BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR
E. Teknik Analisis Data
Berdasarkan uraian yang ada pada teknik pengumpulan data di atas, maka teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini ialah tentang analisis deskriptif kualitatif dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Membaca berulang-ulang dan memahami tiap-tiap bagian cerita dalam novel“Melukis Pelangi Catata Hati Oki Setiana Dewi”.
2. Mengidentifikasi tiap-tiap pengungkap Struktural dalam bentuk korpus data.
3. Menelaah semua data yang telah diperoleh berupa macam-macam bentuk Struktural dalam novel“Melukis Pelangi Catata Hati Oki Setiana Dewi”.
4. Melakukan pemeriksaan ulang terhadap data yang sudah diperoleh.
5. Jika dalam tahap pemeriksaan data dianggap sesuai dengan rumusan masalah, maka hasil tersebut dianggap sebagai hasil akhir.
34
Pada bab ini akan membahas secara rinci hasil kajian tentang penggunaan Struktural dalam novel Melukis Pelangi Catatan Hati Oki Setiana Dewi Karya Oki Setiana Dewi.
Penelitian ini merupakan kajian yang berorientasi pada pencapaian pembahasan permasalahan yang ada.Oleh karena itu, penelitian ini tentu membutuhkan data yang memiliki kebahasaan sebagai sarana pembahasan masalah.
Berikut ini hasil analisis data mengenai penggunaan Struktural dalam novel Melukis Pelangi Catatan Hati Oki Setiana Dewi Karya Oki Setiana Dewi.
A. Tema
Tema adalah ide, gagasan, pandangan hidup pengarang yang melatar belakangi ciptaan karya sastra. Karena sastra merupakan refleksi kehidupan masyarakat, maka tema yang diungkapkan bisa sangat beragam. Dalam Novel Melukis pelangi Catatan Hati Oki Setiana Dewi Terdapat tema utama dan tema tambahan.
tema Mayor novel Melukis Pelangi Catatatan Hati Oki Setiana Dewi adalah Pendidikan. Para tokoh utama biasanya dibebani membawa tema.Ini tercermin dari tokoh utama novel Melukis Pelangi Catatan Hati Oki Setiana Dewi, Oki sebagai anak yang terlahir bukan dari keluarga orang kaya yang bebas memilih les di mana saja.kehidupannya sederhana yang memiki keinginan begitu kuat dan
semangat belajar, Oki harus memutar otaknya bagaimana cara mendapatkan ilmu tanpa mengeluarkan uang. Ketika teman-teman di sekolah mengikuti bimbingan belajar di sebuah lembaga, Oki meminjam buku les mereka untuk difotokopi, dan ikut bergabung dengan mereka ketika membahas soal-soal di sekolah, kalau Oki tak mengerti, di kejar Guru sampai ke ruangannya, bahkan kalau tidak mengerti juga, didatangi gurunya sampai ke rumahnya.
Alasan Utama Oki tidak mengikuti les karna dia tidak ingin menambah beban Ayahnya, Ayah Oki hanya bekerja sebagai Pegawai negeri sipil, sejak lahir hingga umur empat tahun, Oki beserta Ayah dan Ibu tinggal di sebuah mes yang berisi enam kepala keluarga. Mereka semua adalah pegawai negeri sipil, termasuk Ayah. Di mes hanya tersedia 1 ruangan tamu, 1 dapur dan 6 ruangan.Di setiap ruangan itu, masing-masing keluarga harus membaginya menjadi kamar tidur dan kamar mandi.Sungguh, sebuah kehidupan yang sederhana.Bahkan, untuk menerima tamu pun kami harus bergantian.
Ilmu itu mahal harganya.Dan Oki tidak terlahir dari keluarga kaya yang bebas memilih les dimana saja yang dia inginkan. Karenanya, dia pun harus memutar otak bagaimana cara mendapatkan ilmu tanpa mengeluarkan uang. Selama ada niat dan keinginan yang kuat,ilmu itu bisa didapat. Berikut ini adalah kutipan bagaimana Oki belajar dengan antusias dalam keterbatasan.
“Aku selalu terkesima melihat orang yang mampu berbahasa inggris dengan lancar. Aku menyadari bahwa bahasa inggris adalah bahasa yang digunakan di seluruh dunia. Maka, aku pun mencari cara belajar bahasa inggris dengan murah. Setiap hari aku menonton kartun berbahasa inggris yang memilki subtitle bahasa Melayu di bawahnya. Atau sebaliknya, kartun itu berbahasa melayu dan dilengkapi dengan subtitle bahasa Inggris. Tak lupa aku siapkan pulpen, buku tulis, dan kamus di tanganku.Saat menonton itulah aku berkonsentrasi penuh.”
(Hal 66-67)
Kutipan di atas menggambarkan bagaimana antusias Oki dalam belajar bahasa inggris.Ia selalu duduk di depan televisi, Oki menyimak dengan seksama setiap perkataan dalam tokoh-tokoh film dan menulis kata-kata yang tidak dia mengerti dalam buku catatan.
Untuk bisa menguasai sesuatu, sesungguhnya terletak pada kesungguhan hati untuk mempelajarinya.Aku selalu percaya itu.Maka, aku mengerti dalam buku catatan. Aku serius menyimak bagaimana cara mengucapkan bahasa inggris.
B. Alur/Plot
Alur adalah rangkaian cerita dari awal sampai akhir yang merupakan rangkaian peristiwa lain yang dihubungkan dengan kausalitasnya, sehingga peristiwa pertama menyebabkan terjadinya peristiwa kedua, peristiwa kedua menyebabkan terjadinya peristiwa ketiga, dan demikian selanjutnya, hingga pada dasarnya peristiwa terakhir ditentukan oleh peristiwa pertama (Sumardjo dan Saini: 1988: 139). Alur menurut jenisnya terbagi menjadi beberapa bagian sebagai berikut :
1. Alur maju yaitu alur yang tersusun dari mulai pengenalan, keadaan bergerak, kemudaian pada tahap pertikaian menuju klimaks dan peleraian.
2. Alur mundur (flashback) merupakan alur yang terjadi sebab pengarang menempatkan akhir cerita lebih dahulu lalu kembali mengulas awal cerita (arus sorot balik).
3. Alur campuran adalah rangkaian peristiwa yang terjadi mulai dari tahap pertikaian, klimaks tahap pengenalan dan diakhiri dengan tahapan penyelesaian.
Alur dilihat dari sudut pandang terbagi menjadi kualitas dan kuantitas.
1. Kualitas
a. Alur erat merupakan alur yang tidak memungkinkan terjadinya percabangan cerita.
b. Alur longgar merupakan alur yang memungkinkan terjadi adanya percabangan cerita.
2. Kuantitas
a. Alur tunggal adalah alur yang di dalam cerita hanya terdapat satu alur cerita.
b. Alur ganda adalah alur yang di dalam cerita terdapat lebih dari satu alur.
Alur dalam Novel Melukis Pelangi Catatan Hati Oki Setiana Dewi memiliki sifat AlurMaju .Pada alur maju atau disebut juga dengan alur progresif, penulis menyajikan jalan ceritanya secara berurutan dimulai dari tahapan perkenalan ke tahapan penyelesaian secara urut dan tidak diacak.Berikut ini kutipan Alur Maju dalam Novel Melukis Pelangi Catatan Hati Oki Setiana Dewi.
Januari Silam ( Kelahiranku)
“ Tak ada yang menyangka bahwa aku akan terlahir disebuah kota kecil nun jauh di kepulauan Riau, Batam. Sebab, orangtuaku bukanlah penduduk kota asli itu.
Ayah berdarah Jawa sedangkan Ibu berdarah Palembang, yang sama seperti pendatang lainnya merantau dari kota asal untuk mencari peruntungan di kota kecil ini. Maraknya kegiatan industry, perdagangan, dan pariwisata membuat
kotaBatam membuka lapangan usaha yang siap menampung angkatan kerja dari seluruh daerah di Indonesia. Hal itu menyebabkan banyak pendatang dari berbagai daerah setiap tahunnya, tak jarang pula yang akhirnya menetap dan berkeluarga bahkan beranak-cucu disini. Salah satunya adalah keluargaku, Batam hingga saat ini menjadi kota tempat Allah memeberikan rezeki-Nyakepada kami.
Batam menjadi tempat kami sekeluarga berpijak.Batam menjadi tempat pertama saat aku menatap dunia.Januari 22 tahun silam, dari rahim seorang wanita hebat aku dilahirkan.Kelahiranku dikota ini tentu saja disambut dengan sukacita oleh keluarga besar.Ya, aku anak pertama dari pasangan Bapak Sulyanto dan Ibu Yunifah Lismawati. Ayah dan Ibuku kebingungan dengan nama yang harus diberikan kepada anak perempuannya ini. Sumbangan nama pun mulai berdatangan. Paman menyarankan agar nama yang diberikan adalah Nur Jannah, artinya cahaya surge. Keluarga yang lain mengusulkan Intan Permata Sari karena merupakan nama yang indah. Beberapa saudara dari Ayah yang kuat memegang tradisi Jawa mengkhawatirkan kalau aku akan sakit-sakitan bila diberi nama terlalu bagus. Tentu saja hal itu tidak benar .Pada akhirnya, Oki Setiana Dewi terpilih menjadi namaku.Ketika ktanyakan maknanya kepada Ayah, apakah ada kaitannya antara namaku dengan Organisasi Konferesi Islam? Meski sudah pasti jawabannya tidak, Ayah hanya mengatakan Beliau suka sekali dengan nama itu.
Setiana adalah setia, dan Dewi adalah indikasi bahwa bayi ini adalah perempuan.Mungkin orangtuaku menginginkan anaknya menjadi setia pada Agama, keluarga, dan masyarakat.( Hal. 43-44).
Potong Rambut ( Kenakalanku)
Saat itu Ayah sedang bekerja dan Ibu menjemur pakaian. Dan sebuah kisah Berjaya pun terjadi.Kisah Berjaya menurutku, tapi tragis menurut teman- temanku.Kisah inilah yang paling menghebohkan dari segala bentuk kenakalan masa kecilku. Ya, sebuah peristiwa ”penggundulan massal”.
“Nah, kalau begini, kamu jadi nggak susah keramasnya, dan hemat juga samponya,” ujarku setelah selesai memangkas rambut ketiga temanku.
“Kamu yakin?” Tanya Santi ragu dan terus menatap wajahnya dengan rambut barunya di depan cermin. Kuamati wajahnya.Jujur iya terlihat hancur sekali dengan kepala plontos dan beberapa rambut yang kusisakan sebagai buntut.
“Emang mirip sama yang disini?” tanya Mila menunjukkan gambar di majalah. Aku berdehem.
“Mirip, kok. Mereka, kan orang bule, jadi diapain aja cantik. Tuh lihat, mereka juga punya ekor-ekor. Kamu juga punya..., nih … yang ini, kan aku sisain rambut kamu. Ini sama seperti di majalah, tapi aku buat gaya baru sendiri. Biar lebih keren, gitu lho,” ucapku penuh percaya diri.Walaupun hancur, kuyakin eksperimenku tidak sepenuhnya gagal.Apalagi Sari mendukungku, membuatku semakin percaya diri.
“ Udah sana pulang. Untuk kali ini, aku kasih gratis, deh. Tapi, besok-besok, kalian harus bayar. Bawa saja majalahnya, biar aku contoh dari situ.Oke?” ucapku siap-siap menyapu tumpukan rambut-rambut di lantai. Beberapa jam kemudian,
saat Ibu sedang sibuk didapur, teman-temanku kembali dating. Tapi, kali ini sambil menangis ditemani orangtua mereka.Hatiku berdebar tak karuan.Ibu heran memandangku penuh curiga.Aku hanya bersembunyi dikamar dan menguping pembicaraan mereka.Kudengar nada-nada tinggi menghujani Ibu.Berulang-ulang Ibu hanya mengatakan maaf … maaf … maaf.Aku semakin takut ketika Ibu Mila dan Ibu Sari mulai terisak.“Bertahun-tahun rambut anak saya dipanjangkan, kok jadi gundul begini?”(Hal. 51-53)
Adik Adik Tersayang
“Asyik … aku punya adek!” teriakku dengan mata berbinar saat perut Ibu semakin besar.Tiga tahun menunggu kehadirannya, akhirnya sebentar lagi aku bisa menggendong adik bayi, bukan boneka-boneka lagi. Bayi perempuan gendut berkulit putih itupun lahir ke dunia ini.Namanya Sindy Kurnia Putri.Kami sekeluarga memanggilnya Nia.Kusambut Adikku ini dengan kebahagiaan yang meluar-luap. Kunyanyikan ia dengan lagu-lagu kegemaranku. Ketika Nia berusia 1 tahun, Ayah mengatakan kami akan pindah rumah. Kebahagiaanku semakin lengkap, karena meski harus berpisah dengan teman-teman, sekarang ada Nia yang menjadi temanku.
Setiap pulang sekolah, masih dengan keringat bercucuran di dahi, topi TK yang masih melekat di kepalaku serta termos Barbie yang masih menggantung dileher, ku serbu adikku yang lucu itu. Matanya berbinar menatapku. Ok, showtime! Kunyanyikan ia lagu-lagu baru yang kupelajari di sekolah sambil berjoget riang.
Nia tumbuh menjadi anak yang cengeng dan penakut.Berbeda denganku yang sangat pemberani.Apa mungkin karena tugas seorang kakak adalah melindungi Adiknya? Kurasa itu benar juga.Ini terbukti saat emosi seorang kakak meluap ketika mengetahui Adiknya terganggu.Saat itu aku tidak masuk sekolah karena demam, dan kulihat Nia menangis terisak-isak.Bagian lengannya biru lebam. Saat itu pula seakan ada asap keluar dari lubang hidung dan telingaku. Siapa yang berani melakukan hal ini?!Dari pengakuanNia, pelakunya ternyata tiga anak laki- laki yang sangat kukenal.Modusnya adalah mereka jijik melihat ingus yang keluar dari hidung adikku. Karena letak SD dan TK sangat berdekatan, Aku dan Nia pun menaiki Bus jemputan yang sama. Keesokan paginya, ketika Bus jemputan dating, kugandeng tangan mungil Nia.Gelak tawa membahana dalam Bus yang berisikan anak-anak SD dan TK.
“Heh!Siapa yang nyubit Adikku?Ayo, ngaku!” kupangkas tawa bahagia itu.Aku pelototi tiga anak laki-laki itu dengan tajam.Mendadak hening.Sopir dan kernetnya, serta anak-anak dalam Bus itu kebingungan.Pagi-pagi kok, sudah ada keributan seperti ini.
“Maaf, ya, Om.Sebentar, ya, Teman-Teman.Aku ada urusan sebentar dengan anak-anak jagoan ini!”Tatapku tajam ke arah mereka.Kutarik kera baju salah seorang dari mereka.
“Hebat, ya, beraninya keroyokan? Sama anak kecil lagi! Kalau sampai kalian membuat Adikku menangis dan badannya biru-biru lagi, kuhajar kalian!”Mereka pun menciut.Dasar penakut.Padahal mereka duduk di kelas 3 sementara aku masih kelas 2 SD.
“Ngerti, nggak sih?!” geramku ketika tak ada respons dari mereka.Mereka mengangguk gugup.Kulepas kera anak itu.
“Sekarang, kalian minggir! Aku dan Adikku duduk di depan! Kalian di belakang.Dan selamanya begitu!”Tanpa piker panjang, mereka langsung pindak duduk ke tempat paling belakang.Om sopir dan Om kernet mengajakku bercanda dan memuji sikap heroikku.Aku menggenggam erat tangan Nia.Tak ada yang berani mengganggunya lagi.
Ketika aku berumur 6 tahun lahirlah adik yang ketiga.Ketika itu aku agak marah kepada Ibu.Aku menginginkan adik laki-laki tapi yang lahir justru perempuan.Berbeda debgan Nia yang berkulit putih, adikku yang satu ini lahir dengan kulit agak gelap.Sampai-sampai aku sering meledeknya dengan
mengatakan, “Bayinya kalau dijemur lupa diangkat, jadi begini, deh,” atau dengan kalimat, “Tertukar mungkin waktu dirumah sakit.”Sungguh, aku sangat menyesal pernah melontarkan perkataan sejahat itu pada Adikku. Untunglah Nia, yang mendapat gelar Putri Solo dari sanak saudara karena kelembutannya, selalu membela Adikku yang bungsu.
Si bungsu yang diberi nama Ria Yunita, tumbuh menjadi anak yang sesuai namanya, Ria – riang gembira. Ia memang selalu membawa gelak tawa juga kebahagiaan kepada keluarga kami. Kami bertiga semakin kompak.Kami membagi tugas untuk membersihkan rumah, saling meminjam buku.Mereka bukan sekedar Adik-Adikku, tapi juga sahabatku.(Hal. 53-57)
Sederhana, Tapi Bahagia
Tepat di sebelah kamarku, ada seorang bapak yang kami semua memanggilnya dengan pak tua. Pak tua satu-satunya orang yang tinggal seorang diri.Ia tak memiliki Istri, apalagi anak. Pak tua jarang sekali berbicara, aku bahkan sangat takut kepadanya.
Pak tua tak pernah tersenyum kepadaku.Tak pernah menyapaku.Seolah aku tak pernah ada di dunia ini. Walaupun begitu, Ia adalah superhero bagiku. Ia pernah menolongku membukakan pintu kamar yang terkunci. Kala itu, Ibu dan ayah berada di luar rumah.Aku ketakutan sekali karena terkunci dalam kamar.Aku menangis, menjerit-jerit, dan hanya Pak Tua yang berusaha membukakan pintu.Di situlah untuk pertama kalinya, pak tua berbicara kepadaku, “Lain kali hati-
hati.Merepotkan orang saja.”Mataku berkaca-kaca menatapnya.Terimakasih banyak Pak Tua.
Suatu hari, kaki Pak Tua berdarah banyak sekali.Rupanya, ketika tidur, kaki Pak Tua digigit tikus.Tikus-tikus memang beranak pinak di Mes kami ini.Aku merasa kasihan kepadanya.Tak tega melihatnya memerban sendiri kakinya itu.
Aku ingin sekali membantunya, tapi Ia menunjukkan wajah tak ramah kepadaku.
Aku takut sekali sehingga hanya bisamemandangnya dan mendoakannya.Semoga Pak Tua cepat sembuh.
Ayah dan Ibu bukanlah orang yang berpendidikan tinggi. Mereka tidak lahir dari keluarga kaya.Itulah yang membuat mereka harus bekerja keras sejak masih bersekolah.Uang-uang yang diperoleh pun digunakan untuk membiayai sekolah Adik-Adik mereka. Ayah dan Ibu memang tak memiliki gelar di belakang nama seperti orangtua teman-temanku yang lain. Tapi, tak ada sedikit pun rasa minder dihatiku.Justru Aku sangat kagum kepada mereka.Aku bangga, apalagi ketika Om dan Tanteku yang berpendidikan tinggi yang bercerita, “Ibumu banting tulang untuk menyekolahkan kami,” “Ayahmu rela tidak kuliah demi kami.” Ayah dan Ibu sungguh member teladan. Ayah baru bias kuliah ketika Aku duduk dikelas 6 SD. Kata Ayah, tak pernah ada kata terlambat untuk belajar.
Namun untuk masalah pendidikan Anak-anaknya, Ayah dan Ibu selalu mengutamakannya. Untuk masalah prestasi di kelas, Ayah dan Ibu juga tidak pernah menekan Anak-anaknya. Ayah dan Ibu tidak pernah mengatakan Aku harus dapat rapor bagus. Ayah dan Ibu juga tak pernah marah, bila Aku mendapat
nilai jelek. Tapi, ada satu kebiasaan yang terus dilakukan selama aku duduk dibangku sekolah dasar.Ibu selalu saja melakukan Tanya jawab tentang pelajaran denganku.Aku pun harus belajar sendiri terlebih dahulu, agar bisa menjawab pertanyaan Ibu.Ibu selalu mendukung dan menemani. Dengan cara Ibu itu, Aku pun selalu menjadi juara kelas di sekolah.
Ayah mengajarkan kedisiplinan kepada Anak-anak perempuannya. Kami harus bangun pagi-pagi sekali setiap hari, bersih-bersih rumah, lalu mandi.Kami harus menyempatkan tidur siang, dan malam hari harus tidur dengan cepat. Ayah tak pernah mengizinkan kami menginap di rumah siapapun, kecuali dalam keadaan darurat dan hanya di rumah saudara. Terkadang Aku iri kepada teman- teman yang punya jam main lebih banyak. Namun, kini aturan Ayah itu baru terasa, dan kami sangat mensyukuri kedisiplinan yang telah Ayah ajarkan. (Hal.
58-62)
Dan Kukejar Sang Ilmu …
SMP adalah masa ketika aku menginjak pubertas.Aku mengisinya dengan beragam kegiatan di sekolah.Selain kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler, Aku pun tergabung dalam kepengurusan OSIS di bidang seni dan olahraga. Pada usia remaja itu aku sudah terbiasa mengadakan rapat dengan teman-teman, membuat program, acara-acara, juga bernegosiasi dengan guru dan pihak sekolah. Di kepengurusan OSIS berikutnya, Aku berada dalam bidang media dan informasi yang bertugas membuat tulisan-tulisan di majalah dinding sekolah.
“Mengerjakan sesuatu tidak boleh setengah-setengah.Fokus dan berikan yang terbaik.” Ayah berhasil menanamkan kalimat tersebut dalam kepalaku. Sehingga, Aku pun selalu berusaha total dalam mengerjakan apapun, baik menyangkut Aademik, ekstrakurikuler, karier, juga aktivitas-aktivitas lainnya.
Aku tak pernah berpikir untuk menjadi yang terbaik, tapi aku selalu ingin berusaha melakukan yang terbaik dalam segala kesempatan untuk mewujudkan mimpi-mimpiku.Sebab, musuh terbesar bukanlah orang lain, tapi diri kita sendiri.Musuh melawan rasa malas dan tentu saja hawa nafsu yang mendarah daging dalam fitrah sebagai manusia.
Prestasiku di bidang Akademik membuat Ayah mengizinkanku aktif di bidang apapun yang Aku senangi. Aku menyadari bahwa Aku sangatlah centil dan senang berekaperimen dengan make-up dan pakaian Ibu.Maka, mengikuti perlombaan busana adalah kesempatan untuk menyalurkan hobbiku.Pada dasarnya, Aku senang berkompetisi.Dengan kompetisi itulah Aku bisa mengetahui sejauh mana kemampuanku.
Banyak perlombaan busana yang Aku ikuti, tapi tak ada satupun perlombaan yang Aku menangi.Aku tak patah semangat.Gagal, coba lagi, gagal lagi, coba terus.Tidak ada kata menyerah.Semakin sering Aku gagal dalam perlombaan busana itu, semakin Aku tahu kekuranganku, lalu Aku berusaha untuk memperbaikinya.
Seiring berjalannya waktu, Aku tidak menyerah begitu saja dengankekalahan berkali-kali itu. Aku belajar dari peserta-peserta fashion show yang unggul. Akun
memperhatikan cara mereka berjalan, membawa diri, atau memilih busana.
Setelah puluhan lomba Aku ikuti, akhirnya pertama kalinya Aku menang lomba fashion show.Tepatnya dalam sebuah acara perlombaan gaun pesta tingkat remaja se-kota Batam.Aku meraih juara pertama dan mampu menyisihkan peserta lainnya.Saat itu, Aku senang luar biasa.Akhirnya, rasa penasaranku terjawab.Sebuah piala kebanggaan Aku pajang di kamarku.Dari piala yang hanya satu itu, Aku termotivasi untuk menorehkan prestasi yang lebih banyak lagi.
Akhirnya, tak ada satu perlombaan busana pun yang Aku ikuti, melainkan Aku pasti menjadi juara pertama.Dari yang gagal terus-menerus, kemudian menjadi menang terus-menerus.
Puluhan Piala bertengger di ruang tamuku dalam waktu singkat. Dari juara fashion show tingkat se-kota Batam, berlanjut ke tingkat Provinsi, hingga mewakili Provinsi, dan perlombaan tingkat Nasional. Berbagai busana aku pakai.
Dari baju casual, baju adat, baju pesta, baju pengantin, hingga baju muslim.
Setiap memenangi perlombaan, selain mendapat Piala, Aku juga menerima sejumlah uang.Dari hasil hadiah itupun Aku bisa menabung.(Hal. 69-74).
Lembar Ujian-Mu Tertulis Disini (Ibu Sakit)
Aku kira, dengan berjilbab yang melekat di kepalaku, Allah segera menghilangkan semua masalahku.Menghapus semua kesedihanku, dan menyembuhkan penyakit Ibuku.Namun nyatanya, bukan hanya itu yang mampu Allah lakukan.Lebih dari itu, Allah ingin kualitasku di sisi-Nya terus meningkat.“
Aku telah berjilbab”, tanpa pembuktian keimanan dalam bentuk amal, dan kesiapan menghadapi ujian-ujian yang akan dating menimpahku. (Hal. 144-145)
Dan Hatiku pun Bertasbih
Memandangi Nil yang tenang, membuat pikiranku melayang.Ternyata, seorang Oki pada akhirnya bisa sampai disini.Tiba-tiba saja air mata membasahi pipiku.Ada keharuan luar biasa yang kurasakan di kedalaman hatiku.Allah member kesempatan kepadaku untuk bisa menginjakkan kaki di Mesir ini, bukan tanpa alasan.Allah menakdirkan aku disini untuk suatu tujuan yang jelas. Tujuan yang nantinya akan ku persembahkan untuk-Nya. Persembahan yang lahir dari seonggok daging bernama hati.(Hal. 226)
Dan Kulukis Warna Pelangi
Mata manusia yang kecil memandang apa yang kualami ini adalah sebuah kesuksesan. Padahal ia tidaklah kekal abadi. Senang-sedih, tangis-tawa, semua digilir oleh Allah.Allah masih terus dan terus mengujiku sampai akhir kehidupan ini.Allah menjadikan dunia dan perhisannya ini sebagai tempat Nya untuk menguji.
Diawali dengan keputusanku berhijrah dan memilih untuk berjilbab, satu per satu Allah membukakan jalan bagiku untuk semakin mendekati-nya.Begitulah janji Allah. Allah berjanji, ketika kita mendekati sejengkal, Allah akan mendekat sedepa. Ketika kita mendekat sedepa, Allah bergerak mendekat sehasta.Dan pada saat kita mendekat sambil berjalan, Allah mendekati kita dengan berlari.