• Tidak ada hasil yang ditemukan

fenomena dua lautan yang tidak saling

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "fenomena dua lautan yang tidak saling"

Copied!
104
0
0

Teks penuh

(1)

FENOMENA DUA LAUTAN YANG TIDAK SALING MENYATU MENURUT ZAGHLOUL EL-NAGGAR (Studi Analisis Terhadap Q.S Ar-Rahman Ayat 19-20)

SKRIPSI

Oleh:

Hikmah Yulia Martin NIM: U20181038

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI KIAI HAJI ACHMAD SIDDIQ JEMBER

FAKULTAS USHULUDDIN ADAB DAN HUMANIORA

NOVEMBER 2022

(2)

i

FENOMENA DUA LAUTAN YANG TIDAK SALING MENYATU MENURUT ZAGHLOUL EL-NAGGAR (Studi Analisis Terhadap Q.S Ar-Rahman Ayat 19-20)

SKRIPSI

diajukan kepada Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Sarjana Agama (S.Ag)

Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora Program Studi Ilmu Al-Qur‟an dan Tafsir

Oleh:

Hikmah Yulia Martin NIM: U20181038

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI KIAI HAJI ACHMAD SIDDIQ JEMBER

FAKULTAS USHULUDDIN ADAB DAN HUMANIORA

NOVEMBER 2022

(3)
(4)
(5)

iv

MOTTO

هِتهيها ْنِّم ْمُكَيُِيُِل ِهّللّا ِتَمْعِنِب ِرْحَبْلا ِفِ ْيِرَْتَ َكْلُفْلا َّنَا َرَ ت َْلََا َّنِا

ِْف َكِلهذ ٍرْوُكَش ٍراَّبَص ِّلُكِّل ٍتهيهَلَ

Tidakkah engkau memperhatikan bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dengan nikmat Allah, agar diperlihatkan-Nya kepadamu sebagian dari tanda-tanda

(kebesaran)-Nya. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran)-Nya bagi setiap orang yang sangat sabar dan banyak bersyukur.

(QS. Luqman: 31)1

1 Departemen Agama Republik Indonesia dan Terjemah, https://quran.kemenag.go.id/

(6)

v

PERSEMBAHAN

Dengan penuh rasa syukur kehadirat Allah swt serta rahmat dan hidayah- Nya yang telah memberikan kemudahan dan kelancaran dalam setiap jengkal langkahku. Untuk orang-orang yang berarti dalam hidupku, karya kecil ini penulis persembahkan kepada:

1. Kedua orang tua saya Bapak Marjito dan Ibu Titin Sundari yang telah memberikan cinta kasih yang tulus, mengajarkan semangat dan kerja keras serta motivasi, nasihat serta doa-doa terbaiknya.

2. Segenap dosen Program Studi Ilmu Al-Qur‟an dan Tafsir UIN KHAS Jember, Khususnya bapak Dr. H. Imam Bonjol Juhari, M.Si selaku dosen pembimbing skripsi yang telah banyak memberi kontribusi baik arahan, kritikan, saran, motivasi, dorongan dan bimbingannya sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.

3. Teman-teman Ilmu Al-Qur‟an dan Tafsir III Angkatan 2018, terimakasih atas solidaritas selama mencari ilmu di kampus.

(7)

vi ABSTRAK

Hikmah Yulia Martin, 2022: Fenomena Dua Lautan yang Tidak Saling Menyatu Menurut Zaghloul El-Naggar (Studi Analisis Terhadap QS. Ar-Rahman Ayat 19- 20)

Kata Kunci: Zaghloul El-Naggar, Maraja Al-Bahrain, Qs. Ar-Rahman ayat 19-20 Penelitian ini mendiskusikan tentang fenomena dua lautan dalam QS. Ar- Rahman ayat 19-20 menurut penafsiran Zaghloul El-Naggar dalam kitab tasirnya Mukhtarat Min Tafsir Al-Ayat Al-Kauniyyah fi Al-Qur‟an Al-Karim. Penelitian ini terinspirasi dari fenomena dua lautan yang bertemu tetapi keduanya tidak saling menyatu. Dua lautan tersebut tidak dapat bercampur atau tidak saling melampaui batasnya masing masing, seolah-olah terdapat dinding pemisah diantara keduanya.

Lalu bagaimana bisa kedua lautan yang sama-sama berupa air tersebut tidak dapat bercampur.

Rumusan masalah yang dikaji dalam skripsi ini adalah: 1) Bagaimana penafsiran Zaghloul el-Naggar dalam kitab Mukhtarat Min Tafsir Al-Ayat Al Kauniyyah Fi Al-Qur‟an Al-Karim pada surah Ar-Rahman ayat 19-20 ? 2) Bagaimana relevansi teori ilmiah terhadap surah Ar-Rahman ayat 19-20 ? 3) Apa kelebihan dan kekurangan penafsiran Zaghloul El-Naggar mengenai dua lautan yang tidak menyatu ?

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan penafsiran Zaghloul el-Naggar dalam kitab Mukhtarat Min Tafsir Al-Ayat Al Kauniyyah Fi Al-Qur‟an Al-Karim pada surah Ar-Rahman ayat 19-20, mengetahui relevansi teori ilmiah terhadap surah Ar-Rahman ayat 19-20, serta menjelaskan kelebihan dan kekurangan penafsiran Zaghloul El-Naggar mengenai dua lautan yang tidak menyatu

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini berupa library research yang memfokuskan pada literatur dengan menganalisis isi dari literatur-literatur yang berkaitan dengan penelitian. Penelitian ini menggunakan analisis data yang berupa deskriptif analisis, yaitu dengan menggambarkan data data penafsiran Al- Quran dan data ilmiah yang berkaitan dengan penelitian kemudian dibahas secara rinci dengan menghubungkan keduanya.

Hasil dari penelitian ini adalah penafsiran Zaghloul El-Naggar terhadap QS. Ar-Rahman ayat 19-20 adalah makna maraja yang diartikan dengan pergi atau terguncang dan barzakh yang diartikan sebagai batas pemisah antara dua benda. Zaghloul menafsirkan lafadz maraja al-bahraini adalah dua lautan yang bercampur tetapi bukan percampuran yang sempurna yang disebabkan adanya perbedaan massa air dan karakter air yang dimiliki kedua lautan. Penelitian ini direlevansikan dengan teori ilmiah yang ada, yaitu dua lautan disebabkan adanya tegangan permukaan yang dipengaruhi oleh perbedaan suhu air, salinitas (kadar garam), dan densitas yang berbeda dari kedua lautan. Serta ditemukan kelebihan dalam penafsiran Zaghloul mengenai dua lautan yang tidak menyatu yaitu penjelasan dan pernyataan teori yang dapat dipertanggung jawabkan, adapun kekurangannya yaitu Zaghloul tidak mengutip sandaran yang menjadi sandaran utamanya dalam menjelaskan teorinya.

(8)

vii

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis persembahkan kepada Allah swt yang telah melimpahkan Rahmat Hidayah dan pertolongan-Nya, sehingga penulis dapat berusaha dan menyelesaikan skripsi ini dengan tanpa hambatan yang berarti.

Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita semua baginda Nabi Muhammad Saw yang telah membawa kita dari jaman Jahiliyah hingga jaman yang sekarang ini, yakni addinul islam. Semoga di hari kiamat nanti, kita termasuk orang-orang yang mendapatkan syafaatnya. Âamiin

Penyusunan skripsi berjudul “Fenomena Dua Lautan Yang Tidak Saling Menyatu Menurut Zaghloul El-Naggar (Studi Analisis Terhadap Q.S Ar-Rahman Ayat 19-20)”penulis ajukan untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana dalam Ilmu Agama Islam Program Studi Ilmu Al-Qur‟an dan Tafsir Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember.

Penulis menyadari bahwa penyusun skripsi ini tidak akan terwujud tanpa adanya bimbingan dan dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati pada kesempatan ini, penyusun mengucapkan terimakasih dan penghargaan yang terhormat kepada:

1. Bapak Prof. Dr. H. Babun Suharto, SE., M.M,. selaku Rektor Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember.

2. Bapak Prof. Dr. M. Khusna Amal, S.Ag, M.S.i,. selaku dekan Fakultas Ushuluddin, Adab dan Humaniora.

3. Bapak Aslam Sa'ad, Ph.D. selaku dosen pembimbing akademik yang telah membantu proses administrasi perkuliahan dengan baik dari awal semester hingga terlaksanakannya tugas akhir skripsi.

4. Bapak Dr. H. Imam Bonjol Juhari M.Si., selaku dosen pembimbing skripsi yang telah banyak memberi kontribusi baik arahan, kritikan, saran, motivasi, dorongan dan bimbingannya sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.

(9)

viii

5. Bapak H. Mawardi Abdullah, Lc, M.A selaku koordinator program studi Ilmu Al-Qur‟an dan Tafsir serta seluruh dosen Prodi Ilmu Al-Qur‟an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember.

6. Ayah, ibu dan seluruh keluarga yang selalu mendoakan, menasehati dan mengarahkan ke jalan yang diridhai Allah swt. Semoga Allah swt selalu sehatkan mereka, limpahkan banyak rezeki kepada mereka yang barokah serta cukupkan kehidupan mereka dan jadikan mereka hamba Allah swt yang taqwa.

7. Teman teman terdekat penulis dari alumni Pondok Pesantren Modern Al- Kautsar yang selalu memberikan dukungan serta semangatnya.

8. Seluruh teman-teman seperjuangan “Ilmu Al-Qur‟an dan Tafsir Angkatan 2018”, dan seluruh sahabat/i organisasi HIPMI yang selalu saling menguatkan, memotivasi, serta menjadi teman diskusi selama studi hingga selesi penyusunan skripsi ini.

9. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, karena terlau banyak yang dilibatkan serta membantu proses penyusunan skripsi ini.

Semoga segala amal baik yang telah diberikan dapat diterima Allah swt dan mendapatkan balasan terbaik dari-Nya. Tiada kata yang pantas penulis ucapkan selain rasa terimakasih yang sebesar-besarnya dan rasa syukur atas selesainya penulisan skripsi ini. Akhirnya, penulis mohon maaf apabila dalam penulisan skripsi ini terlalu banyak kesalahan, penulis mengharapkan adanya saran, kritik yang dapat membangun dan mengingatkan kualitas skripsi ini.

Semoga penulis skripsi ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pihak pada umumnya.

Âamiîn yâ Robbal Âlâmîn

Jember, 22 Mei 2022

Penulis

(10)

ix

PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB LATIN

Transliterasi adalah kata-kata arab yang digunakan dalam penyusunan skripsi. Pedoman yang digunakan adalah pedoman yang diterbitkan oleh Perpustakaan Nasional Amerika Serikat (library of Congress) sebagai berikut:

Pedoman Transliterasi Model Library of Congress.

Awal Tengah Akhir Sendiri Latin/Indonesia

ا ﺎ ﺎ ا

a/i/u

ﺒ ﺑ ب ب

B

ﺘ ﺗ ت ت

T

ﺛ ﺜ ث ث

Th

ﺟ ﺠ ﺞ ج

J

ﺣ ﺤ ﺢ ح

ﺧ ﺨ ﺦ خ

Kh

د د د د

D

ذ ذ ذ ذ

Dh

ر ر ر ر

R
(11)

x

ز ز ز ز

Z

ﺳ ﺴ س س

S

ﺷ ﺸ ش ش

Sh

ﺻ ﺼ ص ص

ﺿ ﻀ ض ض

ط ط ط ط

ظ ظ ظ ظ

ﻋ ﻌ ﻊ ع

„(ayn)

ﻏ ﻐ ﻎ غ

Gh

ﻓ ﻔ ؼ ؼ

F

ﻗ ﻘ ؽ ؽ

Q

ﻛ ﻛ ؾ ؾ

K

ﻟ ﻟ ؿ ؿ

L

ﻣ ﻤ ـ ـ

M
(12)

xi

ﻧ ﻨ ف ف

N

ﻫ ﻬ ﻪ ، ةػ o ة ،

H

و و و و

W

ﻳ ﻴ ي ي

Y
(13)

xii DAFTAR ISI

Hal

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

LEMBAR PENGESAHAN ... iii

MOTTO ... iv

PERSEMBAHAN ... v

ABSTRAK ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB LATIN ... ix

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL... xiv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 6

C. Tujuan Penelitian ... 7

D. Manfaat Penelitian ... 7

E. Definisi Istilah ... 8

F. Sistematika Pembahasan ... 10

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 12

A. Penelitian Terdahulu ... 12

B. Kerangka Teori... 17

1. Al-Qur‟an dan Science ... 17

2. Tafsir Ilmiy... 21

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 30

A. Metode Penelitian ... 30

1. Pendekatan ... 30

2. Jenis Penelitian ... 30

3. Sumber Data ... 31

4. Teknik Pengumpulan Data ... 32

5. Analisis Data ... 32

(14)

xiii

BAB IV ANALISIS PENAFSIRAN ZAGHLOUL EL-NAGGAR TERHADAP QS. AR-RAHMAN AYAT 19-20 DALAM KITAB

MUKHTARAT MIN TAFSIR AL-AYAT AL-KAUNIYAH FI AL-QUR’AN

AL-KARIM ... 33

A. Biografi Zaghloul El-Naggar ... 33

B. Kitab Mukhtarat Min Tafsir Al-Ayat Al-Kauniyyah fi Al-Qur‟an Al- Karim... 37

C. Penafsiran Zaghloul el-Naggar Pada Qs. Ar-Rahman Ayat 19-20 dalam Kitab Mukhtarat Min Tafsir al-Ayyat al-Kauniyah fi Al-Qur‟an Al- Karim... 48

D. Analisis Penafsiran Zaghloul dalam Qs. Ar-Rahman ayat 19-20 dalam Kitab Mukhtarat Min Tafsir Al-Ayat Al-Kauniyyah fi Al-Qur‟an Al-Karim ... 66

E. Relevansi Teori Sains Terhadap Penafsiran QS. Ar-Rahman ayat 19-20 ... 71

F. Kelebihan dan Kekurangan Penafsiran Zaghloul El-Naggar Tentang Dua Lautan Tidak Bisa Menyatu ... 75

G. Penafsiran Para Ulama Terhadap QS. Ar-Rahman Ayat 19-20 ... 76

BAB V PENUTUP ... 81

A. Kesimpulan ... 81

B. Saran ... 82

DAFTAR PUSTAKA ... 84

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ... 88

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ...80

(15)

xiv

DAFTAR TABEL DAN GAMBAR

Tabel 2.1 Persamaan dan perbedaan dengan penelitian terdahulu ... 14

Tabel 4.1 Jilid I berisi surah al-Baqarah sampai surah al-Isra‟ ... 44

Tabel 4.2 Jilid II berisi surah al-Kahfi sampai surah Luqman ... 45

Tabel 4.3 Jilid III berisi surah As-Sajdah sampai surah Al-Qamar ... 46

Tabel 4.4 Jilid IV berisi surah Ar-Rahman sampai surah Al-Qariah ... 47

Gambar 4.5 Selat Gibraltar ... 72

Gambar 4.6 Aliran Arus Selat Gibraltar ... 73

Gambar 4.7 Arus Kadar Garam di Laut Mediterania dan Samudera Atlantik.... 74

(16)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Al-Qur‟an merupakan kalamullah yang diturunkan Allah swt kepada Nabi Muhammad Saw melalui perantara malaikat jibril secara berangsur- angsur dan merupakan mukjizat terbesar bagi Nabi Muhammad Saw. Al- Qur‟an banyak mengandung pokok ajaran sehingga segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini menjadi teratur, sehingga Al-Qur‟an menjadi pedoman bagi hidup manusia sebagai petunjuk di dunia dan akhirat.

Kemurnian Al-Qur‟an sangat terpelihara dan tidak bisa diragukan lagi, karena Allah swt telah memberikan jaminan atas dasar kemahakuasaan dan kemahatahuan-Nya serta upaya-upaya yang telah dilakukan oleh manusia. Al- Qur‟an memberikan dalil-dalil yang berisikan hikmah dan kekuasaan-Nya yang membuktikan bahwa Allah swt maha bijaksana dan maha menciptakan segala sesuatu yang tidak akan sia-sia.

Al-Qur‟an memiliki kandungan makna yang lengkap untuk mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan manusia seperti masalah ibadah, aqidah, hukum, jihad, bahkan juga membahas permasalahan yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan. Maka dari itu, Al-Qur‟an disebut sebagai induk ilmu pengetahuan yang mana tidak ada satupun perkara yang terlewatkan di dalamnya baik yang berhubungan dengan Allah swt, sesama manusia, alam lingkungan, ilmu akidah, ilmu sosial, ilmu agama, umum dan

(17)

2

sebagainya.2 Ilmu pengetahuan bukan hanya sekedar pengetahuan saja, namun merangkum segala pengetahuan berdasarkan teori-teori yang telah disepakati dan dapat diuji secara sistematik berdasarkan bidang ilmu tertentu.3 Hubungan Al-Qur'an dengan Ilmu pengetahuan dimaksudkan untuk membuka pemikiran manusia agar dapat mengakui kebesaran dan kekuasaan Allah swt dalam menciptakan dan mengatur alam semesta ini. Banyak ayat- ayat Al-Qur‟an yang berisikan fakta ilmiah yang terjadi di muka bumi ini.

Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, fakta ilmiah yang terkandung dalam Al-Quran dapat dibuktikan kebenarannya, bukan sebagai mitos atau fiksi ilmiah semata.

Bagi seseorang yang telah mempelajari ilmu-ilmu Al-Qur‟an tidak akan merasa ragu untuk menyatakan bahwa Al-Qur‟an mengandung isyarat- isyarat ilmiah, bahkan fakta ilmiah yang bersifat i‟jaz. Karena hal tersebut melampaui batas-batas masa, umat bahkan Nabi Muhammad sebagai orang terpilih yang menerima Al-Qur‟an. Seperti Firman Allah swt di dalam Al- Qur‟an: 4

هِلْبَ ق ْنِم اْوُلْ تَ ت َتْنُك اَمَو ْنِم

ٍبهتِك َلََّو هُّطَُتَ

َكِنْيِمَيِب اًذِا َبَتَْر َّلَ

َنْوُلِطْبُمْلا

Artinya: “Dan engkau (Muhammad) tidak pernah membaca sebelumnya (Al-Qur‟an) dan kamu tidak pernah menulis suatu kitab pun

2 Siti Lailiyah,Korelasi Al Qur‟an Dengan Ilmu Pengetahuan” Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Fisikan FITK UNSIQ 1, no. 1 (2018): 121-125.

3 Eva Iryani, “Al-Qur‟an Dan Ilmu Pengetahuan,” Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi 17, no. 3 (2017): 66-83.

4 Yusuf Qardhawi, Al-Qur‟an Berbicara tentang Akal dan Ilmu Pengetahuan (Jakarta: Gema Insani Press, 1998).

(18)

dengan tangan kananmu, sekiranya engkau pernah (membaca dan menulis) niscaya ragu-ragu orang yang mengingkarinya.” (QS. Al-Ankabut [29]:48)5

Fenomena atau penemuan ilmiah yang akan penulis sampaikan dalam skripsi ini adalah fenomena dua lautan yang tidak saling menyatu atau saling melampaui. Salah satu fenomena yang lautan yang sangat menarik untuk dikaji karena dua lautan yang sama sama berbentuk air bertemu tetapi tidak saling melampaui batasnya, seakan terdapat dinding pemisah diantara keduanya. Hal tersebut menjadi pertanyaan, bagaimana mungkin dua lautan tersebut tidak bisa saling bercampur atau melampaui batas masing-masing?

Salah satu pengkajian ayat-ayat Al-Qur‟an berisikan tentang fenomena tersebut yang telah dibuktikan kebenarannya dengan ilmu pengetahuan terdapat dalam QS. Ar-Rahman ayat 19-20 :

ِناَيِغْبي َّلَ ٌخَزْرب اَمُهنيب . ِناَيِقَتْلي ِنْيَرْحَبْلٱ َجَرَم

Artinya: “Dia membiarkan dua laut mengalir yang (kemudian) keduanya bertemu. Di antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing.”6

Kata bahrain yaitu bentuk mutsanna dari kata al-bahr yang artinya laut. Beberapa mufassir ada yang menafsirkan al-bahrain dengan berbeda- beda. Dalam tafsir Al-Misbah diartikan dengan Sungai Eufrat di Irak dan

5 Departemen Agama Republik Indonesia dan Terjemah, https://quran.kemenag.go.id/

6 Departemen Agama Republik Indonesia dan Terjemah, https://quran.kemenag.go.id/

(19)

4

Teluk Persia di pantai Basyah.7 Ada juga yang menafsirkan bertemunya dua lautan yang kedua airnya tidak bercampur, yang mana air tersebut adalah air tawar dan air asin. Pada ayat 19-20 dimaksudkan bahwa terdapat dua laut yang tercerai karena adanya dinding pembatas yang tidak bisa dilampaui.

Secara ilmiah pembatas tersebut membagi kedua laut sehingga masing- masing memiliki temperatur, kadar garam, kepadatan yang berbeda dan adanya gaya fisika.8

Dengan adanya fenomena yang didukung oleh pembuktian ayat Al- Qur‟an tersebut, timbul banyaknya pertanyaan mengapa kedua air tersebut tidak menyatu. Meskipun hasil penelitian ilmiah mampu menjawab rahasia- rahasia alam yang telah terjadi, bukan berarti menjadi pedoman jawaban pada akhirnya. Karena hasil suatu penelitian tidak dapat diajadikan suatu landasan untuk menentang teori-teori ilmiah yang diisyaratkan dalam Al-Qur‟an, akan tetapi adanya ilmu pengetahuan diperlukan untuk mengungkap kebenaran dari isyarat ilmiah yang diungkapkan Al-Qur‟an.

Berjalan dengan berkembangnya zaman, ilmu pengetahuan menjadi maju dan menyebar secara pesat sehingga para ulama tafsir bepikir untuk mengkaji ayat-ayat yang membahas fakta ilmiah yang ditandai dengan adanya penemuan-penemuan ilmiah yang akhirnya kemunculan bentuk penafisran baru terhadap Al-Qur‟an yang belum dikuasai oleh para penafsir tidak dapat dihindari. Oleh karena itu, adanya tafsir ilmi atau sebuah penafsiran yang

7 M. Quraish, Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur‟an (Jakarta: Lentera Hati, 2009).

8 Nurul Maghfirah, 99 Fenomena Menakjubkan dalam Al-Qur‟an (Bandung: Mizania, 2015).

(20)

bercorak ilmu pengetahuan berusaha menafsirkan ayat-ayat Al-Qur‟an dengan istilah ilmu pengetahuan untuk melahirkan ilmu baru dari Al-Qur‟an.

Salah satu kitab tafsir yang menggunakan corak tafsir ilmi adalah kitab Mukhtarat Min Tafsir Al-Ayat Al-Kauniyyah Al-Qur‟an Al-Karim karya Zaghloul El-Naggar, tokoh ilmuan muslim dari Mesir dan pakar tafsir Al-Qur‟an Sains. Ketertarikannya dengan kajian ayat-ayat kosmos pada ayat Al-Qur‟an membuatnya ingin menunjukkan bahwa ilmu sains yang berkembang pada masa kontemporer ini memiliki keharmonisan dengan kemukjizatan yang ada dalam Al-Qur‟an. Penafsiran beliau terhadap ayat- ayat sains dalam Al-Qur‟an ditafsirkan secara realistis yaitu sesuai dengan perkembangan teori mengenai sains murni karena pemahaman Zaghloul El- Naggar terkait sains murni sangat mendalam serta memiliki wawasan yang luas.

Keunikan yang dimiliki kitab Mukhtarat Min Tafsir Al-Ayat Al- Kauniyyahfi Al-Qur‟an Al-Karim adalah penyajiannya menggunakan pendekatan empiris yang tertuju pada kepentingan ilmiah semata, yang membicarakan kaitan antara ayat-ayat kauniyah dengan ilmu pengetahuan modern yang berkembang saat ini dan penafsirannya tidak banyak bersandar pada pendapat-pendapat saintis tetapi pada kesepakatan ilmiah yang berlaku pada saat itu.9 Beliau juga menyajikan gambar gambar sains yang berhubungan dengan ayat di setiap akhir pembahasan. Zaghloul memiliki perbedaan pendapat dengan mufassir lain terutama dalam menafsirkan QS.

9 Rizki Firmansyah, “Metodologi Tafsir Ilmi: Studi Perbandingan Tafsir Sains Thantawi Jauhari dan Zaghlul an-Najjar,” Jurnal Dirasah Ilmiyah 3, no. 1 (2021): 88-101.

(21)

6

Ar-Rahman ayat 19-20 tersebut. Beliau menafsirkan bahwa yang dimaksud dari dua lautan tersebut laut yang dicampur tetapi bukan percampuran yang sempurna dan beliau berpendapat bahwa kedua lautan tersebut dipengaruhi oleh massa air dan karakter khusus air yang berbeda pada masing-masing lautan.10

Perbedaan antara pendapat Zaghloul dengan mufassir lain tentunya akan menciptakan pemahaman parsial apabila pembaca hanya melihat kitab tafsir tertentu tanpa adanya penelitian lebih mendalam. Maka dari itu, penulis akan membahas penafsiran Zaghloul El Naggar tentang dua lautan yang tidak saling menyatu serta korelasi terhadap teori ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, penulis mengangkat masalah ini dalam bentuk skripsi dengan judul “Fenomena Dua Lautan yang Tidak Saling Menyatu Menurut Zaghloul El-Naggar (Studi Analisis Terhadap QS.

Ar-Rahman Ayat 19-20)”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan hal tersebut penulis merumuskannya pada masalah : 1. Bagaimana penafsiran Zaghloul el-Naggar dalam kitab Mukhtarat Min

Tafsir Al-Ayat Al Kauniyyah Fi Al-Qur‟an Al-Karim pada surah Ar- Rahman ayat 19-20 ?

2. Bagaimana relevansi teori ilmiah terhadap penafsiran Zaghloul el-Naggar pada surah Ar-Rahman ayat 19-20 ?

10 Zaghloul El-Naggar, Selekta dari Tafsir Ayat-Ayat Kosmos dalam Al-Qur‟an Al-Karim, 1 ed.

(Jakarta Selatan: Shorouk International Bookshop, 2010), 36.

(22)

3. Apa kelebihan dan kekurangan penafsiran Zaghloul El-Naggar mengenai dua lautan yang tidak menyatu ?

C. Tujuan Penelitian

Setiap penelitian tentu memiliki tujuan yang ingin dicapai yakni secara umum untuk menambah wawasan keilmuan. Adapun secara spesifik penelitian ini bertujuan untuk:

1. Menjelaskan penafsiran Zaghloul el-Naggar dalam kitab Mukhtarat Min Tafsir Al-Ayat Al Kauniyyah Fi Al-Qur‟an Al-Karim pada surah Ar- Rahman ayat 19-20

2. Mengetahui relevansi teori ilmiah terhadap penafsiran Zaghloul el-Naggar pada surah Ar-Rahman ayat 19-20

3. Menjelaskan kelebihan dan kekurangan penafsiran Zaghloul El-Naggar mengenai dua lautan yang tidak menyatu

D. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini ialah : 1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat menambah, memperdalam serta memperluas keilmuan yang terkait dengan kajian tafsir. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi acauan atau referensi tambahan dan perbandingan bagi penelitian selanjutnya terutama bagi peneliti tafsir.

2. Manfaat Praktis a. Bagi Penulis

(23)

8

Dapat memperkaya wawasan kemampuan penulis dalam melakukan penelitian dan menambah pengetahuan mengenai fenomena pertemuan dua lautan yang tidak saling menyatu dalam penafsiran Zaghloul el-Naggar

b. Bagi Pembaca

Diharapkan dapat menambah wawasan pengetahuan pembaca mengenai fenomena pertemuan dua lautan yang tidak saling menyatu dalam penafsiran Zaghloul el-Naggar dan dapat mengambil hikmah dengan terjadinya fenomena tersebut

c. Bagi Universitas Negri Islam KH. Ahmad Siddiq Jember

Penulis berharap hasil penelitian ini dapat menjadi sumbangsih untuk memperkaya referensi ilmu Al-Qur‟an & tafsir. Selain itu hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan inovasi baru dan juga dapat menjadi referensi ataupun acuan untuk para penelitian selanjutnya.

E. Definisi Istilah

Untuk memperjelas dan menghindari salah pengertian dalam topik yang menjadi pembahasan dalam penelitian ini, maka terdapat beberapa definisi istilah dari judul penelitian ini yang akan diberi penjelasan, diantaranya :

1. Fenomena

Secara etimologi, fenomena berasal dari bahasa bahasa Yunani yaitu phaenestai yang artinya meninggikan, memunculkan, menunjukkan

(24)

dirinya sendiri. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), fenomena merupakan hal-hal yang dapat disaksikan dengan pancaindra dan dapat diterangkan serta dinilai secara ilmiah (seperti fenomena alam).11 Sedangkan secara terminologi, fenomena dapat didefinisikan suatu hal yang dinilai sebagai keajaiban atau hal yang luar biasa yang dapat dilihat secara fakta atau nyata dengan panca indra.

Fenomena merupakan suatu tampilan objek atau peristiwa yang muncul dalam kesadaran. Bisa berupa kenyataan maupun hasil rekaan.

Menurut Huesserl, fenomena dalah realitas yang terlihat tanpa selubung atau pembatas antara manusia dan realitas itu. Dalam menghadapai fenomena manusia melibatkan kesadarannya, dan kesadaran selalu berarti kesadaran akan sesuatu yang terjadi.

2. Dua Lautan

Secara bahasa dua lautan diterjemahkan dari bahasa arab yang diambil dari kutipan surah Ar-Rahman ayat 19 yaitu al-bahraini bentuk mutsanna dari “bahr” yang artinya laut. Sedangkan secara istilah, Bahraini sendiri dimaksud dengan dua lautan yang memiliki jenis air yang berbeda yaitu air tawar dan air asin dan terdapat dinding pemisah sehingga tidak bisa saling menyatu diantara keduanya.

Dalam Al-Qur‟an laut disebut dengan kata al-bahr, disebutkan 41 kali termasuk kata bahrain, bahraini, dan dalam bentuk tunggal sebanyak 33 kali sedangkan dalam bentuk tathniyah sebanyak 5 kali yaitu dalam

11 KBBI V 0.4.0 Beta (40)

(25)

10

Qs. Ar-rahman ayat 19, Al-Furqon ayat 53, Al-fatir ayat 12, Al-Kahfi ayat 60, An-Naml ayat 61.12 Bentuk tathniyah digunakan karena mengandung arti dua lautan yang memilik karakter yanng berbeda dari rasa maupun kandungannya dan tidak menyatu meskipun dalam satu tempat.

Adanya beberapa pendapat mengenai arti dari dua laut (bahraini), pendapat pertama ada yang mengatakan sebagai air laut dan sungai yang bersifat asin dan tawar. Sedangkan pendapat kedua yaitu keduanya berupa lautan yang dibedakan dengan karakteristik dari masing masing laut atau dari kadar garam yang berbeda.

F. Sistematika Pembahasan

Agar pembahasan dalam penelitian ini lebih terarah, dan sistematis, maka disusunlah sistematika pembahasan sebagai berikut:

Bab I, berisikan pendahuluan. Dalam bab terdiri dari latar belakang masalah yang memaparkan alasan mengapa masalah dalam penelitian ini layak untuk diteliti, kemudian dirumuskan dalam rumusan masalah yang dibatasi agar pembahasnnya tidak melebar jauh. Selain itu juga terdapat tujuan dan manfaat penelitian, sumber data, dan metodologi penelitian yang digunakan.

Bab II, merupakan uraian tentang kajian teori mengenai gambaran umum tentang permasalahan yang akan diangkat. Dalam bab ini berisikan tentang Al-Qur‟an dan ilmu pengetahuan serta penjelasan tentang tafsir ilmi.

12 Sawaluddin dan Sainab, “Air dalam Perspektif Al-Qur‟an dan Sains,” Jurnal Tarbiyah: Jurnal Ilmiah Kependidikan 7, no. 2 (2018): 109-122.

(26)

Bab III, membahas tentang metodologi penelitian, yang berisikan jenis dan metode penelitian, ojbek penelitian, sumber data primer dan sekunder, teknik pengumpulan data serta analisis data.

Bab IV, berisikan tentang penjelasan mengenai analisis penulis mengenai data-data yang telah dipaparkan berdasarkan teori dan data-data yang diperoleh dari hasil penelitian. Bab ini diuraikan tentang biografi Zaghloul el-Naggar, penafsiran Zaghloul el-Naggar pada QS. Ar-rahman ayat 19-20, analisis pandangan Zaghloul el-Naggar, pendapat para mufassir lainnya, kelebihan dan kekurangan penafsiran Zaghloul, relevansi teori ilmu pengetahuan terhadap QS. Ar-Rahman ayat 19-20

Bab V, merupakan penutup yang berisi tentang kesimpulan atau hasil dari analisis yang telah penulis teliti dengan saran-saran untuk penelitian selanjutnya.

(27)

12 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Penelitian Terdahulu

Sebagaimana penelitian yang telah ada, untuk menghindari kesamaan dengan karya tulis lainnya, tentunya penulis sudah mencoba menelusuri beberapa kajian yang pernah dilakukan sebelumnya. Hasil penelusuran ini menjadi acuan penulis agar penulis tidak mengangkat metodologi yang sama, sehingga kajian ini benar-benar bukan hasil dari plagiat dari karya penelitian sebelumnya. Berikut beberapa penelusuran yang penulis temukan:

a. Skripsi Maulidi Ardiyantama dari UIN Raden Intan Lampung, (2018/2019), dengan judul “Fenomena Laut Dalam Pandangan Al- Qur‟an (Studi Tafsir Al-Jawahir dan Tafsir Mafatihul Ghaib berdasarkan : Qs. Al-Rahman:19-20, Qs. Al-Furqon:53, Qs. Al-Thur:6)”. Skripsi tersebut membahas penafsiran Tantawi Jauhari dan Fakhr al-Din al-Razi dalam menafsirkan ayat-ayat tentang Fenomena laut dalam tafsirnya serta mengkorelasikan tafsir tersebut dengan konteks masa kini.13

b. Skripsi Mamad Muhammad Fauzil Abad dari UIN Walisongo Semarang, (2017), dengan judul “Penafsiran Makna Bahrain dalam Al-Qur‟an (Pendekatan Tafsir Ilmiy)”. Skripsi tersebut meneliti tentang makna istilah bahrain dalam Al-Qur‟an dari penafsiran beberapa ulama tafsir

13 Maulidi Ardiyantama, “Fenomena Laut Dalam Pandangan Al-Qur‟an (Studi Tafsir Al-Jawahir dan Tafsir Mafatihul Ghaib berdasarkan : Qs. Al-Rahman:19-20, Qs. Al-Furqon:53, Qs. Al- Thur:6)” (Skripsi, Lampung, UIN Raden Intan Lampung, 2018).

(28)

dengan menggunakan pendekatan tafsir ilmiy serta mengkorelasikan makna bahrain tersebut dengan hasil temuan Sains.14

c. Skripsi Erik Widi Riyanto dari UIN Sultan Syarif Kasim Riau Pekanbaru, (2011), berjudul “Makna Kata Al-Bahrain dalam Al-Qur‟an Dari Sudut Ilmu Pengetahuan (Studi Kemukjizatan Ilmiah Al-Qur‟an)”. Skripsi ini meneliti tentang maksud dari makna al-bahrain dari sudut ilmu pengetahuan dan penafsiran dari para ulama. Dan juga membahas tentang letak kemukjizatan bahrain tersebut.15

d. Skripsi Farhatul Muthi‟ah dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, (2019), berjudul “Telaah Penafsiran Zaghloul Al-Najjar Tentang Laut yang Mendidih dalam Kitab Mukhtarat Min Tafsir Al-Ayat Al-Kauniyyah Al- Qur‟an Al-Karim (Kajian Tafsir Tematik dan Sains)”. Membahas tentang penafsiran Zaghloul al-Najjar dalam kitabnya mengenai Qs. Al-Tur ayat 6 yaiu tentang laut yang mendidih yang didalam laut ada api yang tidak bisa padam serta membahas relevansi sains terhadap Qs. Al-Tur ayat 6.16 e. Skripsi Adelina Qurrotul Aini dari STAIN Kudus, (2016), dengan judul

“Pertemuan Dua Laut dalam Qs. Ar-Rahman (Analisis Qs. Ar-Rahman [55] Ayat 19-22 Menurut Fakhruddin Ar-Razi dalam Kitab Tafsir Mafatih Al-Gaib)”. Skripsi ini menganalisis penafsiran Fakhruddin Ar- Razi pada Qs. Ar-Rahman ayat 19-22 tentang pertemuan antara dua laut

14 Mamad Muhammad Fauzil Abad, “Penafsiran Makna Bahrain dalam Al-Qur‟an (Pendekatan Tafsir Ilmiy)” (Skripsi, Semarang, UIN Walisongo, 2017).

15 Erik Widi Riyanto, “Makna Kata Al-Bahrain dalam Al-Qur‟an Dari Sudut Ilmu Pengetahuan (Studi Kemukjizatan Ilmiah Al-Qur‟an)” (Skripsi, Riau Pekanbaru, UIN Sultan Syarif, 2011).

16 Farhatul Muthi‟ah, “Telaah Penafsiran Zaghloul Al-Najjar Tentang Laut yang Mendidih dalam Kitab Al-Kauniyyah Al-Qur‟an Al-Karim (Kajian Tafsir Tematik dan Sains)” (Skripsi, Jakarta, UIN Syarif Hidayatullah, 2019).

(29)

14

yang tidak saling menyatu dalam kitab Tafsir Mafatih Al-Gaib dan membahas relevansi ayat tersebut dengan ilmu pengetahuan modern/

science.17

f. Skripsi Muhammad Farid Al-Azhar dari UIN Sunan Ampel, (2015), dengan judul “Fenomena Pertemuan Dua Lautan Perspektif Al-Qur‟an Dan Sains (Analisis Penafsiran Surah ar-Rahman Ayat 19-20 dan al- Furqon ayat 53)”. Dalam skripsi tersebut membahas tentang penafsiran ulama modern-kontemporer pada ayat-ayat Al-qur‟an yang berbicara tentang fenomena pertemuan dua lautan dengam mengacu pada penemuan-penemuan sains sebagai pisau analisisnya. Dan juga mengungkapkan hikmah yang bisa diambil dari fenomena yang terjadi yang terkandung dalam Al-Qur‟an secara tersirat maupun tersurat.18

Tabel 2.1

Persamaan dan perbedaan dengan penelitian terdahulu

No

Nama, Tahun, Judul Penelitian

Persamaan Perbedaan

1. Maulidi Ardiyantama dari UIN Raden Intan Lampung,

(2018/2019), dengan judul

Mengkaji tentang fenomena laut yang ada dalam

Fokus pada 3 fenomena laut yang ada dalam 3 surah

17 Adelina Qurrotul Aini, “Pertemuan Dua Laut dalam Qs. Ar-Rahman (Analisis Qs. Ar-Rahman [55] Ayat 19-22 Menurut Fakhruddin Ar-Razi dalam Kitab Tafsir Mafatih Al-Gaib)” (Skripsi, Kudus, STAIN Kudus, 2016).

18 Muhammad Farid Al-Azhar, “Fenomena Pertemuan Dua Lautan Perspektif Al-Qur‟an Dan Sains (Analisis Penafsiran Surah ar-Rahman Ayat 19-20 dan al-Furqon ayat 53)” (Skripsi, Surabaya, UIN Sunan Ampel, 2015).

(30)

“Fenomena Laut Dalam Pandangan Al-Qur‟an (Studi Tafsir Al-Jawahir dan Tafsir Mafatihul Ghaib berdasarkan : Qs. Al-Rahman:19-20, Qs. Al- Furqon:53, Qs. Al-Thur:6)”

ayat Al-Qur‟an dalam penafsiran ulama tafsir

dari ayat yang berbeda dan menggunakan penafsiran Tantawi Jauhari dan Fakhr al- Din al-Razi

2. Mamad Muhammad Fauzil Abad dari UIN Walisongo Semarang, (2017), dengan judul

“Penafsiran Makna Bahrain dalam Al-Qur‟an (Pendekatan Tafsir Ilmiy)”

Mengkaji tentang penafsiran Bahrain mengggunakan pendekatan Tafsir Ilmiy

Fokus pada term makna bahrain dari beberapa ayat Al- Qur‟an

3. Erik Widi Riyanto dari UIN Sultan Syarif Kasim Riau Pekanbaru, (2011), berjudul

“Makna Kata Al-Bahrain dalam Al-Qur‟an dari Sudut Ilmu Pengetahuan (Studi

Kemukjizatan Ilmiah Al- Qur‟an)”

Mengkaji tentang fenomena 2 lautan dari sudut pandang ilmu pengetahuan

Fokus pada letak kemukjizatan yang ada pada Al-Bahrain

4. Farhatul Muthi‟ah dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, (2019), berjudul “Telaah

Mengkaji

penafsiran ilmiah Zaghloul Al-Najjar

Fokus mengkaji tentang laut mendidih yang

(31)

16

Penafsiran Zaghloul Al-Najjar Tentang Laut yang Mendidih dalam Kitab Tafsir Al-Ayat Al- Kauniyyah Al-Qur‟an Al-Karim (Kajian Tafsir Tematik dan Sains)”

dalam Kitab Mukhtarat Min Tafsir Al-Ayat Al- Kauniyyah Al- Qur‟an Al-Karim

didalamnya terdapat api yang tak bisa padam

5. Adelina Qurrotul Aini dari STAIN Kudus, (2016), dengan judul “Pertemuan Dua Laut dalam Qs. Ar-Rahman (Analisis Qs. Ar-Rahman [55] Ayat 19-22 Menurut Fakhruddin Ar-Razi Dalam Kitab Tafsir Mafatih Al- Gaib)”

Mengkaji tentang pertemuan 2 lautan pada Qs. Ar-

Rahman menggunakan penafsiran ulama tafsir

Fokus pada Qs. Ar- Rahman ayat 19-22 dengan penafsiran Fakhruddin Ar-Razi dalam Kitab Tafsir Mafatih Al-Gaib

6. Muhammad Farid Al-Azhar dari UIN Sunan Ampel, (2015), dengan judul “Fenomena Pertemuan Dua Lautan

Perspektif Al-Qur‟an dan Sains (Analisis Penafsiran Surah ar- Rahman Ayat 19-20 dan al- Furqon ayat 53)”

Mengkaji fenomena

pertemuan 2 lautan pada surah Ar- rahman ayat 19-20 perspektif Al- Qur‟an dan Science

Fokus pada Qs. Ar- Rahman ayat 19-20 dan Qs. Al-Furqon ayat 53 dengan penafsiran beberapa ulama tafsir modern- kontemporer

(32)

B. Kajian Teori

Pada penelitian ini terdapat beberapa kajian teori, antara lain : 1. Al-Qur‟an dan Ilmu Pengetahuan

a. Al-Qur‟an

Al-Qur‟an merupakan mukjizat yang diberikan Allah swt terhadap Nabi Muhammad Saw. Al-Qur‟an turun dalam kurun waktu 23 tahun, yang dibagi menjadi dua fase. Fase pertama diturunkan di Mekkah yang disebut ayat-ayat Makkiyah, fase kedua diturunkan di Madinah yang disebut ayat-ayat Madaniyyah. Al-Qur‟an berasal dari kata Qira‟ah yang artinya merangkai setiap huruf dan kata yang satu dengan lainnya dalam suatu ungkapan kata yang teratur.19 Kata Al- Qur‟an diartikan secara bahasa berarti bacaan atau yang dibaca, sedangkan secara istilah yaitu wahyu Allah swt yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw melalui perantara malaikat jibril sebagai petunjuk bagi manusia. Dengan definisi lain Al-Qur‟an merupakan sebuah kitab yang berisi kalam Allah yang ditulis dalam mushaf yang kemurniannya terpelihara dan membacanya termasuk suatu ibadah, juga sebagai pedoman hidup bagi manusia.

Menurut M. Quraish Shihab, Al-Qur‟an berarti bacaan yang sempurna. Ia merupakan nama yang tepat yang dipilih Allah, karena tidak ada suatu bacaan yang dapat menandingi bacaan Al-Quran sejak

19 Syaikh Manna Al-Qaththan, Pengantar Studi Ilmu Al-Qur‟an, terj. Aunur Rafiq El-Mazni, 1 ed.

(Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar, 2005).

(33)

18

manusia mengenal baca tulis 5000 tahun yang lalu, bacaan yang sempurna juga mulia.20

Al-Qur‟an yang berfungsi sebagai pedoman atau petunjuk bagi manusia mampu memberikan penjelasan terhadap makna-makna ayat yang di firmankan Allah kepada Nabi Muhammad yang dapat menjadikan jawaban atas berbagai permasalahan yang dihadapi manusia di muka bumi ini. Al-Qur‟an sebagai petunjuk bagi manusia yang menyeru kepada jalan yang benar sehingga manusia dapat meraih kebahagiaan, kedamaian, dan kebajikan di dunia.21

Al-Qur‟an memiliki banyak kandungan makna di dalamnya dalam mengatur semua yang berhubungan dengan manusia seperti halnya masalah aqidah, jihad, harta jual beli, ibadah, hukum bahkan berisikan juga tentang ilmu pengetahuan.

b. Science atau Ilmu Pengetahuan

Dalam KBBI, ilmu artinya pengetahuan atau kepandaian, sedangkan pengetahuan yaitu tahu atau yang mengetahui sesuatu;

segala hal apa yang diketahui. Menurut Imam Raghib al-Ashfani dalam kitab Mufrodat Al-Qur‟an “Ilmu adalah mengetahui sesuatu sesuai dengan hakikatnya. Ilmu terbagi dua: Pertama, mengetahui inti

20 M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur‟an : Tafsir Tematik Atas Pelbagai Persoalan Umat (Bandung: Mizan, 2007).

21 Afzalur Rahman, Al-Qur‟an Sumber Ilmu Pengetahuan, terj. H.M Arifin, 1 ed. (Jakarta: Bina Aksara, 1989), 12.

(34)

sesuatu itu. Kedua, menghukum adanya sesuatu kepada sesuatu yang ada, atau menafikan sesuatu yang tidak ada.” 22

Dalam kitab Nihayah al-Hikmah, Thabathabai berpendapat bahwa pengetahuan adalah:23

Sesampainya pada objek pengetahuan (al-ma‟lum) – konsep ilmiyah – kepada orang mencari pengetahuan (al-alim). Maka dari itu pengetahuan bersifat jelas dan sederhana tentang suatu objek („ain al- ma‟lum bi adzat) serta tidak membutuhkan pembuktian secara argumentatif, karena setiap pembuktian argumentatif pasti terletak pada gabungan mukaddimah, dan setiap mukaddimah itu adalah pengetahuan itu sendiri. Dapat disimpulkan bahwa pengetahuan itu identik dengan eksistensi dan keberadaan, baik itu pengetahuan yang disebut Hudhuri maupun pengetahuan Hushuli.

Ilmu pada hakikatnya berasal dari pengetahuan yang sudah disusun secara sistematik dan sudah teruji kebenarannya oleh metode ilmiah dan dinyatakan shahih. Adapun pengetahuan merupakan segala sesuatu yang diketahui namun belum tersusun secara sistematik dan teruji kebenarannya oleh metode ilmiah sehingga belum dapat dinyatakan shahih. Ilmu pengetahuan sendiri dalam KBBI, diartikan sebagai gabungan berbagai pengetahuan yang disusun secara logis dan bersistem dengan memperhitungkan sebab dan akibat.

22 Qardhawi, Al-Qur‟an Berbicara tentang Akal dan Ilmu Pengetahuan.

23 Ismail Fahmi Arrauf Nasution, Filsafat Ilmu Pengetahuan Perspektif Pemikiran Epistemologi Thabathaba‟i (Lhokseumawe: Unimal Press, 2018), 14.

(35)

20

Ziman, dalam buku karangannya “What is Science” menelaah bermacam-macam definisi apa itu ilmu pengetahuan. Ada salah satu definisi mengenai ilmu pengetahuan yang menurutnya lebih tepat dan banyak diakui oleh beberapa filosof yaitu, “Ilmu pengetahuan adalah kebenaran yang diperoleh dari pengamatan empiris, (berpikir secara logis dan induktif). Adanya definisi tersebut berdasarkan dengan asas induksi, yaitu apa yang kelihatannya telah terjadi berulang kali pasti akan terjadi lagi dan dapat dijadikan teori dasar yang memungkinkan tumbuhnya suatu struktur teori yang kuat.24 Dan adanya ilmu pengetahuan tersebut dikendalikan oleh fakta yang sesuai.

Ilmu pengetahuan sering dinilai sebagai produk, proses, dan paradigma etis. Sebagai produk berarti ilmu pengetahuan yang didapat melalui metode keilmuan menjadi milik umum, sehingga hasil- hasilnya yang berupa rumusan atau pernyataan perlu mendapat persetujuan dari masyarakat ilmiah. Sebagai proses, ilmu pengetahuan sebagai sebuah kegiatan sosial dalam mengetahui atau memahami alam semesta sebagaimana adanya atupun semestinya. Sebagai paradigma etis berarti ilmu pengetahuan memiliki beberapa nilai yaitu universalisme, komunalisme, dan skeptisme yang terorganisir dengan arti bahwa ilmu tidak menerima kebenaran begitu saja, tetapi harus melalui pengujian dan pengkajian.25 Juga tujuan adanya ilmu

24 Darwis A Soelaiman, Filsafat Ilmu Pengetahuan Perspektif Barat dan Islam, 1 ed. (Aceh: Bandar Publishing, 2018), 27.

25 Wahyu Dwi Warsitasari, “Dimensi Ilmu Pengetahuan Dalam Al-Qur`An Dan Al-Hadist,” Al- Ifkar XVI, no. 02 (t.t.): 36-49.

(36)

pengetahuan bukan semata untuk mendapatkan informasi dan menyampaikan beberapa pendapat yang tidak saling bertentangan, tetapi ilmu pengetahuan juga harus bersifat umum untuk mencapai suatu kesepakatan pendapat yang dapat diterima akal.26

Al-Qur‟an berpandangan, objek ilmu adalah segala ciptaan Allah serta ayat-ayat-Nya. Ciptaan Allah melingkupi alam materi dan alam non materi, fenomena maupun non fenomena bahkan wujud yang tidak bisa diliat sekalipun oleh mata kita sendiri. Al-Qur‟an memberikan macam-macam nama terhadap alam yang menjadi kajian objek ilmu, diantaranya yaitu;27 „alamin yang artinya alam semesta, as samawat wa al ardl artinya langit dan bumi, kull syai‟in artinya segala sesuatu, makhluq (khalq) artinya ciptaan. Sedangkan mengenai alam non materi ditegaskan dalam QS. Al-Haaqah ayat 38-39: “Maka aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat. 39. Dan dengan apa yang tidak kamu lihat.”

2. Tafsir Ilmiy

a. Pengertian Tafsir Ilmy

Tafsir ilmiy merupakan salah satu sebuah corak dalam menafsirkan Al-Qur‟an. Tafsir ilmiy dari segi bahasa tersusun dari dua suku kata yaitu tafsir dan ilmy. Tafsir sendiri secara bahasa berasal dari kata (

رسفلا

) yang artinya menjelaskan, ada juga yang berpendapat

26 Soelaiman, Filsafat Ilmu Pengetahuan Perspektif Barat dan Islam, 28.

27 Khusnul Khotimah, “Paradigma Dan Konsep Ilmu Pengetahuan Dalam Al-Qur`An,” Epistemé:

Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman 9, no. 1 (11 Juni 2014): 67–84, https://doi.org/10.21274/epis.2014.9.1.67-84.

(37)

22

bahwa tafsir berasal dari kata (

رفس

) yang artinya membuka.28 Sedangkan pengertian tafsir dilihat secara istilah adalah penjelasan terhadap kalam-kalam Allah atau menjadikan lafadz-lafadz Al-Qur‟an sebagai pemahamannya. Adapun beberapa pendapat ulama yang berbeda dalam mendefinisikan pengertian tafsir, seperti pendapat Az- Zarkashi dalam kitab Al-Burhan fi Ulum Al-Qur‟an mendefinisikan tafsir sebagai:29

و هيلع اللهااىلص محمد هيبن ىلع لزنلما اللها باتك مهف هب فرعي ملع يُسفتاا همكحو هماكحأ جارختساو هيناعم نايبو ملس

Tafsir adalah ilmu untuk mengetahui kitab Allah (Al- Qur‟an)yang diturunkan kepada Nabi Muhammmad SAW, menjelaskan makna-maknanya serta hukum-hukum yang terkandung jelas di dalamnya.

Sementara menurut „Abd al-„Azhim az-Zarqani dalam kitab karangannya Manahil al-Irfan fi Ulum Al-Qur‟an, mendefinisikan tafsir:30

اعت الله دارم ىلعلاهتللَد ثيح نم يمركلا نآرقلا نع هيف ثبح بي ملع ةيرشبلا ةقاطلا ردقب لى

28 Samsurrohman, Pengantar Ilmu Tafsir, 1 ed. (Jakarta: Amzah, 2014).

29 Ahmad Sarwat, Pengantar Ilmu tafsir, 2 ed. (Jakarta Selatan: Rumah Fiqih Publishing, 2020), 15.

30 Saifuddin Herlambang, Pengantar Ilmu Tafsir, 1 ed. (Yogyakarta: Samudra Biru, 2020), 5.

(38)

Ilmu yang membahas tentang Al-Qur‟an dari sisi penjelasan makna yang sesuai dengan yang dimaksud Allah melalui segenap upaya berdasarkan pada kemampuan pemahaman manusia.

Sedangkan ilmy secara bahasa diartikan dari kata knowldge yang artinya pengetahuan. Secara istilah yaitu dalam pandangan Al- Qur‟an arti „ilm tidak terbatas pada istilah ilmu agama saja, melainkan segala macam bentuk ilmu baik ilmu sosial, ilmu alam, ilmu humaniora dan ilmu yang dapat digunakan untuk kepentingan manusia.31 Menurut Ar-Rumi ilmu adalah perkataan syumul yang merangkum berbagai jenis ilmu pengetahuan manusia mulai dari ilmu baru dan ilmu lama, istilah tersebut menunjukan bahwa ilmu bukan hanya bersangkutan dengan ilmu astronomi saja melainkan dalam bidang lain juga.32

Secara umum dapat diartikan bahwa tafsir ilmiy adalah sebuah penafsiran dalam menafsirkan kandungan ayat-ayat Al-Qur‟an dengan pendekatan ilmiah berdasarkan teori-teori ilmu pengetahuan.33 Didalamnya terdapat objek berupa ayat-ayat Al-qur‟an yang berkaitan dengan alam semesta atau sains modern, seperti ilmu geologi, ilmu astronomi, ilmu biologi, kedokteran, dan matematika. Dan di dalamnya juga terdapat ilmu sosial, ilmu psikologi, maupun ilmu geografi.34

31 Dwi Indah Sari, “Penafsiran Zaghloul Al-Najjar Tentang Black Hole dalam QS. At-Takwir Ayat 15-16” (Skripsi, Semarang, UIN Walisongo, 2019).

32 Nor Syamimi Mohd, Haziyah Husin, dan Wan Nasyrudin Wan Abdullah, “Pendefinisian Semula Istilah Tafsir „Ilmi,” Islamiyyat 38, no. 2 (t.t.): 149-154.

33 Rubini, “Tasir Ilmi,” Jurnal Komunikasi dan Pendidikan Islam 5, no. 2 (2016): 90-115.

34 Sarwat, Pengantar Ilmu tafsir, 73.

(39)

24

Menurut pandangan Husain Ad-Dzahabi tafsir ilmi adalah, “Tafsir yang membahas istilah-istilah ilmiah dalam Al-Qur‟an dan berusaha menggali macam ilmu pengetahuan dan pandangan filosofis menurut Al-Qur‟an.” Abu Hajar juga mendefinisikan bahwa tafsir ilmi adalah tafsir yang menjelaskan ayat-ayat Al-Qur‟an yang telah terbukti kebenarannya dalam pandang sains dan ilmu pengetahuan.35

Munculnya corak tafsir ilmiy ini dikarenakan adanya pemikiran bahwa Al-Qur‟an mengandung berbagai ilmu didalamnya, berangkat dari paradigma bahwa ilmu di dalam Al-Qur‟an bukan hanya mengandung ilmu agama saja tetapi juga mengandung ilmu yang menyangkut duniawi seperti ilmu pengetahuan yang tidak bertentangan dengan akal sehat manusia. Menurut Dr. Abdul Mustaqim kemunculan tafsir ilmiy dikarenakan adanya dua faktor yakni; Pertama, faktor internal yang terdapat dalam ayat Al-Qur‟an dimana sebagian ayatnya sangat menganjurkan untuk melakukan penelitian tentang ayat-ayat kauniyyah maupun kosmologi. Kedua, faktor eksternal yaitu adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan sains modern.36

b. Kaidah Penafsiran Tafsir Ilmi

Dalam menafsirkan Al-Qur‟an dengan menggunakan pendekatan sains modern diperlukan kaidah atau aturan didalamnya, sehingga tidak sembarang dalam menafsirkan yang membuat penafsiran tersebut jauh dari makna ayat didalamnya. Maka dari itu

35 Mohd, Husin, dan Abdullah, “Pendefinisian Semula Istilah Tafsir „Ilmi.”, 149-154

36Rubini, “Tasir Ilmi”, 90-15.

(40)

diperlukan kaidah kaidah tertentu yang menjadi dasar dalam penafsiran ilmiah Al-Qur‟an, kaidah-kaidah tersebut diantaranya:37

1) Kaidah Kebahasaan

Kaidah kebahsaan merupakan syarat wajib bagi yang ingin memahami ayat Al-Qur‟an. Maka dari itu para mufassir harus memahami dan memperhatikan ilmu yang terkait dengan bahasa seperti ilmi nahwu, ilmu tashrif, ilmu i‟rab, ilmu balaghah dan ilmu pendukung lainnya. Pemahaman terhadap aspek ini merupakan pemahaman yang sangat berat, karena kalimat kalimat yang akan ditafsirkan bukanlah bahasa biasa yang digunakan manusia sehari- harinya melainkan bahasa Allah.

Para mufassir ilmu juga harus memperhatikan dan mempertimbangkan perkembangan arti dalam suatu kata. Karena, bisa jadi pengertian arti kata terentu dalam Al-Qur‟an di era sekarang memiliki makna yang berbeda dengan makna yang digunakan bangsa-bangsa Arab dauhulu. Maka dari itu, kaidah kebahasaan merupakan aspek penting dalam menafisrkan Al- Qur‟an dengan pendeketan apapun itu.38

2) Memperhatikan Korelasi Ayat

Selain kaidah kebahasaan, mufassir yang menggunakan nuansa ilmiah juga diharuskan memperhatikan korelasi ayat baik sebelum ataupun sesudahnya. Jika tidak memperhatikan korelasi ayat, tidak

37 Rubini, 102.

38 Rubini, 102.

(41)

26

menutup kemungkinan akan dapat menyesatkan pemahaman suatu teks ayat-ayat Al-Qur‟an. Karena penyusunan suatu ayat-ayat Al- Qur‟an bukanlah berdasarkan pada kronologi masa turunnya, melainkan berdasarkan hubungan makna ayat-ayat, sehingga kandungan ayat-ayat sebelumnya berkaitan dengan kandungan ayat-ayat selanjutnya.39

3) Berdasarkan Fakta Ilmiah yang Telah Mapan

Al-Qur‟an merupakan kitab suci yang kebenarannya diakui secara mutlak, oleh sebab itu ia tidak dapat disamakan dengan teori-teori ilmiah yang bersifat relatif. Ciri khas ilmu pengetahuan adalah tidak pernah kekal, yang artinya apa yang sudah dianggap salah pada masa lampau akan dibuktikan kebenarannya pada masa akan datang, begitupun juga sebaliknya.

Maka dari itu para mufassir hendaknya tidak memberikan makna pada teks Al-Qur‟an kecuali dengan kenyataan atau hakikat- hakikat lmiah yang sudah mapan dan sampai pada standar tidak adanya penolakan atau perubahan terhadap pernyataan imiah, serta tidak memaksakan dan menjauhkan teori-teori ilmiah dalam menafsirkan Al-Qur‟an.40

4) Pendekatan Tematik

Paradigma tafsir ilmiah dalam pembahasannya harus menggunakan metode tafsir tematik yang mana pembahasannya

39 Rubini, 103.

40 Rubini, 103.

(42)

sama dengan kaidah-kaidah dalam pembahasan tafsir tematik. Oleh karena itu, para mufassir harus menghimpun semua ayat-ayat Al- Qur‟an dalam suatu tema pembahasan yang sama, sehingga sampai pada makna yang hakiki.41

c. Pendapat Ulama Terhadap Tafsir Ilmi

Kemunculan corak tafsir ilmiy ini sudah lama menjadi perdebatan para ulama, ada yang setuju dan tidak dengan adanya tafsir ilmi mulai dari ulama klasik sampai ulama modern. Ulama yang setuju, diantaranya yaitu Fahruddin Ar-Razi, Abu Hamid Al-Ghazali, Muhammad bin Ahmad Al-Iskandarani, Abdullah Fikri, dan Abdul Aziz Ismail. Adapun yang menolak yaitu, Muhammad Abduh, Abu Ishaq, Rasyid Ridha, As-Syathibi, dan Amin Al-Khulli.

Pandangan Amin Al-Khulli dalam menolak tafsir ilmi, menurutnya ada 3 faktor yang ditemukan dalam ketidakberesan adanya tafsir ilmi. Faktor pertama, yaitu bahasa yang dianggap bahwa penafsiran yang digunakan dalam tafsir ilmiah tidak sesuai dengan makna dalam Al-Qur‟an. Faktor kedua, yaitu dari segi filologi, sastra, dan ilmu bahasa. Faktor ketiga, yaitu dari segi teologi; Al-Qur‟an berisikan pesan-pesan moral keagamaan yang tidak ada hubungannya dengan teori kosmologis, yang artinya Al-Qur‟an tidak boleh dipaksa setara dengan teori teori dalam bidang keilmuan ang bersifat relatif dan

41 Rubini, 104.

(43)

28

sementara.42 Puncak kontroversi terhadap tafsir ilmiy yaitu adanya pertentangan para ulama terhadap tafsir Al-Jawahir karya Syaikh Tantawi Jauhari yang mencantumkan banyak gambar seperti sebuah ensiklopedia pada awal abad ke 20.43

Adapun kritik terhadap tafsir ilmiy dimasa yang sekarang bahwa seolah-olah para ilmuwan mencari kebenaran sains modern di dalam Al-Qur‟an guna menunjukkan keunggulan islam sebagai kompensasi atas rasa rendah diri karena ketinggalannya umat islam dibidang sains dan tekonoogi dari bangsa barat yang menjajah sebagian besar umat islam, padahal faktanya munculnya tafsir ilmiy sudah lama ada, jauh sebelum bangsa barat menjajah dunia islam.

Terdapat beberapa upaya dalam merumuskan penulisan tafsir ilmiy menurut ulama tafsir untuk menjaga kesucian Al-Qur‟an:

1) Memperhatikan arti dan kaidah-kaidah kebahasaan untuk menjaga kesesuaian makna dalam menafsirkan Al-Qur‟an.

2) Memperhatikan konteks ayat yang ditafsirkan, sebab-sebab ayat dan surah Al-Qur‟an, bahkan kata dan kalimatnya saling berkorelasi.

3) Memperhatikan penafsiran Rasulullah, para sahabat, para tabiin, para ulama tafsir terutama menyangkut ayat yang akan dipahami.

Selain itu juga ilmu-ilmu Qur‟an seperti sabab nuzul, nasikh mansukh, dsb.

42 Samsurrohman, Pengantar Ilmu Tafsir.

43 Tafsir Salman: Tafsir Ilmiah Atas Juz ‟Amma (Bandung: Mizan Pustaka Kerjasama YPM Salman ITB, 2014).

(44)

4) Tidak menggunakan ayat-ayat yang mengandung isyarat ilmiah guna menghukumi benar salahnya sebuah penemuan ilmiah.

5) Memahami betul segala sesuatu yang menyangkut objek ayat termasuk penemuan ilmiah yang berkaitan.

6) Tetap memperhatikan dan memahami hadist nabi.

7) Tidak menggunakan teori-teori ilmiah yang masih bersifat teori dan hipotesis.

Tokoh-tokoh penggiat tafsir ilmiy dari pengarang kitab-kitab tafsir yang bercorak tafsir ilmiy, diantaranya:

1) Tanthawi Jauhari dengan kitabnya Al-Jawahir fi Tafsir Al-Qur‟an Al-Karim

2) Fakhruddin Al-Razi dengan kitabnya Tafsir Al-Kabir / Mafatih Al- Ghaib

3) Hanafi Ahmad dengan kitabnya Al-Tafsir al-ilmi li al-ayat al- kauniyyah fi Al-Qur‟an

4) Abdullah Syahatah dengan kitabnya Tafsir al-Ayat al-Kauniyyah 5) Muhammad Syawqi dengan kitabnya Al-Fajri Al-Isyarat Al-

Ilmiyah fi al-Qur‟an al-Karim.44

44 Samsurrohman, Pengantar Ilmu Tafsir,193.

(45)

30 BAB III

METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian

1. Pendekatan Penelitian

Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif dan analisis, yaitu peneliti yang berusaha memecahkan masalah berdasarkan data-data.

Penelitian deskriptif analisis membawa peneliti mengeksplorasi situasi sosial yang akan diteliti secara komprehensif, luas, dan mendalam.

2. Jenis Penelitian

Jika dilihat dari jenisnya, penelitian ini menggunakan 2 jenis penelitian yaitu :

a. Penelitian Kualitatif

Pada penelitian ini penulis menggunakan jenis kualitatif.

Penelitian kualitatif adalah sebuah proses penelitian berdasarkan metodologi fenomena sosial yang diidentifikasikan dimana peneliti membuat gambaran secara kompleks, meneliti kata-kata, laporan yang terinci, dan melakukan studi terhadap kondisi yang alami.

Pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif, ciri-cirinya adalah data-data yang dikumpulkan berupa kata-kata, gambar, dan bukan angka-angka. Laporan penelitian akan berisi kutipan-kutipan data untuk gambaran penyajian laporan tersebut.

b. Kepustakaan (Library Research)

(46)

Penelitian ini bertujuan untuk mengumpulkan data dan informasi yang bersumber dari buku-buku, jurnal, dokumen, catatan, dan lainnya. Dari dokumen yang ada tersebut peneliti melakukan analisis secara mendalam dan menginterpretasikan sesuai dengan judul penelitian yang sedang dilakukan.

3. Sumber Data

Dalam penelitian ini, mengambil dari literatur kepustakaan yang terdiri atas data primer dan data sekunder.

a. Data Primer

Data primer adalah sumber data yang menjadi rujukan utama dalam penelitian. Sumber data primer dalam penelitian ini, yaitu;

1) Al-Qur‟an

2) Kitab Mukhtarat Min Tafsir Al-Ayat Al-Kauniyyah Fi Al-Qur‟an Al-Karim karya Zaghloul El-Naggar (Selekta dari Tafsir Ayat- Ayat Kosmos dalam Al-Qur‟an Al-Karim)

3) Pembuktian Sains dalam Sunnah karya Zaghloul El-Naggar b. Data Sekunder

Data sekunder adalah sumber dari data lain yang menjadi pendukung untuk melengkapi data primer. Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini adalah: buku-buku ilmiah, jurnal, artikel, kitab-kitab dan karya-karya lainnya yang berhubungan dengan penelitian ini serta dapat dijadikan data untuk memperkuat argumentasi yang di bangun.

(47)

32

4. Teknik Pengumpulan Data

Ada beberapa teknik yang akan ditempuh dalam pengumpulan data penelitian ini sebagai berikut :

1) Menetapkan masalah yang akan dibahas

2) Mengumpulkan dan menetapkan ayat-ayat yang berkaitan dengan masalah tersebut

3) Mencari dan mengumpulkan data-data yang berkaitan dengan obyek penelitian

4) Mengecek data dan mengkonfirmasi data untuk memperoleh data yang valid

5) Mengkaji literatur yang membahas permasalahan tersebut secara keseluruhan kemudian memfokuskan kepada hal yang berkaitan dengan dua lautan yang tidak saling menyatu

6) Menyusun pembahasan dalam satu kerangka yang sempurna 7) Menyusun kesimpulan yang menjawab masalah yang di bahas 5. Analisis Data

Dalam menganalisis data, penulis menggunakan teknik analisa data secara kualitatif dengan metode deskriptif analisis. Metode deskriptif analisis adalah prosedur dalam pemecah masalah yang diselidiki dengan menggambarkan keadaan subyek atau obyek penelitian pada saat sekarang berdasarkan temuan fakta-fakta yang terlihat secara nyata adanya.

(48)

33 BAB IV

ANALISIS PENAFSIRAN ZAGHLOUL EL-NAGGAR TERHADAP QS.

AR-RAHMAN AYAT 19-20 DALAM KITAB MUKHTARAT MIN TAFSIR AL-AYAT AL-KAUNIYAH FI AL-QUR’AN AL-KARIM

A. Biografi Zaghloul El-Naggar

Prof. Dr. Zaghloul El-Naggar bernama lengkap Zaghloul Raghib Muhammad El-Naggar seorang pakar geologi yang lahir pada tanggal 17 November tahun 1933 di Desa Masyal, Basiun Provinsi al-Gharbiyah tepatnya di Mesir. Beliau hidup dan di besarkan di lingkungan keluarga yang taat dalam agamanya, kakeknya merupakan imam tetap di masjid kampungnya dan ayahnya seorang penghafal Al-Qur‟an. Zaghloul sudah selesai menghafal Al-Qur‟an semenjak usia 10 tahun.

Beliau menempuh pendidikan di Fakultas Sains Universitas Kairo dan lulus pada tahun 1995 yang kemudian melanjutkan ke Wales University Inggris dengan meraih gelar Ph. D pada tahun 1963.45 Berkat kecerdasannya dalam ilmu sains dan ilmu agama islam di waktu dan universitas yang sama beliau mendapatkan penghargaan Robertson-Post Doctoral Research, Arab Petroleum Congress Best Paper Award di tahun 1970 dan juga meraih penghargaan Baraka Award di bidang geologi.46

45 El-Naggar, Selekta dari Tafsir Ayat-Ayat Kosmos dalam Al-Qur‟an Al-Karim.

46 Dinni Nazhifah, “Tafsir-Tafsir Modern dan Kontemporer Abad Ke-19-21 M,” Jurnal Iman dan Spiritualitas 1, no. 2 (5 Mei 2021): 211-218, https://doi.org/10.15575/jis.v1i2.12302.

(49)

34

Perjalanan karir Zaghloul El-Naggar juga sangat baik beberapa jabatan dan juga penghargaan yang diraih olehnya, diantaranya yaitu:

Jabatan Profesional:

1. Ikut berpartisipasi dalam pembentukan Departemen Geology di King Saud University pada tahun 1959 sampai 1967.

2. Bekerja sebagai konsultan ilmiah di yayasan Riset Robertson, Inggris pada tahun 1963.

3. Menjadi anggota dewan redaksi “Journal of Foramimifeeral Research”

yang terbit di New York tahun 1966.

4. Berpartisipasi dalam pembentukan Departemen Geology di Kuwait University pada tahun 1967 sampai 1978.

5. Menjadi penasehat “Journal Moslem Mu‟asher” yang terbit di Washington tahun 1970.

6. Menjadi guru besar dan dosen di Universitas Kuwait, Departemen Geologi tahun 1972.

7. Menjadi dosen di Universitas Qatar pada tahun 1978.

8. Menjadi Professor di Universitas California, Los Angeles, Amerika Serikat pada tahun 1977-1978.

9. Penasehat majalah Ilmiah Rayan yang terbit di Qatar tahun 1978.

10. Penasehat majalah ilmiah “Islamic Science” yang terbit di India tahun 1978.

11. Menjadi anggota dewan Riset Dunia Islam di Kairo tahun 1981.

(50)

12. Berpartisipasi dalam pembentukan badan ilmiah dunia untuk keajaiban ilmiah dalam Al-Qur‟an al-Karim dan Sunnah (Asosiasi Dunia Islam) di Mekkah al-Mukarromah tahun 1981.

13. Menjadi konsultan dalam pendidikan tinggi di Institut Arab di Khubr, Saudi Arabia pada tahun 1966 samapi 1999.

14. Direktur di Universitas Ahqaf, Yaman pada tahun 1996 sampai 1999.

15. Direktur pascasarjana “Ma‟had Markveld” di Inggris pada tahun 200 sampai 2001.

16. Menjadi penasehat di Musium Peradaban Islam di Swiss tahun 2001.

Penghargaan:

1. Meraih Grant Award dari Dubai Internasional untuk Al-Qur‟an Al-Karim dan Sunnah Nabawiyah, yang dijulukan “Asy-Syakhsiyah Al-Islamiyah Al-Ula” tahun 2006.

2. Meraih Grant Award dari Presiden Sudan yang berupa medali emas di dalam bidang ilmu pengetahuan, adab dan seni tahun 2005.

3. Meraih Grant Award dari Komunitas Ahli Paleontologi Mesir pada tahun 2001.

4. Mendapatkan penghargaan sebagai penelitian terbaik untuk Seminar Paleontology di Roma pada tahun 1970.47

Zaghloul El-Naggar memiliki karya yang berjumlah lebih dari 45 buku, 150 artikel dan membimbing 45 thesis dan disertasi di berbagai perguruan tinggi. Karya-karya beliau yang ditulis berupa kajian ilmu yang

47 El-Naggar, Selekta dari Tafsir Ayat-Ayat Kosmos dalam Al-Qur‟an Al-Karim, 6.

(51)

36

meliputi ilmu sains islam, sains dalam hadits, al-Qur‟an dan sains, i‟jaz ilmi, dan lainnya. Karya yang ditulis bukan hanya berbahasa arab saja, namun juga terdapat dalam Bahasa Inggris dan Bahasa Prancis. Beberapa diantaranya karya Zaghloul El-Naggar yang terkenal adalah :

1. Tafsir Ayat Al-Kauniyyah Fi Al-Qur‟an Al-Karim. Buku ini berisikan tentang ayat-ayat kosmos yang terdapat dalam Al-Qur‟an di setiap surah, yang dibagi dalam 4 jilid. Jilid pertama mulai dari surah Al- Baqarah sampai surah Al-Isra, jilid kedua surah Al-Kahfi sampai surah Luqman , jilid ketiga surah As-Sajadah sampai surah Al-Qomar, jilid keempat surah Ar-Rahman sampai surah Al-Qariah.

2. The Geological Concept of Mountains in the Qur‟an. Buku ini berisi tentang Gunung dalam Al-Qur‟an, seperti kata-katanya yang tertera di dalamnya “Kata gunung dalam bentuk tunggal dan jamak disebutkan secara eksplisit di dalam Al-Qur‟an, 39 kali (6 dalam bentuk tunggal dan 33 dalam bentuk jamak) dan secara jelas diimplikasikan sebagai stabilisator untuk kerak bumi dalam 10

Gambar

Tabel 4.1 Jilid I  berisi surah al-Baqarah sampai surah al-Isra’
Tabel 4.2 Jilid II berisi surah al-Kahfi  sampai surah Luqman
Tabel 4.3 Jilid III berisi surah As-Sajdah sampai surah Al- Al-Qamar
Tabel 4.4 Jilid IV berisi surah Ar-Rahman sampai surah Al- Al-Qariah
+4

Referensi

Dokumen terkait

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Distribusi dan Preferensi Habitat Udang Dan Kepiting Air Tawar (Crustacea: Decapoda) di Danau Laut Tawar Aceh Tengah,

mulut bagian luar sebelah timur selat (Laut Jawa) dan massa air bersuhu lebih... dingin di mulut bagian luar sebelah barat dan selatan selat

Arus Laut adalah pergerakan massa air secara vertikal dan horizontal sehingga menuju keseimbangannya, atau gerakan air yang sangat luas yang terjadi di seluruh lautan dunia

Selain air tawar ada juga danau yang airnya asin (memiliki kadar garam tinggi) seperti Danau Kaspia, Danau Laut Mati, Danau Laut Aral, Great Salt dan lain-lain. Mengapa ada danau

Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengolah air laut menjadi air tawar dengan mengetahui kuantitas dan kuantitas air tawar yang dihasilkan alat destilasi dengan

Massa udara yang masuk daerah target didominasi massa udara yang berasal dari Lautan Pasifik Barat dan Laut Banda yang cukup mengandung uap air, kondisi kelembapan

Allah menjadikan dua laut tersebut pemisah yaitu tawar dan air asin dan tidak bercampur agar bagian yang satu dengan yang kain tidak merusak menurut sifat

Sedangkan solidaritas organik adalah saling berkaitan dan mempengaruhi dalam pembagian kerja, dilangsungkan oleh masyarakat yang kompleks, ciri dari masyarakat modern atau