BAB IV LAPORAN HASIL PENELITIAN
B. Penyajian Data dan Analisis Data
Penyajian data dan analisis memuat tentang uraian data dan temuan yang diperoleh dengan menggunakan metode prosedur yang diuraikan seperti pada bab tiga. Uraian ini terdiri dari atas deskripsi data yang disajikan dengan topik sesuai dengan pertanyaan-pertanyaan penelitian.
Hasil analisis data merupakan temuan penelitian yan disajikan dalam bentu pola, tema, kecenderungan, dan motif yang muncul dari data. Disamping itu, temuan dapat berupa penyajian kategori, sistem klasifikasi, dan tipologi.4
Penyajian data dalam penelitian di Majelis Dzikir dan Shalawat Ahbabul Musthofa Curahmalang Kecamatan Rambipuji Kabupaten Jember, diperoleh melalui metode wawancara, observasi, dan dokumentasi. Dalam penelitian ini penyajian data didasarkan pada fokus penelitian yaitu pertama: peran majelis dzikir dan shalawat ahbabul mustofa sebagai pendidik dalam pembentukan akhlak remaja, kedua: peran
3 Sumber data: dokumentasi ahbabul mustofa, jember,15 MARET 2016
4Tim Penyusun, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah, (Jember: STAIN Jember,2014),76
62
Majelis Dzikir dan Shalawat Ahbabul Musthofa sebagai pembimbing dalam pembentukan akhlak remaja.
Sedangkan judul ini adalah “Peran Majelis Dzikir dan Shalawat Ahbabul Musthofa Dalam Pembentukan Akhlak remaja studi kasus majelis dzikir dan shalawat ahbabul musthofa curah malang kabupaten jember.
Adapun data-data yang peneliti peroleh dari metode wawancara, observasi, dokumentasi yang berkaitan dengan fokus penelitian adalah sebagai berikut:
1. Peran Majelis Dzikir dan Shalawat Sebagai Pendidik Dalam Pembentukan Akhlak Remaja Studi Kasus Majelis Dzikir dan Shalawat Ahbabul Musthofa Curah Malang Jember
Berdasarkan penelitian yang dilaksanakan di Majelis Dzikir dan Shalawat Ahbabul Musthofa Curah Malang Jember, maka dapat peneliti paparkan beberapa data dari para informan yang terkait dengan judul
“Peran Majelis Dzikir dan Shalawat Ahbabul Musthofa Dalam Pembentukan Akhlak remaja studi kasus Majelis Dzikir dan Shalawat Ahbabul Musthofa Curahmalang Kabupaten Jember”. Berikut ini petikan wawancara dengan nurus sholeh selaku ketua Majelis dzikir dan shalawat ahbabul musthofa tentang peran majelis dzikir sebagai pendidik dalam membentuk akhlak remaja, beliau mengatakan:
63
Peran majelis dzikir disini sebenarnya hampir sama dengan majelis-majelis yang lain, yaitu bersama-sama ingin beribadah kepada sang Maha Pencipta dengan melantunkan dzikir dan shalawat dan juga sebagai lembaga dakwah ukhwah islamiyah untuk mempererat tali silaturahmi antar ummat Islam serta menambah wawasan keislaman dan keimanan. Biasanya setiap malam senin kliwon mengadakan rutinitas, rutinan majelis dzikir disini selalu diisi dengan mauidhoh hasanah (ceramah agama) disaat hendak mulai dzikir atau sebelum dzikir berakhir, dan juga guna untuk memberikan pendidikan dan pembelajaran kepada masyarakat umum, khususnya kepada remaja yang mengikuti majelis dzikir ini, sebab remaja merupakan generasi penerus agama, dan bangsa, demi terciptanya generasi penerus bangsa pendidikan yang diberikan remaja mengenai masalah agama khususnya dibidang akhlak.5
Adapun dalam menjalankan perannya sebagai pendidik remaja dalam membina akhlak, majelis dzikir ini mengajarkan atau mendidik remaja dengan ta’lim atau pengajaran ilmu agama atau materi yang berkenaan dengan akhlak. Adapun materi tersebut antara lain berupa ajaran tauhid (Aqidatul Awam), fiqh (Safinatun Najah, Fiqh Sunnah, Al- Lahmu, Kifayatul Akhyar) dan akhlakul banin, Ta'lim Muta'alim, Ayyuhal Walad, Durrotun Nasihin
Dari hasil yang di paparkan di atas juga mengacu kepada teori-teori yang ada dalam pendidikan, jalur pendidikan non formal bersifat fungsional dan praktis yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan kerja peserta didik yang berguna bagi usaha perbaikan taraf kehidupan.
5 Nurus sholeh, wawancara, jember, 09 april 2016
64
Berdasarkan hasil observasi peneliti yang dilakukan, sebagai ketua penyelenggara majelis juga memberi kesempatan kepada anggota majelis untuk memberikan masukan atau saran guna untuk menambah wawasan keilmuan agar tujuan yang diinginkan bisa tercapai.6 Hal ini sesuai dengan salah satu anggota majelis yang bernama Ikbal beliau mengemukakan bahwa:
Majelis punya peranan penting dalam kehidupan bermasyarakat, sebagai aspek pendidikan non formal majelis merupakan tempat yg paling banyak menyuplai pendidikan. Salah satu contohnya masalah akhlak, seringkali para anggota majelis mengadakan musyawarah bersama dengan masyarakat guna untuk menambah kegiatan atau mencari solusi untuk masalah yang ada, disamping itu majelis sering mengundang para masyayih (tokoh Agama) untuk mendidik dan membimbing anggota majelis dan masyarakat pada umumnya.7
Pak Abror menambahkan tentang peran majelis sebagai pendidik dalam membentuk akhlak remaja sebagai berikut :
Menurut saya usaha yang dilakukan oleh majelis dzikir Ahbabul Mustofa disini sudah bisa dikatakan sebagai ajang pendidikan, sebab selama ini saya banyak mendapat pendidikan sekaligus pembelajaran baru terutama dalam bidang keagamaan dari salah satu kegiatan majelis ini seperti pengajian, terlebih lagi rutinitas pengajian ini selalu mendahulukan masalah – masalah yang ada di masyarakat, seperti kasus moral dan ahlak hal inilah yang membuat saya selalu mengikuti majelis dzikir ini.8
Dari hasil pemaparan tersebut semua mengacu kepada teori – teori yang ada dalam tatacara mendidik, namun secara pengamatan perlu juga ditambah dengan adanya media pembelajaran. Berdasarkan hasil observasi, peran majelis dzikir sebagai pendidik berjalan baik meskipun
6 Peneliti,obeservasi, jember, 9 april J2016
7 Ikbal, wawancara, jember, 15 april 2016
8 Abror, wawncara, jember, 10 april 2016
65
tidak menutup kemungkinan masih ada kendala-kendala yang menghambatnya. Disetiap kegiatan atau rutinitas ke berbagai daerah masih ada kendala-kendala yang bermunculan, diantaranya kurangnya motivasi atau dorongan dari warga masyarakat sekitar kepada remaja dimana masih banyak remaja yang enggan mengikuti majelis, mereka lebih memilih untuk keluar daripada mengikuti majelis.
Hal inilah yang menghambat kegiatan majelis yang seharusnya telah berjalan sebagaimana mestinya. Untuk menentukan kebenaran bahwa adanya proses pendidikan disiapkan oleh anggota majelis, sebagai peneliti juga mewawancarai salah satu seorang remaja yang aktif untuk mengetahui hasil yang telah di rencanakan tersebut sebagai berikut;
Pernyataan Muhammad Ali Zawroni: Ya, biasanya seperti itu majelis dzikir ini selalu memberikan Mauidloh disetiap akhir dari rutinitas, yang menjadi tutornya biasa Kyai dan para anggota dewan yang ada di majelis dzikir ini, biasanya kitab yang dibacakan yaitu Ta’limal Muta’allim dan Bidayyatul ‘Awam dan kitab-kitab fiqih seperti Kasafinatun Naja dll.9
Dari hasil yang dipaparkan oleh salah satu seorang siswa Muhammad Ali Zawroni, bahwa dimajelis dzikir ini sudah menjalankan apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab mereka kepada remaja, berarti dalam hal ini Majelis Dzikir Ahbabul Mustofa sudah menjalankan tugasnya sebagai pendidik.
9 Muhammad Ali Zawroni, wawancara, jember 20 april 2016
66
2. Peran Majelis Dzikir dan Shalawat Sebagai Pembimbing Dalam Pembentukan Akhlak Remaja Studi Kasus Majelis Dzikir dan Shalawat Ahbabul Musthofa Curah Malang Jember
Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil wawancara yang dilakukan peneliti dengan pengasuh majelis dzikir, peneliti ingin memaparkan tentang peran majelis dzikir sebagai pembimbing dalam membentuk akhlak remaja, berikut pemaparannya
Setelah berperan sebagai pendidik, maka majelis dzikir ini juga berperan sebagai pembimbing yang membimbing remaja untuk menjadi lebih baik dalam berakhlak baik kepada Allah SWT, sesama, dan lingkungan. Pendekatan atau cara yang menurut saya paling efektif untuk diterapkan yaitu melalui amalan-amalan yang diwajibkan di majelis ini atau mengamalkan apa yang telah dididik oleh majelis dzikir ini, misalnya dengan melaksanakan ibadah, membaca shalawat, mendoakan orang tua, dll. Hal ini sering kami wanti-wanti kepada remaja untuk selalu mengamalkannya, agar mereka mengerti dan mendapat manfaatnya.10
Berdasarkan pemaparan tersebut dapat dikatakan bahwa majelis dzikir selalu memperhatikan keadaan remaja, yakni dengan tidak membiarkan mereka selepas diberi pendidikan, sebaliknya majelis dzikir terus memperhatikan agar apa yang telah diberikan tidak sia-sia.
Khoirukum manta’allama alquranu wa ‘allamahu, (lebih bagus seseorang yang mempelajari Alqur’an dan mengamalkannya).
Berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan, pengasuh majelis memberikan kesempatan kepada segenap anggota pengurus atau dewan untuk ikut serta terhadap proses bimbingan dan melaksanakan tugas
10 Nurus sholeh, wawancara, 09 april 2016
67
yang telah ditetapkan, tetapi anggota yang bertugas membimbing remaja adalah sebagian dari anggota dewan. Mungkin akan lebih dominan lagi jika semua anggota dewan ikut andil dan mengambil tugas yang sama agar lebih meringankan beban anggota yang lain.11 Hal ini sesuai dengan salah satu anggota majelis yang bernama Ikbal beliau mengemukakan bahwa:
Bimbingan merupakan proses bantuan kepada individu untuk mencapai perkembangan yang optimal, artinya apa yang sudah diberikan itu harus dikembangkan sebab pendidikan tidak akan berjalan apabila tidak dikembangkan begitu juga yang dilakukan oleh segenap anggota dewan disini sering memberi arahan atau bimbingan kepada santri agar apa yang mereka miliki itu bisa terealisasikan atau terlaksana, maka dari itulah proses bimbingan yang ada disini terus berlangsung, sebab anggota dewan atau guru disini tugasnya bukan hanya menjadi pendidik melainkan menjadi pembimbing.12
Pak Abror menambahkan tentang peran majelis sebagai pembimbing dalam membentuk akhlak remaja sebagai berikut:
Dari yang saya ketahui disini bimbingan yang dilakukan oleh majelis dzikir ini ada 2 (dua) yang pertama dilakukan dengan perorangan atau dinamakan bimbingan khusus, misalnya ada remaja yang mempunyai masalah yang bersifat pribadi dengan kedua orang tuanya maka yang seperti ini dibimbing secara khusus.
yang kedua itu bimbingan kelompok atau keseluruhan, jadi semua santri dan remaja disini semua dibimbing langsung oleh ketua/Kyai atau dewan yang bertugas guna untuk menambah wawasan remaja perihal akhlak kepada Allah, Rasulullah, orang tua, dan lingkungan.13
Dari hasil pemaparan tesebut, dapat disimpulkan bahwa proses bimbingan di Majelis Dzikir Ahbabul Mustofa telah menyesuiakan dengan keadaan remaja dan proses pelaksaannya menggunakan 2 (dua) proses
11 Peneliti,observasi, jember , 09 april 2016
12 Ikbal, wawancara, 15 april 2016
13 Abror wawancara, 10 april 2016
68
yaitu layanan khusus dan layanan bersama, sehingga remaja yang aktif di majelis merasa kalau mereka sangat diperhatikan. Oleh karena itu untuk menentukan kebenaran bahwa adanya proses pendidikan disiapkan oleh anggota majelis, sebagai peneliti juga mewawancarai salah satu seorang remaja, berikut pemaparannya :
Menurut pengalaman pribadi, sebelum saya menjadi jamaah majelis ini saya tergolong anak berandalan yang suka hura-huraan dijalan, ngamen, dan suka mabu’- mabu’an, kemudian saya diajak temen saya untuk mengikuti majelis ini dan alhamdulillah saya mendapat hidayah dan bisa berubah, pada waktu itu saya dibimbing oleh ustad fathoni dan dibimbing secara khusus, dimana waktu bimbingan saya terus diutamakan, seperti selalu diajak untuk shalat berjamaah dan mengikuti rutinitas yang ada. Pada intinya para anggota dewan yang ditugas untuk membimbing sudah melaksanakan tugasnya baik, perorangan maupun yang kelompok dan bimbingannya sangat membantu untuk menambah wawasan, ilmu dan juga untuk menjawab masalah yang ada.14
Dari hasil yang dipaparkan oleh salah satu seorang siswa Ridwan, bahwa dimajelis dzikir ini sudah menjalankan apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab mereka kepada remaja, berarti dalam hal ini Majelis Dzikir Ahbabul Mustofa sudah menjalankan tugasnya sebagai pembimbing.