BAB II LANDASAN TEORI
C. Teknik Pengumpulan Data
1. Observasi
Observasi adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui suatu pengamatan, dengan disertai pencatatan-pencataan terhadap keadaan atau perilaku objek sasaran.5 Dalam melakukan observasi peneliti berperan sebagai partisipasi pasif, jadi peneliti datang ke bank dan mengamati aktivitas karyawan bank terutama saat pemberian pembiayaan kepada nasabah. Selain mengamati bank, peneliti juga datang ke tempat usaha nasabah pembiayaan mudharabah dan mengamati kegiatannya, tetapi tidak ikut terlibat dalam kegiatan tersebut.
2. Wawancara
Wawancara adalah teknik pengumpulan data melalui proses tanya jawab lisan yang berlangsung satu arah, artinya pertanyaan dari pihak yang mewawancarai dan jawaban diberikan oleh yang diwawancara/
narasumber.6 Dalam melakukan wawancara, peneliti menggunakan teknik wawancara semi terstruktur dalam mengajukan pertanyaan kepada pihak bank maupun nasabah pembiayaan mudharabah. Dimana dalam teknik ini, peneliti melakukan pertanyaan terbuka namun ada batasan tema dan alur pembicaraan serta ada pedoman wawancara yang dijadikan patokan untuk menghindari pembicaraan yang menyimpang dari permasalahan yang di angkat dalam penelitian ini.
Adapun yang menjadi sasaran dalam wawancara ini adalah Bapak Sugiyanto selaku Direktur untuk mencari data nasabah yang melakukan
5 Abdurrahmat Fathoni, Metodologi Penelitian., h. 104.
6 Ibid., h. 105.
pembiayaan mudharabah serta bagaimana penerapan transparansi dalam produk pembiayaan mudharabah dan Bapak Ikwan Nur Ayudin selaku Marketing Financing untuk mencari data tentang pelaksanaan pembiayaan mudharabah di BPRS Aman Syariah Kecamatan Sekampung Kabupaten Lampung Timur.
Selain itu, peneliti juga akan mewawancarai nasabah pembiayaan mudharabah BPRS Aman Syariah Kecamatan Sekampung Kabupaten Lampung Timur dengan menggunakan penelitian populasi. Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian.7 Peneliti menggunakan penelitian populasi karena berdasarkan hasil survey jumlah nasabah pembiayaan mudharabah adalah 6 orang tetapi 1 orang nasabah wanprestasi. 8 Adapun nasabah pembiayaan mudharabah BPRS Aman Syariah Kecamatan Sekampung Kabupaten Lampung Timuryaitu Ibu Lisa, Ibu Suratmini, Ibu Endang, Ibu Susanti, dan Bapak Basuki. Peneliti melakukan wawancara dengan terjun langsung ke tempat usaha nasabah untuk memperoleh informasi tentang penerapan prinsip transparansi dalam produk pembiayaan mudharabah di BPRS Aman Syariah Kecamatan Sekampung Kabupaten Lampung Timur.
7 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), h. 173.
8 Sugiyanto, Direktur PT. BPRS Aman Syariah, “Wawancara”, 6 Juli 2018, PT. BPRS Aman Syariah Kecamatan Sekampung Kabupaten Lampung Timur.
3. Dokumentasi
Metode dokumentasi digunakan sebagai metode penunjang/
pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara.9 Metode ini untuk memperoleh data tentang gambaran umum lokasi penelitian.
Dokumen dapat berbentuk tulisan seperti catatan harian atau sejarah kehidupan. Dalam hal ini peneliti ingin menggunakan metode ini untuk mendapatkan informasi terkait sejarah berdiri bank, visi-misi, struktur organisasi, prosedur pembiayaan mudharabah di BPRS Aman Syariah Kecamatan Sekampung Kabupaten Lampung Timur, dan laporan keuangan nasabah pembiayaan mudharabah yang di laporkan setiap bulannya kepada BPRS Aman Syariah Kecamatan Sekampung Kabupaten Lampung Timur.
D. Teknik Analisa Data
Pada penelitian ini mengunakan metode analisis kualitatif. Analisis kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya, mencari dan menemukan pola, menentukan apa yang penting dan apa yang dipelajari dan memutuskan apa yang akan diceritakan kepada orang lain.10 Teknik analisa data melibatkan pengerjaan, pengorganisasian, pemecahan data serta pencarian pola, pengungkapan hal yang penting, dan penentuan apa yang dilaporkan.11
9 Sugiono, Memahami Penelitian Kualitatif, (Bandung: Alfabeta, 2014), h. 84.
10 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Offset, 2004), h. 248.
11 Zuhairi, et.al., Pedoman Penulisan Karya Ilmiah, (Jakarta: Rajawali Pers, 2016), h. 48.
Dalam analisis data kualitatif adalah bersifat induktif, yaitu pengambilan kesimpulan dimulai dari pernyataan atau fakta-fakta khusus, menuju kesimpulan yang bersifat umum tetapi dari data dan fakta khusus didasarkan pengamatan dilapangan atau pengalaman empiris disusun, diolah, dan dikaji, kemudian untuk ditarik maknanya dalam bentuk pernyataan atau kesimpulan yang bersifat umum.
Berdasarkan keterangan di atas dalam menganalisa data, peneliti menggunakan data yang diperoleh dari sumber data primer dan sumber data sekunder. Data tersebut dianalisa dengan menggunakan cara berfikir induktif yang berawal dari informasi tentang akad, kriteria nasabah, dan prosedur pembiayaan mudharabah hingga dapat disimpulkan mengenai penerapan prinsip transparansi dalam produk pembiayaan mudharabah di BPRS Aman Syariah Kecamatan Sekampung Kabupaten Lampung Timur.
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
1. Sejarah Berdirinya BPRS Aman Syariah Kecamatan Sekampung Kabupaten Lampung Timur
Perkembangan perbankan syariah di Indonesia didorong oleh 4 (empat) alasan utama yaitu : pertama adanya kehendak sebagian masyarakat untuk melaksanakan transaksi perbankan atau kegiatan ekonomi secara umum yang sejalan dengan nilai dan prinsip syariah, khususnya bebas riba sesuai dengan fatwa MUI. Kedua adanya keunggulan system operasional dan produk perbankan syariah yang antara lain mengutamakan pentingnya moralitas, keadilan dan transparansi dalam kegiatan operasional perbankan syariah. Ketiga adanya Pengawasan dan Pembinaan dari Bank Indonesia sehingga kelangsungan Perbankan Syariah tetap terjaga. Keempat adanya Lembaga Penjamin Simpanan.1
Keempat alasan tersebut berlaku pula di wilayah Kabupaten Lampung Timur, maka beberapa tokoh praktisi Lembaga Keuangan Mikro Syariah di Kecamatan Sekampung bercita-cita mendirikan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah dengan nama BPRS Aman Syariah. BPRS sebagai Community Bank yaitu bank yang fokus melayani masyarakat di wilayah cakupan layanannya, dengan menerapkan strategi bersaing yang
1 Dokumentasi PT BPRS Aman Syariah, dikutip pada tanggal 6 Juli 2018, Pukul 10.00 WIB.
memanfaatkan potensi muatan lokal (local content) dengan berbagai dimensi. Maka pendirian BPRS Aman Syariah dengan potensi muatan lokal yaitu permodalan, penghimpunan dana, penyaluran dana, pengurus, pegawai adalah berasal dari masyarakat Kabupaten Lampung Timur khususnya yang berdomisili di Kecamatan Sekampung.2
Dengan berlandaskan UU No. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah dan PBI No.11/23/PBI/2009 tanggal 1 Juli 2009 tentang Bank Pembiayaan Rakyat Syariah serta SEBI No. 11/34/DPbS tanggal 23 Desember 2009 perihal Bank Pembiayaan Rakyat Syariah, maka di Kecamatan Sekampung Kabupaten Lampung Timur direncanakan mendirikan BPRS AMAN SYARIAH sebagai community bank.Dan sesuai dengan PBI No.11/23/PBI/2009 BPRS hanya dapat didirikan dengan izin Bank Indonesia yaitu izin prinsip dan izin usaha.3
BPRS Aman Syariah Kecamatan Sekampung Kabupaten Lampung Timur didirikan berdasarkan Rapat Calon Pemegang Saham pada tanggal 17 Maret 2012 oleh 17 orang calon pemegang saham. Mendapatkan badan hukum PT berdasarkan Akta Pendirian PT. BPRS Aman Syariah Kecamatan Sekampung Kabupaten Lampung Timur No. 15 tanggal 11 Februari 2014 oleh Notaris Abadi Riyantini, Sarjana Hukum dan pengesahan Badan Hukum PT dari Kementerian Hukum dan Hak Azasi Manusia (Menkumham) Nomor: AHU-10.01982.PENDIRIAN-PT.2014
2 Ibid.
3 Ibid.
tanggal 13 Februari 2014 serta Surat Otoritas Jasa Keuangan Nomor: S- 2/PB.1/2014 tentang Pemberian Izin Prinsip Pendirian PT. BPRS Aman Syariah pada tanggal 28 Januari 2014 dan mulai beroperasi pada tanggal 30 Desember 2014 berdasarkan Surat Otoritas Jasa Keuangan Nomor: S- 237/PB.131/2014 tentang Pemberian Izin Usaha pada tanggal 30 Desember 2014. Dalam operasioanalnya PT. BPRS Aman Syariah Kecamatan Sekampung Kabupaten Lampung Timur dikelelola oleh Direksi dan jajaran karyawan dan diawasi oleh Dewan Komisaris. Hasil pengelolaan yang dilakukan oleh Direksi dan pengawasan yang dilakukan Dewan Komisaris serta pengawasan secara syariah oleh Dewan Pengawas Syariah (DPS) dilaporkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).4
Perkembangan PT. BPRS Aman Syariah Lampung pada saat peneliti melakukan penelitian pada PT. BPRS Aman Syariah Lampung Timur Provinsi Lampung. Jumlah pengurus PT. BPRS Aman Syariah sebanyak 6 (enam) orang, karyawan sebanyak 20 (dua puluh) orang serta nasabah tabungan sebanyak 1.775 orang dan nasabah pembiayaan sebanyak 360 orang.5 Letak geografis Kantor PT. BPRS Aman Syariah terletak di Dusun IV Desa Sumbergede Kecamatan Sekampung Kabupaten Lampung Timur Provinsi Lampung. Lokasi kantor PT BPRS Aman Syariah sangat strategis karena berada pada jalan utama desa Sumbergede yang ramai dilalui masyarakat.
4 Ibid.
5 Rahmat Ardi, Akuntansi/IT PT. BPRS Aman Syariah, “Wawancara”, 6 Juli 2018, PT.
BPRS Aman Syariah Kecamatan Sekampung Kabupaten Lampung Timur.
2. Visi dan Misi BPRS Aman Syariah Kecamatan Sekampung Kabupaten Lampung Timur
Tujuan Pendirian PT. BPRS Aman Syariah Kecamatan Sekampung Kabupaten Lampung Timur yaitu untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat di wilayah Lampung Timur dan sekitarnya melalui:
a. Pemberian pelayanan jasa perbankan bagi pengusaha kecil di pedesaan yang mudah, aman, Islami dengan prinsip bank yang sehat dan sesuai dengan peraturan yang berlaku.
b. Membuka dan memperluas lapangan dan kesempatan kerja bagi masyarakat.
c. Berpartisipasi dalam upaya memberantas para pelepas uang (rentenir).
d. Terciptanya ukhuwah Islamiyah yang semakin berkualitas baik antara nasabah dengan BPR Syariah sebagai pelaksana amaliah.
e. Mendidik masyarakat untuk selalu memikirkan masa depan dan tidak hanya menguntungkan kepada nasib, namun lebih menekankan kepada usaha.
f. Mengupayakan terlaksananya syariah Islam dalam bermuamalah khususnya di bidang transaksi perbankan.
g. Mengembangkan sistem ekonomi Islam dengan menjalin kemitraan dengan lembaga syariah lainnya dalam rangka mewujudkan masyarakat yang makmur dalam keadilan.6
6 Ibid.
3. Struktur Organisasi BPRS Aman Syariah Kecamatan Sekampung Kabupaten Lampung Timur
Gambar 2
Struktur Organisasi BPRS Aman Syariah
Sumber: Dokumentasi BPRS Aman Syariah
Bagan struktur organisasi BPRS Aman Syariah di atas dapat diketahui bahwa struktur organisasi tertinggi BPRS Aman Syariah adalah Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang membawahi Dewan Komisaris (Mahfud dan Suwitarjo), Dewan Direksi (Tonny Utomo dan Sugiyanto),
Dewan Pengawas Syariah (Agus Wibowo dan Mohamad Taufik Hidayat), dalam pengelolaannya Dewan Direksi membawahi Bagian Bisnis, Bagian Finansial dan Bagian Operasional selain itu membawahi Internal Audit.7 B. Mekanisme Pembiayaan Mudharabah Pada BPRS Aman Syariah
Kecamatan Sekampung Kabupaten Lampung Timur
Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Sugiyanto selaku Direktur, produk pembiayaan mudharabah pada BPRS Aman Syariah Kecamatan Sekampung Kabupaten Lampung Timur sudah ada sejak berdirinya bank yaitu pada tahun 2014. Produk ini diluncurkan karena produk ini dapat membantu nasabah yang memiliki keahlian tetapi kurang/tidak memiliki modal, selain itu profit dan loss sharing pengembalian pembiayaan mudharabah cukup baik.
Namun, pihak BPRS Aman Syariah Kecamatan Sekampung Kabupaten Lampung Timur tentu tidak sembarangan dalam memberikan pembiayaan mudharabah, pihak bank akan menerapkan prinsip kehati-hatian karena besarnya risiko yang harus ditanggung oleh bank menjadi pertimbangan besar.
Data nasabah pembiayaan mudharabah BPRS Aman Syariah Kecamatan Sekampung Kabupaten Lampung Timur dari tahun ke tahun yaitu pada tahun 2015 yaitu 2 orang; pada tahun 2016 yaitu 4 orang; dan pada tahun 2017 sampai tahun 2018 yaitu 6 orang tetapi 1 orang nasabah wanprestasi.8
Jenis pembiayaan mudharabah yang diterapkan oleh BPRS Aman Syariah adalah pembiayaan mudharabah mutlaqah. Mudharabah mutlaqah
7 Sugiyanto, Direktur PT. BPRS Aman Syariah, “Wawancara”, 6 Juli 2018, PT. BPRS Aman Syariah Kecamatan Sekampung Kabupaten Lampung Timur.
8 Rahmat Ardi, Akuntansi/IT PT. BPRS Aman Syariah, “Wawancara”, 6 Juli 2018, PT.
BPRS Aman Syariah Kecamatan Sekampung Kabupaten Lampung Timur.
adalah bentuk kerja sama antara shahibul maal dan mudharib yang cakupannya sangat luas dan tidak dibatasi oleh spesifikasi jenis usaha, waktu, dan daerah bisnis.9 Menurut pihak bank jenis pembiayaan ini memiliki tinggat risiko lebih rendah dibanding mudharabah muqayyadah salah satu aspeknya karena dalam mudharabah mutlaqah, keahlian dari pengelola akan ditanggung jawabkan oleh nasabah. Lain hal dengan mudharabah muqayyadah karena pemilik dana terkadang tidak memikirkan keahlian dan prospek kedepan atas usaha. Maka dari itu, pihak BPRS Aman Syariah Kecamatan Sekampung Kabupaten Lampung Timur memilih untuk menggunakan pembiayaan mudharabah mutlaqah dalam pengaplikasian pembiayaan mudharabah.
Pengajuan pembiayaan pada bank syariah harus memenuhi beberapa syarat dan melalui beberapa prosedur. Adapun syarat-syarat pengajuan pembiayaan mudharabah pada BPRS Aman Syariah Kecamatan Sekampung Kabupaten Lampung Timur adalah KTP suami dan istri, KK (Kartu Keluarga), surat nikah, rekening listrik, dan jaminan dapat berupa BPKB (Bukti Pemilik Kendaraan Bermotor) dan sertifikat (rumah, tanah, atau kebun).10
Adapun prosedur dalam pengajuan pembiayaan mudharabah pada BPRS Aman Syariah Kecamatan Sekampung Kabupaten Lampung Timur sebagai berikut:
a. Menganalisa awal permohonan pembiayaan nasabah.
b. Melakukan survey lapangan.
c. Melakukan analisa akhir.
d. Melakukan pemutusan melalui rapat komite.
9 Muhammad Syafi’i Antonio, Bank Syariah: Dari Teori ke Praktik, (Jakarta: Gema Insani
Press, 2001), h. 97.
10 Ikwan Nur Ayudin, Marketing Financing PT. BPRS Aman Syariah, “Wawancara”, 6 Juli 2018, PT. BPRS Aman Syariah Kecamatan Sekampung Kabupaten Lampung Timur.
e. Melakukan konfirmasi dengan memberikan Surat Persetujuan Pemberian Pembiayaan (SP3) kepada nasabah.
f. Pengikatan.
g. Akad dan do’a.11
Setiap bank memiliki prosedur masing-masing dalam pengajuan pembiayaan termasuk pembiayaan mudharabah, setelah nasabah pemohon melengkapi persyaratan-persyaratan yang telah ditentukan maka pihak marketing financing akan melakukan langkah-langkah untuk menganalisis berkas permhonan nasabah dimulai dari menganalisis legalitas identitas pemohon yaitu KTP, KK, dan surat nikah selain itu pihak bank akan melihat riwayat pinjaman nasabah di bank lain, selanjutnya melakukan survey lapangan dengan melihat tempat tinggal, lokasi usaha, dan jaminan yang diajukan nasabah, setelah itu marketing financing menyimpulkan atas analisa-analisa yang dilakukan dan akan dipresentasikan pada saat rapat dengan komite (ALCO) untuk menentukan apakah permohonan diterima/ditolak, setelah permohonan pembiayaan disetujui maka pihak bank akan melakukan konfirmasi kepada nasabah yang mana dilanjutkan dengan proses notarisasi akad perjanjian pembiayaan dan pengikatan agunan.
Berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan, marketing financing sudah melakukan prosedur dengan tepat yaitu menganalisa permohonan nasabah dengan secara detail yang dimaksud untuk meminimalisir kemungkinan-kemungkinan yang mungkin terjadi serta memperoleh informasi yang valid sebelum pembiayaan itu diputuskan, selain itu pengamanan
11 Ibid.
pembiayaan dilakukan dengan pengikatan dengan notaris dan asuransi dengan tujuan untuk meminimalisir kerugian yang disebabkan oleh kecurangan nasabah dan meninggalnya nasabah.
C. Analisis Terhadap Penerapan Prinsip Transparansi Dalam Produk Pembiayaan Mudharabah Pada BPRS Aman Syariah Kecamatan Sekampung Kabupaten Lampung Timur
Pembiayaan mudharabah adalah akad kerja sama suatu usaha antara pihak pertama (shahibul maal atau Bank Syariah) yang menyediakan seluruh modal dan pihak kedua (mudharib atau nasabah) yang bertindak selaku pengelola dana dengan membagi keuntungan usaha sesuai dengan proporsi kesepakatan yang dituangkan dalam akad, sedangkan kerugian ditanggung sepenuhnya oleh bank syariah kecuali jika pihak kedua melakukan kesalahan yang disengaja, lalai atau menyalahi perjanjian.12
Salah satu syarat kerja sama adalah adanya prinsip transparansi atau prinsip kejujuran. Prinsip transparansi membuat setiap aspek dan dimensi kerja menjadi lebih jelas dan terang, sehingga semua informasi yang paling jujur tersedia untuk kebutuhan manajemen dan stakeholder. Ketika transparansi diabaikan, maka penyalahgunaan kekuasaan untuk keuntungan pribadi pasti dilakukan.13 Artinya prinsip transparansi dalam suatu kerja sama sangatlah penting terutama dalam pelaksanaa pembiayaan mudharabah karena bank
12 Andri Soemitra, Bank dan Lembaga Keuangan Syariah, (Jakarta: Kencana, 2009), h. 81.
13 Muhammad Ismail Yusanto dan Muhammad Karebet Widjajakusuma, Menggagas Bisnis Islami, (Jakarta: Gema Insani Press, 2002), h. 107.
syariah menyediakan seluruh modal dan memiliki risiko yang lebih besar dibanding nasabah.
Penerapan prinsip transparansi dalam pembiayaan mudharabah pada BPRS Aman Syariah Kecamatan Sekampung Kabupaten Lampung Timur dapat dipaparkan oleh peneliti sebagai berikut:
1. Transparansi Informasi Produk Pembiayaan Mudharabah
Penerapan prinsip transparansi juga diatur oleh PBI No.
7/6/PBI/2005 tentang Transparansi Informasi Produk Bank dan Penggunaan Data Pribadi Nasabah, bank (baik bank konvensional atau bank syariah) memiliki kewajiban yaitu untuk menyediakan informasi tertulis dan transparan (keterbukaan informasi) dalam penyampaian karakteristik setiap produk bank.14 Berdasarkan peraturan tersebut, maka pihak BPRS Aman Syariah Kecamatan Sekampung Kabupaten Lampung Timur melakukan penyampaian informasi mengenai karakteristik produk bank meliputi nama, jenis, manfaat dan risiko yang melekat, persyaratan dan tata cara penggunaan produk, biaya-biaya yang melekat, perhitungan bunga atau bagi hasil dan margin keuntungan, jangka waktu berlaku, dan penerbit (issuer/originator) produk bank.
Wawancara dengan Ibu Lisa nasabah pembiayaan mudharabah BPRS Aman Syariah Kecamatan Sekampung Kabupaten Lampung Timur, staf marketing financing sudah melakukan penyampaian informasi terkait
14 Peraturan Bank Indonesia No. 7/6/PBI/2005 tentang Transparansi Informasi Produk Bank dan Penggunaan Data Pribadi Nasabah Pasal 4.
karakteristik secara rinci dan jelas, hanya saja sebagai masyarakat biasa, Ibu Lisa kurang mengerti dengan istilah-istilah syariah seperti nisbah, pembiayaan mudharabah, dan lainnya. Tetapi Ibu Lisa meminta salinan perjanjian kepada pihak bank agar dapat memahami istilah-istilah syariah ketika nanti di rumah. Ibu Lisa mengambil pembiayaan mudharabah selama 2 tahun untuk usaha toko kelontong.15
Wawancara dengan Ibu Suratmini nasabah pembiayaan mudharabah selama 4 tahun berturut-turut pemilik usaha ayam ternak dan telur mengatakan bahwa sudah mulai paham mengenai karakteristik pembiayaan mudharabah yang disampaikan oleh staf marketing financing dan sudah mulai terbiasa dengan istilah-istilah syariah. Meski pada awal melakukan perjanjian, Ibu Suratmini sedikit bingung dan kurang paham, namun lama kelamaan karena sudah menjadi nasabah pembiayaan tetap Ibu Suratmini mulai memahami tanpa harus melihat salinan perjanjian.16
Wawancara dengan nasabah pembiayan mudharabah BPRS Aman Syariah Kecamatan Sekampung Kabupaten Lampung Timur selama 3 tahun yaitu Ibu Endang pemilik usaha kerupuk rumahan, Ibu Susanti pemilik counter pulsa/kuota, dan Bapak Basuki pemilik usaha bengkel. Ibu Endnag, Ibu Susanti dan Bapak Basuki mengatakan bahwa mereka kurang paham mengenai karakteristik pembiayaan mudharabah walaupun staf marketing financing sudah menjelaskan secara detail, bahkan ketika peneliti bertanya
15 Lisa, Nasabah Pembiayaan Mudharabah BPRS Aman Syariah, “Wawancara”, 9 Juli 2018, PT. BPRS Aman Syariah Kecamatan Sekampung Kabupaten Lampung Timur.
16 Suratmini, Nasabah Pembiayaan Mudharabah BPRS Aman Syariah, “Wawancara”, 9 Juli 2018, PT. BPRS Aman Syariah Kecamatan Sekampung Kabupaten Lampung Timur.
pengertian pembiayaan mudharabah nasabah tidak paham yang mereka tahu yaitu pemberian pinjaman untuk modal usaha seperti bank-bank konvensional lainnya. Ibu Endang dan Ibu Susanti tidak diberikan salinan perjanjian oleh pihak bank sehingga mereka tidak dapat membaca ulang karakteristik pembiayaan mudharabah yang disampaikan, sedangkan Bapak Basuki meminta salinan perjanjian sehingga dapat memahami ulang penjelasan staf marketing financing mengenai karakteristik pembiayaan mudharabah.17
Wawancara dengan Bapak Ikwan Nur Ayudin selaku staf marketing financing, penyampaian informasi terkait karakteristik produk pembiayaan mudharabah dilakukan secara lisan, detail dan terbuka sejak awal dilakukan survei. Apabila nasabah tidak mengerti akan salah satu karakteristik yang disampaikan, nasabah dapat mempertanyakan saat penyampaian informasi berlangsung atau nasabah dapat memahami ulang di lembar perjanjian yang akan diberikan apabila nasabah minta, karena diakui staf marketing financing dalam penyampaian karakteristik produk pembiayaan harus dilakukan secara cepat agar proses pemberian pembiayaan tidak memakan waktu yang banyak.
Berdasarkan observasi yang peneliti lakukan, penerapan prinsip transparansi yang di atur dalam Peraturan Bank Indonesia No. 7/6/PBI/2005 tentang Transparansi Informasi Produk Bank dan Penggunaan Data Pribadi
17 Endang, Susanti, dan Basuki, Nasabah Pembiayaan Mudharabah BPRS Aman Syariah,
“Wawancara”, 9 Juli 2018, PT. BPRS Aman Syariah Kecamatan Sekampung Kabupaten Lampung Timur.
Nasabah, penyampaian informasi terkait karakteristik produk pembiayaan mudharabah sudah dilakukan sesuai teori oleh staf marketing financing dengan memberikan infomasi tertulis yang kemudian dijelaskan secara lisan tetapi kekurangannya yaitu tidak semua nasabah menerima salinan infomasi tersebut kecuali nasabah yang meminta salinannya. Hal ini tentu akan mempengaruhi nasabah kedepannya karena Bank Indonesia mengeluarkan peraturan ini agar pihak bank tidak menyesatkan nasabah, jika nasabah tidak mendapat salinannya maka tidak ada acuan nasabah dalam mengelola pembiayaan yang diberikan.
2. Prinsip 5C + 1S, yaitu:
a. Character (Watak)
Pihak BPRS Aman Syariah Kecamatan Sekampung Kabupaten Lampung Timur menganalisis karakter pemohon dengan melakukan pengecekan pada Sistem Informasi Debitur (SID) karena pada sistem akan tertera jelas mengenai riwayat pinjaman pemohon di bank lain.
Bila riwayat pinjaman pemohon kurang baik bahkan memiliki kolektabilitas tinggi maka pihak bank tidak akan memberikan pembiayaan, sedangkan jika riwayat pinjaman baik bank tetap harus melakukan crosscheck kebenaran dengan melakukan beberapa pertanyaan langsung kepada pemohon terkait kejujuran nasabah.
Bahkan pihak bank juga dapat melakukan pertanyaan-pertanyaan acak tetapi pihak bank sudah mengetahui jawabannya, apabila pemohon salah dalam menjawab maka pihak bank berpikir dua kali untuk
memberikan pembiayaan. Selain itu, pihak bank juga melakukan wawancara ke tetangga pemohon terkait usaha, keseharian, sifat, dan watak karena dinilai orang-orang terdekat tidak akan bohong mengenai hal-hal itu.
b. Capacity (Kemampuan)
Pihak BPRS Aman Syariah Kecamatan Sekampung Kabupaten Lampung Timur melihat kemampuan pemohon dengan melihat jumlah penghasilan yang diisi dalam formulir permohonan pembiayaan, selain itu pihak bank juga dapat melihat kemampuan dari keuntungan usaha yang ada dalam laporan keuangan perusahaan pemohon, karena menurut pihak bank laporan keuangan merupakan bentuk transparannya pemohon dalam mengelola keuangan. Keuntungan bersih yang diterima setiap bulan dapat menentukan jumlah pembiayaan yang akan diberikan oleh pihak bank.
c. Capital (Modal)
Modal juga dapat dilihat pihak BPRS Aman Syariah Kecamatan Sekampung Kabupaten Lampung Timur dari jumlah penghasilan tetap per bulan pemohon dan survey lapangan yang dilakukan marketing financing. Modal yang dimiliki dapat dilihat dari perkiraan harga dari setiap kekayaan yang dimiliki pemohon, seperti rumah, tanah, motor, mobil dan lain-lain. Hal-hal semacam ini juga dapat ditanyakan pihak bank kepada tetangga pemohon.