• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teknik Analisis Data

Dalam dokumen Dr. Heni Ani Nuraeni, MA - SIMAKIP (Halaman 31-53)

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.3. Teknik Analisis Data

Sugiono (2013:333) menyatakan bahwa “Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah di pahami oleh diri sendiri maupun orang lain.”

Adapun menurut Lexy J. Moelang (2011:288) Secara umum proses analisis data mencakup: reduksi data, kategorisasi data, sintesisasi, dan diakhiri dengan menyusun hipotesis kerja.

1. Reduksi data (data reduction)

a. Identifikasi satuan (unit). Pada mulanya di identifikasikan adanya satuan yaitu bagian terkecil yang ditemukan dalam data yang memiliki makna bila dikaitkan dengan fokus dan masalah penelitian.

b. Sesudah satuan diperoleh, langkah berikutnya membuat koding.

Membuat koding berarti memberikan kode pada setiap satuan, agar tetap dapat ditelusuri data/satuannya, berasal dari sumber mana.

2. Kategorisasi

a. Menyusun kategori. Kategori adalah upaya memilih-milih setiap satuan kedalam bagian-bagian yang memiliki kesamaan.

b. Setiap kategori diberi nama yang disebut ‘label’.

3. Sintesisasi

a. Mensintesiskan berarti mencari kaitan antara satu kategori dengan lainnya.

b. Kaitan satu kategori dengan kategori lainnya diberi nama/label lagi.

4. Menyusun Hipotesis Kerja

Hal ini dilakukan dengan jalan rumuskan suatu pernyataan yang proposional. Hipotesis kerja ini sudah merupakan teori yang berasal dan terkait dengan data. Hipotesis kerja itu hendaknya terkait sekaligus menjawab pertanyaan penelitian.

Analisis data kualitatif menurut Miles dan Huberman yang dikutip dalam buku Sugiono (2010:334) dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, yang dilakukan melalui beberapa proses yaitu:

1. Analisis data sebelum dilapangan

27

Penelitian ini melakukan analisis terhadap data hasil studi pendahuluan atau data sekunder, yang akan digunakan untuk menentukan fokus penelitian. Namun demekian,fokus penelitian ini bersifat sementara, dan akan berkembang setelah peneliti masuk dan selama dilapangan.

2. Analisis data selama dilapangan model Milesa and Huberman Analisis data dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung, dan setelah pengumpulan data setelah periode tertentu.

Pada saat wawancara, peneliti sudah melakukan analisis terhadap jawaban yang diwawancarai setelah dianalisis terasa belum memuaskan, maka peneliti akan melanjutkan pertanyaan lagi tahap tertentu, sehingga diperoleh data yang kredibel. Aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh.

Aktivitas dalam analisis data yaitu melalui proses data collection, data reduction, data display dan conclusions drawing/verification.

Gambar 3.2

Komponen dalam Analisis Data (interactive model)

Sumber : Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Kuantitatif, kualitatif dan kombinasi (mixed methods), (Alfabeta: Bandung)., hal. 335

a. Data collection

Penelitian mengumpulkan data-data yang didapat dilapangan, data yang diperoleh dilapangan jumlah cukup banyak dan akan terus semakin banyak maka perlu dicatat secara cermat, teliti dan rinci.

b. Data reduction

Sugiono (2013:336) menyatakan bahwa “Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari dan polanya. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data berikutnya.”

c. Data display (Penyajian Data)

Sugiono (2013:339) “Setelah data di reduksi, maka langkah selanjutnya adalah mendisplay data, dengan mendisplay data maka akan memudahkan untuk memahami apa yang terjadi dan peneliti dapat merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah dipahami.”

d. Conclusion : Drawing/Verifying

Langkah selanjutnya adalah penarikan kesimpulan verifikasi menurut pendapat Sugiono (2013:343) menyatakan bahwa “Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara, dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Tetapi apabila kesimpulan pada tahap awal dibekali dengan bukti-bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali ke lapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel.”

3.4.Pemeriksaan Keabsahan Data 1. Uji Kredibilitas

Menurut penapat Sugiono (2013:365) “Uji kredibilitas data atau kepercayaan terhadap data hasil penelitian kualitatif antara lain dilakukan dengan perpanjangan pengamatan, peningkatkan ketekunan dalam penelitian, triangulasi, diskusi dengan teman sejawat, analisis kasus negati, dan member check.”

29

Adapun pendapat dari Sugiono (2013:370) bahwa Pengujian keabsahan data diperlukan untuk menilai kevalidan data yang diperoleh dalam proses pengumpulan data. Dalam hal ini peneliti menggunakan teknik triangulasi. Mentriangulasi sumber-sumber data yang berbeda dengan memeriksa bukti-bukti yang berasal dari sumber-sumber tersebut dan menggunakan untuk membangun justifikasi tema-tema koheren. Tema-tema yang dibangun berdasarkan sejumlah sumber data atau perspektif dari partisipan akan menambah validitas penelitian.

a. Triagulasi dalam pengujian kredibilitas ini di artikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara, dan berbagai waktu.

1) Triangulasi Sumber

Triangulasi sumber untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber. Sebagai contoh, untuk menguji kredibilitas data tentang gaya kepemimpinan seseorang, maka pengumpulan dan pengujian data yang telah diperoleh dilakukan kebawahan yang dipimpin, ke atasan yang menugasi, dan keteman kerja yang merupakan kelompok kerjasama. Data dari ke tiga sumber tersebut, tidak bisa dirata-ratakan seperti dalam penelitian kuantitatif, tetapi dideskripsikan, dikategorikan, mana pandangan yang sama, yang berbeda, dan mana spesifik dari tiga sumber data tersebut. Data yang telah dianalisis oleh peneliti sehingga menghasilkan suatu kesimpulan selanjutnya dimintakan kesepakatan (member check) dengan tiga sumber data tersebut.

.

Wawancar a A

B

C

2) Sugiono (2013:371) menyatakan bahwa “Triangulasi teknik untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara

mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda. Dengan mengalami data yang diperoleh dengan cara wawancara, lalu dicek dengan observasi, dokumentasi atau kuesioner.”

Dalam membuat triangulasi teknik, peneliti mengumpulkan terlebih dahulu data-data yang terbesar dilapangan, dalam hal ini, peneliti hanya mencari data mengenai peran sekretaris dalam meningkatkan efesiensi kerja pada PT.Bank Rakyat Indonesia, dengan cara observasi dan dokumentasi. Setelah data terkumpul, peneliti memilih-milih mana data yang sesuai dengan wawancara, observasi dan dokumentasi, lalu peneliti mengabungkan dari ketiga data tersebut dan dibuat kesimpulannya.

3.6. Waktu dan Lokasi Peneliti

Penelitian dilakukan dari bulan April 2019 sampai Juni 2019.

Lokasi penelitian dilaksanakan di majelis ta’lim Nurul Hidayah Ciracas Jakarta Selatan. Berikut bagan alir penelitiannya.

Dokumentasi

Sumber Data yang

Sama Observasi

Partisipatif Wawancara

Mendalam

Gambar 3.3 Triangulasi Sumber

Gambar 3.4 Triangulasi Teknik

31

Bagan Alir Penelitian Model Manajemen Kualitas Majlis Ta’lim Nurul Hidayah DKI Jakarta

3.6. Waktu dan Lokasi Penelitian

Waktu penelitian dilakukan dari bulan April 2019 sampai Juni 2019.

Lokasi penelitian dilaksanakan di majelis ta’lim Nurul Hidayah Ciracas Jakarta Selatan

3.7. Roadmap Penelitian ...

Diskusi

Masalah Model Manajemen kualitas Majlis Ta’lim

Observasi Kelapangan

Pembuatan dan Pengajuan Proposal

Penyusunan Kisi-kisi dan Instrumen Penelitian

Penelitian Partisipatif Observasi, Wawancara, dan

Dokumentasi

Pengambilan Data

Observasi, Wawancara, dan

Dokumentasi Triagulasi

dan Analisis Data

Laporan Hasil Penelitian Indikator

1). Menemukan model Manajemen Kualitas Majlis Ta’lim 2). Artikel

Ilmiah 3). Buku Ber

ISBN

Luaran Pubikasi Ilmiah, Model

Pengelolaan Manajemen Majlis Ta’lim Buku BerISBN

32

3.4. Gambaran Majelis Ta’lim Nurul Hidayah

Majelis ta’lim Nurul Hidayah berdiri tahun 2008 dan berizin resmi di Kementerian Agama Jakarta Timur dengan Nomor Induk 0503.6/038.09.MT-JT/III/2008. Berdirinya Majelis ta’lim Nurul Hidayah diprakarsai oleh masyarakat yang berminat ingin bisa baca Alqur’an.

Sistem pembelajaran yang digunakan adalah pembelajaran sima’i.

Pembelajaran sima’i adalah jamaah menyimak buku pelajaran, kemudian membaca satu persatu, selanjutnya menyimak pembelajaran dari ustadz atau ustadah. Visi majelis ta’lim Nurul Hidayah adalah terbentuknya umat Islam yang mampu memahami dan mengamalkan ajaran Al Qur’an dan As sunah dengan baik dan memjadi motor penggerak generasi muda. Adapun misinya adalah menanamkan dasar-dasar keimanan dan ketaqwaan kepada Allah dan Rosul Nya, mengajarkan penulisan Alqur’an secara baik dan benar, memberikan pengetahuan Din al Islam secara menyeluruh dan menyampaikan secara kreatif, menanamkan pada diri jamaah agar mengamalkan kandungan isi Al qur’an. Visi dan misi tersebut dituangkan dalam program Tahunan.

3.5. Manajemen Kualitas Majelis Ta’lim Nurul Hidayah

Kualitas disebut juga dengan mutu. Ada beberapa pengertian kualitas menurut para ahli manajemen yang dikutip oleh D. Wahyu Ariani diantaranya: menurut Juran, kualitas adalah kesesuaian dengan tujuan dan manfaatnya. Menurut Crosby, kualitas adalah kesesuaian dengan kebutuhan ynag meliputi availability, delivery, reliability, maintainabilit, dan cost effectiveness. Menurut Deming, kualitas adalah yang bisa memenuhi kebutuhan pelanggan sekarang dan masa yang akan datang.

Elliot menggambarkan kualitas adalah sesuatu yang berbeda dengan orang yang berbeda dan tergantung pada waktu dan tempat, atau

33

dikatakan sesuai dengan tujuan. Dengan demikian kualitas merupakan suatu proses perbaikan yang terus menerus (continuous improvement proses) yang dapat diukur, baik secara individual, organisasi, korporasi, dan tujuan kinerja nasional (Wahyuni, 2017).

Majelis ta’lim sebagai lembaga pendidikan non formal mempunyai kualitas dalam pengelolaan lembaga. Teori manakah yang dipakai majelis ta’lim Nurul Hidayah dalam meningkatkan manajemen kualitas?

Menurut Gasperz yang dikutip D. Wahyu Ariani bahwa manajemen kualitas adalah semua aktivitas dari fungsi manajemen secara keseluruhan yang menentukan kebijaksanaan kualitas, tujuan dan tanggung jawab, serta mengimplementasikannya melalui alat-alat manajemen kualitas, seperti perencanaan kualitas, pengendalian kualitas, penjaminan kualitas, dan peningkatan kualitas. Manajemen kualitas dalam pendidikan berkaitan dengan kurikulum, kompetensi guru, sarana prasarana pembelajaran, sumber pembiayaan, dan evaluasi. (D. Wahyu, 2014) Majelis ta’lim Nurul Hidayah sebagai lembaga pendidikan mempunyai manajemen kualitas. Dalam hal ini berkaitan dengan kurikulum, kompetensi guru, sarana prasarana pembelajaran, sumber pembiayaan, dan evaluasi.

Dalam mengimplementasikan manajemen kualitas majelis ta’lim Nurul Hidayah mengalami bebrapa kendala, diantaranya berkenaan dengan rendahnya kemampuan mendesain kurikulum, sistem dan prosedur kerja tidak cocok, pengaturan waktu yang tidak mencukupi, kurangnya sumber, baik sumber dana maupun sumber daya manusia, gedung yang tidak memadai, dan lingkungan kerja yang tidak menunjang. Secara khusus penyebab terhambatnya manajemen kualitas yaitu prosedur dan peraturan yang tidak dipatuhi, pengurus tidak memiliki keterampilan, pengetahuan, dan sikap sebagaimana mestinya, kurangnya motivasi.. Untuk mengatasi kendala dalam manajemen kualitas, perlu dilandasi perubahan sikap dan cara bekerja.

Pemimpin harus memotivasi bawahannya dalam hal ini pengurus dan

guru-gurunya agar bekerja lebih baik, misalnya dengan memberikan pelatihan-pelatihan agar wawasan dan keterampilan pengurus bertambah, menciptakan iklim kerja yang menyenangkan, menyediakan sarana prasara yang memadai, mencari sumber dana yang lebih baik. Kendala-kendala tersebut sedikit demi sedikit dapat di atasi, apalagi setelah bergabung dengan Kementerian Agama Provinsi DKI Jakrta pada tahun 2014. Selain bergabung dengan Kementerian Agama bergabung juga dengan FKMT (Forum Komunikasi Majelis Ta’lim), PERMATA (Persatuan Majelis Ta’lim).

Forum-forum inilah yang menjadikan majelis ta’lim Nurul Hidayah berkembang, baik pengelolaan, kurikulum, sumber daya manusia, sarana prasarana, sumber keuangan, dan evaluasi. Program-program yang ditawarkan forum-forum tersebut beragam, mulai dari pelatihan- pelatihan, lomba-lomba maupun kegiatan lainnya yang bisa mendatangkan kemajuan majelis ta’lim. Majelis ta’lim Nurul Hidayah mengikuti program-program yang ditawarkan FKMT maupun PERMATA. Pengurus majelis ta’lim Nurul Hidayah ada yang menjadi pengurus FKMT maupun PERMATA. Pimpinan majelis ta’lim Nurul Hidayah, pada prinsipnya memimpin secara demokrasi, maka selalu menerima saran dan kritikan dari pengurus maupun jamaah. Hal inilah yang menjadikan majelis ta’lim Nurul Hidayah mengalami perkembangan dalam segala aspek terutama dalam aspek pengelolaanya.

Menurut Fusco yang dikutip Deden, bahwa faktor kesuksesan manajemen kualitas dalam sektor pendidikan antara lain: Pertama, Kepemimpinan yang kuat. Semua unsur pimpinan harus mendukung penerapan filosofi manajemen kualitas. Kualitas pendidikan terwujud apabila dilaksanakan secara menyeluruh bukan parsial. Kedua, Perbaikan sistem secara berkesinambungan. Sistem merupakan serangkaian proses yang merupakan satu kesatuan yang saling terkait satu sama lain. Dalam lembaga pendidikan sistem di mulai dari

35

penerimaan pegawai (staf edukasi dan stap administrasi) dan penerimaan peserta didik. Ketiga, Metode statistik. Maksudnya adalah setiap personel yang melaksanakan manajemen kualitas harus berani berbicara berdasarkan fakta. Jadi, kualitas bukan hanya diukur secara kualitatif, melainkan kuantitatif. Keempat, Memiliki visi dan nilai bersama. Visi dan nilai bersama mengandung arti sepakat. Kelima, Pesan dan perilaku konsisten disampaikan pelanggan. (Deden.M, 2011)

Dalam mensukseskan manajemen kualitas, majelis ta’lim terus berupaya melakukan perubahan dalam segala aspek, diantaranya dalam mendesain kurikulum, awalnya kurikulum yang digunakan Majelis ta’lim Nurul Hidayah adalah kurikulum sederhana, materi yang disampaikan hanya materi mengaji aja, selanjutnya mengadakan perubahan dalam mendesain kurikulum. Saat ini, kurikulum yang digunakan adalah kurikulum terbuka berdasarkan Al Qur’an dan Hadis.

Materi pembelajaran yang diberikan pada jamaah berdasarkan visi dan misi Majelis ta’lim Nurul Hidayah dan dituangkan dalam program tahunan. Ciri khas dari Majelis ta’lim Nurul Hidayah adalah lebih menitik beratkan pada pembelajaran Al Qur’an, terutama membaca Al Qur’an dengan benar sesuai dengan ilmu tajwid. Hal ini sesuai dengan awal berdirinya majelis ta’lim ini, karena peduli dengan masyarakat yang minim dalam membaca Al Qur’an. Selain membaca Al Qur’an adalah fiqh, sejarah, hadis dan tafsir. Guru-guru yang mengajar sesuai dengan keahliannya. dalam hal sarana prsarana, awalnya sarana prasarana yang ada di Majelis Ta’lim Nurul Hidayah rumah salah seorang tokoh masyarakat. Kemudian ada tokoh masyarakat yang mewakafkan tanah untuk kegiatan majelis ta’lim, maka dibangunlah mesjid ta’lim tersebut.

Dana yang digunakan untuk membangun majelis ta’lim berasal dari wakaf tunai, sumbangan sumbangan dari donatur yang tidak terikat dan jamaah.

Ada beberapa pendapat mengenai faktor yang mempengaruhi kualitas.

Diantaranya menurut Edward Sallis dan Ariani yang dikutif Deden, Menurut Edward faktor yang mempengaruhi kualitas pendidikan adalah desain kurikulum, sarana prasarana dan pemeliharaanya, lingkungan belajar, sistem dan prosedur, sumber daya dan pengembangan staf.

Manajemen kualitas mempunyai beberapa model. Ada beberapa ahli yang mengembangkan mode-model manajemen kualitas, diantaranya W.

Edward Deming, Philip B. Crosby, Joseph M. Juran.Dalam mengembangkan manajemen kualitas Deming terkenal dengan filosofinya yaitu Deming’s 14 Point, isinya adalah sebagai berikut:

*. Rumuskan dan umumkan kepada semua karyawan, maksud, dan tujuan organisasi.

*. Mempelajari dan melaksanakan filosofi baru, baik oleh manajer maupun karyawan.

*. Memahami tujuan inspeksi, yaitu untuk memperbaiki proses dan mengurangi biaya.

*. Mengakhiri praktek bisnis yang menggunakan penghargaan berdasarkan angka atau uang saja.

*. Memperbaiki secara konstan dan terus menerus, kapan pun sistem produksi dan pelayanan.

*. Membudayakan pendidikan dan pelatihan.

*. Mengajarkan dan melembagakan kepemimpinan.

*. Menjauhkan rasa ketakutan, ciptakan rasa kepercayaan, ciptakan iklim yang mendukung inovasi.

37

*. Mengoptimalkan tujuan perusahaan, tim , atau kelompok.

*. Menghilangkan tekanan-tekanan yang menghambat perkembangan karyawan.

*. Menghilangkan kuota berdasarkan angka-angka, tetapi secara terus menerus melembagakan metode perbaikan. Menghilangkan manajemen berdasarkan sasaran (management by objective ), tetapi mempelajari kemampuan proses dan bagaimana memperbaikinya.

*. Menghilangkan hambatan yang membuat karyawan tidak merasa bangga akan pekerjaan atau tugasnya.

*. Mendukung pendidikan dan perbaikan atau peningkatan prestasi setiap orang.

*. Melaksanakan tindakan atau kegiatan untuk mencapai semua tujuan.

Menurut Philip B. Crosby, kualitas merupakan kesesuaian dengan syarat yang didasarkan pada kebutuhan pelanggan. Crosby memeperkenalkan empat hal penting dalam manajemen kualitas, diantaranya :

*. Definisi kualitas. Menurutnya kualitas adalah kesesuaian dengan kebutuhan.

*. Sistem pencapaian kualitas. Hal ini merupakan pendekatan rasional untuk mencegah kesalahan.

*. Standar kerja. Menurutnya standar kerja organisasi yang mempunyai orientasi kualitas adalah tidak ada kesalahan (zero defect).

*. Pengukuran. Pengukuran kerja yang digunakan adalah biaya kualitas.

Selain empat hal tersebut, Crosby memperkenalkan 14 langkah perbaikan kualitas yang disebut dengan fourteen-step plan for quality improvement. Langkah-langkah tersebut diantaranya:

*. Komitmen manajemen.

*. Tim perbaikan kualitas.

*. Pengukuran kualitas.

*. Biaya evaluasi kualitas.

*. Kesadran kualitas.

*. Tindakan koreksi.

*. Dewan yang bersifat sementara untuk program pencegahan kesalahan (zero defect).

*. Pelatihan bagi supervisi.

*. Hari-hari yang bebas kesalahan (zero defect day).

*. Menyusun sasaran atau tujuan.

*. Kesalahan menyebabkan adanya perubahan..

*. Pengenalan.

*. Dewan kualitas.

*. Kerjakan semua itu secara berulang.

Pakar manajemen yang lain adalah Josep M. Juran. Dia memperkenalkan tiga proses kualiatas. Proses kualitas tersebut diantaranya:

a. Perencanaan kualitas (quality planning), yang terdiri dari :

1). Identifikasi pelanggan, baik pelanggan internal maupun eksternal.

2). Menentukan kebutuhan pelanggan.

39

3). Mengembangkan karakteristik produk yang merupakan tanggapan terhadap kebutuhan pelanggan

4). Menyusun sasaran kualitas yang dapat memenuhi kebutuhan pelanggan sehingga dapat meminimalkan biaya.

5). Mengembangkan proses yang dapat menghasilkan produk yang sesuai dengan karakteristik tertentu.

6). Memperbaiki kemampuan proses.

b. Pengendalian Kualitas (quality control) terdiri dari:

8) Memilih subjek atau dasar pengendalian.

9) Memilih unit-unit pengukuran.

10) Menyusun pengukuran 11) Menyususn standar kerja.

12) Mengukur kinerja yang sebenarnya.

13) Menginterprestasikan perbedaan antara standar dengan data yang ada.

14) Mengambil tindakan atas perbedaan tersebut.

c. Perbaikan atau peningkatan kualitas (qualitaty improvement) yang terdiri dari:

9) Peningkatan kebutuhan untuk mengadakan perbaikan.

10) Mengidentifikasi proyek-proyek perbaikan khusus.

11) Mengorganisir proyek

12) Mengorganisir untuk mendiagnosis penyebab kesalahan.

13) Menemukan penyebab kesalahan.

14) Mengadakan perbaikan-perbaikan.

15) Proses yang diperbaiki ada dalam kondisi operasional yang efektif.

16) Menyediakan pengendalian untuk mempertahankan perbaikan atau peningkatan yang telah dicapai.

Dari penjelasan di atas dapat dikatakan bahwa manajemen kualitas merupakan pengelolaan yang dilakukan terus menerus mulai dari pucuk pimpinan sampai anggota lembaga atau organisasi. Seluruh aktivitas dilakukan untuk pencapaian totalitas karakteristik program dan proses dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan dan memenuhi harapan pelanggan.

3.6. Kesimpulan

Setelah mempelajari hasil observasi, wwawancara, dan dokumentasi dapat disimpulkan bahwa majelis ta’lim Nurul Hidayah dalam pengelolaanya cenderung menggunakan manajemen kualitas model yang dikembangkan oleh Deming, namun belum persis sama seperti yang dikembangkan Deming. Indikator bahwa majelis ta’lim Nurul Hidayah cenderung menggunakan model Deming diantaranya, merumuskan dan mengumumkan maksud dan tujuan organisasi.

Pimpinan Majelis ta’lim Nurul Hidayah selalu mengingatkan tentang tujuan majelis ta’lim kepada pengurus dan juga jamaah, oleh karena itu kegiatan yang dilaksanakan selalu mendapat respon yang baik dari jamaah. Dalam pengelolaannya majelis ta’lim Nurul Hidayah selalu ada perbaikan terus menerus dalam berbagai aspek, diantaranya dalam mendesain kurikulum, meningkatkan sumber daya manusia, meningkatkan sarana prasarana , meningkatkan sumber keuangan, dan evaluasi. Dalam hal mendesain kurikulum mengalami perkembangan dari tahun-ke tahun yaitu dengan bertambahnya materi pembelajaran, metode pembelajaran yang bervariasi, jamaah makin bertambah.

41

Sumber daya manusia dalam hal ini pimpinan dan pengurus majelis ta’lim, secara umum berlatar belakang pendidkan S1, dan secara umum umum profesinya adalah guru. Dengan demikian pimpinan dan pengurus majelis ta’lim paham betul dalam mengelola majelis ta’lim.

pimpinan majelis ta’lim selalu memberikan motivasi kepada pengurus dan jamaah, memberikan pelatihan-pelatihan kepada pengurus agar kompetensinya semakin bertambah. Dengan demikian model pengelolaan majelis ta’lim Nurul Hidayah adalah cenderung menggunakan manajemen kualitas model Deming, meskipun tidak persis sama. Model manajemen kualitas model Deming lebih dikhususkan untuk manajemen bisnis, sedangkan majelis ta’lim dalam bidang sosial. Hal ini teori manajemen kualitas Deming tidak bisa diterapkan semuanya karena berbeda objek.

42 Bumi Aksara, 2011

Alawiyah, Tuti, Strategi Dakwah di Lingkungan Majelis Taklim, Bandung, Mizan Alston, J, A. et.al, School Leadershipn & Administration Important concepts, Case

Studies, & Simulation. United States, Beth Mejia, 2007

Anwar, Rosehan, dkk, Majelis Taklim & Pembinaan Umat. Jakarta, Pusat Penelitian dan Pengembangan Lektur keagamaan Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan Departemen Agama, 2002

Ariani, D, Wahyuni, Manajemen Kualitas, Repository,V1,ac.id. 2017

Azhar, Ulfha & Dedy Achmad Kurniady, M anajemen Pembiayaan Pendidikan, Fasilitas Pembelajaran, dan Mutu Sekolah, Jurnal Administrasi Pendidikan dan Teknologi, Program Studi Administrasi Pendidikan, Sekolah Pasca Sarjana , Universitas Pendidikan Indonesia, Vol. XXIII, No 2, Tahun 2016.

Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, ( Jakarta , Bumi Aksara, 2009),

Chairunisa, C, & Pudjosumedi, Manajemen Pendidikan. Jakarta, Uhamka Press, 2013

Daft, Richad. L, Manajemen, terj. Edward Tanujaya & Shirly Tiolina. Jakarta, Salemba Empat, 2007

Daradjat, Zakiah, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta, Bumi Aksara, 1992

Bowang Darmawan, Manajemen Sarana Prasarana Dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan, Jurnal Pelopor Pendidikan, Volume 6, Nomor, 2, Juni 2014.

Fattah, Nanang, Landasan Manajemen Pendidikan. Bandung, Remaja Rosdakarya, 2013

Fauzi, Imron, Manajemen Pendidikan Ala Rosulullah. Yogyakarta, AR-Ruzz Media , 2012

Firman, N, Peran Majelis Ta’lim dalam Dinamika Sosial Umat Islam. Jurnal Bimas Islam vol 9 no 111, 2016

43

Herujito, Yayat, Dasar-Dasar Manajemen. Jakarta , Grasindo, 2001

http:// Jakarta.bps.go.id/https://admin.kemenag.go.id, diunduh tanggal 25 Juli 2017 pukul 11.40

Makbuloh, Deden. Manajemen Mutu Pendidikan Islam. Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2011

Kisbiyanto, Pengefektifan Manajemen Pembiayaan Pendidikan, Jurnal Elementary Vol.2, No. 1 Januari-Juni 2014

Kusuma, Mochtar, Evaluasi Pendidikan Pengantar, Kompetensi dan Implementasi, Yogyakarta, Parama Ilmu, 2016

Minangsih, Kulsum, Paradigma Baru Pengelolaan Institusi Dakwah: Urgensi Ilmu Manajemen mewujudkan Majelis Ta’lim Ideal, kontektualita, Vol.29, No 2, 2014

Prastyawan, Manajemen Sarana Prasarana Pendidikan, Al Hikmah Jurnal Studi Keislaman, Vol. 6, No 1, 2016.

Peraturan Pemerintah No 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan Peraturan Pemerintah No 55 Tahun 2007 Tentang Pendidikan Agama dan

Pendidikan Keagamaan

Peraturan Pemerintah No 73 tahun 1991 tentang Pendidikan Luar Sekolah

Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta, PT. Gramedia Pustaka Utama, 2015

Purwanto, Ngalim. M, Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Jakarta, Rosda Karya, 2008

Qomar, Mujamil, Manajemen Pendidikan Islam. Malang, Erlangga, 2007

Robbins, S, P & Judge, Timothi, A, Organization Behavior (Perilaku Organisasi).

Terj. Diana Angelika dkk. Jakarta, Salemba Empat, 2008

Ahmad Saepudin, Standarisasi Kurikulum Majelis Ta’lim (Analisis terhadap Peraturan Pemerintah RI. No 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan

Pendidikan Keagamaan )

https//www.google.co.id/amp/s/terskita.wordpress.com/2013/12/01/standari sasi-kurikulum-majelis-taklim/amp/ ( diakses 20 Desember 2017)

Dalam dokumen Dr. Heni Ani Nuraeni, MA - SIMAKIP (Halaman 31-53)

Dokumen terkait