• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tafsir Ilmiy

Dalam dokumen fenomena dua lautan yang tidak saling (Halaman 36-45)

BAB II KAJIAN PUSTAKA

B. Kerangka Teori

2. Tafsir Ilmiy

a. Pengertian Tafsir Ilmy

Tafsir ilmiy merupakan salah satu sebuah corak dalam menafsirkan Al-Qur‟an. Tafsir ilmiy dari segi bahasa tersusun dari dua suku kata yaitu tafsir dan ilmy. Tafsir sendiri secara bahasa berasal dari kata (

رسفلا

) yang artinya menjelaskan, ada juga yang berpendapat

26 Soelaiman, Filsafat Ilmu Pengetahuan Perspektif Barat dan Islam, 28.

27 Khusnul Khotimah, “Paradigma Dan Konsep Ilmu Pengetahuan Dalam Al-Qur`An,” Epistemé:

Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman 9, no. 1 (11 Juni 2014): 67–84, https://doi.org/10.21274/epis.2014.9.1.67-84.

22

bahwa tafsir berasal dari kata (

رفس

) yang artinya membuka.28 Sedangkan pengertian tafsir dilihat secara istilah adalah penjelasan terhadap kalam-kalam Allah atau menjadikan lafadz-lafadz Al-Qur‟an sebagai pemahamannya. Adapun beberapa pendapat ulama yang berbeda dalam mendefinisikan pengertian tafsir, seperti pendapat Az- Zarkashi dalam kitab Al-Burhan fi Ulum Al-Qur‟an mendefinisikan tafsir sebagai:29

و هيلع اللهااىلص محمد هيبن ىلع لزنلما اللها باتك مهف هب فرعي ملع يُسفتاا همكحو هماكحأ جارختساو هيناعم نايبو ملس

Tafsir adalah ilmu untuk mengetahui kitab Allah (Al- Qur‟an)yang diturunkan kepada Nabi Muhammmad SAW, menjelaskan makna-maknanya serta hukum-hukum yang terkandung jelas di dalamnya.

Sementara menurut „Abd al-„Azhim az-Zarqani dalam kitab karangannya Manahil al-Irfan fi Ulum Al-Qur‟an, mendefinisikan tafsir:30

اعت الله دارم ىلعلاهتللَد ثيح نم يمركلا نآرقلا نع هيف ثبح بي ملع ةيرشبلا ةقاطلا ردقب لى

28 Samsurrohman, Pengantar Ilmu Tafsir, 1 ed. (Jakarta: Amzah, 2014).

29 Ahmad Sarwat, Pengantar Ilmu tafsir, 2 ed. (Jakarta Selatan: Rumah Fiqih Publishing, 2020), 15.

30 Saifuddin Herlambang, Pengantar Ilmu Tafsir, 1 ed. (Yogyakarta: Samudra Biru, 2020), 5.

Ilmu yang membahas tentang Al-Qur‟an dari sisi penjelasan makna yang sesuai dengan yang dimaksud Allah melalui segenap upaya berdasarkan pada kemampuan pemahaman manusia.

Sedangkan ilmy secara bahasa diartikan dari kata knowldge yang artinya pengetahuan. Secara istilah yaitu dalam pandangan Al- Qur‟an arti „ilm tidak terbatas pada istilah ilmu agama saja, melainkan segala macam bentuk ilmu baik ilmu sosial, ilmu alam, ilmu humaniora dan ilmu yang dapat digunakan untuk kepentingan manusia.31 Menurut Ar-Rumi ilmu adalah perkataan syumul yang merangkum berbagai jenis ilmu pengetahuan manusia mulai dari ilmu baru dan ilmu lama, istilah tersebut menunjukan bahwa ilmu bukan hanya bersangkutan dengan ilmu astronomi saja melainkan dalam bidang lain juga.32

Secara umum dapat diartikan bahwa tafsir ilmiy adalah sebuah penafsiran dalam menafsirkan kandungan ayat-ayat Al-Qur‟an dengan pendekatan ilmiah berdasarkan teori-teori ilmu pengetahuan.33 Didalamnya terdapat objek berupa ayat-ayat Al-qur‟an yang berkaitan dengan alam semesta atau sains modern, seperti ilmu geologi, ilmu astronomi, ilmu biologi, kedokteran, dan matematika. Dan di dalamnya juga terdapat ilmu sosial, ilmu psikologi, maupun ilmu geografi.34

31 Dwi Indah Sari, “Penafsiran Zaghloul Al-Najjar Tentang Black Hole dalam QS. At-Takwir Ayat 15-16” (Skripsi, Semarang, UIN Walisongo, 2019).

32 Nor Syamimi Mohd, Haziyah Husin, dan Wan Nasyrudin Wan Abdullah, “Pendefinisian Semula Istilah Tafsir „Ilmi,” Islamiyyat 38, no. 2 (t.t.): 149-154.

33 Rubini, “Tasir Ilmi,” Jurnal Komunikasi dan Pendidikan Islam 5, no. 2 (2016): 90-115.

34 Sarwat, Pengantar Ilmu tafsir, 73.

24

Menurut pandangan Husain Ad-Dzahabi tafsir ilmi adalah, “Tafsir yang membahas istilah-istilah ilmiah dalam Al-Qur‟an dan berusaha menggali macam ilmu pengetahuan dan pandangan filosofis menurut Al-Qur‟an.” Abu Hajar juga mendefinisikan bahwa tafsir ilmi adalah tafsir yang menjelaskan ayat-ayat Al-Qur‟an yang telah terbukti kebenarannya dalam pandang sains dan ilmu pengetahuan.35

Munculnya corak tafsir ilmiy ini dikarenakan adanya pemikiran bahwa Al-Qur‟an mengandung berbagai ilmu didalamnya, berangkat dari paradigma bahwa ilmu di dalam Al-Qur‟an bukan hanya mengandung ilmu agama saja tetapi juga mengandung ilmu yang menyangkut duniawi seperti ilmu pengetahuan yang tidak bertentangan dengan akal sehat manusia. Menurut Dr. Abdul Mustaqim kemunculan tafsir ilmiy dikarenakan adanya dua faktor yakni; Pertama, faktor internal yang terdapat dalam ayat Al-Qur‟an dimana sebagian ayatnya sangat menganjurkan untuk melakukan penelitian tentang ayat-ayat kauniyyah maupun kosmologi. Kedua, faktor eksternal yaitu adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan sains modern.36

b. Kaidah Penafsiran Tafsir Ilmi

Dalam menafsirkan Al-Qur‟an dengan menggunakan pendekatan sains modern diperlukan kaidah atau aturan didalamnya, sehingga tidak sembarang dalam menafsirkan yang membuat penafsiran tersebut jauh dari makna ayat didalamnya. Maka dari itu

35 Mohd, Husin, dan Abdullah, “Pendefinisian Semula Istilah Tafsir „Ilmi.”, 149-154

36Rubini, “Tasir Ilmi”, 90-15.

diperlukan kaidah kaidah tertentu yang menjadi dasar dalam penafsiran ilmiah Al-Qur‟an, kaidah-kaidah tersebut diantaranya:37

1) Kaidah Kebahasaan

Kaidah kebahsaan merupakan syarat wajib bagi yang ingin memahami ayat Al-Qur‟an. Maka dari itu para mufassir harus memahami dan memperhatikan ilmu yang terkait dengan bahasa seperti ilmi nahwu, ilmu tashrif, ilmu i‟rab, ilmu balaghah dan ilmu pendukung lainnya. Pemahaman terhadap aspek ini merupakan pemahaman yang sangat berat, karena kalimat kalimat yang akan ditafsirkan bukanlah bahasa biasa yang digunakan manusia sehari- harinya melainkan bahasa Allah.

Para mufassir ilmu juga harus memperhatikan dan mempertimbangkan perkembangan arti dalam suatu kata. Karena, bisa jadi pengertian arti kata terentu dalam Al-Qur‟an di era sekarang memiliki makna yang berbeda dengan makna yang digunakan bangsa-bangsa Arab dauhulu. Maka dari itu, kaidah kebahasaan merupakan aspek penting dalam menafisrkan Al- Qur‟an dengan pendeketan apapun itu.38

2) Memperhatikan Korelasi Ayat

Selain kaidah kebahasaan, mufassir yang menggunakan nuansa ilmiah juga diharuskan memperhatikan korelasi ayat baik sebelum ataupun sesudahnya. Jika tidak memperhatikan korelasi ayat, tidak

37 Rubini, 102.

38 Rubini, 102.

26

menutup kemungkinan akan dapat menyesatkan pemahaman suatu teks ayat-ayat Al-Qur‟an. Karena penyusunan suatu ayat-ayat Al- Qur‟an bukanlah berdasarkan pada kronologi masa turunnya, melainkan berdasarkan hubungan makna ayat-ayat, sehingga kandungan ayat-ayat sebelumnya berkaitan dengan kandungan ayat-ayat selanjutnya.39

3) Berdasarkan Fakta Ilmiah yang Telah Mapan

Al-Qur‟an merupakan kitab suci yang kebenarannya diakui secara mutlak, oleh sebab itu ia tidak dapat disamakan dengan teori-teori ilmiah yang bersifat relatif. Ciri khas ilmu pengetahuan adalah tidak pernah kekal, yang artinya apa yang sudah dianggap salah pada masa lampau akan dibuktikan kebenarannya pada masa akan datang, begitupun juga sebaliknya.

Maka dari itu para mufassir hendaknya tidak memberikan makna pada teks Al-Qur‟an kecuali dengan kenyataan atau hakikat- hakikat lmiah yang sudah mapan dan sampai pada standar tidak adanya penolakan atau perubahan terhadap pernyataan imiah, serta tidak memaksakan dan menjauhkan teori-teori ilmiah dalam menafsirkan Al-Qur‟an.40

4) Pendekatan Tematik

Paradigma tafsir ilmiah dalam pembahasannya harus menggunakan metode tafsir tematik yang mana pembahasannya

39 Rubini, 103.

40 Rubini, 103.

sama dengan kaidah-kaidah dalam pembahasan tafsir tematik. Oleh karena itu, para mufassir harus menghimpun semua ayat-ayat Al- Qur‟an dalam suatu tema pembahasan yang sama, sehingga sampai pada makna yang hakiki.41

c. Pendapat Ulama Terhadap Tafsir Ilmi

Kemunculan corak tafsir ilmiy ini sudah lama menjadi perdebatan para ulama, ada yang setuju dan tidak dengan adanya tafsir ilmi mulai dari ulama klasik sampai ulama modern. Ulama yang setuju, diantaranya yaitu Fahruddin Ar-Razi, Abu Hamid Al-Ghazali, Muhammad bin Ahmad Al-Iskandarani, Abdullah Fikri, dan Abdul Aziz Ismail. Adapun yang menolak yaitu, Muhammad Abduh, Abu Ishaq, Rasyid Ridha, As-Syathibi, dan Amin Al-Khulli.

Pandangan Amin Al-Khulli dalam menolak tafsir ilmi, menurutnya ada 3 faktor yang ditemukan dalam ketidakberesan adanya tafsir ilmi. Faktor pertama, yaitu bahasa yang dianggap bahwa penafsiran yang digunakan dalam tafsir ilmiah tidak sesuai dengan makna dalam Al-Qur‟an. Faktor kedua, yaitu dari segi filologi, sastra, dan ilmu bahasa. Faktor ketiga, yaitu dari segi teologi; Al-Qur‟an berisikan pesan-pesan moral keagamaan yang tidak ada hubungannya dengan teori kosmologis, yang artinya Al-Qur‟an tidak boleh dipaksa setara dengan teori teori dalam bidang keilmuan ang bersifat relatif dan

41 Rubini, 104.

28

sementara.42 Puncak kontroversi terhadap tafsir ilmiy yaitu adanya pertentangan para ulama terhadap tafsir Al-Jawahir karya Syaikh Tantawi Jauhari yang mencantumkan banyak gambar seperti sebuah ensiklopedia pada awal abad ke 20.43

Adapun kritik terhadap tafsir ilmiy dimasa yang sekarang bahwa seolah-olah para ilmuwan mencari kebenaran sains modern di dalam Al-Qur‟an guna menunjukkan keunggulan islam sebagai kompensasi atas rasa rendah diri karena ketinggalannya umat islam dibidang sains dan tekonoogi dari bangsa barat yang menjajah sebagian besar umat islam, padahal faktanya munculnya tafsir ilmiy sudah lama ada, jauh sebelum bangsa barat menjajah dunia islam.

Terdapat beberapa upaya dalam merumuskan penulisan tafsir ilmiy menurut ulama tafsir untuk menjaga kesucian Al-Qur‟an:

1) Memperhatikan arti dan kaidah-kaidah kebahasaan untuk menjaga kesesuaian makna dalam menafsirkan Al-Qur‟an.

2) Memperhatikan konteks ayat yang ditafsirkan, sebab-sebab ayat dan surah Al-Qur‟an, bahkan kata dan kalimatnya saling berkorelasi.

3) Memperhatikan penafsiran Rasulullah, para sahabat, para tabiin, para ulama tafsir terutama menyangkut ayat yang akan dipahami.

Selain itu juga ilmu-ilmu Qur‟an seperti sabab nuzul, nasikh mansukh, dsb.

42 Samsurrohman, Pengantar Ilmu Tafsir.

43 Tafsir Salman: Tafsir Ilmiah Atas Juz ‟Amma (Bandung: Mizan Pustaka Kerjasama YPM Salman ITB, 2014).

4) Tidak menggunakan ayat-ayat yang mengandung isyarat ilmiah guna menghukumi benar salahnya sebuah penemuan ilmiah.

5) Memahami betul segala sesuatu yang menyangkut objek ayat termasuk penemuan ilmiah yang berkaitan.

6) Tetap memperhatikan dan memahami hadist nabi.

7) Tidak menggunakan teori-teori ilmiah yang masih bersifat teori dan hipotesis.

Tokoh-tokoh penggiat tafsir ilmiy dari pengarang kitab-kitab tafsir yang bercorak tafsir ilmiy, diantaranya:

1) Tanthawi Jauhari dengan kitabnya Al-Jawahir fi Tafsir Al-Qur‟an Al-Karim

2) Fakhruddin Al-Razi dengan kitabnya Tafsir Al-Kabir / Mafatih Al- Ghaib

3) Hanafi Ahmad dengan kitabnya Al-Tafsir al-ilmi li al-ayat al- kauniyyah fi Al-Qur‟an

4) Abdullah Syahatah dengan kitabnya Tafsir al-Ayat al-Kauniyyah 5) Muhammad Syawqi dengan kitabnya Al-Fajri Al-Isyarat Al-

Ilmiyah fi al-Qur‟an al-Karim.44

44 Samsurrohman, Pengantar Ilmu Tafsir,193.

30

Dalam dokumen fenomena dua lautan yang tidak saling (Halaman 36-45)

Dokumen terkait