BAB III METODE PENELITIAN
H. Teknik Analisa Data
I. Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data
Untuk memperoleh tingkat keabsahan data, teknik yang digunakan antara lain:36
1. Ketekunan pengamatan, yakni serangkaian kegiatan yang dibuat secara terstruktur dan dilakukan secara serius dan berkesinambungan terhadap segala realistis yang ada di lokasi penelitian dan untuk menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur di dalam situasi yang sangat relevan dengan persoalan atau peristiwa yang sedang dicari kemudian difokuskan secara terperinci dengan melakukan ketekunan pengamatan mendalam.
36 Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualaitatif,(Bandung: Remaja Rosdakarya)h. 135
Maka dalam hal ini peneliti diharapkan mampu menguraikan secara rinci berkesinambungan terhadap proses bagaimana penemuan secara rinci tersebut dapat dilakukan.
2. Triangulasi data, yakni teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data yang terkumpul untuk keperluan pegecekan atau sebagai pembanding terhadap data-data tersebut. Hal ini dapat berupa penggunaan sumber, metode penyidik dan teori.37
Dari berbagai teknik tersebut cenderung menggunakan sumber, sebagaimana disarankan oleh patton yang berarti membandingkan dan mengecek kembali derajat kepercayaan suatu data yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif. Untuk itu keabsahan data dengan cara sebagai berikut :
a. Membandingkan hasil wawancara dan pengamatan dengan data hasil wawancara
b. Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan
c. Membandingkan apa yang dikatakan orang secara umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi Yang ingin diketahui dari perbandingan ini adalah mengetahui alasan-alasan apa yang melatar belakangi adanya perbedaan tersebut (jika ada perbedaan) bukan titik temu atau
37 Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya)h. 178
kesamaannya sehingga dapat dimengerti dan dapat mendukung validitas data.
3. Diskusi teman sejawat, yakni diskusi yang dilakukan dengan rekan yang mampu memberikan masukan ataupun sanggahan sehingga memberikan kemantapan terhadap hasil penelitian.
Teknik ini digunakan agar peneliti dapat mempertahankan sikap terbukadan kejujuran serta memberikan kesempatan awal yang baik untuk memulaimenjejaki dan mendiskusikan hasil penelitian dengan teman sejawat.
Oleh karena pemeriksaan sejawat melalui diskusi ini bersifat informal dilakukan dengan cara memperhatikan wawancara melalui rekan sejawat, dengan maksud agar dapat memperoleh kritikan yang tajam untuk membangun dan penyempurnaan pada kajian penelitian yang sedang dilaksanakannya.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran umum pulau Balo-baloang
Desa Balo-Baloang adalah sebuah pulau yang terletak di kecamatan Liukang Tangaya kabupaten Pangkep. Juga merupakan salah satu dari 8 desa yang ada di Kecamatan Liukang Tangaya, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan merupakan desa yang masuk wilayah kepulauan yang dikelilingi oleh gugusan pulau-pulau kecil. Sebuah pulau yang memiliki keindahan laut biru dan deretan pepohonan yang sedap di pandang mata . Namun seribu sayang kepulauan ini belum terjemah oleh pemerintah karena letaknya yang begitu jauh dari daratan . Kita dapat menempuh perjalanan 15 jam pada cuaca normal dengan menggunakan kapal tradisional atau kapal barang . Jarak tempuh antara Desa Balo- Baloang dengan kota kecamatan ± 60 km dengan menggunakan kapal perintis atau kapal motor memakan waktu sekitar 7 jam dan jarak tempuh ke Kabupaten ± 180 km dengan kendaraan yang sama menggunakan waktu sekitar 20 Jam38. Mata pencaharian masyarakat pulau Balo- baloang adalah nelayan dengan menggunakan alat tradisional seperti jaring dan pancing. Adapun mata pencaharian lain adalah berlayar dengan cara mengantar barang dari kota ke kota . Seperti Makassar, Sumbawa, Flores, dll. Adapun data Monografi tersebut adalah :
38 Data dasar profil Desa Balo-Baloang Kecamatan Liukang Tangaya Kabupaten Pangkep
1. Letak Geografi pulau Balo-baloang
Desa Balo-Baloang adalah terletak di kecamatan Liukang Tangaya kabupaten pangkep yang memiliki luas wilayah daratan 22,95 km2 yang terdiri dari 10 pulau 5 diantaranya berpenghuni dan 5 lagi belum berpenghuni dengan batas wilayah sebagai berikut:
Bagian Utara berbatasan dengan taka Ibrid atau biasa disebut juga dengan taka Rewatayya.
• Bagian Timur berbatasan dengan Kabupaten Kepulauan Selayar.
• Bagian Selatan berbatasan dengan Desa Sabalana dan Kelurahan Sapuka Liukang Tangaya.
• Bagian Barat berbatasan dengan Desa Sabaru 2. Keadaan penduduk pulau Balo-baloang
Jumlah penduduk desa Balo-baloang Kabupaten Pangkep Adalah sebagai berikut:
Jumlah total penduduk : 917 jiwa Jumlah Laki-laki : 461 jiwa Jumlah perempuan : 456 jiwa Jumlah kk : 240 KK39
Desa Balo-Baloang merupakan desa ke -3 dengan penduduk terbanyak setelah Sapuka dan Sabalana. Hal ini terlihat
39 Data dasar profil Desa Balo-Baloang Kecamatan Liukang Tangaya Kabupaten Pangkep
dari hasil sensus penduduk yang dilakukan pada tahun 2015 lalu yang menunjukkan bahwa jumlah penduduk Desa Balo-Baloang sekitar : 3.744 jiwa, dengan jumlah kepala keluarga ( KK) : 1.002.
dengan jumlah laki-laki: 1.852 jiwa dan jumlah perempuan: 1.892 jiwa. Kepadatan penduduk di Desa Balo-Baloang telah dapat ditekan seiring dengan adanya program Keluarga Berencana yang digalakkan Pemerintah, sehingga dalam satu keluarga di Desa Balo- Baloang pada umumnya hanya terdiri dari lima jiwa.
Setelah data kependudukan dari Dinas Penduduk dan Catatan Sipil dilakukan kroscek banyak data yang tidak akurat.
Penduduk yang sudah meninggal, ganda, pindah, tapi masih tetap terdaftar sebagai penduduk Desa Balo-Baloang.
Tabel 02: Jumlah Penduduk berdasarkan Jenis Kelamin Desa Balo- Baloang Tahun 201740
Nama Dusun
Jumlah
KK L P Total
Balo-Baloang 215 429 422 851
Balo-Baloang Caddi 26 51 51 102
Sumanga 263 665 607 1.272
40 Data dasar profil Desa Balo-Baloang Kecamatan Liukang Tangaya Kabupaten Pangkep
Pelokang 130 206 200 406
Lagkoitang 182 335 331 666
Total 816 1.686 1.611 3.297
Sumber : Data Hasil Olahan Desa Balo-Baloang Tahun 201741
3. Struktur Organisasi Kepemerintahan
Desa di pimpin oleh kepala desa . Dalam menjalankan tugas beliau di bantu oleh peragkat desa agar menjadi mekanisme kerja yang lancar dan tertib , maka di susunlah organisasi kepemerintahan . Adapun
Struktur Organisasi kepemerintahan desa Balo-baloang adalah sebagai berikut:
41 Laporan data penduduk desa Balo-Baloang kecamatan Liukang Tangaya Kabupaten Pangkep
STRUKTUR ORGANISASI DAN TATA KERJA PEMERINTAHAN DESA BALO-BALOANG KECAMATAN LIUKANG TANGAYA KABUPATEN
PANGKAJENE DAN KEPULAUAN 42
42 Struktur Organisasi kepemerintahan Desa Balo-Baloang KEPALA DESA
BOHARI S.Pd
KEPALA SEKSI PELAYANAN DAN KESEHJAHTERAAN MUHAMMAD ILYAS S.SOS KEPALA SEKSI
PEMERINTAHAN RUSTAN S.Pd
SEKRETARIS DESA JARRE
KEPALA URUSAN PERENCANAAN UMUM DAN TU
ILIATI
KEPALA URUSAN KEUANGAN MUSPIDASARI
KEPALA DUSUN BALO- BALOANG RUSTAN S
KEPALA DUSUN BBC URWAN
KEPALA DUSUN PELOKANG SYAMSUDDIN, A.Md,kep.
KEPALA DUSUN SUMANGA UMRAH S.Pd
KEPALA DUSUN LANGKOITANG USMAN
3. Kehidupan Keagamaan Di Pulau Balo-baloang
Sebagai seorang yang beragama hidup dan menjadi bangsa Indonesia seharusnya benar-benar bersyukur. Orang beragama tentu akan sangat mencintai agamanya, mereka akan senang jika bisa menjalankan agamanya dengan bebas, tanpa ada hambatan sedikit pun. Selain itu, mereka juga akan bahagia jika para pemimpinnya memberi ketauladanan dalam menjalankan agamanya.
Aspek kehidupan masyarakat diatur oleh sebuah peraturan yang diterapkan oleh petinggi dari masyarakat tersebut baik oleh negara tempat masyarakat tersebut berada maupun oleh petinggi adatnya. Aspek – aspek yang diatur oleh negara misalnya adalah aspek kehidupan ekonomi sosial dan kebudayaan, misalnya di Indonesia mengatur demikian.
Adapun hal lain yang diatur oleh Negara kita yaitu mengenai kehidupan beragama. Dalam hal ini diatur di dalam konstitusi kita yaitu UUD 1945 pasal 29 yang berbunyi:
1. Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa.
2. Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.
Selain diatur di dalam konstitusi yang tertuang pada pasal 29 tersebut, pemerintah juga mengukuhkan pengaturan mengenai pengaturan tentang kehidupan beragama pada UU 1/PNPS/1965
penodaan agama Pada undang – undang tersebut hanya menjelaskan bahwa setiap keagamaan yang menyimpang akan ditindak dan digolongkan pada kasus pidana. Pada pasal 1, "Setiap orang dilarang dengan sengaja di muka umum menceritakan, menganjurkan, atau mengusahakan dukungan umum untuk melakukan penafsiran tentang suatu agama yang dianut di Indonesia atau melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatan-kegiatan agama itu. " melakukan penafsiran tersebut pada pasal diatas mengandung makna yang ganda dan rancu. Penafsiran suatu agama yang dianut oleh seseorang memang dapatberbeda – beda dan pasal 29 UUD 45 memberikan kebebasan kepada rakyat untuk menganut kepercayaan yang sesuai dengan keyakinannya.
Dari pembukaan singkat diatas dapat disimpulkan bahwa keterlibatan Negara pada kehidupan beragama cukup besar. Negara menjamin kebebasan memeluk agama di dalam konstitusi tetapi membatasi kepercayaan masyarakat pada uu penodaan agama. Di dalam uu ini terdapat unsure yang memiliki muatan bahwa seseorang dilarang melakukan kegiatan peribadatan yang menyimpang dari agama yang bersangkutan.
Disini terlihat bahwa ada pembatasan kepercayaan yang dianut oleh masyarakat karena masyarakat dibatasi harus melakukan peribadatan sesuai dengan agama yang ditentukan. Misalnya pada agama X mengharus melakukan proses ibadah berupa Y ,tetapi orang
tersebut melakukan peribadatan berupa Z maka Negara turut ikut campur dan bahkan memvonis bersalah pada orang tersebut,bagaimana jika proses tersebut memang yang dipercayai oleh orang tersebut, bukankah ini bertentangan dengan konstitusi yang membebaskan masyarakat untuk menganut agama dan kepercayaannya masing – masing ?
Disinilah letak dualisme dan pertentangan pengaturan terhadap kehidupan beragama bagi masyarakat Indonesia, dimana salah satu peraturan membebaskan dan yang lain melarang kepercayaan masyarakat.
Keadaan seperti itu di pulau Balo-baloang telah dapat dilihat dan di- rasakan hambatan sedikit pun orang menjalankan agamanya. Jika ada aturan yang dianggap mengekang, misalnya dalam mendirikan tempat ibadah, sebenarnya hanyalah merupakan cara pemerintah untuk mengatur agar tidak terjadi benturan-benturan yang tidak perlu di antara ummat beragama.
Keimanan atau kepercayaan pada agama terutama Islam itu, secara pragmatis merupakan kebutuhan untuk menenangkan jiwa, terlepas apakah objek kualitas imam itu benar atau salah. Secara psikologis ini menunjukkan bahwa islam itu selalu mengajarkandan menyadarkan akan nasib keterasingan menusia dan Tuhannya.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Agus ketua DPD di Pulau Balo-baloang. Beliau mengatakan bahwa agama yang dianut penduduk di Pulau Balo-baloang itu hanya satu yaitu agama Islam
namun yang membedakan adalah cara memaknai agama islam itu sendiri ataukah masalah akidah contohnya seperti pelaksanaan shalat . Ada sebagian dari masyarakat yang beranggapan bahwa melaksanakan shalat itu tidak harus dengan gerakan cukup dalam dalam hati Padahal di dalam ajaran Islam itu shalat harus dengan gerakan bukan dalam hati disamping beriman kepada Allah SWT.43 Ada juga yang sudah melaksanakan shalat lima waktu akan tetapi masih melakukan kesyirikan dan itu masih kental sekali pada masyarakat ditempat tersebut dan tempat memintanya pun berbeda- beda sesuai dengan keyakinan mereka, ada juga tempat meletak kan sesajen setelah lebaran ataukah ketika salah seorang keluarganya sakit ataukah meminta ketika akan melaksanakan suatu hajatan seperti pernikahan dan lainnya. Mereka meletakkan makanan di rumah-rumah yang didalamnya ada kelambu merah. Juga seperti halnya ketika ada warga meninggal dunia dan saat mengantarkan jenasah ke kuburan setelah jenasah diturunkan dari rumah maka harus diletakkan di tanah 3 kali, mereka berpendapat bahwa ketika jenasah tersebut tidak diletakkan di tanah 3 kali sebelum diantarkan kekuburannya maka setelah penguburannya akan ada suatu musibah yaitu akan mendapatkan hawa yang panas dan juga akan banyak orang-orang yang akan menyusul meninggal dunia.44
43 Hasil Wawancara Dengan Ketua DPD Pulau Balo-baloang, Tgl 15 Maret 2018
44 Hasil Wawancara Dengan Tokoh Masyarakat, Tgl 15 Maret 2018
Ada juga sebagian kaum muslimin yang tidak memahami atau belum paham sepenuhnya tentang hari jumat, karena mayoritas masyarakat pulau Balo-Baloang adalah pelaut, mereka mencari ikan biasanya berangkat pada hari Selasa atau rabu, mereka tidak kembali untuk melaksanakan shalat Jumat, mereka tidak sadar akan kewajiban shalat Jumat tersebut.
Dan bentuk kesyirikan lain yang mereka lakukan seperti menyembah kuburan mereka juga meyakini sesuatu yang tidak sesuai dengan syariat agama seperti mempercayai hari tertentu dan
menyembah pohon. Perbuatan ini telah menjadi kebiasaan yang telah lama dan bahkan sudah menjadi kebiasaan sebagian besar kaum muslimin di negeri ini. Kesyirikan dengan menyembah kuburan di pulau Balo-Baloang yaitu dengan mendatangi kuburan orang yang dianggap sholeh semasa hidupnya pada hari tertentu dengan membawa makanan bahkan mereka ramai-ramai bermalam di kuburan tersebut dan makan bersama di kuburan tersebut, dan yang lebih fatalnya mereka membawa minuman keras hingga mabok dan ini sangat jauh sekali dari ajaran Islam . Dan juga mereka sampai punya subhat seperti itu karena menurut mereka orang yang sudah mengatakan kalimat shadatain tidak akan tergantung dalam kesyirikan, adanya pemahaman seperti itu karena adanya kesalahan dalam berdalil dengan hadis melakukan ibadah di kuburan seperti: berdoa , shalat, membaca Alquran, thawaf dan sebaiknya ada hewan
Terjadinya banyak permasalahan ummat tidak dapat dipungkiri bahwa hal itu memiliki keterkaitan dengan para pendakwah yang tidak berkualitas, adanya berbagai permasalahan keummatan yang terjadi tidak terlepas dari faktor para da’i yang mengemban tugas mulia yaitu dakwah Illallah. Sebelum menapaki permasalahan lebih dalam akan sebuah analisis sistem dakwah terhadap problematika ini, maka kita perlu ketahui terlebih dahulu apa dan bagaimana dakwah yang sesuai sunnah itu.
Dakwah mestilah didasarkan dengan sifat ikhlas ,yaitu mengikhlaskan segala hal dalam dakwah hanya mengharapkan balasan dari Allah.
Allah Azza Wa Jala berfirman:
ﺎَﻣﱠﻧَأ ﱠﻲَﻟِإ ﻰَﺣوُﯾ ْمُﻛُﻠْﺛِﻣ ٌرَﺷَﺑ ﺎَﻧَأ ﺎَﻣﱠﻧِإ ْلُﻗ ﺎًﺣِﻟﺎَﺻ ًﻼَﻣَﻋ ْلَﻣْﻌَﯾْﻠَﻓ ِﮫِّﺑَر َءﺎَﻘِﻟ وُﺟْرَﯾ َنﺎَﻛ ْنَﻣَﻓ ٌد ِﺣاَو ٌﮫَﻟِإ ْمُﻛُﮭَﻟِإ
اًدَﺣَأ ِﮫِّﺑَر ِةَدﺎَﺑِﻌِﺑ ْك ِرْﺷُﯾ َﻻَو Terjemahan;
Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah iya mengerjakan amal sholeh dan janganlah iya mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Tuhannya (Q.S Al- kahfi : 110)45
4. Permasalahan dakwah Islam yang dihadapi para da’i dan masyarakat di pulau Balo-baloang
Istilah permasalahan dakwah bukanlah istilah yang asing lagi dalam ilmu dakwah. Dari zaman dahulu para penulis telah sering
45 Departemen Agama, Al-Qur’an dan Terjemahnya, h.
menyebutnya. Sebagai contoh Ustadz Fathiyakan sudah menulis dalam bukunya “ Musykilatu ad-dakwah wa ad-da’iyah” beberapa problematika penting dalam permasalahan ini. Begitu juga dengan ustadz khalish Jalabiy juga menulis dalam bukunya “ fi an-naqdi adz- dzatiy” solusi dari permasalahan-permasalahan yang ada. Oleh sebab itu bukanlah hal aneh lagi istilah seperti ini dalam ilmu dakwah. Dan ia merupakan bagian yang terpenting dalam kerangka bahasannya.
Hal yang kita inginkan dari problema-problema dakwah ini adalah sekumpulan kesalahan-kesalahan dan hambatan-hambatan yang dialami oleh para da’i dalam perjalanan dakwahnya; baik tantangan itu bersifat internal maupun eksternal. Dan tantangan ini merupakan problema yang ada dalam jalan dakwah mereka. Baik kesalahan-kesalahan dan tantangan tersebut dari segi pemahaman terhadap dakwah itu sendiri atau dari segi metode yang dipakai.
Sebab kesalahan yang berasal dari diri pribadi para da’i tidaklah bisa disamakan dengan kesalahan orang biasa. Sebab dampak kesalahan orang biasa hanya kembali pada dirinya sendiri dan tidak akan berdampak kepada orang lain. Berbeda dengan kesalahan yang dilakukan oleh para da’i dalam memahami dakwah dan menerapkan metodenya. Sebab bisa berimbas kepada orang lain, kesalahan da’i akan berpengaruh terhadap dakwah secara umum, baik ia menyadari atau tidak. Pepatah lama mengatakan: “ kesalahan orang yang berilmu adalah kesalahan bagi alam “. Oleh karena itu ada peringatan
akan kesalahan panutan dan tauladan dengan bentuk yang berbeda- beda.
Kesalahan-kesalahan dan rintangan dalam dakwah agar ia dinamakan sebuah problem dan hambatan tidak diisyaratkan harus bersifat umum dan tidak harus dialami oleh semua para da’i. Tapi cukup, jika rintangan tersebut berada dalam barisan para penda’i walaupun hanya sedikit yang mengalaminya. Menganggap remeh permasalahan dakwah merupakan bentuk kesalahan. Bersikap acuh sehingga susah untuk memperbaiki ataupun mencari solusinya.
Sehingga dengan demikian orang-orang akan merasa putus asa.
Sesungguhnya tidak ada penyakit didunia ini kecuali Allah menurunkan obat. Maka hendaklah setiap da’i berjuang keras untuk mengetahui obat-obat dari permasalahan tersebut. Berusaha untuk mencari obat yang sesuai dengan penyakit. Sebab segala sesuatu berada ditangan Allah SWT.
Allah Swt berfirman:
َنﯾِﻧِﺳْﺣُﻣْﻟا َﻊَﻣَﻟ َ ﱠ� ﱠنِإَو ﺎَﻧَﻠُﺑُﺳ ْمُﮭﱠﻧَﯾِدْﮭَﻧَﻟ ﺎَﻧﯾِﻓ اوُدَھﺎَﺟ َنﯾِذﱠﻟاَو Terjemahan:
Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benar-benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami.
Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (Al-Ankabut:69)46
46 Kementrian agama RI , Al-quran tajwid dan terjemahannya hal 404
Para ulama salaf ataupun para da’i terdahulu sangat perhatian dalam hal memperbaiki kesalahan yang ada pada diri mereka sebelum mereka melakukan perbaikan terhadap orang lain. Sehingga dengan demikian mereka mudah untuk memperbaiki diri diri mereka sendiri dan menyelesaikan permasalahan. Banyak dikalangan da’i sekarang disibukkan mencari kesalahan-kesalahan orang lain dari pada mencari kesalahan diri sendiri. Sehingga dengan demikian sebagian mereka menilai jelek dan seolah tidak ada kebaikan pada diri orang lain tersebut.
a. Permasalahan yang dihadapi da’i
Ada permasalahan yang dihadapi para pendakwah di sana atau para da’i seperti faktor bahasa karena sebagian penduduk di pulau Balo-baloang masih sebagian besar tidak memahami bahasa Indonesia, mereka hanya memahami bahasa Bugis dan bahasa Makassar sedangkan para da’i yang diutus ke sana bukan berasal dari suku Bugis ataupun Makassar jadi mereka tidak mengusai bahasa Bugis maupun Makassar dengan alasan seperti itu mereka kendala dengan bahasa karena otomatis mereka menyampaikan ilmu dengan menggunakan bahasa Indonesia sehingga mereka merasa susah karena hanya sebagian dari masyarakat pulau Balo-baloang yang mengerti dan bisa memahami ilmu yang disampaikan para pendakwah.
Bentuk kendala lain yang dihadapi da’i di pulau Balo-baloang adalah mereka menyampaikan ceramah di mimbar-mimbar dan disisi lain terjadinya penyempitan makna dakwah oleh para da’i, sehingga jarang berkunjung ke rumah warga serta jarang ada da’i yang menetap di sana dan jumlah para da’i yang diutus ke pulau Balo- baloang sangat sedikit sedangkan pulau Balo-baloang sangat besar sehingga ini kendala para da’i untuk menyampaikan ilmu di sana.
Dakwah saat ini sering terkesan dimaknai sebatas pada ceramah-ceramah di mesjid, majelis taklim, dan pengajian-pengajian.
Meskipun tidak dapat di pungkiri bahwa metode lisan merupakan salah satu metode dakwah yang efektif namun hendaknya para da’i tidak menjadikan dakwah dengan metode ceramah sebagai satu- satunya hal esensi dalam dakwah. Bahkan akhir-akhir ini masyarakat Indonesia sudah mulai bosan dengar ceramah-ceramah, kalau ada yang mengikuti hanya sebatas formalitas atau mencari sisi lain yang menarik dari ceramah sang da’i seperti sang da’i yang membuat lelucon, alhasil ketika di tanya kepada masyarakat tentang yang mereka dapatkan dalam ceramah tersebut mereka hanya menjawab ustadnya pelawak ,lucu dan menarik .
Manajemen dakwah yang dilakukan oleh para da’i masih bersifat konvensional,yang hanya terbatas pada ceramah dan kuliah agama.
Kurangnya pengetahuan da’i tentang ilmu dakwah ditambah lagi dengan kurangnya pengetahuan tentang manajemen dakwah yang
efektif dan efisien membuat dakwah sering hanya bergaung dalam bentuk ceramah dan kuliah agama.
1. Permasalahan internal masyarakat
Adapun berbagai permasalahan masyarakat seperti kurang mengusai bahasa Indonesia, Di Pulau Balo-baloang sebagian besar penduduknya hanya mampu berkomunikasi bahasa Bugis dan Makassar, sehingga saat mendengar ceramah, tidak memahami apa yang disampaikan para da’i karena da’i yang diutus ke sana bukan berasal dari suku Bugis atau Makassar, jadi otomatis saat menyampaikan ilmu agama para da’i tidak bisa menyelipkan satu atau dua kata yang bernuansa bugis atau Makassar, dengan hal seperti itu masyarakat yang kurang paham terhadap bahasa Indonesia kebanyakan memilih berdiam di rumah atau pergi melanjutkan mata pencahariannya, disebabkan mereka berfikir bahwa hadir mendengar ceramah-ceramah agama hanya sebatas duduk mendengarkan ceramah lalu pulang tanpa membawa ilmu. Tanpa berfikir dengan pergi mendengarkan ceramah ataupun pengajian dapat menambah ilmu karena tanpa menguasai bahasa Indonesia dapat bertanya kepada orang yang mengusai bahasa Indonesia agar bisa diterjemahkan kedalam bahasa Bugis-Makassar itu dapat membantu mereka untuk mengenal agama lebih jauh dan bisa mengusai pesan agama yang disampaikan para da’i, dibandingkan pergi memancing
ataukah hal lain yang bisa dilakukan setiap hari sedangkan mendengarkan ceramah-ceramah agama hanya pada hari jumat ataukah saat ada pengajian dan kegiatan-kegiatan lain yang yang dilaksanakan
Kurangnya keinginan masyarakat untuk mendengar kebajikan. disadari atau tidak padatnya agenda kerja menjadikan kita semakin jauh dari kesempatan untuk mendatangi dan mendengarkan tausiah. Kita lebih disibukkan dengan berbagai urusan dunia yang begitu gemerlap. Dunia dengan segala kesenangan nafsu begitu memperdaya kesanggupan kekuatan kita untuk melangkah mencari sumber kebajikan. Karena hati yang dipenuhi iman akan senantiasa haus dengan ilmu dan kebaikan, sedangkan hati yang kosong dari iman akan disibukkan dengan hal-hal yang tidak bernilai untuk akhirat . Seperti halnya di pulau Balo-baloang penduduk di sana mayoritas pekerjaannya sebagai nelayan jadi saat ada panggilan untuk ke masjid mendengarkan ceramah ataukah ada kegiatan lain mereka lebih memilih melanjutkan kegiatannya yaitu dengan pergi memancing jadi masyarakat masih enggan untuk mendengarkan kebajikan
Masalah selanjutnya yaitu m asyarakatyang seolah-olah membuat gengsi untuk mendengar ceramah majelis ta’lim. Musuh- musuh Islam telah merubah budaya kehidupan masyarakat sehingga semakin jauh dari nuansa ruhiyah. Masyarakat melalui