BAB III: METODE PENELITIAN
G. Tahapan-tahapan Penelitian
Adapun tahapan-tahapan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti adalah sebagai berikut:
Tabel 3. 1 Tahapan-tahapan Penelitian
No. Jenis kegiatan Kegiatan yang dilakukan
1. Tahap pra lapangan 1. Menyusun rancangan penelitian. Pada tahap ini peneliti membuat proposal terlebih dahulu tentang rencana pelaksanaan penelitian yang akan dilakukan.
2. Memilih lokasi penelitian. Pada tahap ini peneliti terlebih dahuly melakukan observasi di SMPLB PGRI Kawedanan Magetan untuk melihat apakah permaslahan yang dihadapi dan topik yang akan diteliti dapat ditemukan.
3. Mengurus surat izin penelitian. Pada tahap ini, jika peneliti menemukan bahwa topik yang diangkat oleh peneliti sesuai dengan permasalahan di SMPLB PGRI Kawedanan Magetan, maka peneliti melanjutkan dengan mengajuan surat perizinan penelitian di
sekolah tersebut.
4. Menjajaki dan menilai lokasi penelitian. Pada tahap ini, setelah mendapat izin dan persetujuan dari SMPLB PGRI Kawedanan, peneliti terlebih dahulu melakukan observasi untuk menentukan apakah tempat penelitian layak digunakan atau tidak, yang diharapkan nantinya setelag penelitian selesai, hasil penelitian ini dapat bermanfaat untuk lembaga yang diteliti.
5. Memilih dan memanfaatkan informasi. Pada tahap ini, ketika tempat penelitian dianggap sebagai tempat penelitian, peneliti memilih dan mencari informasi siapa saja yang dapat membantu peneliti mendapatkan informasi yang dibutuhkan peneliti. Disini 2 peneliti informan yaitu kepala sekolah dan guru kelas.
6. Menyiapkan perlengkapan penelitian. Pada tahap ini, peneliti menyiapkan beberapa instrumen wawancara, kokumentasi dan observasi untuk memudahkan penelitian.
2. Tahap Pekerjaan Lapangan
Memahami latar penelitian dan persiapan diri, peneliti sangat berperan dalam penelitian ini. Pada tahap ini peneliti harus menyesuaikan latar belakang yang menjadi tujuan utama mengapa penelitian ini dilaksanakan, jika dirasa sudah cukup memahami, maka selanjutnya peneliti memasuki lapangan penelitian serta berperan dalam mencari, menggali dan memperoleh data sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan. Kali ini peneliti melakukan beberapa cara untuk memperoleh data dari lapangan dengan observasi, dokumentasi dan wawancara pada lingkup SMPLB PGRI Kawedanan Magetan dan mencari informasi terkait dengan permasalahan
yang ada di sekolah tersebut.
3. Tahap Analisis Peneliti melakukan analisis terhadap data-data yang telah dikumpulkan dari hasil wawancara, observasi dan dokumentasi selama melakukan
penelitian di SMPLB PGRI Kawedanan Magetan.
4. Hasil Laporan Penelitian
Pada tahap ini, peneliti mengungkapkan dan hasil penelitian yang sistematis sehingga dapat dipahami dan diikuti alurnya oleh pembaca. Di sini peneliti mengupas semua hasil penelitian ke dalam laporan yang telah tersusun sebagaimana mestinya.
BAB IV
TEMUAN PENELITIAN A. Deskripsi Data Umum
1. Sejarah Deskripsi SMPLB PGRI Kawedanan Magetan1
Pada tanggal 1 Juli 1993, SLB PGRI Kawedanan Magetan didirikan dengan mendaftarkan sepuluh siswa tunagrahita berat.
Supriyati yang berdomisili di perumahan SDN Genengan 1, Kecamatan Kawedanan, Kabupaten Magetan, mengawal pembangunan sekolah ini.
Sepuluh siswa pertama sekolah ini berusia antara 7 hingga 18 tahun.
Anak tunarungu (B) dan tunagrahita (C) bersekolah di SLB PGRI Kawedanan di bawah pengawasan Supriyati, Sukadi, dan Sundari.
Sekolah berusaha untuk meningkatkan kesehatan mental, spiritual, dan fisik semua siswa, termasuk mereka yang berkebutuhan khusus, dengan tujuan akhir membebaskan mereka dari kendala yang disebabkan oleh penyakit mereka.
Banyak siswa SLB PGRI Kawedanan yang memutuskan untuk tidak sekolah karena sulitnya perjalanan ke SDN Tulung 1 dan masih ada penumpang di sana. Guru-guru dari SLB PGRI Kawedanan berkumpul pada tahun 2003 untuk menggali ide sekolah yang dekat dengan pusat transportasi dan sekolah mereka sendiri. Setelah banyak pertimbangan, diputuskan untuk mencoba membeli tanah di lingkungan Karangrejo, yang dekat dengan pelabuhan, pasar, dan fasilitas kesehatan, untuk memberikan anak-anak SLB transportasi yang nyaman sehingga mereka dapat kembali ke sekolah.
Pada tahun 2006, sekolah meminta dana dari APBN untuk melanjutkan pembangunan sekolah, dan Subdiv Pelayanan P dan K Provinsi Jawa Timur menerima permintaan tersebut. Untuk menyelesaikan rekonstruksi gedung sekolah, pihak sekolah mengajukan permohonan dana rehabilitasi tahun 2007 kepada Dinas P dan K
1 Lihat pada transkip dokumentasi dalam lampiran penelitian ini, Kode: 01/D/11-I/2023
Provinsi Jawa Timur. SLB PGRI Kawedanan Magetan akhirnya bisa membangun tiga gedung sekolah setelah empat tahun memiliki lahan sendiri. Sekolah Luar Biasa (SLB) Tingkat SDLB, SMPLB, dan SMALB PGRI Kawedanan Magetan yang dibangun dan disosialisasikan telah dibuka pada tanggal 12 Februari 2008. Selain itu, lembaga ini kini menyambut berbagai anak berkebutuhan khusus, termasuk siswa tunadaksa, autis, tuli, dan retardasi mental.
2. Letak Geografis SMPLB PGRI Kawedanan2
Di provinsi Jawa Timur, Magetan hadir di Desa Karangrejo, Kecamatan Kawedanan, dan Kabupaten Magetan. Karena letaknya yang dekat dengan terminal Gorang Gareng, Puskesmas Kawedanan, dan Pasar Gorang Gareng, perempuan yang berangkat kerja sambil sekolah bisa lebih mudah melakukannya. sekitar 11 kilometer dari Jarak ke Magetan. Berikut dari SLB PGRI Kawedanan Magetan Batasan:
Permukiman Belotan berada di sebelah utara.
Desa Tulung berada di selatan.
Desa Mojorejo berada di sebelah timur.
Desa Bogem berada di sebelah barat.
3. Profil SMPLB PGRI Kawedanan Magetan3
SMPLB PGRI Kawedanan adalah salah satu sekolah unggulan di wilayah Magetan. Berada di lingkungan masyarakat Karangrejo, Provinsi Jawa Timur, Kabupaten Magetan, dan Kabupaten Kawedanan, lembaga ini dikelola oleh SLB PGRI Kawedanan. Karena letak sekolah yang dirancang dengan baik dekat dengan pasar, terminal, dan fasilitas medis, siswa memiliki akses yang lebih mudah ke sana. Sekolah ini disarankan bagi orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus, baik dari dalam kecamatan maupun dari luar
2Lihat pada transkip dokumentasi dalam lampiran penelitian ini, Kode: 02/D/11-I/2023
4Lihat pada transkip dokumentasi dalam lampiran penelitian ini, Kode: 04/D/11-I/2023
kecamatan Kawedanan, karena menawarkan fasilitas yang relatif lengkap untuk anak berkebutuhan khusus selain mudah diakses.
Pada tahun 1994, organisasi PGRI mendirikan SMPLB PGRI Kawedanan Magetan sebagai sekolah. Sertifikasi B lembaga ini dari tahun 2007 menunjukkan bahwa lembaga ini bekerja dengan baik dalam menghasilkan individu yang cerdas, berpendidikan, paham teknologi yang juga dilandasi iman dan takwa untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Nomor akreditasi sekolah NIS 281290, NSS 894051010003, dan NPSN 20537466.
4. Visi, Misi, dan Tujuan SMPLB PGRI Kawedanan4 a. Visi Sekolah
Visi SMPLB PGRI Kawedanan Magetan adalah “Terwujudnya sumber daya manusia yang terdidik, mandiri berdasarkan prinsip- prinsip agama dan terwujudnya profil siswa yang pancasila”
merupakan misi SMPLB PGRI Kawedanan Magetan.
b. Misi Sekolah
Misi SMPLB PGRI Kawedanan Magetan adalah:
1) Menyelenggarakan pengajaran, pembelajaran, dan bimbingan yang bermutu, didukung sarana dan prasarana yang memadai, merupakan salah satu tujuan SMPLB PGRI Kawedanan Magetan.
2) Menciptakan suasana yang ramah, aman, asri, dan hangat.
3) Mewujudkan lingkungan belajar yang disiplin didukung oleh siswa, guru, dan staf yang berdedikasi.
4) Mengembangkan karakter moral peserta didik, instruktur, dan staf.
5) Menciptakan sekolah yang mandiri dan profesional dengan mendorong etos kerja, ketekunan, kedisiplinan, dan kejujuran.
5Lihat pada transkip dokumentasi dalam lampiran penelitian ini, Kode: 06/D/11-I/2023
6) Menyadari ciri-ciri yang membentuk profil Mahasiswa Pancasila.
c. Tujuan
Tujuan SMPLB PGRI Kawedanan Magetan adalah sebagai berikut:
1) Menumbuhkan setiap diri mereka rasa takwa dan beriman kepada Yang Maha Kuasa..
2) Menumbuhkan dalam diri siswa rasa hormat dan kebajikan.
3) Menciptakan peserta didik yang berpengetahuan luas baik sains maupun seni.
4) Mengembangkan kecakapan hidup siswa agar dapat berfungsi dalam masyarakat.
5) Membantu anak-anak dengan kesulitan mereka dengan menawarkan perawatan.
5. Data siswa SMPLB PGRI Kawedanan Magetan5
Ada 11 siswa di kelas VII, 7 di kelas VIII, dan 2 di kelas IX di antara siswa SMPLB PGRI Kawedanan. Di kelas VII terdapat 4 siswa perempuan dan 7 siswa laki-laki. Kelas VIII terdiri dari tiga siswa laki- laki dan empat siswa perempuan. Satu siswa laki-laki dan satu siswa perempuan merupakan Kelas IX. Delapan siswa tunagrahita ringan, sepuluh anak autis, dan dua orang dewasa penyandang disabilitas fisik membentuk badan siswa SMPLB. Siswa SMPLB PGRI Kawedanan berasal dari berbagai daerah di Kabupaten Magetan. Selain dari Kecamatan Kawedanan, mereka berasal dari Kecamatan Bendo, Ngariboyo, Takeran, dan Nguntoronadi.
6Lihat pada transkip dokumentasi dalam lampiran penelitian ini, Kode: 07/D/11-I/2023
6. Sarana dan Prasarana SMPLB PGRI Kawedanan Magetan6
Dalam hubungannya dengan SLB PGRI Kawedanan adalah SMPLB PGRI. Sarana dan prasarana di sekolah sangat menentukan keberhasilan proses pendidikan. Proses pembelajaran didukung dengan 12 ruang kelas yang terawat, 4 lab, 4 ruang komputer, dan bantuan belajar darurat.
Ruang kepala sekolah dibongkar, ruang administrasi bermasalah, dan ruang guru dalam kondisi layak. Untuk pendidik dan administrator, ini adalah sarana dan prasarana. Selain itu, sediakan ruang pendukung yang bersih seperti tiga toilet siswa dan satu toilet instruktur. Juga, memiliki dapur, tempat parkir, dan ruang UKS. Lapangan atletik lainnya, lapangan seremonial, taman siswa, dan ruang keterampilan tersedia untuk mendukung beragam kegiatan.
Juga, sekolah menawarkan keyboard electone, mesin jahit, peralatan pakaian, alat peraga IPS, alat peraga olahraga, peralatan rumah tangga, alat peraga seni, telepon, komputer, televisi, dan laptop, di antara peralatan pendukung lainnya. Sekolah menyediakan segala sarana dan prasarana yang diperlukan agar siswa dapat belajar dengan nyaman dan sesuai dengan visi dan misi yang telah ditetapkan.
B. Deskripsi Data Penelitian
1. Deskripsi Data tentang Proses Pendidikan Karakter bagi Siswa Berkebutuhan Khusus di SMPLB PGRI Kawedanan Magetan
Setelah peneliti mengadakan penelitian di SMPLB PGRI Kawedanan Magetan, maka peneliti dapat memaparkan data dan informasi yang memuat tentang peran pendidikan karakter bagi siswa berkebutuhan khusus baik ketika pembelajaran di dalam kelas maupun di luar kelas.
Peran pendidikan karakter yang dimiliki oleh siswa berkebutuhan khusus tidaklah sama dengan siswa di sekolah umum.
7 Lihat pada transkip wawancara dalam lampiran penelitian ini, Kode: 01/W/11-I/2023
Adapun hasil yang diperoleh dalam wawancara dan observasi terhadap guru, kepala sekolah dan siswa berkebutuhan khusus SMPLB PGRI Kawedanan Magetan sebagai berikut:
Hal ini sebagaimana hasil wawancara dengan Ibu Woro selaku guru kelas sebagai berikut:
Jika berbicara tentang bagaimana cara kami melakukan kegiatan belajar mengajar dengan menitik beratkan pada pengembangan kecerdasan emosional, maka untuk melatih dan mengembangkan kecerdasan emosional tersebut, disini beberapa langkah yang dilakukan ialah pertama, memahami karakter atau perasaan yang dimiliki atau ditunjukkan oleh peserta didik; kedua memberikan bimbingan serta arahan kepada peserta didik dengan menyesuaikan karakter peserta didik masing-masing; ketiga mengajarkan anak didik untuk memahami karakter pribadi;
kemudian yang keempat memberikan pelajaran kepada anak didik untuk memahami perasaan orang lain dalam hal ini untuk mempermudah komunikasi yang berkelanjutan. Langkah- langkah tersebut kami lakukan agar mempermudah kami dan juga anak didik kami untuk dapat melakukan kegiatan belajar mengajar dan komunikasi kemudian bagaimana mereka mengenali lingkungannya dengan bersosialisasi dengan cara yang baik.7
Dari hasil wawancara tersebut yang dilakukan oleh peneliti kepada guru didapatkan data bahwa ada empat langkah yang yang dilakukan dalam melatih dan mengembangkan kecerdasan emosional anak didik berkebutuhan khusus. pertama, memahami karakter atau perasaan yang dimiliki atau ditunjukkan oleh peserta didik, kedua memberikan bimbingan serta arahan kepada peserta didik dengan menyesuaikan karakter peserta didik masing-masing, ketiga mengajarkan anak didik untuk memahami karakter pribadi, kemudian yang keempat memberikan pelajaran kepada anak didik untuk memahami perasaan orang lain dalam hal ini untuk mempermudah komunikasi yang berkelanjutan. Langkah tersebut pada praktiknya dinilai sangat relevan dengan kondisi para peserta didik yang notabenenya merupakan anak berkebutuhan khusus yang
9 Lihat pada transkip wawancara dalam lampiran penelitian ini, Kode: 03/W/13-I/2023
membutuhkan perawatan khusus yang esktra dibandingkan dengan anak didik normal pada umumnya.
Hal ini sebagaimana hasil wawancara kepada kepala sekolah yaitu bapak Sukadi sebagai berikut:
Kami para guru dalam menanamkan pendidikan karakter pada siswa-siswi kami yang notabenenya berkebutuhan khusus, tentu saja kami selalu melakukan pendekatan terlebih dahulu.
Selanjutnya kami memberikan motivasi-motivasi kepada para siswa agar menjauhkan mereka dari perasaan skeptis, juga memberikan perhatian serta bimbingan kepada anak-anak didik tersebut. Selain itu, kami juga mengajari siswa untuk mengeksplor keterampilan yang mereka miliki tentunya dengan alasan agar kami dan cara mendidik kami dapat menanamkan sifat kemandirian kepada para siswa yang mampu menjadi bekal pada diri mereka pribadi.8
Dari hasil wawancara tersebut yang didapatkan peneliti dari kepala sekolah diperoleh data bahwa untuk pendidikan karakter dilakukan dengan penanaman nilai. Yakni dengan cara para guru menanamkan peran pendidikan karakter dengan melakukan pendekatan kepada siswa-siswa berkebutuhan khusus dan memberikan motivasi serta perhatian juga bimbingan pada anak didik. Selain itu para guru mengajarkan untuk bagaimana caranya mengeksplor suatu keterampilan yang dimiliki siswa dengan menanamkan sifat kemandirian pada siswa.
Hal ini sebagaimana hasil wawancara oleh orang tua murid Salsabila yakni sebagai berikut:
Ya, tentu kami sebagai orang tua selalu mengajak dan mengajarkan sholat kepada anak kami, memberikan pemahaman bahwa sholat adalah suatu kewajiban. Meskipun anak kami memiliki kebutuhan khusus kami selalu menekankan untuk tetap melakukan ibadah sholat. Hal tersebut kami lakukan agar anak kami bisa terbiasa dan tetap melaksanakan suatu kewajiban yang sudah ditentukan oleh agama dan keyakinan yang kami anut.9
8 Lihat pada transkip wawancara dalam lampiran penelitian ini, Kode: 02/W/12-I/2023
10 Lihat pada transkip observasi dalam lampiran penelitian ini, Kode: 01/O/20-2/2023
Dari hasil wawancara tersebut yang dilakukan oleh peneliti dengan informan orang tua, didapatkan hasil bahwa orang tua juga selalu memberikan penanaman nilai kebajikan kepa anak-anaknya meskipun mereka memiliki kebutuhan khusus. Yakni salah satunya dengan melatih anaknya melakukan kebaikan meskipun dengan keterbatasan yang dimiliki anak tersebut, misalnya dengan mengajarkan anjuran beribadah agar tidak lupa melaksanakan suatu kewajiban yang harus dilaksanakannya sebagai manusia yang memiliki keyakinan.
Tentu dalam hal ini orang tua menjadi ujung tombak untuk memberikan informasi kepada mereka tentang pengajaran kewajiban tersebut, mengingat hal tersebut akan terus diemban sampai akhir hayat.
Dari hasil observasi tersebut yang dilakukan peneliti di SMPLB PGRI Kawedanan Magetan di peroleh hasil data dimana sebagian besar siswa kurang memahami dan menerapakan pendidikan karakter dalam keseharian, memang dimaklumi karena siswa disini merupakan siswa berkebutuhan khusus sehingga perlu perhatian khusus untuk mengarahkan mereka untuk menerpakan pendidikan karakter.
Meskipun pada saat disekolah siswa diarahkan serta di bimbing guru dalam berperilaku pendidikan karakter dengan menrapkan ibadah sholat, namun bila mana pada saat di rumah mereka sudah berbeda lagi dalam berperilaku apa yang sudah di arahkan guru disekolah, Sehingga disini kebanyakan orang tua mengeluhkan hal tersebut bila mana anak sudah ada di rumah susah untuk diarahkan dalam menjalakan ibadah sholat. Dari hasil observasi tersebut disimpulkan bahwasanya diperlukan pendidikan karakter yang dapat membimbing anak agar jauh lebih baik dalam keseharian baik itu disekolah maupun dirumah serta beribadah10.
Hal ini sebagaimana hasil wawancara oleh orang tua murid Raka sebagai berikut:
13 Lihat pada transkip wawancara dalam lampiran penelitian ini, Kode: 06/W/14-II/2023
Iya, kami memberikan arahan dan juga edukasi mengenai ajaran untuk menaati nasihat orang tua dan selalu berkata jujur.11
Dari hasil wawancara tersebut yang dilakukan oleh orang tua yakni, setiap orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anak nya sehingga orang tua memberikan arahan dan juga edukasi mengenai ajaran-ajaran untuk menaati nasehat dari orang tuannya dan danjurkan untuk selalu berkata jujur kepaada orang tuanya.
Hal ini sebagaimana hasil wawancara oleh orang tua murid Rendy sebagai berikut:
Iya, kami mengajarkan hal-hal yang positif terutama komunikasi antara orang tua dan anak diantaranya berkata jujur, mendengarkan nasihat orang tua.12
Dari hasil wawancara tersebut yang dilakukan oleh orang tua yakni peneliti menarasikan orang tua murid menjelaskan kepada peneliti bahwasanya mereka selalu memberikan hal-hal positif kepada anak- anak dan memberi tahukan mana yang baik dan yang buruk.
Begitupula komunikasi antar orang tua dan anak harus berkata jujur, maka dari itu orang tua bersikap sabar dan pengertian terhadap anak.
Hal ini sebagaimana hasil wawancara oleh orang tua murid Janeta sebagai berikut:
Kami selaku orang tua terkadang terlupa untuk mengajarkan sholat pada anak kami dikarenakan orang tua bekerja dan anak kami dirawat oleh pengasuh.13
Dari hasil wawancara tersebut yang dilakukan oleh orang tua yakni peneliti menarasikan bahwasanya mereka terkadang lupa untuk mengajarkan sholat pada anak-anak dikarenakan orang tua bekerja dan anak –anaknya dirawat oleh pengasuh, maka dari itu alangkah baiknya sebagai orang tua sesibuk apapun pekerjanya sebisa mungkin untuk
11 Lihat pada transkip wawancara dalam lampiran penelitian ini, Kode: 04/W/14-II/2023
12 Lihat pada transkip wawancara dalam lampiran penelitian ini, Kode: 05/W/14-II/2023
14 Lihat pada transkip wawancara dalam lampiran penelitian ini, Kode: 07/W/14-II/2023
meluangkan waktu untuk anak-anaknya agar anak-anak dapat merasakan kasih sayang orang tuanya
Hasil wawancara dengan murid peneliti menyimpulkan bahwa siswa SMPLB PGRI Kawedanan Magetan mereka rajin melaksanakan sholat, begitu juga mereka diajarkan orang tua tata cara sholat yang baik dan benar.14
Pendidikan karakter pada SMPLB PGRI Kawedanan lebih difokuskan pada pembentukan karakter kedisplinan anak, selain itu juga penanaman nilai-nilai agama kepada peserta didik agar terbentuk karakter religius. Anak-anak penyandang disabilitas khusus membutuhkan pendekatan pendidikan yang berbeda dari anak-anak pada umumnya. Anak-anak dengan kesulitan tertentu sering kehilangan fokus selama pekerjaan kelas tanpa pendekatan yang tepat. Anak-anak ini menonjol dari anak-anak pada umumnya karena individualitas mereka dalam berbagai jenis dan sifat, maka dari itu orang tua harus lebih banyak memiliki kemampuan untuk memotivasi diri sendiri, mengendalikan tuntutan atau dorongan impulsive, tidak melebih- lebihkan kesenangan atau kesusahan, mampu memoderasi kebutuhan reaktif, mengjaga kondisi bebas stress, dan tidak membiarkan kemampuan lumpuh adalah contoh kecerdasan emosional. Serta gagasan berjuang sambal berdoa, berpikir, dan kapasitas empati.
Dalam melatih dan mengembangkan kecerdasan emosional anak berkebutuhsm khusus harus memhami karakter atau perasaan yang dimiliki, memberikan arahan menyesuaikan karakter anak, mengajarkan anak untuk memahami karakter pribadi, memberikan pelajaran kepada anak untuk memahami perasaan orang lain, dalam hal ini untuk mempermudah komunikasi yang berkelanjutan.
15 Lihat pada transkip wawancara dalam lampiran penelitian ini, Kode: 01/W/11-I/2023
2. Dampak Pendidikan Karakter terhadap Nilai-nilai Karakter Peserta Didik di SMPLB PGRI Kawedanan Magetan
Dampak nilai-nilai karakter oleh siswa berkebutuhan khusus SMPLB PGRI Kawedanan Magetan tidak diperoleh dengan cara yang mudah, banyak upaya yang dilakukan dari pihak sekolah dan juga guru kelas dalam meningkatkan nilai-nilai pendidikan karakter pada siswa.
Upaya ini dilakukan agar siswa memiliki karakter yang baik dalam kehidupan sehari-hari.
Adapun dampak yang dilakukan oleh guru kelas dalam menanamkan nilai-nilai karakter bagi siswa adalah sebagai berikut:
Hal ini sebagaimana hasil wawancara dengan Ibu Woro selaku guru kelas sebagai berikut:
Dampak yang kami dapatkan dari pendidikan kami kepada siswa dalam menanamkan nilai karakter terhadap kejujuran siswa disini sangat positif dan memberikan banyak perubahan yang jauh lebih baik daripada sebelum kami melakukan penanaman nilai karakter tersebut. Seperti contoh nyatanya saat siswa mulai memahami arti dari sebuah kejujuran. Ditunjukkan dengan mereka yang sebelumnya sering bersikap tidak jujur kepada teman ataupun guru-guru yang mengajar disini. Dengan adanya nilai karakter yang kami ajarkan tersebut, mereka mulai menunjukkan perubahan dan mulai mengetahui bahwasanya yang siswa lakukan dengan tidak jujur tersebut adalah suatu tindakan yang keliru dan salah.15
Dari hasil wawancara tersebut yang dilakukan oleh peneliti kepada guru yang bertugas mengajar anak didik tersebut. Dapat peneliti kumpulkan hasil wawancara yakni para guru selalu menanamkan nilai- nilai karakter terhadap siswa terutama pada konsep kejujuran dalam diri siswa yang dapat menghasilkan banyak perubahan yang jauh lebih baik untuk kedepannya. Maka pada prakteknya siswa mulai memahami sebuah arti kejujuran yang sebelumnya belum mereka pahami dengan baik yang ditunjukkan dengan siswa yang sering bersikap tidak jujur.
Dengan nilai karakter
16 Lihat pada transkip wawancara dalam lampiran penelitian ini, Kode: 02/W/12-I/2023
yang ditanamkan oleh para guru, mereka mulai sedikit demi sedikit berubah dan mulai mengerti serta mengetahui kalau perbuatan tidak jujur adalah perbuatan yang salah dan tidak bisa digunakan dalam bersosialisasi dalam lingkungan. Pendidikan dengan penanaman nilai karakter tersebut adalah langkah yang dipilih oleh para guru sebagai bentuk perhatian mereka kepada para anak didiknya yang merupakan siswa berkebutuhan khusus agar tetap mampu memiliki pemahaman yang sama dengan anak normal pada umumnya meskipun secara fisik para anak didik berkebutuhan khusus memiliki keistimewaan dibandingkan anak-anak lainnya.
Hal ini sebagaimana hasil wawancara oleh kepala sekolah yaitu bapak Sukadi sebagai berikut:
Dampak positif tentu adalah harapan kami semua selaku pendidik. Dan kami bersyukur hal itu kami dapatkan, dengan bisa membentuk karakter siswa berkebutuhan khusus dengan karakter positif, menjadikan siswa berkebutuhan khusus lebih mandiri, maju dan bertanggungjawab meskipun siswa tersebut memiliki perbedaan dengan siswa-siswa lain pada sekolah umumnya tetapi dengan nilai pendidikan karakter ini kami mampu menciptakan siswa dengan kepribadian yang tangguh dan dapat berbaur dilingkungan sosial. Hal ini bagi kami merupakan pencapaian yang baik dan sesuai dengan dampak positif yang kami harapkan.16
Dari hasil wawancara tersebut yang dilakukan dengan kepala sekolah didapatkan data yakni dampak positif sudah diperoleh dan menjadi pencapaian yang bagus bagi pihak sekolah dan siswa sendiri.
Dampak positif tersebut adalah pembelajaran yang diberikan dengan tujuan positif dengan harapan yang mana bisa membentuk karakter siswa berkebutuhan khusus tersebut dapat menjadikan siswa mandiri, maju serta bertanggungjawab. Meskipun siswa tersebut pada hakikatnya berbeda dengan anak-anak didik pada sekolah umumnya yang juga sama-sama mengenyam pendidikan. Dengan adanya nilai- nilai pendidikan karakter yang ditanamkan tersebut sebenarnya