• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teknik dan Sistematika Penulisan

BAB I PENDAHULUAN

F. Teknik dan Sistematika Penulisan

21

dan lainnya.28 Adapun metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode komparatif (muqoron) yaitu membandingkan teks ayat-ayat Al-Qur’an yang memiliki persamaan dan kemiripan redaksi yang beragam, dalam satu kasus yang sama, atau diduga sama.29 Penulis juga menggunakan metode tematik (maudhu’i) di dalam mengumpulkan ayat-ayat mutasyâbihat dengan tema kisah Nabi Musa as.

22

pembahasannya lebih terarah dan sistematis, maka pembahasan dibagi menjadi lima bab, yaitu:

Bab pertama: yaitu pendahuluan akan dikemukakan pengantar dan kerangka landasan yang akan mengarah pada kajian bab-bab selanjutnya. Bab ini terdiri dari latar belakang masalah, identifikasi, pembatasan dan perumusan masalah agar lebih spesifik dalam penentuan penelitian, tujuan dan kegunaan penelitian, tinjauan pustaka, jenis penelitian, metodologi penelitian kemudian teknik dan sistematika penelitian.

Bab kedua: untuk mengantarkan penulis kepada kajian yang mendalam tentang analisis ayat-ayat beredaksi mirip dan menyingkap rahasia dan hikmah yang terkandung, maka pengetahuan tentang ilmu mutasyâbih lafzh sangat di perlukan. Oleh sebab itu penulis akan menguraikannya pada bab duaberisi tentang Pengertian Mutasyâbihât Lafzhi, Sebab Adanya Ayat-ayat Mutasyâbihât dalam Al-Qur’an, Ragam Ayat Mutasyâbihât Lafzhi dalam Al-Qur’an, Pandangan Orientalis dan Ulama Terkait Ayat Mutasyâbihât Lafzhî, Perhatian Ulama Terhadap Ayat Mutasyâbihât Lafzhî.

23

Bab ketiga, tema pada penulisan ini adalah berupa kisah Nabi Musa a.s, maka penulis menguraikan beberapa konsep kisah, mulai dari pengertian kisah, unsur kisah, macam-macam kisah, pengulangan kisah dan hikmahnya.

Bab keempat, langkah pertama yang harus diterapkan dalam proses menafsirkan ayat-ayat yang beredaksi mirip ialah melakukan identifikasi terhadap ayat- ayat yang mempunyai kemiripan. Langkah kedua dalam metode menafsirkan ayat-ayat yang beredaksi mirip adalah melakukan perbandingan di antara redaksi-redaksi yang mirip tersebut. Langkah ketiga adalah menganalisis redaksi-redaksi yang mirip tersebut. Penulis menguraikan langkah-langkah tersebut pada bab tiga, berisi tentang pengidentifikasian dan menghimpun ayat-ayat Mutasyâbihât Lafzhi yang terdiri dari:1. Penggantian (Ibdâl), 2. Bertambah dan Berkurang (Ziyâdat wa Nuqshân), 3. Mendahulukan dan Mengakhirkan (Taqdim wa Ta’khir), 4. Perbedaan Ungkapan (Khitâb), Perbandingan Ayat-ayat Mutasyâbihât Lafzhi berupa tabel, Hikmah dan Rahasia Ayat-ayat Mutasyabihât Lafzhi pada Kisah Nabi Musa a.s.

24

Bab kelima, merupakan bab yang terakhir dari penyusunan skripsi. Berisi tentang beberapa kesimpulan yang berisikan penegasan jawaban terhadap masalah- masalah yang diutarakan pada bab-bab terdahulu. Selain itu dikemukakan pula sejumlah saran sebagai pijakan sementara untuk melakukan penelitian lebih lanjut yang berkenaan dengan masalah yang dikaji. Pada bagian akhir penulisan akan mencantumkan daftar pustaka yang berkaitan dengan penulisan skripsi ini.

177 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Dari uraian di atas, penulis menyimpulkan pandangan Al-Qur’an terhadap kisah Nabi Musa a.s, yaitu tidak diceritakan secara kronologis dan satu surah, akan tetapi dikisahkan secara tersebar di berbagai surah dengan redaksi ayat-ayat yang hampir sama (mutasyâbih). Di dalam Al-Qur’an bentuk ayat-ayat mutasyâbih lafzhi terdiri dari beraneka ragam pola yang menjadikan ayat- ayat tersebut terkesan kontradiktif dan terkesan berulangan. Maka dari itu, penulis mengambil model yang digunakan Nashruddin Baidan, yaitu ada dua belas model.

Dari penelitian yang penulis lakukan, penulis menemukan untuk ayat-ayat Nabi Musa as., ada empat model (ibdâl, taqdim wa ta’khir, nuqshan wa ziyadah dan khitâb) yang digunakan, karena dua belas tersebut untuk semua tema dalam Al-Qur’an bukan kisah Nabi Musa as. saja. Al- Qur’an menggunakan redaksi yang mirip bukanlah tanpa sebab, melainkan di balik kemiripin tersebut tersimpan hikmah yang luar biasa. Di antara hikmah dan rahasia ayat-ayat beredaksi mirip pada kisah Nabi Musa a.s, dari

178 empat model yang digunakan penulis adalah sebagai berikut:

1. Sisi Ibdâl, adanya penggantian dari sudut pemakaian huruf, kata, ataupun susunan kalimat tidak menyebabkan terjadinya kontradiktif pada makna ayat, karena penganekaragaman redaksi tersebut guna menghindari timbulnya kejenuhan, atau sebagai pemisah antar ayat dan pilihan kata pada susunan kalimat dapat membantu untuk memahami perbedaan antar kata tersebut. Misalnya pada kata اَىْل َزْوَأَف 2/59 dan اَىْلَس ْرَأَف 7/162 artinya sama, yaitu turun karena pada kedua kata tersebut, terdapat kata ِأَمَّسلا َهِم

2. Sisi Ziyâdah wa Nuqshân (bertambah dan berkurang), adanya kata yang ditambah atau dikurangi pada suatu redaksi menunjukkan bahwa porsi tersebut layak diberikan karena melihat hubungan (munasabah) sebelum dan sesudah redaksi yang mengalami ziyâdah wa nuqshân. Sekalipun sebuah redaksi memakai kosa kata yang jumlahnya kurang dari redaksi yang lain, namun konotasinya tetap positif. Misalnya kata اَىَل َّنِا 26/41 (konteks pernyataan) dan اَىَل َّنِاَأ 7/113 (konteks pertanyaan)

179 3. Sisi Taqdim wa Ta’khir (mendahulukan dan mengakhirkan), terkadang didahulukan dan diakhirkannya sebuah kata atau kalimat untuk menyesuaikan nada atau bunyi fâshilah dan terkadang sebagai penafsir pada ayat yang lain. Misalnya kata اًدَّجُس َباَبْلا ُلُخْداَو 2/58 didahulukan dan di 7/161 diakhirkan. Pada surat 2/58 sebagai pemaparan penyebutan nikmat-nikmat pada 2/40, sedangkan pada surat 7/161 dimulai dengan celaan terhadap Bani Israil.

4. Sisi Khitâb, variasi ungkapan atau pembicaraan memberi kesan, bahwasanya semua ungkapan tersebut benar-benar diucapkan semua atau tidak, karena melihat kondisi si pelaku. Misalnya ungkapan Nabi Musa kepada keluarganya ketika melihat api. Kebahagian Nabi Musa a.s ketika melihat kobaran api menyebabkan ia mengulang ungkapan tersebut.

Dengan demikian, hikmah Al-Qur’an menggunakan redaksi yang mirip adalah menunjukkan bahwa pilihan kata merupakan keharusan untuk mewakili konteks yang sedang terjadi.

180 B. Saran

Sebagai akhir persembahan skripsi ini, penulis memberikan saran, semoga dengan saran-saran ini bermanfaat dan menjadi masukan untuk kita semua.

1. Al-Qur’an merupakan teks penting dalam keagamaan muslim, dari bacaan shalat, doa di luar itu, sampai seni di luar ritual pokok. Maka Al-Qur’an banyak menarik perhatian. Orientalis salah satu kelompok yang memperhatikan Al-Qur’an karena mereka mengkaji ketimuran dan juga memusatkan perhatiannya terhadap Al-Qur’an. Sebagai umat Islam, seharusnya kita lebih unggul dari orang-orang Barat yang mengkaji Al- Qur’an. Ketika ayat-ayat Al-Qur’an dianggap kontradiktif karena adanya ayat-ayat yang beredaksi mirip, dengan menguasai Tafsir, maka kita bisa membantah pemikiran orang-orang yang beranggapan seperti itu.

2. Ayat-ayat yang beredaksi mirip dalam Al-Qur’an banyak sekali, tidak hanya tentang kisah-kisah Nabi, oleh sebab itu penelitian tentang ayat-ayat beredaksi mirip mempunyai banyak ruang untuk diteliti.

182

DAFTAR PUSTAKA

Anwar, Rosihon, Samudera Al-Qur’an, Bandung:

PustakaSetia, 2001

Anwar, Rosihon, Ulum Al-Qur’an, Bandung: CV Pustaka Setia, 2008

Al-Aris, Fuad, Hidup Pelajaran Surah Yusuf, Jakarta: Zaman, 2013

Aththarawanah, Sulaiman, Rahasia Pilihan Kata dalam Al- Qur’an, terj. Agus Faisal Kariem dan Anis Maftukhin, Jakarta: Qishti Press, 2004

Baidan, Nashruddin, Metode Penafsiran Al-Qur’an, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011

Al-Barkah, Muhammad bin Râsyid, Al-Mutasyâbih al-Lafzhîfî Al-Qurân Al-Karîmwa Taujîhuhu, Riyâdh: Jâmi‟ah al- Imâm Muhammad bin Sa‟ûd Al-Islâmiyyah, 1426 H Badr al-Dîn bin Jamâ‟ah, Kasy al-Mâ’anî al-Mutasyâbih min

al-Matsânîy,

Chirzin, Muhammad, Al-Qur’an dan Ulumul Qur‟an, Yogyakarta: Dana Bakti Primayasa, 2003

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2002

183 Faisal, Sanapiah, Metodologi Penelitian Pendidikan, Surabaya:

Usaha Nasional, 1982

Fathimah Hamdiyah, Asthi, “Tikrar Kisah Nabi Musa as dalam Al-Qur‟an,” skripsi, Institut Ilmu Al-Qur‟an Jakarta, 2014, t.d

Fithrotul Aini, Adrika, “Keberagaman Nabi Musa dalam Al- Qur‟an,” skripsi, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2014, t.d

Hamid Abu Zaid,Nasr, Tekstualitas Al-Qur’an: Kritik Terhadap Ulumul Qur’an, Yogyakarta: PT LKiS Pelangi Aksara, 2005

Hasbi Ash-Shiddieqy, Tengku Muhammad, Ilmu-Ilmu Al- Qur’an, (Semarang: Pustaka Rizqi Putra, 2002

Hasmi Hashona, Achmad, “Uslûb al-Takrârfî Al-Qur‟ân Al- Karîm”, Skripsi, Jurusan BSA Fakultas Adab IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 1991, t.d

Hadi Ma‟rifat, Muhammad, Kisah-Kisah Al-Qur’an: Antara Fakta dan Metafora, terj. Azam Bahtiar, Jakarta:

Penerbit Citra, 2013

Imam Kharomen, Agus, Metode Alternatif dalam Menafsirkan Ayat-Ayat Beredaksi Mirip, Ciputat: Irama Offset, 2015

184 Al-Imam Muhammad bin Ali bin Muhammad asy-Syaukani, Tafsir Fathul Qadir, terj. Amir Fachruddin, Hamzah, Jakarta: Pustaka Azzam, 2010

Iskandar, Metodologi Penelitian Kualitatif, Jakarta: Gaung Persada Press, 2009

Jamâl al-Dîn Muhammad bin Mukrim Ibnu Manzûr al-Ifriqî al- Misrî, Abî al-Fadl, Lisân al-‘Arab,Juz. 13, Beirut: Dâr al-Shâdir, 1414 H

Al-Khalidy, Shalah, Kisah-Kisah Al-Qur’an Pelajaran Bagi Orang-Orang Terdahulu, Jakarta: Gema Insani, 1999 Khalafullah, Muhammad A., Al-Qur’an Bukan Kitab Sejarah,

terj. Zuhairi Misrawi dan Anis Maftukhin, Jakarta:

Paramadina, 2002

Khalil al-Qattan, Manna, Studi Ilmu-Ilmu Al-Qur’an, Jakarta:

Lentera Antar Nusa, 2002

Al-Khatîb al-Husainî, Abd al-Qâdir, Muqaddimah Hidâyah al- Murtâbwa Ghâyah al-Huffâzh wa al-Thullâbfî Tabyîn Mutasyâbih al-Kitâb li al-Sakhâwî, Beirût: Dâr al-Fikr, t.t

Al-Kirmani, Mahmud bin Hamzah, Asrar al-Tikrâr fi Al- Qur’an, tt.p.:Dâr al-Fadhîlah, t.t

Al-Makin, Antara Barat danTimur, Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2015

185 Marjoko Idris, Telaah Tematik Terhadap Kisah Para Nabi dalam Al-Qur’an, Jurnal Bahasa dan Informasi Islam, (Yogyakarta: Jurusan Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab, IAIN Sunan Kalijaga, 2001

Maula, M.A. Jadul, Cerita-Cerita Penuh Inspirasi Dari Kitab Suci, Terj. Abdurahman Assegaf, Jakarta: Zaman, 2015 Masmukhah, “Pengulangan Kisah Nabi Musa as dalam Al- Qur‟an dan Relevansinya dengan Repitisi Pembelajaran,” Tesis, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2009. Tidak diterbitkan (t.d)

Musta‟in, Ach., “Kontradiksi dalam Al-Qur‟an (Manhaj Tawfiqiy Ayat-Ayat Muta‟aridah dan Mukhtalifah,”

disertasi, IAIN Sunan Ampel Surabaya, 2013, t.d

Muhammad bin Jarîr al-Tabarî, Abî Ja‟far, Jâmi’ al-Bayân ‘an Ta’wîl Ây Al-Qur’ân , Kairo: Dâr al-Hijr, 2001

---, Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil Ayi Al- Qur’an, Terj. Abdul Somad, Jakarta: Pustaka Azzam, 2008

Muhammad „Abdullâh al-Zarkasyî, Badr al-Dîn, Al-Burhânfî

‘Ulûm Al-Qur’ân, Juz. 1, Kairo: MaktabahDâr al- Turâts, t.t.

Rahman, Fazlur, Tema Pokok Al-Qur’an, Bandung: Pustaka, 1993

186 Shihab, M. Quraisy, Mukjizat Al-Qur’an, Jakarta: Mizan, 1997 ---,KaidahTafsir, Tangerang: LenteraHati,

2013

---, Wawasan Al-Qur‟an, Bandung: Mizan, 2014

---, Membumikan Al-Qur’an, Bandung:

Mizan, 2014

---, Tafsir Al-Misbah, Jakarta: Lentera Hati, 2012

Ash-Shabuni, Muhammad Ali, Shafwatut Tafasir, Terj. KH.

Yasin, Jilid. I, Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2011

Al-Suyuthi, Jalaluddin, Samudera Ulumul Qur’an, terj. Farikh Marzuqi dan Imam Fauzi, Surabaya: Bina Ilmu, 2008 ---, Al-Itqân fî ‘Ulûm Al-Qur’ân, Juz. 2,

Beirut: Dâr al-Fikr, 2010

Syadzali, H.A., Ulum Al-Qur’an II, Bandung: Pustaka Setia, 2000

Al Syahid bi Abi Hayyan al-Andalusi, Muhammad bin Yusuf, Tafsir al Bahr al-Muhîth, juz 4, Libanon: Dar al-Kutub al „Ilmiyat, t.t

At-Tharawana, Sulaiman, Rahasia Pilihan Kata dalam Al- Qur’an, Terj. Agus Faishal Kariem dan Anis Maftukhin, Jakarta: Qisthi Press, 2004

Dokumen terkait