Oleh :
Dwi Wardah Fatin Nur'ainiTumbuhan Pacing Tawar (Costus speciosus) di alam liar mudah dikenali.
Habitusnya yang melingkar degan duduk daun khas menjadikannya berbeda signifikan. Karena khasiatnya, tumbuhan ini banyak dikenal dan mempunyai nama daerahnya sendiri. Di Jawa yaitu tumbuhan ini dikenal sebagai pacing, tepung tawar, poncang-pancing, dan bunto. Di Sumatera disebut Tabar-tabar, Kelacim, Setawar, Tawar-tawar, Tebu tawar, Tubu-tubu, Sitawar, Tawa-tawa, dan Totar. Di Sulawesi, orang menyebutnya Lingkuwas, Lincuas, Palai batang, Tampung tawara, Galoba utan atau Tepu tepung, sedangkan orang Maluku menyebutnya Muri-muri, Tebe pusa, Tehu lopu, Uga-uga dan Tehe tepu. Pacing merupakan tumbuhan berkhasiat obat yang tergolong dalam suku temu-temuan (Zingiberaceae).
Morfologi
Pacing merupakan tumbuhan berhabitus semak tegak dengan tinggi 1-1,5 m.
Batangnya tegak, silindris, dan lunak. Tanaman ini memiliki daun tunggal, berbentuk bulat telur, dan tepi daunnya rata. Permukaan daun bagian bawahnya berbulu lembut, sedangkan permukaan atasnya beralur. Tangkai daunnya pendek, bunganya berwarna putih atau merah. Bunga dari tanaman Pacing dapat berwarna merah atau putih yang dapat dibedakan dari warna batangnya. Jika batangnya berwarna cokelat/merah, maka bunganya berwarna merah. Jika batangnya berwarna hijau, maka bunganya berwarna putih.
Ekologi
Habitat Pacing berada di tempat yang subur, kaya organik, dan lembab dengan sedikit naungan atau bisa juga tumbuh di bawah tumbuhan-tumbuhan tinggi. Atau bisa juga tumbuh di dataran rendah sampai ketinggian 1.050 meter di atas permukaan laut. Di kawasan Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi Pati Barat, tanaman Pacing dapat ditemukan di Cagar Alam Kembang.
Kandungan Fitokimia
Ekstraksi rimpang Pacing menunjukkan bahwa tumbuhan ini merupakan sumber saponin yang baik seperti diosgenin, sapogenin, tigogenin, steroid dan alkaloid. Selain itu, pacing juga mengandung alifatik hidroksil keton, triterpen, lendir pati, asam oksa, asam lemak, asam absisat dan kortikosteroid tigogenin dan diosgenin dari hasil isolasi rimpang dan batang. Dari isolasi rimpang dan daunnya didapatkan amyrin stearat, amyrin dan lupeol. Sementara lemak biji mengandung asam palmitat, asam stearat, asam oleat, asam linoleat, asam arakidik, asam gadoleat dan asam behenat. Biji yang dihilangkan lemaknya mengandung diosgenin, glukosa, galaktosa dan rhamnosa.
Manfaat
Bagian rimpang tumbuhan Pacing dapat digunakan sebagai obat luar dan obat dalam untuk mengatasi luka gigitan ular. Bagian daun yang masih muda dapat digunakan untuk menyuburkan rambut. Umbi Pacing banyak mengandung pati dan serat. Bagian umbi dapat digunakan untuk mengobati perut busung (aseites) dan infeksi saluran kencing. Tanaman Pacing juga memiliki beberapa efek farmakologis diantaranya yaitu sebagai peluruh air kemih (diuretik), antitoksik, menghilangkan gatal (antipruritus) dan peluruh keringat (diaforetik).
Selain mengobati rematik, Pacing juga dapat mengobati penyakit lepra,
penyakit kulit, asma, anemia, hingga perut kembung. Bagian tanaman
Pacing yang sering dimanfaatkan adalah rimpangnya. Rimpang Pacing
dapat digunakan sebagai obat herbal untuk demam dan secara
tradisional dapat digunakan sebagai ramuan obat terutama untuk
stimulan, karminatif, diuretik, pencernaan dan sifat antiseptik.
Secara tradisional tanaman pacing dimanfaatkan sebagai alat kontrasepsi.
Masyarakat Wawoni di Sulawesi tenggara telah memanfaatkan seduhan daun Pacing pasca melahiran. Menurut penelitian infusa Pacing memberikan efek antifertilitas atau menurunkan jumlah spermatozoa 16- 38%.
Sebaran
Pacing mrupakan tumbuhan asli Asia Tenggara, mulai India ke Cina
sampai Queensland. Tersebar luas di Mauritius, Réunion, Fiji, Hawaii,
Kosta Rika, Belize, Melanesia, Mikronesia, dan Hindia Barat. Di
Indonesia umum dijumpai di Kepulauan Sunda Besar dan banyak
dibudidayakan sebagai tanaman hias. Sebarannya merata di wilayah
Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi (KPHK) Pati Barat yaitu di
cagar Alam Keling Iabc, CA Keling II/III, CA Kembang dan CA Gunung
Celering di Kabupaten Jepara Jawa Tengah.
Girang, Manfaatnya Ada Di Setiap Bagian Tubuhnya Oleh : Annisa Fauziah
Tumbuhan Girang (Leea indica Burm. F.) Merr.) merupakan anggota genus Leea yang masuk dalam suku Vitaceae. Tumbuhan ini tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Selain girang (Jawa Tengah), di daerah lain tumbuhan ini sering disebut sulangkar, jirang (Madura), mali-mali (Makasar), ginggiyang (Sunda), kayu ajer perempuan (Melayu), dan uka (Maluku). Tumbuhan girang secara tradisional sering dijadikan obat alami untuk pengobatan oleh masyarakat di Indonesia (Depkes RI, 2001).
Morfologi
Tumbuhan Girang termasuk ke dalam tumbuhan jenis perdu dengan ketinggian berkisar 1.5 – 5 m. Berbatang tegak, bulat, dan berkayu. Berdaun hijau, lonjong, majemuk menyirip dengan panjang 8 – 16 cm dan lebar 3 – 7 cm.
Warna bunganya hijau, berbentuk seperti payung, dan berada di ketiak daun.
Kelopak dari bunganya berbentuk bintang dengan kepala sari yang berwarna putih. Buah dan biji berbentuk bulat. Buah berwarna ungu kehitaman. Biji berwarna putih. Berakar tunggang (Zuhud et al., 2013).
Ekologi
Tumbuhan girang tumbuh di dataran rendah di hutan campuran seluruh pulau Jawa dengan ketinggian kurang lebih 1000 meter dari permukaan laut.
Biasanya tumbuh di bawah belukar lain sebagai semak yang tidak berduri (Heyne, 1950).
Kandungan Fitokimia
Gugus fitokimia seperti alkaloid, flavonoid, terpenoid, glikosida, saponin, dan steroid serta senyawanya yaitu kuersetin, asam galat, lupeol, -sitosterol, asam ursolat, asam molat arabinosida, dan asam molat xyloside telah diidentifikasi di berbagai bagian tanaman ini.
Manfaat
Ketika terluka atau ada bagian tubuh yang mengalami pegal linu, daun Girang dapat digunakan untuk meredakannya. Untuk mengobati luka baru, dapat digunakan ±30 gram daun Girang segar, setelah dicuci dan kemudian ditumbuk hingga hingga halus. Setelah itu dapat langsung ditempelkan pada luka, bila ada, lapisi atau balut dengan kain bersih (Depkes RI, 2001).
Menurut penelitian kandungan saponin dapat ditemukan pada bagian akar, kandungan polifenol di bagian daun, dan tanin di bagian buah.
Kandungan kimia lain yang terdapat di tumbuhan Girang ini antara lain, alkaloid, glikosida, dan steroid/triterpenoid (Malinda, 2015).
Hampir semua bagian tumbuhan girang memiliki manfat sebagai obat.
Bagian daun dapat dimanfaatkan menjadi obat pusing, bisul, jantung berdebar, keseleo, luka, perawatan nifas, dan sakit kepala. Bagian kulit batang dapat dimanfaatkan menjadi antiracun ular. Bagian akar dapat dimanfaatkan menjadi malaria, sakit perut, dan antifungi. Bagian bunga dapat dimanfaatkan menjadi obat bisul. Bagian kayu dapat dimanfaatkan menjadi obat hipakusis (Zuhud et al., 2013).
Sebaran
Tumbuhan girang tersebar merata di daerah tropis dan subtropis, seperti Indonesia, Thailand, Malaysia, India, dan Cina. Di Indonesia tumbuhan ini tersebar di sebagian besar daerah (Depkes RI, 2001). Di wilayah Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi (KPHK) Pati Barat. Tumbuhan Girang dapat ditemukan di wilayah Cagar Alam (CA) Keling I abc, CA Keling II/III, CA Kembang dan CA Gunung Celering di Kab Jepara Provinsi Jawa Tengah.
Tembelekan, Si Bau Yang Berkhasiat Oleh : Niken Laras Dwi Saputri
Kearifan lokal Indonesia cukup melimpah salah satunya dibidang obat- obatan. Tanah Indonesia yang subur membuat banyak tanaman obat-obatan tumbuh dengan mudah meski tanpa perawatan khusus sekalipun. Hal ini tentu menjadi keuntungan tersendiri bagi masyarakat. Namun, masyarakat kita masih memanfaatkannya dengan cara tradisional yaitu dengan menumbuk tanaman tersebut kemudian di letakkan ke bagian yang ingin diobati.
Deskripsi
Tumbuhan Tembelekan merupakan perdu yang tingginya dapat mencapai 1,5 meter. Batangnya berkayu dengan cabang banyak. Rantingnya berbentuk segi empat dengan duri dan rambut di sepanjang permukaannya. Batangnya berwarna coklat dengan permukaan kasar. Daunnya berbentk oval, berwarna hijau dengan tepi daun bergerigi. Permukaan daun kasar, duduk daun berhadapan dengan tulang daun menyirip. Ciri khas tumbuhan ini selain bunganya yang cantik adalah baunya yang tidak enak. Makanya namanya bunga tembelekan karena baunya mirip degan kotoran ayam.
Ekologi
Tumbuhan ini hidup liar dan biasa disebut tanaman pagar. Tanaman ini
mampu hidup di dataran rendah hingga ketinggian 1700 mdpl. Ia bisa
hidup secara optimal dibawah sinar matahari dengan naungan.
KandunganFitokimia
Tembelekan memiliki kandungan alkaloid, fenolik, flavonoid dan tannin. Ekstrak dari bunga, daun, batang, dan akarnya. menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap
Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa, Staphylococcus aureus, dan Staphylococcus saprohiticus.Tumbuhan tembelekan ini mengandung senyawa kimia seperti lantadene a, lantadene b, lantanolik acid, lantic acid, beta-caryophylane, gamma-terpidene, alpha-pinene, dan pcymene. Zat- zat tersebut aktif sebagai insectisida nabati yang aktif dimana serangga tidak menyukai ini (Rijai, 2014).
Manfaat
Tumbuhan tembelekan yang cantik dan ketersediaannya melimpah di lingkungan kerap dimanfaatkan sebagai obat luka yang sering dijumpai disekitar kita. Menurut Jumiati dan Andarias (2020) tumbuhan yang termasuk famili verbenaceae ini mengandung senyawa alkaloid, fenolik,flavonoid dan tannin yang mampu mencegah pertumbuhan bakteri pada luka dan membantu proses penyembuhan luka dengan mencegah kematian sel.. Menurut rahmah dkk (2010) tumbuhan ini selain dipercaya untuk menyembuhkan luka bunga tembelekan ini juga dapat dimanfaatkan sebagai lotion anti nyamuk
Sebaran