang yang mengingkari adanya hari kebangkitan tersebut.
Penjelasan Ayat
(1) Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras;
(2) Dan (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah- lembut; (3) Dan (malaikat-malaikat) yang turun dari langit dengan cepat; (4) Dan (mal ai kat-mal aikat) yang mendahului dengan kencang; (5) Dan (malaikat-malaikat) yang mengatur urusan (dunia).
(QS Al-Nâzi’ât [79]: 1-5)
Allah Swt. mengawali surah ini dengan sumpah yang menggunakan berbagai macam makhluk-Nya. Sumpah ini berfungsi menegaskan bahwa yang diajarkan Rasul-Nya tentang hari kebangkitan dan dikumpulkannya seluruh makhluk di hadapan Tuhan untuk mendapat balasan amal mereka adalah suatu kebenaran yang tidak bisa dibantah.
Hari yang sangat menentukan itu begitu mencekam, membuat hati terguncang, dan pandangan mata tertunduk. Orang-orang itu terheran- heran atas kebangkitan mereka setelah mereka mati dan menjadi tulang- belulang yang sudah rapuh dan hancur menjadi debu yang mudah ditiup angin. Kebangkitan mereka di alam akhirat itu ternyata membawa kerugian karena mereka telah mengingkari hari kebangkitan itu ketika hidup di dunia. Mereka mengira bahwa menghidupkan kembali orang yang sudah mati merupakan kesulitan bagi Allah. Padahal bagi-Nya, hal itu begitu mudah. Dia membangkitkan kembali orang-orang yang ada di alam kubur itu cukup dengan satu tiupan komando, lalu mereka secara bersamaan bangkit dari alam kuburnya.
Jika dicermati, sumpah Allah dengan menggunakan makhluk-makhluk- Nya di dalam Al-Quran al-Karim, maka dapat difahami dari dua sisi:
Pertama, makhluk-makhluk itu dipandang besar di mata manusia.
Mereka memiliki kekuasaan atau kekuatan yang memengaruhi jiwa manusia, sehinga sebagian manusia ada yang sampai mempertuhan makhluk-makhluk tersebut: semisal matahari atau rembulan. Di sisi lain, Allah Swt. mengingatkan manusia bahwa makhluk-makhluk besar itu bukan Tuhan, tetapi makhluk Allah juga. Makhluk-makhluk itu berubah seperti makhluk-makhluk lainnya. Mereka tidak kekal seperti kekalnya Allah. Oleh karena itu, makhluk-makhluk itu tidak layak dipertuhan.
Contoh: Qasam (sumpah) sejenis ini ialah Surah Al-Syams (91): 1-2, yang artinya:
(1) Demi matahari dan cahayanya di pagi hari; (2) Dan bulan apabila mengiringinya. (QS Al-Syams [91]:1-2)
Kedua, makhluk-makhluk yang dipandang hina oleh manusia dikarenakan ia meremehkan manfaatnya dan tidak bisa mengambil ibrah
Surah Al-Nâzi’ât
31(pelajaran) darinya. Andaikan manusia memerhatikan dan menghayati kebesaran dan kehebatan ciptaan Allah tersebut dan memetik hikmah yang terkandung di dalamnya, niscaya mereka akan memeroleh petunjuk tentang eksistensi penciptanya, dan mengakui betapa agung dan berkuasanya sang pencipta benda-benda tersebut. Contoh lain sumpah ini ialah Surah Yâsîn (36): 2-3, yang artinya:
(2) Demi Al-Quran yang penuh hikmah; (3) Sesungguhnya kamu salah seorang dari para rasul. (Yâsîn [36]: 2-3)
Pada surah ini, Allah bersumpah bahwa balasan amal itu suatu kepastian. Seluruh manusia akan dibangkitkan dari alam kubur dan masing- masing kelak akan mendapat balasan amalnya. Firman Allah Swt. Surah Al- Dzâriyât (51): 1-6 menyatakan, yang artinya:
(1) Demi (angin) yang menerbangkan debu dengan kuat; (2) Dan awan yang mengandung hujan; (3) Dan kapal-kapal yang berlayar dengan mudah;
(4) Dan (malaikat-malaikat) yang membagi-bagi urusan; (5) Sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu pasti benar; (6) Dan sesungguhnya (hari) pembalasan pasti terjadi. (QS Al-Dzâriyât ([51]: 1-6)
Surah Al-Nâzi’ât ini juga diawali dengan sumpah Allah yang menggunakan makhluk-makhluk-Nya. Perhatikan ayat 1-5 surah itu yang artinya sebagai berikut:
(1) Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras; (2) Dan (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah-lembut; (3) Dan (malaikat-malaikat) yang turun dari langit dengan cepat; (4) Dan (malaikat- malaikat) yang mendahului dengan kencang; (5) Dan (malaikat-malaikat) yang mengatur urusan (dunia). (QS Al-Nâzi’ât [79] :1-5)
Mayoritas ulama (jumhur), sebagaimana terlihat pada terjemahan ayat-ayat ini, berpendapat bahwa Allah bersumpah dengan menggunakan makhluk-makhluk-Nya yang bernama malaikat. Malaikat yang mencabut nyawa orang kafir dengan kasar dan kejam; malaikat yang mencabut nyawa orang Mukmin dengan cepat, halus, dan lemah lembut; malaikat yang turun dari langit dengan cepat untuk memenuhi perintah Allah; malaikat yang berlomba membawa ruh orang-orang Mukmin ke dalam surga; dan malaikat yang ditugasi melaksanakan aturan Allah, seperti masalah halal dan haram berikut rinciannya; serta mengatur dunia (sunnatullah) seperti bertiupnya angin dan turunnya hujan. Al-Zuhaili (XXX, 1991: 24) mengutip pendapat yang mengatakan bahwa malaikat yang ditugasi mengatur urusan dunia itu ada empat: (1) Jibril, yang bertugas mengurus angin dan bala tentaranya;
(2) Mikail, diserahi urusan hujan dan tanam-tanaman; (3) Izrail, ditugasi mencabut nyawa; dan (4) Israfil, ditugasi membawa perintah Allah untuk membinasakan mereka itu.1
Berbeda dengan Al-Zuhaili, Al-Maraghi mengutip pendapat Hasan Bashri bahwa lima ayat di atas berarti mengandung arti benda-benda langit seperti matahari, rembulan, dan bintang-bintang lainnya. Sumpah Allah dengan menggunakan benda-benda langit itu karena benda-benda itu dipandang besar dan hebat oleh manusia; memberi faedah yang besar dalam kehidupannya; dan mengikuti aturan yang dibuat Tuhannya (sunnatullah).
Mereka selalu berputar pada porosnya sesuai perintah Allah, dan mereka akan berubah, tidak beraturan, yang berakibat kehancuran alam semesta ini juga karena mengikuti kehendak Penciptanya. Oleh karena itu, pada ayat 6 dan 7 ditegaskan,
(6) (Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama mengguncang alam; (7) Tiupan pertama itu diiringi tiupan kedua. (QS Al- Nâzi’ât [79]: 6-7)
Ayat enam, menurut Al-Maraghi, mengandung arti bahwa ketika bumi ini berguncang, gunung-gunung pun meletus dengan suara yang sangat dahsyat dan mengerikan, kemudian diikuti berbenturannya dan hancurnya tata surya, planet-planet, dan bintang-bintang lainnya. Dampak yang terjadi adalah berguncangnya bumi sehingga memuntahkan benda-benda yang terkandung di dalamnya.
Al-Maraghi kemudian mengutip hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad, Al-Tirmidzi, dan dipandang berkualitas hasan oleh Hakim, bahkan ulama lainnya memandang hadis tersebut berkualitas shahih. Teks hadis yang besumber dari Ubai Ibnu Ka’ab tersebut sebagai berikut:
Jika waktu telah memasuki duapertiga malam, Rasulullah Saw.
memerintahkan kepada para pengikutnya, “Wahai umat manusia, ingatlah kepada Allah. Jika telah datang guncangan hebat di bumi, pasti akan diikuti benturan benda-benda langit, dan makhluk yang ada pasti akan mati.”
(HR Al-Tirmidzi)
Dua penafsiran di atas, walaupun akhirnya menuju substansi yang sama yakni datangnya hari kiamat, namun memiliki implikasi yang berbeda terhadap ayat enam dan tujuh tersebut. Menurut penafsiran yang pertama,
Surah Al-Nâzi’ât
33al-râjifah dan al-râdifah adalah tiupan pertama yang menandai kehancuran alam semesta dan tiupan kedua yang menandai tibanya hari kebangkitan dari alam kubur. Menurut penafsiran yang kedua, dua kata itu hanya menunjukkan datangnya hari kiamat dengan hancurnya alam semesta.
Adapun terhadap ayat delapan dan sembilan, mereka memiliki penafsiran yang sama. Teks dua ayat tersebut sebagai berikut:
(8) Hati manusia pada waktu itu sangat takut; (9) Pandangannya tunduk.
(QS Al-Nâzi’ât [79]: 8-9)
Datangnya hari kiamat yang dahsyat dan mengerikan itu membuat hati orang-orang kafir bergetar ketakutan. Pada saat itu, mereka dapat membuktikan kebenaran peringatan Rasul kepada mereka tentang datangnya hari kiamat. Mereka menyaksikan dengan mata kepala sendiri kebenaran dari apa yang mereka tidak percayai atau mereka tidak imani itu.
Karena ketakutan yang luar biasa terhadap kedahsyatan hari kiamat dan akibat buruk yang bakal mereka alami, maka tampak pada pandangan mata mereka yang tertunduk kuyu. Mereka menyadari kesalahan dan dosa- dosa yang telah mereka perbuat samasa hidup sebagai akibat penolakan dan kekufuran terhadap hari kebangkitan.
Al-Maraghi (XXX, 1985: 25) menerangkan bahwa yang menerangkan kekufuran mereka terhadap hari kebangkitan dan ejekan mereka terhadap Rasul dan kaum Mukminin, adalah ayat 10 sampai dengan ayat 12:
(Orang-orang kafir) berkata, “Apakah sesungguhnya kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan semula? (11) Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila kami telah menjadi tulang belulang yang hancur lumat?” (12) Mereka berkata, “Kalau demikian, itu adalah suatu pengembalian yang merugikan.” (QS Al-Nâzi’ât [79]:10-12)
Surah ini kemudian menerangkan kondisi orang-orang musyrik yang mengingkari adanya hari kebangkitan. Mereka merasakan ketakutan yang luar biasa pada hari kiamat. Hal ini digambarkan ayat 8 – 14 surah ini.
Kondisi yang akan mereka alami itu tidak jauh berbeda dengan yang akan dialami orang-orang kafir lainnya, termasuk Firaun yang menentang ajaran Nabi Musa. Dia bahkan mengaku bahwa dirinya adalah Tuhan. Firaun yang perkasa dan bala tentaranya akhirnya merasakan kehancuran dan kematian dengan cara ditenggelamkan di Laut Merah. Penuturan kisah ini sebagai pelajaran bagi umat Muhammad bahwa setiap orang pasti akan mengalami kematian betapa pun perkasanya orang tersebut dan kelak akan dibangkitkan pula pada hari kiamat untuk mempertanggungjawabkan amalnya. Kehancuran Firaun itu juga sebagai bukti kesempurnaan kekuasaan Allah, dan sekaligus memberi pemahaman bahwa membangkitkan manusia dari kematiannya itu tidak sulit bagi Allah. Cukup bagi Allah dengan memberi satu komando (tiupan) untuk membangkitkan manusia dari alam kuburnya.
Menurut riwayat Sa’id Ibnu Manshur, yang bersumber dari Muhammad Ibnu Ka’ab, dia menceritakan bahwa ketika Allah menurunkan ayat 10 yang berbunyi:
(Orang-orang kafir) berkata, “Apakah Sesungguhnya kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan semula?” (QS Al-Nâzi’ât [79]: 10)
Orang-orang kafir mengeluh, “Jika kita dihidupkan lagi setelah kematian, niscaya kita akan benar-benar merugi”. Lalu Allah menurunkan ayat ke-12:
Mereka berkata, “Kalau demikian, itu adalah suatu pengembalian yang merugikan.” (QS Al-Nâzi’ât [79]: 12)
Riwayat yang menerangkan latar dan konteks ayat 11 dan 12 surah ini, walaupun dikutip Al-Zuhaili (XXX, 1991: 34), tidak ditemukan dalam kitab yang secara spesifik membahas asal-usul sebagaimana ditulis Al-Wahidi. Ibnu Katsir yang tafsirnya bercorak bi al-ma`tsûr (berdasarkan riwayat) pun tidak mengutip riwayat ini dalam tafsirnya. Oleh karena itu, dapat difahami bahwa tidak setiap ayat memiliki sabab nuzul secara spesifik. Namun, kalau difahami secara sosial keagamaan masyarakat musyrik Mekah, secara umum riwayat yang dikemukakan Muhammad Ibnu Ka’ab di atas bisa diterima, tanpa harus mengkritisi kesahihan riwayat tersebut. Riwayat itu hanya menerangkan respons orang-orang kafir Mekah terhadap ayat-ayat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw.
Surah Al-Nâzi’ât
35Jika dikatakan kepada orang-orang yang mengingkari hari kebangkitan, baik kaum musyrikin Mekah dan lainnya, mereka akan menjawab:
(1) Apakah kami akan dihidupkan kembali, seperti kehidupan semula di dunia setelah mengalami kematian?
(2) Apakah kami akan dibangkitkan/dihidupkan kembali setelah kami menjadi tulang belulang yang sudah hancur?
Pada Surah Yâsîn (36): 78, orang-orang yang mengingkari hari kebangkitan itu disebut orang yang tidak menyadari asal dan proses penciptaan dirinya. Ayat itu menegaskan, yang artinya:
Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata, Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?
Pertanyaan itu kemudian dijawab Allah bahwa yang akan menghidupkan kembali setelah kematian adalah Tuhan yang menciptakannya pertama kali, yang artinya:
Katakanlah, “Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha mengetahui tentang segala makhluk.”
(Yâsîn [36]: 79)
(3) Kalau hari kebangkitan itu benar-benar akan terjadi sebagaimana Engkau katakan, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi karena kami mendustakannya dan kami pasti akan mendapat musibah sebagaimana yang dikatakan Nabi itu.
Ungkapan-ungkapan itu, menurut Al-Zuhaili (XXX, 1991: 36), merupakan bentuk cibiran mereka terhadap dakwah Nabi dan akidah Islam. Mereka tidak memercayai adanya kehidupan lagi setelah terjadi kematian di dunia ini.
Kehidupan dan kematian, menurut mereka, hanya terjadi di dunia ini.
Allah kemudian menjawab pernyataan mereka dengan ayat 13 dan 14:
(13) Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah satu kali tiupan saja;
(14) Maka dengan sertamerta mereka hidup kembali di permukaan bumi.
(QS Al-Nâzi’ât [79]: 13-14)
Jangan cepat-cepat menolak dan beranggapan bahwa kebangkitan setelah kematian itu masalah yang sulit dan tidak mungkin bagi Allah. Jangan memandang kekuasaan Allah dengan ukuran kemampuan manusia. Terjadinya kematian total pada hari kiamat itu, bagi-Nya cukup dengan satu tiupan
komando. Kebangkitan kembali dari alam kubur itu pun cukup dengan satu tiupan komando pula. Umat manusia yang telah mati dan telah bersatu dengan tanah akan bangkit dari alam kematiannya di mana pun mereka berada dan dalam kondisi yang sudah hancur sekalipun. Ayat senada terdapat pada Surah Shâd (38): 15, artinya:
Tidaklah yang mereka tunggu melainkan hanya satu teriakan saja yang tidak ada baginya saat berselang.
Al-Maraghi (XXX, 1985: 26) menegaskan, “Janganlah kalian mengira bahwa kebangkitan itu sulit bagi Kami. Kebangkitan kembali yang dianggap sulit bagi kalian itu, bagi Kami hanya cukup memerintahkan kepada malaikat untuk memberi komando dengan satu kali tiupan, kemudian kalian akan dihadirkan di hadapan Kami dan tak seorang pun yang dapat membantahnya dan pergi menghindarinya.”
Dengan ayat-ayat di atas, Allah ingin menegaskan kepada orang- orang yang menentang dan mendustakan hari kebangkitan. Hari kebangkitan dari alam kubur itu merupakan suatu kepastian setelah terjadinya hari kiamat.
Penegasan Allah itu diwujudkan dengan sumpah yang menggunakan makhluk-Nya, para malaikat, maupun benda-benda langit dan bumi. Makhluk yang digunakan sebagai qasam di dalam Al-Quran, biasanya adalah makhluk Allah yang sering diagungkan manusia, juga yang sering diremehkan mereka.
Kedahsyatan hari kiamat membuat hati orang-orang kafir ciut dan ketakutan karena merasa mendustakannya dan tidak menyiapkan diri dengan iman dan amal saleh untuk menghadapinya. Oleh karena itu, setiap Mukmin, khususnya, harus menyiapkan diri seoptimal mungkin dalam menghadapi hari kebangkitan yang pasti terjadi itu.
Hendaknya jangan sampai ada orang yang meremehkan kekuasaan Allah untuk membangkitkan manusia yang telah mati, bahkan mungkin sudah hancur bercampur tanah. Hal itu terlalu mudah bagi Allah, walaupun dipandang sulit bahkan mustahil menurut kemampuan manusia. Oleh karena itu, jangan mengukur kekuasaan dan kemampuan Sang Khaliq dengan makhluk-Nya, manusia yang diberi ilmu yang sangat terbatas ini.
Ancaman terhadap Orang Kafir (Ayat 15-26)
Surah Al-Nâzi’ât
37(15) Sudah sampaikah kepadamu (ya Muhammad) kisah Musa; (16) Tatkala Tuhannya memanggilnya di lembah Suci ialah lembah Thuwa; (17) “Pergilah kamu kepada Firaun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; (18) Dan Katakanlah (kepada Firaun) Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan); (19) Dan kamu akan Kupimpin ke jalan Tuhanmu agar kamu takut kepada-Nya”; (20) Lalu, Musa memperlihatkan kepadanya mukjizat besar; (21) Tetapi, Firaun mendustakan dan mendurhakai; (22) Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa); (23) Maka dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya; (24) (Seraya) berkata, ”Akulah Tuhanmu yang paling tinggi”; (25) Maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia; (26) Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Tuhannya).
(QS Al-Nâzi’ât [79]:15-26) Penjelasan Ayat
Kebandelan orang-orang kafir dan keingkarannya terhadap hari kebangkitan serta penghinaan mereka terhadap Rasulullah Saw., membuat beliau merasa sedih serta mempersulit posisi beliau sebagai Rasul dalam mengemban risalah. Allah lalu menuturkan kisah Musa dan Firaun yang menentang ajarannya terus-menerus. Bahkan, tantangannya lebih dahsyat dibanding tantangan yang diterima Rasulullah dari orang-orang kafir musyrik pada zamannya.
Tantangan Firaun terhadap Musa bahkan sampai pada pengakuan bahwa dirinya adalah Tuhan yang harus disembah dan ditaati kaumnya.
Namun, Musa tetap menjalankan dakwahnya walaupun tantangannya sangat berat dan dahsyat.
Penuturan kisah itu dimaksudkan untuk menghibur Rasul yang juga selalu mendapat tantangan yang berat dari kaumnya. Maksudnya, tantangan
yang lebih berat pun dirasakan Nabi Musa dalam mengemban risalah dakwahnya, bukan hanya dirasakan oleh beliau sebagai Rasul yang terakhir.
Firman Allah Surah Al-Ahqâf [46]: 35, yang artinya:
Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari para rasul yang telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka. Pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia), melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah) suatu pelajaran yang cukup, maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik.
Di samping itu, ada pelajaran lain bagi penentang Muhammad. Firaun yang memiliki kekuasaan dan kekuatan besar itu ketika menentang ajaran Nabi Musa dan membangkang perintah Tuhannya, akhirnya, mendapat siksa Allah di dunia dan di akhirat. Apalagi para penentang Nabi Muhammad yang relatif lebih lemah, bagi Allah tentu lebih mudah untuk mengazab dan menghancurkan mereka.
Wahai penentang Muhammad, walaupun kalian merasa besar dan kuat, kebesaran dan kekuatan kalian tidak akan menandingi kebesaran dan kekuatan Allah.
Ini adalah kecaman dan ancaman bagi mereka yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan mendapat siksa sebagaimana yang ditimpakan kepada Firaun dan para pengikutnya. Firman Allah Surah Fushshilat [41]: 13-14, menegaskan, yang artinya:
(13) Jika mereka berpaling maka katakanlah, “Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir menimpa kaum ‘Ad dan Tsamud,”
(14) Ketika para Rasul datang kepada mereka dari depan dan belakang mereka (dengan menyerukan), “Janganlah kamu menyembah selain Allah.” Mereka menjawab, “Kalau Tuhan kami menghendaki tentu Dia akan menurunkan malaikat-malaikat-Nya, maka sesungguhnya kami kafir kepada wahyu yang kamu utus membawanya.”
Ayat 15 dan 16 Surah Al-Nâzi’ât ini merupakan bentuk pertanyaan yang ditujukan kepada orang-orang yang membaca Al-Quran dan mengkaji sejarah Musa dan Firaun. Teks dua ayat tersebut menyatakan:
(15) Sudah sampaikah kepadamu (ya Muhammad) kisah Musa; (16) Tatkala Tuhannya memanggilnya di lembah Suci ialah lembah Thuwa. (QS Al-Nâzi’ât [79]:15-16)