• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Hasil Penelitian

3. Uji Hipotesis

a. Uji Parsial (Uji T)

Uji T (uji individual) adalah salah satu pengujuian hipotesis yang digunakan untuk mengetahui apakah masing-masing variabel independen (secara parsial) mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependennya dengan asumsi variabel independen yang lain dianggap konstan Uji-T (uji individual). Dalam penelitian ini menggunakan X1(EPS) , X2(ROE), dan X3 (ROA) sebagai variabel independen dan Y (Harga Saham) sebagai variabel dependent.

Pengaruh ini perlu diuji untuk melihat apakah model regresi ini dapat menunjukkan hasil dalam pengujian parsial (Uji T) atau tidak. Hipotesis yang akan diuji sebagai berikut. :

H0 : Tidak semua variabel independen berpengaruh terhadap secara parsial/statistic terhadap variabel dependen

H1 : Semua variabel independen berpengaruh terhadap secara parsial/statistic terhadap variabel dependen

Adapun dasar pengambilan keputusan yakni:

Jika T-Hitung < T-Tabel : H0diterima dan H1ditolak Jika T-Hitung > T-Tabel : H0diterima dan H1ditolak

30 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Objek Penelitian

Secara historis, pasar modal telah hadir jauh sebelum Indonesia merdeka. Pasar modal atau bursa efek telah hadir sejak jaman kolonial Belanda dan tepatnya pada tahun 1912 di Batavia. Pasar modal ketika itu didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda untuk kepentingan pemerintah kolonial atau VOC.

Meskipun pasar modal telah ada sejak tahun 1912, perkembangan dan pertumbuhan pasar modal tidak berjalan seperti yang diharapkan, bahkan pada beberapa periode kegiatan pasar modal mengalami kevakuman. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor seperti perang dunia ke I dan II, perpindahan kekuasaan dari pemerintah kolonial kepada pemerintah Republik Indonesia,dan berbagai kondisi yang menyebabkan operasi bursa efek tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya.

Pemerintah Republik Indonesia mengaktifkan kembali pasar modal pada tahun 1977, dan beberapa tahun kemudian pasar modal mengalami pertumbuhan seiring dengan berbagai insentif dan regulasi yang dikeluarkan pemerintah. Hingga pada tahun 2007 pemerintah memutuskan untuk menggabungkan Bursa Efek Jakarta sebagai pasar saham dengan Bursa Efek Surabaya sebagai PasarObligasi dan Derivative menjadi Bursa Efek Indonesia (BEI) dan mulai mengoperasikannya pada tanggal akhir tahun 2007.

Gambar 4.1 Struktur Organisasi BEI

sumber :www.idx.com

Bursa Efek Indonesia memiliki misi menjadi bursa yang kompentitif dengan kredibilitas tingkat dunia. Adapun misi bursa yaitu enciptakan infrastruktur pasar keuangan yang terpercaya dan kredibel untuk mewujudkan pasar yang teratur dan efisien, dan dapat diakses oleh semua pemangku kepentingan melalui produk dan layanan yang inovatif.

Objek yang ditelitiadalah Bursa Efek Indonesia (BEI). Dalam penelitian ini teknik penarikan sampel dilakukan secara sensus dengan penetapan kriteria-kriterian tertentu dimana anggota populasi yang dijadikan sebagai sampel sebanyak 35perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

a. Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah data variabel independen dan variabel dependen pada persamaan regresi berdistribusi normal atau tidak.

Metode yang digunakan yaitu dengan uji jarque-berra (JB test) pengujian hipotesis normal. Apabila nilai probabilitas JBtest > 0,05 maka data berdistribusi normal dan sebaliknya apabila < 0,05 maka data tidak berdistribusi normal.

Dalam penelitian ini dalam menentukan uji normalitas yaitu variabel independen terdiri dari EPS, ROE dan ROA, serta harga saham variabel dependent, maka diperoleh hasilsebagai berikut.

Gambar 4.1 Uji Normalitas

Sumber: Data diolah, 2022

Berdasarkan gambar di atas diperoleh nilai jarque-bera (JB) 1,897231 dengan P value sebesar 0,387277, hal ini menunjukan bahwa nilai P value 0,387277 > 0,05, artinya data berdistribusi normal.

b. Uji Multikolinearitas

Uji multikolinearitas bertujuan untuk mengetahui hubungan tiap variabel independen secara linear. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel independen. Apabila terdapat gejala dalam uji multikolinearitas, maka nilai koefisien dari sebuah variabel independen bisa berubah apabila terdapat variabel yang ditambahkan atau dikurangkan.

Multikolinearitas dapat dilihat dengan menganalisa matriks korelasi variabel independen. Apabila terdapat korelasi cukup besar dari variabel independen (>

0,90) dapat dikatakan bahwa hal ini mengindikasikan adanya multikolinearitas.

Tabel 4.1 Uji Multikolinearitas

Y X1 X2 X3

34

Y 1.000000 0.445354 0.176794 0.251206 X1 0.445354 1.000000 0.209345 0.366601 X2 0.176794 0.209345 1.000000 0.231051 X3 0.251206 0.366601 0.231051 1.000000 sumber : data diolah, 2022

Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa setiap variabel indepen memiliki kofisien korelasi <0,90, hal tersebut berarti bahwa model penelitian ini terbebas dari multikolinearitas yang memiliki nilai kofisesen variabel >0,90..

c. Uji Heterokedastistas

Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji ketidaksamaan varian dari nilai residual satu pengamatan ke pengamatan lain. Uji heteroskedastisitas ini digunakan untuk mendeteksi ada atau tidaknya penyimpangan asumsi klasik.

Dalam Penelitian ini menerapkan metode Uji Breusch Pagan Godfeydimana apabila nilai Probabilitas Chi-Square pada Obs*R-Squared lebih besar 0,05 maka tidak ada masalah heterokesatisitas atau model regresi bersifat Homoskedastisitas.

Tabel 4.2 Uji Heteroskedastisitas

Heteroskedasticity Test: Breusch-Pagan-Godfrey

F-statistic V 0.279976 Prob. F(3,101) 0.8397 Obs*R-squared 0.865991 Prob. Chi-Square(3) 0.8336 Scaled explained

SS 2.415436 Prob. Chi-Square(3) 0.4908 sumber: data diolah, 2022

Berdasarkan tabel di diperoleh nilai probabilitas Chi-Square pada Obs*R- Squared sebesar 0.8421>0,05 sehingga dapat disimpulkandalam penelitian ini tidak terdapat masalah heteroskedastisitas.

d. Uji Autokorelasi

Uji Autokorelasi merupakan metode yang bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi ditemukan adanya korelasi antara variabel independen.Autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan satu sama lainnya. Untuk mendeteksi ada atau tidaknya autokorelasi dapat dilakukan dengan menggunakan uji Durbin-Watson .

Tabel 4.3 Tabel Uji Autokorelasi Metode Durbin-Watson

sumber: data diolah. 2022

Berdasarkan tabel di atas, uji autokorelasi menunjukkan hasil bahwa nilai Durbin-Watson sebesar 2, 676720dengan nilai dL= 1,6237 dan dU = 1,7411.

Dasar Perhitungan uji Durbin Watson apabila dU<DW<(K-dU). Dalam kasus ini R-squared 0.934514 Mean dependent var 1590.176 Adjusted R-squared 0.898350 S.D. dependent var 2228.084 S.E. of

Regression 710.3704 Akaike info criterion 16.24399 Sum squared resid 33809949 Schwarz criterion 17.20447 Log likelihood -814.8096 Hannan-Quinn criter. 16.63320 F-statistic 25.84109 Durbin-Watson stat 2.676720 Prob(F-statistic) 0.000000

36

hasil uji Durbin Watson menunnjukkan 1,7411 <2, 676720> 1,2589, dimana hasil ini mengindikasikan terjadinya masalah autokorelasi. Untuk mengatasi masalah autokorelasi tersebut maka diperlukan uji tambahan , yaitu dengan melakukan uji Run Test. Uji yang bertujuan untuk melihat apakah data residual terjadi secara random atau tidak (sistematis). Adapun hasil output uji Run Test adalah sebagai berikut:

Tabel 4.4 Tabel Uji Autokorelasi Metode Run Test

C1

Last updated: 01/09/22 - 09:36

R1 23.00000

R2 2.72E-05

sumber : data diolah, 2022

Berdasarkan tabel di nilai pobabilitas R2 sebesar 2.72E-05>0,05 maka dapat disimpulkan bahwa model regresi bebas dari masalah autokorelasi atau tidak terjadi autokorelasi. Dengan demikian, masalah autokorelasi dapat teratasi menggunakan uji Run Tes .

2. Analisis Regresi Linear Data Panel

Common Efect Model merupakan pendekatan analisis data yang memperhitungkan data time series dan cross sectionserta menunjukkan kondisi yang sesungguhnya dengan menggunakan metode Ordinary Least Squary (OLS) dalam mengestimasi model data panel.

Tabel 4. 5 Uji Common EffectModel

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

C 1238.137 207.2885 5.973015 0.0000 X1 2.904024 0.700012 4.148536 0.0001 X2 2.966507 3.719092 0.797643 0.4269 X3 104.0354 113.1493 0.919453 0.3600 R-squared 0.212237 Mean dependent var 1590.176 Adjusted R-

squared 0.188838 S.D. dependent var 2228.084 S.E. of

regression 2006.714 Akaike info criterion 18.08374 Sum squared

resid 4.07E+08 Schwarz criterion 18.18484 Log likelihood -945.3961

Hannan-Quinn criter. 18.12470 F-statistic 9.070358 Durbin-Watson stat 0.293736 Prob(F-statistic) 0.000023

sumber: data diolah, 2022

Berdasarkan hasil pengujian model regresi data panel Common Effect Model, secara statistik menunjukan bahwa semua nilai prob X1(EPS) sebesar0.0001, nilai prob X2 (ROE) sebesar 0,4269 , dan nilai prob X2 (ROA) sebesar 0,3600.

2. Fixed Effect Model

Fixed Effect Model merupakan teknikpendekatan yang menunjukkan perbedaan antar subjek, walaupun koefisien regresi sama. Teknik ini berspekulasi bahwa satu subjek memilki konstanta dan koefisien regresi yang tetap besarnya untuk periode waktu (Time Invariant).

Tabel 4.6 Tabel Uji Fixed EffectModel

38

Dependent Variable: Y

Method: Panel Least Squares Date: 01/09/22 Time: 00:06 Sample: 2018 2020

Periods included: 3

Cross-sections included: 35

Total panel (balanced) observations: 105

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

C 346.1535 322.4100 1.073644 0.2868 X1 13.81788 3.352988 4.121064 0.0001 X2 -0.024136 1.609048 -0.015000 0.9881 X3 -271.7765 78.32189 -3.469994 0.0009

Effects Specification Cross-section fixed (dummy variables)

R-squared 0.934514 Mean dependent var 1590.176 Adjusted R-squared 0.898350 S.D. dependent var 2228.084 S.E. of regression 710.3704 Akaike info criterion 16.24399 Sum squared resid 33809949 Schwarz criterion 17.20447 Log likelihood -814.8096 Hannan-Quinn criter. 16.63320 F-statistic 25.84109 Durbin-Watson stat 2.676720 Prob(F-statistic) 0.000000

sumber: data diolah, 2022

Berdasarkan hasil pengujian model regresi data panel Common Effect Model, secara statistik menunjukan di mana nilai prob X1 (EPS) sebesar0.0001, nilai prob X2 (ROE) sebesar 0,9881, dan nilai prob X2 (ROA) sebesar 0,0009.

3. Random Effect Model

Teknik ini bertujuan untuk mengatasi kelemahan Fixed EffectModel yang menggunakan variabel dummy sehingga mampu mencegah heteroskedastisitas, dengan ketentuan yang harus dipenuhi yaitu Cross Section mesti lebih besar ketimbang jumlah koefisiennya (ebih besar daripada banyaknya koefisien).

Tabel 4.7 Tabel Uji Random Effect Model

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

C 1210.426 344.3803 3.514795 0.0007 X1 4.431116 1.064237 4.163657 0.0001 X2 0.504329 1.588152 0.317557 0.7515 X3 -145.4174 68.96251 -2.108644 0.0374

Effects Specification

S.D. Rho

Cross-section random 1905.359 0.8780

Idiosyncratic random 710.3704 0.1220

Weighted Statistics

R-squared 0.145012 Mean dependent var 334.6244 Adjusted R-squared 0.119617 S.D. dependent var 790.5962 S.E. of regression 741.8065 Sum squared resid 55577958 F-statistic 5.710123 Durbin-Watson stat 1.691564 Prob(F-statistic) 0.001189

Unweighted Statistics

R-squared 0.151661 Mean dependent var 1590.176 Sum squared resid 4.38E+08 Durbin-Watson stat 0.214647 sumber : data diolah, 2022

Berdasarkan hasil pengujian model regresi data panel Random Effect Model, secara statistik menunjukan di mana nilai prob X1 (EPS) sebesar0.0001, nilai prob X2 (ROE) sebesar 0,9881, dan nilai prob X2 (ROA) sebesar 0,0009.

b. Uji Signifikan Model Estimasi

Untuk menentukan model data panel yang sesuai untuk pengujian regresi linear yang dibutuhkan dalam penelitian ini maka terdapat dua pendekatan yaitu : 1. Uji Chow

Uji Chow merupakan pendekatan yang digunakan dalam menentukan danmembandingkan regresi model data panel yang paling tepat antara Common effect atau Fixed Effect untuk mengestimasi data panel Adapun hipotesis dalam Uji Chow. Adapun hipostesis dalam uji Chow, sebagai berikut.

40

H0: : Common EffectModel (CEM) merupakan model yang tepat dalam menguji

regresi data panel

H1 : Fixed EffectModel (FEM) merupakan model yang tepat dalam menguji regresi data panel

Tabel 4.8 Uji Chow

Effects Test Statistic d.f. Prob.

Cross-section F 21.734610 (34,67) 0.0000 Cross-section Chi-square 261.173037 34 0.0000 sumber : data diolah, 2022

Berdasarkan tabel di atas menunjukkan nilai probabilitas Cross-Section Chi- Square0,0000< 0,05,hal ini menunjukkan bahwa H0

ditolak dan H1 diterima. Maka ksimpulan yang dapat ditarik adalah Fixed Effect Model lebih tepat digunakan untuk model regresi menggunakan data panel . 2. Uji Housman

Uji Housman merupakan pendekatan yang digunakan dalam menentukan danmembandingkan regresi model data panel yang paling tepat antara Random Effect atau Fixed effectuntuk mengestimasi data panel. Adapun hipotesis dalam Uji Housman. Adapun hipostesis dalam uji Housman, sebagai berikut.

H0 : Random EffectModel merupakan model yang tepat dalam menguji regresi data panel

H1 : Model Fixed Effect (FEM) merupakan model yang tepat dalam menguji regresi data panel

Tabel 4.9 Tabel Uji Housman

Test Summary

Chi-Sq.

Statistic

Chi-Sq.

d.f. Prob.

Cross-section random 12.136907 3 0.0069

sumber: data diolah, 2022

Berdasarkan tabel di atas menunjukkan nilai probabilitas Cross-Section Random0,0069< 0,05,hal ini menunjukkan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima.

Adapun kesimpulan yang dapat ditarik adalah Fixed Effect Model lebih tepat digunakan untuk model regresi menggunakan data panel.

3. Uji Hipotesis a. Uji Parsial (Uji T)

Uji T (uji individual) adalah salah satu pengujian hipotesis yang beertujuan untuk mengetahui apakah masing-masing variabel independen (secara parsial) mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependennya dengan asumsi variabel independen yang lain dianggap konstan Uji-T (uji individual).

Dalam penelitian ini menggunakan X1 (EPS) , X2 (ROE), dan X3 (ROA) sebagai variabel independen dan Y (Harga Saham) sebagai variabel dependent. Berikut hasil data olah uji parsial.

Tabel 4. 10 Hipotesis Uji Parsial (T)

sumber: data diolah, 2022

Pada tabel diatas menunjukkan menunjukkan bahwa :

1. Berdasarkan tabel 4.10 di atas menunjukkan nilai kofisien EPS (X1) sebesar 13.81788 dan nilai probabilitas sebesar 0,0001 < 0,05. Hal tersebut menunjukkan bahwa dari nilai kofisien EPS berpengaruh positif dan dilihat dari nilai probabilitasnya menunjukkan pengaruh yang signifikan. Artinya

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

C 346.1535 322.4100 1.073644 0.2868 X1 13.81788 3.352988 4.121064 0.0001 X2 -0.024136 1.609048 -0.015000 0.9881 X3 -271.7765 78.32189 -3.469994 0.0009

42

pada saat EPS mengalami kenaikan 1 (satu) satuan maka akan mempengaruhi harga saham sebesar 13,81788. Jadi dapat dikatakan H1 diterima, EPS berpengaruh positif dan signifikan terhadap Harga Saham.

2. Berdasarkan tabel 4.10 di atas menunjukkan nilai kofisien ROE (X2) sebesar -0.024136 dan nilai probabilitas sebesar 0.9881 > 0,05. Hal tersebut menunjukkan bahwa dari nilai kofisien ROE berpengaruh negatif dan dilihat dari nilai probabilitasnya menunjukkan pengaruh yang tidak signifikan.

Artinya pada saat ROE mengalami kenaikan 1 (satu) satuan belum tentu akan mempengaruhi penjualan dan penawaran saham yang mengakibatkan terjadinya perubahan terhadap harga saham Jadi dapat dikatakan H2 ditolak, yaitu ROE berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham, tetapi ROE berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap harga saham.

3. Berdasarkan tabel 4.10 di atas menunjukkan nilai kofisien ROA (X3) sebesar -271.7765 dan nilai probabilitas sebesar 0.0009 < 0,05. Hal tersebut menunjukkan bahwa dari nilai kofisien ROA berpengaruh negatif dan dilihat dari nilai probabilitasnya menunjukkan pengaruh yang signifikan. Artinya pada saat ROA mengalami kenaikan 1 (satu) satuan maka akan mempengaruhi harga saham sebesar -271.7765. Jadi dapat dikatakan H3

ditolak, yaitu ROA berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Harga Saham.

D. Pembahasan Hasil Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kinerja keuanganyang diproxikan pada Earning Per Share (EPS), Return On Equity (ROE), dan Return On Asset (ROA) terhadap harga saham perusahaan sektor perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2018-2020. Pada penelitian ini menggunakan data sekunder

berupa laporan keuangan perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek indonesia.

Adapun metode yang digunakanmetode regresi linear menggunakan data panel dengan Software Eviews 10. .

1. Earning Per Share (EPS) berpengaruh positif signifikan terhadap harga saham pada perusahaan sektor perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2018-2020

Berdasarkan pengujian hipotesis menggunakan uji pasial (uji T) yang ditunjukkan pada tabel 4.10 bahwa Earning Per Share (EPS) berpengaruh positif dan signifikan terhadap Harga saham. Hal tersebut dilihat dari nilai probabilitasnya yang menunjukkan angka positif dan juga dari nilai probabilitasnya menunjukkan pengaruh signifikan.

Earning Per Share merupakan indikator yang paling sering diperhitungkan para investor sebelum mengambil keputusan berinvestasi karena semua hasil yang dapat tercapai oleh perusahaan berdampak secara langsung terhadap jumlah keuntungan yang diperoleh sesuai dengan jumlah saham yang dimiliki. Untung dan rugi perusahaan secara langsung tercermin di dalamnya.

Para calon pemegang saham tertarik dengan Earning Per Share yang besar karena merupakan indikator prestasi/pencapaian dari keberhasilan di suatu perusahaan. Maka semakin besar laba, semakin besar pula kemampuan perusahaan untuk membagikan keuntungan bagi pemegang sahamnya. Hal ini dapat meningkatkan permintaan akan saham, sehingga harga saham pun akan naik, dimana hasil ini sesuai dengan signaling theory yang memberikan sinyal baik pada investor.

Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Rahmadewi &

Abundanti, (2018) yang berjudul “Pengaruh EPS, PER, CR, dan ROE Terhadap Harga Saham Perbankan di Bursa Efek Indonsia” yang menyatakan bahwa EPS

44

berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Hasil penelitian ini juga didukung oleh penelitian yang dilakukan Datu & Maredesa (2017), yang menyatakan Earning Per Share (EPS) memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham perushaan, seta penelitian yang dilakukan oleh Hasil penelitian mengungkapkan bahwa semakin tinggi harga saham pada perusahaan maka, investor mengharapkan pertumbuhan deviden yang tinggi, investor puas dengan pendapatan yang tinggi, karena jika harga saham tinggi maka investor mendapatkan keuntungan yang tinggi, dan jika harga saham menurun maka investor hanya mendapatkan keuntungan yang sedikit.

Selanjutnya penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Alfiah (2017) dengan judul “Pengaruh Dps, Eps, Npm, Roa Terhadap Harga Saham Perusahaan Perbankan di BEI yang menyatakan bahwa EPS berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap harga saham, penelitian serupa juga dilakukan oleh Acep Halimi yang berjudul “Pengaruhs ROA, NPM, DAN EPS Terhadap Harga Saham Perbankan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) Periode 2015-2018 yang mengatakan bahwa EPS tidak mempunyai pengaruh signifikan terhadap harga saham.

Hal tersebut terlihat dari rata-rata EPS tiap tahunnya.mengalami naik turun tetapi harga saham terus mengalami peningkatan.kondisi ini menggambarkan bahwa kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba sangat rendah.

2. Return On Equity (ROE) berpengaruh positif signifikan terhadap harga saham pada perusahaan sektor perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2018-2020

Berdasarkan pengujian hipotesis menggunakan uji pasial (uji T) yang ditunjukkan pada tabel 4.10 bahwa Return On Equity berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap Harga saham. Hal tersebut dilihat dari nilai probabilitasnya yang

menunjukkan angka negatif dan juga dari nilai probabilitasnya menunjukkan pengaruh tidak signifikan. Dengan kata lain peningkatan atau penurunan Return On Equity tidak akan berpengaruh terhadap harga saham. Hal ini terjadi karena data perusahaan sektor perbankan yang menjadi objek penelitian memiliki data komponen yang tidak stabil setiap tahunnya selama 2018-2020.

Return On Equity merupakan rasio untuk mengukur laba bersih dengan modal sendiri. Rasio ini menunjukkan efisiensi penggunaan modal sendiri. Berdasarkan teori signal semakin tinggi nilai Return On Equity, tentunya akan menarik minat para investor untuk menanamkan modalnya pada perusahaan bersangkutan karena mengindikasikan bahwa perusahaan tersebut mempunyai kinerja yang baik dan akibatnya harga saham pun akan ikut tinggi.

Penelitian yang sejalan dengan penelitian yang dilakukan Utami & Darmawan, (2019) yang berjudul “Effect of DER, ROA, ROE, EPS and MVA on Stock Prices in Sharia Indonesian Stock Ind” menyatakan bahwa ROE tidak berpengaruh positif terhadap harga saham. Penelitian ini pun sejalan dengan penelitian Khoiriyah (2018) yang menyatakan bahwa ROE berpengaruh signifikan terhadap harga saham perusahaan .

Selanjutnya penelitian ini tidak sejalan sejalan dengan penelitian Rahmadewi &

Abundanti, (2018) yang berjudul “Pengaruh EPS, PER, CR, dan ROE Terhadap Harga Saham Perbankan di Bursa Efek Indonsia”, yang menyatakan ROE berpengaruh signifikan terhadap harga saham.

3. Return On Asset (ROA) berpengaruh positif signifikan terhadap harga saham pada perusahaan sektor perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2018-2020

46

Berdasarkan pengujian hipotesis menggunakan uji pasial (uji T) yang ditunjukkan pada tabel 4.10 bahwa Return On Asset berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Harga saham. Hal tersebut dilihat dari nilai probabilitasnya yang menunjukkan angka negatif dan juga dari nilai probabilitasnya menunjukkan pengaruh signifikan. Dengan kata lain peningkatan atau penurunan ROA akan berpengaruh terhadap harga saham.

Hal ini terjadi karena data perusahaan sektor perbankan yang menjadi objek penelitian memiliki data komponen yang tidak stabil setiap tahunnya selama 2018-2020. Selain itu, data penelitian ini juga menunjukan nilai ROA setiap perusahaan dari tahun 2018 – 2020 mengalami perubahan yang fluktuatif.

Return On Asset merupakan keseluruhan dari aktivitas manajemen yang efektif dalam menghasilkan laba dengan aktiva yang tersedia sebagai hasil atas investasi.

Return On Asset menunjukkan kembalian atau laba perusahaan yang dihasilkan dari aktifitas perusahaan yang digunakan untuk menjalankan perusahaan. Semakin besar rasio ini maka profitabilitas perusahaan akan semakin baik.

Berdasarkan teori signal dapat dikatakan bahwa makin besar nilai rasio maka makin baik karena dianggap kemampuan perusahaan dalam kondisi menghasilkan laba. Dengan demikian jika Return On Asset tinggi maka akan menjadi sinyal yang baik bagi para investor, karena dengan tingginya Return On Asset menunjukkan kinerja perusahaan tersebut baik maka investor akan tertarik untuk menginvestasikan dananya yang berupa surat berharga atau saham..

Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Karyadi & Julindrastuti (2021) dalam penelitiannya berjudul “Faktor-Faktor yang Memperngaruhi Kinerja Keuangan Perbankan Indonesia”, dalam penelitian tersebut dinyatakan bahwa ROA pengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan. Hasil penelitian lain yang sejalan dengan penelitian ini yaitu penelitian yang dilakukan oleh

Sunardi & Permana (2019) yang menyatakan bahwa Return on Asset (ROA) berpengaruh positif signifikan terhadap nilai Saham Perusahaan.

Selanjutnya penelitian yang tidak sejalan dengan penelitan ini dilakukan oleh Su et al. (2020) dalam penelitiannya dengan judul “Effects of Risk Based Bank Rating on Profit Growth of Rural Bank: an Empirical Study in Indonesia yang menyatakan bahwa Return On Asset tak dapat berpengaruh signifikan terhadap harga saham.

Penelitian serupa juga dilakukan oleh Haque & Faruquee (2018) yang berjudul “The Effect of Fundamental Factors on Stocks Pricing: Case-Based Approach to Banking Companies Registered withDhaka Stock Exchange” yang menyatakan bahwa ROA terbukti tidak berpengaruh positif dan signifikan terhadap return saham.

48 BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Adapun kesimpulan dari hasil kelola pada penelitian yang telah dilakukan terkait Pengaruh Kinerja Keuangan Terhadap Harga Saham Perusahaan Sektor Perbankan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2018-2020 yaitu sebagai berikut

1. Berdasarkan hasil analisis regresi linear data panel Earning Per Share (EPS) berpengaruh positif signifikan terhadap harga saham perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia..

2. Berdasarkan hasil analisis regresi linear data panel Return On Equity (ROE) berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap harga saham perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

3. Berdasarkan hasil analisis regresi linear data panel Return On Asset (ROA) berpengaruh negatif dan signifikan terhadap harga saham perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

B. Saran

1. Bagi Pengembangan Ilmu Pengetahuan

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan pengetahuan tentang teori akuntansi keuangan khususnya terkait analisa kinerja keuangan suatu perusahaan, sebagai sumber informasi dan sebagai sumbangan pemikiran dalam mengembangkan disiplin ilmu akuntansi.

2. Bagi Peneliti

Penulis menyadari bahwa penelitian ini masih jauh dari kesempurnaan maka dari itu penulis menyarankan agar dapat menggunakan variabel-variabel yang lebih variatif serta diharapkan agar dapat menambahkan referensi terbaru serta objek penelitian yang berbeda agar mendapatkan hasil yang berbeda. Diharapkan mampu lebih teliti dalam melihat kemampuan serta faktor-faktor yang memengaruhi kinerja keuanga pada perusahaan yang akan diteliti

3. Bagi Investor

Investor dalam melakukan investasi harus memutuskan secara bijakdalam dan mempertimbangkan segala aspek terkait faktor-faktor penentu peningkatan kinerja keuangan suatu perusahaan serta perlu untuk memahami terlebih dahulu kondisi perusahaan yang akan ditanami modal dengan menganalisisa laporan keuangan perusahaan dan bagaimana historisnya.

Dokumen terkait