• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teknik pengolahan Dan Analisis Data

BAB III METODELOGI PENELITIAN

H. Teknik pengolahan Dan Analisis Data

Pengolahan data merupakan kegiatan mengelompokkan data berdasarkan variabel sehingga dapat dengan mudah dibaca dan dimengerti oleh penulis. Data yang didapat dari hasil jawaban responden diolah melalui tahap tabulasi data.

Tabulasi data adalah tahap dimana penulis menabulasikan atau memindahkan jawaban responden kedalam tabel kemudian di analisis. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode kuantitatif yang merupakan metode pengolahan data yang bersifat statistik dimana dalam pengolahan datanya lebih kepada perhitungan data statistik.

1. Persentase (%) nilai rata-rata

Dimana:

P : angka persentase

f : Frekuensi yang dicari persentasenya N: Banyaknya sampel responden 2. Kriteria Presentase

Tabel 3.2: Kriteria Presentase No Interval Presentase Kriteria

1. 81 % - 100% Sangat Baik

2. 61 %- 80 % Baik

3. 41 % - 60 % Kurang Baik

4. ≤ 40 % Tidak Baik

3. Uji Korelasi

Uji korelasi yang digunakan adalah uji Korelasi produk moment:

untuk menguji hipotesis hubungan antara satu variabel independen dengan satu dependen. Untuk mengetahui tingkat signifikan otonomi daerah terhadap mutu layanan pendidikan dengan menggunakan teknik analisis korelasi product moment Sugiyono (2017 : 261).

4. Uji Regresi

Uji regresi dalam penelitian ini ialah uji regresi linear sederhana, dimanfaatkan untuk mengetahui pengaruh variabel. Manfaat regresi linear sederhana ialah untuk mengukur besarnya pengaruh variabel otonomi daerah (bebas) dan memprediksikan variabel mutu layanan pendidikan (terikat) dengan menggunakan variabel bebas dengan nilai probabilitas 0,05 (Sarwono, 2006 : 66). Adapun rumus regresi linear sederhana, sebagai berikut :

Y = a + bX Keterangan :

Y = Nilai dalam variabel dependen yang diprediksi (mutu layanan pendidikan).

a = Konstanta (otonomi daerah X = 0)

b = Koefisien regresi variabel independen yang menunjukkan angka peningkatan/penurunan variabel independen didasarkan pada variabel dependen.

X = Nilai dalam variabel independen ( Otonomi daerah ).

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Profil Sekolah Luar biasa (SLB) Negeri 1 Bulukumba

(SLB) Negeri 1 Bulukumba di dirikan oleh H. Muh Sahib. Pada tanggal 09-04-2008. yang berada di jalan teratai No 4C bulukumba kecamatan ujung bulu kabupaten bulukumba provinsi Sulawesi selatan. Lokasinya sangat strategis karena letaknya di pinggir jalan poros bulukumba sinjai. (SLB) Negeri 1 Bulukumba Memiliki jumlah guru 37 orang dan siswa 97 orang yang terdiri berdasarkan tingkat pendidikan yaitu 12 tingkatan dan memiliki 12 ruangan belajar. Berdasarkan data di lapangan yang kemudian dianalisis sesuai dengan tujuan penelitian, maka dapat disajikan hasil penelitian dan pembahasan.

2. Visi dan Misi Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 1 Bulukumban

„‟terwujudnya kemandirian anak berkebutuhan khusus dengan bimbingan guru yang optimal dilandasi dengan budaya luhur sesuai dengan ajaran agama.‟‟

Misi

1) Melengkapi sarana dan prasarana pembelajaran untuk belajar mandiri.

2) Membekali keterampilan kerja sesuai dengan bakat dan kemampuan siswa.

3) Menanamkan budaya-budaya luhur sesuai dengan kaidah agama.

4) Mengoptimalkan bimbingan terhadap anak berkebutuhan khusus.

3. Deskripsi Otonomi Daerah SeKolah Luar Biasa (SLB) Negeri 1 Bulukumba

a. Akuntabilitas/ Pertanggung Jawaban

Kewajiban daerah untuk ikut melancarkan jalannya pembangunan sebagai sarana untuk mencapai kesejahteraan rakyat yang harus diterima dan dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab.

Tabel 4.4 Kewajiban daerah untuk ikut melancarkan jalannya pembangunan sebagai sarana untuk mencapai kesejahteraan rakyat

Uraian Skor

(S)

Frekuensi (F)

Presentase (%)

Tidak Setuju 1 1 2,7

Kurang Setuju 2 0 0

Setuju 3 12 32,4

Sangat setuju 4 24 64,9

Total 37 100

Pada tabel 4.4 di atas menunjukan bahwa 1 atau 2,7% menunjukan tidak setuju, 0 atau 0% menunjukkan kurang setuju, 12 atau 32,4% menunjukan setuju, 24 atau 64,9% menunjukan sangat setuju.

Dari data di atas dengan peryataan kewajiban daerah untuk ikut melancarkan jalannya pembangunan sebagai sarana untuk mencapai kesejahteraan masyarakat dapat diketahui sebanyak 64,9% dengan kategori sangat setuju.

b. Optimalisasi Kinerja

Optimalisasi kinerja kepala daerah, wakil kepala daerah, sekretaris daerah, dinas-dinas daerah, dan lembaga teknis lainnya.

Tabel 4.5 untuk mengoptimalkan kinerja para pejabat daerah harus diketahui tugas dan kewajibannya

Uraian Skor

(S)

Frekuensi (F)

Presentase (%)

Tidak Setuju 1 0 0

Kurang Setuju 2 0 0

Setuju 3 15 40,5

Sangat setuju 4 22 59,5

Total 37 100

Pada tabel 4.5 di atas menunjukan bahwa 0 atau 0% menunjukan tidak setuju, 0 atau 0% menunjukan kurang setuju, 15 atau 40,5% menunjukan setuju, dan 22 atau 59,5% menunjukan sangat setuju.

Dari data di atas dengan pernyataan untuk mengoptimalkan kinerja para pejabat daerah harus diketahui tugas dan kewajibannya dapat diketahui sebanyak 59,5% dengan kategori sangat setuju.

c. Perspektif Guru terhdap PEMDA

Sistem pengawasan yang tepat dapat membantu optimalisasi pemda.

Tabel 4.6 Kepala Sekolah harus membuat perjanjian dengan PEMDA dalam bentuk peraturan dan perundang-undangan

Uraian Skor

(S)

Frekuensi (F)

Presentase (%)

Tidak Setuju 1 1 2,7

Kurang Setuju 2 4 10,8

Setuju 3 9 24,3

Sangat setuju 4 23 62,2

Total 37 100

Pada tabel 4.6 di atas menunjukan bahwa 1 atau 2,7% menunjukan tidak setuju, 4 atau 10,8% menunjukan tidak setuju, 9 atau 24,3% menunjukan setuju, dan 23 atau 62,2% menunjukan sangat setuju.

Dari data di atas dengan pernyataan kepala sekolah harus membuat perjanjian dengan PEMDA dalam bentuk peraturan dan perundang-undang dapat diketahui sebanyak 62,4% dengan kategori sangat setuju.

4. Rata-rata Deskripsi Otonomi Daerah Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 1 Bulukumba

Tabel 4.7 Rata-rata

No Indikator Persentasi

(%) Kategori 1. Akuntabilitas/ pertanggung jawaban 64,9 Baik

2. Optimalisasi kinerja 59,5 Kurang Baik

3. Perspektif guru terhadap PEMDA 62,4 Baik Total

62,3 Baik

Berdasarkan tabel 4.7 di atas untuk indikator akuntabilitas/ pertanggung jawaban diperoleh sebanyak 64,9% dengan kategori baik, untuk indikator optimalisasi kinerja diperoleh sebanyak 59,5% dengan kategori kurang baik, untuk indikator perspektif guru terhadap PEMDA diperoleh sebanyak 62,4%

dengan kategori baik. Jadi rata-rata untuk variabel otonomi daerah sekolah luar biasa(SLB) Negeri Bulu kumba sebanyak 62,3% dengan kategori baik, jadi dapat disimpulkan bahwa otonomi daerah sekolah luar biasa(SLB) Bulukumba Negeri tergolong baik.

5. Deskripsi Mutu Layanan Pendidikan Sekolag Luar Biasa(SLB) Negeri 1 Bulukumba

a. Tangibles

Tangibles, yaitu berkaitan dengan penampilan fisik lembaga, peralatan, pegawai dan sarana komunikasi.

Tabel 4.8 Guru pada umumnya harus menanggung resiko yang merugikan diri sendiri

Uraian Skor

(S)

Frekuensi (F)

Presentase (%)

Tidak Setuju 1 20 54,1

Kurang Setuju 2 2 5,4

Setuju 3 10 27,0

Sangat setuju 4 5 13,5

Total 37 100

Pada tabel 4.8 di atas menunjukan bahwa 20 atau 54,1% menunjukan tidak setuju, 2 atau 5,4% menunjukan kurang setuju, 10 atau 27,0% menunjukan setuju, dan 5 atau 13,5% menunjukan sangat setuju.

Dari data di atas dengan peryataan guru pada umumnya harus menanggung resiko yang merugikan diri sendiri dapat diketahui sebanyak 54,1%

dengan kategori tidak setuju.

b. Reliability

Reliability, yaitu kemampuan untuk memberikan layanan sebagaimana yang dijanjikan, terpercaya, akurat, dan konsisten.

Tabel 4.9 Guru seterusnya membuat aturan yang dibutuhkan untuk memperbaiki sistem pendidikan

Uraian Skor

(S)

Frekuensi (F)

Presentase (%)

Tidak Setuju 1 1 2,7

Kurang Setuju 2 1 2,7

Setuju 3 16 43,2

Sangat setuju 4 19 51,4

Total 37 100

Pada tabel 4.9 di atas menunjukan bahwa 1 atau 2,7% menunjukan tidak setuju, 1 atau 2,7% menunjukan kurang setuju, 16 atau 43,2% menunjukan setuju, dan 19 atau 51,4% menunjukan sangat setuju.

Dari data di atas dengan peryataan guru seterusnya membuat aturan yang dibutuhkan untuk memperbaiki sistem pendidikan dapat diketahui sebanyak 51,4% dengan kategori sangat setuju.

c. Responsiveness

kedisiplinan waktu kerja yaitu sesuai tidaknya dengan waktu yang direncanakan. Ketepatan waktu menentukan penyelesaian suatu pekerjaan.

Tabel 4.10 Membantu siswa untuk mengembangkan potensinya

Uraian Skor

(S)

Frekuensi (F)

Presentase (%)

Tidak Setuju 1 0 0

Kurang Setuju 2 0 0

Setuju 3 2 5,4

Sangat setuju 4 35 94,6

Total 37 100

Pada tabel 4.10 di atas menunjukan bahwa 0 atau 0% menunjukan tidak setuju, 0 atau 0% menunjukan kurang setuju, 2 atau 5,4% menunjukan setuju, dan 35 atau 94,6% menunjukan sangat setuju.

Dari data di atas dengan peryataan membantu siswa untuk mengembangkan potensinya dapat diketahui sebanyak 94,6% dengan kategori sangat setuju.

d. Assurance

Assurance (kombinasi dari courtery competence,, credibility, scurity), yaitu kemampuan staf lembaga untuk memberikan kepercayaan kepada pelanggan melalui rasa hormat dan pengetahuan yang mereka miliki.

Tabel 4.11 Perlu dilakukan peningkatan ilm pengetahuan dan keterampilan staf yang terkait dengan pengolahan sekolah melalui pendidikan lanjutan

maupun kursus pendidikan

Uraian Skor

(S)

Frekuensi (F)

Presentase (%)

Tidak Setuju 1 0 0

Kurang Setuju 2 0 0

Setuju 3 10 27,0

Sangat setuju 4 27 73,0

Total 37 100

Pada tabel 4.11 di atas menunjukan bahwa 0 atau 0% menunjukan tidak setuju, 0 atau 0% menunjukan kurang setuju, 10 atau 27,0% menunjukan setuju, dan 27 atau 73,0% menunjukan sangat setuju.

Dari data di atas dengan peryataan perlu dilakukan peningkatan ilmu pengetahuan dan keterampilan staf yang terkait dengan pengelolaan sekolah melalui pendidikan lanjutan maupun kursus pendidika dapat diketahui sebanyak 73,0% dengan kategori sangat setuju.

e. Empathy

Tabel 4.12 Perlu penanganan bimbingan konseling umtuk siswa

Uraian Skor

(S)

Frekuensi (F)

Presentase (%)

Tidak Setuju 1 0 0

Kurang Setuju 2 0 0

Setuju 3 12 32,4

Sangat setuju 4 25 67,6

Total 37 100

Pada tabel 4.12 di atas menunjukan bahwa 0 atau 0% menunjukan tidak setuju, 0 atau 0% menunjukan kurang setuju, 12 atau 32,4% menunjukan setuju, dan 25 atau 67,6% menunjukan sangat setuju.

Dari data di atas dengan pernyataan perlu penanganan bimbingan konseling untuk siswa dapat diketahui sebanyak 67,6% dengan kategori sangat setuju.

6. Rata-rata Deskripsi Mutu Layanan Pendidikan Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 1 Bulukumba

Tabel 4.13 Rata-rata

No Indikator Persentasi

(%) Kategori

1. Tangibles 54,1 Kurang

Baik

2. Reliability 51,4 Baik

3. Reponsiveness 94,6 Sangat Baik

4. Asurance 73,0 Baik

5. Empathy 67,6 Baik

Total

68,1 Baik

Berdasarkan tabel 4.13 di atas untuk indikator tangibles diperoleh sebanyak 51,4% dengan kategori kurang Baik, untuk indikator reliability diperoleh sebanyak 51,4% dengan kategori Baik, untuk indikator reponsivenesess diperoleh sebanyak 94,6% dengan kategori sangat baik, untuk indikator assurance diperoleh sebanyak 73,0% dengan kategori baik, dan untuk indikator empathy diperoleh sebanyak 67,6% dengan kategori baik. Jadi rata-rata untuk variabel mutu layanan Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Bulu Kumba sebanyak 68,1% dengan kategori baik, jadi dapat disimpulkan bahwa mutu layanan Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Bulukumba tergolong baik.

7. Pengaruh Otonomi Daerah terhadap Mutu Layanan Pendidikan Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 1 Bulukumba

Hasil penelitian pengaruh otonomi daerah terhadap peningkatan mutu layanan pendidikan Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Bulu Kumba bertujuan untuk mengetahui pengaruh antara kedua variabel, yaitu variabel otonomi daerah (X) dan variabel mutu layanan pendidikan (Y) dengan melakukan analisis data antara laian :

a. Analisis Korelasi

Untuk mengetahui bagaimana hubungan antara otonomi daerah terhadap peningkatan mutu layanan pendidikan Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Bulu Kumba, dapat dilihat dari hasil perhitungan korelasi product moment menggunakan program SPSS versi 22. Setelah melakukan perhitungan skor atau jumlah dari kedua variabel X dan Y menggunakan rumus korelasi product moment, serta cara dibuat dalam bentuk korelasi menggunakan SPSS Versi 22, maka dapat diperoleh hasil perhitungan sebagai berikut :

Tabel 4.14 Hasil Uji Korelasi

Correlations

Otonomi daerah Mutu layanan pendidkan

Otonomidaerah

Pearson Correlation 1 ,435**

Significance(2-tailed) ,007

N 37 37

mutulayananpendidkan

Pearson Correlation ,435** 1

Significance(2-tailed) ,007

N 37 37

**. Correlation at 0.01(2-tailed):...

Dari hasil perhitungan product moment dengan bantuan SPSS versi 22 pada tabel 4.14 di atas, di peroleh nilai korelasi sebesar 0,435 maka dapat disimpulkan variabel otonomi daerah (X) terhadap mutu layanan pendidikan (Y) memiliki hubungan yang kuat dengan nilai korelasi 0,435. Berdasarkan hasil perhitungan korelasi di atas dengan nilai 0,435, dapat disimpulkan setiap kenaikan nilai 0,435 pada variabel otonomi daerah (X) maka diikuti dengan kenaikan nilai

0,435pada variabel mutu layanan pendidikan (Y). Sebaliknya jika variabel otonomi daerah (X) mengalami penurunan 0,435maka akan diikuti pula dengan penurunan nilai 0,435pada variabel mutu layanan pendidikan (Y).

b. Analisis Koefisien determinasi

Analisis ini digunakan untuk mengukur dan menjelaskan besarnya presentase pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat. Adapun koefisien determinasi dengan model summary, dapat dilihat pada table berikut.

Tabel 4.15 : Model Summary

Model R R Square Adjusted R

Square

Std. Error of the Estimate

1 ,435a ,190 ,166 1,65492

a. Predictors: (constant) otonomi daerah...

Berdasarkan tabel 4.15 di atas nilai R adalah 0,435, menurut pedoman interpretasi koefisien product moment, angka ini termasuk korelasi yang tinggi karena di interval 0,04 – 0,07. Hal ini menunjukan bahwa otonomi daerah memiliki pengaruh yang kuat terhadap mutu layanan pendidikan.

c. Analisis Regresi

Analisis ini digunakan untuk memprediksi pengaruh antara variabel bebas (otonomi daerah) terhadap variabel terikat (mutu layanan pendidikan), hasil anasisi regresi menggunakan SPSS versi 22 dapat di lihat pada tabel 4.16

Tabel 4.16 Hasil Uji Regresi

Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients

T Sig

nific anc e

B Std. Error Beta

1

(Constant) 10,189 2,321 4,389 ,000

Otonomidaerah ,619 ,216 ,435 2,861 ,007

a. Dependent Variable: mutu layanan pendidkan

Dari tabel 4.16 kolom B pada konstanta (a) adalah 10,189. Sedangkan (b) adalah ,619. Maka persamaan regresinya yaitu Y = a + bX atau 10,189+ 619X

1. Konstanta (a) = 10,189.

Hasil ini menunjukan bahwa apabila otonomi daerah baik maka dapat meningkatkan mutu layanan pendidikan 10,189.

2. B = 619.

Hasil ini menunjukan bahwa otonomi daerah yang baik maka akan meningkatkan mutu layanan pendidikan untuk melaksanakan tugasnya di sekolah.

Berdasarkan persamaan regresi di atas dapat dinyatakan bahwa terjadi pengaruh yang positif antara variabel otonomi daerah (X) terhadap variabel mutu layanan pendidikan (Y).

B. Pembahasan

melihat lebih jauh kondisi dilapangan penulis melakukan studi kasus di sekolah luar biasa ( SLB ) Negeri 1 Bulukumba di Kecamatan Ujungbulu di Kabupaten Bulukumba, provinsi Sulawesi Selatan. Sekolah yang terletak di jalan teratai kelurahan Caile, Sekolah Luar Biasa ( SLB ) Negeri 1 Bulukumba dari tingkat pendidikan persiapan, tingkat pendidikan dasar dan tingkat pendidikan lanjutan atau kejuruan Dari studi pendahuluan penulis menemukan terdapat (SLB) Negeri 1 Bulukumba di kecamatan Ujungbulu di Kabupaten Bulukumba.

Permasalahan yang ditemukan di kabupaten Bulukumba, ini sesuai pernyataan pemerintah Kabupaten Bulukumba yang dikutip dari sebuah artikel:

„‟Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bulukumba bertahan tidak akan membayarkan tuntutan ganti rugi sengketa lahan Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 1 Bulukumba kepada penggugat. Pemerintah bersedia melakukan ganti rugi jika keluar putusan pengadilan yang memerintahkan untuk dibayarkan ganti ruginya. Bupati Bulukumba, A. M. Sukri Sappewali mengungkapkan, kasus SLB Negeri ini bukan menjadi kewenangan Pemkab Bulukumba, karena sebenarnya sekolah SLB sudah diambil alih oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan sejak awal. Namun Pemkab bertanggungjawab dan menfasilitasi penyelesaian masalah ini karena peserta didik SLB juga merupakan masyarakat Bulukumba, sehingga harus berperan membantu bagaimana menyelesaikan persoalan yang ada di SLB.

“Iya, kalau mau dipikir, SLB ini punya Pemprov. Tapi, daerah tetap bertanggungjawab,” ujar Sukri saat memimpin rapat penyelesaian kasus SLB di ruang Rapat Bupati.” Rabu (13/12/2017).

Masalah dalam penelitian ini yaitu apakah otonomi daerah berpengaruh terhadap peningkatan mutu layanan pendidikan pada sekolah luar biasa (SLB) negeri 1 bulukumba di kabupaten bulukumba. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh otonomi daerah terhadap peningkatan mutu layanan pendidikan sekolah luar biasa (SLB) negeri 1 bulukumba di kabupaten bulukumba.

Hasil analisis angket rata-rata menunjukan bahwa indikator dari otonomi daerah seperti akuntabilitas/ pertanggung jawaban, optimalisasi kinerja, dan perspektif guru terhadap PEMDA menunjukan otonomi daerah masuk dalam persentasi atau kategori baik. Otonomi daerah Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 1

Bulukumba berdasarkan hasil rata-rata perhitungan persentase pencapaian indikator otonomi daerah menunjukan bahwa dari 3 peryataan dan 37 responden diperoleh rata-rata untuk variabel Otonomi daerah Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 1 Bulukumba sebanyak 62,3% dengan kategori baik, jadi dapat disimpulkan bahwa Otonomi daerah Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 1 Bulukumba tergolong baik.

Mutu Layanan Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 1 Bulukumba diperoleh rata-rata sebanyak 68,1% dengan kategori baik, jadi dapat disimpulkan bahwa Mutu Layanan Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 1 Bulukumba tergolong baik.

Terdapat hubungan yang kuat antara otonomi daerah dengan Mutu Layanan Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 1 Bulukumba. Otonomi daerah Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 1 Bulukumba sebanyak 62,3% dipengaruhi oleh Mutu Layanan Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 1 Bulukumba diperoleh rata-rata sebanyak 68,1%. Dari hasil uji regresi SPSS diperoleh sebesar nilai koefisien korelasi R = 0,435. Sehingga dapat disimpulkan bahwa otonomi daerah memberikan pengaruh yang kuat terhadap mutu layanan pendidikan.

Jenis penelitian ini penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif adalah jenis penelitian yang merumuskan jawaban-jawaban responden ke dalam bentuk angka- angka lalu ditabulasi dan diartikulasi. Desain penelitian ini yaitu asosiatif kausal (pengaruh) dengan menggunakan pendekatan kuantitatif menekankan analisisnya berupa angka-angka (numerik) yang diolah dengan metode statistik. Metode pengumpulan data yaitu angket dan dokumentasi. Subjek dalam penelitian ini

yaitu guru sekolah luar biasa (SLB) negeri 1 bulukumba di kabupaten bulukumba sebanyak 37 orang.

Pada tabel 4.4 menunjukan bahwa 1 atau 2,7% menunjukan tidak setuju, 0 atau 0% menunjukkan kurang setuju, 12 atau 32,4% menunjukan setuju, 24 atau 64,9% menunjukan sangat setuju. Dari data di atas dengan peryataan kewajiban daerah untuk ikut melancarkan jalannya pembangunan sebagai sarana untuk mencapai kesejahteraan masyarakat dapat diketahui sebanyak 64,9% dengan kategori sangat setuju.

Pada tabel 4.5 menunjukan bahwa 0 atau 0% menunjukan tidak setuju, 0 atau 0% menunjukan kurang setuju, 15 atau 40,5% menunjukan setuju, dan 22 atau 59,5% menunjukan sangat setuju. Dari data di atas dengan pernyataan untuk mengoptimalkan kinerja para pejabat daerah harus diketahui tugas dan kewajibannya dapat diketahui sebanyak 59,5% dengan kategori sangat setuju.

Pada tabel 4.6 menunjukan bahwa 1 atau 2,7% menunjukan tidak setuju, 4 atau 10,8% menunjukan tidak setuju, 9 atau 24,3% menunjukan setuju, dan 23 atau 62,2% menunjukan sangat setuju. Dari data di atas dengan pernyataan kepala sekolah harus membuat perjanjian dengan PEMDA dalam bentuk peraturan dan perundang-undang dapat diketahui sebanyak 62,4% dengan kategori sangat setuju.

Berdasarkan tabel 4.7 di atas untuk indikator akuntabilitas/ pertanggung jawaban diperoleh sebanyak 64,9% dengan kategori baik, untuk indikator optimalisasi kinerja diperoleh sebanyak 59,5% dengan kategori kurang baik, untuk indikator perspektif guru terhadap PEMDA diperoleh sebanyak 62,4%

dengan kategori baik. Jadi rata-rata untuk variabel otonomi daerah sekolah luar biasa(SLB) Negeri Bulu kumba sebanyak 62,3% dengan kategori baik, jadi dapat disimpulkan bahwa otonomi daerah sekolah luar biasa(SLB) Bulukumba Negeri tergolong baik.

Pada tabel 4.8 menunjukan bahwa 20 atau 54,1% menunjukan tidak setuju, 2 atau 5,4% menunjukan kurang setuju, 10 atau 27,0% menunjukan setuju, dan 5 atau 13,5% menunjukan sangat setuju. Dari data di atas dengan peryataan guru pada umumnya harus menanggung resiko yang merugikan diri sendiri dapat diketahui sebanyak 54,1% dengan kategori tidak setuju.

Pada tabel 4.9 menunjukan bahwa 1 atau 2,7% menunjukan tidak setuju, 1 atau 2,7% menunjukan kurang setuju, 16 atau 43,2% menunjukan setuju, dan 19 atau 51,4% menunjukan sangat setuju. Dari data di atas dengan peryataan guru seterusnya membuat aturan yang dibutuhkan untuk memperbaiki sistem pendidikan dapat diketahui sebanyak 51,4% dengan kategori sangat setuju.

Pada tabel 4.10 menunjukan bahwa 0 atau 0% menunjukan tidak setuju, 0 atau 0% menunjukan kurang setuju, 2 atau 5,4% menunjukan setuju, dan 35 atau 94,6% menunjukan sangat setuju. Dari data di atas dengan peryataan membantu siswa untuk mengembangkan potensinya dapat diketahui sebanyak 94,6% dengan kategori sangat setuju.

Pada tabel 4.11 menunjukan bahwa 0 atau 0% menunjukan tidak setuju, 0 atau 0% menunjukan kurang setuju, 10 atau 27,0% menunjukan setuju, dan 27 atau 73,0% menunjukan sangat setuju. Dari data di atas dengan peryataan perlu dilakukan peningkatan ilmu pengetahuan dan keterampilan staf yang terkait

dengan pengelolaan sekolah melalui pendidikan lanjutan maupun kursus pendidika dapat diketahui sebanyak 73,0% dengan kategori sangat setuju.

Pada tabel 4.12 menunjukan bahwa 0 atau 0% menunjukan tidak setuju, 0 atau 0% menunjukan kurang setuju, 12 atau 32,4% menunjukan setuju, dan 25 atau 67,6% menunjukan sangat setuju. Dari data di atas dengan pernyataan perlu penanganan bimbingan konseling untuk siswa dapat diketahui sebanyak 67,6%

dengan kategori sangat setuju.

Berdasarkan tabel 4.13 untuk indikator tangibles diperoleh sebanyak 51,4%

dengan kategori kurang Baik, untuk indikator reliability diperoleh sebanyak 51,4% dengan kategori Baik, untuk indikator reponsivenesess diperoleh sebanyak 94,6% dengan kategori sangat baik, untuk indikator assurance diperoleh sebanyak 73,0% dengan kategori baik, dan untuk indikator empathy diperoleh sebanyak 67,6% dengan kategori baik. Jadi rata-rata untuk variabel mutu layanan Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Bulu Kumba sebanyak 68,1% dengan kategori baik, jadi dapat disimpulkan bahwa mutu layanan Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Bulukumba tergolong baik.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa otonomi daerah sekolah luar biasa (SLB) Negeri 1 Bulukumba di Kabupaten Bulukumba sebanyak 62,3% dengan kategori baik. Sedangkan mutu layanan pendidikan sekolah luar biasa (SLB) Negeri 1 Bulukumba di Kabupaten Bulukumba sebanyak 68,1% dengan kategori baik. Berdasarkan hasil penelitian tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang kuat antara otonomi daerah dengan mutu layanan

pendidikan sekolah luar biasa (SLB) Negeri 1 Bulukumba di Kabupaten Bulukusmba.

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Berdasarkan data hasil penelitian tentang pengaruh otonomi daerah terhadap peningkatan mutu layanan pendidikan sekolah luar biasa (SLB) Negeri 1 Bulukumba di Kebupaten Bulukumba. Maka penulis dapat menyimpulkan sebagai berikut:

1. Hasil analisis angket rata-rata menunjukan bahwa indikator dari otonomi daerah seperti akuntabilitas/ pertanggung jawaban, optimalisasi kinerja, dan perspektif guru terhadap PEMDA menunjukan otonomi daerah masuk dalam persentasi atau kategori baik. Otonomi daerah Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 1 Bulukumba berdasarkan hasil rata-rata perhitungan persentase pencapaian indikator otonomi daerah menunjukan bahwa dari 3 peryataan dan 37 responden diperoleh rata-rata untuk variabel Otonomi daerah Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 1 Bulukumba sebanyak 62,3% dengan kategori baik, jadi dapat disimpulkan bahwa Otonomi daerah Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 1 Bulukumba tergolong baik.

2. Mutu Layanan Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 1 Bulukumba diperoleh rata- rata sebanyak 68,1% dengan kategori baik, jadi dapat disimpulkan bahwa Mutu Layanan Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 1 Bulukumba tergolong baik.

3. Terdapat hubungan yang kuat antara otonomi daerah dengan Mutu Layanan Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 1 Bulukumba. Otonomi daerah Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 1 Bulukumba sebanyak 62,3% dipengaruhi oleh Mutu Layanan Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 1 Bulukumba diperoleh rata-rata sebanyak 68,1%. Dari hasil uji regresi SPSS diperoleh sebesar nilai koefisien

korelasi R = 0,435. Sehingga dapat disimpulkan bahwa otonomi daerah memberikan pengaruh yang kuat terhadap mutu layanan pendidikan.

B. Saran

1. Pemerintah daerah hendaknya bekerja sama dengan pihak sekolah dalam sengketa lahan.

2. Masyarakat hendaknya memiliki kesadaran untuk tidak menutup ruangan kelas siswa.

3. Masih terdapat banyak kekurangan sarana dan prasarana pada tiap sekolah, tetapi pihak sekolah di harapkan mampu memanfaatkan sarana dan prasarana yang tersedia dengan optimal agar proses pembelajaran berlangsung dengan baik.

Dokumen terkait