Namun, kalau dilihat secara mendalam, dapat ditemukan pula pandangan-pandang mengenai bangsa dan kebangsaan yang mencerminkan pandangan hidup khas Indonesia, seprti yang diutarakan Ki Hadjar Dewantara: “Rasa kebangsaan adalah sebagian dari rasa kebatinan yang hidup dalam jiwa dengan disengaja. Asal mulanya rasa kebangsaan itu timbul dari rasa diri, yang terbawa dari keadaan perikehidupan, lalu menjalar menjadi rasa keluarga; rasa ini terus jadi rasa hidup bersama secara sosial”.
terjadinya erosi kebangsaan. Apakah makin terintegrasinya Indonesia kepada pola kehidupan dan ekonomi dunia merupakan ancaman yang mendasar terhadap rasa kebangsaan. Hal ini sulit untuk dapat dibuktikan.
Ujiannya adalah seberapa jauh bangsa Indoneisa, terutama generasi mudanya, merasa terpanggil dan bereaksi ketika bangsa dan negaranya berda dalam ancaman. Contoh misalnya, ketika Pemerintah Malaysia melakukan berbagai infiltrasi ke wilayah Indonesia yang disertakan dengan eksploitasi hasil laut secara tidak bertanggung jawab serta memfonis hukuman mati beberapa putra Indonesia. Bangsa Indonesia serta merta bangkit memperjuangan penegakan keutuhan wilayah NKRI, dengan cara melakukan demontrasi ke Kedutaan Malaysia di Jakarta untuk menekan Pemerintah Malaysia agar tidak melakukan aktivitas dengan memasuki wilayah yurisdiksi NKRI secara ilegal. Namun, pada sisi lain juga menjadi ujian sekarang ini adalah seberapa jauh bangsa Indonesia dapat mengembangkan semangat menghargai dan mendahulukan karya bangsa sendiri sebagai ungkapan nasionalisme atau patriotisme baru.
Kekhawatiran yang kedua yang juga perlu mendapat perhatian adalah terutama mengenai adanya gejala mempertentangkan berbagai perbedaan yang ada pada bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia sangat majemuk, sangat bineka. Karena itu ada Sumpah Pemuda, ada semboyan Bhineka Tunggal Ika. Sejarah telah menunjukkan betapa kemajemukan itu dapat mendorong divergensi yang dengan susah payah telah diatasi sehingga Indonesia tetap menjadi bangsa yang utuh. Upaya ini dilakukan sejak awal kemerdekaan hingga dewasa ini.
Di pihak lain, disamping ada potensi divergensi, kemajemukan atau kebinekaan juga merupakan potensi kekuatan yang besar bagi suatu bangsa. Adanya unsur-unsur yang berbeda juga dapat dihimpun akan menghasilkan kekuatan yang lebih besar, daripada hanya terdiri atas unsur yang seragam. Oleh karena itu, tidak pada tempatnya dan tidak mencerminkan pandangan kebangsaan, untuk menutup mata akan
adanya perbedaan dan bertindak seakan-akan bangsa Indonesia adalah homogen, tidak ada perbedaan suku, agama atau etnis. Dan bukan pula pengertian kebangsaan yang dikehendaki pendiri Republik ini. Di lain pihak, sangat bertentangan pula dengan rasa kebangsaan untuk memperbesar perbedaan. Sesungguhnya, sangat penting mengenali adanya kemajemukan, dan memadukan serta memanfaatkannya untuk membangun kekuatan dasyat guna mewujudkan cita-cita perjuangan.
Untuk mencapai cita-cita dimaksud, ajaran Bineka Tunggal Ika yang mengenal kesatuan dalam perbedaan, sebagaimana telah dipraktekan sejak leluhur bangsa Indonesia, yang kini mencapai hasilnya dan perlu dimantapkan pelaksanaannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Kekhawatiran yang ketiga, tidak terlepas dari kedua hal sebelumnya. Kesadaran masyarakat yang makin meningkat, sebagai hasil pembangunan menyebabkan tumbuhnya sikap kritis. Keterbukaan yang dihasilkan oleh pembangunan politik membuat segala pandangan dapat dikemukakan ecara bebas. Dengan sendirinya terjadi pula interaksi yang makin leluasa dan kerap dengan pandangan-pandangan dari laur.
Akibatnya, timbul berbagai jargon politik, yakni “demokratisasi”, “arus bawah”, dan sebagainya, yang sebetulnya merupakan rumusan-rumusan netral, kalau tidak dimuati dengann konotasi tertentu. Keinginan untuk membangun kehidupan nasional yang partisipatif dan demokratis, adalah wajar, dan menjadi tujuan pembangunan politik. Namun, yang menjadi masalah adalah bagaimana mewujudkannya. Ada kekhawatiran, dalam proses itu berkembang pemikiran-pemikiran yang asing, yang mungkin tidak tepat untuk diterapkan di Indonesia, bahkan akan bertentangan dengan pandangan hidup bangsa Indonesia. Lebih jauh lagi, terkesan bahwa perubahan menuju arah kehidupan yang makin bebas sepertinya boleh capai dengan menghalalkan segala cara asal berbeda.
Sesungguhnya tidak ada orang yang menentang pembaharuan, bahkan hal itu diamanatkan oleh UUD 1945. Namun, pembaharuan itu
harus dilakukan didalam sistem dan terprogram. Pembaharuan atau reformasi diluar sistem dan tidak terprogram, hanya akan menyebabkan gejolak, yang tidak menguntungkan siapapun, dan pada saat yang sama masyarakat tidak dapat menghindari adanya gejolak yang ditimbulkan dari ketidakberesan dalam melakukan pembaharuan (modernisasi).
Dalam kaitan dengan pembaharuan atau reformasi dalam penyelenggaraan pemerintahan khususnya pada lingkungan pemerintahan daerah, kini dihadapkan dengan fenomena baru setelah pemilihan kepala daerah dan anggota DPRD, tampak adanya kesan bahwa setelah terpilih mulai mengingkari janjinya kepada rakyat yang diucapkannya pada saat menggalang dukungan suara dari masyarakat. Bahkan di beberapa daerah masyarakat sudah memberi cap terhadap kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih serta anggota DPRD terpilih sebagai ”Pemimpinan Akan”.
Artinya, setiap forum pertemuan dengan masyarakat baik sebelum dan selama melaksanakan jabatan selalu mengucap kata ”Saya Akan” berbuat, memenuhi, melakukan, menjembatani, dan lain-lain kepada rakyatnya, akan tetapi hingga masa jabatan berakhir tanpa reaalisasi janjinya itu.
Inilah profil kepemimpinan pemerintahan daerah kita untuk menjamin perkembangan masa depan bangsa yang lebih berkualitas. Dalam kerangka itu, pada kesempatan yang berbahagia ini, label yang dialamatkan kepada ”Pemimpinan Akan” perlu dihilangkan, agar pemimpin pemerintahan daerah kita yang selama ini telah dan sedang menjabat dapat menunjukkan kinerja untuk memajukan kesejahteraan masyarakat melalui serangkaian penyusunan dan pelaksanaan program pembangunan dan pemberdayaan masyarakat dalam skala besar. Harapan ini dinilai tepat dialamatkan kepada pimpinan pemerintahan daerah dan anggota DPRD, bahwa hanya dengan cara demikian, sosok kepemimpinan pemerintahan daerah dapat memberi nilai tambah bagi daerahnya.