• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR PUSTAKA

E. Teknik Scanning

1. Lakukan register 

2. Memilih protokol

scanning  Sinuses

3. Membuat topogram  Sagittal

4. Menentukan area

scanning  Batas atas diatas sinus

frontalis dan batas bawah

ketebalan 0,4 mm, dengan jumlah potongan masing- masing 11 potongan

dengan, topogram

potongan sagittal.

Lampiran 7 Pengaturan Protokol Pre-Scanning Pemeriksaan CT Scan Sinus Paranasal

Jenis kelamin : Perempuan

Pewawancara : Dony Rachmadhan

Hari dan Tanggal :

Tempat : RS TK III Dr. Soetarto

Tujuan : Mengetahui hasil bacaan pemeriksaan

CT-Scan sinus paranasal

Daftar Pertanyaan :

1. Apakah CT Scan merupakan modalitas imaging yang paling unggul digunakan untuk membantu dokter mendiagnosa kasus sinusitis dan apa alasannya?

2. Bagaimana kriteria citra CT Scan sinus paranasal yang baik untuk membantu dokter menegakkan diagnosa?

3. Apa saja informasi anatomi yang harus tampak pada hasil pemeriksaan CT Scan sinus paranasal?

4. Bagaimana gambaran patologi sinusitis pada pemeriksaan CT Scan sinus paranasal?

5. Apakah terdapat perbedaan yang signifikan dari pemilihan slice thickness CT Scan Sinus Paranasal pada kasus sinusitis?

6. Apakah penggunaan slice thickness 0,4 mm telah mampu membantu dokter menegakkan diagnosa?

Pewawancara : Dony Rachmadhan

Hari dan Tanggal :

Tempat : Instalasi Radiolog RS TK III dr. Soetarto

Tujuan : Mengetahui prosedur pemeriksaan

CT Scan sinus paranasal

Daftar Pertanyaan :

1. Apa saja persiapan pasien pada pemeriksaan CT Scan Sinus Paranasal?

2. Apa saja alat dan bahan yang digunakan pada pemeriksaan CT Scan Sinus Paranasal?

3. Apa saja parameter scanning yang digunakan pada pemeriksaan CT Scan Sinus paranasal?

4. Bagaimana prosedur pemeriksaan CT Scan Sinus Paranasal pada kasus sinusitis di RS TK III dr. Soetarto?

5. Apakah terdapat SOP di RS TK III Dr. Soetarto yang mengatur tentang penggunaan parameter scanning pada pemeriksaan CT Scan Sinus Paranasal?

6. Apa alasan digunakannya slice thickness 0,4 mm pada pemeriksaan CT Scan Sinus Paranasal?

7. Apakah penggunaan slice thickness berpengaruh secara signifikan terhadap kualitas gambaran yang dihasilkan pada pemeriksaan CT Scan Sinus Paranasal?

8. Apa saja informasi yang harus ditampak pada pemeriksaan CT Scan Sinus Paranasal?

RADIOLOGI Hari, Tanggal : Jum’at, 8 Maret 2024

Waktu : 18:30 WIB

Tempat : RS TK III dr. Soetarto

Nama Informan : dr. Dita Karini Ratnaningsih, Sp.Rad, M.Sc Pewawancara : Dony Rachmadhan

Judul : Studi Kasus Pemilihan Slice Thickness Pada Protokol Pemeriksaan CT-Scan Sinus Paranasal Dengan Klinis Sinusitis

Tujuan : Mengetahui Teknik pemeriksaan CT-Scan Sinus Paranasal pada kasus sinusitis

(P) : “Selamat pagi dokter, saya izin melakukan wawancara untuk penelitian pada KTI saya mengenai pemilihan slice thickness pada CT-Scan Sinus Paranasal. Baik dokter saya izin langsung mengajukan pertanyaan pertama dokter, apa saja indikasi pemeriksaan CT-Scan Sinus Paranasal dok?”

(I1) : “Iya, indikasinya sinusitis, rhinosinusitis, rhinitis, ada massa dan infeksi granuloma misalnya”

(P) : “Apakah CT-Scan merupakan modalitas imaging yang paling unggul digunakan untuk membantu mendiagnosa pada kasus sinusitis?”

(I1) : “ Iya, pemeriksaan CT Scan itu sangat membantu khususnya pada kasus RSK”

(P) : “Mengapa menjadi modalitas paling unggul dok?”

(I1) : “Karena anatomi sinus itu bentuknya tulang, tulang-tulang yang membentuk antrum antrumnya sinus itu menjadikan CT Scan itu unggul untuk melihat tulang. Kita bisa mengatur slice thicknessnya sampai sedemikian rupa, kita bisa mengatur ketebalannya, setipis mungkin kan lebih bagus. Yang kedua CT Scan bisa dibuat rekonstruksi multi planar yang tidak didapat di MRI. Kalau misalnya hanya mengandalkan foto polos saja itu lebih susah melihatnya, dengan foto polos kita cuma melihat ada suatu

(P) : “Apa yang menjadikan CT Scan unggul dibandingkan pemeriksaan konvensional?”

(I1) : “Kelebihannya CT Scan sudah 3 dimensi, bisa di rekonstruksi dan detail”

(P) : “Bagaimana gambaran sinusitis yang normal dok?”

(I1) : “Apabila sinusitis yang normal akan ada lesi hipodens, densitas cairan”

(P) : “Citra yang informatif itu batas atasnya dimana ya dok? Apakah harus sampai vertex atau cukup hanya sampai sinus frontalis tampak?”

(I1) : “Sinus frontalis tampak itu sudah cukup, karena yang dinilai sinusnya.

Vertex itu tidak terlalu penting jadi tidak terlihat tidak apa-apa, yang penting terlihat itu crista gallinya, karena disitu kita akan menilai ethmoid roof. Jadi cukup sampai sinus frontalis mungkin ditambahin dikit sampai ethmoid roofnya keliatan crista gallinya keliatan karena itu yang akan dinilai dalam pembacaan.”

(P) : “Apa saja alasan yang membuat suatu citra kurang informatif sehingga dokter sulit dalam mendiagnosa?”

(I1) : “Citra yang slice thicknessnya tebal. Kalau menggunakan slice thickness yang tebal mungkin apabila terdapat benda asing yang densitasnya logam bisa terdeteksi, tergantung densitasnya juga atau kayak kayu yang tebel ya bisa. Batu bisa, kadang kan sinusitis itu ada pembatuan disitu anthrolit namanya nah itu bisa”

(P) : “Apabila terdapat citra yang kurang infromatif apakah pemeriksaan tersebut harus diulangi atau bagaimana ya dok?”

(I1) : “Kalau misal tidak layak dibaca ya diulang karena standarnya begitu. Tapi karena CT Scan memiliki kelebihan yang bisa diatur slice thicknessnya jadi walaupun post processing di konsol kita masih bisa rubah ketika rekonstruksinya”

(P) : “Menurut dokter apa saja potongan yang diperlukan untuk membantu mendiagnosa? Apakah satu potongan coronal/sagittal/ axial itu cukup atau harus beberapa potongan dok?”

(I1) : “Semua, tiga tiganya dipake coronal, axial, sagittal”

cribiform, osteometal complex, terus variasi dari air celuller ethmoidea sama konka-konka harus tampak”

(P) : “Bagaimana gambaran patologis sinusitis pada pemeriksaan CT Scan SPN?”

(I1) : “Gambaran CT Scan pada kasus sinusitis akan tampak hipodens karena densitasnya cairan, tapi dalam kasus kronis itu ditemukan dindingnya menebal jadi sklerotik atau bisa juga terbentuk batu, mungkin bisa juga ditemukan polip yang muncul dari dinding maksilaris atau ethmoid.

Kemudian biasanya cenderung ada deviasi septum nasi, jadi bagian septum nasinya bengkok atau miring nah itu biasanya menjadi ciri khas terjadi sinusitis. Kemudian bagian osteomeatal complexnya itu terbuka atau tertutup akan mempengaruhi tindakan dokter THT nya.”

(P) : “Apakah terdapat perbedaan yang signifikan dari pemilihan slice thickness CT-Scan Sinus Paranasal pada kasus sinusitis?’

(I1) : “Jelas, karena slice thicknessnya yang tipis detail anatominya lebih bisa terlihat”

(P) : “Apakah penggunaan slice thickness 0,4 mm telah mampu membantu dokter menegakkan diagnosa?”

(I1) : “Apabila menggunakan slice thickness 0,4 mm itu terkadang apabila ada sinusitis itu dia hanya tampak penebalan mukosanya, tidak terlihat lesinya, jadi penebalan mukosa yang tampak hanya sedikit. Jadi kalau menggunakan slice thickness yang terlalu tebal nanti ketutup atau gakeliatan jadi paling disarankan pakenya slice thicknessnya yang paling tipis.”

Hari, Tanggal : Jum’at, 8 Maret 2024

Waktu : 10:00 WIB

Tempat : RS TK III dr. Soetarto Nama Informan : Endar Dwi Jasmawati. S,ST Pewawancara : Dony Rachmadhan

Judul : Studi Kasus Pemilihan Slice Thickness Pada Protokol Pemeriksaan

CT-Scan Sinus Paranasal Dengan Klinis Sinusitis

Tujuan : Mengetahui teknik pemeriksaan CT-Scan Sinus Paranasal serta alasan digunakannya slice thickness 0,4 mm pada kasus sinusitis

(P) : “Baik ibu sebelumnya saya mohon izin untuk melakukan wawancara untuk penelitian pada KTI saya mengenai pemilihan slice thickness pada pemeriksaan CT-Scan Sinus Paranasal. Baik ibu, saya izin langsung mengajukan pertanyaan pertama bu, apa saja persiapan pasien pada pemeriksaan CT-Scan Sinus Paranasal bu?”

(I2) : “Persiapannya tidak ada yang khusus, kecuali sebelum pemeriksaan pasien bagi yang perempuan melepaskan logam-logam di area kepala seperti anting dan kalung, gigi palsu dan juga jepit-jepit rambut”

(P) : “Apa saja persiapan alat dan bahan yang digunakan pada pemeriksaan CT- Scan Sinus Paranasal bu?”

(I2) : “Alat dan bahan yang digunakan CT-Scan 160 slice kemudian komputer untuk pemeriksaan”

(P) : “Apa saja parameter scanning yang digunakan untuk pemeriksaan sinus paranasal bu?”

(I2) : “Kalau scanning menggunakan parameter yang sederhana saja, dibagian head dan sinus diambil bagian axial. Parameternya ada jaringan lunak dan untuk melihat tulang-tulang. Parameternya ya posisi axial, coronal sama sagittal. Nanti hasil CT Scan ada bone window dan brain window jadi untuk kondisi tulang dan kondisi jaringan untuk melihat daerah sinusitis.”

(P) : “Kalau untuk pengaturan parameter seperti kV, mAs, slice thickness dan lainnya bagaimana ya bu?”

(I2) : “Untuk setiap alat pasti sudah di atur, pada saat kita training dimasukkan langsung ke alat tersebut untuk mempermudah pekerjaan kita. Nanti

(P) : “Bagaimana prosedur pemeriksaan CT-Scan Sinus Paranasal pada kasus sinusitis bu?”

(I2) : “Pertama kita panggil pasien kemudian kita crosscheck dari lembar permintaan dari nama pasien, tanggal lahir pasien, jika sudah sesuai kita arahkan pasien untuk masuk ke ruang pemeriksaan. Kita atur posisi head first posisi supine atau pasien tidur terlentang kemudian posisi tangan diatas perut untuk kenyamanan pasien, kemudian pasien diberikan instruksi untuk tidak bergerak selama pemeriksaan. Untuk posisioning garis horizontalnya diatas telinga untuk batas bawahnya kita di mandibula.”

(P) : “Apa saja potongan yang biasa digunakan untuk pemeriksaan SPN ibu?”

(I2) : “Hasil potongan yang muncul nanti adalah potongan axial tapi kan nanti pas rekonstruksi dari MPRnya dari potongan axial, coronal, sagittal kita bisa lihat. Kemudian untuk pencetakannya dicetak pada potongan axial dan coronal. Pada kasus sinusitis atau rhinitis kita menggunakan bone window kondisi tulang karena untuk melihat batas tulangnya dan daerah sinusitisnya, tapi jika sinusitis dengan kasus tumor kita cetak juga posisi axial ataupun coronal dengan kondisi jaringan atau soft tissue untuk melihat seberapa parah kelainan didaerah soft tissuenya tersebut.”

(P) : “Batas atas dan bawah pada pemeriksaan CT SPN itu darimana sampai mana ya ibu?”

(I2) : “Untuk batas atas bawah yang penting tidak boleh terpotong sinus maksilaris bagian bawah dan untuk sinus frontalis bagian atas itu tidak boleh terpotong.”

(P) : “Untuk ketebalan potongan yang digunakan berapa ya bu?”

(I2) : “Ketebalannya menggunakan 0,4 mili atau thicknessnya none tidak pakai thickness. None ini berarti slice thicknessnya adalah 0,4 mili. Nanti yang membedakan ada di lock intervalnya itu dia sesuai range atau lebar objeknya, misalnya batas bawahnya di bawah maksilaris dan atasnya diatas sinus frontalis dia lebar berarti lock intervalnya yang lebar. Nah untuk coronal sama, batas bagian belakangnya ya biasanya di TMJ nya agar sinus yang belakang tidak terpotong yang depan biasanya di sinus frontalisnya juga tidak boleh terpotong.”

(P) : “Jumlah potongan yang digunakan berapa ya bu?”

(P) : “Window yang digunakan apa saja ya bu?”

(I2) : “Pada kasus sinusitis dan rhinitis, kondisi yang kita sajikan ke dokter pengirim adalah bone window atau kondisi tulang, mengapa? Karena untuk melihat ketajaman batas antara tulang dan rongga sinusitis lebih jelas detailnya di kondisi tulang. Pada kasus dengan tumor kita akan menampilkan juga potongan axial atau coronal dengan kondisi soft tissue yaitu untuk melihat jaringan sekitarnya.”

(P) : “Filming atau pengaturan pencetakannya bagaimana ya bu?”

(I2) : “Ketika filming ya sama untuk kondisi sinusitis ya satu lembar film aja, axial 12 kotak coronal 12 kotak dijadikan satu film. Topogram yang digunakan itu topogram coronal dan sagittal.”

(P) : “Apa alasan digunakan slice thickness 0,4 pada pemeriksaan CT-Scan sinus paranasal bu?”

(I2) : “Alasan digunakannya 0,4 mm karena slice thickness yang tipis dapat menampilkan detail lebih baik”

(P) : “Apakah slice thickness berpengaruh secara signifikan terhadap kualitas gambaran yang dihasilkan pada CT-Scan bu?”

(I2) : “Iya berpengaruh karena kalau slice thicknessnya lebih tebal maka gambaran yang dihasilkan akan kabur, jadi untuk detail anatomi sinus paranasal kurang bagus”

(P) : “Apa saja informasi yang harus ditampilkan pada pemeriksaan CT-Scan Sinus Paranasal bu?”

(I2) : “Informasi yang ditampilkan itu semua sinus harus bisa terlihat, sinus maksilaris, sinus ethmoidalis, sinus sphenoid, sinus frontalis termasuk ada orbita dan mastoid juga harus bisa terlihat.”

(P) : “Bagaimana kriteria citra yang baik misal seperti kontras, noise, dan detail yang baik seperti apa ya bu?”

(I2) : “Detail yang baik ya tidak ada artefak misalnya satu, pasien tidak boleh bergerak, yang kedua logam-logam di area kepala tidak ada atau harus dilepas karena itu bisa menimbulkan artefak”

(P) : “Apa saja alasan yang dapat menyebabkan sebuah citra itu kurang informatif sehingga diperlukan pengulangan bu?”

sehingga pemilihan slice thicknessnya itu 0,4 atau paling rendah ibu?”

(I2) : “Di Instalasi Radiologi RS TK III dr.Soetarto SOP itu didiskusikan dengan dokter dan aplikan. Aplikan itu dasarnya didapat dari buku pegangan alat tersebut. Sebagai aplikan dia memiliki pengalaman yang lebih luas, sudah mempraktikan dan bisa menilai mana gambar yang bagus dan tidak bagus.

Jadi dasarnya satu dari dokter, dua dari buku panduan, ketiga dari aplikan tersebut, dibantu juga dengan sharing dengan rumah sakit lain, jadi saling membantu sehingga bisa mengisi kekurangannya dan kelebihannya masing- masing. Jadi penyusunan SOP berdasarkan buku, ada panduan dari alat tersebut dan dari pengalaman aplikan juga dari diskusi dengan dokter.”

(P) : “Baik ibu, terimakasih atas jawaban dan waktunya ibu”

(I2) : “Sama-sama”

Hari, Tanggal : Jum’at, 8 Maret 2024

Waktu : 13: 00 WIB

Tempat : RS TK III dr. Soetarto

Nama Informan : Hanantya S.A, Amd.Kes (Rad) Pewawancara : Dony Rachmadhan

Judul : Studi Kasus Pemilihan Slice Thickness Pada Protokol Pemeriksaan CT-Scan Sinus Paranasal Dengan Klinis Sinusitis

Tujuan : Mengetahui teknik pemeriksaan CT-Scan Sinus Paranasal serta alasan digunakannya slice thickness 0,4 mm pada kasus sinusitis

(P) : “Baik mas saya izin langsung masuk ke pertanyaan pertama yakni apa saja persiapan pasien pada pemeriksaan CT Scan Sinus Paranasal?”

(I3) : “Persiapan pasien di Rumah Sakit TK III itu melepas anting-anting, melepas gigi palsu, jika menggunakan tindik di hidung tindiknya dilepas”

(P) : “Apa saja alat dan bahan yang digunakan pada pemeriksaan CT Scan Sinus Paranasal mas?”

(I3) : “Bahannya itu yang alat CT Scan, selimut, alat fiksasi agar pasien tidak goyang kanan kiri terus habis itu bahan bahannya itu sinar-X”

(P) : “Parameter scanning pemeriksaan CT Scan Sinus Paranasal bagaimana ya mas?”

(I3) : “Parameter sudah tertera disetiap alat CT-Scan, jadi parameter utama sudah di atur, contohnya penggunaan kVp pada orang gemuk dan kurus ada tombolnya untuk mengaturnya. Penggunaan parameternnya ada slice thickness kemudian lock number, lock interval dan potongannya.

Potongannya yang jelas potongan axial dan coronal terus untuk lock intervalnya 0,4 kemudian lock numbernya atau slice thicknessnya none thicknessnya 11 mili.”

(P) : “Kalau seperti pengaturan kV, mAs, slice thickness, rotation time itu radiografer mengatur sendiri atau sudah dari aplikannya mas?”

(I3) : “Pengaturan kV mAs itu sudah dari aplikannya jadi kita tidak perlu mengatur ulang lagi karena sudah otomatis, penggunaan kV dan mAs bagi pasien gemuk atau kurus juga sudah otomatis akan terdeteksi alatnya.”

simetris, kedua orbita simetris lalu kita posisikan garis MCP berada di pertengahan tubuh kemudian garis banding axialnya juga diatur dipertengahan tubuh pasien. Jangan lupa diberikan fiksasi berupa strap kepala biar kepala pasien tidak bergerak selama pemeriksaan. Kemudian posisi tangan pasien diatur di samping tubuh atau didepan perut juga bisa, yang penting jangan diatas kepala karena akan superposisi. Kemudian untuk posisi objeknya, batas atas pada yang penting itu diatas sinus frontalisnya, jadi jangan sampai sinus frontalisnya kepotong, terus batas bawahnya diatur dibawah sinus maksilaris atau diatur pada pallatum. MSP nya berada di pertengahan tubuh, apabila pasien menggunakan gigi palsu itu harus dicopot dan anting-anting juga karena dapat menyebabkan superposisi.”

(P) : “Apa saja potongan yang digunakan mas dan alasan menggunakan potongan tersebut mas?”

(I3) : “Potongan yang sesuai dengan SOP yang ada itu potongan axial dan coronal, jadi nanti itu dibuat 11 potongan axial dan 11 potongan coronal.

Untuk alasannya karena dari segi coronal akan digunakan untuk membandingkan jumlah pelebaran cairannya, untuk potongan axial itu digunakan untuk mengukur kedalamannya. Jadi misal kedalaman pas pertengahan sinus itu nanti bisa dihitung HUnya, jadi bisa dihitung kepekatan cairannya.”

(P) : “Rekonstruksi untuk masing-masing potongannya bagaimana ya mas?”

(I3) : “Topogramnya menggunakan potongan axial dan coronal. Kemudian batas atas pembuatan filmnya itu dari sinus frontalis bagian atas jangan sampai terpotong, kemudian batas paling bawahnya itu sinus maksilaris bagian distalnya itu jangan sampai terpotong karena pemeriksaannya adalah CT Scan SPN. Kalau masalah gigi, TMJ, ramus itu bisa menyesuaikan. Untuk ketebalannya dipakai slice thickness none tapi CT Scan ini menggunakan 0,4 mm. Kemudian window yang digunakan yaitu window tulang karena apabila slice thickness dibuat none gambarannya akan semakin kasar sehingga lebih baik digunakan window tulang agar semakin jelas perbedaan antara si cairan dengan tulang.”

(P) : “Filmingnya bagaimana ya mas? Berapa jumlah potongan yang digunakan ketika filming? kemudian kenapa ya mas terkadang jumlah filming itu berbeda-beda ya mas?”

ketebalan cairannya, nah hal tersebut yang membuat potongan itu jumlahnya bisa berbeda.”

(P) : “Apakah terdapat SOP yang mengatur tentang parameter scanning pemeriksaan CT Scan Sinus Paranasal mas?”

(I3) : “SOP di RS TK III pada penggunaan slice thicknessnya digunakan slice thickness none atau tanpa adanya slice thickness

(P) : “Apa alasan digunakannya slice thickness 0,4 pada pemeriksaan CT Scan Sinus Paranasal mas?”

(I3) : “Penggunaan slice thickness 0,4 mm di Rumah Sakit TK III itu merujuk pada SOP. Pesawat CT Scan RS TK III itu pada saat vendor mengatur pengaturan scanning slice thicknessnya dibuat 0,4 mm. Pada intinya 0,4 mm itu merupakan tingkatan terendah dalam peraturan parameter scanning”

(P) : “Apakah penggunaan slice thickness berpengaruh secara signifikan terhadap kualitas gambar mas?”

(I3) : “Sangat berpengaruh, karena semakin tebal penggunaan slice thickness pada pemeriksaan CT Scan SPN itu semakin halus gambarnya nah semakin halus maka apabila ada kelainan sinusitis ringan itu sulit terlihat. Oleh karena itu dibuat none atau paling rendah, dari segi kualitas citra memang kurang tetapi dalam membantu menegakkan diagnosa itu akurat karena semakin kasar maka akan semakin terlihat patologinya.”

(P) : “Apa saja informasi yang harus ditampilkan pada pemeriksaan CT Scan Sinus Paranasal mas?”

(I3) : “anatomi yang harus ditampilkan itu semua daerah sinus yaitu sinus maksilaris, sinus ethmoidalis, sinus frontalis, sinus sphenoidalis kemudian tampak tulang zygomatikum. Kriteria radiografnya adalah sinus maksilaris dan orbita simetris, karena apabila dalam proses pembuatannya itu tidak simetris maka nanti jumlah perbandingan cairannya itu berbeda, kemudian bisa membedakan antara rongga udara dengan cairan ataupun tulang, kemudian apabila pada saat scan mengalami pergerakan sebaiknya diulang sehingga mendapatkan kualitas citra yang baik dan akan mempermudah dokter radiologi untuk dapat menegakkan diagnose dengan tepat.”

(P) : “Apa saja alasan yang dapat menyebabkan sebuah citra itu kurang informatif atau citranya buruk sehingga perlu dilakukan pengulangan?”

menggunakan tabung atau selang oksigen karena apabila tidak diperhatikan posisinya dapat menyebabkan superposisi”

(P) : “Mengenai penyusunan SOP apakah sudah mengacu pada jurnal atau buku sehingga pemilihan slice thicknessnya itu 0,4.”

(I3) : “Untuk SOP lebih tepat apabila ditanyakan kepada kepala ruangan. Tetapi setau saya SOP dibuat sesuai saran dari aplikan dan berdasarkan buku atau studi-studi lain”

Hari, Tanggal : Jum’at, 8 Maret 2024

Waktu : 9:30 WIB

Tempat : RS TK III dr. Soetarto

Nama Informan : Siti Nur Fatimah, Amd.Kes (Rad) Pewawancara : Dony Rachmadhan

Judul : Studi Kasus Pemilihan Slice Thickness Pada Protokol Pemeriksaan CT-Scan Sinus Paranasal Dengan Klinis Sinusitis

Tujuan : Mengetahui teknik pemeriksaan CT-Scan Sinus Paranasal serta alasan digunakannya slice thickness 0,4 mm pada kasus sinusitis

(P) : “Baik mba, sebelumnya terimakasih atas ketersediaannya menjadi informan pada penelitian KTI saya kali ini mengenai pemilihan slice thickness pada pemeriksaan CT-Scan Sinus Paranasal. Baik mba, langsung saja ke pertanyaan pertama yaitu apa saja persiapan pasien pada pemeriksaan CT-Scan Sinus Paranasal?”

(I4) : “Persiapan pasien yaitu melepas semua benda unsur logam yang ada di daerah kepala, leher seperti anting-anting, jepit dan kalung”

(P) : “Alat dan bahannya mba untuk pemeriksaan CT Scan Sinus Paranasal?”

(I4) : “Alat dan bahan menggunakan CT-Scan yang kita punya 160 slice kemudian alat fiksasi kepala, pada pasiennya kooperatif sudah cukup diberikan fiksasi kepala saja tidak perlu body strap.”

(P) : “Pengaturan parameter scanningnya bagimana mba?”

(I4) : “Parameter scanningnya dari scanogramnya menggunakan cranium lateral kemudian diatur slice thicknessnya setebal 5 mm. Range diatur untuk axial 5 mili dibawah sinus maxilaris sampai sinus frontalis kemudian potongan coronalnya 5 mili posterior sinus sphenoideus sampai sinus frontalis.

Standar algoritmanya untuk algoritma axial tulang kalau algoritma standar kV 130 mAsnya 60.”

(P) : “Bagaimana prosedur pemeriksaan CT Scan SPN pada kasus sinusitis di RS TK III dr. Soetarto ya mba?”

(I4) : “Prosedur pemeriksaan CT Scan SPN pertama pada posisi pasien itu head first tidurnya supine dan posisi tangan ada di samping kanan dan kiri tubuh, dan kaki lurus sesuai dengan meja pemeriksaan. Kemudian untuk posisi

rangenya berada di sinus frontalis sekitar 2,5 senti superior sinus frontalis kemudian batas bawahnya ada di submenta atau 1 senti inferior sinus maksilaris. Ketebalan yang digunakan yaitu 0,4 thicknessnya yaitu pada saat dilakukan rekonstruksi. Kemudian jumlah potongan yang digunakan untuk masing-masing potongan untuk axial menggunakan 11 potongan dan untuk coronal juga menggunakan 11 potongan. Window yang digunakan adalah window sinus dan cerebrii, tapi yang di print hanya window sinus. Alasan penggunaan window tersebut yaitu pada window cerebri itu kita fokus pada bagian cerebral karena tidak bisa dipungkiri apabila terdapat kelainan di cerebralnya sehingga kita bisa lakukan evaluasi juga. Kemudian untuk filming jumlah masing-masing potongan pada saat filming itu 11 11, baik untuk potongan axial dan coronal, mengapa pembagian filmingnya seperti itu karena kita menyesuaikan kebutuhan dari pasien, tetapi dalam penggunaan 11 potongan itu dinilai terlah informatif mulai dari batas atas batas bawah sinus frontal hingga maksilaris terlihat, apabila ada kelainan juga diutamakan masuk dalam filming.”

(P) : “Apakah ada acuan dalam pembuatan SOPnya mba? Kan kemarin pake 0,4 yang paling rendah disini apakah pemilihan slice thickness tersebut ada acuannya?”

(I4) : “Iya, kalau di SOP itu sebenarnya mengikut ke materi tetapi dalam pelaksanaannya kita menggunakan 0,4 mili. Penggunaan slice thciknessnya mengacu pada Bontrager, merills, seeram, clark juga pemilihan slice thickness seperti itu telah dilakukan pertimbangan dari segi kualitas citra radiografinya”

(P) : “Kemudian alasan digunakannya slice thickness 0,4 itu apa ya mba?”

(I4) : “Paling utama berpengaruh pada citra radiografnya, apabila menggunakan slice thickness yang terlalu tebal 0,4 mili maka noisenya akan berkurang tetapi ketegasan dari soft tissue sinusnya itu kurang. Kalau pake 0,4 noisenya agak tinggi cuma nanti untuk ketegasan dari soft tissue sinusnya lebih jelas. Jadi kalau misalnya ada massa atau cairan gitu kan lebih jelas kalau 0,4 mili”

(P) : “Apakah penggunaan slice thickness berpengaruh secara signifikan terhadap kualitas gambar mba?”

(I4) : “Iya, berkaitan dengan noise, kontras sama densitasnya”

Dokumen terkait