• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teknik pengabsahan Data

Dalam dokumen PERTUMBUHAN PENDUDUDK DI KOTA MAKASSAR (Halaman 46-49)

BAB III METODE PENELITIAN

G. Teknik pengabsahan Data

Dalam pengujian keabsahan data peneliti mengunakan teknik kredibilitas data transferability, depandability dan pengujian konfirmability.dalam

mengetahui keabsahan data yang diperoleh (Hadi, 2017). Untuk memperoleh data yang kuat maka peneliti menggunakan keabsahan data dengan menggunakan beberapa teknik dibawah ini

1. Uji Kredibilitas

a. Perpanjangan pengamatan, adalah penulis pada saat belum mendapatkan data yang jenuh, maka penulis menambah waktu pengamatan dengan kembali turun ke lapangan untuk mendapatkan kembali data yang baru hingga rumusan masalah penelitian benar-benar bisa terjawab.

b. Triangulasi data dengan menggunakan tiga macam cara, yaitu tringulasi sumber, triangulasi teknik dan triangulasi waktu.

a) Triangulasi sumber adalah dengan cara mengecek data melalui beberapa sumber.

b) Triangulasi teknik adalah dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda

c) Triangulasi waktu adalah data yang dikumpulkan dengan teknik wawancara dengan pertimbangan waktu yang dianggap menguntungkan yang diwawancara.

c. Diskusi teman sejawat difungsikan untuk memberikan kepercayaan terhadap hasil penelitian terutama tingkat kesahihan data, maka peneliti kembali melakukan diskusi dengan teman sejawat yang sekiranya mengerti tentang fokus penelitian.

2. Pengujian Transferability

Dalam pengujian transferability bila digunakan konteks dan situasi sosial internal, sehingga dimungkinkan dalam penelitian kualitatif maka peneliti dalam membuat laporannya harus memberikan uraian yang rinci, jelas dan sistematis serta dapat dipercaya. Bila pembaca laporan penelitian

memperoleh gambaran yang sedemikian jelasnya, “semacam apa” suatu hasil penelitian dapat diberlakukan (transferability), maka laporan tersebut memenuhi standar transferabilitas.

3. Pengujian Dependability

Dalam pengujian dependability penelitian kualitatif dilakukan dengan audit terhadap keseluruhan proses penelitian. Caranya dilakukan auditor yang independen atau pembimbing untuk bagaimana peneliti mulai menentukan masalah/fokus, memasuki lapangan, menentukan sumber data, analisis data, melakukan uji keabsahan data sampai membuat kesimpulan harus dapat ditunjukkan oleh peneliti.

4. Pengujian Konfirmability

Dalam penelitian kualitatif, pengujian ini mirip dengan uji dependability, sehingga pengujiannya dapat dilakukan secara bersamaan, menguji konfirmability berarti menguji hasil penelitian, dikaitkan dengan proses yang dilakukan. Bila hasil penelitian merupakan fungsi dari proses penelitian yang dilakukan, maka penelitian tersebut telah memenuhi standar konfirmability.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 1. Gambaran Umum Kota Makassar

Makassar adalah Ibu Kota Provinsi Sulawesi Selatan, yang terletak di bagian Selatan Pulau Sulawesi yang dahulu disebut Ujung Pandang, terletak antara 119º24’17’38” Bujur Timur dan 5º8’6’19” Lintang Selatan yang berbatasan sebelah Utara dengan Kabupaten Maros, sebelah Timur Kabupaten Maros, sebelah selatan Kabupaten Gowa dan sebelah Barat adalah Selat Makassar. Kota Makassar memiliki topografi dengan kemiringan lahan 0-2°

(datar) dan kemiringan lahan 3-15° (bergelombang). Luas Wilayah Kota Makassar tercatat 175,77 km persegi. Kota Makassar memiliki kondisi iklim sedang hingga tropis memiliki suhu udara rata-rata berkisar antara 26,°C sampai dengan 29°C.

Kota Makassar adalah kota yang terletak dekat dengan pantai yang membentang sepanjang koridor barat dan utara dan juga dikenal sebagai

“Waterfront City” yang didalamnya mengalir beberapa sungai (Sungai Tallo, Sungai Jeneberang, dan Sungai Pampang) yang semuanya bermuara ke dalam kota. Kota Makassar merupakan hamparan daratan rendah yang berada pada ketinggian antara 0-25 meter dari permukaan laut. Dari kondisi ini menyebabkan Kota Makassar sering mengalami genangan air pada musim hujan, terutama pada saat turun hujan bersamaan dengan naiknya air pasang.

Secara administrasi Kota Makassar dibagi menjadi 15 kecamatan dengan

153 kelurahan. Di antara 15 kecamatan tersebut, ada tujuh kecamatan yang berbatasan dengan pantai yaitu Kecamatan Tamalate, Kecamatan Mariso, Kecamatan Wajo, Kecamatan Ujung Tanah, Kecamatan Tallo, Kecamatan Tamalanrea, dan Kecamatan Biringkanaya.

Gambar 4.1 Peta Kota Makassar

Sumber: Badan Pusat Statistik Makassar 2021 Batas-batas administrasi Kota Makassar adalah:

a. Batas Utara: Kabupaten Maros b. Batas Timur: Kabupaten Maros

c. Batas Selatan: Kabupaten Gowa dan Kabupaten Takalar d. Batas Barat: Selat Makassar

Secara umum topografi Kota Makassar dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu:

a. Bagian Barat ke arah Utara relatif rendah dekat dengan pesisir pantai.

b. Bagian Timur dengan keadaan topografi berbukit seperti di Kelurahan Antang Kecamatan Panakukang.

Perkembangan fisik Kota Makassar cenderung mengarah ke bagian Timur Kota. Hal ini terlihat dengan giatnya pembangunan perumahan di Kecamatan Biringkanaya, Tamalanrea, Mangggala, Panakkukang, dan Rappocini.

2. Profil Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana

Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kota Makassar terbentuk berdasarkan peraturan walikota nomor 95 tahun 2016 tentang kedudukan, susunn organisasi, tugas dan fungsi serta tata kerja dinas pengendalian penduduk dan keluarga yang memiliki tugas utama membantu Walikota dalam pelaksanaan kebijakan daerah yang bersifat Spesifik yaitu di bidang pengendalian penduduk dan keluarga berencana Kota Makassar.

Sejalan dengan pelaksanaan otonomi daerah dan implementasi dari semua badan hukum yang ada. Pemerintah Kota Makassar telah melaksanakan penataan organisasi perangkat daerah di lingkungan pemerintahan Kota Makassar yang tersebar dalam perda No.6 Tahun 2005 yaitu dengan dinas pengendalian penduduk dan KB Kota Makassar sebagai salah satu lembaga perangkat daerah. Pemerintahan Kota Makassar menempatkan fungsi badan keluarga berencana Kota Makassar yang mana bersekolah dibadan pemberdayaan masyarakat, kemudian membentuk organisasi yang berotasi, yaitu Dinas Pengendalian Penduduk dan KB Kota Makassar berdasarkan perda No.3 Tahun 2009.

Dasar Hukum membentuk badan keluarga berencana peraturan pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang pedoman organisasi perangkat daerah.

Peraturan daerah Kota Makassar Nomor 2 Tahun 2009 tentang urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintah Kota Makassar, selain Dasar-Dasar Hukum penetapan ruang dalam pekerjaan tugas pokok dan fungsinya badan KB Kota Makassar pada PP. 38 Tahun 2007 Tentang pembagian urusan pemerintahan.

Penyelenggaraan Pemerintahan dengan semangat otonomi daerah, sebutan pada prinsip-prinsip pemenuhan kebutuhan hak-hak Masyarakat, peran dan masyarakat, pemerataan, keadilan, dan juga perhatian dan kreativitas daerah berdasarkan PP. 38/2007 bahwa badan KB Kota Makassar menjadi urusan wajib baik daerah Provinsi, Kabupaten dan Kota.

1. Tugas Pokok Dan Fungsi DPPKB Kota Makassar

Tugas Pokok Dinas pengendalian penduduk dan KB Kota Makassar sebagai berikut:

1) Tugas Pokok

Menurut peraturan Walikota Makassar Nomor 46 Tahun 2009 tentang

“Uraian tugas jabatan struktural pada Dinas Pengendalian Penduduk Kota Makassar, memiliki tugas-tugas Pokok, membina, mengkoordinasikan, dan mengendalikan kebijakan dibidang keluarga berencana, sejahtera dan keluarga, pemindahan masyarakat, dan pengolahan Data".

2) Fungsi

Untuk melaksanakan tugas pokok sebagaimana yang di makasud, Dinas pengendalian penduduk dan KB Kota Makassar mempunyai fungsi:

a. Penyusunan rumusan kebijakan teknis pengendalian program jaminan pelayanan keluarga berencana.

b. Penyusunan kebijakan pelaksanaan kegiatan pengendalian keluarga sejahtera dan pemberdayaan keluarga.

c. Penyusunan rumusan kebijakan teknis dan fasilitas kerjasama terhadap pergerakan dan peran serta masyarakat dalam program keluarga berencana.

d. Penyusunan rumusan kebijakan teknis pelaksanaan bidang pengelohan data program keluarga berencana.

e. Penyusunan bimbingan dan pengendalian pelaksanaan koordinasi antar satuan kerja perangkat daerah dan penyusunan progam keluarga berencana, kesehatan reproduksi, pemberdayaan keluarga sejahtera.

f. Pelaksanaan perencanaan dan pengendalian teknik operasional pengelolaan keuangan kepegawaian dan pengurusan barang milik daerah yang berada dalam penguasaannya.

g. Pembina unit pelaksana dan tenaga fungsional.

2. Visi dan Misi

Visi dinas pengendalian penduduk dan KB Kota Makassar “Mewujudkan keluarga kecil bahagia dan sejahtera” Visi Kota Makassar 2025

“Terwujudnya Kota Maritim, Niaga, pendidikan, budaya dan jasa yang berorientasi global berwawasan lingkungan dan paling bersahabat”.

Misi Dinas pengendalain penduduk dan KB Kota Makassar

1) Mengembangankan jejaring pelayanan keluarga berencana yang berorientasi pada akses pelayanan terjangkau, kepuasan, konsumen secara berkesinambungan.

2) Menyiapkan dan melaksanakan pelayanan keluarga berencana dan kesejakteraan reproduksi.

3) Meningkatkan kualitas penyelengaraan program keluarga berencana 3. Struktur Organisasi

Susunan Organisasi Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, terdiri atas:

a. Kepala Dinas;

b. Sekretariat, terdiri atas:

1. Subbagian Perencanaan dan Pelaporan;

2. Subbagian Keuangan;

3. Subbagian Umum dan Kepegawaian.

c. Bidang Pengendalian Penduduk, terdiri atas:

1. Seksi Pemanduan dan Sinkronisasi Kebijakan Kependudukan;

2. Seksi Pemetaan Perkiraan Pengendalian Penduduk;

3. Seksi Data dan Informasi.

d. Bidang Keluarga Berencana, terdiri atas:

1. Seksi Pengendalian dan Pendistribusian Alat Kontrasepsi;

2. Seksi Jaminan Pelayanan Keluarga Berencana;

3. Seksi Pembinaan dan Peningkatan Kesetaraan Keluarga Berencana.

e. Bidang Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga, terdiri atas:

1. Seksi Pemberdayaan Keluarga Sejahtera;

2. Seksi Bina Ketahanan Keluarga Balita, Anak dan Lansia;

3. Seksi Bina Ketahanan Remaja.

f. Bidang Penyuluhan dan Penggerakan, terdiri atas :

1. Seksi Penyuluhan, Komunikasi, Informasi dan Edukasi;

2. Seksi Advokasi dan Penggerakan;

3. Seksi Pendayagunaan PKB/PLKB.

g. Kelompok Jabatan Fungsional.

h. Unit Pelaksana Teknis (UPT).

Memiliki 38 pegawai ASN dan 49 pegawai non ASN, dari 49 pegawai non ASN 26 orang berda di wilayah kelurahan lingkup kota Makassar dan 23 orang non ASN berada di sekretariat dan bidang-bidang DPPKB.

Gambar 4.2 Struktur Organisasi

KABID. KELUARGA BERENCANA

KASI. JAMINAN PEL. KB MASRITA. SSI, APT - NORMAN - NURSAYYIDAH, FA

KASI. PEMB KESERTAAN KB HJ. MIHRUN NISA

S.SOS,MM - HASBULLAH HASAN - ANNISA KARTIKA

KASI DISTRIBUSI ALKON ITZA SUZANNA, S,SOS.,

M.SI - HERYANTI HARBID SAP - AM IA

KABID. PENYULUHAN PENGG YANCE UNGIRWALU, SH

MH

KASI.ADVOKASI PENGGERAKAN

-

- SUKMAWATI, SKM., M.KES

- MUH YUSRI, HN, SE

KASI. PEYULUHAN

KASMANINGSIH MH.S,SOS - MOH ARSYAD UMAR,

SE

- A. SRI SUSNTI SARI, SE

KASI PEND.PKB, PLKB, KDR, KB DRS. H. SPARDIN, MM - `KHAIDIR, PH, S.SOS

KABID. KETAHANAN DAN KES KELUARGA

DR. IRMA AWALIA, M.KES

KASI. PEMBERDAYAAN KEL SEJ

HJ. RAHMAWATIAH. SH

- ROSMIATI

KASI. BINA KETAH. KELUARGA BALITA, ANAK, LANSIA

NUR YANI, S.KOM - MUADZ ASWANI.SE - ANNISA KARTIKA

KASI BINA KETAHANAN REMAJA

SRI WULANDASARI, S.SOS. MM

- AKBAR MAULANA KANI - WIRAYANTI AMD KEPALA DINAS

DRG. ITA ISDIANA ANWAR, M.KES

UPTD KB KECAMATAN

SEKRETARIS DINAS

DRG. ITA ISDIANA ANWAR, M.KES

KASUBAG TATA USAHA DRA. SRI YUNIATIN,

H.M.MSI

- RIAWATI - IRAWATI NUR, SE - MONIKA R - SAPPARA - SRI ASTUTI

PARAMIDA - M. AMRI - AMRULLAH - MUH. RIDWAN

S.KOM

KASUBAG KEUANGAN ISNADAH, SE.MM

- PAHARUDDIN, SE - SARAH, S.PI.MM - NUR ULFAH. A - NURUL

HIKMAH - MARLIAWATI - MUHAMMAD

RUDINI - FITRIAH

KASUBAG PERENCANAAN LAPORAN ASDIRAYANI KH IC

M.KES - SUMARNI DM.SE - NI WAYAN EKAWATI,

AMD

- MUH. RASUL, S.KEB NERS

KABID. PENGENDALIAN PENDUDUK DRS. MUH. RAMLI, MM

KASI. PMD. SIR KEBIJAKAN PEND DANU YERMINA, D, SKM

M.ADM. KES TULAK RANDABUNGA

KASI. DATA INFORMASI

ANY HA DIANI

KASI PEMETAAN PERKIRAAN PENGENDALIAN PENDUDUK

- BASRI

a. Kepala Dinas

Dinas pengendalian penduduk dan KB Kota Makassar mempunyai Tugas membantu walikota melaksanakan urusan pemerintahan bidang pengendalian penduduk dan keluarga berencana yang menjadi kewenangan Daerah dan tugas pembantuan yang dutugaskan kepada Daerah.

b. Sekretaris,

Sekretariat mempunyai tugas melaksanakan koordinasi pelaksanaan Tugas, pembinaan dan pelayanan administrasi kepada semua unit organisasi di lingkungan Dinas.

1. Sub bagian perencanaan dan pelaporan;

Subbagian perencanaan dan pelaporan mempunyai Tugas melakukan penyiapan bahan Koordinasi dan penyusunan rencana program Kerja, monitoring dan evaluasi serta palaporan pelaksanaan program dan kegiatan dinas.

2. Sub bagian keuangan;

Sub bagian keuangan mempunyai tugas melakukan administrasi dan akuntansi keuangan.

3. Sub bagian Tata Usaha;

Sub bagian Tata usaha mempunyai Tugas melakukan urusan umum, penatausahaan surat menyurat, urusan rumah tangga, kehumasan, dokumnetasi dan investasi barang serta administrasi kepegawaian.

c. Bidang pengendalian penduduk,

Bidang pengendalian penduduk mempunyai tugas melaksanakan kebijakan

teknis dibidang pengendalian penduduk di Kota Makassar.

1. Kasi pemanduan dan sinkronisasi kebijakan kependudukan;

Kasi pemanduan dan sinkronisasi kebijakan kependudukan mempunyai tugas menyiapkan bahan pembinaan, pembimbingan dan pelaksanaan kebijakan teknis, norma, standar, prosedur, dan kriteria serta pemantauan dan evaluasi pemanduan dan sinkronisasi kebijakan pengendalian penduduk.

2. Kasi pemetaan perkiraan pengendalian penduduk;

Kasi pemetaan perkiraan pengendalian penduduk mempunyai Tugas menyiapkan bahan pembinaan, pembimbingan dan pelaksana kebijakan teknis, norma standar, prosedur dan kriteria serta pemantauan dan evaluasi pemetaan perkiraan pengendalian penduduk.

3. Kasi data dan informasi;

Kasi data dan informasi mempunyai tugas menyiapkan bahan pembinaan, pembimbingan dan pelaksanaan kebijakan teknis, norma, standar, prosedur, dan kriteria serta pemantauan dan evaluasi data dan informasi pengendalian penduduk dan keluarga berencana.

d. Bidang keluarga berencana,

Bidang keluarga berencana mempunyai tugas melaksanakan kebijakan teknis di bidang pelaksanaan keluarga berencana.

1. Kasi pengendalian dan pendistribusian alat kontrasepsi;

Kasi pengendalian dan pendistribusian alkon mempunyai tugas menyiapkan bahan pembinaan dan pelaksanaan kebijakan teknis, norma,

standar dan prosedur dan kriteria serta pemantauan dan evaluasi pengendalian dan pendistribusian alat kontrasepsi.

2. Kasi jaminan pelayanan keluarga berencana;

Kasi jaminan pelayanan keluarga berencana mempunyai tugas menyampaikan bahan pembinaan, pembimbingan dan pelaksanaan kebijakan teknis, norma, standar prosedur dan kriteria serta pemantauan dan evaluasi jaminan pelayanan keluarga berencana.

3. Kasi pembinaan dan peningkatan kesetaraan keluarga berencana;

Kasi pembinaan dan peningkatan kesetaraan keluarga berencana mempunyai tugas menyiapkan bahan pembinaan, pembimbingan dan pelaksanaan kebijakan teknis, standar, prosedur dan kriteria serta pemantauan dan evaluasi pembinaan dan peningkatan kesertaan ber KB.

e. Bidang ketahanan dan kesejakteraan keluarga,

Bidang ketahanan dan kesejakteraan keluarga yang mempunyai tugas melaksanakan kebijakan teknis dibidang ketahanan dan kesejakteraan.

1. Kasi pemberdayaan keluarga sejahtera;

Kasi pemberdayaan keluarga sejahtera mempunyai tugas menyiapkan bahan pembinaan, pembimbingan dan pelaksanaan kebijakan teknis, norma standar prosedur dan kriteria serta pemantauan dan evaluasi pemberdayaan keluarga sejahtera.

2. Kasi bina ketahanan keluarga balita, anak dan lansia;

Kasi bina ketahanan keluarga balita, anak dan lansia mempunyai tugas menyiapkan bahan pembinaan, pembimbingan, dan pelaksanaan,

kebijakan teknis, norma, standar, prosedur, dan kriteria serta pemantauan dan evaluasi pembinaan ketahanan keluarga balita anak dan lansia.

3. Kasi bina ketahanan Remaja;

Kasi bina ketahanan Remaja mempunyai tugas menyiapkan bahan pembinaan, pembimbingan, dan pelaksanaan kebijakan teknis norma, standar, prosedur dan kriteria serta pemantauan dan evaluasi pembinaan ketahanan remaja.

f. Bidang penyuluhan dan penggerakan,

Bidang penyuluhan dan penggerakan mempunyai tugas melaksanakan kebijakan teknis dibidang penyuluhan dan penggerakan.

1. Kasi penyuluhan dan KIE;

Kasi penyuluhan dan KIE mempunyai tugas menyiapkan bahan pembinaan, pembimbingan dan pelaksanaan kebijakan teknis, norma, standar, prosedur, dan kriteria, serta pemantauan dan evaluasi pelaksanaan penyuluhan KIE.

2. Kasi advokasi dan penggerakan;

Kasi advokasi dan penggerakan mempunyai tugas menyiapkan bahan pembinaan, pembimbingan dan pelaksanaan kebijakan teknis, norma, standar, prosedur dan kriteria serta pemantauan dan evaluasi pelaksanaan dan advokasi dan penggerakan.

3. Kasi pendayagunaan PKB/PLKB

Kasi pendayagunaan PKB/PLKB mempunyai tugas menyiapkan bahan pembinaan, pembimbingan, dan pelaksanaan, kebijakan teknis, norma,

standar, prosedur dan kriteria serta pemantauan dan evaluasi pendayagunaan penyuluh keluarga berencana (PKB) Petugas lapangan keluarga berencana (PLKB) dan institusi masyarakat pedesaan (IMP).

g. Kelompok Jabatan Fungsional

Kelompok jabatan fungsional mempunyai tugas melakukan kegiatan sesuai dengan jabatan funsional masing-masing berdasarkan peraturan perundangundangan yang berlaku.

h. Unit pelaksana teknis Di lingkungan dinas pengendalian penduduk dan keluarga berencana dapat dibentuk unit pelaksana teknis berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

3. Keadaan Penduduk Kota Makassar

Penduduk merupakan faktor penting dalam suatu wilayah dalam proses pembangunan bangsa, untuk itu tingkat perkembangan penduduk sangat penting diketahui dalam menentukan langkah pembangunan.

Penduduk kota Makassar berdasarkan hasil sensus penduduk tahun 2020 sebanyak 1,423,877 jiwa. Dibanding dengan hasil sensus penduduk pada tahun 2010, penduduk kota Makassar mengalami pertumbuhan sebesar 0,60.

Tabel 4. 1

Laju Pertumbuhan Penduduk

Kecamatan Penduduk (Ribu) Laju Pertumbuhan Penduduk (%) Tahun 2019-2020

Mariso 57.426

Mamajang 56.049

Tamalate 180.824

Rappocini 144.587

Makassar 82.067

Wajo 29.972

Bontoala 54.996

Ujung Tanah 37.789

Kep. Sangkarrang 14.125

Tallo 144.977

Panakukang 139.590

Manggala 146.724

Biringkanaya 209.048

Tamalanrea 103.77

Kota Makassar 1.423.877 1,23

Sumber: Makassar Dalam Angka 2021

Berdasarkan tabel diatas penduduk kota Makassar sebesar 1.423,877 jiwa sedangkan kecamatan Biringkanaya merupakan penduduk terbanyak yaitu 209.048 jiwa dan laju pertumbuhan penduduk sebesar 1,23.

Untuk melihat kepadatan penduduk penduduk di kota makassar dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 4. 2

Kepadatan Penduduk Kota Makassar Tahun 2020

Kecamatan Persentase Penduduk Kepadatan Penduduk Per Km2

Mariso 4,03% 31,552.75

Mamajang 3,94% 24,910.67

Tamalate 12,70% 8,947.25

Rappocini 10,15% 15,664.90

Makassar 5,76% 32,556.272

Ujung Pandang 1,72% 9,325.48

Wajo 2,10% 15,061.31

Bontoala 3,86% 26,188.57

Ujung Tanah 2,51% 8,133.66

Kep. Sangkarrang 0,99% 9,172.08

Tallo 10,18% 24,867.41

Panakukang 9,80% 8,187.10

Manggala 10,30% 6,078.04

Biringkanaya 14,68% 4,335.30

Tamalanrea 7,25% 3,240.48

Kota Makassar 100% 228,231.46

Sumber: Makassar dalam angka 2021

Berdasarkan tabel diatas kepadatan penduduk di kota Makassar tahun 2020 mencapai 228,231.48 Jiwa/Km2. Kepadatan penduduk di 15 kecamatan cukup beragam dengan kepadatan penduduk tertinggi terletak di kecamatan Makassar dengan kepadatan sebesar 32,566.272 jiwa/Km2 dan terendah di kecamatan Tamalanrea sebesar 3.240 Jiwa/Km2.

Tabel 4. 3

Rasio Jenis Kelamin Penduduk Kota Makassar Tahun 2020

Kecamatan Rasio Jenis Kelamin

Mariso 100,7

Mamajang 96,4

Tamalate 100

Rappocini 95,9

Makassar 98,2

Ujung Pandang 94,1

Wajo 99,8

Bontoala 08,5

Ujung Tanah 100,2

Kep. Sangkarrang 98,8

Tallo 101,6

Panakukang 99,6

Manggala 99,6

Biringkanaya 99,9

Tamalanrea 99,2

Kota Makassar 99,2

Sumber: Makassar dalam angka 2021

Rasio jenis kelamin adalah perbandingan antara penduduk laki-laki dan penduduk perempuan pada suatu wilayah dan waktu tertentu biasanya dinyatakan dengan banyaknya penduduk laki-laki untuk 100 penduduk perempuan. Berdasarkan tabel 2.3 Sementara itu besarnya angka rasio jenis kelamin tahun 2020 penduduk laki-laki terhadap perempuan sebesar 99,19.

Tabel 4. 4

Jumlah Penduduk Berdasarkan Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Kota Makassar Tahun 2020

Kelompok Umur Jenis Kelamin

Total Laki-Laki Perempuan

0-4 59,666 56,288 115,954

5-9 58,384 55,563 113,947

10-14 67,536 63,032 130,568

15-19 66,916 62,968 129,887

20-24 67,119 63,547 130,666

25-29 65,260 63,778 129,038

10-34 62,215 60,961 123,176

35-39 53,552 54,882 108,434

40-44 47,528 49,974 97,556

45-49 40,304 44,326 84,630

50-54 35,227 39,551 74,778

55-59 30,646 33,347 64,083

60-64 22,329 24,471 46,800

65-69 15,552 18,356 33,908

70-74 9,149 11,613 20,762

75+ 7,620 12,070 19,690

Jumlah Total 709,060 714,817 1,423,877

Sumber: Makassar dalam angka 2021

Berdasarkan tabel diatas jumlah penduduk di kota Makassar 1,423,877 jiwa, penduduk laki-laki sebesar 709,060 jiwa sedangkan penduduk perempuan sebesar 714,817 jiwa.

B. Strategi Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana dalam Pengendalian Pertumbuhan Penduduk di Kota Makassar

Strategi Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana dapat dilihat dari potensi yang dimiliki untuk dikembangkan sehingga pertumbuhan penduduk kota Makassar dapat dikendalikan. Kebijakan Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, sesuai dengan data yang diperoleh, diketahui bahwa kebijakan yang diambil adalah dengan penerapan program

Keluarga Berencana (KB) selain penerapan program keluarga berencana, Dinas Pengendalian Penduduk dan Kelurga Berencana juga memuat strategi lain untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk di kota Makassar. Salah satu cara untuk mengukur tingkat keberhasilan suatu instansi apakah mereka berhasil atau tidak yaitu dengan menilai hasil kerja mereka dalam menjalankan tugas yang mereka miliki tidak terkecuali Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kota Makassar.

Pemerintah memiliki tugas yang sangat berat dalam mengatasi pertumbuhan penduduk, sehingga pemerintah membentuk suatu badan yang ditugaskan untuk mengatasi hal tersebut yaitu BKKBN dan sesuai dengan Perpres Nomor 62 Tahun 2010, dalam melaksanakan arah kebijakan Nasional di bidang pengendalian pertumbuhan penduduk dan pembangunan keluarga, pemerintah telah menetapkan strategi di mana BKKBN sebagai badan yang ditunjuk untuk mengambil kebijakan yang berkaitan dengan hal pertumbuhan penduduk dalam Rekarnas Tahun 2011-2015 telah menetapkan kebijaknnya yaitu: menyerasikan kebijakan pengendalian penduduk dan pembangunan KB, meneggerakan dan memberdayakan para pemangku kepentingan (stakeholders), mitra kerja serta masyarakat, menata kelembagaan, memperkuat sumber daya manusia, pegawai dan tenaga penyuluh, serta meningkatkan pembiayaan.

Sejalan dengan kebijakan nasional masing-masing daerah juga memiliki kebijakan tersendiri, dimana kebijakan tersebut mengacu kepada kebijakan pusat. Untuk kota Makassar ada DPPKB. Organisasi pemerintah ini merupakan mitra BKKBN dalam hal mengendalikan pertumbuhan penduduk di kota

Makassar. Kebijakan kependudukan yang utama saat ini adalah kebijakan keluarga berencana, maka DPPKB sebagai lembaga pemerintah yang menangani masalah keluarga berencana di daerah dalam menyusun program kerja di daerah, dalam hal ini kota Makassar harus berdasar kepada perpaduan antara kebijakan nasional dan kebijakan daerah.

Dinas pengendalian penduduk dan keluarga berencana kota Makassar merupakan salah satu organisasi pemerintah yang tujuan dan tupoksinya adalah menekan laju pertumbuhan penduduk di kota Makassar.

Fokus Penelitian yang dilakukan oleh peneliti diperoleh dari hasil wawancara dalam strategi dinas pengendalian penduduk dan keluarga berencana dalam pengendalian pertumbuhan penduduk di kota Makassar berdasarkan teori Hariadi.

1. Perumusan

Perumusan strategi merupakan bagian dan proses dalam menyusun langkah-langkah yang akan datang agar bisa membangun visi dan misinya dari perumusan tersebut dapat merancang strategi untuk mencapai tujuan agar tercapainya sesuatu yang terbaik.

Dalam perspektif perencanaan pembangunan daerah, sesuai amanat UndangUndang Nomor 25 Tahun 2004 dan amanat Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 pada Pasal 272 Ayat (1), menyatakan bahwa “Perangkat Daerah menyusun rencana strategis dengan berpedoman pada RPJMD”, dan Ayat (2) menyatakan bahwa “Rencana Strategis Perangkat Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat tujuan, sasaran, program, dan

kegiatan pembangunan dalam rangka pelaksanaan Urusan Pemerintahan Wajib dan/atau Urusan Pemerintahan Pilihan sesuai dengan tugas dan fungsi setiap Perangkat Daerah. Dalam hal ini, Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana mempunyai tugas membantu walikota melaksanakan Urusan Pemerintahan bidang pengendalian penduduk dan keluarga berencana yang menjadi kewenangan Daerah dan Tugas Pembantuan yang ditugaskan kepada Daerah betugas menyusun Rencana Strategis (Renstra) dan rencana kerja (Renja) sesuai tugas pokok dan fungsinya. Selanjutnya Renstra tersebut akan digunakan sebagai pedoman pelaksanaan program dan kegiatan selama periode lima tahunan dan Renja akan digunakan dalam 1 tahun dengan memperhitungkan potensi, peluang, dan kendala yang ada sehingga tujuan yang akan dicapai bersifat realistis dan dapat mengantisipasi perkembangan masa depan.

Hal itu dikemukakan oleh kasubag perencanaan oleh wawancara informan MR bahwa:

“Mengenai perumusan kebijakan itu merupakan tofoksi kita di dinas untuk merumuskan kebijakan yang akan dilakukan kedepannya sebagai pedoman juga bagi kita dalam pelaksanaan strategi di bagian pengendalian penduduk dan keluarga berencana”. (Wawancara MR, 7 februari 2022)

Berdasarkan wawancara diatas diketahui bahwa untuk perumusan strategi itu merupakan TUPOKSI (tugas pokok dan fungsi) dari Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana berdasarkan peraturan walikota Makassar tentang kedudukan, susunan organisasi, tugas dan fungsi serta tata

Dalam dokumen PERTUMBUHAN PENDUDUDK DI KOTA MAKASSAR (Halaman 46-49)

Dokumen terkait