• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran Pendidikan Karakter bagi Siswa Berkebutuhan Khusus di SMPLB PGRI Kawedanan Magetan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Peran Pendidikan Karakter bagi Siswa Berkebutuhan Khusus di SMPLB PGRI Kawedanan Magetan"

Copied!
75
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Fokus Penelitian

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

  • Secara Teoritis
  • Secara Praktis

Sistematika Pembahasan

KAJIAN PUSTAKA

Kajian Teori

  • Pendidikan Karakter
  • Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus…

Singkatnya, anak berkebutuhan khusus adalah anak lamban atau keterbelakangan mental yang tidak akan pernah berprestasi di sekolah seperti anak normal.10. Anak berkebutuhan khusus merupakan anak yang mempunyai pandangan berbeda-beda terhadap perilaku fisik, psikis, dan sosialnya. Anak berkebutuhan khusus yang perlu diidentifikasi adalah (1) siswa yang bersekolah di sekolah reguler (2) siswa baru di sekolah reguler (3) anak yang pernah/belum bersekolah.

Kajian Penelitian Terdahulu

Tujuan dari penulisan skripsi ini adalah untuk mengetahui peran guru dalam pengembangan kecerdasan emosional anak pada kasus anak TKIT Bina Soleh. Hasil penelitian yaitu hasil penelitian menunjukkan bahwa peran guru dalam meningkatkan kecerdasan emosional dan spiritual siswa terdiri dari peran guru sebagai pemimpin kelas, transformator, demonstran, motivator, pembimbing, teladan dan penilai. Faktor pendukung dan penghambat peran guru dalam meningkatkan kecerdasan emosional dan spiritual merupakan faktor pendukung yang berupa kerjasama antar guru.

23 Ihsanudin Annas, “Menanamkan Nilai-Nilai Religius pada Anak Berkebutuhan Khusus dan Penyandang Cacat Mental di SMALB PGRI Kawedanan Magetan,” (Skripsi, IAIN Ponorogo, 2021), . Yogyakarta, 2020), 25. Penelitian keempat berjudul “Disertasi ini tentang upaya guru dalam mengembangkan kecerdasan emosional siswa kelas IV Madrasah Ibtidaiyah Nurul Ihsan Jambi. Hal ini dikarenakan kondisi kehidupan saat ini yang semakin kompleks. , yang mengarah pada pentingnya kecerdasan emosional.

Permasalahan ini pada penelitian lapangan yang dilakukan di Madrasah Ibtidaiyah Nurul Ihsan Kota Jambi dijadikan sebagai sumber data untuk memperoleh potret kecerdasan emosional untuk membentuk kecerdasan emosional siswa. 24 Siti Robiatul Adawiyah, “Peran Guru dalam Meningkatkan Kecerdasan Emosional Anak Prasekolah di TKIT Bina Anak Sholeh Yogyakarta,” (disertasi, UIN Sunan Kalijaga, Internalisasi Nilai-Nilai Pendidikan Agama Islam Bagi Penyandang Disabilitas. Belajar di Bina Balai Desa Rehabilitasi Sosial Grahita Kartini, Temanggung, Jawa Tengah.

Peran Guru dalam Meningkatkan Kecerdasan Emosional Anak Prasekolah di TKIT Anak Bina Sholeh Yogyakarta.

Kerangka Berpikir

Selain itu, Novita juga menyampaikan bahwa ada orang tua yang kaget dengan kondisi anaknya yang berkebutuhan khusus namun tidak bisa menerima kondisi anaknya dan hal ini dapat menimbulkan perasaan bersalah, malu dan rendah diri pada orang tua, namun ada juga orang tua. . Adanya dua sikap yang berlawanan ini menunjukkan bahwa perilaku orang tua merupakan bentuk penerimaan atau penolakan orang tua karena keterbatasan yang dimiliki anak. Perilaku positif orang tua akan memberikan pengaruh positif terhadap tumbuh kembang anak, sehingga perilaku negatif sekalipun seharusnya menghasilkan hal-hal negatif dalam tumbuh kembang anak.

Saat mengasuh anak berkebutuhan khusus, orang tua mengalami emosi yang cukup sulit, namun orang tua yang cerdas emosi tahu bagaimana mengenali dan mengendalikan emosinya saat mengasuh anak, agar tidak berdampak negatif pada anak. Selain itu, dalam mengasuh anak berkebutuhan khusus, orang tua dapat selalu berpikir positif dan optimis serta menjalin hubungan baik dengan orang lain, sehingga menjadi landasan dalam bersosialisasi dan bertukar informasi mengenai kondisi anak. Pada saat yang sama, perkembangan anak dipengaruhi secara negatif oleh orang tua yang tidak mengetahui cara mengenali dan mengendalikan emosinya.

METODE PENELITIAN

  • Pendekatan dan Jenis Penelitian
  • Lokasi dan Waktu Penelitian
  • Data dan Sumber Data
  • Teknik Pengumpulan Data
  • Teknik Analisis Data
    • Kondensasi Data (Data Condensation)
    • Penyajian Data (Display Data)
    • Penarikan Kesimpulan (Conclusions Drawing)
  • Pengecekan Keabsahan Temuan
  • Tahapan-tahapan Penelitian

Deskripsi data mengenai proses pendidikan karakter pada siswa berkebutuhan khusus di SMPLB PGRI Kawedanan Magetan. Hasil wawancara dengan siswa penelitian menyimpulkan bahwa siswa SMPLB PGRI Kawedanan Magetan rajin sholat, dan orang tua juga mengajarkan cara sholat yang baik dan benar. Dampak Pendidikan Karakter Terhadap Nilai Karakter Siswa SMPLB PGRI Kawedanan Magetan. Siswa SMPLB PGRI Kawedanan Magetan.

Dari hasil wawancara orang tua dengan peneliti, peneliti menyampaikan apa yang dikatakan orang tua. Hasil wawancara dengan siswa penelitian menyimpulkan bahwa siswa SMPLB PGRI Kawedanan Magetan bersedia membantu orang tuanya, dan mereka juga diajarkan untuk membantu orang tuanya. Proses Pendidikan Karakter Bagi Siswa Berkebutuhan Khusus di SMPLB PGRI Kawedanan Magetan SMPLB PGRI Kawedanan Magetan.

Di SMPLB PGRI Kawedanan Magetan Tidak hanya guru, orang tua juga selalu menanamkan perilaku saling membantu, mulai dari hal kecil hingga membantu orang tua dalam beraktivitas di rumah. Bagi siswa SMPLB PGRI Kawedanan dampak nilai karakter cukup baik. Dengan cara ini diharapkan siswa berkebutuhan khusus di SMPLB PGRI Kawedanan Magetan akan mengalami perubahan dan meningkatkan karakternya.

Fulki Al Ayati, Haifa, Hubungan kecerdasan emosional dengan penerimaan orang tua terhadap anak berkebutuhan khusus.

Tabel         3.        1  Tahapan-tahapan Penelitian
Tabel 3. 1 Tahapan-tahapan Penelitian

TEMUAN PENELITIAN

Deskripsi Data Umum

Anak Tunarungu (B) dan Tunagrahita (C) bersekolah di SLB PGRI Kawedanan di bawah bimbingan Supriyati, Sukadi dan Sundari. Banyak siswa SLB PGRI Kawedanan yang memutuskan tidak bersekolah karena sulitnya perjalanan ke SDN Tulung 1 dan masih adanya penumpang di sana. Guru-guru SLB PGRI Kawedanan berkumpul pada tahun 2003 untuk menjajaki ide sekolah dekat pusat transportasi dan sekolah milik sendiri.

SLB PGRI Kawedanan Magetan akhirnya mampu membangun tiga gedung sekolah setelah empat tahun memiliki tanah sendiri. Sekolah Luar Biasa (SLB) tingkat SDLB, SMPLB dan SMALB PGRI Kawedanan Magetan yang dibangun dan disosialisasikan dibuka pada tanggal 12 Februari 2008. Berlokasi di wilayah masyarakat Karangrejo Provinsi Jawa Timur, Kabupaten Magetan dan Kabupaten Kawedanan, lembaga ini dikelola oleh SLB PGRI Kawedanan.

Visi SMPLB PGRI Kawedanan Magetan adalah “Terciptanya sumber daya manusia terdidik, mandiri berdasarkan prinsip agama dan terwujudnya profil siswa Pancasila”. adalah misi SMPLB PGRI Kawedanan Magetan.

Deskripsi Data Penelitian

  • Deskripsi Pendidikan Karakter Siswa Berkebutuhan Khusus
  • Dampak Pendidikan Karakter terhadap Nilai-nilai Karakter

Ya, tentu kita sebagai orang tua selalu mengajak anak kita untuk berdoa dan mengajarkan mereka wawasan bahwa sholat itu wajib. Hasil wawancara yang dilakukan peneliti dengan informan orang tua menunjukkan bahwa orang tua selalu mengajarkan nilai-nilai yang baik kepada anaknya, meskipun mempunyai kebutuhan khusus. Ya, kami memberikan bimbingan dan juga pendidikan tentang doktrin menaati nasehat orang tua dan selalu berkata jujur.11.

Dari hasil wawancara dengan orang tua, peneliti mengatakan bahwa orang tua menjelaskan kepada peneliti bahwa mereka selalu memberikan hal-hal positif kepada anaknya dan memberitahukan mana yang baik dan mana yang buruk. Dari hasil wawancara dengan para orang tua, peneliti mengatakan bahwa terkadang mereka lupa mengajari anak shalat karena orang tua bekerja dan anak diasuh oleh pengasuh, sehingga alangkah baiknya bagi orang tua sesibuk apapun. mereka. , menjadi sesibuk mungkin. Sebagai orang tua, kita juga selalu membina perilaku saling menguntungkan agar anak kita juga peka terhadap lingkungan sekitar.

Dari hasil wawancara yang dilakukan oleh orang tua yaitu bahwa orang tua dalam pendidikan anaknya selalu mengenalkan perilaku saling membantu dimulai dari hal kecil di lingkungan keluarga seperti membantu orang tua dalam aktivitas rumah tangga sehari-hari. Dari hasil wawancara yang peneliti lakukan dengan orang tua, mereka menceritakan kepada peneliti bahwa anak kami mempunyai gangguan penglihatan sehingga membuat anak kami sedikit kesulitan dalam melakukan hal yang kami suruh. Kita sebagai orang tua juga terkadang mengalami kesulitan dalam mengajak mereka berinteraksi dua arah sehingga membantu mereka mengerjakan pekerjaan rumah agak sulit.

Dari hasil wawancara orang tua menceritakan kepada peneliti bahwa apa yang dilakukan orang tua yaitu sebagai orang tua terkadang kesulitan untuk mengajak berinteraksi dua arah sehingga agak sulit untuk membantu pekerjaan rumah. .

Pembahasan

  • Proses Pendidikan Karakter bagi Siswa Berkebutuhan Khusus

Sedangkan proses pendidikan karakter pada siswa SMPLB PGRI Kawedanan Magetan telah melaksanakan kegiatan yang mengajarkan nilai-nilai pendidikan karakter. Siswa SMPLB Kawedanan Magetan dapat memahami nilai-nilai pendidikan karakter yang ditanamkan setiap hari dengan belajar sholat, mengaji, dan memberikan contoh dalam kehidupan sehari-hari untuk menanamkan kebiasaan baik. Diharapkan kepada siswa untuk menunjukkan perilaku yang baik sebagai wujud nilai-nilai pendidikan karakter yang ditanamkan dan sekaligus sebagai contoh kepada teman-teman lainnya untuk selalu berbuat baik.

Permasalahan pendidikan karakter di Indonesia mulai mengemuka pada tahun 2004 dengan berkembangnya sistem pendidikan inklusif, yaitu sistem pendidikan yang memungkinkan anak berkebutuhan khusus bercampur dengan anak biasa di kelas biasa. Seluruh unsur yang membentuk pendidikan kurikulum, proses belajar mengajar, mata pelajaran, administrasi sekolah, pelaksanaan kurikulum, pendanaan dan etos kerja seluruh kegiatan akademik harus dilibatkan dalam pendidikan karakter di sekolah. Dan bila berhasil akan berdampak positif pada pembentukan karakter siswa berkebutuhan khusus, menjadikan siswa mandiri, maju dan bertanggung jawab, meskipun siswa tersebut berbeda dengan sekolah pada umumnya. Adanya nilai-nilai pendidikan karakter tersebut akan melahirkan peserta didik yang berkepribadian kuat. 37.

Selain itu peserta didik juga harus mengetahui tujuan pendidikan karakter, ada 3 tujuan karakter menurut kajian teori diatas yaitu : 40 Tujuan pendidikan karakter dalam konteks pendidikan adalah untuk memantapkan dan mengembangkan nilai-nilai kehidupan yang penting dan diperlukan. yang akan membantu siswa untuk membangun kepribadian yang unik. Memperbaiki perilaku siswa yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang ditetapkan sekolah. Membangun hubungan baik dengan masyarakat setempat dan keluarga untuk memenuhi tugas bersama pendidikan karakter. Dalam proses pendidikan karakter di SMPLB PGRI Kawedanan Magetan ada beberapa hal yang dilakukan guru antara lain: a.

Ihsanudin, Annas., Penanaman Nilai Religius pada Anak Berkebutuhan Khusus dan Tunagrahita di SMALB PGRI Kawedanan Magetan.

PENUTUP

Kesimpulan

Secara keagamaan siswa SMPLB PGRI Kawedanan dapat dikatakan cukup baik, hal ini dikarenakan siswanya rela melaksanakan shalat walaupun harus dalam pengawasan guru, misalnya. Bertanggung jawab, siswa mengalami kemajuan dan dapat dikatakan cukup baik, hal ini disebabkan siswa sudah mempunyai kesadaran untuk bertanggung jawab.

Saran

Selain itu, penting untuk menilai apakah program tersebut cocok digunakan dengan siswa berkebutuhan khusus. Mendidik anak berkebutuhan khusus dapat menjadi sebuah tantangan, terutama ketika guru dan konselor sendiri sedang mengalami kesulitan. Orang tua harus selalu membimbing anak-anaknya dengan penuh kasih sayang dan menginspirasi mereka untuk bangga menjalankan kewajiban Islam mereka.

Aqib Prayogo, Internalisasi Nilai-Nilai Pendidikan Agama Islam Bagi Penyandang Disabilitas Intelektual yang Belajar di Balai Rehabilitasi Sosial Bina Grahita Kartini Temanggung Jawa Tengah, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Lia Mareza, Pendidikan seni, budaya dan kerajinan sebagai strategi intervensi umum pada anak berkebutuhan khusus. Novita, E, Perbedaan penerimaan diri ibu dengan anak tunagrahita ditinjau dari tingkat pendidikan di SLB-E PTP Medan.

Siti Robiatul Adawiyah, Peran Guru dalam Meningkatkan Kecerdasan Emosional Anak Prasekolah di TKIT Bina Sholeh.

Gambar

Gambar 2. 1 Kerangka Berpikir
Tabel         3.        1  Tahapan-tahapan Penelitian

Referensi

Dokumen terkait

metode wawancara, observasi, dan dokumentasi. Adapun metode analisis data bersifat induktif yaitu mereduksi data, penyajian data , dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan

Dari hasil wawancara yang dilakukan dengan kepala sekolah, guru, dan juga siswa terkait dengan penanaman nilai karakter, didukung pula dengan hasil observasi sebagai

Berdasarkan hasil temuan berupa observasi dan juga wawancara yang dilakukan terhadap sampel penelitian yang berjumlah 36 responden yang terdiri dari ketua yayasan,

Dalam penelitian ini, peneliti mencari data yang sama dengan menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi, penerapannya yaitu dengan mengecek hasil wawancara dari

Adapun data yang diperoleh melalui observasi, digunakan untuk mengetahui aktivitas siswa dalam mengikuti kegiatan PPK, sedangkan wawancara digunakan untuk mengetahui

pendidikan inklusi, memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, dan sosial atau memiliki potensi kecerdasan

Hasil dan Pembahasan Hasil Pada penelitian kualitatif ini peneliti menggunakan teknik observasi dan wawancara dalam mengambil sebuah data, adapun hasil data yang didapatkan

DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1: Pedoman Wawancara Lampiran 2: Pedoman Observasi Lampiran 3: Pedoman Dokumentasi Lampiran 4: Lembar Persetujuan Judul dan Dosen Pembimbing Lampiran 5: