• Tidak ada hasil yang ditemukan

problematika dakwah di pulau balo-baloang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "problematika dakwah di pulau balo-baloang"

Copied!
85
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Rumusan Masalah

Apa saja permasalahan dakwah Islam yang dihadapi para mubaligh dan masyarakat di Pulau Balo-baloang Kecamatan Liukang Tangaya Kabupaten Kepulauan Pangkep. Untuk mengetahui kehidupan keagamaan masyarakat di Pulau Balo-baloang Kecamatan Liukang Tangaya Kabupaten Pangkep Kepulauan. Untuk mengetahui permasalahan dakwah Islam yang dihadapi di Pulau Balo-baloang Kecamatan Liukang Tangaya Kabupaten Pangkep Kepulauan.

Ia mengatakan, hanya ada satu agama yang dianut masyarakat Pulau Balo-Baloang, yaitu Islam. Setelah memperhatikan ciri-ciri masyarakat Pulau Balo-Baloang, pada umumnya dihuni oleh masyarakat agraris.

Tujuan Peneltian

Manfaat Penelitian

Manfaat teoritis yang diperoleh dari penelitian ini adalah menambah khazanah atau wawasan temuan penelitian baru mengenai permasalahan dakwah di Pulau Balo-baloang. Manfaat praktis dari dilakukannya penelitian ini bagi para da’i adalah mereka dapat mengidentifikasi permasalahan dakwah, kemudian dapat menerapkan strategi yang tepat sesuai dengan situasi keagamaan setempat.

KAJIAN PUSTAKA

Ruang Lingkup Dakwah

Terdapat banyak ayat al-Quran yang menjelaskan tentang kewajipan umat Islam untuk berdakwah, dan kira-kira kewajipan berdakwah terdapat dalam al-Quran, antaranya: Surah an-nahl ayat 125 bukan sahaja merupakan satu bentuk perintah yang ditujukan kepada semua umat Islam untuk berdakwah. , tetapi juga sebagai panduan untuk menjalankan aktiviti dakwah yang mungkin berkaitan dengan petunjuk dalam al-Quran. Selain al-Quran, asas kewajipan dakwah juga banyak dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW, termasuk dalam beberapa hadis.

Pada dasarnya berdakwah merupakan tugas pokok para rasul yang diutus untuk berdakwah kepada umatnya agar beriman kepada Allah SWT, tetapi berdasarkan al-Qur’an dan nasihat Nabi Muhammad kepada masyarakat Islam dalam beberapa hadits tentang keharusan berdakwah. , maka berdakwah juga wajib bagi seluruh umat Islam. Mengenai hukum dakwah, masih terdapat masalah sama ada jenis kewajipan dakwah itu ditujukan kepada setiap individu atau kepada segolongan manusia, perbezaan pendapat disebabkan oleh perbezaan pemahaman dalil naqla ( al-Quran dan hadis).

Metode Dan Problematika Dakwah

Razi mengartikan kata hikmah dengan argumen konkrit Tabari memaknai kata hikmah sebagai “wahyu yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW”. Tentu saja hal itu tidak mudah. Da’i memerlukan pengetahuan yang mendalam terhadap orang yang didakwanya agar dapat memberikan pesan dan motivasi. Dalam konteks inilah para khatib harus terus menambah ilmunya karena tidak bisa hanya mengandalkan ilmu dan metode yang sama untuk menyampaikan pesan dakwah kepada semua orang.

Jadi dakwah bi al-mujilah adalah dakwah dengan cara perdebatan atau perdebatan mengenai objek dakwah. Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa permasalahan dakwah adalah permasalahan yang timbul dalam proses dakwah yaitu pada saat khatib menyeru, memanggil, mengajak dan menjamu mad'u. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa masyarakat modern adalah masyarakat yang mayoritas warganya mempunyai orientasi nilai budaya yang berorientasi pada kehidupan pada peradaban masa kini.

Berdasarkan pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa permasalahan dakwah pada masyarakat modern adalah permasalahan yang timbul dalam mengundang, memanggil, mengundang dan menjamu, yang prosesnya ditangani oleh pengembang dakwah pada masyarakat yang mayoritas warganya. memiliki orientasi nilai budaya yang berorientasi pada kehidupan batin perkembangan masa kini. Ada tiga persoalan besar yang dihadapi dakwah dalam masyarakat modern di era kontemporer ini, antara lain: 22. Kedua, umumnya dakwah tidak profesional, bahkan banyak yang menjadikan dakwah sebagai cara menyimpang setelah gagal mencapai apa yang diinginkannya, akibatnya dakwah dilakukan hanya dengan sekedar berpidato.

Ketiga, banyak pendakwah yang gagal memahami dan menerapkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, padahal ilmu pengetahuan dan teknologi adalah sesuatu yang netral yang dapat digunakan untuk kebaikan atau kejahatan. Keempat, ikatan rohani antara khatib dan masyarakat longgar, hubungan hanya sebatas ceramah saja, itu saja. Jarang sekali para mubaligh dan lembaga dakwah menggunakan media-media canggih sebagai sarana dakwahnya, seperti OHP, TV, VCD, film, Internet dan lain sebagainya, padahal sarana ini sangat efektif dalam memberikan informasi kepada masyarakat.

METODE PENELITIAN

Subyek Dan Obyek Penelitian

Sedangkan yang menjadi objek penelitian adalah pengaruh dakwah terhadap agama remaja, serta faktor apa saja yang mendukung dan menghambat pelaksanaan dakwah di daerah.

Fokus Penelitian

Jenis Dan Sumber Data

Jenis sumber data yang digunakan dalam penelitian ini terbagi menjadi dua jenis yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder. Sumber data primer dalam penelitian ini adalah data yang diperoleh dari informan, yaitu orang-orang yang berpengaruh dalam proses pengumpulan data atau bisa disebut anggota kunci, yang mempunyai kunci terhadap sumber penelitian ini, karena informan benar-benar mengetahui keadaan di daerah tersebut dan juga mengetahui kondisi keagamaan generasi muda di daerah tersebut. Penentuan informan dilakukan dengan cara memilih orang-orang yang telah dipilih dengan baik oleh penulis sesuai dengan ciri-ciri khusus sampel atau dengan memilih sampel yang sesuai dengan tujuan penelitian.

Tahap-tahap Penelitian

Pada fase ini peneliti membuat proposal atau usulan penelitian yang didiskusikan terlebih dahulu dengan dosen pembimbing dan beberapa guru serta siswa lainnya. Pada tahap ini peneliti mencari informan yaitu seseorang yang benar-benar mengetahui situasi dan kondisi di lapangan, kemudian menggunakan informan tersebut untuk melakukan penelitian. Pada tahap ini peneliti mempersiapkan segala sesuatu atau kebutuhan yang akan digunakan dalam penelitian ini.

Pada fase ini, selain mempersiapkan diri, peneliti juga harus memahami setting penelitian untuk menentukan model pengumpulan data. Pada tahap ini peneliti mencatat data-data yang diperolehnya dalam buku catatan, baik itu data yang diperoleh dari wawancara, observasi, maupun dari menyaksikan sendiri kejadian tersebut. Analisis data merupakan tahapan di mana data diorganisasikan dan dipilah-pilah ke dalam pola, kategori, dan satuan deskriptif dasar, untuk memudahkan dalam mengidentifikasi tema dan merumuskan hipotesis kerja yang sesuai dengan data tersebut.33

Pada tahap ini, data yang diperoleh dari berbagai sumber dikumpulkan, diklasifikasi, dan dianalisis dengan perbandingan yang konstan. Penulisan laporan merupakan hasil akhir dari suatu penelitian, sehingga pada tahap akhir ini peneliti mempunyai pengaruh terhadap hasil penulisan laporan tersebut. Penulisan laporan sesuai dengan tata cara penulisan yang baik karena menghasilkan hasil penelitian yang berkualitas baik.

Teknik Pengumpulan Data

Hal ini dilakukan dengan tujuan memperoleh data yang luas dan komprehensif sesuai dengan situasi saat ini. Observasi harus dilakukan secara hati-hati dan sistematis agar diperoleh hasil yang dapat dipercaya, dan peneliti harus mempunyai pengetahuan awal atau pengetahuan yang luas mengenai subjek penelitian, landasan teori dan sikap objektif.35. Observasi langsung yang dilakukan peneliti dapat diwujudkan dengan mencatat informasi yang berkaitan dengan orang tua.

Instrumen Penelitian

Teknik Analisa Data

  • Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data

Mata pencaharian masyarakat Pulau Balo-Baloang adalah menangkap ikan dengan alat tradisional seperti jaring dan pancing. Warga yang meninggal, rangkap, pindah, namun tetap terdaftar sebagai warga Desa Balo-Baloang. Situasi di Pulau Balo-Baloang yang demikian terlihat dan dirasakan seolah-olah ada hambatan sekecil apapun bagi masyarakatnya untuk menjalankan agamanya.

Bentuk kendala lain yang dihadapi para khatib di Pulau Balo-Baloang adalah mereka memberikan ceramah di mimbar dan sebaliknya makna dakwah dibatasi oleh khatib sehingga jarang mengunjungi rumah-rumah penduduk dan jarang ada khatib. dan jumlah da’i yang diutus ke Pulau Balo-baloang sangat sedikit, sedangkan Pulau Balo-baloang sangat banyak, sehingga hal ini menjadi kendala bagi para da’i untuk menyebarkan ilmu disana. Seperti halnya Pulau Balo-Baloang, sebagian besar masyarakat disana berprofesi sebagai nelayan, sehingga ketika ada panggilan untuk pergi ke mesjid untuk mendengarkan ceramah atau kegiatan lainnya, mereka lebih memilih melanjutkan aktivitasnya yaitu dengan pergi melaut, sehingga masyarakat tetap bertahan. enggan mendengarkan kebajikan. Pulau Balo-Baloang banyak terdapat tokoh-tokoh yang merubah nuansa Islam sehingga mempengaruhi masyarakat untuk tidak mengamalkan ajaran yang sesuai dengan syariat Islam. Dengan permasalahan seperti ini, masyarakat yang benar-benar mempercayai dukun mungkin akan kesulitan untuk kembali mengenal hukum agama bahkan menemui para pendakwah. Mereka sudah menganggap dirinya salah, selain itu harga diri mereka menghadiri pertemuan ilmiah juga dipengaruhi oleh para pembesar, karena dianggap lebih tahu, bahkan ajaran yang disampaikan hanya omong kosong belaka.

Di Pulau Balo-Baloang mayoritas penduduknya masih menganut ajaran sesat, sehingga ketika khatib menyampaikan ajaran Islam yang sebenarnya, masyarakat mendengarkan, namun saat pulang tidak mengerti bahkan tidak menuruti apa yang disampaikan khatib. Materi dakwah di Pulau Balo-Baloang biasanya lebih bersifat keagamaan, misalnya ibadah, fiqh, akhlak dan muamalah. Masyarakat Pulau Balo-Baloang tidak semuanya menyukai materi dakwah yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, atau politik.

Kehidupan Beragama di Pulau Balo-Baloang Agama di Pulau Balo-Baloang hanya ada satu yaitu Islam, namun terdapat perbedaan cara memaknai Islam. Dengan sendirinya masyarakat Pulau Balo-Baloang sebagian besar masih mengamalkan Syirik, atau dengan kata lain masih mengamalkan ajaran yang tidak sesuai dengan syariat Islam. Permasalahan Dakwah Islam yang dihadapi oleh para dai dan masyarakat Pulau Balo-Baloang adalah permasalahan dakwah tersebut berupa bahasa karena sebagian besar masyarakat Pulau Balo-Baloang berbahasa daerah Bugis Makassar, sedangkan para pengkhotbah yang dikirim ke sana mereka hanya berbicara dalam bahasa yang mereka kuasai. Masyarakat tidak ada keinginan untuk mendengarkan keutamaan, hal ini dikarenakan banyak masyarakat di Pulau Balo-Baloang yang dipengaruhi oleh para pembesar dalam hal ini dukun, mereka mempengaruhi sebagian besar masyarakat sehingga ketika mereka dipaksa untuk mengamalkan ajaran Islam. Faktanya, mereka lebih mudah menolak dan bahkan berpikir bahwa mereka tahu jauh lebih baik daripada apa yang dikatakan para khatib.

Strategi dakwah di Pulau Balo-Baloang adalah para da’i menggunakan tatap muka secara langsung, artinya apabila strategi ini digunakan para da’i mengharapkan adanya efek berupa perubahan perilaku para mad’u. . Agar masyarakat Pulau Balo-Baloang lebih konsisten dengan apa yang disampaikan para dai dan segera menyadari bahwa kegiatan dakwah dan sosialisasi Islam dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas para Imam dan ketakwaan, hal ini sangat penting untuk mengantisipasi pengaruh-pengaruh yang dapat mengakibatkan ke lembah rasa malu.

Tabel 02: Jumlah Penduduk berdasarkan Jenis Kelamin Desa Balo- Balo-Baloang Tahun   2017 40
Tabel 02: Jumlah Penduduk berdasarkan Jenis Kelamin Desa Balo- Balo-Baloang Tahun 2017 40

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Gambar

Tabel 02: Jumlah Penduduk berdasarkan Jenis Kelamin Desa Balo- Balo-Baloang Tahun   2017 40
Gambar 1: ceramah ramadan di mesjid Nurul Muhammad
Gambar 3: Maulid Nabi Muhammad
Gambar 5 :  Bersama santri TPA Al-Quran Nurul Jazirah

Referensi

Dokumen terkait

Tuesday, March 11, 2008 In This Issue Webmail users click here Official News · Undergraduate Students - Financial Aid Deadline 3/15/08 General Announcements · Longtime Campus Worker