• Tidak ada hasil yang ditemukan

DEMOKRASI DAN KEBANGSAAN INDONESIA

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "DEMOKRASI DAN KEBANGSAAN INDONESIA"

Copied!
140
0
0

Teks penuh

Sebaliknya, cara pandang kebangsaan yang tidak diikutsertakan dalam pembangunan demokrasi yang sehat hanya akan menghasilkan bangsa yang tidak berwawasan kebangsaan dan tidak berarti dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu, penting bagi para pemimpin daerah yang memiliki kewenangan mendukung Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia untuk belajar tentang demokrasi dan wawasan kebangsaan Indonesia.

Makna Demokrasi

Sejalan dengan pandangan Lincoln, Ryaas mencermati pemerintahan demokratis dan mengatakan bahwa esensi demokrasi adalah pemerintahan "oleh rakyat". Prinsip lain yang relevan dibahas dalam konteks pemerintahan demokratis adalah pemisahan kekuasaan, aturan hukum (law rule atau aturan hukum), serta kesetaraan dan kebebasan.

Kriteri Demokrasi

Keadilan dalam memberikan kesempatan kepada kekuatan politik untuk menjalankan kontestasi demokrasi juga sangat menentukan hasil pemilihan umum. Dengan demikian, pemilu reguler adalah ciri dari sistem pemerintahan yang demokratis.

Pertanyaan Untuk Didiskusikan

Demokrasi Dalam Konstitusi UUD 1945

Rumusan tersebut mengandung arti bahwa negara Indonesia adalah negara kesatuan, bukan negara kesatuan, dengan bentuk republik yang mendasarkan penyelenggaraan negara melalui sistem perwakilan. Rumusan ini merupakan salah satu indikator demokrasi yang mensyaratkan kesamaan kedudukan warga negara tanpa terkecuali dalam hukum dan pemerintahan.

Periodesasi Perkembangan Demokrasi Indonesia

Pertama, badan perwakilan rakyat atau parlemen memiliki peran yang sangat tinggi dalam proses politik yang berlangsung. Di sisi lain, ABRI juga muncul sebagai kekuatan politik yang sangat kuat, karena didukung oleh keadaan. Politik pada masa demokrasi terpimpin ditandai dengan tarik menarik yang sangat kuat antara tiga kekuatan politik utama.

Akhirnya militer muncul sebagai kekuatan politik yang sangat menentukan dalam proses politik selanjutnya dengan apa yang dikenal dengan kebijakan dwifungsi ABRI.

Demokrasi Pasca Amandemen UUD 1945

Rumusan hasil amandemen ketiga merupakan ciri demokrasi yang artinya Penguasa tidak kebal hukum bahkan dapat diberhentikan dari jabatannya karena dianggap tidak lagi memenuhi syarat sebagai pemimpin. Rumusan hasil amandemen ketiga merupakan ciri demokrasi yang berlandaskan hukum (rule of law) sebagaimana diperjuangkan dalam proses demokrasi. Rumusan hasil amandemen kedua ini merupakan penjabaran dari ciri-ciri demokrasi bahwa setiap orang berhak mendapat perlindungan dan jaminan hukum serta perlakuan yang sama di depan hukum.

Pembentukan hasil amandemen kedua ini mengandung makna demokrasi bahwa tidak ada diskriminasi dalam bentuk apapun (agama, ras, asal usul, suku, warna kulit, ekonomi dan politik) kepada setiap warga negara.

Pertanyaan Untuk Didiskusikan

Saat ini perkembangan demokrasi Indonesia belum mencapai demokrasi yang sepenuhnya modern karena rumusan normatif nilai dan parameter demokrasi sebagaimana tercantum dalam amandemen UUD 1945 belum dilaksanakan secara utuh dan konsisten. Sementara itu, penegakan hukum dalam kehidupan berdemokrasi masih belum dilaksanakan secara maksimal, misalnya masih banyak putusan-putusan hukum yang tidak mencerminkan asas keadilan, masih banyak mafia hukum alias mediator, penegakan hukum masih mengenal tebang pilih, hukum penegakan hukum masih bisa diintervensi oleh kelompok tertentu, dan tuntutan hukum lain serta pelanggaran demokrasi yang masih bersifat partisan. Berdasarkan kondisi tersebut, maka perkembangan demokrasi Indonesia pasca perubahan masih sebatas “demokrasi normatif setengah praktek”, dalam arti belum mencapai tingkat demokrasi modern yang utuh, karena demokrasi normatif belum diimbangi dengan pelaksanaan demokrasi pada tataran praktis secara menyeluruh dalam arti yang murni dan konsisten.

Kesimpulannya, pasca amandemen UUD 1945, demokrasi Indonesia masih dalam proses pencarian jati diri untuk mewujudkan demokrasi modern yang sejati.

Konsep Lahirnya Bangsa

Faktor yang paling efektif dalam membentuk negara-bangsa adalah adanya kesamaan identitas yang dibangun antar kelompok etnis, yang menjadi persekutuan bangsa dalam negara. Karena menggambarkan cara hidup yang seharusnya dan tujuan yang suci, meskipun kesamaan agama atau ideologi tidak menjamin terbentuknya suatu negara bangsa. Namun, seorang pemimpin saja tidak dapat menjamin terbentuknya negara-bangsa karena pengaruh pemimpin itu bersifat sementara.

Faktor lain yang dapat membentuk identitas negara-bangsa adalah prinsip Bhinneka Tunggal Ika.

Momentum Lahirnya Kebangsaan Indonesia

Nilai-nilai yang mengikat bangsa Indonesia diawali dengan Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 yang diungkapkan oleh para pemuda Indonesia. Pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia pasca gerakan kebangkitan nasional Budi Utomo dan Sumpah Pemuda, terjadi frekuensi dan trend yang tinggi terhadap kata “Bangsa Indonesia”. Di sisi lain, bangsa Indonesia dikatakan mampu menciptakan solidaritas sosial dan kohesi sosial serta memupuk semangat kepahlawanan anak bangsa untuk melakukan gerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Kemerdekaan Indonesia adalah hasil perjuangan rakyat Indonesia, dan kemerdekaan Indonesia adalah milik rakyat Indonesia.

Proses Kebangsaan Melalui Integrasi Nasional

Ada tiga aspek integrasi nasional, yaitu (1) kesadaran akan pentingnya mempertahankan eksistensi bangsa dan segala macam ancaman, (2) kemampuan sistem politik nasional Indonesia dalam memenuhi aspirasi rakyat, dan (3) kemampuan mendesentralisasi pemerintahan sebagai salah satu faktor untuk meningkatkan kesadaran, kreativitas dan kontribusi masyarakat sebagai salah satu pilar utama integrasi nasional (Rudini dalam Bahar, 1996:ix-x). Integrasi nasional yang didukung oleh ketahanan nasional yang efektif secara empiris dapat menjadikan kehidupan berbangsa dan bernegara semakin sejahtera, terutama dengan melanjutkan berbagai program pembangunan dalam rangka mewujudkan kesejahteraan masyarakat sebagaimana dicita-citakan dalam Pembukaan UUD 1945. Dalam hal ini, bermacam-macam bentuk ketahanan nasional untuk memperkuat proses integrasi Indonesia harus diperkuat, yaitu.

Ketahanan ekonomi negara telah memberikan kontribusi dalam pembentukan ketahanan nasional untuk memperkuat integrasi nasional dalam upaya membentuk bangsa Indonesia yang kuat.

Pertanyaan Untuk Didiskusikan

Hal-hal yang perlu dilakukan dalam rangka meningkatkan ketahanan sosial budaya adalah dengan: mengembangkan dan memperkuat budaya daerah sebagai cerminan kebanggaan etnik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara; penguatan kebudayaan nasional sebagai pengembangan kebudayaan daerah yang bersifat interkultural;

Makna dan Perkembangan Wawasan Kebangsaan

Antara lain, Bung Karno mengatakan dalam pidatonya pada 1 Juni 1945: “Anak kecil sekalipun, jika melihat peta dunia, dapat menunjukkan bahwa kepulauan Indonesia adalah satu kesatuan. Kalau kita berbicara tentang nasionalisme, kita memang harus Mendengar apa yang dikatakan Bung Karno, seorang nasionalis besar, seorang negarawan tingkat dunia, Bung Karno selanjutnya mencoba mengikatnya agar bisa menampung berbagai aliran pemikiran dan ideologi yang pada dasarnya sangat kontradiktif.

Sebagai salah satu pembawa berita, Bung Hatta tidak sepenuhnya setuju dengan perbedaan pandangan Bung Karn, terutama terkait pendekatan geopolitik ini.

Tatangan Wawasan Kebangsaan Indonesia

Bangsa Indonesia segera bangkit untuk memperjuangkan pelaksanaan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, berunjuk rasa di Kedutaan Besar Malaysia di Jakarta untuk menekan pemerintah Malaysia agar tidak melakukan kegiatan secara melawan hukum yang masuk ke dalam wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Indonesia. Namun, di sisi lain, ujian sebenarnya adalah sejauh mana bangsa Indonesia mampu mengembangkan semangat menghargai dan mengutamakan karya bangsa sendiri sebagai ekspresi nasionalisme atau patriotisme baru. Kekhawatiran kedua yang juga memerlukan perhatian khusus mengenai gejala kontras dari berbagai perbedaan yang ada pada bangsa Indonesia.

Dikhawatirkan proses ini akan mengembangkan ide-ide asing yang mungkin tidak cocok digunakan di Indonesia bahkan mungkin bertentangan dengan pandangan orang Indonesia.

Masalah Wawasan Kebangsaan Indonesia

Oleh karena itu pemerintah dan pemerintah daerah perlu mengambil langkah-langkah kebijakan di bidang kependudukan agar kependudukan tidak menimbulkan masalah bagi pembentukan nasionalisme. Hanya dengan menekan angka kemiskinan ke angka serendah-rendahnya, kemiskinan tidak berpotensi mengganggu koherensi wawasan kebangsaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hanya dengan cara inilah kehidupan beragama dapat turut memperkuat nasionalisme dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Hanya dengan demikian, budaya bangsa yang terbangun dari budaya daerah menjadi kebanggaan bangsa dan sekaligus dapat turut memperkuat nasionalisme dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pembangunan Wawasan Kebangsaan

Pengertian kebangsaan bangsa Indonesia mempunyai misi, yaitu sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Dasar 1945, yang menyatakan “maka berdirilah Kemerdekaan Nasional Indonesia pada….”. Konsep kebangsaan Indonesia adalah yang berlandaskan spiritual, moral, dan etika sehingga berketuhanan Yang Maha Esa. Sebagai bangsa yang majemuk, tetapi satu dan utuh, pemahaman kebangsaan Indonesia jelas dilandasi oleh persatuan dan kesatuan bangsa.

Pemerintah pusat dan pemerintah daerah mempunyai tugas untuk menata dan mengembangkan wawasan kebangsaan Indonesia secara terprogram.

Otonomi Daerah dan Wawasan Kebangsaan

Sehubungan dengan itu, sudah saatnya kebijakan pemerintah daerah dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah yang bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi ditarik kembali oleh Negara. Bagi kepala daerah yang menyimpang dari koridor negara hukum pelaksanaan otonomi daerah, harus dilakukan tindakan tegas oleh negara sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Sebaliknya pemerintah pusat harus memberikan penghargaan kepada kepala daerah dan wakil kepala daerah yang telah berhasil membangun daerah yang bercirikan kehidupan rakyat yang lebih sejahtera, pemanfaatan dan pengembangan sumber daya daerah secara proporsional dan berkeadilan, mampu membangun pemerintahan yang bagus.

Pelaksanaan otonomi daerah yang hanya menghasilkan figur dan bentuk daerah yang menganut “batas daerah”, menghindari dan mengingkari semangat nasionalisme dalam persatuan, harus dikoreksi oleh pemerintah pusat.

Pertanyaan Untuk Didiskusikan

Dengan demikian, kebijakan otonomi daerah (desentralisasi) yang diterapkan di negara kesatuan Republik Indonesia berupaya untuk memperkuat integrasi nasional melalui pembentukan pemahaman nasional dengan kohesi nasional yang tinggi, dan perwujudan demokrasi di tingkat lokal di mana masyarakat secara aktif dapat ikut. dan menentukan nasibnya sendiri dalam upaya memperkuat kemandirian rakyat dan mewujudkan masyarakat yang sejahtera. Oleh karena itu, pelaksanaan otonomi daerah yang tidak mampu mewujudkan demokrasi di tingkat lokal, tidak mampu mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan tidak mampu menjadi kerangka pemersatu bangsa, merupakan kebijakan otonomi daerah yang keberadaannya harus dipertanyakan.

PENUTUP

  • Kesimpulan
  • Rekomendasi
  • Identitas Diri
  • Riwayat Pekerjaan
  • Pengalaman Tugas Fungsional
  • Pelatihan dan Kursus

Negara bangsa yang menjadi basis pembangunan demokrasi meliputi aspek tingkat peradaban dan perkembangan masyarakat yang menjadi basis demokrasi. Berkaitan dengan demokrasi yang sehat dan berkembang, karena didukung oleh masyarakat yang berjiwa demokrasi, juga dimungkinkan terciptanya pemerintahan yang demokratis. Masyarakat yang demokratis dan pemerintahan yang demokratis, sangat memungkinkan untuk meningkatkan tata kelola masyarakat yang lebih baik.

Untuk itu, kepala pemerintahan dan pegawai negeri, termasuk kepala daerah dan wakil kepala daerah, dituntut untuk melakukan berbagai langkah kebijakan untuk membangun tatanan sosial yang memenuhi syarat demokrasi.

Referensi

Dokumen terkait

Ketahanan sosial budaya adalah kondisi kehidupan sosial budaya bangsa yang dijiwai kepribadian nasional berdasarkan Pancasila, yang mengandung kemampuan membentuk dan

PENGARUH DAN PEMBINAAN PADA ASPEK SOSIAL BUDAYA STRUKTUR SOSIAL INDONESIA KONDISI BUDAYA INDONESIA PEMBINAAN KETAHANAN ASPEK SOS

Wujud ketahanan sosial budaya tercermin dalam kondisi kehidupan sosial budaya bangsa yang dijiwai kepribadian nasional, yang mengandung kemampuan membentuk dan mengembangkan

Pola-pola komunikasi dari karakteristik Budaya organisasi pada Bagian Sosial Sekretariat Daerah Kabupaten Lahat, disarankan perlu ditingkatkan pelaksanannya agar

Dengan demikian kebijakan pemerintah pusat lebih pada pengendalian mutu, sedangkan daerah diberikan keluasan untuk secara kreatif mengembangkan berbagai kebijakan

Ketahanan sosial budaya diartian sebagai kondisi dinamik budaya bangsa yang berisi Ketahanan sosial budaya diartian sebagai kondisi dinamik budaya bangsa yang berisi keuletan

Usaha pembentukan kebudayaan bangsa atau kebudayaan nasional Indonesia harns mengarah kepada kemajuan adah, budaya dan persatuan dengan tidak menolak unsur~unsur

Banyak kebudayaan menjadi cerminan dan ciri dari sebuah masyarakat dan untuk memahami hubungan antara kebudaya dan kehidupan sosial, perlu adanya pengertian dan