BAB II DISKURSUS TENTANG TAKDIR (KEHARUSAN UNIVERSAL)
E. Takdir Menurut Tokoh Pemikir Islam Kontemporer
Tampaknya etos kerja memang tidak terlepas dari sistem kepercayaan seseorang. Hal itu diperoleh dari pengamatan bahwa masyarakat tertentu dengan sistem kepercayaan tertentu memiliki etos kerja yang lebih baik atau lebih buruk dari pada masyarakat lain dengan sistem kepercayaan lain. Misalnya, yang paling terkenal ialah pengamatan Max Weber terhadap masyarakat Protestan aliran Calvinisme, yang kemudian dia angkat menjadi dasar dari tesisnya yang terkenal
“Etika Protestan”. Para peneliti lain juga melihat gejala yang sama pada masyarakat dengan sistem kepercayaan yang berbeda seperti masyarakat Tokugawa di Jepang (oleh Robert Bellah), Santri di Jawa (oleh Geertz), dan Hindu Brahmana di Bali (juga oleh Geertz), serta seorang peneliti yang mengamati hal serupa untuk kaum Isma‘ili di Afrika Timur.37
31
seorang ulama zaman dahulu yang mengetahui kitab-kitab Jawi, dan ibunya adalah anak seorang ulama asal Mandailing yang sewaktu gadisnya pernah bermukim di Mekah sehingga dapat berbahasa Arab.39 Pola pemikirannya bercorak rasionalis, modernis, dan berlandaskan pada kekuatan akal dan wahyu.
Pemikiran teologi Harun Nasution memiliki ciri khas bersifat bebas, realistis, dan memberikan implikasi langsung pada kehidupan sosial. Oleh karenanya sering disebut sebagai teologi rasional. Mengenai persoalan takdir, Harun Nasution memandang bahwa perlu adanya pemahaman yang tepat mengenai diskursus takdir ini.40 Karena, hal ini dapat mempengaruhi terhadap produktivitas masyarakat. Dalam pemahamannya, agama mengajarkan dua hal. Pertama, sesudah kehidupan dunia yang materil ini terdapat kehidupan akhirat yang bersifat spiritual.
Keduanya memiliki efeknya masing-masing. Jika manusia memandang bahwa kehidupan dunia ini jauh lebih penting, maka tingkat produktivitasnya akan meningkat, tentu agar mendapat kepuasan dan kebahagiaan hidup di dunia, begitupun sebaliknya. Al-Qur’an dan Hadis telah menyatakan bahwa antara kehidupan yang bersifat material atau duniawi dan kehidupan ukhrawi yang bersifat spiritual adalah dua hal yang sama-sama penting. Untuk mencapai kebahagiaan akhirat, tidak harus meninggalkan kehidupan dunia, begitupun ketika ingin mendapatkan kebahagiaan duniawi. Islam mementingkan keduanya sehingga tercapai kehidupan hasanah di dunia maupun akhirat. Kedua, agama mengajarkan persoalan nasib dan perbuatan manusia. Jika nasib manusia telah ditentukan oleh Tuhan, termasuk perbuatan manusia, maka tingkat produktivitas masyarakat akan
39 Nurhidayat Muh.Said, Pembaruan Pemikiran Islam di Indonesia “Studi Pemikiran
Harun Nasution”, (Jakarta: Pustaka Mapan, 2006). h. 9.
40 Muhammad Arifin, Teologi Rasional… h.10.
rendah, karena memandang bahwa segala sesuatu telah ditentukan, oleh karenanya manusia tidak memiliki kuasa apa pun atas perbuatannya. Paham ini dikenal dengan fatalisme. 41
Harun Nasution memandang bahwa umat Islam seharusnya dapat mengamalkan ide-ide kaum Mu’tazilah sebagai basis dalam membangun filsafat dan teologi Islam yang rasional dan modern, terlebih jika ingin beradaptasi dengan modernitas. Hal ini bertujuan untuk menimbulkan gairah rasionalisme dan mengeliminasi dampak negatif tradisionalisme.42 Itu artinya, manusia harus mampu menempatkan akal secara dominan dalam hidupnya. Karena dengan begitu, manusia dapat memaksimalkan kebebasan berpikir dan bertindaknya namun dengan syarat tidak terlepas dari ajaran dasar al-Qur’an dan Hadis.
Menurut Harun Nasution term takdir dan sunatullah memiliki makna yang berbeda. Takdir adalah ketetapan Tuhan, sedangkan sunatullah adalah hukum alam.
Dalam terminologi Barat sering disebut sebagai natural laws. Namun terdapat perbedaan di antara keduanya, natural laws merupakan ciptaan alam, sedangkan sunatullah merupakan ciptaan Tuhan.43
Harun Nasution memandang bahwa Tuhan melaksanakan segala sesuatu, mewajibkan dan membatasi diri-Nya, berdasarkan ketetapan yang telah dibuat-Nya sendiri. Sebagaimana pemimpin konstitusional berkewajiban mengatur rakyatnya berdasarkan konstitusi negara tersebut. Terdapat empat jenis perbuatan Tuhan kepada manusia; kewajiban Tuhan untuk berbuat baik kepada manusia, tidak
41 Harun Nasution, Islam Rasional... h. 113.
42 Muhammad Arifin, Teologi Rasional Perspektif Pemikiran... h. 9.
43 Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga, (Jakarta: Balai Pustaka, 2003). h. 124.
33
memberikan beban diluar batas kemampuan manusia, mengirim rasul-rasul dan janji serta ancaman. 44
2. Muhammad Abduh
Muhammad Abduh, merupakan salah seorang mufti, teolog, sekaligus pembaharu Islam modern yang berasal dari Mesir. Karya-karyanya banyak mendapatkan pujian oleh generasi-generasi berikutnya. Ide-ide pembaharuannya bersumber dari keadaan sosial budaya yang melatarbelakanginya serta pada guru- guru yang memang ahli pada bidangnya. Pemikirannya bersifat sangat rasional, mendudukkan akal di posisi yang penting dan utama dalam memahami berbagai fenomena, namun tetap dalam ikatan rujukan al-Qur’an dan Hadis.
Dalam memahami persoalan keharusan universal, Muhammad Abduh mengkaitkan dengan qaḍa dan qadar. Menurutnya, manusia adalah makhluk yang memiliki kebebasan untuk melakukan perbuatannya dengan didukung oleh tiga unsur; akal, kemauan, dan daya. Akan tetapi kebebasan tersebut bersifat terbatas, artinya masih ada kekuatan di atas akal manusia. Qaḍa diartikan sebagai kaitan antara ilmu Tuhan dengan sesuatu yang diketahui, sedangkan qadar adalah terjadinya segala sesuatu sesuai dengan ilmu Tuhan. Sehingga menurut Abduh, Tuhan tidak ikut campur dalam menentukan perbuatan manusia, akan tetapi Tuhan mengetahui apa-apa yang terjadi. Dalam hal ini Tuhan berperan sebagai Yang Maha Tahu, namun tidak sebagai penghalang bagi manusia dalam menentukan kebebasannya. Dengan demikian, menurut Muhammad Abduh manusia itu memiliki kebebasan dalam bertindak, mempunyai pilihan sendiri atas tindakannya,
44 Muhammad Arifin, Teologi Rasional Perspektif Pemikiran... h. 36.
namun hal itu telah diketahui oleh Tuhan sejak zaman azali. Oleh karena itu qaḍa dan qadar tidak membatasi kebebasan manusia dalam kehendak dan perbuatannya.45
Abduh memandang bahwa semua yang ada di alam semesta ini telah diciptakan Allah sesuai dengan sunnatullah (hukum alam) yang di dalamnya terdapat hubungan kausalitas, yaitu sebab akibat. Sunnah yang telah ditetapkan Allah ini memiliki porsinya untuk setiap apa yang diciptakan-Nya, artinya setiap benda memiliki perbedaan masing-masing, meskipun memiliki jenis yang sama.
Seperti contoh, sunnah janin dalam kandungan. Keseluruhan sunnah ini tidak akan berubah, karena telah menjadi ketetapan-Nya. Kehendak Tuhan tidak ada hubungannya dengan pembatalan sunnah-Nya dan kebijaksanaan-Nya dalam mengatur ciptaan-Nya. Sebagai makhluk, pasti akan mengikuti sunnah yang telah digariskan Sang Khaliq. Dalam kata lain, Tuhan dengan kemauan-Nya sendiri membatasi diri-Nya dengan sunnah dan hukum alam yang diciptakan-Nya untuk mengatur alam semesta ini.46
Abduh mengatakan bahwa manusia tahu akan wujudnya tanpa memerlukan bukti apa pun, begitu pula ia mengetahui adanya perbuatan atas pilihannya sendiri.
Abduh percaya bahwa alam ini diatur oleh hukum alam yang tidak berubah-ubah yang diciptakan Tuhan. Segala yang ada di alam ini diciptakan sesuai dengan hukum alam atau sifat dasarnya. Manusia tidak terkecuali dari ketentuan universal ini. Manusia diciptakan sesuai dengan sifat-sifat dasar yang khusus baginya, dua
45 M. Abduh Wahid, Teologi Muhammad Abduh, Jurnal Al-Fikr Vol. 22. No. 1. Tahun
2020. h. 80.
46Harun Nasution, Muhammad Abduh dan Teologi Rasional 1 Mu’tazilah. (Jakarta: UI Press, 1987). h. 77.
35
hal di antaranya adalah berpikir dan memilih perbuatan sesuai dengan pemikirannya.47
Manusia selain memiliki daya berpikir, juga mempunyai kebebasan memilih yang merupakan sifat dasar alami yang mesti ada dalam diri manusia.
Manusia, melalui akalnya seharusnya dapat memperhitungkan akibat perbuatan yang akan dilakukannya, lantas mengambil keputusan dan kemauannya sendiri, kemudian mewujudkan perbuatan itu dengan daya yang ada pada dirinya. Daya itu diciptakan Tuhan dalam diri manusia. Manusia diberi kebebasan dalam bertindak.
Namun kebebasan tersebut tidak bersifat absolut. Baginya, hanya akan menimbulkan keangkuhan jika manusia diberi kebebasan yang mutlak. Setiap kebebasan itu, memiliki batasannya masing-masing. Kebebasan manusia dalam perbuatannya dibatasi oleh kelemahan manusia itu sendiri dan kejadian alam yang sesuai dengan sunnah Allah. 48
Dari uraian di atas dapat diuraikan bahwa takdir menurut Muhammad Abduh adalah kesesuaian antara kemauan (al-iradat), ikhtiar (usaha), dan kuasa (al- Qudrat). Ketika seseorang memiliki keinginan, kemudian ia juga memiliki kemauan untuk memperjuangkan keinginannya tersebut dengan melakukan berbagai usaha demi tercapainya hasil yang diinginkan, maka setelah itu merupakan peran Tuhan. Tuhan yang akan memutuskan hasil keharusan universal tersebut.
Baik buruknya takdir seseorang merupakan bentuk kebaikan Tuhan, karena ukuran baik buruk hanya pada manusia, sedangkan dari Tuhan adalah hal terbaik untuk
47 Harun Nasution, Muhammad Abduh dan Teologi Rasional 1 Mu’tazilah… h. 65.
48 Harun Nasution, Muhammad Abduh dan Teologi Rasional 1 Mu’tazilah…..h. 66.
manusianya. Takdir merupakan konsep keseimbangan antara tujuan dunia dan akhirat, antara usaha manusia dan ketetapan Allah, antara kerja keras dan kesabaran, antara semangat menggebu dan keikhlasan, antara pencarian dan keyakinan, antara ilmu pengetahuan dan harapan. Takdir adalah ringkasan sunnatullah yang dirumuskan dalam konsep sederhana, agar manusia tahu apa yang harus dilakukan dalam hidupnya.49
3. Nurcholish Madjid
Nurcholish Madjid merupakan seorang tokoh cendekiawan terkemuka, pemikir dan pembaharu Islam di Indonesia, berasal dari Jombang, Jawa Timur.
Pemikirannya cenderung bersifat rasional dan modern. Terkenal dengan konsep integrasi antara keislaman, keindonesiaan, dan kemodernan.
Dalam memahami persoalan teologi, Nurcholish Madjid membahasakan term takdir menjadi keharusan universal. Ia mencoba memberi pemahaman refleksi filosofis dengan mengkorelasikan antara ikhtiar sebagai bentuk kemerdekaan manusia dan keharusan universal Tuhan. Keharusan universal memiliki porsi dan posisi dalam kehidupan manusia. Di antaranya sebagai penyeimbang jiwa dan sebagai kebebasan manusia. Menurutnya, mempercayai dan mengimani keharusan universal merupakan bagian integral dari keimanan
Keharusan universal menurut Cak Nur adalah segala sesuatu yang telah terjadi, segala sesuatu yang telah dilakukan dan diperbuat manusia. Paham keharusan universal itu berkenaan dengan masa lampau yang sudah tertutup.
49 Agus Mustofa, Mengubah Keharusan universal, (Surabaya: PADMA Press, 2005). h.
76.
37
Keharusan universal tidak berlaku pada sesuatu yang akan terjadi di masa yang akan datang. Adapun terkait masa depan yang sifatnya terbuka, kaitannya dengan kewajiban berikhtiar.50 Oleh karena itu, di situlah peran manusia untuk memaksimalkan usaha dan ikhtiarnya. Puncak dari usaha dan ikhtiar itulah yang kemudian disebut sebagai keharusan universal. Dalam hal ini, Cak Nur membedakan makna term keharusan universal dan sunatullah. Keharusan universal juga memiliki implikasi terhadap psikologi manusia. Keharusan universal berperan sebagai penyeimbang jiwa, karena di situ terdapat rasa kebahagiaan dan kesengsaraan. Artinya, jika mengalami kegagalan tidak berputus asa dan jika mengalami keberhasilan tidak bersikap sombong.51 Maka jika manusia mampu mengendalikan keduanya sebagai implikasi adanya keharusan universal, keseimbangan jiwanya akan terpenuhi.
Untuk lebih jelasnya, maka penulis akan menguraikan konsep keharusan universal menurut Nurcholish Madjid pada bab berikutnya.
50 Budhy Munawar Rachman, Ensiklopedi Nurcholish Madjid,… h. xxxi.
51 Budhy Munawar Rachman, Ensiklopedi Nurcholish Madjid…. h. xxxii.
38