BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2 Tahap 2 Identifikasi Perlunya Melaporkan Intellectual Capital
25
26 likuiditas pasar saham dan meningkatkan permintaan surat berharga perusahaan (Healy & Palepu, 2001). Beberapa kerugian pasar modal jika informasi intellectual capital tidak diungkapkan adalah sebagai berikut (Starovic & Marr, 2003):
a. Memungkinkan kerugian bagi pemegang saham kecil, karena mereka tidak memiliki akses terhadap informasi intangibles yang biasanya tersedia dalam pertemuan tersendiri dengan investor besar.
b. Memungkinkan terjadinya insider trading jika manajer memanfaatkan secara internal informasi mengenai intangible yang tidak diketahui oleh investor lainnya.
c. Meningkatnya volatilitas dan memungkinkan penilaian yang keliru atas perusahaan, sehingga investor dan bank memberikan tingkat risiko besar pada organisasi.
d. Meningkatkan biaya modal.
Oleh karenanya, dalam ekonomi berbasis pengetahuan, merupakan hal yang krusial bagi organisasi bisnis untuk dapat menggunakan pengetahuan secara efisien dan meningkatkan potensi inovasi yang dimilikinya sehingga keunggulan kompetitif dapat dicapai. Keberadaan pengetahuan organisasi yang disebut dengan intellectual capital merupakan faktor keberhasilan kritis yang berperan penting dalam menciptakan produk atau jasa yang inovatif. Demikian pula dengan promosi pegawai, hubungan dengan pelanggan, dan pengembangan produk berorientasi pasar merupakan faktor keberhasilan kritis dalam ekonomi yang digerakan oleh pengetahuan. Dengan demikian, maka pelaporan intangible assets secara sistematis terhadap pelanggan, partner, dan investor seperti halnya kreditur merupakan faktor keberhasilan kritis organisasi. Pengelolaan intellectual capital semakin penting bagi organisasi yang berorientasi pada masa yang akan datang. Namun demikian, neraca yang dihasilkan oleh akuntansi konvensional beserta dengan instrumen pengendalinya tidak memadai karena intangible asset tidak dipertimbangkan lebih jauh. Relevansi nilai dari laporan keuangan trandisional telah mengalami penurunan (Lev & Zarowin, 1996), dan informasi non keuangan seperti ukuran pasar dan penetrasi pasar secara signifikan
27 menunjukan hubungan dengan nilai pasar (Amir & Lev, 1996). Untuk tujuan komunikasi eksternal, penambahan jenis pelaporan yang disusun merupakan hal yang menjadi relevan. Hal tersebut yang telah mendasari beberapa perusahaan di beberapa negara untuk mengungkapkan informasi intellectual capital kepada stakeholder eksternalnya. Laporan intellectual capital merupakan pelengkap dari laporan keuangan, mendokumentasikan dan menjelaskan strategi perusahaan untuk mengelola pengetahuan dan aktivitas untuk mengimplementasikan strategi.
Dalam laporan intellectual capital juga seringkali diungkapkan berbagai usaha yang telah dilakukan oleh manajemen perusahaan seperti usaha untuk meningkatkan dan memonitor aktivitas pengetahuan dengan berbasis non keuangan. Hal tersebut menunjukan usaha yang dilakukan oleh perusahaan dalam mengelola sumberdaya pengetahuannya yang juga merupakan bagian dari aktivitas knowledge management.
Dalam Intellectual Capital Statement-Made in Germany dikemukakan bahwa laporan intellectual capital merupakan salah satu alat untuk pengembangan sistematis strategi dan organisasi. Laporan tersebut memungkinkan untuk mengelola proyek-proyek yang ditargetkan dan secara internal dapat digunakan untuk memperbaiki manajemen intellectual capital. Di sisi lain, laporan intellectual capital juga dapat digunakan untuk melakukan komunikasi eksternal misalnya untuk memperoleh pendanaan investasi mendatang. Hal ini disebabkan karena neraca yang dihasilkan oleh akuntansi konvensional hanya memasukan kejadian masa lalu dan sebagian besar merupakan aset berwujud, misalnya gedung, peralatan teknik, bank, dan sebagainya yang seringkali memicu munculnya dilema. Informasi yang diperlukan untuk pengambilan keputusan investasi tidak tersedia, karena yang dilaporkan dalam neraca akuntansi konvensional semata-mata merupakan aset berwujud sehingga tidak memadai untuk melakukan peramalan earnings dan inovasi sebuah perusahaan. Lebih lanjut Guideline Intellectual Capital-Made in Germany menyebutkan bahwa laporan intellectual capital menawarkan sebuah struktur untuk menunjukan dan mengevaluasi kompetensi kritis bagi keberhasilan organisasi dan potensi inovasi organisasi. Laporan intellectual capital memotret intangible asset dan karenanya
28 merupakan pelengkap dari neraca konvensional. Jika organisasi bisnis mampu menyajikan intellectual capitalnya secara transparan kepada pasar keuangan dalam bentuk tertentu, maka akan memudahkan dalam memperoleh pinjaman dan biaya pendanaan untuk inovasi dan risiko investasi dapat dikurangi. Di samping itu, laporan intellectual capital merupakan dasar bagi bank dan investor untuk pengambilan keputusan investasi dalam sebuah organisasi.
European ICS Guideline menyebutkan bahwa dengan menyusun laporan intellectual capital organisasi dapat:
a. Membantu menentukan kekuatan dan kelemahan strategi faktor intellectual capital (diagnosis)
b. Memprioritaskan kesempatan perbaikan dengan dampak tertinggi (mendukung keputusan)
c. Mendukung implementasi tindakan bagi pengembangan organisasional (optimisasi dan inovasi)
d. Meningkatkan transparansi dan keterlibatan pegawai (komunikasi internal) e. Menurunkan risiko strategi dan mengontrol keberhasilan sebuah tindakan
(monitoring)
f. Memfasilitasi untuk mengkomunikasikan nilai-nilai perusahaan kepada stakeholder (reporting)
Selain itu, secara umum laporan intellectual capital membantu pemilik dan manajer organisasi untuk memfasilitasi proses pengembangan dan implementasi strategi. Laporan intellectual capital dapat digunakan untuk menilai kapabilitas internal, seperti sumberdaya tak berwujud perusahaan dari sudut pandang sasaran strategik eskternal, misalnya pertumbuhan, posisi pasar, kepuasan konsumen, dan sebagainya.
Penelitian yang dilakukan Marr, Gray, dan Neely (2003) menemukan lima pertimbangan yang memotivasi perusahaan mengukur intellectual capital, yaitu : 1. Membantu organisasi memformulasikan strategi bisnis. Dengan
mengidentifikasi dan mengembangkan intellectual capital, memungkinkan organisasi untuk memperoleh keunggulan kompetitif.
29 2. Mengembangkan indikator kinerja kunci yang akan membantu untuk mengevaluasi pelaksanaan strategi. Meskipun pengukuran intellectual capital dilakukan dengan tepat, namun hal tersebut hanya akan memiliki nilai yang kecil, kecuali jika dihubungkan dengan strategi perusahaan (Edvinsson &
Malone, 1997).
3. Membantu dalam evaluasi merger dan akuisisi, khususnya untuk menentukan harga yang dibayar oleh perusahaan yang mengakuisisi.
4. Menghubungkan intellectual capital dengan rencana insentif dan kompensasi.
5. Mengkomunikasikan intellectual capital organisasi kepada stakeholder eksternal.
Dari kelima pertimbangan tersebut, pertimbangan pertama sampai keempat merupakan pertimbangan yang bersifat internal organisasi, sedangkan pertimbangan kelima merupakan pertimbangan yang bersifat eksternal yaitu untuk mengkomunikasikan kepada pihak stakeholder eksternal mengenai properti intelektual yang perusahaan miliki. Pengukuran yang tepat terhadap intellectual capital akan melengkapi ukuran keuangan, menyediakan mekanisme umpan balik untuk bertindak, menyediakan informasi untuk mengembangkan strategi baru, membantu pemberian bobot terhadap tindakan tertentu, dan meningkatkan manajemen bisnis secara keseluruhan (Holmen, 2005). Holmen (2005) juga mengemukakan bahwa pelaporan intellectual capital kepada pihak eksternal dapat:
1. Menutup gap antara nilai buku dan nilai pasar
2. Menyediakan informasi yang lebih baik mengenai nilai sesungguhnya organisasi
3. Mengurangi asimetri informasi
4. Meningkatkan kemampuan untuk menaikan modal dengan menyediakan penilaian terhadap sumberdaya tidak berwujud
5. Meningkatkan reputasi organisasi
Federal Ministry of Economics and Labour (2004) dalam Intellectual Capital Statement-Made in Germany menyebutkan bahwa pengguna laporan intellectual capital adalah seluruh individu maupun kelompok yang
30 berkepentingan terhadap organisasi dan dapat dikelompokan menjadi dua yaitu pengguna internal dan pengguna eksternal. Pengguna internal meliputi manajemen organisasi, termasuk seluruh pegawai dan unit organisasi, sedangkan pengguna eksternal meliputi investor, pegawai potensial, konsumen, dan rekan bisnis. Ministry of Science Technology and Innovation dalam Intellectual Capital Statements-The New Guideline (2003) menyebutkan bahwa melalui analisa manajemen pengetahuan perusahaan, perusahaan telah memperoleh pengetahuan yang secara strategis penting beserta pengembangannya. Oleh karenanya, maka laporan intellectual capital merupakan alat manajemen internal. Sedangkan, laporan intellectual capital eksternal dapat digunakan untuk mengkomunikasikan bagian-bagian dari knowledge management, menunjukan sumberdaya serta memperoleh pegawai, konsumen, dan pemasok baru.
Laporan intellectual capital dapat disusun dengan melibatkan berbagai tingkatan hirarki dalam sebuah workshop partisipatif untuk memecahkan beberapa jenis masalah mengenai pengembangan dan implementasi strategi. Hal tersebut disebabkan karena (European ICS Guideline):
1. Aset utama yang diperlukan dalam pengembangan strategi dapat secara sistematis diidentifikasi dengan membangun pada pandangan yang konsisten tim yang representatif dalam organisasi. Dengan cara ini, maka tindakan yang tepat untuk memperbaiki suatu area dapat diprioritaskan dan dihubungkan dengan sasaran strategik secara keseluruhan.
2. Suatu proses perubahan dapat dicetuskan dan difasilitasi dengan melibatkan individu penting organisasi, meningkatkan kesadaran mengenai sumberdaya intangible dan pengaruhnya terhadap model bisnis, seperti halnya membangun pemahaman umum mengenai kelemahan tertentu dan perlunya untuk melakukan perbaikan.
3. Laporan intellectual capital memungkinkan perubahan yang dapat dimonitor secara berkelanjutan dari waktu ke waktu dalam rangka untuk mengukur keberhasilan tindakan tertentu dan mengendalikan risiko dari sumberdaya kritis.
31 Federal Ministry of Economics and Labour (2004) dalam Intellectual Capital Statement-Made in Germany, mengemukakan bahwa beberapa organisasi yang mempersiapkan penyusunan laporan intellectual capital melaporkan sejumlah manfaat yang diharapkan dari proses penyusunan laporan intellectual capital, yaitu:
1. Penyusunan laporan intellectual capital dengan melibatkan berbagai tingkatan hirarki mempertinggi pemahaman bagaimana perusahaan bekerja.
Manajemen memperoleh gambaran apa yang terjadi dalam operasi bisnis, dan pegawai diberikan gambaran mengenai tantangan yang dihadapi oleh manajemen. Hal tersebut berdampak pada koordinasi atas tujuan bersama dan tugas-tugas mendatang yang lebih baik, yang pada akhirnya akan mendukung pengambilan keputusan yang sebagian besar terdesentralisasi.
2. Mendefinisikan faktor penting intellectual capital memungkinkan untuk menemukan bahasa umum yang dapat menghindarkan kesalahpahaman dan memungkinkan terjadinya diskusi yang bersifat konstruktif.
3. Menyetujui bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi intellectual capital dan pengetahuan memberikan kontribusi pada hasil yang dicapai, membuat organisasi lebih mudah memfokuskan pada aktivitas pembelajaran dan perbaikan.
4. Tanya jawab, proses, dan prosedur yang dibentuk penting sebagai titik awal untuk mendesain dan memperbaiki proses.
5. Diskusi mengenai faktor yang mempengaruhi dan penggerak kinerja dalam tim operasional menciptakan sinergi dan menciptakan atmosfir inovatif.
6. Memfokuskan pada konsumen dan pengetahuan yang diperlukan memberikan orientasi yang lebih baik terhadap nilai tambah dan keunggulan kompetitif.
7. Perspektif yang holistik dari organisasi dan jaringan yang ada antara pegawai, struktur, hubungan dan proses bisnis memperjelas bahwa individu mempengaruhi faktor intellectual capital dan memungkinkan untuk memprioritaskan aktivitas dan ukuran yang diperlukan.
32 8. Diskusi yang terbuka mengenai kekuatan dan kelemahan menciptakan transparansi dan kepercayaan diantara pegawai, unit organisasi dan fungsi- fungsinya.
4.3 Tahap 3 Pengembangan Model Pelaporan Intellectual Capital