• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KERANGKA TEORI

2. Taukil Wali Nikah

a. Dasar Hukum Taukil Wali Nikah

Dalam praktik pernikahan wali sebagai salah satu dari rukun nikah mayoritas tidak langsung menikahkan anak perempuanya. Wali kebanyakan mewakilkan kepada orang yang yang dipercayainya atau kepada petugas dari KUA setempat. Istilah wali mewakilkan dikenal dengan Taukil wali dan tentu harus dipahami makna dari taukil wali tersebut.

Kata taukil berbentuk masdar, berasal dari kata wakkala- yuwakkilu- taukilan yang berarti penyerahan atau pelimpahan.58Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia taukil atau pelimpahan kekuasaan adalah bermakna proses, cara, perbuatan melimpahkan (memindahkan) hak wewenang.59

Sedangkan kata al-wakalah atau al-wikalah adalah perwakilan.

Yang menurut bahasa berarti al-hifz, al-kifayah, ad-daman dan at-

58Ahmad Warson Munawwir. Ahmad Warson Munawwar. Kamus al-Munawwir Arab- Indonesia terlengkap..,, h. 1579.

59Departemen Pendidikan Nasional. Kamus Besar Bahasa Indonesia, h. 594.

113

tafwid yang berarti penyerahan, pendelegasian dan pemberian mandat.60

Dari segi makna secara etimologi, baik taukil maupun wakalah tidak terdapat perbedaan. Karena keduanya berasal dari satu kata yang sama, yaitu wakalah. Adapun pengertian taukil atau wakalah menurut istilah syara‘ dalam perspektif berbagai madzhab adalah sebagai berikut :61

‘Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa wakalah adalah seseorang menempati diri orang lain dalam hal tasarruf (pengelolaan).

‘Ulama Malikiyah mengatakan, al-wakalah adalah seseorang menggantikan (menempati) tempat orang lain dalam hak dan kewajiban, kemudian dia mengelola pada posisi itu.

‘Ulama Hanabilah mengatakan, al-wakalah adalah permintaan ganti seseorang yang memperbolehkan adanya tasarruf yang seimbang pada pihak lain, yang di dalamnya terdapat penggantian dari hak-hak Allah SWT dan hak-hak manusia.

Sedangkan menurut ‘Ulama Syafi’iyah al-wakalah berarti sesorang yang menyerahkan urusannya kepada orang lain agar orang yang mewakilinya itu dapat melaksanakan sesuatu urusan yang diserahkan kepadanya selama yang menyerahkan masih hidup.

60Hendi Suhendi, Fiqh Mu’amalah, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2011), h. 231.

61Abdul Rahman al-Juzayriy, Kitab al-Fiqh ‘ala Mazahib al-Arba‘ah juz III, 167-168

114

Dari beberapa definisi berbagai ulama tersebut, dapat disimpulkan bahwa al-wakalah adalah penyerahan urusan seseorang kepada orang lain (wakilnya) untuk melaksanakan suatu urusan, kemudian wakil tersebut menempati posisi yang mewakilkan (muwakkil) dalam hak dan kewajiban yang kemudian berlaku selama muwakkil masih dalam keadaan hidup.

Pada dasarnya Allah SWT.Menciptakan manusia dengan bakat dan kemampuan yang berbeda-beda antara manusia yang satu dengan yang lainnya. Akibatnya banyak orang yang perlu bertopang pada bantuan orang lain dan memanfaatkan kelebihannya dalam berbagai hal demi tercapainya suatu tujuan yang diinginkan. Oleh sebab itu, para fuqaha‟ sepakat bahwa tawkil wali hukumnya adalah boleh karena bertujuan untuk tolong menolong atas dasar kebaikan dan takwa.

Adapun mengenai tawkil disini Allah SWT menyatakan dalam al-Qur’an surat al-Kahfi ayat 19 sebagai berikut :

َكِلَذَك َو ْمُهاَنْثَعَب

اوُلَءاَسَتَيِل ْمُهَنْيَب

َلاَق لِئاَق ْمُهْنِم ْمَك ْمُتْثِبَل اوُلاَق اَنْثِبَل اام ْوَي

ْوَأ َضْعَب م ْوَي اوُلاَق ْمُكُّب َر ُمَلْعَأ اَمِب ْمُتْثِبَل اوُثَعْباَف ْمُكَدَحَأ

ْمُكِق ِر َوِب ِهِذَه

ىَلِإ

ِةَنيِدَمْلا ْرُظْنَيْلَف

اَهُّيَأ ىَك ْزَأ ااماَعَط

ْمُكِتْأَيْلَف ق ْز ِرِب

ُهْن ِم ْفَّطَلَتَيْل َو َلا َو

َّن َرِعْشُي ْمُكِب

اادَحَأ

“Dan Demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling ber- tanya di antara mereka sendiri. berkatalah salah seorang di antara mereka: sudah berapa lamakah kamu berada (disini?)". mereka menjawab: "Kita be- rada (disini) sehari atau setengah hari". berkata (yang lain lagi): "Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang pe- rakmu ini, dan hendaklah Dia Lihat manakah makanan yang lebih baik, Maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah ia

115

Berlaku lemah-lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorangpun.”

Dalam hukum perkawinan Islam dimungkinkan adanya wakalah. Perwakilan di dalam pernikahan seperti halnya perwakilan pada seluruh akad. Bagi seorang atau kedua mempelai yang berhalangan sehingga tidak dapat hadir di majelis akad dapat mewakilkan kepada orang lain. Bagi mempelai laki-laki berhak mewakilkan kepada orang lain dan mempelai perempuan yang diwakili oleh wali nikah dapat pula mewakilkan kepada orang lain.

Wali mempelai perempuan mewakilkan kepada orang lain untuk menikahkan perempuan yang di bawah perwaliannya, dikenal dengan istilah taukil wali nikah, yang berarti penyerahan wewenang wali nikah kepada orang lain yang memenuhi syarat untuk menempati posisi wali tersebut sebagai pihak yang mewakili (wakil) mempelai perempuan dalam akad nikah.

Wakil dalam akad nikah hanya berkedudukan sebagai duta yang menyatakan sesuatu atas nama yang mewakilkan, yaitu yang diberi wewenang oleh wali nikah (muwakkil) untuk menikahkan calon mempelai perempuan. Kemudian setelah akad nikah selesai maka berakhir pula tugas wakil. Pada dasarnya taukil wali nikah dapat terjadi secara lisan. Namun, untuk menghindari kemungkinan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari, hendaknya dilakukan secara tertulis dan dipersaksikan oleh orang lain.

116

Kemudian dalam hal pelimpahan kuasa, juga terdapat ketentuan dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata dalam pasal 1792 BW, bahwa pemberian kuasa diartikan sebagai “suatu perjanjian dengan nama seseorang memberikan kekuasaan kepada orang lain yang menerimanya, untuk atas namanya menyelenggarakan suatu urusan.”62

Dasar disyari’atkan wakalah diatur dalam : 1) Al-Qur’an

QS. al-Kahfi ayat 19 :

اَنْثِبَل اوُلاَق ْمُتْثِبَل ْمَك ْمُهْنِم لِئاَق َلاَق ْمُهَنْيَب اوُلَءاَسَتَيِل ْمُهاَنْثَعَب َكِلَذَك َو اوُثَعْباَف ْمُتْثِبَل اَمِب ُمَلْعَأ ْمُكُّب َر اوُلاَق م ْوَي َضْعَب ْوَأ اام ْوَي ْمُكِق ِر َوِب ْمُكَدَحَأ

ُهْن ِم ق ْز ِرِب ْمُكِتْأَيْلَف ااماَعَط ىَك ْزَأ اَهُّيَأ ْرُظْنَيْلَف ِةَنيِدَمْلا ىَلِإ ِهِذَه اادَحَأ ْمُكِب َّن َرِعْشُي َلا َو ْفَّطَلَتَيْل َو

“Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: Sudah berapa lamakah kamu berada (di sini?)".

Mereka menjawab: "Kita berada (disini) sehari atau setengah hari". Berkata (yang lain lagi): "Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah ia berlaku lemah-lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorangpun”. (QS.

al-Kahfi : 19)

Q. S. an-Nisa’ ayat 35:

ْنِإ اَهِلْهَأ ْنِم اامَكَح َو ِهِلْهَأ ْنِم اامَكَح اوُثَعْباَف اَمِهِنْيَب َقاَقِش ْمُتْف ِخ ْنِإ َو اَمُهَنْيَب ُهَّللا ِقِ ف َوُي ااح َلْصِإ اَدي ِرُي ا اريِبَخ ااميِلَع َناَك َهَّللا َّنِإ

62Subekti, Kitab Undang-undang Hukum Perdata, (Jakarta: Pradnya Paramita, 2008), h.

457

117

“Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”(QS.An. Nisa: 35)

Q.S. Yusuf ayat 55 :

ميِلَع ظيِفَح يِ نِإ ِض ْرَ ْلأا ِنِئا َزَخ ىَلَع يِنْلَعْجا َلاَق

“Berkata Yusuf: “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir);

sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.”(QS. Yusuf: 55)

QS. Yusuf ayat 93:

َنيِعَمْجَأ ْمُكِلْهَأِب يِنوُتْأ َو ا اري ِصَب ِتْأَي يِبَأ ِهْج َو ىَلَع ُهوُقْلَأَف اَذَه ي ِصيِمَقِب اوُبَهْذا

“Pergilah kamu dengan membawa baju gamisku ini, lalu letakkanlah dia ke wajah ayahku, nanti ia akan melihat kembali;

dan bawalah keluargamu semuanya kepadaku”. (QS. Yusuf: 93) 1) Al-Hadits

ُهللا ىَّلَص ِهللا َل ْوُس َر َّنَا راَسَي ِنْبا َنَمْيَلُس ْنَع اَبَا َثَعَب َمَّلَس َو ِهْيَلَع

ِث ِراَحْلا َتْنْب َةَن ْوُمْيَم ُهاَج َّو َزَف ى ِراَصْنَلاْا َنِم الُج َر َو عِفا َر

“Dari sulaiman bin Yasar, sesungguhnya Rasulullah saw mengutus Aba Rofi’ dan seorang laki-laki dari golongan Anshor, maka mereka menikahkan Rasulullah dengan Maimunah binti harits.”63

2) Ijma'

Hukum asal wakalah atau taukil adalah jaiz (boleh).

Wakalah atau taukil terkadang hukumnya sunah jika menolong terhadap perkara yang disunahkan, terkadang makruh jika

63Anas bin Malik. Al-Muwata’ juz I, h. 348.

118

menolong terhadap perkara yang dimakruhkan, terkadang haram jika menolong terhadap perbuatan haram dan terkadang wajib jika menolak bahaya dari orang yang diwakili.64

Dalam permasalahan taukil wali nikah adalah jaiz (boleh) seperti halnya hukum asal wakalah. Hal ini sesuai dengan kaidah :

َم ُّلُك ُه َريَغ ِهْيِف َلَّك َوَتَي ُهَل َزاَج ئْيَش ىِف ِهِسْفَن ىِف َّرَصَتَي ْنا ُناَسْنِلاْا َزاَجا

“Tiap-tiap sesuatu yang boleh dilaksanakan oleh diri seseorang,ia boleh mewakilkan kepada orang lain”65

Dan kaidah fiqhiyyah :

ُناَسْنِلاْا َزاَجاَم ُّلُك َلَّك َوَتَي ُهَل َزاَج ،ِهِسْفَنِب ِهِتاَف ُّرَصَّتلا َنِم ه َرَشاَبُي ْنَا

ِةَباَيِ نلا ُلَبْقَي ُف َّرَصَّتلا َناَك اَذِا ،ُه َريَغ ِهْيِف

“Tiap-tiap sesuatu pengelolaan yang boleh dilaksanakan oleh diri seseorang, maka ia boleh mewakilkan kepada orang lain, apabila sesuatu pengelolaan itu dapat digantikan.”66

Dan kaidah :

ُرْمَلاْا َكِلَذ َماَداَم ِهْيِف ِه ِرْيَغ َلَّك َوَتَي ْنَا ُهَل َناَك ئْيَش ىِف ِف َّرَصَّتلا َّقَح ُكِلْمُي ْنَم ُّلُك َةَباَيِ نلا ُلَبْقَي

“Setiap orang memiliki hak untuk menjalankan urusannya sendiri, dan baginya pula terdapat kebolehan untuk mewakilkan urusan

64Wahbah az-Zuhayliy, Al-Fiqh al-Islam wa ‘Adillatuhu juz V, h. 4061.

65Kamal Mukhtar, Azas-azas Hukum Islam Tentang Perkawinan, (Jakarta: Bulan Bintang, 1993), h. 103.

66Wahbah az-Zuhayliy, Al-Fiqh al-Islam wa ‘Adillatuhu..., h. 219.

119

tersebut kepada orang lain selama urusan tersebut bisa digantikan oleh orang lain.”67

Dalam kitab Al-Manhaj karangan syekh Zakaria Al-Anshori bahwa Taukil atau mewakilkan permasalahan kepada seseorang yang diperbolehkan oleh syariat adalah dalam masalah ibadah Haji, membagikan zakat, menyembelih kurban, menjualkan barang dagangan, membelikan barang dagangan, masalah hibah (pemberian), masalah salam (pesan memesan), masalah gadai, masalah nikah, masalah thalak (cerai), semua jenis akad, dan pembatalan aqad, masalah hutang piutang, masalah dakwa, dan menjawab, juga dalam masalah berburu dan mencari kayu, menurut qoul yang adzhar (dimenangkan).

Juga aqad wakalah sah pada istifa (memenuhi) tuntutan siksa pada ibnu adam seperti qishosh dan had qodaf (tuduhan), tapi ada yang mengatakan ini tidak boleh kecuali dihadapan al-Muwakkil, tidak boleh taukil terhadap masalah ibadah yang fardlu ain seperti sholat fardlu, masalah syahadah (kesaksian) sumpah Ila, sumpah li’an, semua bentuk sumpah, dan dzihar menurut qoul ashoh juga Iqror (pengakuan) menurut qoul Ashah.68

67Abdul Rahman al-Juzayriy, Kitāb al-Fiqh 'alā ‘l-Madhāhib al-Arba'ah, Juz IV, (Daar al-Taqwaa lilṭaba' wa al-Nasyr wa al-Tawzi', t.th), h. 42.

68Syekh Yahya bin Syarof An Nawawi, Minhajul Abidin wa umdatul Muftin, (Jiddah: Al- Haromain), h. 56.

120

Hukum taukil wali nikah itu hukumnya sunnah sebab ia menolong atas perbuatan yang hukumnya sunnah. Adapun dasar hukumnya adalah firman Allah Swt QS. an-Nisa: 35:

ْنِإ اَهِلْهَأ ْنِم اامَكَح َو ِهِلْهَأ ْنِم اامَكَح اوُثَعْباَف اَمِهِنْيَب َقاَقِش ْمُتْف ِخ ْنِإ َو ا اريِبَخ ااميِلَع َناَك َهَّللا َّنِإ اَمُهَنْيَب ُهَّللا ِقِ ف َوُي ااح َلْصِإ اَدي ِرُي

Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.(QS.An-Nisa : 35)69

b. Rukun, Syarat dan Faktor Penyebab Taukil Wali Nikah

Dalam melaksanakan taukil terdapat beberapa rukun dan syarat yang harus dipenuhi oleh pihak-pihak yang bersangkutan dalam taukil.

Adapun rukun serta syarat-syarat taukil adalah sebagai berikut : 1) Muwakkil (orang yang berwakil)

Disyaratkan bahwa orang yang berwakil itu sah atau diperbolehkan melakukan perbuatan yang diwakilkan. Maka tidak sah pekerjaan yang dilaksanakan oleh orang yang terhalang melakukan perbuatan seperti: orang gila, anak kecil yang masih dalam wilayah pengasuhan orang tua ataupun orang gila yang tidak sempurna akalnya.70

69Kementerian Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya..., h. 109.

70Wahbah az-Zuhayli. Al-Fiqh al-Islam wa ‘Adillatuhu..., h. 4061.

121 2) Wakil

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, wakil adalah orang yang dikuasakan menggantikan orang lain. Sedangkan wakil nikah adalah orang yang menggantikan laki-laki dalam melaksanakan upacara pernikahan.71 Sedangkan dalam kamus Munawwir, wakil adalah menjadikan wakil, menunjuk sebagai wakil.72

Persyaratannya sama dengan muwakkil. Sebagai wakil harus memiliki kemampuan untuk melaksanakan perbuatan yang dilimpahkan muwakkil kepadanya dan wakil harus orang tertentu, maksudnya orang yang sudah ditunjuk oleh muwakkil. Persyaratan lain yang harus dipenuhi wakil adalah :

a) Beragama Islam b) Balig

c) Laki-laki

d) Adil (tidak fasik), mampu menjalankan ajaran agama dengan baik dan syarat ini hanya berlaku bagi wakil wali dan bukan untuk wakil mempelai laki-laki.73

Orang yang menerima tugas untuk mewakili seseorang dalam akad nikah, tidak boleh mewakilkan lagi pada orang lain untuk menjalankan tugasnya itu. Perwakilan menjadi sah apabila wakil

71Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, ed.3, Cet. Ke-2 (Jakarta: Balai Pustaka, 2002 M), h. 1266.

72Ahmad Warson Munawwir, Kamus al-Munawwir Arab-Indonesia terlengkap..., h. 1579.

73Ahmad Azhar Basyir, Hukum Perkawinan Islam, (Yogyakarta: UII Press, 1999), h. 46.

122

dalam menjalankan tugas perwakilannya sesuai dengan apa yang telah ditentukan oleh orang yang mewakilkan. Kalau tidak sesuai atau menyimpang, maka perwakilannya itu dianggap batal atau tidak sah.

Menurut Syekh Yahya bin Syarof An Nawawi dalam Minhajul Abidin wa umdatul Muftin, Syarat wakil adalah orang yang sah menyandang wakil untuk mentasharrufkan sesuatu yang diserahkan kepadanya. Karena itu, tidak sah untuk menjadi wakil seorang anak kecil, orang gila, wanita dan orang yang sedang Ihram dalam masalah nikah, akan tetapi menurut qaul shahih boleh mewakilkan anak kecil dalam masalah izin memasuki rumah, mengantarkan hadiah, dan menurut qoul ashoh boleh seorang hamba menjadi wakil dalam penerimaan aqad nikah dan penolakan ijab dalam aqad nikah.74

3) Muwakkil fih (sesuatu yang diwakilkan), disyaratkan : a) Menerima penggantian.

Artinya apabila wakil ternyata tidak mampu melaksanakan maka wakil diperbolehkan melimpahkannya kepada orang lain yang memenuhi syarat.

b) Pebuatan atau barang tersebut adalah dimiliki oleh muwakkil.

c) Perbuatan yang diwakilkan adalah perbuatan yang tidak dilarang (mubah).

74Syekh Yahya bin Syarof An Nawawi, Minhajul Abidin wa umdatul Muftin..., h. 56

123 d) Diketahui dengan jelas.

Muwakkil harus dengan jelas menyebutkan pihak yang diwakili kepada wakil. Tidak sah apabila seorang wakil mengatakan: “Aku mewakilkan kepada engkau untuk menikahkan salah seorang anakku”. Dengan menyebutkan salah seorang, berarti tidak jelas seharusnya disebutkan namanya.

Menurut Syekh Yahya bin Syarof An Nawawi dalam kitabnya Minhajul Abidin wa umdatul Muftin, Syarat muwakkal fih (sesuatu yang diwakilkan) bahwa sesuatu yang diwakilkan itu adalah milik muwakkil (orang yang mewakilkan) maka tidak sah mewakilkan sesuatu yang belum dimilikinya seperti saya wakilkan kepadamu untuk menjual hamba yang akan saya beli, atau menalak wanita yang akan saya nikahi. Dan syarat muwakkil fih yang kedua adalah qobilan linniyabah (bisa untuk diwakilkan/ digantikan menurut syariat) oleh karena itu tidak boleh mewakilkan dalam masalah ibadah badaniyah yang hukumnya fardlu ain seperti sholat lima waktu.75

4) Shigat (lafadz mewakilkan)

Syarat shigat adalah dari muwakkil adalah lafadz yang menuntut ridlonya seperti saya wakilkan kepadamu dalam masalah ini atau saya serahkan masalah ini kepadamu, atau kamu adalah wakilku dalam masalah ini. Shigat itu merupakan ucapan dari

75Syekh Yahya bin Syarof An Nawawi, Minhajul Abidin wa umdatul Muftin..., h. 56

124

muwakkil yang menyatakan kerelaannya, seperti contoh : ”Aku wakilkan perbuatan ini kepada engkau, atau kepada si fulan”.

Tidak disyaratkan qabul bagi wakil, tetapi disyaratkan untuk tidak menolak.76

Adapun yang menjadi faktor-faktor penyebab adanya taukil, yaitu :

a) Seseorang tidak dapat melaksanakan sekaligus menyelesaikan urusannya dikarenakan sibuk.

b) Urusannya berada di tempat yang jauh dan sulit untuk dijangkau.

c) Sesesorang tidak mengetahui prosedur atau tata cara melaksanakan urusan yang diwakilkan tersebut.

d) Seseorang yang mempunyai urusan sedang ada ‘udzur syar’i, misalnya sakit.

Faktor-faktor tersebut di atas bersesuaian dengan kaidah fiqhiyyah :

لاروسيملا طقسي

روسعملاب

“Suatu perbuatan yang mudah dijalankan tidak dapat digugurkan dengan perbuatan yang sukar dijalankan.”77

Dengan kaidah tersebut, dimaksudkan agar dalam setiap pelaksanaan perbuatan syara’ hendaklah dikerjakan menurut daya

76Ibnu Mas’ud dan Zainal Abidin, Fiqh Mazhab Syafi’I, h. 115

77Muchlis Usman, Kaidah-Kaidah Istinbath Hukum Islam (kaidah-kaidah ushuliyah dan fiqhiyah), (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada,2002), h. 174.

125

kemampuan orang mukallaf. Tidaklah apa yang mudah dicapai akan menjadi gugur dengan sesuatu yang benar-benar sulit untuk mencapainya. Dengan kata lain, apa yang dicapai menurut batas maksimal kemampuannya dipandang sebagai perbuatan hukum yang sah.78

Seperti halnya dalam pelaksanaan akad nikah, bagi wali nikah yang tidak dapat menghadiri majelis akad untuk menjadi wali dan kemudian menikahkan. Maka wali tersebut boleh mewakilkan kepada orang lain yang memenuhi syarat.

Dalam hal wali nikah tidak dapat menghadiri majelis akad dikarenakan salah satu atau beberapa faktor yang telah disebutkan di atas. Maka ia tidak boleh menggugurkan kewajibannya sebagai wali nikah. Sebagai solusinya wali tersebut harus tetap menjadi wali nikah dengan cara taukil wali nikah yaitu mewakilkan kepada orang lain yang memenuhi syarat untuk menjadi wakilnya dalam akad nikah.

Semakna dengan kaidah di atas adalah :

لاام دي كر هلك لا كرتي هلك

“Sesuatu yang tidak dapat dicapai secara keseluruhan, tidak dapat ditinggalkan secara keseluruhan.”79

78Muchlis Usman, Kaidah-Kaidah Istinbath Hukum Islam (kaidah-kaidah ushuliyah dan fiqhiyah)..., h. 175.

79 Usman, Kaidah-Kaidah Istinbath Hukum Islam (kaidah-kaidah ushuliyah dan fiqhiyah)..., h. 175

126

Dokumen terkait