• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tehnik dan berbagai cara sedasi Persiapan Pasien

Kesimpulan: Sepuluh Prinsip Pelayanan Bedah

F. Tehnik dan berbagai cara sedasi Persiapan Pasien

PEMERINTAH KABUPATEN PUNCAK

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH ILAGA

Alamat : Kp. Kago/ Kibogolome, Ilaga Email : [email protected]

- Melakukan informed consent kepada pasien dan keluarga.

- Melakukan anamnesis kepada pasien.

- Melakukan evaluasi kesehatan untuk memastikan bahwa tidak ada kontraindikasi sebelum pasien menjalani tindakan.

- Bila tindakan tersebut dilakukan secara elektif, anjurkan untuk berpuasa 8 jam sebelum tindakan dilakukan.

- Pasien diperkenankan minum air biasa hingga 4 jam sebelum menjalani tindakan.

Persiapan Pelaksana

- Memahami dosis obat-obat sedasi.

- Memahami tata laksana jalan nafas dan dapat melakukan bantuan kardiovaskular.

- Mampu menyelamatkan pasien yang mengalami sedasi lebih dalam daripada yang telah direncanakan.

- Kompeten melakukan tatalaksana reversal sedasi dalam menangani dan mengatasi komplikasi yang timbul selama berlangsungnya sedasi.

-

Farmokologi obat sedasi dan penggunaan zat reversal (antidote-nya) Midazolam - Dosis awal: 0,02-0,1 mg/kgBB IV.

- Dosis ulangan dapat diberikan bila sedasi diperlukan lebih lanjut 25% dari dosis awal, diberikan setelah 3-5 menit kemudian dan tidak melebihi 2,5 mg/dosis.

Kerja obat direversed oleh flumazenil, tetapi hanya digunakan dalam situasi yang mengancam hidup sebagai reversal dengan flumazenil dapat menyebabkan kejang.

Propofol

- Dosis awal: 0,5-1 mg/kgBB IV sebagai loading dose

- Dosis ulangan: dapat diberikan dengan menaikkan dosis 0,5 mg/kgBB, tiap 3-5 menit.

Peryaratan pemantauan pasien

Cara memantau pasien sedasi yaitu dengan menggunakan form sedasi yang meliputi:

• Tanda-tanda vital sebelum, selama berlangsungnya prosedur.

• Observasi keadaan umum pasien.

• Monitor kelancaran jalan nafas.

• Monitor pasien terhadap stimulus fisik dan instruksi verbal.

• Monitor setelah tindakan sedasi dengan menggunakan skor alderette, bila skor >8 pasien boleh pindah ruangan atau pulang.

• Bertindak jika ada komplikasi

Komplikasi resiko yang dapat timbul pada pasien yang sedang menjalani prosedur ini diantaranya :

• Hipotensi.

• Hipoksia.

• Bradikardia.

• Disritmia jantung.

• Depresia pernafasan.

Staf lain yang kompeten dapat melakukan pemantauan dibawah supervisi secara terus menerus terhadap parameter fisiologis pasien dan memberikan bantuan dalam

PEMERINTAH KABUPATEN PUNCAK

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH ILAGA

Alamat : Kp. Kago/ Kibogolome, Ilaga Email : [email protected]

hal tindakan resusitasi. Orang yang bertanggung jawab melakukan monitoring harus kompeten :

• Pemonitoran yang diperlukan.

• Bertindak jika ada komplikasi.

• Penggunaan zat reversal ( Anti dot ).

• Kriteria pemulihan.

Lokasi Pemberian Sedasi :.

a. Sedasi Sedang dapat dilakukan di ruang tindakan khusus, seperti di ruang operasi, ruang bersalin. Tindakan sedasi sedang tersebut hanya dapat dilakukan oleh dokter anestesi.

b. Sedasi Dalam dapat dilakukan pada ruang operasi dan harus dilakukan oleh dokter spesialis anestesi. Yang menentukan kondisi pasien berdasarkan American Society of Anaesthesiologist adalah dokter yang akan melakukan sedasi. Dokter umum dapat membantu proses pemberian sedasi ringan, sedang dan dalam untuk kondisi life saving.

Pra Sedasi

Asesmen pra sedasi membantu menemukan faktor yang dapat berpengaruh pada respon pasien terhadap tindakan sedasi dan juga dapat ditemukan hal penting dari hasil monitor selama dan sesudah sedasi. Profesional pemberi asuhan yang kompeten dan berwenang melakukan asesmen pra sedasi sebagai berikut :

- Mengidentifikasi setiap permasalahan saluran pernafasan yang dapat mempengaruhi jenis sedasi.

- Evaluasi pasien terhadap resiko tindakan sedasi.

- Merencanakan jenis sedasi dan tingkat kedalaman sedasi yang diperlukan pasien berdasar sedasi yang diterapkan.

- Pemberian sedasi secara aman.

- Evaluasi dan menyimpulkan temuan monitor selama dan sesudah sedasi. Cakupan dan isi asesmen dibuat berdasar atas Panduan Praktek Klinis dan regulasi yang ditetapkan oleh rumah sakit.

Dokter spesialis anaestesi melakukan asesmen pra sedasi dalam 3 jam terakhir sebelum dilakukan pemberian sedasi sedang dalam, kecuali pada kasus cito.

Syarat-syarat pelayanan sedasi dapat berlangsung, hal dibawah ini harus terpenuhi Dokter yang akan melakukan sedasi :

a. Melakukan asesmen pra sedasi 3 jam sebelum tindakan anaestesi, kecuali pada tindakan operasi cito.

b. Pasien dan atau keluarga atau pihak lain yang berwenang yang memberikan keputusan dijelaskan tentang resiko, keuntungan dan alternatif tindakan sedasi (Informed consent).

c. Pasien dan atau keluarga atau pihak lain yang berwenang diberi edukasi tentang pemberian analgetika pasca tindakan sedasi.

d. Melakukan pemeriksaan ulang sebelum induksi.

PEMERINTAH KABUPATEN PUNCAK

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH ILAGA

Alamat : Kp. Kago/ Kibogolome, Ilaga Email : [email protected]

e. Menginstruksikan dan memimpin pemberian sedasi berdasarkan hasil penilaian awal sebelum prosedur dilakukan.

f. Berada di tempat dan mampu merespon perubahan status pasien dan menangani komplikasi sedasi.

Persiapan alat

Pastikan bahwa peralatan resusitasi dan pemantauan pasien telah tersedia di tempat dan selama perpindahan pasien, bila diperlukan. Pastikan obat emergensi sudah tersedia atau berada pada lokasi yang sedekat mungkin dengan area sedasi.

Berikan penjelasan mengenai tindakan yang akan dilakukan pada pasien dan keluarga, resiko dan efek samping yang mungkin terjadi akibat pemberian sedasi, alternatif pemilihan jenis anestesi, serta penggunaan darah, produk atau komponen darah kepada pasien / keluarga pasien .

g. Pemberian Sedasi Pada Pasien Dewasa

- Pada pelaksanaan pelayanan sedasi dilakukan oleh dokter anaestesi dan perawat anaestesi. Pada tindakan dengan lokal anaestesi dapat diberikan oleh dokter umum, dokter spesialis, dokter gigi. Anaestesi lokal dapat dilakukan diruang VK, dan Kamar Operasi.

- Apabila terdapat pemberian anaestesi lokal yang disertai penambahan obat sedasi, maka pemberiannya harus diberikan dan didampingi oleh dokter spesialis anaestesi.

h. Konversi Anaestesi

Konversi anaestesi adalah perubahan rencana anaestesi, dimana yang semula dilakukan anaestesi lokal berubah menjadi anaestesi regional atau general. Atau dari regional ke anaestesi general.

i. Pasca Sedasi

- Pasca sedasi sedang dan dalam harus dilakukan monitoring tanda- tanda vital setiap 1 jam dan didokumentasikan dalam rekam medis pasien.

- Gunakan sistem skor Aldrette untuk menentukan apakah pasien sudah boleh pindah ke ruangan, atau sesuai instruksi dokter spesialis anestesi. Total Skor Aldrette untuk respirasi, saturasi O2, kesadaran, sirkulasi dan aktivitas yang dianggap sebagai kriteria boleh pindah ruangan adalah > 9 (dewasa).

- Berikan instruksi pasca sedasi pada keluarga pasien, baik dalam bentuk verbal maupun tertulis, mencakup diet, obat-obatan, aktivitas pasien, komplikasi yang masih mungkin terjadi dan tindakan yang harus dilakukan apabila komplikasi terjadi.

- Pastikan bahwa semua proses yang dilalui sudah tercatat dengan baik di dalam rekam medik pasien dalam 24 jam setelah dilakukan tindakan.

PEMERINTAH KABUPATEN PUNCAK

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH ILAGA

Alamat : Kp. Kago/ Kibogolome, Ilaga Email : [email protected]

KRITERIA PEMULIHAN PASIEN PASCA ANAESTESI / SEDASI ALDRETTE SCORE : untuk pasien dewasa

Monitoring pemulihan pasien pasca anastesi dan sedasi dengan menggunakan Aldrette Score dilakukan setiap 1 jam sekali, dengan criteria sebagai berikut:

N o

OBJEK PENILAIAN

KRITERIA SKO

R

SKO R PAS 1 AKTIVITAS 1. Mampu menggerakkan 4 anggota

gerak secara spontan atau sesuai perintah.

2. Mampu menggerakkan 2 anggota gerak secara spontan atau sesuai perintah.

3. Belum bisa menggerakan anggota gerak secara spontan atau sesuai perintah.

2

1 0

2 RESPIRASI 1. Mampu bernapas dalam atau batuk.

2. Sesak atau pernapasan terganggu.

3. 3. Apnoe.

2 1 0 3 SIRKULASI 1. Tekanan darah 20 % dari tekanan

darah pra- anestesi.

2. Tekanan darah 20 – 50

% dari tekanan darah pra-anestesi.

3. Tekanan darah > 50%

dari tekanan darah pra- anestesi.

2 1 0

4 KESADARAN Sadar penuh.

Bisa dipanggil atau dibangunkan.

Tidak memberi respon/

jawaban.

2 1 0

5 WARNA KULIT 1. Merah muda.

2. Pucat, ikterus.

3. Sianosis.

2 1 0

PEMERINTAH KABUPATEN PUNCAK

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH ILAGA

Alamat : Kp. Kago/ Kibogolome, Ilaga Email : [email protected]

PENGENDALIAN MUTU

1. Prinsip dasar upaya peningkatan mutu pelayanan adalah pemilihan aspek yang akan ditingkatkan dengan menetapkan indikator, kriteria, serta standar yang akan digunakan untuk mengukur mutu pelayanan.

2. Program Mutu dan Keselamatan pasien pada pelayanan anaestesi RSUD Ilaga mengacu pada Pedoman Indikator Mutu RS, yaitu:

a. Pelaksanaan asesmen pra sedasi dan pra anaestesi meliputi : 1) Kelengkapan asesmen pra sedasi dan pra anaestesi 2) Kelengkapan laporan anaestesi dan sedasi

b. Monitoring dan evaluasi proses monitoring status fisiologis selama anaestesi

1) Kelengkapan pendokumentasian status fisiologis selama Anestesi c. Monitoring dan evaluasi proses pemulihan anaestesi dan sedasi

dalam

1) Kelengkapan pendokumentasian proses pemulihan anaestesi dan sedasi dalam

2) Efek samping obat anaestesi dan sedasi

d. Evaluasi ulang bila terjadi konversi tindakan dari lokal/regional ke general

1) Kelengkapan pendokumentasian tindakan konversi.

PEMERINTAH KABUPATEN PUNCAK

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH ILAGA

Alamat : Kp. Kago/ Kibogolome, Ilaga Email : [email protected]

RSUD ILAGA

PANDUAN PRAKTEK KLINIS (PPK) TATA LAKSANA KASUS

CARDIAC ARREST (ICD 10: I46) (Henti Jantung)

PENGERTIAN Cardiac Arrest adalah kondisi kegawatdaruratan karena berhentinya aktivitas jantung secara mendadak yang mengakibatkan kegagalan sistem sirkulasi. Hal ini disebabkan malfungsi mekanik jantung atau elektrik jantung. Kondisi yang mendadak dan berat ini mengakibatkan kerusakan organ.

ANAMNESIS 1. Menanyakan gejala prodromal yang dapat berupa nyeri dada, sesak, berdebar dan lemah.

2. Mencari penyebab terjadinya cardiac arrest

a. 5 H (hipovolemia, hipoksia, hidrogen ion atau asidosis, hiper atau hipokalemia dan hipotermia).

b. 5 T (tension pneumothorax, tamponade jantung, tablet atau overdosis obat, trombosis koroner, dan trombosis pulmoner).

PEMERIKSAAN FISIK

Pada pemeriksaan tanda vital ditemukan : 1. Pasien tidak sadar.

2. Ada atau tidak ada nafas.

3. Tidak teraba denyut nadi di arteri-arteri besar (karotis dan femoralis).

KRITERIA DIAGNOSIS

Diagnosis ditegakkan berdasarkan:

1. Anamnesis untuk mengetahui penyebab dari terjadinya henti jantung / cardiac arrest.

2. Pemeriksaan fisik untuk menegakkan diagnosis dari henti jantung / cardiac arrest.

DIAGNOSIS KERJA Cardiac Arrest (I46) DIAGNOSIS

BANDING

- PEMERIKSAAN

PENUNJANG

1. Elektrokardiogram (EKG) : dilakukan pemeriksaan EKG 12 sadapan, yang dikerjakan dalam waktu 10 menit sejak kedatangan pasien di ruang gawat darurat. Gambaran EKG biasanya menunjukkan gambaran VF (Ventricular Fibrillation) atau VT (Ventricular Tachycardia).

2. Laboratorium yaitu pemeriksaan marka jantung, hematologi rutin, gula darah sewaktu, elektrolit, fungsi ginjal, profil lipid.

3. Radiologi foto toraks PA.

PENATALAKSANAAN Non Medikamentosa

1. Pertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit.

Medikamentosa

1. Melakukan resusitasi jantung paru pada pasien, sesegera mungkin tanpa menunggu anamnesis dan EKG

PEMERINTAH KABUPATEN PUNCAK

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH ILAGA

Alamat : Kp. Kago/ Kibogolome, Ilaga Email : [email protected]

2. Pasang oksigen dan IV line

EDUKASI Memberitahu keluarga mengenai kondisi pasien dan tindak lanjut dari tindakan yang telah dilakukan, serta meminta keluarga untuk tetap tenang pada kondisi tersebut.

PROGNOSIS Prognosis umumnya dubia ad malam, tergantung pada waktu dilakukannya penanganan medis.

RENCANA TINDAK LANJUT

Monitor selalu kondisi pasien hingga dirujuk ke spesialis. Setelah sirkulasi spontan kembali (Return of Spontaneus Circulation/ROSC) pasien dapat dirujuk untuk talaksana lebih lanjut.

TINGKAT EVIDENS TINGKAT

REKOMENDASI PENELAAH KRITIS

KEPUSTAKAAN 1. O'Rouker. Walsh. Fuster. Hurst's The Heart Manual of Cardiology. 12th Ed.McGraw Hill.

2009.

2. Sudoyo, W.Aaru, B.S. Ilmu Penyakit Dalam Jilid III Edisi IV. Jakarta: FKUI. 2007.

3. Panchal, Ashish R., et al. "Part 3: Adult Basic and Advanced Life Support: 2020 American Heart Association Guidelines for Cardiopulmonary Resuscitation and Emergency Cardiovascular Care." Circulation 142.16_Suppl_2 (2020): S366-S468.

PEMERINTAH KABUPATEN PUNCAK

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH ILAGA

Alamat : Kp. Kago/ Kibogolome, Ilaga Email : [email protected]

PEMERINTAH KABUPATEN PUNCAK

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH ILAGA

Alamat : Kp. Kago/ Kibogolome, Ilaga Email : [email protected]

RSUD ILAGA PANDUAN PRAKTEK KLINIS (PPK)

TAHUN 2024

SYOK ANAFILAKTIK No. Dokumen

…………..

Tanggal Terbit 20 Agustus 2023

No Revisi 0

Halaman 1/3

1. Pengertian (Definisi) Syok anafilaktik merupakan suatu kondisi reaksi hipersensitivitas sistemik,akut, dan mengancam nyawa. Anafilaksis merupakan bentuk terberat dari reaksi alergi obat. Reaksi anafilaktik adalah suatu respons hipersensitivitas yang diperantarai oleh Immunoglobulin E (hipersensitivitas tipe I). Hal ini disebabkan oleh adanya suatu reaksi antigen-antibodi yang timbul segera setelah suatu antigen masuk dalam sirkulasi.

2. Anamnesis 1. Gelisah

2. Lemah

3. Keringat Dingin

4. Kelainan Kulit : urtikaria, eritema, edema periorbita, hidung tersumbat dan gatal

5. Angioedem 6. Pucat 7. Sianosis 8. Sesak Nafas 9. Mual, muntah 10. Riwayat alergi

11. Riwayat penggunaan obat-obatan minum dan suntik 3. Pemeriksaan Fisik Pasien tampak sesak, frekuensi nafas meningkat,

sianosis karena edema laring dan bronkospasme.

Hipotensi merupakan gejala yang menonjol pada syok anafilaktik. Adanya takikardi, edema periorbital, mata berair, hiperemi konjungtiva. Tanda prodromal pada kulit berupa urtikaria dan eritema.

4. Kriteria Diagnosis Kriteria pertama adalah onset akut dari suatu penyakit (beberapa menit hingga beberapa jam) dengan terlibatnya kulit, jaringan mukosa atau kedua-duanya (misalnya bintik-bintik kemerahan pada seluruh tubuh, pruritus, kemerahan, pembengkakan bibir, lidah dan uvula) dan salah satu dari repiratory compromise (misalnya sesak nagas, bronkospasme, stridor, wheezing) dan penurunan tekanan darah atau gejala yang berkaitan dengan disfungsi organ sasaran (misalnya hipotonia,sinkop, inkotenensia)

PEMERINTAH KABUPATEN PUNCAK

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH ILAGA

Alamat : Kp. Kago/ Kibogolome, Ilaga Email : [email protected]

yang terjadi secara mendadak setelah terpapar allergen yang spesifik, yaitu keterlibatan jaringan mukosa kulit, respiratory compromise, penurunan tekanan darah atau gejala yang berkaitan dengan gejala gastrointestinal

Kriteria ketiga adalah terjadi penurunan tekanan darah setelah terpapar pada allergen yang diketahui bebrapa menit hingga beberapa jam.

5. Diagnosis Kerja Syok Anafilaksis 6. Diagnosis Banding 1. Syok Hipovolemik

2. Syok Septik 3. Reaksi Vasovagal 4. Infark Miokard Akut 5. Hipoglikemik 7. Pemeriksaan Penunjang 1. Darah Rutin

2. Urin Rutin 3. X-ray thorax 4. Rapid Antigen

8. Tata Laksana 1. Posisi Trendeleburg atau berbaring dengan kedua tungkai diangkat (diganjal dengan bantal) akan membantu menaikkan venous return sehingga tekanan darah ikut meningkat.

2. Pemberian oksigen 3-5 lpm 3. Pemasangan infus

Cairan plasma expander (dextran) merupakan pilihan utama guna mengisi volume intravaskuler.

RL atau NaCl fisiologis dapar dipakai sebagai cairan pengganti.

4. Pemberian adrenalin 0,3-0,5 ml dari larutan 1:1000 diberikan secara IM yang dapat diulangi 5-10 menit.

Jika respon pemberian secara IM kurang efektif, dapat diberikan seca IV dengan dosis 0,1-0,2 ml adrenalin dilarutkan dalam 10 ml NaCl diberikan perlahan

5. Aminofilin dpat diberikan dengan hati-hati apabila bronkospasme belum hilang dengan pemberian adrenalin. 250 mg aminofilin diberikan perlahan selama 10 menit IV

6. Antihistamin dan kortikosteriod merupakan pilihan kedua setelah adrenalin. Antihistamin yang biasa digunakan adalah difenhidramin HCl 5-20 mg IV dan golongan kortikosteroid dapat digunakan dexamethasone 5-10 mg IV atau hidrokortison 100- 250 mg IV

7. Jika tidak teratasi gunakan agen vasopressor atau inotropic

8. Menghentikan agen paparan

9. Edukasi 1. Mengenai pengenalan gejala awal dan

penanganan segera untuk dibawa ke RS

PEMERINTAH KABUPATEN PUNCAK

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH ILAGA

Alamat : Kp. Kago/ Kibogolome, Ilaga Email : [email protected]

2. Mengenai penghindaran terhadap faktor pencetus dan faktor yang memperberat gejala

3. Catatan daftar riwayat alergi obat atau makanan

10. Prognosis a. Ad Vitam : Dubia at Bonam b. Ad Sanationam : Dubia at Bonam c. Ad Functionam : Dubia ad Bonam 11. Tingkat Evidens* I/II/III/IV

12. Tingkat

Rekomendasi* A/B/C

13. Penelaah Kritis* PENYAKIT DALAM

14. Indikator Klinis 1. 90% pasien yang mengalami syok anafilatik memerlukan monitoring hemodinamik

2. 90% pasien yang mengalami syok anafilaktik memerlukan perawatan segera dengan tindakan yang cepat dan tepat

15. Kepustakaan 1. Rengganis I., Sundaru H., Sukmana N., Mahdi N.

Renjatan Anafilaktik. Dalam: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III Edisi V. Jakarta : Interna Publishing. 2009:

257-261

2. American Academy Of Allergy Asthma & Immunology.

(2020)

PEMERINTAH KABUPATEN PUNCAK