• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VII BAB VII PENUTUP

E. Jenis Tanah

5. Tanah Regosol

Tanah ini berbentuk dari batuan endapan dan bekuan, sangat peka terhadap erosi, kurang baik untuk pertanian.

RKPD Kabupaten Purbalingga Tahun 2021 II - 6 Tabel 2.1.

Jenis Tanah di Kabupaten Purbalingga

Kelas Jenis Tanah Deskripsi

Terhadap Erosi Lokasi

I

Alluvial, tanah clay, planosol, hidromorf kelabu, laterit air tanah

Rendah/

Tidak Peka

Kecamatan Kemangkon, Bukateja, Kaligondang, Purbalingga, Kalimanah,

Bojongsari, Mrebet, Karanganyar, Kertanegara, Karangmoncol, Rembang

II Latosol Sedang/

Agak Peka

Kecamatan Pengadegan, Kejobong, Kaligondang, Padamara, Bojongsari, Kutasari, Mrebet, Bobotsari, Karangreja,

karangjambu, Karangmoncol, Rembang III

Kambisol, mediteran, brown forest soil, non caltic brown, mediteran.

Tinggi/

Kurang Peka

-

IV Andosol, laterit, grumosol, podosol, podsolic.

Sangat Tinggi/

Peka

Kecamatan Karanganyar, Kertanegara, Karangmoncol, Rembang, Kaligondang,

Pengadegan, Kejobong, Bukateja, Karangreja, Karangjambu V

Regosol, litosol, organosol, renzina.

Amat Sangat Tinggi/

Sangat peka

Kecamatan Mrebet, Karanganyar, Kertanegara, Bobotsari Sumber : BPS Kabupaten Purbalingga 2016

Gambaran jenis tanah di Kabupaten Purbalingga sebagaimana dalam gambar peta berikut ini.

Gambar 2.3.

Peta Jenis Tanah Kabupaten Purbalingga

RKPD Kabupaten Purbalingga Tahun 2021 II - 7 F. Kondisi Klimatologi

Tipe iklim di Purbalingga tidak berbeda dengan daerah lain di Indonesia, yaitu beriklim tropis dengan musim kemarau dan musim hujan silih berganti setiap setangah tahun. Berdasarkan klasifikasi dari Oldeman adalah beriklim A1 yang lima hingga sepuluh bulan secara berurutan ialah bulan basah. Tipe A1 merupakan tipe iklim yang menunjukkan bahwa daerah tersebut dapat ditanami padi satu kali dan ditanami palawija sebanyak dua kali.

Tanaman yang sebaiknya banyak dikembangkan dan dibudidayakan adalah tanaman palawija. Wilayah Kabupaten Purbalingga sebagian wilayahnya terletak di lereng bagian selatan Gunung Slamet dengan rata-rata curah hujan 3.337 mm/tahun dan suhu udara berkisar antara 22oC - 33oC.

Intenisitas hujan yang terjadi selama setahun dan dirata-rata perhari hujan dalam setahun.

Tabel 2.2.

Analisis Kelas Intensitas Hujan di Wilayah Kabupaten Purbalingga Kelas

Intensitas Hujan

INTENSITAS HUJAN (mm / hari hujan)

KETERANGAN LOKASI

I =< 13,5 Sangat Rendah -

II 13,6 – 20,7 Rendah -

III 20,7 – 27,7 Sedang Kecamatan Kemangkon,

Bukateja

IV 27,7 – 34,8 Tinggi

Kecamatan Kalimanah, Purbalingga, Kaligondang, Pengadegan, Kejobong,

Bukateja, Kemangkon

V > 34,8 Sangat Tinggi

Kecamatan Padamara, Bojongsari, Kutasari,

Mrebet, Bobotsari, Karanganyar,

Kertanegara, Karangmoncol, Rembang, Karangreja, Karangjambu Sumber: SK Mentan No.837/KPTS/UM/11/1980 dan No. 683/KPTS/UM/8/1982

RKPD Kabupaten Purbalingga Tahun 2021 II - 8 Gambar 2.4.

Peta Curah Hujan Bulanan Kabupaten Purbalingga G. Kondisi Hidrologi

Pada umumnya, sungai-sungai di Kabupaten Purbalingga belum dimanfaatkan secara optimal, baik untuk pengairan tanah pertanian maupun untuk kebutuhan lainnya. Tetapi sungai yang memungkinkan untuk dibuat bendungan, dam dan waduk-waduk kecil lainnya yang tidak banyak mengeluarkan dana, telah dimanfaatkan sebagaimana mestinya untuk pengairan sawah, perikanan dan sebagainya.

Debit air sungai itu sendiri dalam setahunnya tidak tetap, karena debit air sungai dipengaruhi oleh curah hujan di daerah hulu. Sungai di Kabupaten Purbalingga terdiri dari 2 (dua) macam aliran, yaitu sungai yang mengalir melewati Kabupaten Purbalingga dan sekitarnya serta sungai yang hanya mengalir di Kabupaten Purbalingga saja. Sungai yang mengalir melewati Kabupaten Purbalingga dan sekitarnya, yaitu sungai Pekacangan, sungai Serayu dan sungai Klawing.

Sedangkan sungai yang hanya mengalir di Kabupaten Purbalingga dan berpotensi untuk pengairan yaitu :

Sungai Ponggawa

Sungai Tungtung Gunung

Sungai Wotan

Sungai Tlahap

RKPD Kabupaten Purbalingga Tahun 2021 II - 9

Sungai Gemuruh

Sungai Laban

Sungai Kajar

Sungai Kuning

Sungai Lembereng

Sungai Gintung

Sungai Soso

Sungai Tambra

Sungai Lebak

Sungai Muli

Gambar 2.5.

Peta Daerah Aliran Sungai Kabupaten Purbalingga H. Potensi Pengembangan Wilayah

Potensi pengembangan wilayah dapat diketahui dari potensi kawasan budidaya sebagaimana tercantum dalam Revisi RTRW Kabupaten Purbalingga tahun 2011-2031. Kawasan budidaya terdiri atas: (1) kawasan peruntukan hutan produksi; (2) kawasan peruntukan pertanian (3) kawasan peruntukan pertambangan; (4) kawasan peruntukan industri; (5) kawasan peruntukan pariwisata; (6) kawasan peruntukan permukiman; dan (7) kawasan pertahan dan keamanan.

(1) Kawasan Peruntukan Hutan Produksi

Kawasan peruntukan hutan produksi yang terdapat di Kabupaten Purbalingga adalah kawasan hutan produksi tetap dan kawasan hutan produksi terbatas, yaitu kawasan yang diperuntukkan bagi hutan produksi dimana

RKPD Kabupaten Purbalingga Tahun 2021 II - 10 eksploitasinya hanya dapat dengan tebang pilih dan tanam. Kawasan ini merupakan areal hutan yang dikuasai oleh Perhutani BKPH Gunung Slamet Timur yang terdiri dari 4 RPH, yaitu RPH Serang, RPH Picung, RPH Karangreja, dan RPH Tunjungmulih. Kawasan hutan produksi diperuntukkan bagi areal hutan yang diproduksi baik melalui tebangan maupun pengambilan produksi bentuk lainnya. Oleh karena itu jika terdapat areal dengan hak atas tanah dan masyarakat atau badan hukum, wajib diselesaikan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Kriteria:

Landasan kebijaksanaan yang menyangkut hutan produksi adalah SK Mentan No. 683/KPTS/UM/8/1981, PP No 104 Tahun 2015 kriteria kawasan hutan produksi seperti dengan penetapan kawasan hutan lindung yaitu kelerengan, jenis tanah dan curah hujan. Kriteria kawasan peruntukan hutan produksi adalah : 1. Peruntukan Hutan Produksi Terbatas

Hutan Produksi Terbatas adalah Kawasan Hutan denganfaktor-faktor kelas lereng, jenis tanah, dan intensitashujan setelah masing-masing dikalikan dengan angkapenimbang mempunyai jumlah nilai antara 125 - 174 di luar kawasan Hutan Lindung, hutan suaka alam, hutan pelestarian alam, dan Taman Buru.

2. Peruntukan Hutan Produksi Tetap

Hutan Produksi Tetap adalah Kawasan Hutan denganfaktor-faktor kelas lereng, jenis tanah, dan intensitashujan setelah masing-masing dikalikan dengan angkapenimbang mempunyai jumlah nilai di bawah 125 di luar kawasan Hutan Lindung, hutan suaka alam, hutan pelestarian alam, danTaman Buru.

Sesuai hasil analisis luasan berdasarkan interpretasi citra satelit tahun 2015 dan data *.shp hutan yang diberikan Kementrian LHK, luas hutan produksi di Kabupaten Purbalingga kurang lebih 3.926,83 hektar, meliputi :

1. Hutan produksi tetap dengan luas kurang lebih 641,74 hektar yang meliputi wilayah :

a. Kecamatan Bobotsari seluas kurang lebih 74,22 hektar;

b. Kecamatan Karanganyar seluas kurang lebih 67,67hektar;

c. Kecamatan Karangjambu seluas kurang lebih 269,34 hektar;

d. Kecamatan Karangmoncol seluas kurang lebih 147,47;

e. Kecamatan Karangreja seluas kurang lebih 21,10 hektar;

RKPD Kabupaten Purbalingga Tahun 2021 II - 11 f. Kecamatan Kertanegara seluas kurang lebih 51,78 hektar;

g. Kecamatan Mrebet seluas kurang lebih 9,33 hektar; dan h. Kecamatan Rembang seluas kurang lebih 0,83 hektar.

2. Hutan produksi terbatas dengan luas kurang lebih 3.285,09 hektar yang meliputi wilayah :

a. Kecamatan Bobotsari seluas kurang lebih 546,02 hektar;

b. Kecamatan Karanganyar seluas kurang lebih 9,88 hektar;

c. Kecamatan Karangjambu seluas kurang lebih 494,55 hektar;

d. Kecamatan Karangmoncol seluas kurang lebih 707,17 hektar;

e. Kecamatan Karangreja seluas kurang lebih 640 hektar;

f. Kecamatan Kertanegara seluas kurang lebih 85,94 hektar;

g. Kecamatan Kutasari seluas kurang lebih 67,46 hektar;

h. Kecamatan Mrebet seluas kurang lebih 147,12 hektar; dan i. Kecamatan Rembang seluas kurang lebih 586,95 hektar.

Hutan produksi di luar kawasan hutan pada tanah negara yang dikelola oleh masyarakat (hutan rakyat) dapat diberikan hak pinjam pakai atau hak milik sesuai dengan syarat subjek sebagai pemegang hak.Kawasan hutan produksi yang ada dan fisiknya masih berupa hutan, tetap dipertahankan untuk hutan produksi.

Sedangkan apabila kriteria kawasan berubah fungsinya menjadi hutan lindung pemanfaatannya disesuaikan dengan lebih mengutamakan upaya konservasi misalnya paling tidak menjadi kawasan hutan produksi dengan tebang pilih.

Diadakan penertiban penguasaan, pemeliharaan batas hutan dan pemilikan tanah serta pernbinaan dan pemanfaataannya yang seimbang antara kepentingan KPH dengan masyarakat setempat bagi kawasan yang fisiknya berupa hutan rakyat, tegalan atau penggunaan non hutan lainnya dan sudah menjadi garapan rakyat. Bentuk penertiban dapat melalui kerjasama Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) ataupun bentuk-bentuk lain yang sesuai.

(2) Kawasan Peruntukan Pertanian

Kawasan peruntukan pertanian di wilayah Kabupaten Purbalingga seluas kurang lebih 41.314 hektar yang terdiri atas kawasan pertanian tanaman pangan, kawasan hortikultura dan kawasan perkebunan.

RKPD Kabupaten Purbalingga Tahun 2021 II - 12 a. Kawasan Tanaman Pangan

Kawasan peruntukan pertanian tanaman pangan seluas kurang lebih 22.297 hektar terdiri atas tanaman pertanian pangan lahan basah dan lahan kering.

Kawasan budidaya pertanian ini mempunyai kriteria sebagai unit lahan yang mempunyai tingkat kesesuaian bagi peruntukan pola usaha pertanian dan tidak dialokasikan untuk kawasan lindung.