BAB III METODOLOGI PENELITIAN
E. Teknik Analisis Data
Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Model Indeks Tunggal untuk menentukan portofolio optimal. Berikut ini adalah langkahnya36 : 1) Mencari data IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan), untuk kemudian
menentukan tingkat return indeks pasar (Rm), return indeks pasar yang diharapkan [E(Rm)] dan varian indeks pasar ( 2) selama periode Oktober 2017 – September 2018 melalui akses ke Aplikasi POEM‘S Phillip Sekuritas
Indonesia dengan menggunakan rumus sebagai berikut : Rm = − −1
−1
Keterangan :
35Ibid., hlm. 149.
36Guruh Sugiharto, ―Analisis Portofolio Optimal..., hlm. 40.
m
Rm
Rm
Rm = Tingkat return indeks pasar IHSG = Indeks Harga Saham Gabungan
Untuk menghitung return indeks pasar yang diharapkan digunakan rumus sebagai berikut :
Keterangan :
E(R ) =()
E(Rm) = Return indeks pasar yang diharapkan Rm = Return indeks pasar
= Periode (51 minggu)
Varian indeks pasar ( 2) dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
2 Rm = [(−()]2 Keterangan :
2 = Varian indeks pasar Rm = Return indeks pasar
−1
E(Rm) = Return indeks pasar yang diharapkan
= Periode (51 minggu)
Rumus varian indeks pasar di atas ekuivalen dengan formula pada Microsoft Office, yaitu =var(data_Rm)
2) Mencari harga saham mingguan dari 14 emiten (perusahaan) yang telah dipilih selama periode Oktober 2017 – September 2018 melalui akses ke Aplikasi POEM‘S Phillip Sekuritas Indonesia.
3) Menentukan Return Realisasi (Ri) dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
R = i − −1 Keterangan :
Ri = Return sekuritas ke-i P = Harga saham
−1
Untuk menghitung return yang diharapkan dapat pula digunakan rumus sebagai berikut :
Keterangan :
E(Ri) = ()
E(Rm) = Return yang diharapkan Ri = Return realisasi
= Periode (51 minggu)
Menentukan Beta (βi) dengan menggunakan rumus sebagai berikut : βi = (. )−[() . ()]
(2)−()2
Keterangan :
βi = Beta yang merupakan koefisien yang mengukur perubahan Ri akibat dari perubahan Rm
Ri = Return sekuritas ke-i Rm = Tingkat return indeks pasar
= Jumlah saham
Menentukan Alpha dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
− . () i =
Keterangan :
i = Suatu variabel acak yang menunjukkan komponen dari return sekuritas ke-i yang independen terhadap kinerja pasar.
Ri = Return sekuritas ke-i
= Jumlah saham
βi = Beta yang merupakan koefisien yang mengukur perubahan Ri akibat dari perubahan Rm
Rm = Tingkat return indeks pasar
Rumus Alpha dan Beta di atas ekuivalen dengan formula pada Microsoft Office, yaitu Data – Data Analysis – Regression, Ri adalah variabel dependen dan Rm adalah variabel independen. Hasil dari formula tersebut adalah Coefficient intercept sebagai Alpha dan Coefficient 0 sebagai Beta.
4) Menentukan Residual Error (ei) dengan menggunakan rumus sebagai berikut : ei = Ri - i–(βi. Rm)
ei
= Keterangan :
ei = Kesalahan residu yang merupakan variabel acak dengan nilai ekspektasinya sama dengan nol atau E(ei)=0
Ri = Return sekuritas ke-i
i = Suatu variabel acak yang menunjukkan komponen dari return sekuritas ke-i yang independen terhadap kinerja pasar
βi = Beta yang merupakan koefisien yang mengukur perubahan Ri akibat dari perubahan Rm
Rm = Tingkat return indeks pasar Menentukan Varian Residual Error (ei2
) dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
Keterangan :
2 [−(e)]2
ei −1
2 = Varian kesalahan residu yang merupakan variabel acak dengan nilai ekpektasinya sama dengan nol atau E(ei)=0
ei = Kesalahan residu
E(ei) = Kesalahan residu yang diharapkan
= Jumlah sekuritas
Rumus varian kesalahan residu di atas ekuivalen dengan formula pada Microsoft Office, yaitu =var(data_Ei)
i
Menentukan Residual Error Ekspektasi dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
Keterangan :
E(e ) = [− − (β.)]
−1
E(ei) = Kesalahan residu yang diharapkan Ri = Return sekuritas ke-i
i = Suatu variabel acak yang menunjukkan komponen dari return sekuritas ke-i yang independen terhadap kinerja pasar
βi = Beta yang merupakan koefisien yang mengukur perubahan Ri akibat dari perubahan Rm
Rm = Tingkat return indeks
5) Menentukan ERB (Excess Return to Beta) dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
Keterangan :
ERBi = ()−
β
ERBi = Excess return to beta sekuritas ke-i
E(Ri) = Return ekspektasi berdasarkan model indeks tunggal untuk sekuritas ke-i
RBR = Return aktiva bebas risiko (Sertifikat Bank Indonesia) βi = Beta sekuritas ke-i
ei
ei
6) Menentukan nilai Ai dengan menggunakan rumus sebagai berikut : A = [E()–].β
i 2
Keterangan :
Ai = Variabel bantu yang dinotasikan dengan A
E(Ri) = Return ekspektasi berdasarkan model indeks tunggal untuk sekuritas ke-i
RBR = Return aktiva bebas risiko βi = Beta sekuritas ke-i
2 = Varian kesalahan residu yang merupakan variabel acak dengan nilai ekspektasinya sama dengan nol atau E(ei)=0
Menentukan nilai Bi dengan menggunakan rumus sebagai berikut : Bi = β2
2
Keterangan :
Bi = Variabel bantu yang dinotasikan dengan B βi = Beta sekuritas ke-i
2 = Varian kesalahan residu yang merupakan variabel acak dengan nilai ekspektasinya sama dengan nol atau E(ei)=0
7) Menentukan nilai C* (cut-off point) dengan terlebih dahulu mencari nilai Ci
dengan menggunakan rumus sebagai berikut : C =i 2
1+ 2
Keterangan :
Ci = Variabel bantu yang dinotasikan dengan C
m2
= Varian dari indeks pasar
Nilai C* adalah nilai Ci dimana nilai ERB terakhir kali masih lebih besar dari nilai Ci.
8) Kriteria dan Interpretasi. Sekuritas-sekuritas yang membentuk portofolio optimal adalah sekuritas-sekuritas yang mempunyai nilai ERB lebih besar atau sama dengan nilai ERB di titik C*. Sekuritas-sekuritas yang telah didapat adalah sudah merupakan sekuritas pilihan dan dapat membentuk portofolio optimal, jika investor menginvestasikan dananya pada sekuritas- sekuritas tersebut, maka investor akan mendapat return (pengembalian) yang cukup menjanjikan (optimal). Namun langkah ini belumlah cukup, masih harus dihitung lagi proporsi dari masing-masing sekuritas yang telah terpilih tersebut sehingga dana yang dimiliki investor dapat dengan optimal di distribusikan kepada setiap sekuritas yang telah terpilih tersebut.
9) Menentukan proporsi masing-masing sekuritas dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
Keterangan :
wi = Zi= β (ERBi– C*)
2
wi = Proporsi sekuritas ke-i
37Ibid., hlm. 46.
ei
βi = Beta sekuritas ke-i
2 = Varian kesalahan residu yang merupakan variabel acak dengan nilai ekspektasinya sama dengan nol atau E(ei)=0
ERBi = Excess return to beta sekuritas ke-i
C* = Nilai cut-off point yang merupakan niali Ci terbesar Zi = Variabel bantu yang dinotasikan dengan Z.37
10) Rumus Optimalisasi
Perhitungan untuk menentukan portofolio optimal akan sangat dimudahkan jika hanya didasarkan pada sebuah angka yang dapat menentukan apakah suatu sekuritas dapat dimasukkan ke dalam portofolio optimal tersebut. Angka tersebut adalah rasio antara ekses return dengan beta (excess return to beta ratio). Rasio ekses return dengan beta adalah:
ERBi = ()−
β
Keterangan :
ERBi = Excess return to beta sekuritas ke-i
E(Ri) = Return ekspektasi berdasarkan model indeks tunggal untuk sekuritas ke-i
RBR = Return aktiva bebas risiko (Sertifikat Bank Indonesia) βi = Beta sekuritas ke-i
38Ibid., hlm. 29.
Excess Return didefinisikan sebagai selisih return ekspektasi dengan return aktiva bebas risiko. Excess Return to Beta berarti mengukur kelebihan return relatif terhadap satu unit risiko yang tidak dapat di diversifikasikan yang diukur dengan beta. Rasio ERB ini juga menunjukkan hubungan antara dua faktor penentu investasi, yaitu return dan risiko.38
Portofolio yang optimal akan berisi dengan aktiva-aktiva yang mempunyai nilai rasio ERB yang tinggi. Aktiva-aktiva dengan rasio ERB yang rendah tidak akan dimasukkan ke dalam portofolio optimal. Dengan demikian diperlukan sebuah titik pembatas (cut-off point) yang menentukan batas nilai ERB berapa yang dikatakan tinggi. Besarnya titik pembatas ini dapat ditentukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Urutkan sekuritas-sekuritas berdasarkan nilai ERB terbesar ke nilai ERB terkecil. Sekuritas dengan nilai ERB terbesar merupakan kandidat untuk dimasukkan ke dalam portofolio optimal.
b. Hitung nilai Ai dan Bi untuk masing-masing sekuritas ke-i sebagai berikut:
A = [()− ].β
i 2
Keterangan :
Ai = Variabel bantu yang dinotasikan dengan A
E(Ri) = Return ekspektasi berdasarkan model indeks tunggal untuk sekuritas ke-i
ei
ei
RBR = Return aktiva bebas risiko βi = Beta sekuritas ke-i
2 = Varian kesalahan residu yang merupakan variabel acak dengan nilai ekspektasinya sama dengan nol atau E(ei)=0
Bi = β2
2
Keterangan :
Bi = Variabel bantu yang dinotasikan dengan B βi = Beta sekuritas ke-i
2 = Varian kesalahan residu yang merupakan variabel acak dengan nilai ekpektasinya sama dengan nol atau E(ei)=0 c. Hitung nilai Ci
C = 2 Keterangan :
i 1+2
Ci = Variabel bantu yang dinotasikan dengan C
m2
= Varian dari indeks pasar
d. Besarnya cut-off point (C*) adalah nilai Ci dimana niali ERB terakhir kali masih lebih besar dari nilai Ci.
e. Sekuritas-sekuritas yang membentuk portofolio optimal adalah sekuritas- sekuritas yang mempunyai nilai ERB lebih besar atau sama dengan nilai ERB di titik C*. Sekuritas-sekuritas yang mempunyai nilai ERB lebih kecil
dengan ERB di titik C* tidak diikutsertakan dalam pembentukan portofolio optimal.39
39Ibid., hlm. 30.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum
1. Sejarah dan Milestone Bursa Efek Indonesia
Secara historis, pasar modal telah hadir jauh sebelum Indonesia merdeka. Pasar modal atau bursa efek telah hadir sejak zaman kolonial Belanda dan tepatnya pada tahun 1912 di Batavia. Pasar modal ketika itu didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda untuk kepentingan pemerintah kolonial atau VOC.
Meskipun pasar modal telah ada sejak tahun 1912, perkembangan dan pertumbuhan pasar modal tidak berjalan seperti yang diharapkan, bahkan pada beberapa periode kegiatan pasar modal mengalami kevakuman. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor seperti perang dunia ke I dan II, perpindahan kekuasaan dari pemerintah kolonial kepada pemerintah Republik Indonesia, dan berbagai kondisi yang menyebabkan operasi bursa efek tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya. Pemerintah Republik Indonesia mengaktifkan kembali pasar modal pada tahun 1977 dan beberapa tahun kemudian pasar modal mengalami pertumbuhan seiring dengan berbagai insentif dan regulasi yang dikeluarkan pemerintah.
Secara singkat, tonggak perkembangan pasar modal di Indonesia dapat dilihat sebagai berikut:40
Bursa Efek Indonesia meresmikan Kantor Perwakilan di Mataram.
Pendirian Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia ini bertujuan untuk memudahkan penyebarluasan informasi melalui sosialisasi dan edukasi mengenai pasar modal secara meluas di Nusa Tenggara Barat (NTB). Dengan dibukanya Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia di Mataram, maka saat ini telah terdapat 28 Kantor Perwakilan atau Pusat Informasi GO Public di seluruh Indonesia. Pendirian Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia Mataram diharapkan dapat meningkatkan jumlah investor, serta mendorong perusahaan yang ada di daerah setempat untuk memanfaatkan pasar modal sebagai sarana pembiayaan jangka panjang.
Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia Mataram yang berlokasi di Jalan Pejanggik No. 47 C Mataram dengan luas sekitar 344 m2. Bangunan kantor ini berdiri pada akhir tahun 2017. Kantor ini merupakan Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia ke-28 berlokasi di Mataram yang diresmikan pada tanggal 7 Desember 2017. Di Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia Mataram terdapat beberapa perusahaan sekuritas yang akan melayani masyarakat, yakni Phintraco Sekuritas, Phillip Sekuritas, Kresna Sekuritas dan IndoPremier Sekuritas. Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kantor
40Lihat lampiran 20.
Perwakilan Bursa Efek Indonesia Mataram berjumlah 11 orang yang ditempatkan pada masing-masing bagian.
2. Struktur Organisasi
Adapun struktur organisasi Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia NTB adalah sebagai berikut :
Pimpinan Kantor : I Gusti Bagus Ngurah Putra Sandiana Trainner Bursa Efek Indonesia : Arta Sasmita
Admin Bursa Efek Indonesia : Maribella Syawiluna Kepala Phillip Sekuritas : Lalu Pandrio Akbar Kepala Kresna Sekurias : Ginda Hisar Manurung Kepala IndoPremier Sekuritas : Slamet Riyadi
Kepala Phintraco Sekuritas : Arini Pascadita
Office Boy : Ahmad Mariadi
Petugas Keamanan : a. Made Angga
b. Wawan Darmawan c. Trimayadi
3. Visi dan Misi
Visi : Menjadi bursa yang kompetitif dengan kredibilitas tingkat dunia.
Misi : Menyediakan infrastruktur untuk mendukung terselenggaranya perdagangan efek yang teratur, wajar dan efisien serta mudah diakses oleh seluruh pemangku kepentingan (stakeholder).
B. Hasil Penelitian
Penelitian ini menggunakan beberapa data dalam proses pengelolaannya, yaitu harga saham mingguan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), dan BI 7-Day Repo Rate.
1. Harga Saham
Harga saham yang digunakan adalah harga saham mingguan41 dari 14 saham yang telah terpilih, yaitu Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk., Unilever Indonesia Tbk., Astra International Tbk., United Tractors Tbk., Indofood CBP Sukses Makmur Tbk., Chandra Asri Petrochemical Tbk., Indocement Tunggal Prakarsa Tbk., Kalbe Farma Tbk., Semen Indonesia (Persero) Tbk., Adaro Energy Tbk., Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk., Indofood Sukses Makmur Tbk., Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk., Vale Indonesia Tbk. Data yang digunakan adalah data harga saham mingguan yang didapatkan melalui akses internet pada situs POEM‘S
(Aplikasi pada Phillip Sekuritas Indonesia).
2. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)
IHSG adalah indikator pergerakan saham umum pada periode Oktober 2017 – September 2018. Data terebut didapatkan melalui akses internet pada situs POEM‘S (Aplikasi pada Phillip Sekuritas Indonesia).
41Lihat lampiran 2-15.
3. BI 7-Day Repo Rate
BI 7-Day Repo Rate adalah suku bunga Bank Indonesia selama periode Oktober 2017 – September 2018 yang didapat melalui akses ke situs resmi Bank Indonesia di www.bi.go.id. Data BI 7-Day Repo Rate ini bersifat bulanan yang kemudian diambil rata-ratanya, yaitu dengan membaginya dengan jumlah hari dalam periode penelitian (51 minggu).
C. Pembahasan 1. Harga Saham
Data harga saham mingguan yang didapatkan pada periode penelitian tersebut, kemudian diolah sehingga menghasilkan data return saham berupa return realisasi yang terjadi setiap minggunya, dan return ekspektasi yang diharapkan terjadi pada masa yang akan datang.
a. Return Ekspektasi [E(Ri)]
Return ekspektasi untuk 14 saham yang telah terpilih tersebut adalah PGAS 1,21%, INCO 0,76%, PTBA 1,47%, ADRO 0,13%, INTP 0,14%, SMGR -0,01%, KLBF -0,30%, ASII -0,09%, INDF -0,64%, UNTR 0,10%, UNVR -0,07%, TPIA 0,19%, ICBP 0,06% dan TLKM -0,43%.
Return ekspektasi tertinggi terletak pada saham PT Bukit Asam Tbk.
(PTBA) bernilai 1,47% dan jauh di atas return ekspektasi saham yang lainnya, yang bermakna return yang diharapkan akan diterima oleh investor dari kegiatan investasi yang dilakukan pada saham PGAS sebesar 1,21%, saham INCO sebesar 0,76%, saham ADRO sebesar 0,13%, saham INTP
sebesar 0,14%, saham SMGR sebesar -0,01%, saham KLBF sebesar
-0,30%, saham ASII sebesar -0,09%, saham INDF sebesar -0,64%, saham UNTR sebesar 0,10%, saham UNVR sebesar -0,07%, saham TPIA sebesar 0,19%, saham ICBP sebesar 0,06% dan saham TLKM sebesar-0,43%. Ini disebabkan, karena harga saham selama periode Oktober 2017 – September 2018 mengalami fluktuatif (kenaikan dan penurunan) yang berkisar diantara harga 2.120 – 4.890. Hal ini disebabkan, karena adanya pertumbuhan laba yang kuat terutama didorong oleh adanya peningkatan jumlah penjualan dan harga jual rata-rata atau Average Selling Price (ASP) batu bara pada akhir bulan Juli 2018. Laba PT Bukit Asam Tbk (PTBA) melonjak hingga 50% yang tercatat sebanyak Rp 2,58 triliun pada semester pertama (enam bulan pertama tahun 2018) di tahun ini. PT Bukit Asam Tbk (PTBA) ini merupakan saham yang termasuk kedalam sektor pertambangan batubara.
Pada setiap return masing-masing saham terkandung dua komponen utama, yakni Alpha () yang merupakan komponen return unik dan Beta () merupakan komponen return yang berhubungan dengan return pasar.
b. Alpha ()
Nilai Alpha untuk 14 saham yang telah terpilih tersebut42 menunjukkan, bahwa ada perusahaan yang mempunyai nilaiAlpha positif dan ada perusahaan yang mempunyai nilai Alpha negatif. Ini bermakna,
42Lihat lampiran 2- 15.
bahwa apabila terjadi peningkatan atau penurunan pada return pasar, maka tidak mempengaruhi return saham tersebut. Alpha adalah nilai ekspektasi dari return saham yang independen (tidak memiliki pengaruh) terhadap return pasar.
Saham yang memiliki nilai Alpha tertinggi, yakni PT Bukit Asam Tbk (PTBA) sebesar 1,41%. Ini menunjukkan, bahwa nilai Alpha PT Bukit Asam Tbk (PTBA) sebesar 1,41% tersebut secara independen (tidak memiliki pengaruh) terhadap return pasar. Sedangkan, saham yang memiliki nilai Alpha terendah, yakni PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) sebesar -0,07%. Ini menunjukkan, bahwa saham SMGR tersebut tidak memiliki pengaruh terhadap return pasar.
Saham PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGAS) memiliki nilai Alpha sebesar 1,11%. Ini menunjukkan, bahwa saham PGAS tersebut tidak memiliki pengaruh terhadap return pasar. Saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) memiliki nilai Alpha sebesar 0,68%. Ini menunjukkan, bahwa saham INCO tersebut tidak memiliki pengaruh terhadap return pasar.
Saham PT Adaro Energy Tbk (ADRO) memiliki nilai Alpha sebesar 0,06%. Ini menunjukkan, bahwa saham ADRO tersebut tidak memiliki pengaruh terhadap return pasar.
Saham PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) memiliki nilai Alpha sebesar 0,07%. Ini menunjukkan, bahwa saham INTP tersebut tidak memiliki pengaruh terhadap return pasar. Saham PT Kalbe Farma Tbk
(KLBF) memiliki nilai Alpha sebesar -0,36%. Ini menunjukkan, bahwa saham KLBF tersebut tidak memiliki pengaruh terhadap return pasar.
Saham PT Astra International Tbk (ASII) memiliki nilai Alpha sebesar -0,15%. Ini menunjukkan, bahwa saham ASII tersebut tidak memiliki pengaruh terhadap return pasar.
Saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) memiliki nilai Alpha sebesar -0.69%. Ini menunjukkan, bahwa saham INDF tersebut tidak memiliki pengaruh terhadap return pasar. Saham PT United Tractors Tbk (UNTR) memiliki nilai Alpha sebesar 0,06%. Ini menunjukkan, bahwa saham UNTR tersebut tidak memiliki pengaruh terhadap return pasar.
Saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) memiliki nilai Alpha sebesar - 0,11%. Ini menunjukkan, bahwa saham UNVR tersebut tidak memiliki pengaruh terhadap return pasar.
Saham PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) memiliki nilai Alpha sebesar 0,15%. Ini menunjukkan, bahwa saham TPIA tersebut tidak memiliki pengaruh terhadap return pasar. Saham PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) memiliki nilai Alpha sebesar 0,03%. Ini menunjukkan, bahwa saham ICBP tersebut tidak memiliki pengaruh terhadap return pasar. Saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) memiliki nilai Alpha sebesar -0,45%. Ini menunjukkan, bahwa saham TLKM tersebut tidak memiliki pengaruh terhadap return pasar.
c. Beta ()
Nilai Beta untuk 14 saham yang telah terpilih tersebut43 menunjukkan, bahwa ada perusahaan yang mempunyai nilai Beta diatas 100% dan ada perusahaan yang mempunyai nilai Beta dibawah 100%. Beta adalah sensitivitas return suatu sekuritas terhadap return dari pasar.44 Ini bermakna, bahwa apabila terjadi peningkatan atau penurunan pada return pasar, maka hal tersebut akan mempengaruhi return saham. Beta yang bernilai positif menunjukkan, bahwa apabila return pasar mengalami peningkatan, maka return saham tersebut akan mengalami peningkatan.
Sebaliknya, bahwa apabila return pasar mengalami penurunan, maka return saham tersebut juga akan mengalami penurunan.
Saham yang memiliki nilai Beta tertinggi, yakni PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGAS) sebesar 218%. Ini menunjukkan, bahwa apabila terjadi penngkatan 1% pada return pasar, maka akan diikuti dengan peningkatan return saham PGAS sebesar 218%. Sedangkan, saham yang memiliki nilai Beta terendah, yakni PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) sebesar 49%. Ini menunjukkan, bahwa apabila terjadi penngkatan 1% pada return pasar, maka akan diikuti dengan peningkatan return saham TLKM sebesar 49%.
43Lihat lampiran 2- 15.
44Rosiana Akbriani, ―Analisis Pembentukan Portofolio Optimal Saham Dengan Menggunakan Model Indeks Tunggal (Studi Empiris pada saham yang Masuk dalam Jakarta Islamic Index (JII) di Bursa Efek Indonesia periode Desember 2012 – November 2014), (Skripsi, Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta, Yogyakarta, 2015), hlm. 60.
Saham PT Vale Indoesia Tbk (INCO) memiliki nilai Beta sebesar 185%. Ini menunjukkan, bahwa apabila terjadi penngkatan 1% pada return pasar, maka akan diikuti dengan peningkatan return saham INCO sebesar 185%. Saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA) memiliki nilai Beta sebesar 128%. Ini menunjukkan, bahwa apabila terjadi penngkatan 1% pada return pasar, maka akan diikuti dengan peningkatan return saham PTBA sebesar 128%. Saham PT Adaro Energy Tbk (ADRO) memiliki nilai Beta sebesar 162%. Ini menunjukkan, bahwa apabila terjadi penngkatan 1% pada return pasar, maka akan diikuti dengan peningkatan return saham ADRO sebesar 162%.
Saham PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) memiliki nilai Beta sebesar 159%. Ini menunjukkan, bahwa apabila terjadi penngkatan 1% pada return pasar, maka akan diikuti dengan peningkatan return saham INTP sebesar 159%. Saham PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) memiliki nilai Beta sebesar 137%. Ini menunjukkan, bahwa apabila terjadi penngkatan 1% pada return pasar, maka akan diikuti dengan peningkatan return saham SMGR sebesar 137%. Saham PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) memiliki nilai Beta sebesar 135%. Ini menunjukkan, bahwa apabila terjadi penngkatan 1% pada return pasar, maka akan diikuti dengan peningkatan return saham KLBF sebesar 135%.
Saham PT Astra International Tbk (ASII) memiliki nilai Beta sebesar 123%. Ini menunjukkan, bahwa apabila terjadi penngkatan 1% pada return
pasar, maka akan diikuti dengan peningkatan return saham ASII sebesar 123%. Saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) memiliki nilai Beta sebesar 120%. Ini menunjukkan, bahwa apabila terjadi penngkatan 1% pada return pasar, maka akan diikuti dengan peningkatan return saham INDF sebesar 120%. Saham PT United Tractors Tbk (UNTR) memiliki nilai Beta sebesar 98%. Ini menunjukkan, bahwa apabila terjadi penngkatan 1% pada return pasar, maka akan diikuti dengan peningkatan return saham UNTR sebesar 98%.
Saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) memiliki nilai Beta sebesar 93%. Ini menunjukkan, bahwa apabila terjadi penngkatan 1% pada return pasar, maka akan diikuti dengan peningkatan return saham UNVR sebesar 93%. Saham PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) memiliki nilai Beta sebesar 81%. Ini menunjukkan, bahwa apabila terjadi penngkatan 1% pada return pasar, maka akan diikuti dengan peningkatan return saham TPIA sebesar 81%. Saham PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) memiliki nilai Beta sebesar 57%. Ini menunjukkan, bahwa apabila terjadi penngkatan 1% pada return pasar, maka akan diikuti dengan peningkatan return saham ICBP sebesar 57%.
d. Varian (i2)
Varian saham merupakan gambaran risiko yang ada pada setiap sahamnya selama periode Oktober 2017 – September 2018 tersebut.
Variance saham individual digunakan untuk mengetahui risiko dari expected return saham.45 Nilai Varian untuk 14 saham yang telah terpilih tersebut46 menunjukkan, bahwa memiliki tingkat risiko yang berbeda-beda.
Saham yang memiliki nilai Varian tertinggi terletak pada perusahaan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGAS) sebesar 0,51%. Ini menunjukkan, bahwa saham PGAS adalah saham yang memiliki tingkat risiko paling tinggi diantara saham-saham yang lainnya. Sedangkan, saham yang memiliki nilai Varian terendah terletak pada saham PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) sebesar 0,06%. Ini menunjukkan, bahwa saham ICBP adalah saham yang memiliki tingkat risiko paling rendah diantara saham-saham yang lainnya.
Saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) memiliki nilai Varian sebesar 0,39%. Ini menunjukkan, bahwa saham INCO memiliki tingkat risiko sebesar 0,39%. Saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dan saham PT Adaro Energy Tbk (ADRO) masing-masing memiliki nilai Varian sebesar 0,30%.
Ini menunjukkan, bahwa saham PTBA dan ADRO memiliki tingkat risiko sebesar 0,30%.
Saham PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) memiliki nilai Varian sebesar 0,38%. Ini menunjukkan, bahwa saham INTP memiliki tingkat risiko sebesar 0,38%. Saham PT Semen Indonesia (Persero) Tbk
45Mahmud Yunus, ―Analisis Pembentukan Portofolio...‖, hlm. 47.
46Lihat lampiran 2-15.