• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teknik Pengumpulan Data

Dalam dokumen peningkatan keterampilan berbicara dengan (Halaman 45-49)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN

E. Teknik Pengumpulan Data

e. Data Penelitian 1. Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini adalah siswa kelas V SD Inpres Tumbuh Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa.

2. Jenis data

a. Data kualitatif, berupa dalam hasil observasi, baik selama proses observasi berlangsung.

b. Data kuantitatif, berupa skor tes hasil belajar.

3. Tes hasil belajar

Tes ini diberikan pada setiap akhir pembelajaran siklus, dimana tes merupakan instrumen penelitian yang digunakan peneliti dalam mengumpulkan data penelitian, guna mengukur hasil belajar keterampilan berbicara pada murid kelas V SD Inpres Tumbuh kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa melalui model pembelajaran kooperatif tife script.

Adapun penilaian tes berbicara sebagai berikut:

1. Penilaian Tes Berbicara

Penilaian tes berbicara dilakukan secara lisan, pada saat murid mempresentasekan ikhtisar/ringkasan dari wacana (materi) yang dibagikan dengan menggunakan format penilaian sebagai berikut:

No L/ P Lafal Intonasi Eksperesi Kelancaran Penguasaan

Cara Penilaian:

No Aspek yang dinilai Bobot

1 Lafal 20

2 Intonasi 15

3 Ekspresi 25

4 Kelancaran 20

5 Penguasaan 20

Jumlah 100

G. Teknik Analisis Data

Analisis data dilakukan dengan teknik statistik deskriptif. Statistik deskriptif adalah statistik yang berfungsi untuk mendeskripsikan atau memberi gambaran terhadap objek yang di teliti melalui data sampel atau populasi.

Analisis data yang dilakukan adalah deskriptif kualitatif dan deskriptif kuantitatif. Deskriptif kualitatif digunakan untuk menganalisis data tentang hasil observasi dan tanggapan siswa. Sedangkan deskriptif kuantitatif digunakan untuk menganalisis data tentang hasil belajar siswa.

Analisis deskriptif kuantitatif digunakan untuk mendeskripsikan kategori hasil belajar bahasa Indonesia yang akan dikelompokkan dalam kategori sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, dan tinggi sekali. Data hasil belajar dikategorikan dengan menggunakan teknik kategorisasi standar yang ditetapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional (Sunardi, 2010:25)

Analisis deskriptif kualitatif digunakan untuk mendeskripsikan prestasi belajar bahasa Indonesia yang diperoleh siswa pada hasil kerja kelompok. Guna mendapatkan gambaran yang jelas tentang hasil belajar bahasa Indonesia, maka dilakukan ke dalam lima kategori yaitu tinggi sekali, tinggi, sedang, kurang, dan kurang sekali. Pedoman pengkategorian hasil belajar bahasa Indonesia yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut

Tingkat Penguasaan Kategori

85 – 100 Sangat Tinggi ( ST )

70 – 84 Tinggi ( T )

55 – 69 Sedang ( S )

46 – 54 Rendah ( R )

0 – 45 Sangat Rendah ( SR )

Analisis kualitatif dilaksanakan sesuai dengan kecenderungan yang terjadi pada siklus dengan melakukan penilaian secara verbal (aktifitas yang diamati).

Selanjutnya, mengukur peningkatan keterampilan berbicara dengan menggunakan Metode role playing murid kelas V SDInpres Tumbuh Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa,baik menggunakan diskusi kelompok maupun yang diajar dengan tidak menggunakan diskusi. Rumus yang digunakan, yaitu yang dikemukakan oleh Ali (1985: 184) sebagai berikut:

% = n x 100 N

Dimana : % = persentase

n = jumlah nilai yang diperoleh N = jumlah seluruh nilai

H. Indikator Keberhasilan

Kemampuan berbicara siswa kelas V SD Inpres Tumbuh Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa sudah berhasil apabila secara individual murid mencapai KKM sebesar 65 dan secara klasikal 75 % murid telah mampu berbicara.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Analisis Kuantitatif Keterampilan Berbicara dengan Menggunakan Metode Role PlayingMurid Kelas V SD Inpres Tumbuh Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa

Pembelajaran keterampilan berbicara dengan menggunakan metode role playingmurid kelas V SD Inpres Tumbuh Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa dilaksanakan selama dua siklus. Setiap siklus dilaksanakan selama empat kali pertemuan. Pada saat pertemuan pembelajaran dilakukan pengamatan terhadap keterampilan berbicara. Hasil analisis deskriptif keterampilan berbicara murid disajikan pada tabel 4. 1 berikut:

Tabel 4. 1 Statistik Nilai Peningkatan Keterampilan Berbicara dengan Menggunakan Metode Role PlayingMurid kelas VSD Inpres Tumbuh Kecamatan bungaya kabupaten gowa

Statistik

Nilai Statistik

Siklus I Siklus II

Subjek Nilai ideal Nilai tertinggi Nilai terendah Rentang nilai Nilai rata-rata Modus

35 10 74 41 33 54 50

35 10 82 63 19 70 66 Sumber: Data Analisis Skor Keterampilan Berbicara

37

Berdasarkan tabel 4. 1 di atas, tampak bahwa dari 35 jumlah murid yang diamati diperoleh nilai rata-rata Peningkatan Keterampilan Berbicara dengan Menggunakan Metode Role Playing Murid Kelas V SD Inpres Tumbuh Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa yang didasarkan pada siklus I adalah sebesar 54. Nilai yang dicapai responden tersebar dengan nilai tertinggi 74 dan nilai terendah 41 dari nilai tertinggi yang mungkin dicapai 10 dan nilai terendah yang dicapai 0 dengan rentang nilai 33 dan modus 50 yang dicapai 7 orang murid.

Selanjutnya, pada siklus II nilai rata-rata yang diperoleh adalah sebesar 70. Nilai yang dicapai responden tersebar dengan nilaitertinggi 82 dan nilai terendah 63 dari nilai tertinggi yang mungkin dicapai 10 dan nilai terendah yang dicapai 0 dengan rentang nilai 19 dan modus 66 yang dicapai oleh 9 orang murid.

Apabila nilai hasil belajar dikelompokkan kedalam enam kategori maka diperoleh distribusi frekuensi yang ditunjukkan pada tabel 4. 2 berikut ini:

Tabel 4. 2 Distribusi Frekuensi dan Persentase Nilai Peningkatan Keterampilan Berbicara dengan Menggunakan Metode Role PlayingMurid Kelas V SD Inpres Tumbuh Kecamatan Bungaya Kabupaten GowaSiklus I dan Siklus II

No Interval Nilai

Kategori

Frekuensi Persentase (%) SiklusI Siklus II Siklus I Siklus II 1.

2.

3.

4.

5.

6.

0 - 24 25 – 34 35 – 54 55 – 64 65 – 84 85 - 100

Buruk

Sangat rendah Rendah sedang Tinggi

Sangat tinggi

0 0 23

4 8 0

0 0 0 3 32

0

0 0 45,71 11,43 22,86

0

0 0 0 8,57 91,43

0

Jumlah 35 35 78 100

Sumber: Data Analisis Skor Keterampilan Berbicara

Hasil analisis deskriptif di atas menunjukkan Keterampilan Berbicara dengan Menggunakan Metode Role PlayingMurid Kelas V SD Inpres Tumbuh Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowadilaksanakan selama dua siklus. Siklus I dikategorikan rendah dan siklus II dikategorikan tinggi.

Berdasarkan tabel 4. 2 di atas distribusi frekuensi dan persentase serta kategori ketercapaian ketuntasan Keterampilan Berbicara dengan Menggunakan Metode Role PlayingMurid Kelas V SD Inpres Tumbuh Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowadilaksanakan selama dua siklus, pada siklus I dan siklus II ditunjukkan pada tabel 4. 3 sebagai berikut:

Tabel 4. 3 Distribusi Frekuensi, Persentase, serta Kategori Ketercapaian Ketuntasan Keterampilan Berbicara dengan Menggunakan Metode Role Playing Murid Kelas V SDInpres Tumbuh Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa

Tes belajar Interval nilai Kategori Frekuensi Persentase(%)

Siklus I

Nilai 6,5 ke atas Tuntas 8 22,86

Nilai 6,5 ke bawah Tidak tuntas 27 45,71

Siklus II

Nilai 6,5 ke atas Tuntas 32 91,43

Nilai 6,5 ke bawah Tidak tuntas 3 8,57

Sumber: Data Analisis Skor Keterampilan Berbicara

Berdasarkan tabel 4. 3 di atas, terlihat bahwa persentase Keterampilan Berbicara dengan Menggunakan Metode Role PlayingMurid Kelas V SD Inpres Tumbuh Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa dilaksanakan selama dua siklus yaitu siklus I sebesar 22,86 % atau 8 orang dari 35murid berada dalam kategori tuntas dan 45,71 % atau 27 orang murid berada dalam kategori tidak tuntas.

Hal ini berarti bahwa terdapat27 orang dari 35murid yang perlu perbaikan karena belum mencapai kriteria ketuntasan individual, sedangkan pada siklus II persentase ketuntasan belajar murid sebesar 91,43 % atau 32 orang dari 35murid berada dalam kategori tuntas dan 8,57 % atau 3 orang dari 35murid berada pada kategori tidak tuntas. Dari siklus I sampai siklus II keterampilan berbicara dengan menggunakan Metode Role PlayingMurid Kelas V SD Inpres Tumbuh Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowadilaksanakan selama dua siklus mengalami peningkatan yang sangat signifikan.

Berdasarkan kriteria hasil belajar mengenai ketuntasan kelas, yaitu 85 %, data hasil penelitian pada siklus II di atas dianggap tuntas kelas dan kelompok karena yang tuntas mencapai 91,43% pada siklus berikutnya karena berdasarkan tujuan yang ingin dicapai, yaitu peningkatan hasil belajar sudah terlihat, maka peneliti menganggap penelitian ini sudah cukup dengan menyimpulkan bahwa terdapat peningkatan keterampilan berbicara murid.

B. Analisis Kualitatif Keterampilan Berbicara dengan Menggunakan Metode Role PlayingMurid Kelas V SD Inpres Tumbuh Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa

1. Siklus I

Pada bagian ini dibahas tentang perubahan-perubahan yang terjadi pada murid selama diterapkan metode role playing. Hasil observasi pembelajaran keterampilan berbicara dengan menggunakan metode role playingmurid kelas V SD Inpres Tumbuh Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowapada siklus I sebagai berikut:

a) Observasi

1) Tekanan/ intonasi keterampilan berbicara dengan menggunakan metode role playingmurid kelas V SD Inpres Tumbuh Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowadikategorikan kurang dengan persentase 54,29 %

2) Tata bahasa keterampilan berbicara dengan menggunakan metode role playingmurid kelas V SD Inpres Tumbuh Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowadikategorikan kurang dengan persentase 54,57 %

3) Pengucapan vokal keterampilan berbicara dengan menggunakan metode role playing murid kelas V SD Inpres Tumbuh Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowadikategorikan kurang dengan persentase 55,14 %

4) Mengatur jeda dengan tepat keterampilan berbicara dengan menggunakan metode role playingmurid kelas V SD Inpres Tumbuh Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowadikategorikan kurang dengan persentase 50,29 %

5) Penggunaan nada/ irama keterampilan berbicara dengan menggunakan metode role playingmurid kelas V SD Inpres Tumbuh Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowadikategorikan kurang dengan persentase 58,29 %

6) Keberanian dan semangat keterampilan berbicara dengan menggunakan metode role playingmurid kelas V SD Inpres Tumbuh Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowadikategorikan kurang dengan persentase 57,14 %

7) Kelancaran keterampilan berbicara dengan menggunakan metode role playingmurid kelas V SD Inpres Tumbuh Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowadikategorikan kurang dengan persentase 53,71 %

8) Pandangan mata keterampilan berbicara dengan menggunakan metode role playingmurid kelas V SD Inpres Tumbuh Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowadikategorikan kurang dengan persentase 55,71%

9) Ekspresi wajah/ mimik keterampilan berbicara dengan menggunakan metode role playingmurid kelas V SD Inpres Tumbuh Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowadikategorikan kurang dengan persentase 52 %

10) Pemahaman keterampilan berbicara dengan menggunakan metode role playing murid kelas V SD Inpres Tumbuh Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowadikategorikan kurang dengan persentase 60,57 %

b) Refleksi Pelaksanaan Tindakan

Siklus I dilaksanakan empat kali pertemuan. Sebelum memasuki materi pokok guru menyampaikan kepada murid tujuan yang ingin dicapai, menciptakan suasana yang membuat murid dapat termotivasi belajar, menyajikan materi, membagikan buku bacaan atau naskah drama kepada murid, menugasi murid untuk membaca buku bacaan atau naskah yang telah dibagikan, mengadakan tanya jawab tentang buku bacaan yang dibaca, memberikan tugas kepada murid, membagi murid dalam kelompok, dan murid menyimpulkan bacaan yang telah dibaca dengan menggunakan kata-kata sendiri.

Pembelajaran tahap akhir, yakni memberi penghargaan kepada kelompok dan murid yang dapat mendorong peningkatan pembelajaran. Namun, apabila dipersentasikan secara klasikal belum terlalu banyak peningkatan. Hal ini disebabkan oleh murid belum dapat menyesuaikan secara langsung metode pembelajaran yang baru diterapkan oleh guru. Pada tahap ini, pemahaman murid terhadap keterampilan berbicara dikategorikan kurang.

Kurangnya peningkatan keterampilan berbicara dengan menggunakan metode role playing murid kelas V SD Inpres Tumbuh Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowapada siklus I disebabkan oleh keterampilan berbicara muridyang kurang dan tidak didukung oleh teks drama yang kurang menarik. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa hasil dan proses dalam pembelajaran keterampilan berbicara dengan menggunakan metode role playing murid kelas V SD Inpres Tumbuh Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowapada siklus I masih rendah.

2. Siklus II a) Observasi

Hasil observasi pembelajaran keterampilan berbicara dengan menggunakan metode role playingmurid kelas V SD Inpres Tumbuh Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowasiklus II sebagai berikut:

1) Tekanan/ intonasi dalam pembelajaran keterampilan berbicara dengan menggunakan metode role playingmurid kelas V SD Inpres Tumbuh Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowadikategorikan baik dengan persentase 70,86 %

2) Tata bahasa keterampilan berbicara dengan menggunakan metode role playingmurid kelas V SD Inpres Tumbuh Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowadikategorikan baik dengan persentase 70,29 %

3) Pengucapan vokal keterampilan berbicara dengan menggunakan metode role playing murid kelas V SD Inpres Tumbuh Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowadikategorikan baik dengan persentase 67,71 %

4) Mengatur jeda dengan tepat keterampilan berbicara dengan menggunakan metode role playingmurid kelas V SD Inpres Tumbuh Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowadikategorikan baik dengan persentase 68,57 %

5) Penggunaan nada/ irama keterampilan berbicara dengan menggunakan metode role playingmurid kelas V SD Inpres Tumbuh Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa Makassar dikategorikan baik dengan persentase 69,43 %

6) Keberanian dan semangat keterampilan berbicara dengan menggunakan SD Inpres Tumbuh Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowadikategorikan baik dengan persentase 74,29 %

7) kelancaran keterampilan berbicara dengan menggunakan metode role playingmurid kelas V SD Inpres Tumbuh Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa dikategorikan baik dengan persentase 72,85 %

8) pandangan mata keterampilan berbicara dengan menggunakan metode role playingmurid kelas V SD Inpres Tumbuh Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowadikategorikan baik dengan persentase 69,71 %

9) ekspresi wajah/ mimik keterampilan berbicara dengan menggunakan metode role playingmurid kelas V SD Inpres Tumbuh Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa dikategorikan baik dengan persentase 68,86 %

10) pemahaman ketika berbicara dengan menggunakan metode role playing murid kelas V SD Inpres Tumbuh Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowadikategorikan baik dengan persentase 72,85 %

b) Refleksi Pelaksanaan Tindakan

Siklus II berlangsung selama empat kali pertemuan. Sebelum memasuki materi pokok guru menyampaikan kepada murid tujuan pembelajaran yang ingin

dicapai, menciptakan suasana yang membuat murid dapat termotivasi belajar, menjelaskan materi sesuai rencana pelajaran dan mensosialisasikan pembelajaran bahasa Indonesia dengan metode role playing, membuat RPP untuk pelaksanaan tindakan, memberikan contoh membuat soal berdasarkan situasi yang diberikan atau tersedia, mencatat semua kegiatan yang dianggap penting baik mengenai kegiatan murid dalam mengikuti pelajaran. Menyelesaikan masalah dengan menggunakan metode role playing, mengadakan tanya jawab, murid mementaskan dramanya didepan kelas secara berkelompok.

Pembelajaran tahap akhir yaitu memberikan penghargaan kepada kelompok atau murid yang dapat mendorong peningkatan pembelajaran. Setelah dipresentasikan secara klasikal banyak mengalami peningkatan. Hal ini disebabkan oleh murid dapat menyesuaikan secaralangsung metode pembelajaran yang baru diterapkan oleh guru.

Keterampilan berbicara dan bermain peran atau drama murid dikategorikan baik. Meningkatnya pembelajaran keterampilan berbicara dengan menggunakan metode role playingmurid kelas VSD Inpres Tumbuh Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa pada siklus II disebabkan oleh pemahaman murid terhadap aspek keterampilan berbicara dan bermain peran atau drama yang memadai.

Berdasarkan hasil analisis data dapat dinyatakan bahwa dalam pembelajaran keterampilan berbicara dengan menggunakan metode role playingmurid kelas V SD Inpres Tumbuh Kecamatan Bungaya Kabupaten

Gowameningkat karena nilai 6,5 yang diperoleh murid pada kategori tuntas siklus I meningkat pada siklus II.

C. Pembahasan Hasil Penelitian

1. Terjadi Peningkatan Keterampilan Berbicara Murid

Berdasarkan penyajian hasil penelitian secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif sebelumnya dapat dinyatakan bahwa ada peningkatan dalam pembelajaran keterampilan berbicara dengan menggunakan metode role playingmurid kelas V SD Inpres Tumbuh Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa . Hal ini tampak pada siklus I meningkat pada siklus II.

Nilai rata-rata keterampilan berbicara dengan menggunakan metode role playingpada siklus I sebanyak54 dan meningkat menjadi 70 pada siklus II. Pada aspek ketuntasan belajar, baik individual maupun kelompok, yaitu persentase dalam pembelajaran keterampilan berbicara dengan menggunakan metode role playingmurid kelas V SD Inpres Tumbuh Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa pada siklus I sebesar 22,86 % atau 8 orang dari 35murid berada dalam kategori tuntas dan 77,14 % atau 27 orang dari 35murid berada dalam kategori tidak tuntas. Hal ini berarti bahwa terdapat 27 orang dari 35murid yang perlu perbaikan karena belum mencapai kriteria ketuntasan individual, sedangkan pada siklus II persentase ketuntasan belajar murid sebesar 91,43 % atau 32 dari 35murid berada dalam kategori tuntas dan8,57 % atau 3 dari 35murid berada pada kategori tidak tuntas. Dari siklus I sampai siklus II, dalam pembelajaran keterampilan berbicara dengan menggunakan metode role playingmurid kelas V SD InpresTumbuh Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowamengalami peningkatan yang sangat

signifikan. Sebagaimana dikemukakan oleh Ali (1985: 184) pemberian kategori terhadap keterampilan murid, memudahkan guru dalam menafsirkan keterampilan berbicara dengan menggunakan metode role playing murid kelas V SD Inpres Tumbuh Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa .

Berdasarkan kriteria hasil belajar mengenai ketuntasan kelas, yaitu 85 %, data hasil penelitian siklus II di atas dianggap tuntas kelas dan kelompok karenayang tuntas mencapai 91,43% dari 35murid. Penelitian ini tidak perlu dilanjutkan pada siklus berikutnya karena berdasarkan tujuan yang ingin dicapai, yaitu peningkatan keterampilan berbicara sudah terlihat, maka peneliti menganggap penelitian ini sudah cukup dengan menyimpulkan bahwa terdapat peningkatan kemampuan bermain peran atau drama murid.

2. Terbukti secara Signifikan bahwa Pembelajaran Keterampilan Berbicara Mengalami Peningkatan dengan Menggunakan Metode Role PlayingMurid Kelas V SD Inpres Tumbuh Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa

Peningkatan keterampilan berbicara murid tampak pula pada setiap aktivitas dan indikator penilaian keterampilan berbicara berikut ini:

a. Tekanan/ intonasi murid dalam berbicara pada siklus I dikategorikan kurang dan meningkat pada siklus II menjadi kategori baik.

b. Tata bahasa berbicara murid pada siklus I dikategorikan kurang dan meningkat pada siklus II menjadi kategori baik.

c. Pengucapan vokal berbicara murid pada siklus I dikategorikan kurang dan meningkat pada siklus II menjadi kategori baik.

d. Mengatur jeda dengan tepat berbicara murid pada siklus I dikategorikan kurang dan meningkat pada siklus II menjadi kategori baik.

e. Penggunaannada/ irama dalam berbicara murid pada siklus I dikategorikan kurang dan meningkat pada siklus II menjadi kategori baik.

f. Keberanian dan semangat dalam berbicara murid pada siklus I dikategorikan kurang dan meningkat pada siklus II menjadi kategori baik.

g. Kelancaranmurid dalam berbicara pada siklus I dikategorikan kurang dan meningkat pada siklus II menjadi kategori baik.

h. Pandangan matamurid dalam berbicara pada siklus I dikategorikan kurang dan meningkat pada siklus II menjadi kategori baik.

i. Ekspresi wajah/ mimikmurid dalam berbicara pada siklus I dikategorikan kurang dan pada siklus II menjadi kategori baik.

j. Pemahaman dalam berbicara pada siklus I dikategorikan kurang dan meningkat pada siklus II menjadi kategori baik.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat ditarik kesimpulan antara lain:

Penerapan metode role playing, dapat meningkatkan keterampilan berbicara murid kelas V SD Inpres Tumbuh Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa .Terbukti secara signifikan bahwa metode role playing berpengaruh positif terhadap keterampilan berbicara murid. Persentase dalam pembelajaran keterampilan berbicara murid kelas V SD Inpres Tumbuh Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa rata-rata yang dicapai pada siklus I yaitu sebesar 22,86%atau 8 orang dari 35 murid berada dalam kategori tuntas dan 77,14 % atau 27 orang dari 35 murid berada dalam kategori tidak tuntas meningkat pada siklus II yaitu sebesar 91,43 %atau 32 orang dari 35 murid berada dalam kategori tuntas dan 8,57 % atau 3 orang dari 35 murid berada dalam kategori tidak tuntas.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas, maka penulis mengemukakan saran sebagai berikut:

1. Kepada guru Bahasa Indonesia atau wali kelas V SD Inpres Tumbuh Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa, hendaknya membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan menggunakan metode role playing sebagai upaya meningkatkan keterampilan berbicara murid.

2. Kepada pemerintah dan kepala sekolah, hendaknya menfasilitasi pengetahuan guru tentang penggunaan metode role playingdalam pembelajaran keterampilan

49

berbicara, melalui workshop atau pelatihan peningkatan kompetensi mengajar guru.

3. Kepada murid, hendaknya lebih giat berlatih dalam berbicara melalui kegiatan mengomentari suatu masalah dengan memperhatikan aspek kebahasaan dan aspek nonkebahasaan sehingga nilai keterampilan berbicara yang diperoleh lebih meningkat.

DAFTAR PUSTAKA

Alhafidzh. 2010. Role Playing dan Penerapannya. Online. http: // www.

Wordpress. Com. Diakses 12 November 2010.

Ali, Muhammad. 1985. Penelitian Pendidikan Prosedur dan Strategi. Bandung:

Angkasa

Anonim. 2011. http: // geogle. Com/ web/ Metode Pembelajaran. Pdf. Diakses 14 April.

Arsjad dan Mukti. 1988. Pembinaan Kemampuan Berbicara Bahasa Indonesia.

Jakarta: Depdiknas

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Jakarta: Depdiknas

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1997. Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Jakarta: Depdikbud

Greene, Harry A. & Petty Walter T. 1971. Developing Language Skills In the Elementary Schools. Boston: Allyn and Bacon, inc.

Hambali. 2009. Pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Tinggi Sekolah Dasar. Makassar: FKIP Unismuh.

Haryadi. 1997. Peningkatan Keterampilan Berbahasa Indonesia.

Makassar:Depdikbud.

Keraf, Gorys. 1993. Komposisi. Jakarta: Ikrar Mandiri Abadi.

Kridalaksana, Harimurti. 1983. Kelas Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta:

Gramedia.

Makhrufhi, Sayuti. 2009. Cara Melatih Kemampuan Berbicara Anak. http: //

www. Indoskripsi. com. Diakses 12 Februari 2010.

Nur, Anis. 2010. Pedoman Penyusunan Usulan Penelitian Tindakan Kelas.

Makassar: FKIP Unismuh.

Nurgiantoro, Burhan. 2005. Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Yogyakarta: BPFE.

Rafiuddin, Ahmad. 1998. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Tinggi. Depdikbud.

Sudrajat, Ahmad. 2009. Melatih Anak Terampil Berbicara. http: // www.

Wordpres. com. Diakses 30 Januari 2010.

Sugiyono. 2004. Strategi Pendidikan. Bandung: Angkasa

Suprijono, Agus. 2009. Cooperatif Learning. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Syukur. 2010. Model-Model Pembelajaran Efektif. Makassar: FKIP Unismuh.

Tarigan, Henry Guntur. 1983. Strategi Pengajaran dan Pembelajaran Berbahasa.

Bandung: Angkasa.

--- 1985. Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa.

Bandung: Angkasa.

Wahab, Abdul Aziz. 2007. Metode dan Model-Model Mengajar IPS. Bandung:

Alfabeta

RIWAYAT HIDUP

ABDUL.RAZAK, lahir di Sungguminasa tanggal 02 September 1987 sebagai anak pertama dari empat bersaudara dari pasangan M.Saleh,P,S.pd dan Ratnawati,Hr. Sebagai riwayat pendidikan, penulis telah menempuh pendidikan sebagai berikut. Penulis masuk SEKOLAH DASAR pada tahun 1994 dan tamat tahun 1999, kemudian melanjutkan ke SEKOLAH MENENGAH PERTAMApada tahun 2000 dan tamat tahun 2002. Setelah itu, melanjutkan kejenjang pendidikan SEKOLAH MENENGAH ATAS pada tahun 2003 dan tamat pada tahun 2005. Kemudian penulis melanjutkan pendidikan ke tingkat perguruan tinggi pada Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar program D.II pada tahun 2006dan tamat 2008.Kemudian lanjut STRATA.I Jurusan pendidikan Sekolah Dasar FKIP Universitas Muhammadiyah Makassar pada tahun 2011 sampai sekarang . Sebagai tugas akhir, maka penulis menulis sebuah skripsi yang berjudul “Peningkatan Keterampilan Berbicara dengan Menggunakan Metode Role Playing pada Murid Kelas V SD Inpres Tumbuh Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa.”

LAMPIRAN I

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

SIKLUS I

Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia Kelas/ Semester :V/ II

Alokasi Waktu :(6 x 35 menit) (3 x pertemuan) I. Standar Kompetensi

 Bahasa Indonesia Berbicara

Mengungkapkan pikiran dan perasaan secara lisan dalam diskusi dan bermain drama

II. Kompetensi Dasar

 Bahasa Indonesia Berbicara

Memerankan tokoh drama dengan lafal, intonasi, dan ekspresi yang tepat

III. Indikator

 Bahasa Indonesia a. Kognitif

- Proses

Mengetahui cara melakukan percakapan atau bermain drama - Produk

Menyebutkan cara melakukan percakapan atau bermain drama b. Afektif

- Karakter

Keberanian dalam melakukan percakapan atau bermain drama - Sosial

Memberi tanggapan secara sopan dan santun c. Psikomotor

Melakukan percakapan atau bermain drama IV. Tujuan Pembelajaran

 Bahasa Indonesia a. Kognitif

- Proses

Siswa dapat mengetahui cara melakukan percakapan atau bermain drama

- Produk

Siswa dapat menyebutkan cara melakukan percakapan atau bermain drama

b. Afektif - Karakter

Siswa memiliki keberanian dalam melakukan percakapan atau drama

- Sosial

Siswa dapat memberi tanggapan secara sopan dan santun

Dalam dokumen peningkatan keterampilan berbicara dengan (Halaman 45-49)

Dokumen terkait